Dua jalan setapak terbentang dihadapnya.
Kanan. Menuju perkotaan. menuju jutaan penerangan. Menuju keramaian, menemui kerabat yang menunggu untuk dikunjungi. Menjumpai orang-orang terdekat yang dikasihi. Ada canda tawa disana, suara tawa kesenangan. Bising suara jalanan.
Pula, terdapat pasar semua keinginan. Seperti kantong doraemon. Dia tinggal tunjuk lalu semua terpenuhi. Mulai dari keinginan paling sederhana sampai keinginan termuluk. Namun, jika ia memilih untuk berada disitu matanya akan terus mencari sesuatu yang kasat mata. Menunduk dalam dan mencari sesuatu yang hilang. berulang – ulang.
Kiri. Menuju pedesaan. Menuju jutaan pepohonan terbentang. Bersisian gunung dan jurang. Menuju kesepian, menemui kerabat yang lama menanti. Menemui orang-orang terkasih yang lama ia rindu.
Menemui pantai sepi. Hamparan pasir berwarna sama. Yang sesekali disapa buih air tepi daratan. Sesekali. terdengar kicauan burung hutan. Yang ada hanya mereka. Keluarga kecil, dalam sebuah ketenangan jiwa, kesederhanaan yang tidak bisa ia temui ditengah ramai kota disana.
Sejatinya. Yang ada hanya dia. Mendengar dirinya. memahami pemikirannya. Dalam hening yang ia suka.
Dua jalan setapak terbentang dihadapnya.
Diam. Memilih untuk tidak memilih. Benih jiwanya terbagi rata untuk setiap cabang. Ingin bergelut dengan keramaian kota sekaligus ingin jadi petapa ketika penat.
Diam. Diam – diam ia melangkah. Pelan – pelan. Setelah memilih jadi petapa saja ketika penat. Setelah memutuskan untuk menggeluti kesibukan dikota ramai lalu kembali jadi petapa ketika penat.
Percabangan. Hatinya bercabang namun tak dilema. Miris.





