Mungkin keyakinan akan kepemilikan ini yang bikin aing akhir-akhir ini stress. Padahal sejatinya makhluk ngga punya apa-apa.
Serasa memilki pengetahuan, pengennya bisa jadi orang paling ahli di bidangnya. Ngga salah untuk menjadi yang paling ahli, tapi sewajarnya bukan jadi sesuatu yang dipaksakan untuk dicapai. Kalau tercapai, alhamdulillaah. Yang mesti dipahami adalah bahwa ilmu adalah titipan dan akan dimintai pertanggungjawaban. Yang penting adalah bahwa kita benar dalam beramal dengan ilmu yang “dipunya”.
Serasa memiliki kecukupan harta, padahal bisa diambil sama Yang Punya kapan aja. Mengutip Ali RA: “Harta. Yang halal akan dipertanggungjawabkan. Yang haram ada di neraka.” Sama, mesti dipertanggungjawabkan juga.
Serasa memiliki waktu dan umur panjang (duh jadi pengen mewek). Anda yakin?
Mungkin saya perlu mengingat lebih sering bahwa tidak ada kepemilikan bagi makhluk. Bahwa apa-apa yang terlihat milik ini adalah titipan, amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Apakah dipakai bersyukur atau tidak.
Btw, mengenai kata “milik” ini, ada yang menarik. Milik sejatinya adalah serapan dari bahasa Arab (mim – lam – kaf) yang dekat kekerabatannya dengan kata Malik yang artinya raja. See? Memang seharusnya kata milik ini ngga nempel ke makhluk, karena sejatinya Dia-lah sang Malik (disebut minimal 17 kali sehari).