
Mungkin kita telah sangat kenal dengan “HUTAN”…
Hutan yang kita kenal merupakan habitat berbagai makhluk dari mulai organisme sel tunggal hingga organisme mega-size. Tak dipungkiri hutan yang ada di Indonesia merupakan salah satu kekayaan dunia yang patut untuk dilestarikan. Sebab hutan kita merupakan salah satu paru-paru dunia, yang bekerja menyediakan kebutuhan oksigen bagi seluruh makhluk hidup di dunia.
Sebagai hutan hujan tropis, Indonesia jelas memiliki peranan yang sangat signifikan bagi kesehatan dunia karena luas hutan Indonesia yang menurut hasil pencitraan pada tahun 2005 mencapai 93,92 juta Ha (wikipedia.org). bisa dibayangkan, berapa banyak CO2 yang bisa tertangkap oleh hutan Indonesia??bagaimana kalau dikalkulasi dengan dampak kesehatan lingkungannya? dan berapa nilai ekonomi yang disumbangkan oleh hutan Indonesia dari hasil jasa recovery carbon sinking!… sungguh kekuatan alam yang dahsyat tentunya.
Yang sering atau bahkan mungkin belum orang sadari adalah bahwasannya Indonesia memiliki hutan yang lain, yang tak kalah potensial sebagai sarana “carbon sinking”… hal ini didasarkan atas kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara maritim…
LAUT juga merupakan HUTAN….
Laut tidak sekedar hanya kumpulan massa air, tapi di dalamnya terdapat berbagai macam makhluk fotosintetik yang mampu melakukan proses fotosintesis. Artinya menangkap CO2 dan melepaskan O2…Ini berarti bahwa meskipun organisme seperti alga, bakteri, dll yang walau secara kasat mata tidak terlihat namun karena laut Indonesia sangat luas, jadi secara kolektif keberadaannya sangat berpengaruh besar. Maka proporsi tingkat penyerapan CO2 di wilayah Indonesia akan makin tinggi, jika kita melihat laut sebagai hutan juga.

Dengan luas laut yang mencapai 5,8 juta km2 tentu massa airnya akan sangat banyak sekali terutama di wilayah tertentu laut Indonesia termasuk kelompok laut dalam seperti daerah Indonesia Timur. Jika kita kalkulasi dengan jumlah makhluk hidup seperti fitoplankton yang menghuni kolom air maka akan dapat dibayangkan betapa besar jumlah karbon yang dapat diserap oleh laut Indonesia.
Namun, setiap kali ada masalah kerusakan hutan entah itu karena kesengajaan ataupun tidak, maka mata dunia lantas menunjuk lurus dengan angkuh seolah kita menghancurkan peradaban dunia…padahal kalau jujur mungkin selama ini dunia kurang begitu sadar akan “jasa” indonesia lewat hutannya yang telah berlangsung ratusan tahun turut memelihara kesegaran dunia. bayangkan dengan negara-negara “penuding” yang umumnya merupakan negara maju yang notabene sebagai negara penghasil emisi CO2 terbesar pada dunia??sungguh tepat pepatah untuk menggambarkan mereka bagai semut diujung lautan dapat dilihat tapi GAJAH dipelupuk mata tidak tampak!
Nah, pertanyaannya adalah…patutkah kita tetap didikte oleh negara lain yang justru miskin hutannya ketika kita mengalami permasalahan hutan, misal kebakaran yang acapkali kita derita. padahal hutan kita sangat cukup untuk me-recovery semua polusi karbondiokksida yang dihasilkan oleh negara ini, sehingga seharusnya mereka yang miskin hutannya hendaknya mengikuti proporsi recovery hutan mereka dalam usaha menghasilkan emisi CO2. Jadi kan terasa lebih adil…
Posted in Bioteknologi, Carbon sinking, Climate change, Environment, Kebakaran Hutan, Kelautan, Lingkungan, Pencemaran