
Bismillah. Allohumma shalli ala muhammad wa ali muhammad.
Lama nian ingin menulis ini, tetapi belum bisa juga. Tapi entah kenapa, kemarin sudah lama saya tidak melakukan suatu kegiatan yang sering saya lakukan, yaitu perjalanan. Ceritanya saya ingin menuju bogor, ke ciawi tepatnya. Pagi pagi saya minta diantar ke leuwi panjang. saat memasuki leuwipanjang, terlihat bus berjejer mengikuti barisan. sudah lama saya tidak kesini. dulu sehabis kuliah, saya begitu akrab dengan tempat ini.
Hampir tiap minggu saya pulang ke bandung, dari bekasi atau serang, tempat kerja saya. dulu belum ada tol cipularang, jadi masih lewat purwakarta yang jalannya berbelok belok itu. biasanya waktu pun tidak terkira. meskipun sore dari sana atau siang dari serang, tetap saja sampai di leuwipanjang malam. Malamnya bisa sampai jam 12 atau dini hari. kalau sudah malam malam begitu, yang susah adalah mencari angkot untuk sampai dago. Mesti nunggu, ikut ngetem sampai sejam. Jadilah sampai rumah di daerah sadang serang, nyubuh.
Tapi yang paling indah, dan itu yang tak pernah terlupakan, adalah saat saat keluar dari bus, dimalam malam itu. saat kulit badan bersentuhan dengan dingin malam bandung. ditengah ketenangan leuwipanjang, yang biasanya sibuk, hanya ditemani beberapa pedagang warung kopi yang buka sampai pagi…..
Kini, saya menyusuri lagi lorong lorong terminal ini. keadaannya tetap tak berubah, masih agak kotor dan ada aroma parfum khas sini. Tahukan anda parfum apa itu ? he..he. Mungkin parfum ini juga yang tak pernah dilupa. itu adalah campuran aroma oli, tanah dan air kencing (kaya apa rumus kimianya ya…apa terjadi reaksi hi..hi..)
saat saya muncul, di ujung lorong, mulailah para agen, calo atau apapun nama mereka, mengerubungi saya, menanyakan saya mau kemana, bahkan menarik saya untuk naik ke suatu bis. saya membiarkan diri saya, untuk di tarik tarik seperti itu. yah…memang begitu “keindahan” di terminal. coba kalau kita melawan, gak mau, nanti repot sendiri. Tapi mereka baik kog sebenarnya. akhirnya saya pun bisa duduk di bus, di kursi kesenangan saya, depan sebelah kiri dekat pintu masuk.
saya menarik nafas panjang, saya sesegukan sebentar, kemudian menyeka air mata saya yang mulai meleleh (takut diliatin ibu ibu yang duduk di kursi kanan he..he..). inilah mengapa saya senang duduk disini. ini adalah bus ekonomi, bus rakyat kecil. saya kembali melihat mereka, mereka orang-orang yang sederhana. dari depan kaca yang lebar bus ini, saya kembali lihat semuanya. para agen bus yang sedang berebut penumpang, para pedagang yang semuanya sederhana. para penumpangnya pun sederhana. lihatlah penampilan mereka, wajah wajah mereka. Lihat juga obrolan obrolan mereka. di wajah wajah itu, wajah sedih atau gembira berbaur jadi satu….(karena saking sederhanyanya kali ya..)
di dekat mereka, orang orang sederhana itu, spertinya ada yang beban saya ada yang terlepas. ntahlah ! saya tidak tahu. saya menjadi lebih tenang. barangkali selama ini saya terlalu berpikir rumit, tapi kalau kita menjadi lebih sederhana, pikiran akan lebih tenang….
bus ekonomi pun melaju. Anda, mungkin tahu, bus ekonomi. jalannya lambat dan panas. tapi mereka orang orang sederhana itu tenang tenang saja. tidak banyak mengeluh disana sini. saya sering naik mobil AC, wah naik bus ekonomi kali ini panasnya luarbiasa. hanya disini, saya pun ikut menjadi sederhana, jadi gak perlu keluh mengeluh karena panas ini. kalau menjadi sederhana, kita akan menjadi lebih pasrah kali ya…he..he…
Entah kenapa ya, kalau dalam hidup, pada saat kita lahir, kita datang dengan sederhana sekali. datang tidak membawa apa-apa. hidup saat kanak kanak pun dimana itu adalah saat yang indah, kita hidup dengan pemikiran yang sederhana. nanti saat kita mati, kitapun menjadi sederhana lagi.
katanya orang orang yang suci pun adalah orang orang yang sederhana. Lihat saja Muhammad (salawat dan salam untuk nya) dan yesus kristus (salam untuknya). kenyataannya sederhana bukan pula lawan dari kaya atau miskin. sederhana cenderung kepada sikap hidup rupanya.
kalau kita bertanya tentang tuhan, Tuhan pun begitu sederhana. Dimanakah Ia ? “Aku dekat”, kata Qur’an. ketika ditanya lagi bagaimana Ia, lagi lagi Qur’an menjawab, “tak ada yang seperti Dia”. Dia hanya Dia, Dia tunggal, dan Dia amat sederhananya….(jadi kenapa orang orang suci itu amat sederhana, mungkin karena mereka tlah menemukan Dia..
Ah….akhirnya, Bandung Ciawi sampai juga, berangkat jam 06.00 sampai jam 13.00. Tak ada keluhan dari para penumpang. sederhananya sih, kata penumpang..:” yang penting sampai”!
Allohumma shalli ala muhammad wa ali muhammad.
wassalam
ayu sf