Liburan telah usai, meski suasana lebaran samar-samar masih terlihat mata. sudah dipastikan para perantau-perantau kayak saya ini sudah kembali ke tanah rantau, bahasa gaulnya “back to reality” hehehhee. Saat saya nulis ini, saya baru saja kembali ke kantor dari istirahat makan siang, lalu saya kepengen nyeritain sedikit hal yang terjadi pas makan siang tadi. Pekerjaan saya di bagian pelayanan publik mengharuskan saya bertemu dengan banyak orang, tentu saja gag cuman orangnya, tapi juga dokumen-dokumen juga yang berkaitan dengan orang tersebut. Pas mau ngambil kunci motor untuk istirahat, salah satu mitra datang ke kantor, tujuannya bukan ketemu saya sih, tapi karena suasana lebaran masih terasa, beliau masuk ke ruangan saya untuk bersalaman sembari meminta maaf jika terdapat salah, tentu saya menyambut jabat tangan beliau karena umur beliau yang jauh di atas saya. Tak lupa beliau juga berkata “Arin tambah gemuk yaa….”, saya balas dengan senyum terlebar yang saya bisa. Saya gag tersinggung, sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti itu, padahal sebenernya jarum timbangan badan di kamar cenderung ke arah kiri bukan ke kanan. tapi ah sudahlah, beliau kemudian berlalu begitu saja, sembari saya melanjutkan aktifitas saya nyari makan siang karena belum sempet masak di rumah.
Seperti yang saya duga, saya kesulitan mencari penjual makan di Sumbawa karena sepertinya kebanyakan masih mudik dan libur lebaran, akhirnya setelah beberapa saat berkeliling, saya ketemu di deket wisma Bupati Sumbawa, sekitar 15 menit dari kantor (karena ditambah muter2 hehe). Ramai sekali di sana, padahal jika hari-hari biasa juga tak seramai sekarang. Saya memutuskan berhenti, dan memesan makanan tempe penyet favorit saya di warung tersebut, eh gag nyangka ada bapak-bapak tetangga kamar juga lagi makan disana (saya gag tau nama bapaknya, padahal udah hampir setahun tetanggaan huhuhuhu). Kami akhirnya saling tegur sapa, bapak tersebut sengaja berdiri menghampiri saya “jauh sekali cari makannya”, tanya beliau, kami kemudian ngobrol sebentar, sebelum beliau kembali ke kursinya beliau bilang “puasanya berhasil ya mbak Rin, turun banyak kayaknya berat badannya”. lagi-lagi saya tersenyum selebar yang saya bisa. dalam hati saya membatin, ada pelajaran luar biasa yang saya peroleh hari ini. tentang sudut pandang, tentang presepsi.
Hidup ini tidak seperti matematika yang bisa memiliki jawaban pasti, setiap manusia tentu memiliki pemikiran, sudut pandang dan presepsi sendiri yang tidak bisa kita salahkan…
bagaimana bisa dalam hitungan menit, dua orang memberikan komentar yang saling bertentangan. saya tersenyum… begini cara sudut pandang dan presepsi bekerja, batin saya dalam hati. Tentu saja mereka beralasan saat bilang saya lebih kurus atau saya lebih gemuk, ingatan mereka tentang postur tubuh saya yang terakhir kali mereka lihat yang mempengaruhinya. mungkin mitra saya terakhir melihat saya lebih kurus dari sekarang, dan bapak tetangga kamar saya terakhir melihat saya lebih gemuk dari sekarang. berhakkah saya menyalahkan jawaban mereka? tentu saja tidak, itulah karenanya kita harusnya tidak terlalu memperdulikan komentar orang lain terhadap kita, apalagi jika komentar tersebut malah bisa membuat kita sedih, cemas, gelisah bahkan bisa menyebabkan kita depresi.
Ah, jika hanya urusan dikomentari yang sekarang lebih gendut dan kurus itu hanya hal sepele saja menurut saya, belakangan saya risih sekali dengan orang-orang yang merasa sok tau tentang sesuatu dan menilai sesuatu dan seseorang dengan seenaknya. Memang sudah kodratnya manusia mungkin memiliki sifat suka menilai dan mengomentari orang lain, kadang manusia menilai orang lain dari apa yg mereka lihat di luarnya saja, bahkan parahnya ada juga manusia yang menilai orang lain dari apa yang mereka dengar dari orang lain saja, sebelum mereka melihat langsung orang tersebut. Ya, saya tidak memungkiri, sayapun mungkin juga seperti itu, tapi mari terus memperbaiki diri. Saya mulai menanamkan kepada diri saya sendiri untuk tidak pernah menjudge orang lain, kita tidak pernah tau apa yang telah orang lain alami sehingga mereka menjadi seperti ini, dan berhentilah mencampuri urusan orang lain, apa yang mereka putuskan dalam hidupnya tentu telah melalui perenungan yang panjang, pemikiran yang matang dan juga banyak pertimbangan.
#kosongempatsatukosongdua kosongsatudelapan
setelah tulisan telat publish 3 bulan, -arin-