Mengapa ada manusia yang diberikan usia begitu panjang hingga 100 tahun, menyaksikan aneka perguliran sejarah, tapi ada juga yang bahkan baru beberapa jam bernafas di dunia, belumlah sempat ia memandang dengan jelas kedua orangntuanya, namun sudah Dia ambil kembali?
Mengapa ada orang yang very prominent dan punya promising future contribution, masa depannya cerah, tiba-tiba tutup usia–either karena sakit atau kecelakaan, tapi ada juga yang segera ingin mengakhiri hidup–saking beratnya ujian, tapi tidak kunjung dipanggil-Nya?

Pertanyaan ini cukup berkecamuk di kepala beberapa waktu terakhir, dihadapkan pada kenyataan sekian tokoh, keluarga, kerabat dan teman yang tiba-tiba Dia panggil di usia yang tidak terduga. Mengingatkan juga pada yang telah lampau bertahun lamanya wafat, di usia yang masih muda.
Pertanyaan tentang kematian selalu menjadi misteri, bahkan Sang Nabi pun tak mengetahui waktunya, “yas aluunaka ‘anis sa’aati ayyaana mursaaha.. fiima anta min dzikraaha” kewajibannya adalah memberi peringatan,
Justru dengan misterinya kematian, dan keterbatasan usia itu yg membuat manusia menjadi lebih bertanggung jawab terhadap hidupnya.
Karena jika hidup itu tidak terbatas, jika manusia itu abadi, kata Frankl, apa bedanya jika mengerjakan sesuatu di hari ini atau esok?
Justru karena hidup terbatas, setiap momen menjadi bermakna.
Bagaimana hadiah dan hukuman, cinta dan kebencian, menemukan maknanya karena berbatas waktu dan ruang.
Keterbatasan itulah yang membuat setiap pilihan berarti, dan kita terdorong menjalani hidup ini dengan lebih sadar.
“fakta bahwa kita ini makhluk yang bisa mati, bahwa hidup kita terbatas, bahwa waktu kita memiliki batasan dan dengan demikian membatasi peluang-peluang kita, memberikan makna pada setiap perbuatan kita: akan sangat berarti sekali kalau kita mengeksploitasi sebuah kemungkinan menjadi kenyataan, memenuhi harapan, menggunakan waktu dan mengisinya.
Kematian seolah memaksa kita melakukan semua itu. Kematian memberikan latar belakang sehingga keberadaan kita sebagai manusia menjelma menjadi sebuah tanggung jawab.“(Viktor E. Frankl, Yes to Life, 2021)
Setback kembali selama 365 hari di 2025 yang sudah terberi, ternyata ada banyak sekali kejutan2 yg Allah sertakan. Siap tidak siap, bahkan di beberapa momen terasa megap-megap.
tapi di masa itu, ada momen of truth di mana saya seperti mengulik kembali sisi lain yg belum pernah berani saya gali: mengambil resiko-resiko dengan tanggung jawab yang besar, khususnya di bidang bisnis–sesuatu yang paling saya hindari sebagian bagian dari cita-cita masa remaja dulu, (urutan kedua setelah menjadi anggota parlemen wkwk).
Nyatanya perguliran waktu mengantarkan kita pada sesuatu yg kita paling hindari, seperti tantangan yang menari untuk membuktikan bahwa memanglah hidup ini demikian bermakna.
Dan, jika bermakna, apa yang makna paling penting menurutmu, itulah yg akan membuatmu bertahan.