Kaidah singkat bab makanan

Posted: 29 Juni 2014 in Tidak Dikategorikan

avatar Abu UtsmanMeniti Jalan yang Lurus

Perlu diketahui dan dihafal beberapa kaedah, pokok dan prinsip berkaitan dg ilmu fiqih halal-haram dalam bab makanan;

1. Hukum asal dalam perkara makanan dan minuman adalah semuanya halal (kecuali ada dalil pelarangan/pengharamannya).

2. Semua yang najis adalah haram, baik makanan atau minuman.

Lihat pos aslinya 215 kata lagi

Berbuat Baiklah, Bro.

Posted: 29 Oktober 2013 in Tidak Dikategorikan

Assalamu’alaikum.

Maha benar Allah yang telah berfirman, “In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum fa lahâ.” (Al-Isra’ : 7). Kalau kita berbuat baik, kebaikan itu sebenarnya adalah untuk kita sendiri. Dan perbuatan buruk kita pun, akan kembali kepada kita, nastaghfirullahal ‘adhim.

Berbuat baik kepada orang lain, ternyata tidak hanya melakukan sesuatu untuk orang lain, atau membantunya dalam hal tertentu. Berinteraksi dengan baik, atau kenal lama dengan seseorang, lalu berakhlak yang baik kepadanya, juga merupakan sebuah perbuatan baik. Bahkan, hanya memasang wajah berseri dengan senyuman yang tulus, bisa dikategorikan sebagai sedekah, seperti Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi).

Ada pengalaman menarik mengenai hal ini. Kemarin, ketika mengurus surat-surat administrasi kependudukan ke kantor kelurahan, saya dilayani oleh seorang Bapak yang sudah agak tua, mungkin sekitar 60-an. Saya memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan saya, (halah, koyok mertamu ning ngendi wae :D). Karena saat itu, salah satu amunisi yang saya bawa adalah kartu keluarga, si Bapak ini melihat dan membaca KK. Eh, ternyata si Bapak kenal dengan Bapak saya. Dari sini lah, si Bapak ini cerita kalau mengenali Bapak saya, dan dulu sering ketemu untuk mengurus surat-surat administrasi warga. Bapak saya memang pernah sepuluh tahun menjadi ketua RT, dulu pas saya masih SD :D. 

Nah, tak dinyana tak disangka, Bapak ini mengatakan akan menguruskan surat-surat administrasi yang sedang saya cari. Kata beliau, biasanya mengurus surat yang saya cari ini sampai satu pekan, karena setelah di tahap kelurahan selesai, surat tersebut harus diverifikasi ke kecamatan. Saya fikir sih, alhamdulillah sekali kalau janji si Bapak ini benar-benar direalisasikan. Dalam hati saya mbatin (tapi saya bukan penganut kebatinan lho), “Ya Allah, mugo-mugo terkabul.”…. Akhirnya saya pamit dan meninggalkan jejak, eh, meninggalkan nomer HP.

Alhamdulillah, besoknya si Bapak ini nelpon saya dan memberitahu bahwa surat-surat yang saya butuhkan sudah jadi. Segera ambil kontak motor dan menuju kantor kelurahan. Di sana ternyata masih harus mengantri beberapa orang yang ternyata mengurus surat serupa. 🙂

Sampai pada antrian saya juga akhirnya, dengan cepat saya sambar kursi lalu saya duduki. :D. Si Bapak langsung meminta untuk tanda tangan di beberapa lembar kertas. Setelah selesai, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya, dan selebar-lebarnya, lalu pamit karena urusan lain masih menanti. Dalam perjalanan dari kantor kelurahan, tak henti dalam hati saya bersyukur dan lalu berfikir, apakah ini adalah hasil dari interaksi antara Bapak ini dan Bapak saya dulu?

Sore hari, kala senggang, saya pun menanyakan kepada Bapak tentang si Bapak yang saya temui di kantor kelurahan. Ternyata Bapak saya membenarkan, bahwa beliau berdua dulu sering berinteraksi dan kenal baik. Hanya itu? Ya, hanya itu!

Jejak seseorang dalam fikiran orang lain, mungkin dipengaruhi oleh akhlak, dan adab dalam berinteraksi satu sama lain. Kesan yang ditinggalkan inilah yang mungkin meninggalkan bekas yang akan dikenang. Nah, akhlak baik kita kepada orang lain, merupakan aset berharga. Aset yang di dalamnya terkandung unsur amal sholih.

Kesimpulan pribadi saya, berakhlak baik pada orang lain merupakan perbuatan yang terpuji (Ini kayak di buku2 PPKN jaman SD dulu, berarti ini bukan pendapat pribadi, Ralat ya… 😀

Berbuat baik pada orang lain, sekecil apapun, adalah ibarat menanam benih. Kelak, benih ini akan tumbuh dan berbuah. Buahnya ini bisa saja kita nikmati sendiri hasilnya, atau mungkin kelak anak kita, keluarga kita, atau orang-orang dekat kita yang akan menikmati.

Pareng. Wassalamu’alaikum.

 

Mie…Mie…Mie… lagi…dan lagi….

Posted: 27 Oktober 2013 in Tidak Dikategorikan

Salam….

Pernah makan mie instan kan? Apa? Sering??? 😀
Kok sama ya…. *nggolek bolo. 😀

Mie instan, apapun merknya, merupakan solusi terakhir dari kelaparan. Di kala dini hari masih melek di depan laptop, tiba-tiba laper. Mie instan solusinya. Di kala hujan, bagi anak kosan, apalagi di tanggal tua, mie instan juga sering dijadikan rujukan terakhir. Bahkan, di tenda-tenda pengungsian, mie instan juga dijadikan sebagai alternatif makanan, pengganti nasi bungkus jatah.

Saya bukan sedang memuja mie instan. Saya pun masih percaya, mengkonsumsi mie instan terlalu sering, dapat berakibat bagi kesehatan pencernaan.

Oke, dengan segala efek buruknya yang entah disadari atau tidak, mie instan telah menjadi sebuah solusi. Bahkan, produsen mie instan pun seolah berlomba menyajikan rasa yang bermacam-macam untuk menarik konsumen. Kalau saya sih standar aja, sukanya indomie soto yg bungkusnya warna ijo itu. 😀

Di kantor saya, karena sistem kerjanya shifting, maka bagi sebagian kawan yang mendapat jatah masuk shift malam, seringkali membuat mie instan untuk meredakan kelaparan di kala dini hari. Bila pada umumnya, orang-orang membuat mie instan cukup satu bungkus untuk satu orang. Namun bagi kawan saya, satu mie itu ibarat hanya menggelitiki leher. :D. Maka dia membuat dua bungkus mie instan untuk dirinya sendiri. Ada satu hal yang unik, dia membuat dua jenis mie instan. Satu mie instan rasa soto, satu lagi mie instan goreng. 😀
Kami biasa menjuluki mie dengan bumbu campuran tersebut dengan sebutan MIE AYAM. Hehehe….

Aneh bukan? Dan pasti nggak nyambung. Namun, menurut saya, nama benda adalah sebuah kesepakatan antara orang-orang, untuk menyebut atau mengidentifikasi suatu benda saja. Asalkan sama-sama disepakati, maka akan menjadi kelaziman dan pembenaran dalam suatu komunitas/kumpulan orang-orang. 😀

Ya, sambil menghabiskan mie instan yang masih ada di depan saya ini, saya hanya mencoba berbagi. Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan atau mengkampanyekan makan mie instan. Tidak sama sekali. Makan mie instan sangat tidak disarankan, apalagi bila istri anda bermadzhab herbalis. Woooh, bakal rame tuh. 😀

Sekian
Pareng….

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

Posted: 9 Oktober 2013 in Tidak Dikategorikan

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

– Sapardi Djoko Damono

Totalitas tanpa batas…

Posted: 9 Oktober 2013 in Tidak Dikategorikan
Tag:,

Assalamu’alaikum…..

Ini tulisan lama yang baru sempat saya publish. :D. Mood menulis atau mem-publish itu naik dan turun.

Oke, sesuai judul. Kali ini coba mau ngomongin organisasi. (Ciye,,,,,). Nah, buanyak banget tu teori yang menjelaskan tentang organisasi, silakan mau ambil yang mana, saya tak mau bahas itu. Kalau ngomong organisasi, pasti ketemu dengan yang namanya struktur. Struktur itu bentuknya hierarkhis, dari atas ke bawah. Lengkap dengan jalur komando atau jalur koordinasi-nya.

Setiap organ di struktur, mempunyai kewajiban/tugas masing-masing. Tentunya tugas ini diatur berdasarkan kebutuhan organisasi. Nah, setiap organ biasanya melakukan tugasnya masing-masing dan bertanggung jawab pada pemimpin organisasi. Ini bila organisasi tersebut merupakan organisasi ideal yang memiliki jumlah pengurus dan anggota proporsional. Proporsional yang saya maksud yaitu, memiliki stok anggota yang siap dan mampu menjadi pengurus setelah melalui masa/tahapan tertentu. Bagi organisasi proporsional seperti ini, tentu tak ada masalah dalam pengkaderan pengurus, selama stok anggota terus menerus ada.

Ya, pengkaderan, dan komunikasi merupakan masalah klasik dan selalu ditemukan dalam sejarah organisasi. Ada organisasi yang seret dalam pengkaderannya, banyak bahkan. Stok kader dan anggota menipis, lalu beberapa pos organ diisi oleh orang seadanya, yang belum mampu, dan seolah hanya numpang nama. :D. Bagi organisasi seperti ini, tentu tugas-tugas
 dan fungsi-fungsi organ akan diemban oleh orang-orang yang sedikit. Cenderungnya, ada multitasking. Double, atau bahkan triple job. :D.

Saya sendiri pernah (bahkan sering) mengalami hal ini. :D. Dulu saya seorang yang membenci multitasking. Kenapa? Karena saya anggap multitasking akan memecah fokus seseorang, sehingga mengurangi potensi expert-nya seseorang terhadap suatu hal. Sehingga pernah pada waktu SMA, karena saking sakleknya saya menolak multitasking, saya mengabaikan tugas-tugas tambahan saya, di luar tugas pokok saya sebagai seorang bendahara. Akibatnya, banyak hal yang tercecer dan tidak tergarap selama masa kepengurusan itu. Astaghfirullahal ‘adzim….

Seiring waktu, dan karena seringnya mengalami masa-masa harus melakukan multitasking, akhirnya agak memaksa saya berubah pikiran. :D. Ternyata, multitasking adalah efek samping dari sebuah hal yang bernama TOTALITAS. Ketika kita sudah memutuskan (tentunya dengan sadar) untuk masuk dalam suatu organisasi (entah Karang Taruna, Remaja Masjid, dan lain sebagainya), tentu kita harus menumbuhkan komitmen pada organisasi tersebut. Nah, komitmen tersebut PASTI memerlukan bukti bernama TOTALITAS. Total dalam mengerahkan segala potensi diri baik waktu, tenaga, bahkan harta, karena mungkin sering tombok. 😀

Totalitas itulah yang memudahkan seseorang untuk melakukan multitasking. Walau harus pontang-panting ke sana ke mari, harus membagi waktu dengan keluarga, pekerjaan, bahkan dengan studi. Pun juga kadang harus keluar dana dari kantong sendiri untuk nombok sana-sini. Doktrin totalitas ini akan membentuk pola pikir seseorang untuk mengupayakan segala hal supaya roda organisasi tetap berjalan. Pun agar semua fungsi-fungsi organisasi mampu terpenuhi.

Saya rasa ada yang kurang. Di atas belum saya sebutkan jenis organisasi yang saya bahas. Pastinya, bukan organisasi hura-hura atau yang berdasar kesenangan duniawi. Namun, untuk organisasi berbasis keagamaan, kesehatan, sosial, atau kemasyarakatan. Karena dirasa dari manfaat yang dihasilkan oleh organisasi semacam inilah yang mampu menghasilkan output  kebaikan bagi orang lain. Pun mampu menjadikan pelakunya menambah catatan amal sholih, bila niatnya benar, dan dengan cara-cara yang benar, insya Allah.

Cekap semanten atur kula. Permisi, kepareng….

Bila ada yang benar, datangnya dari Allah Ta’ala, Bila ada yang salah, saya beristighfar kepada Allah dan minta maafnya. 🙂

Wassalamu’alaikum warahmatullah….

 

 

Nocturno

Posted: 2 Oktober 2013 in Tidak Dikategorikan

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap…

Sapardi Djoko Damono

Sajak kecil tentang cinta

Posted: 30 September 2013 in Tidak Dikategorikan

Mencintai angin harus menjadi siut…
Mencintai air harus menjadi ricik…
Mencintai gunung harus menjadi terjal…
Mencintai api harus menjadi jilat…
Mencintai cakrawala harus menebas jarak…

Mencintaimu harus menjadi aku

Sapardi Djoko Damono

The Day Will Come

Posted: 30 September 2013 in Tidak Dikategorikan
Tag:,

“The day will come
When my body no longer exists
But in the lines of this poem
I will never let you be alone

The day will come
When my voice is no longer heard
But within the words of this poem
I will continue to watch over you

The day will come
When my dreams are no longer known
But in the spaces found in the letters of this poem
I will never tired of looking for you”
Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni

Posted: 15 Juni 2013 in Tidak Dikategorikan

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

1989

(Sapardi Djoko Damono; Kumpulan Sajak “Hujan Bulan Juni” – hal. 90)

Assalamu’alaikum, kawan….
Apa kabar? Semoga masih dalam lindungan Allah Ta’ala.
Menuju Ramadhan tahun 1434 Hijriyah ini, semakin siap pula harusnya diri kita dalam menyambut bulan yang paling dinanti oleh setiap Mukmin. Mengapa harus dipersiapkan? Karena bulan ramadhan adalah bulan yang spesial. Sebagaimana bila kita ingin menghadapi momen spesial seperti pernikahan (ini cuma contoh, jangan diperlebar pembahasannya :p), atau misal hendak bertemu pejabat/atasan.
Persiapan tarhib (menyambut) Ramadhan sangat penting dan perlu dilakukan, agar Ramadhan kita nantinya menjadi sukses. Sebagaimana halnya ketika kita akan menghadapi suatu ujian (test) atau pertandingan, maka tentu kita terlebih dahulu mempersiapkan diri, agar berhasil dalam ujian (test) atau menang dalam pertandingan tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan agar Ramadhan kita sukses? Persiapan apa saja yang perlu kita lakukan dalam menyambut bulan yang mulia ini? Berikut ini adalah artikel yang saya kutip dari : http://www.hidayatullah.com/read/23331/27/06/2012/lima-persiapan-menyambut-kedatangan-ramadhan.html.

Pertama, perbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban. Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukumnya adalah sunnat. Dalam sebuah riwayat, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Rasulullah saw paling banyak berpuasa dalam sebulan melainkan pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Hadits-hadits yang dijadilan sandaran sebagai keutamaan puasa dan shalat malam nisfu sya’ban itu dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu) menurut para ulama hadits. Al-Mubarakfury dalam kitabnya Tuhfah al-Ahwadzi (3/444) menyebutkan hadits nisfu sya’ban dhaif. Ibnu Al-Jauzi menvonis tersebut maudhu’ dengan memasukkan dalam kitabnya Al-Maudhu’at. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak boleh diamalkan berdasarkan ijma’ ulama.

Kedua, mempelajari fiqh ash-shiyam (fikih puasa). Seorang muslim wajib mempelajari ibadah sehari-harinya, termasuk fikih puasa, karena sebentar lagi kita akan menjalankan kewajiban ibadah puasa. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana cara berpuasa yang benar yaitu sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar ibadahnya diterima Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dengan mempelajari fikih puasa maka ia dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum puasa seperti rukun puasa, sunat dan adab puasa, yang membatalkan puasa dan sebagainya. Maka, sudah sudah sepatutnya menjelang kedatangan Ramadhan, seorang muslim memperbanyak membaca buku-buku tentang Puasa Ramadhan dan ibadah lainnya yang berkaitan dengan bulan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran. Persiapan ilmu ini wajib dilakukan oleh seorang muslim untuk memasuki bulan Ramadhan. Dengan ilmu, maka ibadah dapat dilakukan dengan cara yang benar dan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah mudahkan pendalaman dalam menuntut ilmu agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, memberi kabar gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan kepada umat Islam. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau selalu memberi taushiyah menjelang kedatangan Ramadhan dengan memberi kabar gembira tentang bulan Ramadhan kepada para shahabatnya.

Dalam sebuat riwayat dari Abu Hurairah beliau mengatakan bahwa menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi. Banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi motivasi dan semangat kepada umat Islam dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Keempat, menjaga kesehatan dan stamina fisik. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat pada bulan Ramadhan sangat penting. Mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik dan penuh semangat. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya sangat terganggu dan tidak semangat. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim) Oleh karena itu, menjelang bulan Ramadhan, maka kesehatan dan stamina fisik mesti dijaga. Makan harus teratur. Pola makan yang sehat harus dijaga. Selain itu, istirahat harus cukup.

Kelima, membersihkan rumah dan lingkungan. Islam memerintahkan kita untuk selalu hidup bersih dan sehat. Hal ini terbukti dengan perintah membersihkan diri dan tempat ibadah, terutama ketika ketika kita mau shalat atau melakukan ibadah lainnya. Untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, maka kita perlu menjaga kebersihan di rumah dan di sekitar lingkungan kita. Bila kita kedatangan tamu ke rumah kita atau ke desa kita, maka kita sibuk membersihkan rumah dan lingkungan kita. Bahkan rumah atau desa dihias sedemikian rupa, agar tampak indah dan bersih. Maka, begitu pula sepatutnya kita menyambut bulan Ramadhan.

Terlebih lagi, bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Tentu kita menginginkan suasana ibadah yang nyaman dan khusyuk dalam shalat lima waktu dan tarawih. Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusuk dalam shalatnya.” (Al-Mukminun: 1-2). Kekusyukan dalam ibadah akan mendatangkan ampunan Allah swt sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika kita menunaikan shalat lima waktu yang telah diwajibkan Allah Ta’ala dengan whudu yang sempurna, tepat waktu dan penuh khusyuk, maka Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita. Orang yang tidak melakukan hal itu, dia tidak termasuk dalam janji Allah. Jika Allah menghendaki ampunan, maka Allah mengampuninya. Dan jika Allah menghendaki siksaan, maka Allah akan menyiksanya.” (HR. Abu Daud)

Rumah, masjid dan surau yang bersih dan indah tentu akan menciptakan suasana yang nyaman dalam beribadah, sehingga akan mendatangkan kekusyukan dalam beribadah. Sebaliknya rumah, masjid dan surau yang kotor dan bau, tentu akan mengganggu kenyamanan dalam ibadah sehingga menghilangkan kekusyukan. Apalagi sampai menimbulkan berbagai macam penyakit yang berbahaya akibat lingkungan yang kotor dan bau.

Persiapan Finansial dan Mental

Selain lima persiapan itu, ada yang tak kalah pentingnya. Yakni persiapan finansial (keuangan) dan mental.

Bulan Ramadhan merupakan bulan amal shalih. Di antara shalih shalih yang sangat digalakkan pada bulan Ramadhan adalah berinfak dan bersedekah. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan sikap kedermawaaannya semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya untuyk mengajarkan al-Quran kepadanya. Dan biasanya Jibril mendatanginya setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajari al-Quran. Sungguh keadaan Jibril sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, sudah sepatutnya seorang muslim dalam Ramadhan mengikuti kedermawaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Agar dapat memanfaatkan keberkahan bulan Ramadhan, maka sepatutnya seorang muslim menyiapkan sebahagian hartanya sebelum kedatangan bulan Ramadhan untuk diinfakkan dan disedekahkan pada bulan Ramadhan nantinya. Selain itu, persiapan finansial ini juga sangat bermanfaat untuk keperluan bersahur dan berbuka puasa. Terlebih lagi bila ingin menu berbuka puasa mencukupi dan sesuai dengan standar gizi yang diperlukan oleh tubuh kita.

Jiwa dan mental juga perlu persiapan. Hendaklah kita menyambut bulan Ramadhan dengan rasa penuh kegembiaraan dan tulus hati serta jiwa yang bersih (taubat). Siapkan diri untuk melakukan berbagai amal shalih dan ibadah pada bulan Ramadhan. Karena pada bulan ini kita akan beribadah puasa dan lainnya dengan optimal dan fulltime selama sebulan penuh. Jiwa dan mental kita harus dipersiapkan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati (ikhlas) dalam beribadah. Dengan demikian, maka kesulitan dan sikap malas dalam ibadah bisa diatasi dan dihilangkan. Ibadah pun menjadi terasa mudah dan menyenangkan. Selain itu, hendaklah menyucikan jiwa kita dengan cara bertaubat kepada Allah Ta’ala, agar jiwa kita bersih dari noda dosa. Begitu pula kita hendaklah membiasakan diri untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah, seperti puasa sunnat, shalat sunnat dan memperbanyak membaca Al-Quran. Sehingga kita terlatih dan terbiasa melakukan ibadah yang optimal.

Demikianlah di antara berbagai persiapan yang dapat kita lakukan dalam rangka menyambut kedatangan tamu yang agung dan mulia yang bernama Ramadhan. Mari kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, keimanan dan ketulusan hati. Raihlah berbagai keutamaan yang dibawa oleh Ramadhan dengan melakukan berbagai amal shalih dan ibadah secara optimal. Semoga kita sukses dalam ujian dan ibadah di bulan Ramadhan ini…!!