
karnaval dalam merayakan maulid nabi kali ini begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. yang saya rasakan di tahun 2018 kali ini begitu sepi, ntah dari penontonnya ataupun dari peserta karnaval sendiri. di zaman saya kecil sendiri ketika ada karnaval trotoar begitu full dan sangat sulit melihat bagaimana penampilan di jalan pun halnya dengan jamnya yang di awali jam 14.00 sampai jam 17.00 bahkan hingga maghrib, namun ditahun ini dimulai jam 14.00 dan selesai jam 15.00 an. nah ini lah yang membuat saya sedikit tidak menikmati karnaval ditahun ini. sebenarnya dari awal saya sudah tidak minat untuk melihat namun si kecil ini memintaku untuk mengantarnya melihat karena senangnya melihat drum band. karena tidak ada yang mau dan akhirnya saya mau untuk mengantarkan dan memanjakan bidadari kecilku ini, perkenalkan bidadari kecilku ini namanya Dhifa, dia termasuk wanita kuat yang ingatannya hebat. meskipun penakut hahahaha. di tengah karnaval pun dia selalu di belakang karena takut adanya barongsai yang katanya bisa memakan manusia hahahaha… namun ada lagi perkataannya yang membuatku sedih dan menangis seketika disitu, yakni ketika dia mengucapkan ” aku biyen ndelok karnaval ambek pak po om alan, ditumbasno es grim ambek mainan akeh” disitu pun aku langsung menangis, dan membayangkan jika aku tidak di rumah pada hari itu siapa lagi yang mengantarkan dia untuk mencari kesenangannya yang masih kecil. pak po yang dia maksud ialah kakakku Shiq4 atau Muhammad Liudin itu, bidadari kecil ku sangat mengingat bagaimana kasih sayang beliau, di setiap karnaval dia selalu menceritakan bagaimana sang Shiq4 memanjakannya dan dimana saja dia pernah diajak jalan-jalan olehnya…. aahhh ucapannya yang masih kecil dan ceritanya yang menyentuhku terus saja membuatku menangis.. karena ku tak tahan menahan tangis dan karnaval mulai sepi akhirnya aku memutuskannya untuk mengajaknya pulang.. dan ketika perjalanan ke rumah pun bidadari kecil itu bilang bahwa dulu sering digendong belakang sama pak po nya dimana pun ia berada saat karnaval bahkan sampai di sunggih karena sayangnya pak po kepada bidadari ini…
Muhammad Liudin, kamu begitu hebat menjadi seseorang yang peyayang keluarga, hanya saja banyak saudara yang tidak mengerti maksudmu, maafkan kami. bagaimana kami tidak merasa kehilangan sedangkan sang bidadari kecil saja mengingatmu sampai seperti itu… semoga kau tenang di alam sana mas.