Tentang Usia yang Tak Sama

Tentang Usia yang Tak Sama

Mengapa ada manusia yang diberikan usia begitu panjang hingga 100 tahun, menyaksikan aneka perguliran sejarah, tapi ada juga yang bahkan baru beberapa jam bernafas di dunia, belumlah sempat ia memandang dengan jelas kedua orangntuanya, namun sudah Dia ambil kembali?

Mengapa ada orang yang very prominent dan punya promising future contribution, masa depannya cerah, tiba-tiba tutup usia–either karena sakit atau kecelakaan, tapi ada juga yang segera ingin mengakhiri hidup–saking beratnya ujian, tapi tidak kunjung dipanggil-Nya?

Pertanyaan ini cukup berkecamuk di kepala beberapa waktu terakhir, dihadapkan pada kenyataan sekian tokoh, keluarga, kerabat dan teman yang tiba-tiba Dia panggil di usia yang tidak terduga. Mengingatkan juga pada yang telah lampau bertahun lamanya wafat, di usia yang masih muda.

Pertanyaan tentang kematian selalu menjadi misteri, bahkan Sang Nabi pun tak mengetahui waktunya, “yas aluunaka ‘anis sa’aati ayyaana mursaaha.. fiima anta min dzikraaha” kewajibannya adalah memberi peringatan,

Justru dengan misterinya kematian, dan keterbatasan usia itu yg membuat manusia menjadi lebih bertanggung jawab terhadap hidupnya.

Karena jika hidup itu tidak terbatas, jika manusia itu abadi, kata Frankl, apa bedanya jika mengerjakan sesuatu di hari ini atau esok?
Justru karena hidup terbatas, setiap momen menjadi bermakna.

Bagaimana hadiah dan hukuman, cinta dan kebencian, menemukan maknanya karena berbatas waktu dan ruang.
Keterbatasan itulah yang membuat setiap pilihan berarti, dan kita terdorong menjalani hidup ini dengan lebih sadar.

“fakta bahwa kita ini makhluk yang bisa mati, bahwa hidup kita terbatas, bahwa waktu kita memiliki batasan dan dengan demikian membatasi peluang-peluang kita, memberikan makna pada setiap perbuatan kita: akan sangat berarti sekali kalau kita mengeksploitasi sebuah kemungkinan menjadi kenyataan, memenuhi harapan, menggunakan waktu dan mengisinya.

Kematian seolah memaksa kita melakukan semua itu. Kematian memberikan latar belakang sehingga keberadaan kita sebagai manusia menjelma menjadi sebuah tanggung jawab.“(Viktor E. Frankl, Yes to Life, 2021)

Setback kembali selama 365 hari di 2025 yang sudah terberi, ternyata ada banyak sekali kejutan2 yg Allah sertakan. Siap tidak siap, bahkan di beberapa momen terasa megap-megap.

tapi di masa itu, ada momen of truth di mana saya seperti mengulik kembali sisi lain yg belum pernah berani saya gali: mengambil resiko-resiko dengan tanggung jawab yang besar, khususnya di bidang bisnis–sesuatu yang paling saya hindari sebagian bagian dari cita-cita masa remaja dulu, (urutan kedua setelah menjadi anggota parlemen wkwk).

Nyatanya perguliran waktu mengantarkan kita pada sesuatu yg kita paling hindari, seperti tantangan yang menari untuk membuktikan bahwa memanglah hidup ini demikian bermakna.

Dan, jika bermakna, apa yang makna paling penting menurutmu, itulah yg akan membuatmu bertahan.

Sertakan aku

Sertakan aku

merasakan kembali betapa besarnya karunia dan nikmat Allah,

untuk diri ini yang penuh keterbatasan, compang camping dalam keimanan, kadang bingung arah tujuan.

tapi Dia begitu baik memberikan kawan seperjalanan,
memberikan sosok yang mungkin hanya bertemu di perapatan, tapi bisa memberikan begitu besar pelajaran.
bertemu mereka yang berjalan sudah begitu jauh,
memberi lebih banyak,
dan beramal lebih hebat dan berdampak
baik di depan maupun belakang layar.

memberikan realita di hadapan, yang dengan itu aku terus belajar,
bertumbuh dari waktu ke waktu, dari tidak tahu menjadi sedikit tahu–ya, wa fauqa kullu dzii ‘ilmin aliim

memberikan begitu banyak kesibukan, sehingga tak sempat untuk berfikir kesia-siaan,
memberikan waktu bersama anak-anak, menikmati senyum, tawa, bertengkarnya mereka, menyadari bahwa mereka bertambah panjang lagi satu-dua cm.
memberikan kesempatan untuk membuatkan teh untuk bapak Jay–yang bertambah sibuk, melihatnya semakin bersinar.

terima kasih ya Allah,
sertakan aku ke dalam golongan hamba-Mu yang senantiasa bersyukur..

Efek domino

Efek domino

Tersebutlah di sebuah halaqah Qur’an.

Ibu A, sebutlah namanya begitu, sudah mengikuti kelas tahsin hingga akhirnya tahfizh di lembaga kami sejak kurang lebih 8 tahun lalu. Saat itu beliau menjabat sebagai kepala sekolah sebuah SDIT, hingga akhirnya sekarang sudah pensiun dan menjadi dewan pembina. Usianya sekitar 60an tahun.
Ketika pertama kali memulai kelas, bacaannya sangat terbata-bata, panjang pendek yang sangat mendasar, berulang kali salah. Pun ketika kelas dasar sudah baik, ketika akhirnya mencoba ke kelas tahfizh, perlu kami bedah kembali tajwidnya dan ulang lagi dan lagi. Sedikit-dikit menambah ayat, sudahlah sedikit, pekan depan diulang lagi.

Kelas yang beliau ikuti berganti guru, seiring naiknya level pembelajaran. Setelah bertahun-tahun, qadarullah akhirnya kembali lagi bertemu saya. Subhanallah, walaupun belum melesat sampai 5-10 juz, tapi beliau sudah mampu menyelesaikan surat al-Mumtahanah dengan cukup lancar, jauh lebih baik tajwid dan kemampuan menambah hafalannya dari bertahun lalu. Masya Allah tabarakallah..

Ibu B, baru semester ini saya pegang, usianya di kisaran 50an. Sama-sama menjejak perlahan dari kelas pratahsin, tahsin, talaqqi, hingga saat ini merangkai hafalan juz 30. Meskipun setiap setoran masih terus diingatkan akan kesalahan ringan (lahn khafiy). tapi beliau konsisten datang tiap pekannya. Meskipun teman2 pengajiannya berkomentar, “Ngapain ngafalin Qur’an? udah, kita mah yang penting bener bacaannya, ga usah ngafalinn”, dia tetap datang. Meskipun mengeluhkan kesulitan menghafal di rumah karena teringat house chores aka cucian, jemuran, beberes, beliau tetap hadir dengan hafalan barunya dan murojaah hafalan lama.

Di akhir pertemuan pekan lalu, beliau bercerita, “iya, ustadzah, saya terinspirasi oleh ibu A. Beliau sudah lama di LTQ dan tetap berusaha setoran walau berat”

Ibu C, D, E. Ketiga ibu berkarir yang sudah sekitar 10 tahun lebih di lembaga kami. Enggan bergerak ke kelas tahfizh, tapi di tengah kesibukan beliau-beliau yang luar biasa, tetap bertekad datang setiap pekan untuk talaqqi. Sempat menyetorkan hafalan, tapi memutuskan berhenti ketika dirasa semakin berat. Ketika melihat ibu B berjuang pelan-pelan menyetorkan hafalan, ibu C, D, E ini memutuskan untuk kembali muroja’ah dan menambah hafalannya.

See? kita mungkin tengah kesulitan saat ini, tapi perjuangan yang kita lakukan itu sendiri, walau mungkin hasilnya belum sesuai harapan, bisa jadi inspirasi bagi orang lain untuk ikut memulai berjuang.

Terutama untuk saya, tentunya, yang menyaksikan wanita-wanita hebat ini meneguhkan jalannya di bawah naungan al-Qur’an.

Matahati: Refleksi 1 tahun

Matahati: Refleksi 1 tahun

Bagi seorang anak manusia, usia satu tahun adalah momen di mana ia mulai berjalan, mulai merasakan ketertarikan yang semakin besar untuk menjelajah dunia. Kadang ia terjatuh, tapi semangatnya untuk menjadi bagian dari eksistensi semesta, membuatnya terus bangkit dan belajar berjalan kembali.

Bagi sebuah organisasi, usia setahun bermakna sekumpulan manusia yang terus belajar, agar semakin terentang lebar sayap kebaikan, menolong sesama manusia agar semakin berfungsi seutuhnya. Saling membahu agar dapat memenuhi hakikat kemanusiaan: mengbadi dengan sepenuh potensi yang Allah beri. 

Matahati pada mulanya adalah sebuah inisiasi agar unit terkecil dalam masyarakat dapat semakin kokoh, dengan status generasi apapun yang melekat pada kita saat ini, tetap bisa merasakan betapa nikmatnya anugerah hidup: tidak menyesal menjadi sandwich gen, tidak kesal pada status sosial baik sudah berjodoh atau belum, tidak menyesal menerima peran keayahan atau keibuan, tidak marah lagi pada setiap fase traumatik apapun yang menyertai catatan hidup kita. Proses penerimaan dari hati, yang pada akhirnya mendorong manusia untuk mengoptimalisasi setiap detik hidupnya. 

Namun pada perjalanannya, kami pun ternyata banyak terberi.
Kami ikut bahagia ketika setiap usai sesi konseling: melihat senyum lega para klien, mendapati mereka bisa tidur lebih nyenyak, mendapati pikiran mereka yang lebih cerah pasca edukasi. Kami ikut bersyukur mendapat kabar dari pasangan yang lebih akur, dari orang tua yang lebih memahami anaknya, dari tekad seseorang untuk bangkit dari keterpurukan. 

Kami menyadari, setiap ruang diskusi pekanan, setiap sesi konseling yang dilalui, setiap momen edukasi dan pelatihan baik melalui komunitas, sekolah, bahwa seribu lebih user yang kami layani dalam satu tahun ini, barulah permulaan dalam sebuah perjalanan yang sangat panjang. Masih banyak yang perlu dibenahi.

Perjalanan panjang ini mungkin tidak selalu ramai, tapi punya makna yang begitu dalam ketika kami menyadari adanya dukungan dan doa dari sahabat semua.. Terima kasih banyak atas kehadiran dan dukungan, serta inisiasi kerjasama yang sudah, tengah dan akan terjalin. 

Matahati, sebagaimana namanya, membutuhkan dukungan, saran, kerjasama dan doa dari kawan-kawan sekalian agar ia selalu disertai dengan bekal paling berharga. Agar perjalanan panjang ini selalu menemukan muara kebaikannya, ia butuh ditempuh dengan bashirah—matahati. 

The hardest talk

The hardest talk

Di antara pembicaraan yang paling sulit kita lakukan, kadang adalah berbicara dengan keluarga sendiri, berdialog dengan orang-orang yang kita sayang.

Bergumul emosi untuk mengucapkan sesuatu karena khawatir ia tersakiti, disalahpahami, dan pada akhirnya kita sendiri takut kata-kata tersebut berbalik menyakiti diri kita.

“bisa nggak ya dari psikolog/konselor aja yang menyampaikan?”, seorang perempuan berusia 30an datang ke stand Matahati di sesi Women Festive, berdiskusi tentang sang adik yang menurutnya perlu datang konseling. Kakaknya sudah kesulitan untuk bicara dengan sang adik, dan meminta kami membuat rekayasa seolah-olah tidak sengaja bertemu dengan sang adik, mengajak diskusi, dan secara tidak langsung–entah bagaimana caranya, mengajak sang adik konseling.

“memang kenapa ya mba ngga ngomong langsung aja?” psikolog dewasa kami menanggapi, saat kami hanya berdua saja.

Tentu saja request khusus seperti di atas sulit kami penuhi. Kehadiran seorang klien di sesi konseling adalah kehadiran yang disadari secara penuh dan atas kemauan sendiri, bukan paksaan, agar sesi konseling dapat berjalan optimal.

“ya mungkin karena sulit, ya..”

“Istri saya kalau diajak ngomong atau diingetin diam aja,” ujar sang suami dalam satu sesi konseling pasangan.
“Saya udah capek bu ngomong sama dia.” sang istri menyahuti, sambil memalingkan wajah dari suaminya.” udah susah dikasih tahu”.

seperti siklus yang tidak berhenti: kita ngomong –> lawan bicara marah –> kita ikut marah –> tengkar –> diam. Hingga akhirnya komunikasi terputus, atau memilih menghindari topik konflik, sehingga ibarat debu-debu di bawah karpet, ia menumpuk kotor dan bisa menjadi sumber penyakit.

lantas bagaimana caranya?

1. Pahami bahwa keluarga, baik itu pasangan, orang tua, maupun saudara, bukanlah musuh kita. Selama masih sama-sama bersepakat tentang tujuan berkeluarga, mereka adalah bagian dari satu tim yang perlu kita ajak kerjasama. Frame ini signifikan pengaruhnya untuk membuat kita sadar di situasi krisis. ketika seorang istri menaikkan nada bicara, secara alamiah suami akan melihat bahwa sosok di depannya ini adalah musuh.. maka otaknya akan memerintahkan untuk juga akan menyerang. strike back!

Musuh kita adalah hal-hal eksternal maupun karakter atau perbuatan yang perlu diperbaiki, bukan sosok orangnya.

2. Mengingat kembali bahwa di depan kita bukan musuh, akan membuat kita berjeda sejenak, “ok, apa yang bisa saya bantu supaya kawan tim saya ini bisa diajak mencapai tujuan bersama?”
Pembicaraan bisa berkurang kadar kesulitannya, ketika kita mencoba menempatkan diri pada posisi lawan bicara. Mencoba berempati, menggali apa sebenarnya akar masalahnya.

3. mengubah sedikit gaya bicara, dari berpusat “semua gara-gara kamu, kamu selalu aja begini, dst”, menuju “I Statement” , “aku seneng deh misalnya kita olahraga bareng.., aku ngrasa aman kalau kamu ngabarin posisi ada di mana., aku ga nyaman deh ngeliat ada handuk di atas kasur, aku sedih deh kalau kamu ga sabar nunggu aku.. aku cemburu deh kalau ngeliat kamu jalan sama dia, dst”

Tetep syemangatt..!



Jeda

Jeda

Di antara hal yang menyenangkan ketika berkendara adalah terus berjalan lancar, nyaris tidak ada hambatan, bahkan di perhentian “bangjo” alias traffic light, indikator lampu selalu warna hijau sehingga mendorong kita nge-gas jalan teruss.. yang lebih dramatis, indikator lampu warna orange jelang merah, kemudian mendorong kita semakin kencang ngegas agar tidak terhenti.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, ada lampu merah yang membuat kita berhenti berkendara adalah sebuah istirahat untuk kita. Walau tidak sampai dua menit, untuk sebuah jarak tempuh yang jauh dan nyaris seharian di atas kendaraan, berhenti sejenak di lampu merah– bahkan kalau perlu kita mengurangi gas agar bisa dapat lampu merah, adalah sebuah kenikmatan.

Dalam sekian ratus detik itu, hormon adrenalin untuk menyalip, bersaing dengan kendaraan lain dipaksa untuk berhenti. Leher yang tegang, kaki yang letih–apalagi kalau pakai kopling, bisa dalam fase rileks. Ambil minum, ngobrol dengan sosok di samping dengan lebih mindful. Melihat sekitar, mengecek kembali apakah arah sudah sesuai peta.

Dalam perjalanan kita menggesa cita-cita begitu pula, gapapa berhenti dulu.

Ada pemberhentian yang memang sesuai dengan rencana, ada yang “dipaksa” karena situasi. Tapi momen berhenti itu kita butuhkan agar kita punya energi untuk melanjutkan perjalanan. Tubuh kita lelah, tidur dulu aja. Bahkan ada bahu2 jalan darurat di pinggir jalan tol, bisa dipakai kalau sudah terlalu berat mata ini berkendara.

Ada jeda yang memang sudah diprogram oleh Allah untuk hamba-Nya: nikmatnya shalat 5 kali sehari untuk kembali sadar bahwa ego kita tidak boleh membuat sombong, sebab Allah-lah Yang Maha Besar.

Ngaji, momen berhenti kita untuk lihat peta kembali. kata bang Adlil dalam sesi coaching Mardika, nyontek dalam kehidupan itu boleh. Allah aja minta kita untuk sering buka Qur’an, karena banyak yang sudah disampaikan di sana untuk solusi2 dari permasalahan kita. Because, there’s nothing new under the sun.

Jangan sampai momen jeda hadir dalam bentuk teguran yang menyakitkan. Atau dalam perjalanan tersasar yang menyesatkan. Sampai kita menyesal, karena mengabaikan sinyal-sinyal untuk rehat sejenak, jeda dalam bentuk penghambaan.

Kompensasi

Kompensasi

Sekitar setahun terakhir, pinggang kanan saya ke bawah seringkali sakit. Menjalar ke bawah sampai kaki kanan sulit digerakkan. Nyerinya sering muncul terutama setelah menggendong atau berjalan jauh. Setelah beberapa kali terapi, ternyata hal itu disebabkan karena kaki kiri saya pernah cedera parah 10 tahun lalu. Kecengklak sambil gendong azima baby, sampai tidak bisa berjalan menapak sepekanan. Dokter ortopedi saat itu menyarankan untuk dilakukan operasi karena ada retak tipis. Tapi kalaupun nggak, masih nggak apa-apa. Hanya katanya, quality of life cepat atau lambat akan terpengaruh. Pikiran new mom saat itu, duh ribet kalau harus bepejees, ada bayi yang ikut ke mana-mana. Kalau bayar sendiri mihil banget biayanya. Toh, ngga ada yg menjamin saya masih ada umur sampai sekian tahun mendatang?

Setelah sepuluh tahun berlalu, ternyata ada harga yang harus dibayar, istilah terapisnya, “kompensasi”. Tubuh saya secara natural mengompensasi kelemahan kaki kiri tersebut, dengan menumpu beban di sebelah kanan. Alhasil bertahun kemudian, efeknya ke mana-mana, termasuk nyeri di pinggang hingga kaki kanan. Saat ini, salah satu bentuk terapinya adalah dengan menguatkan otot-otok di kaki kiri sehingga bisa lebih balance, sehingga tidak membuat nyeri lagi sisi kanan saya.

Kompensasi tidak hanya secara alamiah terjadi dalam tubuh. Seringkali, ia juga menyertai kondisi-kondisi dalam hidup kita. Ada yang rumahnya jauh, tapi alhamdulillah punya kemampuan berkendara, sehingga bisa menghemat waktu tempuh. Ada yang nggak bisa berkendara, tapi diberi kemampuan untuk tinggal di dekat pusat aktivitas. Ada yang tidak bisa berkendara, rumahnya jauh, diberi support system berupa pasangan dan anak-anak yang mudah dikondisikan.

Ada yang secara finansial pas-pasan, tapi anak-anaknya diberi kemampuan menghafal yang luar biasa. Ada yang kemampuan menghafal biasa saja, tapi kemampuan logikanya secepat kilat. Ada yang logikanya pas-pasan, tapi kemampuan empatinya melampaui usianya.

Seperti kemampuan kaki kiri yang dicover oleh kaki kanan, kompensasi sering hadir mengikuti, atau diikuti. Tapi ia membersamai. Ia hadir kadang tidak sengaja, tapi kadangpula diupayakan. Ketika satu kompensasi sudah tidak mumpuni karena sudah terlampau jauh, akan hadir lagi kompensasi selanjutnya, di antaranya keinginan dan usaha saya untuk berobat, berolahraga, memperbaiki postur.

Adanya ‘kompensasi’ ini, bukan semata “ada harga yang harus dibayar”, tapi juga “kemampuan kita untuk membayarnya”. Ketika Allah memberikan kita sebuah tantangan, disertakan pula alat-alat untuk menghadapinya. Kalau belum kelihatan, barangkali perlu lebih jauh untuk menggalinya. Tapi keyakinan bahwa ‘fainna ma’al usri yusra, inna ma’al usri yusra’, setidaknya akan memberi kita energi untuk terus berjalan mencari kompensasi tersebut. Dan bahwa–keinginan untuk terus berjalan itu sendiri adalah sebuah kompensasi.

kembali

kembali

jika mengacu pada relativitas waktu, menghabiskan 4,5 tahun sebagai mahasiswa FH UI rasanya sangat lamaa, karena episode hidup pada masa tersebut sepertinya termasuk yang paling challenging.

fase adaptasi, belajar berjalan cepat padahal kemampuan masih jalan pelan, kalau kata bu lita, bahkan belajar berlari sambil berlari.

saat itu seperti diharuskan sprint, meraih banyak target di waktu tertentu dengan kemampuan jantung yang terbatas. ngos-ngosan. tapi di ujung jalan, saya menyadari bahwa amanah pada akhirnya menuntut dan menuntun.

menuntut pertanggungjawaban di dunia dan akhirat, menuntun untuk terus memperbaiki dan mengembangkan diri. menuntun pada dunia yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan akan menyelaminya.

jika mengacu pada relativitas waktu, memandang sejenak ke belakang, ternyata keberadaan sy di FH sangat singkat, dan entah apakah ada kebaikan yang saat itu benar-benar saya kerjakan, dan memiliki nilai di mata Allah.

ketidaktahuan tersebut mendorong, setidaknya, untuk mengisi episode saat ini dengan sebaik mungkin, termasuk untuk berbagi dan menguatkan mereka, para adik2, “all iz well”.

Menguji batas: Trekking & Jualan

Menguji batas: Trekking & Jualan

Menyadari usia sudah kepala tiga dan pernah melahirkan empat kali membawa beberapa konsekuensi: fisik lebih mudah capek, gampang mengantuk, daya ingat menurun. Kalau sudah malam, karena harus momong tiga anak, emosi jadi lebih mudah tersulut karena sudah lelah. Akhirnya sadar diri bahwa harus menguatkan fisik, karena jalan pengasuhan masih panjang. Sejak sebulan terakhir, merutinkan untuk jalan pagi, ikut olahraga dari aplikasi, youtube, maupun program berbayar.

Akhirnya ketika diajak kak jay untuk ikut trekking ke Sentul, diri ini dengan semangat menyambutnya. Ke Curug Love, katanya 4 km bolak balik. Ah, kayak keliling komplek, okelah masih bisa. Toh beberapa hari sebelumnya sudah rutin jalan.

Seru, wah, mendaki-daki terus dengan gendong Aiman yang beratnya kurang lebih 8,7 kg, ketika lelah, menguatkan diri, bahwa sebentar lagi sampai. Ifah bisa, ayo jadi teladan yang baik untuk anak-anak. Ayo sehat, eh.. kok rasanya nggak sampai-sampai, hihi. Hingga di seperampat perjalanan terakhir menuju curug, akhirnya Aiman dipindahtangankan ke ayahnya. Istirahat dan main-main di curug sekitar 2 jam, kemudian turun terasa lebih cepat. Meski ternyata jari-jari kaki terasa lebih sakit karena jempol yang tengah mengalami dermatitis tertekan terus.

Setibanya di rumah, kedua kaki senat senut luar biasa, seperti nyeri linu ketika terkena DB dan covid. Bagian terharunya adalah, ketika dengan sabarnya azima memijit bundanya dan memberi pengertian ke Aslan bahwa bundanya butuh istirahat. Aslan pun main dengan ayahnya, yang juga menyambi gendong Aiman. Malam hari masih kaki nyeri tidak bisa tidur, baru membaik ketika minum panadol dan mengolesi Hotin TDL.

Meskipun demikian, rasanya, berterima kasih dengan diri sendiri karena sudah berani mencoba dan nggak menyerah. Menyelesaikan tantangan, menuntaskan hal yang sudah dimulai. Latihan fisik untuk ibadah umroh dan haji. (Aamiin)

Ketika melihat bundanya berolahrga, Azima pesan, “bunda harus rajin olahraga ya, supaya nanti kalau udah tua masih bisa jalan-jalan sama Azima.” terima kasih sayang!


Challenge kedua yang juga coba sedang saya lakukan adalah berjualan. Menambah pundi-pundi untuk mencapai cita-cita kebaikan. Sudah lama sebenarnya pengen jualan di komplek, tapi mikir bagaimana mengantarnya, berhubung kayaknya rempong kalau antar-antar pakai mobil. Tapi, ya wislah, coba dulu aja dilihat polanya. Akhirnya memutuskan jualan somay. Salah satu makanan favorit keluarga.

Awalnya malu-malu menawarkan. Lama-lama nyantai. Memang PR dalam hal pengantaran dan mengatur waktu dalam memasak, mengemas bumbu, membuat kotak somay. Tapi ketika akhirnya terkumpul lembar demi lembar, ada perasaan bersyukur bahwa selama ini Allah cukupkan. Lebih menghargai setiap rezeki yang hadir. Next berencana berjualan buku anak dan dewasa yang sudah saya kurasi. Sekalian buat reviewnya di sosmed. Mudah-mudahan bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Meskipun ini bukan pertama kalinya pengalaman jualan, tapi setiap jualan jadi ajang menguji diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman.

Alhamdulillah, ala kulli hal, masih diberi kesempatan untuk melakukan hal-hal yang challenging dan semoga berimpact pada orang banyak. Masih diberi kemampuan untuk punya mimpi-mimpi dan cita-cita yang ingin diraih, itu sendiri adalah sebuah karunia.

sadar bahwa umur nggak panjang, lebih mengoptimalkan setiap peluang kebaikan yang ada. Josh! bismillah.


Pemilu 2024: Insights

Pemilu 2024: Insights

Setelah kurleb melewati gejolak perpolitikan setahun terakhir, setidaknya ada beberapa insight yang ingin saya share terkait pemilu 2024:

1. setiap kita punya identitas majemuk

melihat bagaimana isu politik identitas menjadi “gorengan” empuk yang selalu disajikan dalam tiap pemilu, membuat saya berfikir, apa iya cuma paslon 01 yang demikian?

sebenarnya tanpa sadar 02 dan 03 pun melakukan demikian. Bedanya, kalau 01 dikaitkan dengan pemilih muslim, sedangkan non-muslim atau yang digolongkan sebagai mioritas lainnya lazim diasumsikan akan memilih 02 dan 03.

Ada kawan yang celetuk, rakyat indonesia itu masih rasis, sulit lah milih 01. Lho? Kenapa? Iya, kan Pak ABW ini keturunaan Arab. Bukan orang keturunan Jawa.

Ah iya, saya baru nyadar. Jadi sebenarnya Pak ABW ini juga mewakili kaum minoritas lho, bukan hanya tionghoa saja yang dianggap minoritas toh? Saya cukup amaze dan tersadar ketika beliau bisa boso jowo, oh iya, beliau kan tumbuh besar di Jogja.

Dari segi ideologi, bagi golongan ekstrem kanan, pak ABW ini bisa dibilang agak liberal karena lama tinggal di US, pernah menjadi rektor kampus yang dikenal cukup liberal. Meskipun kalau dilihat dari kebijakannya selama menjabat Gubernur, kental juga dengan tema2 sosialis. Sedangkan, bagi golongan liberal, karena (mungkin) statusnya sebagai keturunan Arab, dikelilingi tokoh2 Muslim yang dikenal “radikal”, jadi seolah2 beliau ini “terlalu Islam”, fear mongering.

Dari situ terlihat bahwa setiap orang punya identitas yang majemuk dan spektrum kepribadian yang luas. Pilihan akan satu calon tertentu menunjukkan bahwa ada irisan spektrum dan value antara kita dengan calon tersebut. Ini juga setidaknya bagi saya memberi penjelasan, “kok bisa siih, dia milih yang itu?”, karena bisa jadi ada irisan spektrum yang belum saya fahami terjadi di antara mereka.

2. Common sense.

Gelombang rakyat yang menginginkan perubahan menunjukkan bahwa masih ada common sense yang dimiliki negeri ini. Bahwa politik (dalam hal ini pemilu) adalah medium yang netral. Mungkin ia sudah terlalu lama dikenal sebagai tempat yang kotor, tapi bukan berarti orang jujur dan baik tidak boleh berpartisipasi untuk bersuara.

Jika politik adalah permainan–sebagaimana dunia ini adalah permainan, bermainlah yang fair, milikilah rasa malu. Pilihlah yang bijak, gunakan akal sehat, jagalah terus nurani.

Common sense ini dimiliki ragam kalangan, bukan hanya golongan tertentu saja. Membuat saya terharu bahwa ternyata kita tidak sendirian. Tidak sendirian misuh-misuh, tidak takut pada celaan orang yang mencela. Hingga akhirnya semakin kuat dan yakin untuk terus berada pada jalan yang dipilih.

3. berharap, kecewa, berharap lagi.

Saya pernah menuliskan beberapa tokoh politik di blog pribadi saya. Bagaimana saya menaruh kekaguman karena integritas dan “konkret”nya beliau-beliau. Tapi bertahun-tahun setelahnya ada kabar tentang bagaimana salah satu di antaranya terlibat korupsi, atau bagaimana salah satunya terlibat politik yang “terkesan pragmatis”—setidaknya dalam kacamata saya.

Tidak sedikit pula tokoh maupun wargi yang secara terang2an menyatakan kekecewaannya bagi Pak Pres yang dipilih & didukung selama 2 periode terakhir. Tapi kemudian mereka memutuskan untuk kembali memilih (tidak golput) di pemilu periode ini.

Manusia dengan harapan-harapannya, adalah wajar jika kemudian ada kecewa. Tapi harapan itulah yang akhirnya membuat bertahan, untuk terus berjalan lagi dan melanjutkan hidup. Mencapai suatu target dan cita-cita lagi.

Terus meyakinkan diri bahwa “we’re all here for a reason”.

Bahwa kita ditakdirkan menjadi warga Wakanda, eh, Indonesia, tentu dengan sebuah alasan, dan semoga alasan tersebut adalah karena kita dianggap mampu memperbaiki kondisi yang sedang carut marut ini. Jadikan kehadiran kita menjadi alasan hadirnya kemakmuran di muka bumi, bukan malah sebaliknya.

Dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia, menimbang dan menakar dari segala pemberitaan media, debat ke debat, isu yang ini dan itu, pada akhirnya pilihan kita tidak bisa full sempurna memuaskan, bahkan untuk diri kita sendiri.

Maka setelah menyempurnakan ikhtiar, memasrahkan kembali segalanya kepada Allah akan menjadi energi kita, agar tak kehabisan sumbu untuk menyalakan harap.

4. Yakin boleh, sombong jangan.

Manusia adalah kumpulan dari pilihan-pilihan yang ia ambil pada masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Ada pilihan yang diambil secara sukarela, ada yang terpaksa. Ada pilihan yang memberikan banyak manfaat positif dan kebahagiaan, ada yang melahirkan kerugiaan dan kesengsaraan.

Pilihan kita bisa jadi benar, bisa jadi salah. Oleh sebab itu, yakin dan optimis itu perlu dan harus. Tapi jangan sampai terlalu gelap mata, taklid buta hingga jatuh pada kesombongan. Toh, pada akhirnya pilihan kita masing-masing akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Kelegaan bukan hanya ketika pilihan kita menang dan membahagiakan, tapi ketika kita yakin bahwa ini adalah ikhitiar agar senantiasa berpihak pada kebenaran.

Al-haqqu min rabbik falaa takunanna minal mumtariin.