kisah

Just another WordPress.com weblog

Mas Mustahar

LAYAKNYA singa muda, Mustahar kecil mengikuti “induknya” meninggalkan kemegahan kotapraja. Sedini di usia tujuh tahun itu, ia mestinya telah rela. Meninggalkan kemapanan istana menuju sebuah dusun yang belumlah bernama.

Mustahar adalah nama kecil Pangeran Diponegoro. Lengkapnya, Bendoro Raden Mas Mustahar. Tokoh utama Perang Jawa yang menggemparkan itu. Kita memang telah mengenal betapa gegap-gempitanya putra Sultan Hamengku Buwono III itu di medan laga, namun tak banyak yang kita tahu tentang masa kecilnya: the decisive moment-nya.

Baca entri selengkapnya »

Pertukaran

KONON, jika diplomasi dengan utusan Belanda tersendat Sultan Mangkubumi akan mengakhirinya dengan menggelar pertunjukan; pertarungan antara kerbau dan harimau di alun-alun utara Yogyakarta. Dalam pertarungan itu, selalu saja kerbau menang dan harimau kalah. Sebuah hasil yang senantiasa bikin Mangkubumi menyungging senyum.

Kita tahu, kerbau merupakan representasi Jawa. Sedangkan harimau adalah simbol Belanda. Kerbau lambat namun tahan lama dan kuat. Sedangkan harimau lincah tapi cepat lelah. Hingga Sultan Mangkubumi wafat, kata sejarawan Australia Merle Calvin Ricklefs, kemungkinan besar Belanda masih belum mengerti makna pertarungan itu.

Baca entri selengkapnya »

Pertarungan

DUNIA sosial adalah arena pertarungan, kata Bourdieu. Dalam terma yang lebih diperhalus, barangkali, seperti yang dikatakan oleh Johan Huizinga, dunia sosial merupakan arena permainan. Dengan demikian, ia menyebut manusia sebagai homo ludens, manusia bermain. Namun tetap saja, di mana ada permainan di situ ada pertarungan, begitupun sebaliknya.

Masalah pertarungan ini, secara kenes ditunjukkan oleh Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski dalam satu di antara novel-novelnya, Notes from Underground atau Catatan dari Bawah Tanah. Sebuah novel yang agak tak “lazim”, yang diterjemahkan oleh Asrul Sani dengan sangat indah itu. Sebuah novel yang mengingatkan kita pada metafora goa Plato, plato’s cave.

Baca entri selengkapnya »

Mirek

SEBERAPA besarkah harga sebuah keyakinan? Barangkali tokoh Clementis, Menteri Luar Negeri Ceko era 1950an dalam novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa karya Milan Kundera, tahu berapa besar harganya: tiang gantungan.

Setelah itu, Kundera tidak lantas menangisi kematian tragis Clementis. Tidak pula ia mengutuk Gottwald–sang pemimpin Partai Komunis Ceko–sebagai seorang bejat karena telah menggantung sahabat “seperjuangannya” itu–yang telah memberinya topi bulu untuk melindungi kepalanya dari hujan salju. Pun ia tidak ngotot meng-kisah-kan betapa besar dan mulia jasa Clementis bagi lahirnya negara Komunis Cekoslowakia. Ia, lebih memilih membuat adegan lain untuk membaca adegan besar itu.

Baca entri selengkapnya »

Ivan

ADA masanya ketika tiba-tiba kita menjadi seorang Ivan dalam dongeng “Ivan si Dungu” karya Leo Tolstoy. Ivan, dalam dongeng itu, digambarkan sebagai seorang yang sahaja. Rela menetap dan bekerja di kampung halamannya. Bekerja sebagai petani yang menggarap ladang keluarganya yang luas bersama adik perempuannya, Milania, yang menderita bisu sejak lahir.

Pemandangan itu secara keras dan tanpa ampun, dikontraskan oleh Tolstoy dengan garis nasib kedua kakaknya, Simeon dan Tarras. Alkisah, Simeon merantau ke kota dan sukses menjadi tentara. Karena reputasinya, ia lantas mampu merebut hati dan memperistri seorang cantik jelita. Sedangkan Tarras, setelah berjudi nasib di kota, berhasil menjadi saudagar besar dan beristrikan seorang gadis kota nan rupawan.

Baca entri selengkapnya »

Perempuan yang Ditelan Hujan

DI KURSI kayu panjang, depan kafe sebuah sudut perempatan itu aku mengamati dan diamati hujan. Ia memandangku. Lama. Hingga ia benar-benar fana. Menyisakan genangan kecil di hadapanku.

Baca entri selengkapnya »

Mata

SEORANG GADIS usia 20an gundah di atas kursi antrean depan ruang periksa mata. Siang itu lentik tangannya mengusap-usap mata kiri yang berair dengan tisu warna putih.

Ia tak datang sendiri. Duduk di samping kirinya perempuan muda yang terlihat lebih dewasa tengah sibuk memijit-pijit telepon selular di genggaman. Sesekali ia memperlihatkan sesuatu pada kawan di sisi kanannya yang tengah memegangi mata kiri itu.

Baca entri selengkapnya »

Pisang

NAMANYA Kik Wahyu Peshang. Dari katalog pameran yang saya temukan di depan bilik kos seorang kawan, saya tahu bahwa 13 hingga 21 Februari 2010 yang lalu ia memamerkan sejumlah karya lukisnya yang ia beri tema”Filosopisang” di Bentara Budaya Yogyakarta.

Saya tidak paham seni rupa, dan betapa bodohnya jika saya mengakui sebaliknya. Pengetahuan saya tentang seni rupa tak lebih baik dari pengetahuan saya tentang siapa sosok Kik Wahyu itu sendiri. Namun saya sungguh tertarik pada tema pameran tersebut. Penggabungan antara dua kata yaitu ‘Filosofi’ dan ‘Pisang’ seolah berhasil merayu kebebalan saya atas ‘misteri’ dunia seni, meski sekadar mengunjunginya lewat sejilid katalog pameran.

Baca entri selengkapnya »

Plesetan

MAKNA berdiam di alam pikiran, sabda Descartes. Cogito, ergo sum, aku berpikir maka aku ada. “Aku ada” ekuivalen dengan “aku berarti”, pun sedarah dengan “aku bermakna”. Namun tiga abad kemudian Paul Ricoeur lebih menegaskan ucapan bapak Filsafat Modern itu, bahwa untuk meng-’ada’, untuk berarti, untuk bermakna, bukan sebatas dengan pikiran. Maka muncullah tesisnya yang tak kalah masyhur, “volo, ergo sum”, aku berkehendak maka aku ada.

Tentunya perubahan kata dari “cogito” menuju “volo” bukanlah plesetan kata, meski sama-sama berakhiran “o”. Secara semiologis keduanya tidak mengandaikan signifie yang sama, sementara signifiant “cogito” dan “volo” pun juga berbeda.

Lantas, plesetan kata itu seperti apa?

Baca entri selengkapnya »

Wawancara Glyn Daly dan Zizek

Glyn Daly: Anda besar di Ljubljana, ibukota Slovenia, setelah perang Yugoslavia. Di akhir usia remaja anda telah memutuskan untuk menjadi seorang filsuf. Apa yang menjadikan anda memutuskan hal ini?

Zizek: Hal pertama yang harus saya katakan adalah filsafat bukanlah pilihan pertama saya. Tesis lama yang dikembangkan oleh Claude Lévi-Strauss menegaskan bahwa setiap filsuf, setiap teoretisi, menggeluti profesi lain meski gagal dan kegagalan itu kemudian menandai keseluruhan eksistensinya. Bagi Lévi-Strauss, pilihan pertamanya adalah menjadi seorang musisi. Ini menjadi semacam aspek melankolia pembentuk kehidupannya. Bagi saya, sebagaimana tampak jelas dalam tulisan-tulisan saya, aspek tersebut adalah sinema.

Baca entri selengkapnya »

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai