Tips Mengelola kekecewaan

Gak ada, aku juga nggak tau. Kasih tau ya kalau ada tipsnya..

Udah punya banyak sumber bacaan, teorinya udah khatam.

Tapi pas kekecewaannya datang, ya tetap aja susah mengelolanya. Gemuruh di hati tetap sulit dikendalikan.

Satu menit kita bisa meredakan amarah, berpikir positif, mencoba menerima.

Menit berikutnya timbul pertanyaan (lagi), loh harusnya nggak begini dong! Gak bisa nih! Gak terima…

Ya akhirnya dijalanin aja, berharap waktu yang menyembuhkan.

bongkar pasang iud

Haeee penonton, apa kabar? Sapu dan pel dulu blog yang udah berdebu saking lamanya ngga dijenguk hahaha.

Cukup lama ya tidak menulis sesuatu di blog ini lagi. Padahal dari dulu, aku tau banget kalau menulis itu adalah terapi terbaik buatku saat hati sedang kacau walaupun kacaunya bukan karena meletus balon hijau. Tapi ini, tau deh, ada angin apa tiba-tiba kangen ngecek blog terus ngeliat statistiknya, masih ada-ada juga pengunjungnya walau blognya mati suri.

Oke deh, untuk tulisan pertama setelah hiatus bertahun-tahun, aku mau ceritakan salah satu adegan sebagai wanita dewasa yang minggu lalu baru saja kulakukan. Yep, bongkar pasang IUD. Jadi ini adalah bongkar IUD-ku yang ke dua, tapi pemasangan yang ke tiga. Pertama kali pasang itu, seingatku tahun 2013, beberapa bulan setelah aku melahirkan anak ke dua. Pemasangannya masih di Rumah Sakit Awal Bross Batam. Pada saat itu, aku ingat, dokternya bilang: “Ibu, nanti 5 tahun lagi, IUDnya mesti diganti ya”.

Nah, itulah yang kulakukan 5 tahun kemudian. Tahun 2018, aku ingat banget bongkar IUD yang lama lalu pasang IUD baru di salah satu Rumah Sakit di Tangerang Selatan. Iya, bukan di Batam lagi, kan ceritanya udah pindah kota ke Tangerang Selatan. Warga Tangsel nih bos, senggol dong wkwkwk. Tapi, aku lupa-lupa ingat, dokter yang megang aku pada saat itu ada kasih anjuran buat ganti berapa tahun lagi. Tiap tahun pas medical check up, pas sesi USG, dokternya selalu komentar kalau posisi IUD masih bagus. Yaudah makin mendukung kelupaan berapa tahun periode IUD.

Sampailah tahun 2025 bulan Maret, aku lagi scrolling Twitter (maaf, belum familiar sama X, nama barunya). Aku terhenti di satu thread apa ya, tapi salah satu replynya kira-kira gini: ”Ibuku sekian tahun lupa bongkar pasang IUD, akhirnya kebobolan lalu hamil lagi”. Dooh, langsung merinding disko membayangkan dampak terlambat ganti IUD. Ku tak mau punya baby lagi di umur 40 ini. Jadilah aku menunggu kapan jadwal menstruasi, supaya bisa segera bikin janji temu sama dokter. Kalau mau pasang IUD memang disarankan saat menstruasi hari ke dua, atau pas darah haid sedang banyak-banyaknya, hal itu bertujuan agar mengurangi rasa sakit saat pemasangan IUD.

And so I did, tanggal 7 Maret yang lalu. Enak juga bikin janji temu dokter sore-sore satu jam menjelang jam berbuka puasa. Antrian pendaftaran tidak ada, antrian klinik tidak ada, antrian kasir ada memang tapi cuma dua atau tiga antrian. Cepet pokoknya. Pas proses penggantian, ya ada lah ngilu-ngilunya dikit plus rasa ngga enak hati karena sedang hari kedua. Tapi dokternya baik banget menenangkan sambil diajak ngobrol-ngobrol. Ya kurang lebih di ruangan dokter 15 atau 20 menit paling lah. Abis itu beres deh.. Kata dokter setelah dipasang, sudah beres, biasanya tidak ada efek lanjutannya, jadi tidak diberi bekal obat buat di bawa pulang.

Merk IUD yang dipasang oleh dokter adalah Nova T CU 380. Untuk total biaya yang meliputi konsultasi dokter, alat IUD, medical supplies, jasa angkat IUD lama, dan jasa pasang IUD baru aku kena Rp2.100.000 kurang sedikit. Puji Tuhan 99% dicover oleh asuransi kantor, aku cuma bayar sekitar 6000 untuk pad yang digunakan sebagai alas saat tindakan saja.

Sebelum berpisah, dokternya mengingatkan, jangan lupa kembali 5 tahun lagi ya.. Hence my blogpost today, buat pengingat untuk kembali 5 tahun lagi buat lepas pasang IUD berikutnya.

Sehat-sehat kita semuanya ya…. Bye for now.

XoXo-Shien

Covid-19

Akhirnya, tidak bisa mengelak lagi, kena deh…

Well, hi semua, apa kabar. Aku terakhir nulis 2021 deh kayaknya, dan meskipun begitu kalau aku liat dari stat masih ada aja satu-dua yang suka mampir ke blog aku ini. Makasih ya yang suka mampir ngecekin tulisan baru aku tapi ngga pernah nongol (GR hahaha). Sekalinya nulis, mau nulis kisah sedih di hari minggu pulaaa… Alamak!

Saat tulisan ini aku buat, aku sedang berada di hari ke empat isolasi mandiri sejak dinyatakan positif COVID 19. Sejak positif sampai hari ke 3, aku berusaha memupuk perasaan “I’m OK, everything is gonna be OK, this shall pass” tapi at the end of day 3, pas lagi makan malem di kamar, tau-tau aja air mata jatuh, lalu nangis tersedu-sedu, knowing that I’m not OK! Abis nangis, aku lanjutin lagi makannya, cuci muka, minum obat, terus aku mikir, ya emang sebetulnya aku nggak terima kondisi ini. Aku sok-sok kuat aja. Sok-sok tabah aja, padahal mah nggak. Pengen marah tapi ke siapa? Pengen dimengerti tapi I dont know how. Lalu nangis lagi.

Terus aku mikir, kalau udah sesak gini, aku mesti nulis. Nulis yang panjang sepuasnya… Mau nanti di tengah jalan ternyata pendek, ga masalah. Mau diposting apa nanti mau didraft aja, ga masalah.

Jadi begitulah awal lahirnya postingan ini.

Sebelum aku lanjut, aku musti bilang juga kalau aku tuh dulu orangnya penyimpan segala perasaan terutama perasaan ga enakan. Dulu kalo ngga enakan, yaudah aku terima aja. Aku benci orang, yaudah bencinya aku telan sendiri, yang dibenci hahahihi aja hilir mudik makin sehat. Aku kesel sama orang, aku paling membatin dalam hati, hih liat aja nanti… Liat apa juga ga tau, hahaha. Kesemuanya berujung pada apa? Berujung pada penyakit… Sudah 2 tahun lebih lah aku berupaya mengubah kebiasaan ini. Sekarang aku kalau kesel, ya aku cerita. Kalau libur terus ditanya kerjaan, aku tidak akan balas sampai aku merasa ada willingness untuk membalas (tidak terpaksa). Terus kalau aku ngga sependapat dengan atasan atau rekan kerja juga, aku sekarang udah berani bilang, menurutku plusnya ini, minusnya ini, ya tapi itu pendapatku, silahkan pada mau milih yang mana. Kalau serumah pengen makan A, aku pesenin A, tapi aku ga bakal makan kalau emang aku ngga pengen, better aku pesen lagi yang B, supaya hatiku bahagia. Kalau duitku kurang apa gimana, ya aku sekarang ngomong sama suami, dulu mah ditahan aja sendiri hahahaha. Things like that lagi pelan-pelan aku benahi…

Sampai pada bulan lalu, aku punya project uji coba metode baru. Project ini kelihatannya mudah, tapi sungguh-sungguh menguras energi, kesabaran, dan air mata. Durasinya cukup intens, jadi sekali pertemuan uji coba dengan calon user itu bisa seharian 9-5. Kalau satu unit kerja punya 4-5 calon user, berarti dengan 2 sumber daya manusia, ujicobanya bisa 2 sampai 3 hari. Begitu selesai dengan uji coba yang satu, move to other unit kerja… Kelihatannya sih mudah, kaya cuma ngobrol dan diskusi, tapi ya capek. Tapi aku happy walau capek, karena kalau uji coba ini berhasil, it will bring so many positive impacts to my organisation. Atasan dan colleagues aku juga sangat-sangat helpful semua saling kerja sama.

On the other hand, aku emang udah mulai rewel juga sering banget ketemu orang ganti-ganti tiap hari gitu. Beberapa kali aku cerita tuh sama colleagues aku, “duh kita sehari-hari duduk seruangan sama orang dr pagi sampai sore, orangnya tiap hari ganti-ganti, itu aman ngga ya?”. Jadi, aku tu orang yang paling menentang kalau orang bilang “semua akan covid pada waktunya”, dalam hati pasti langsung aku sahutin “elu aja, sama temen-temen lu” hahahaahaha. Dalam hati nih, catet yaaa, dalem hati. Mulut mah tetep sibuk senyum-senyum aja. Jadi menurut prinsipku, the most important thing is put your mask on! Pakailah masker anda, dengan cara yang tepat. Udah itu aja caranya buat menghindarkan diri dari Covid mah. Nah aku tu orangnya bukan yang telaten banget tiap pegang ini semprot, tiap kena itu semprot, nggak, tapi aku cukup tekun dalam memakai masker. Selama pandemi dinas ke mana-mana, di pesawat ya ngga makan. Di tempat tujuan, makan ya secukupnya. Buka maskernya pas mau makan, bukan pas baru sampai tempat makan. Abis makan, minum, ya pakai maskernya lagi. Sampai hotel, kalau berdua sekamar, itu masker pake terus unless lagi mandi, tidur juga tetep pakai masker, sekalian agar supaya bantal hotel juga ngga keileran hahahaha. Ngga deng, ya supaya aman aja. Pergi bareng anak-anak juga gitu, kita cari tempat yang sekiranya ngga terlalu rame, makan aja kek biasa, buka masker hanya pas makan, nggak worry berlebihan. Aku dan adek-adekku survived kok cuma modal pake masker yang benar pas ngurusin Bapakku yang kena covid, kita yang nyuapin dan ngurusin segala macem.

Nah, yang menjadi awal masalah adalah atasanku bilang bahwa kami (satu tim) harus melakukan ujicoba di suatu daerah “J” gitu. Dari awal ide ini diutarakan, I feel like this is not the right thing for me. Jadi kek yang uring-uringan gitu. Tapi entah kenapa, karena ngga punya alasan yang baik, aku juga nggak mendebat idenya. Nah kebayangkan, I’m not into the idea, but I have to follow the rules btw because i have no reason to avoid/cancel/postphone the trip. Mulai dari situ tuh, udah mulai lah ngga semangatnya. Padahal kata Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Aku belom apa-apa, udah patah semangat, ya mau berharap apa ya kan.

Jadi ya begitu, aku pergi berangkat dinas kek robot ga ada perasaaannya. Senin check in di kamar udah rada malem, jam 9 ada kali ya, temen sekamar aku kebetulan juga lagi ngga in good health condition, yaudah masing-masing kita tidur pakai masker . Besok paginya, I managed to have a short morning stroll, keliling-keliling hotel, to find a piece of happiness biar diri ini ngga robot-robot amat. Abis jalan pagi, mampir ngopi, terus balik hotel dan siap-siap kerja. Selasa malam, sampai hotel, abis mandi aku kerja bentar. Rabu pagi morning stroll lagi sama temen-temen, jalannya ga seberapa, ngopi, sarapan pulangnya naik gocar hahaha apa-apaan ini, gw curiga ini bukan acara morning stroll tapi mau ngopi bareng aja. Rabu malam sampai di hotel, aku ngobrol lama sama temen dalam kondisi yang ngga pakai masker, abis itu mandi. Harusnya aku lanjut kerja, tapi my heart says no, so no. Aku tidur, tapi ngga lelap, ngga pules. Jam 4 pagi aku kebangun, langsung kerja terus sampai jam 11. Jam 11 aku submit kerjaanku, terus tiduran bentar karena mau makan siang bareng nanti jam 1. Abis submit kerjaan itu, aku merasa punggungku sakit bgt. Badan udah ngga enak banget rasanya, ngga karuan. Habis bangun lebih mendingan, mandi dan siap-siap pergi makan. Di tempat makan, aku pesen soto sapi bening, terus makan nasi pakai kuah dan daging sotonya dikit aja. Nggak makan selain itu, ngga banyak-banyak juga sih. Abis makan sekitar setengah 4 kali ya, aku balik ke hotel istirahat meanwhile temen yang lain pergi lagi nyari apaan gatau.

Dan drama pun dimulai. Sampe hotel, aku tiduran bentar, bisa tuh setengah jam adalah, tapi kemudian terbangun karena mau ke belakang. Yaudah, ke belakang kan, eeetaaaaapiiiii kok berulang-ulang… Aku pikir, minum air anget kali ya, terus minum, eh di situ diminum, langsung perut berontak minta isinya dikeluarin. Gitu aja terus bolak balik. Ada 10 x deh kayaknya plus satu kali muntah, sebelum akhirnya aku mutusin nelpon driver buat nganterin ke IGD. Drivernya mana lagi pergi kemana lagi kan, ngga langsung datang. Pas udah datang, naik mobil, 200 meter kemudian sampai. Eaaaa… Tau gitu aku jalan aja hahahahhaa. Tapi gapapa, jam 9 malem masuk IGD jalan kaki sendiri kurang dramatis keknya, begini kan enak ya, mobil masih parkir, satpamnya langsung tergopoh-gopoh datang nanyain perlu kursi roda apa ngga, hahahha, nggak usah pak, makasih.

Di IGD, ditanya-tanyain dulu, ada batuk ngga ada pilek ngga, sakit tenggorokan apa demam gitu. Aku jawab, ngga ada, yang ada cuma sakit punggung doang sama badan ngga enak, terus sama dokternya dikasih infus, nunggu sampai infusnya habis satu labu, terus pulang deh, eh beli makan dulu deng. Udah susah ya nyari makan hampir setengah sebelas gitu, yaudah akhirnya beli McD aja deh. Sungguhlah ini pengalaman pertamaku makan McD setelah berapa tahun, ternyata masih enak, hahahaha. Tapi abis itu dimuntahin lagi jam 2.00 dini hari, bye bye McD. Sepanjang malam sampai ke besokannya pagi, lumayan, diarenya tinggal 4x. Bisa tidur jadi agak segeran deh.

Jumat pagi, puji Tuhan banget udah segeran, breakfast di hotel, terus siap-siap pulang ke BSD. Tapi sebelum pulang, masih sempat mampir-mampir dulu ada beberapa yg perlu dibeli. Di jalan, tau karena telat makan apa gimana, jadinya aku mulai migrain. Udah was-wasnya, migrain kl migrain aja mah gapapa, asal jangan sampe muntah, gimana ceritanya itu mobil dinas kalo sampe dimuntahin huhuhu. Sampai BSD ternyata ngga muntah, tapi malah mendadak BATUK. Nah nah nah, udah tanda-tanda nih. Aku sangat kenal sama tubuhku sendiri. Ga ada ceritanya aku batuk kalo ngga karena minum es. Sementara aku udah lama banget ngga minum es deh, kenapa pula mendadak batuk? Aku minta anterin suamiku antigen tapi dia lagi ribet yaudah deh, besok Sabtu aja. Jumat malam tidur di rumah pakai masker, orang di rumah semua juga aku minta pakai masker.

Sabtu pagi antigen, on the way pulang keluar hasilnya reaktif, mobilnya putar balik lagi, PCR lagi deh. Sabtu malam jam 23.59 hasil PCR keluar, positif.

Setelah hasil keluar, terus aku mikir, tuh kaan, ini berarti alasannya kenapa aku berat banget disuruh pergi dinas. Di awal aku udah malas-malasan, uring-uringan, patah hati, jadi immunenya drop karena nggak happy, dan masuklah itu segala virus-virus. Emang akutu apa-apa ngga boleh dipendam. Masih nyesel sampai sekarang si, seandainya aja kemaren dulu aku say a word ya apa kek, mungkin aku ga sedongkol itu perasaannya dan lebih happy perginya. Terus nyesel juga, kenapa aku abai ngga pake masker pada saat ngobrol lama banget dengan temanku ya.. Bukan mau bilang apa-apa sih, tapi kalau sekiranya aku pakai masker, pasti nggak semenyesal ini mungkin, ini kan ada unsur kelalaian ya. Duh pokoknya pakailah masker kapanpun deh!

Ini hari ke empat, semua WA kerjaan belum aku tanggapin, karena aku tidak mau mendongkol kembali, baek-baek ngga sembuh-sembuh ni aku karena memendam perasaan. Yang nanya keadaan, ya aku jawab aja seadanya, masih batuk, batuknya masih sakit, ngantuk melulu (efek obat batuknya kali) terus merasa panas sekali walau lagi hujan. Tapi mungkin besok udah mau coba kerja, karena merasa udah lebih baik perasaannya karena udah mencurahkan semua dalam bentuk tulisan ini. Mungkin…

Aku juga ngga pengumuman di IG kalo aku lagi positif, males, menghindari nasehat orang yang aku ngga minta. Tau kan, those kind of words “eh minum ini ajaaa, eh makan ini, eh mustinya gini lo, minum ini biar cepet negatif” atau yang “makanyaaa, lu sih kurang ini, kurang itu, kurang amal, kurang cantik, dll” , nooooo please no, silakan elu sama temen-temen lu aja! If you happen to read this post, doain aja aku cepat sembuh yaaaa… Amin…

Apa kabar…

Halo, udah lama banget nih aku nggak menulis di blog, sampai debuan nih blognya. *sapu-sapu debu*

Waktu awal-awal pandemi Maret 2020, aku bertanya, pandemi ini kira-kira kapan kelarnya ya..? Terus baca sana sini dan berkesimpulan ini kayaknya 2021 deh baru kelar. KAYAKNYA loh.

Setelah sekarang, Juli 2021, aku mempertanyakan hal yang sama lagi, kapan ya kelarnya? Tapi kali ngga berani mengira-ngira kapan kelar. Padahal aku itu orangnya sangat suka bermimpi loh, tapi memimpikan bebas pandemi di Indonesia aku justru ga berani, hahahahaha. Mudah-mudahan aku salah.

Saat menulis blog ini, 17 Juli 2021, puji syukur aku masih dalam keadaan sehat, terus juga kantorku juga baik banget bolehin unit kerja tertentu untuk full WFH. WFH secara penuh untuk unit kerja non kritikal dimulai 12 Juli deh kalo ngga salah, dan akan berlanjut sampai 23 Juli. Sebelumnya, kita masih masuk dengan proporsi harian 75% karyawan WFH, 25% karyawan WFO. Sebelumnya lagi, sempat udah boleh masuk dengan proporsi 50% WFH dan 50% WFO. Sejak kantor mulai full WFH, semua orang di rumahku praktis gak kemana-mana, karena selama ini yang terkadang masuk kantor itu tinggal aku doang. Suami udah full WFH dari mulai PPKM diberlakukan, dan adikku full WFHnya malah udah mulai tahun lalu. Dengan bersama-sama di rumah aja, jadi lebih merasa secure aja, ngga terpapar sama keramaian.

Sebelum full WFH dimulai (tapi PPKM darurat sudah diberlakukan oleh pemerintah), dalam perjalanan aku sering lihat orang masih ramai-ramai berkumpul dan beraktivitas tanpa mengenakan masker, makan minum beramai-ramai juga. Dulu, dulu banget ya, aku pernah jadi one of those yang nyinyir banget sama orang-orang yang ngga tertib di rumah aja dan/atau ngga pakai masker dengan benar. Nyinyirnya selevel sama tajamnya komen netijen yang maha benar. Sekarang, aku udah berpikirnya lebih ke arah: well, ada orang yang memang mau nggak mau harus keluar rumah untuk bekerja, dan mungkin mereka ngga bisa afford untuk beli masker yang proper jadi ngga bisa double mask seperti anjuran pemerintah. Dan terhadap kondisi itu, aku belum bisa juga menyumbang apa-apa, belum bisa berkontribusi aktif untuk bikin gerakan tertentu to help those people, belum bisa juga memberikan solusi atas permasalahan yang ada di depan mata kita.

So then I choose to be good, the least I can do. Aku coba sekuat mungkin untuk ngga nyinyir, kalau aku bisanya cuma kasih tips lebihan aja sama driver yang nganterin pesanan makanan/belanjaan, ya itu aku coba kerjakan dengan konsisten. Malam-malam aku doain supaya semua orang yang sedang sakit agar cepat sembuh, semua orang yang terpaksa harus ke luar karena ngga mungkin bekerja di rumah agar tetap sehat, berdoa agar orang yang kondisi finansialnya terganggu karena pandemi ini agar bisa bertahan lebih lama. Aku juga doakan supaya semua orang yang mempunyai usaha agar usahanya berjalan baik sehingga tidak perlu PHK. Aku doain para nakes juga biar tetap setrong. Aku bahkan bilang sama suamiku, “ini para pedagang kaki lima udah pada vaksin belum ya, kalau perlu puskesmas atau kelurahan bikin deh vaksin keliling, datengin tuh satu-satu pedangan di sepanjang jalan, tawarkan vaksin. Jadi dia ngga mesti harus tutup lapak demi antri vaksin ke puskesmas”.

Aku paham banget, ada juga beberapa temen yang berpendapat “kalau orang tetap berkeliaran di luar, tetap ada kerumunan, kapan pandeminya mau selesai?”. Aku hormati pendapatnya, tapi kalau dari aku pribadi ya kembali ke poin pada dua paragraf di atas. All I can do is trying to be good. Pakai azas praduga tak bersalah ajalah. Walaupun mungkin ada segelintir yang emang berkeliaran karena ga percaya Covid19, ya sudah anggap aja dia memang keluar rumah karena harus bekerja dan tidak punya kemampuan membeli masker. Aku ga bisa berpikir lebih dari itu, karena bagaimanapun penyelesaian kondisi seperti ini ya butuh sistem kan. Yang bisa mengerjakan hal-hal tersistem siapa? Ya pemerintah.

Hmm terus mau cerita apa lagi ya. Oh ya, jadi aku tu sempat sekitar seminggu mengalami susah tidur. Jadi kalau udah malam sekitar jam 10, aku udah di tempat tidur tapi sampai jam 3 pagi kadang belum tidur. Abis itu bisa ketiduran tapi karena harus bekerja lagi, nanti jam 7 udah kebangun. Padahal biasanya aku kan harus tidur cukup 8 jam sehari hahahaha. Ini bener-bener gabisa. Penyebabnya apalagi kalau bukan overthinking. Ada aja kabar menyedihkan. Tapi, udah 3 malam ini, sebelum tidur aku bilang ke pikiranku sendiri “aku capek banget, pengen tidur nyenyak, nih!”. Eh beneran langsung ketiduran loh, nyenyak pula hahahaha. Emang harus dibilangin dengan galak nih pikiran biar nurut.

Di luar itu, aku mau cerita apa lagi ya.. Oh kemaren bulan Juni aku ikut pelatihan Melukis Slide dengan Hati (MSDH) dari kantor. Ini berguna banget lo buat kalian-kalian yang pengen meningkatkan kualitas pembuatan slide di powerpoint (ppt). Sebagai orang yang jarang banget disuruh bikin slide sama bos *saking boringnya penampakan hasil pptku*, pelatihan ini bermanfaat banget buat aku pribadi karena aku jadi tau tips and trick bikin ppt yang lebih powerfull. Tapi gitu, aku kan orangnya mudah jumawa ya, pas udah tau tips and tricknya, sekarang kalo liat ppt kurang menarik itu jadi pengen ngatain deh hahahaha. Tapi langsung inget bahwa aku harus be good, udah deh ngga jadi ngatain.

Di bulan Juli, aku disuruh ikut pelatihan lagi, menulis policy brief. Policy brief itu semacam tulisan ilmiah tapi penulisannya lebih umum agar mudah dicerna oleh pengambil keputusan. Nah yang ini rada bikin mikir nih, ada tugasnya pula kan menulis policy brief, dahlah begadang deh aku ngerjain PR. Pas PRnya beres, setor ke mentornya, abis itu dikasih komentar perbaikan. So yes, kita revisian dulu gaes macam anak skripsian S1 ahahaha. Konteks: pas aku kuliah master, saat tugas akhir disubmit, langsung dikasih final mark. Kalau di bawah passing grade, ya ulangi dari awal, ngga pakai revisian segala, hence the S1 term yaak. Abis revisi sekali, untungnya mentor langsung kasih nilai akhir, pas-pasan tapi yg penting lulus.

Tau dari mana bahwa nilaiku pas-pasan. Okeh, jadi setelah kita semua diberi nilai, ada sesi diskusi dengan mentor. Di awal diskusi, mentornya mereview dulu tulisan para mentee nya. Satu mentor ini ada 5 mentee. Tulisan 4 mentee yang lain direviewnya panjang dan diselipin pujian, wah ini bagus banget nih, idenya oke, bla bla bla. Giliran aku singkat aja dan ngga ada pujian huahhahahahhahha. Tadinya mau baper kan, tapi aku ingat lagi, lah katanya mau be good, termasuklah itu ngga boleh baper. Yaudahla ngga jadi baper, dibawa happy aja. Apalagi ternyata aku menang kuis Kahoot, peringkat ketiga, jadi dapat hadiah buku hahahahhaha. Aku anaknya gitu, menang Kahoot doang hepinya kek dapat durian runtuh.

Well akhirnya tibalah kita di ujung tulisan. Ternyata nulis gini doang bisa ngabisin sejam lebih loh ya. Lumayan deh. Jadi tadinya aku bingung mau ngapain, mau lanjutin K-Series di Netflix, laptop sama PC yang ada netflixnya occupied sama anak, masing-masing nonton film pilihan sendiri. Mau pakai PC adekku, dia juga nonton. Mau masak, makanan masih ada. Mau bikin kue, butter yg dipesan online baru besok sampainya. mau ngemil, eh cemilannya udah habis dimakan sebelum bengong, hahahha. Mau main HP, eh HPnya lowbat. Mau baca buku, lagi ngga minat yang berat (tadinya mau lanjutin HOmo Deus, tapi ya gitu deh). I’m waiting for Rapijali 2 by the way, lagi pre order, uhuyyy! Jadi gitu, ada satu laptop nganggur tapi gabisa netflix, eh malah tergoda nulis di WP. Mayanlah yaaaaa…

Siapapun yang baca ini, aku berdoa semoga selalu dalam keadaan sehat yaaa…

XoXo

Shien

Akhirnya vaksin (part 1)

Sabtu, 20 Maret 2021

Akhirnya kantorku kebagian giliran divaksin, thank God. Sekitar 1700 karyawan se DKI dijadwalkan vaksin dosis pertama dalam 2 hari yaitu 20 Maret 2021 dan 21 Maret 2021.

Sehari sebelum vaksin, peserta harus mendaftar antrian vaksin dan mengunduh lalu mencetak form skrining dan form kontrol. Aku kebagian vaksin di hari pertama, sesi pagi.

Sebelum vaksin, tidak ada imbauan khusus untuk persiapan sih, cuma tetap aja ya aku nanya-nanya ke adik-adikku yang sudah divaksin kira-kira apa yang harus dipersiapkan menjelang vaksin. Menurut mereka sih, yang paling penting, tidur aja yang cukup pada malam sebelum vaksin, kalau kurang tidur dikuatirkan akan mempengaruhi tensi (menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi).

Jadi apa yang disarankan, itulah yang kulakukan. Biasanya tidur di atas jam 11 malam, dua hari sebelum vaksin aku naik ke tempat tidur jam 10 malam. Tapi, siapa sangka, ternyata semakin mencoba untuk tidur, malah jadi sulit tidur, huhuhu.

Pagi pas hari H, aku bangun jam 6 pagi, pesan sarapan, makan, terus siap-siap berangkat ke halte. Nanti dari halte, aku lanjut naik bus kantor.

Sesampainya di lokasi, ruang tunggunya lumayan penuh, hanya tersisa kursi kosong di baris paling belakang. Later on I know bahwa ternyata sistematika antriannya memang baris-per baris. Satu baris terdiri dari sembilan peserta yang antar tempat duduknya diberi jarak. Ketika baris paling depan disuruh masuk ke ruang skrining, maka peserta di baris belakangnya akan mengisi tempat kosong tersebut, dan seterusnya. Jadi setiap beberapa menit, akan ada perpindahan duduk ke baris depan. Jadi nggak heran kalau yang kosong itu ya sudah pasti baris paling belakang.

Sambil nunggu, aku baca buku Sapiens yang dibeli dari tahun 2019 tapi ngga juga kelar dibaca padahal tinggal bab terakhir doang nih. Terus ternyata di baris belakang ada beberapa temanku, terus say hello dan “hah, buku apaan tuh? Rajin amat baca buku tebal-tebal?”. Sounds so nerd ngga si? Mereka nggak tau aja, aku sebenarnya rada kikuk juga baca buku di keramaian antrian gitu, tapi aku kan lagi puasa sosmed kan, game ngga punya, youtube nggak terlalu doyan, baca e-perpus di handphone melelahkan mata, terus udah gitu masih ditambah pula dengan handphoneku yang batrenya udah mulai tidak prima. Sambil nunggu terus mainan handphone itu hampir dapat dipastikan saat selesai vaksin handphonenya sudah dalam kondisi mati karena habis baterai hahahaha. Mau bawa buku yang tipis, rasanya tanggung juga, mending yang ini diselesaikan, ya ngga si? Dan akhirnya selesai juga sih bukunya. Lumayan kan kelarin satu buku.

Proses dari awal tiba dan duduk dalam antrian sampai pada proses penyuntikan vaksin memakan waktu kurang lebih 75 menit lah. Sebelum masuk bilik penyuntikan, petugas mengecek tensi dan suhu tubuh. Untunglah tensiku normal aja jadi aman, bisa masuk ke bilik untuk divaksin. Oleh dokternya, vaksin disuntikkan pada lengan kiri sebelah atas. Sakit atau nggak sih relatif ya, toleransiku terhadap sakit suntikan lumayan tinggi jadi aman aja. Tapi menurut adek-adekku, suakiit buanget (agar terdengar lebay 😂)

Setelah disuntik, kita tidak boleh langsung pulang melainkan harus menunggu dulu sekitar 30 menit lagi di ruang observasi. Tujuannya untuk melihat apakah ada dampak vaksin bagi penerima. Karena itu, memang disediakan ruang mini ICU juga untuk menampung peserta yang setelah divaksin merasakan gejala tidak nyaman untuk dapat ditindaklanjuti oleh tim medis.

Setelah 30 menit berada dalam ruang observasi, akhirnya aku diperbolehkan keluar menuju gate check out. Horeeeee…

Selesai checkout aku buru-buru pulang ke rumah, mandi, makan siang lalu bablas tidur sampai sore. Saat bangun, terasa sedikit lemas dan perut lapar. Kondisi ngantuk, lemas, dan lapar ini terjadi sampai 3 hari setelah vaksin. Entah ini sugesti aja atau memang normal, aku ngga tau juga ya. Idealnya kalau merasa berbeda kita harus informasikan kepada petugas sih, untuk dicatat dan mungkin digunakan sebagai bahan penelitian lanjutan untuk proses perbaikan dan penyempurnaan (oke, bagian ini asumsi aku aja).

Tinggal menunggu dosis ke dua nih, semoga nanti berjalan lancar juga. Nanti aku cerita lagi deh tentang dosis ke dua.

Semoga pemberian vaksin juga cepat menyebar ke semua masyarakat termasuk anak-anak sekolah di seluruh Indonesia, agar kita semua kebal sehingga Covid 19 cepat musnah. Anakku di rumah udah ga sabaran mau divaksin juga soalnya, tiap hari anak berdua itu membahas kira-kira kapan anak-anak dinyatakan boleh menerima vaksin, hahahaha. Soon ya nak, we hope so.

Stay safe and healthy people..

Epic Fail

Pernahkah kita berada dalam kondisi sudah merencanakan sesuatu dengan sedemikian detail dan mantap, sudah menjalankan sebagian besar proses pengerjaannya dengan hasil yang sepertinya sudah oke banget, lalu tau-tau pas endingnya eh malah gagal total?

Well, setidaknya itu yang baru aku alami beberapa hari yang lalu, saat aku ehm masak cumi saos padang. Iya, cumi saos padangnya gagal total. Hahahahaha. Begini ceritanya…

Hari Rabu pagi, kebetulan jadwal aku WFH jadi dari bangun pagi lumayanlah punya waktu beberapa jam sebelum mulai morning briefing jam 08.15. Karena itu aku memutuskan pergi ke Indomaret dekat rumah buat beli roti untuk sarapan. Rencananya nih mau bikin roti panggang sama telur orak-arik buat sarapan bocah. Dalam perjalanan pulang, ketemu sama tukang ikan segar langganan tetangga. Terus abang tukang ikannya menawarkan, mau lihat-lihat dulu ngga? Ya udah, lihat aja dulu kan, eh ternyata naksir sama setengah kilo cumi yang masih seger banget plus montok. Bungkus deh.

Pas melanjutkan perjalanan pulang, mikir kan, ini cumi enaknya dimasak apa ya? Bulan lalu udah masak cumi hitam (cumi tinta), hari ini masak mau masak itu lagi? Ya udah, mentok-mentok digoreng mentega aja paling, atau dibuat cumi goreng tepung. Hehehe

Sampai di rumah, cuminya aku cuci bersih, lalu dilumuri jeruk nipis dan garam, terus masukin kulkas deh, nanti pas jam makan siang baru di masak. Lalu bikin sarapan anak, setelahnya beres-beres mau kerja.

Pas udah mendekati jam makan siang, kerjaan udah mulai slow down, aku iseng-iseng deh nyari resep cumi. Ketemulah recep cumi saos padang tanpa saos botolan. Dalam hati, “whoaa, keren amat ini, berarti pakai bumbu alami semua dong”. Cek resepnya, bahannya lengkap semua, estimasi proses masaknya juga cepat, langsung eksekusi deh siapin bumbu. Pas bumbunya udah beres disiapkan, cuminya aku cuci sekali lagi, sambil dipencet-pecet biar kalau ada tinta masih ketinggalan segera pecah.

Karena ini cumi ya, proses masaknya memang seharusnya tidak lama, maka cumi ini akan dimasukkan pada sesi akhir masak. Jadi kira-kira 3/4 durasi awal memasak, kita hanya masak bumbu saja sampai wangi dan tidak langu. Kemudian aku masukkan cumi terus aku aduk-aduk. So far so good. Sebelum cumi masuk, aku cicip bumbunya udah mama mia lezatoz banget hahahaah. Bikin pengen cepat-cepat makan nasi pakai bumbunya deh.

Pas masak, aku nggak merhatiin bahwa bagian hitam di sebelah kiri wajan itu bakal menjadi pengacau menu. Kirain itu bagian apanya cumi gitu deh. Jadi ya aku aduk-aduk aja lagi cuminya dengan semangat penuh. Sampai ngga berapa lama, KOK CUMINYA JADI ITAM YAAAAAA….

Hahahaha, pupus sudah keinginan makan cumi saos padang tanpa saos botolan karena cumi saos padangnya berubah jadi cumi tinta hitam. Dari segi rasa sih ya tetap enak-enak aja kata anak-anak dan orang rumah (aku lagi ngga makan cumi soalnya), karena tintanya ngga memberi rasa apapun sebetulnya. Syukurlah, walau berubah nama, akhirnya cumi ini tetap habis juga dilahap orang rumah.

Seumur-umur masak, ngga pernah sampai gagalnya segini banget hahahahha. QCnya gimana nih, perlu ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.

Jadi begitulah ceritanya…

Cheers,

Shien

Ngga ada judul

Jadi, memasuki masa raya Paskah, seperti beberapa tahun terakhir, salah satu puasa yang aku jalankan adalah puasa sosmed. Mulainya Rabu tanggal 17 Februari lalu. Semua akun sosmed aku uninstall dari hape, ya ga banyak juga si, cuma IG dan Twitter, hahahaha. Oh ya, sama facebook, tapi ini aku ga download apps, cuma liat di website aja. Enak banget loh puasa sosmed itu, jadi bikin kepala enteng ngga overthinking, ngga negative thinking juga, pokoknya macam balik ke jaman dulu deh sebelum serbuan sosmed melanda.

Karena minggu adalah hari libur puasa, maka kadang aku ngecek sosmed juga lah di hari itu. Balesin komen, balesin DM, ngomentarin status orang hahahaha. Ada aja suka bikin kaget-kaget balik ke sosmed lagi (padahal baru ditinggal 4 hari, astagaa…). Kemaren aku dapat basian kehebohan di Twitter tentang seorang mbak vokalis yang diduga selingkuh sama mas pemain musik di band mereka, yang endingnya mas pemain musik digugat cerai sama istrinya yang sudah memberinya dua anak. Disinyalir, cailaaa bahasanya wkwkkwkw, mas pemain musik dan mbak vokalis udah menjalin hubungan sekitar 2 tahun.

Aku ngga mau ngomongin soal mba vokalisnya ya.

Saat baca-baca replies orang-orang di Twitter (yang seringkali memberi informasi lebih berguna daripada beritanya sendiri hahahaha), aku terhenti pada komentar netijen yang mengatakan bahwa mbak istri sebetulnya sudah tau lama soal ini, sudah membahasnya, dan dulunya sudah pernah memaafkan, namun ternyata terjadi lagi.

Dalam hati aku merasa, ini mbak istri kuat sekali ya, besar sekali cintanya terhadap suami sehingga mampu memaafkan mas pemain band atas beberapa kali kesalahan yang sama (macam lagu Kerispatih, anak jaman sekarang masih kenal Kerispatih ngga si?) . Ini terlepas dari masalah ketergantungan finansial ya, karena dalam hal ini, sependek informasi yang aku dapat (again dari replies netijen) mbak istrilah yang justru lebih dahulu telah berperan sebagai penopang perekonomian keluarga. Pertanyaan selanjutnya, kok bisa-bisanya ngga punya rasa benci, rasa dendam, atau rasa murka terhadap suaminya ya.. Tentu saja siapapun tau bahwa jawabannya merujuk ke poin pertama di atas sih, karena mbak istri punya rasa cinta yang luar biasa besarnya pada mas suami. Tapi me just being me, tetap aja aku ngga habis pikir. Well, pada akhirnya memang menyerah sih, tapi sebelumnya itu loh..

Overthinking berikutnya tentu saja, what if I face that situation? Entahlah, ga tau juga. Mungkin aja aku juga bakalan bertahan karena aku punya anak. Tapi, bertahan kan bukan berarti memaafkan toh? Aku tu masih penasaran dibagian memaafkan itu loh. Mungkin juga, aku bakalan langsung bilang I’m sorry goodbye tanpa perlu mendengar permohonan maaf, klarifikasi, saran-saran untuk rekonsiliasi dll lah. Just say goodbye aja, end of story. Karena, seorang hamba aja ngga bisa mengabdi pada dua tuan ya kan, gimana ceritanya seorang suami bisa mengabdi pada dua cinta? Hah? Hah? Coba jelaskan! Jadi emosi aku kaaan. Terus jangan juga dibenarkan dengan alasan “yee, namanya juga manusia, bisa aja salah”. Ya salahnya milih-milih juga kali, salah nempatin handuk basah di tempat tidur aja bisa bikin ribut, salah ngomong aja bisa bikin rumah tangga berantakan, apalagi salah menempatkan cinta alias selingkuh?

Jadi nyeselkan balik sosmed minggu kemaren, jadi mikirin hal-hal lain deh… Padahal kita pikirin juga ngga nolong apa-apa buat mas dan mbak nya, huhuhuhu. Hope mbak istri recover soon dari kesedihan hatinya.

Ya gituaja sih tulisan tanpa tujuan dan kesimpulanku kali ini, as always, nulis doang ngga ada manfaatnya juga hahahhaha.

Give away

Well, yang follow aku di sosmed pasti udah hapal mati sama satu kebiasaanku yang suka banget ikut give away, hahahaha…

Dibilang give away hunter juga menurutku nggak sih, karena ngga semua give away aku ikutin. Ya sesuai mood aja sih. Paling aku ngeliat-liat aja probabilitanya seberapa besar. Kalau ada satu post give away, yang emang hadiahnya mahal si, yang menang cuma satu tapi yang ikutan udah ribuan, aku biasa ngga ikut. Tapi kadang, ada yang bikin giveaway dengan hadiah yang ngga terlalu besar si sebetulnya, cuma kita disuruh berpendapat, nah kalau emang topiknya aku relate, aku mau ikutan juga walaupun yang ikutan juga udah banyak. Terus aku juga mempertimbangkan nih syarat-syaratnya, kan kadang ada yang suka minta kita tag 5 teman, tag 3 teman, tag sebanyak-banyaknya. Nah aku tu biasa mikir-mikir banget kalau syaratnya disuruh ngetag lebih dari 5 atau sebanyak-banyaknya. Kenapa? Ya takut ganggu orang lain aja sih. Jadi biasa aku ngetag saudara atau teman yang bener-bener dekat banget.

Kenapa suka ikut give away? Ya karena “why not?” aja sih, hahahaha.. Kata suamiku, darah give away mengalir deras. Ya biarin lah, I do it just for fun really. Menang terus-terusan ngga? Ya ngga mungkinlah lah ya.. Menang ga menang GA sih aku ngga baper laah, tapi kalau menang ya senang. Masa ngga senang sih, yekan. So far sih hadiah menang GA paling besar aku dapat itu adalah 4 tiket masuk Legoland plus 4 tiket PP Batam-Johor Bahru. Cuma saat itu sampai last minutes masa berlaku habis, aku ngga bisa pergi jadi aku jual murah banget lah itu semuanya ke teman aku yang kebenaran lagi perlu.

Nah, aku sekarang mau cerita..

Akhir Januari tanggal 31 itu aku dapat notif di DM menang GA dan berhak mendapat paket beberapa jenis makanan vegan siap santap gitu, how can I not be happy dong.. Seneng banget. Cumaaa ternyata, pas ud konfirmasi alamat, eh ternyata kurir mereka ngga nganter sampai BSD, jadi beneran nganternya di seputaran Jakarta aja. Ya iya juga sih, namanya juga makan udah tinggal siap santap ya, kalo kelamaan di jalan takutnya pas nyampe malah udah kurang enak. Terus aku yang, “oh iya kak, gapapa kok.. Belum rejeki kali ya.. Next time aku ikutan lagi gapapa tapi ya”, tetep ya bund, minta ijin biar bisa ikutan GA lagi hahahaha… Udah, se-ringan itu aja jawabnya. No protes protes club kita sih.

Terus, tadi pagi, pas ke pasar, iseng-iseng ngecek sosmed, eh kok banyak notif ya. Ternyata menang GA lagi gaes.. Puji Tuhan, minggu lalu batal eh minggu ini diberi ganti.. Kali ini hadiahnya parfum, jadi bisa diantar ke alamat mana aja. Hihihi so happy.

Anggap lah itu early birthday gift yaaaa….

Adaptasi…

Halo semuanya…

Gak terasa udah pertengahan Agustus aja ya, duh masa iya sih tahun ini akan selesai empat setengah bulan lagi? Kali ini aku mau nulis apa ya, sampai bingung mau nulis apa, saking udah lamanya ngga nulis-nulis. Oh ya, aku cerita tentang apa yang aku lakukan selama Maret-Agustus aja kali ya. Banyak yang berubah banget soalnya, hahaha.

Kasus pertama Covid-19 di Indonesia kan di awal Maret ya, tapi belum heboh banget. Ya heboh, tapi seingatku kami masih beraktivitas seperti biasa aja. Anak-anak masih sekolah dan les, aku masih kerja, gereja masih berjalan, bahkan minggu ke dua Maret kami masih mengantarkan anak-anak ujian les musiknya di Gedung Yamaha Pusat naik KRL. Cuma emang udah mulai waspada, masker selalu pakai dan bawa tissue basah buat lap tangan saat diperlukan.

Masuk minggu ke 3, semua kegiatan pembelajaran anak-anak kayaknya sudah dihentikan mulai dari sekolah, kursus, dan sekolah minggu. Kantorku sendiri di pertengahan minggu ke tiga baru memutuskan untuk menjalankan sistem WFH bagi karyawannya. Hari terakhir sebelum WFH, aku dan si papa belanja dulu keperluan sebulan biar ngga keluar-keluar rumah gitu lah. Beli beras, deterjen, sabun mandi, shampoo, minyak goreng, dan lain-lain gitu lah. Biasanya kan aku beli kaya gitu mingguan aja ya, cuma ini beli buat stock sebulan, ngga lebih karena ngga bermaksud nimbun juga, maklum cynn, rumah aku kan segitu-gitu aja ya, mau taro di mana tu barang-barang kalo beli terlalu banyak?

Adaptasinya gimana? Wah, cukup bikin aku stress sih ya. Suasananya lumayan horor kalau menurut aku saat itu. Walaupun minimal ada beras dan telor di rumah, tetap lah ya, kita mikir duh gimana nih caranya beli protein hewani, buah, dan sayur? Masa iya sebulan makan beras dan telor ya kan.. Untunglah saat-saat itu ada-ada aja informasi dari grup WA gereja dan dari grup WA tetangga yang berisi informasi tukang sayur yang bisa dititipin belanjaan sekalian banyak buat seminggu terus nanti dia antar ke rumah. Aman laah urusan makanan rumah. Walaupun setiap minggu jadinya agak bingung, mau pesan apa lagi ya ke tukang sayur. Perasaan yang dipesan itu-itu melulu deh, hahahaha. Manusia gak ada puasnya.

Kemudian, mari kita masuk soal pembelajaran anak. Jadi, di awal-awal anak-anak SFH itu (kadang aku geli dengar SFH, macam inisial nama akuuu), duh bok, rempong amat. Udah kesepakatan kan bahwa PR anak-anak dikumpul jam 9 malam. Ealah, nanti jam 3 sore gurunya udah posting daftar nama-nama anak yang sudah mengumpul tugas di grup WA. Ya paniklah saya kan, secara cuma nama anakku yang belum ada di situ. Belum lagi kadang ya orang tua lain juga menurut aku terlalu berlebihan, pada protes kenapa tugasnya sedikit sekali, anak-anak jadi punya waktu luang terlalu lama, terus segala nanya gimana ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir, dll. Aku yang biasanya nggak pernah berkomentar di grup, akhirnya ngga tahan juga dan akhirnya protes keras tuh di grup WA. Wkwkwwkw. Aku bilang, kalo kesepakatan submit tugas jam 9 malam, tolong bu guru jangan posting siswa yang belum kumpul tugas jam 3. That somehow makes me crazy! Ya bok, namanya awal-awal aku WFH, seharian bisa google meet, rapat ngga abis-abis! Sekalinya kelar rapat, eh baca WA tinggal anakku yang belum kumpul tugas (direminder pula!!) apa ngga emosi tingkat dewa? Terus aku juga protes tuh sama emak-emak lain, aku bilang ya kalau anaknya emang udah bikin tugas ya biarin aja sih main, ngga usah minta-minta tugas tambahan sama guru. Kalau mau, ya kasih sendiri aja tugas tambahan ke anaknya masing-masing. Eh terus aku diserang bok sama ibu-ibu laen wkkwkwkwkwkw. Kocak banget! Semua pada bilang, kami nggak mau anak-anak kebanyakan main, ngga mau anak ketinggalan kurikulum, ngga mau anak-anak terlalu santai takutnya tar kebiasaan, dll, dsb, etc. Terus aku jawabin lagi, eh ayolah sama-sama jujur, pasti kita sebagai orang tua aja, yang udah paham kenapa kita bisa berada pada kondisi seperti ini, pastilah tetap rada terganggulah pikirannya mengenai Covid19 ini, pasti banyak kekhawatiran. Ya kalau bisa jangan sampai anak-anak juga ikutan tertekan, biarinlah mereka lebih banyak main di rumah, membaca, menggambar, melakukan hobinya yang lain. Emang mau ngejar apaan sih? Orang UN aja sama Mas Menteri ditiadakan, kok ya anak kelas 1 SD ribet bener hidupnya seharian dituntut ngerjain tugas biar ngga kebanyakan main dan agar mempersiapkan diri untuk ujian naik kelas? Lah selama ini ada ujian naik kelas juga semuanya naik juga kok, nggak ada yang tinggal kelas. Kecuali nih, beneran ada setengah jumlah anak yang ngga bisa naik kelas karena ngga lulus ujian, ya monggo tetap laksanakan ujian. Aku juga bilang, kalau perlu itu anak-anak dikasih tugas life skill aja malah, suruh bantuin ortu cuci piringlah, masaklah, rapiin rumahlah, ceritain tentang buku favoritnya kek, cerita tentang cita-citanya kek, cerita tentang apa yang dipikirkannya tentang pandemi ini kek, apa ajalah yang santai tapi bermanfaat! Abis itu grup WAnya sunyi senyap sis wkwkkwkwkwkw, sampe kata si papa, mereka udah punya grup baru kali yang ngga ada mamanya! Tega amat nih suami, mulutnya kok bisa setajam silet wkwkwkkww. Tapi hasilnya, anak-anak akhirnya naik kelas tanpa perlu adanya ujian akhir. Jadi diambil nilainya dari tugas sehari-hari aja. Tugas-tugasnya juga akhirnya lebih banyak ke praktek di rumah gitulah, tugas dari buku pelajaran sih tetap ada kok, tapi porsinya nggak sebanyak awal-awal SFH dulu. Aku nggak bilang bahwa semua itu karena aku ngamuk-ngamuk ya, cuma aku merasa bersyukur aja menyuarakan pendapatku, sehingga setidaknya mungkin jadi pertimbangan bagi guru-guru. Maafkan aku ya para guru-guru anakku, sungguh aku menghargai upaya kalian dan salut sama kalian kok, aku tau banget pasti sulit ya mengakomodasi keinginan ortu siswa yang beda-beda.

Terus adaptasi apa lagi ya, oh iya, jam tidurku juga jadi kacau. Entah kenapa, aku itu jadi susah banget tidur. Jadi dari mid Maret s.d April ya kayaknya, aku itu selalu tidur di atas jam 12 malam. Jam 1 apa jam 2 gitu baru tertidur. Padahal jam 6 udah mesti bangun lagi buat siapkan makanan, jam 8 mulai kerja lagi. Aku baru balik normal siklus tidurnya pas udah mulai masuk kantor lagi pas pertengahan puasa deh kalau ngga salah (3 hari WFH 3 hari WFO). Pulang kerja itu rasanya badan capek banget, jadi begitu sampai rumah, mandi, makan, langsung tidur deh. Besok paginya lebih semangat karena tidurnya udah cukup.

Abis itu, saat semua udah mulai stabil, aku udah ngga overthinking, kerjaan di kantor udah mendingan (nggak google meet lagi all the time), anak-anak udah pada santai, aku jadi bisa meluangkan waktu untuk dengar-dengarin podcast lagi, nontonin IG story orang, baca-baca buku, dan yang paling ambisius adalah daftar free online course, 3 courses berbeda sekaligus di edx!!!!! Wkwkwkw. Macam betul ajalah ya kan. Awalnya aku happy tuh, dapat banyak pengetahuan secara mendalam. Tiap hari aku meluangkan waktu 2-3 jam untuk belajar di malam hari setelah anak-anak tidur. Setiap hari aku belajar satu course. jadi dalam seminggu, aku belajar satu course itu 2x. Oh ya, dua dari tiga courses yang aku ambil itu adalah “The Health Effects of Climate Change” dan “The Ethics of Eating”. Ini bagus banget pelajarannya, tapi me just being me kan, eh malah aku kepikiraaan jadinya. Kok gini sih, kok gitu, terus aku bisa berbuat apa biar kondisinya membaik. Lama-lama, eh kok aku jadi sedih, jadi pola tidurku rusak lagi. Baru bisa tidur jam 2 atau jam 3 subuh. Besokannya karena tidak cukup tidur, aku jadi cranky, mood ngga stabil, dsb lah. Aku pikir, udahlah ya, aku benerin dulu deh pola hidupku, gak mau sampe sakit juga just for the sake feeding my Ego. Jadilah aku mahasiswa DO dari online courses wkwkkwkw

Tapi, dari dua courses itu, aku pelan-pelan baca lagi tuh buku Sapiens yang udah setahun ngga kelar-kelar kubaca, terus lanjut baca buku tentang Minimalism, terus kayak coincidence aja gitu, malah jadi ketemu aja sama sumber-sumber bacaan yang berkaitan sama pola hidup dan pola makan yang bagaimana yang setidaknya tidak terlalu “menyakiti” bumi. Aku jadi mikir, coba deh kalau gitu, aku mau belajar makan plant based. Trus coincidence lagi, ketemu sama IGTV Dian Sastro yang sama Nadya Hutagalung. Di situ Nadya bilang, kalau mau jadi Vegetarian lo ngga bisa ekstrim. Kalau ekstrim, chance untuk berbalik lagi itu tinggi. Mending pelan-pelan aja, cari tau rasa-rasa makanan plant based sampe ketemu yang enak dan kamu suka. Gitu deh salah satu omongan dia yang aku tangkap. Ya udah, gitu deh, mulai pertengahan Juni aku jadi mulai belajar makan plant based. Enak juga dan ngga susah juga sih buat aku, karena pada dasarnya aku emang doyan sayur. Eh terus aku masih konsumsi telur dan susu kok. Apakah ada bolongnya, ya tentu ada, tapi nggak banyak. Kapan itu pas temen main ke rumah terus BBQ-an, aku makan juga hihihihi, sama pas di kantor temenku mentraktir makan siang, menunya ikan dan sayurnya dikit banget sama kuah gulai doang. Makin ke sini, ya udah makin biasa aja sih. Tiap ke kantor paling aman ya bawa bekal aja, kalaupun ada traktiran, aku makan-makan aja kok kecuali daging/ayam/ikan/seafoodnya. Kalau mesti beli karena ngga bawa bekal, aku pesannya nasi plus beberapa macam ayur aja, plus tempe/tahu/terong atau telur. Kadang kalau teman-teman di kantor pesan martabak telur yang ada daging sapi cincangnya, aku kadang masih makan juga sepotong karena susah misahinnya. Tapi kalau martabak manis sih ya langsung hajar aja wkwkwkwk.

Di rumah sih ngga terlalu banyak perubahan ya, orang rumah kecuali aku masih aku masakin menu seperti biasa, paling buatku aku tambah jenis sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan aja. Masaknya ya ditumis aja udah enak. Kadang disop sayur aja. Kalau lagi rajin, kapan hari aku bikin rendang nangka muda, enak banget hahahahha. Udah dua bulan tapi masih belum bosan sih, masih semangat mau lanjut makan plant based.

Oh ya selain itu, aku juga mulai mengusahakan banyak bergerak terutama kalau lagi WFH ya. Kebayang ngga sih, kalau WFH itu kadang ngga sadar dari jam 8 sampai jam 5 (bahkan lebih) ya di depan komputer aja. Paling geser dikit ke meja makan tau ke toilet, yang mana di situ-situ juga karena rumah hamba kan segitu-gitu aja. Agak ngeri ya nggak gerak gitu. Kalau di kantor kan, masih adalah bergeraknya, naik turun tangga, jalan ke toilet, ke ruangan bos, wkwkwkw. Jadi aku usahakan jalan kaki muter komplek kalau ngga pagi ya sore abis kerja, tetap pakai masker, jaga jarak sama orang. Kalau WFO gimana, kalau WFO justru langkahnya lebih banyak, sebab itu tadi, di kantor aja udah muter-muter kan, ditambah perjalanan yang harus kutempuh dari halte pas turun bus sampai ke rumah. Iya jalan kaki, awalnya karena di Tangsel kan sampe akhir juli masih PSBB ya, jadi mau naik gojek ke rumah ya memang tidak ada kakak. Naik taksi ya ada, tapi kemahalan wkwkwkwkwkw. Mau tidak mau saya harus jalan kaki sampai ke rumah. Akhirnya malah keterusan, sekarang walau udah ada Gojek, aku tetap jalan kaki sih hahahhaha.

Gak disangka ya, pandemi ini justru menghasilkan better version of me, ceileeeee gaya bener hahahahhaa. Ya udah deh, segitu dulu ceritanya yaaaa. Selamat menyambut hari Kemerdekaan semuanyaaaa..

Shien