Hening

Sudahkah kukatakan padamu bahwa kini aku tidak lagi menapak di jalur kita?
Entah kemana menguapnya desah-desah cinta yang dulu pernah kita ciptakan?

Sudahkah kamu tahu bahwa rasa sesekali butuh suara?
Untuk didengar ; untuk mendengar.

Dan jika sunyi adalah selimut yang kita hangatkan diantara dua kaki ; maka hening terkukungkung dipelatarannya.

Tidakkah kamu mendapati warna mata yang kini kebiruan?
Runtuh pelangi jiwa yang sudah sempat retak dihantam luka.

Dan akan kuulangi
Walau hanya angin yang kau dengar nanti
Bahwa jika tak ada lagi nadi
Yang bergejolak saat terlelap dalam mimpi,
Beritahu aku.

Agar kupersiapkan kaki untuk menopang lunglai asa yang sempat terpatri
Agar kusediakan hati yang bersimbah darah menunggu mati

Bogor
Saat hujan turun seperti bercanda

Published in: on November 29, 2015 at 5:07 am  Leave a Comment  

Jangan Hentikan

Letakkan kedua bola matamu dihadapanku, biarkan ia mencari rumah baru bersamaan dengan miliku ; jika raga yang di bebani rindu tak mampu saling memeluk.
Hempaskan dinding rindu yang dibentuk oleh waktu, biarkan pecahannya merenggut tawa yang nyaris terbunuh.
Pecahkan raga yang menguning di balik desakan harapan akan sebuah jarig jaring asa yang dicoba untuk sanggup menangkap cita cita, biarkan terburai menjadi kotoran bagi semesta.

Tak adakah satu celah yang bisa aku tepati janjinya? Kala mulut tak sanggup lagi berikrar ; dan mata lebih sering berkelakar.

Tak adakah sehelai wajar yang bisa aku selimuti auratnya? Ketika kebetulan kebetulan janggal mengagahi diatasnya.

Maka lupakanlah soal ceruk ceruk hati yang kosong ; aku penuh. 

Oleh dia.

Published in: on November 26, 2015 at 7:17 am  Leave a Comment  
Design a site like this with WordPress.com
Get started