Siapa Perduli
Setiap istirahat siang banyak pegawai yang menghabiskan waktunya di basement gedung perkantoran ini. Ngobrol sambil memegang gelas plastiknya berisi kopi atau teh dan sambil merokok. Ya!, memang di sini adalah salah satu tempat yang disediakan untuk para perokok, cukup nyaman karena sekelilingnya terbuka, jadi udara segar bebas mengalir bertiup.
Wajah wajah ceria, senang mewarnai obrolan kumpulan atau kelompok mereka, adajuga sih yang murung, senyum pahit dan hambar. Hidup memang begitu, sebagian kehidupan itu terlihat di basement ini. Saya lebih sering sendirian, karena tanpa kelompok, kantorku berbeda dengan kantor mereka. Oh ya di gedung ini banyak benar kantor, ada pengacara, ada “oil and gas”, ada konsultan dan banyak macam lagi, maka pada waktu pagi masuk kantor dan istirahat siang lift sangat ramai. Namun sesekali saya bergabung ikut nimbrung dengan mereka, hmmm itulah, para perokok mudah berteman satu sama lainnya.
Obrolan omong kosong untuk dilupakan, tertawa atas sesuatu yang lucu dalam obrolan membuat hati senang. Hmmm.. tidak ada yang peduli pada kebijakan dan pidato petinggi-petinggi negeri ini, karena tidak ada yang tertarik membicarakan akan hal itu. Maka obrolan omong kosong lebih banyak dilontarkan dalam kelompok ini, tentulah lebih menyehatkan.
___________________
Bisik-bisik: Siapa peduli pada janji omong kosong.
Pertemuan yang membahagiakan
Beliau tertawa, senang menyalamku erat, juga anggota rombongangnya, sungguh menyenangkan dan bahagia rasanya. “ehh..kau masih bekerja” katanya “lama tak jumpa”.
Surprise, “hebat” kataku. Mereka tim engineering yang sangat kuat, ibarat para suhu perguruan silat turun dari gunungnya masing masing. Saya kenal mereka, saya kenal jurusjurusnya, mereka para piawai dibidangnya masing masing.
Saya ingat dulu pada suatu ketika. “bapak bulan depan langsung, ke kantor saya saja pak”, suaranya jelas melalui pesawat telepon ekstension yang terletak diatas mejaku. “ohh..baik pak, dengan senang hati” jawabku ketika itu, memang bulan depannya saya akan pensiun.
Lumayan lama saya bekerja di kantornya, dia direktur utamanya, bahkan saya masih tetap bekerja dikantor ini, sampai beberapa kali berganti direktur. Kini saya bekerja di kantor swasta yang bergerak dibidang yang sama.
Hmmm…kemarin kami bertemu dalam waktu yang sangat singkat, di ruang tunggu salah satu kantor anak perusahaan terbilang raksasa di negeri ini, dalam pekerjaan yang berbeda, dan di ruang rapat yang berbeda.
Senang dan bahagia bertemu, pak Imam Mashud, Pak Yayan, Pak Erico, Pak Fajar, Ibu…lupa namanya.. dan rombongan yang tidak kusebut satu persatu.
Bisik bisik: sehat rasanya, darahku mengalir dipipiku, bertemu dengan mereka
Serampangan, semrawut
Berita di tv, kelihatan pemerintah sibuk memikirkan cara menekan pemakaian bahan bakar, lucu rasanya. harganya juga akan dinaikkan, terutama pada bahan bakar bersubsidi, katanya pula tidak tepat sasaran.
Menurutku sih, asal bernama subsidi pastilah banyak penyimpangan. subsidi apapun, hal inipun akan terjadi pada makan siang gratis, bansos dan lain-lain.
Saya tidak mengerti mengapa kebijakan seperti ini harus ada. Apakah tidak ada cara lain?. Misalnya menaikkan penghasilan masyarakat dengan membuka lapangan kerja atau peningkatan kualitas pendidikan, pertanian atau apalah yang terkait peningkatan.
Kembali pada pemakaian bahan bakar, bukankah lebih baik menambah dan meningkatkan kualitas angkutan umum?
Hmmm..entahlah.
Apapun, semoga negeri kita makin maju, terutama makin teratur dan berbudi pekerti yang baik. Misalnya kalau ada orang menyeberang dijalan semoga pengendara memberi kesempatan dengan nyaman kepada mereka.
Paket
Paket
“ting..ting..ting” bunyi nyaring lonceng kecil yang terpasang di gerbang memaksa saya berdiri dari kursiku, meninggalkan pekerjaan yang dari tadi saya sedang tenggelam menyelesaikannya. “ada apa Pak” tanyaku sambil melangkah kearah gerbang. “Paket, dari Bandung” sahutnya.
“alamatnya? apa pak” lanjutku. Lalu bapak itu membaca alamat dan nama istri tercinta sang polisi Toba.
“Tunggu sebentar, saya panggil ibu”
“Baik pak”
Sambil melangkah balik untuk memanggil polisi Toba, dalam pikiranku semoga paket itu alamatnya benar ke sini, juga pengirimnya dikenal.
“Ada paket dari Bandung, coba lihat dulu” kataku ke polisi Toba. “Hati hati siapa tau salah” lanjutku.
Syukurlah, ternyata paket itu benar dari temannya, isinya tumbuhan bunga angrek.konon temannya penyuka dan penanam angrek.
Itulah dulu, saya selalu curiga karena pernah sekali duakali paket salah kirim, Dan kita tidak mau menerimanya.
______________________________
Bisik-bisik: semoga tumbuh dengan baik.
Tidak Mungkin Lupa
Tidak mungkin saya lupa, maka selalu kusempatkan mampir kalau saya sedang pulang kampung. Tidaklah, tidak akan lupa, di sini, di gereja ini saya bersekolah minggu, di sini di gereja ini bagian dari memori saya diisi dengan budi pekerti, diisi dengan menghormati sesama, diisi dengan menghormati orang tua dan diisi dengan takut akan Tuhan.
Kutulis ini karena melihat foto ini. Saya dengan dua orang adikku laki laki bersama istri bediri di depan gereja ini. Istri kami tidak mengenal gereja ini, karena mereka dari kampung atau kota lain, hmm…mereka mengenal gereja masa kecil mereka. Kami kakak beradik duabelas orang tetapi dalam kesempatan ini cuma kami bertiga, yang datang.

Dulu gereja ini mempunyai dua palas palas yaitu atap runcing gereja, tetapi kini sudah diperbaiki menjadi seperti ini, mungkin yang lama sudah rapuh, kami tidak perlu menanyakan itu, tidak ada perlunya dan tidak ada gunanya, yang jelas kami sempatkan ngobrol dengan pengurus gereja yang kebetulan tempat tinggalnya berada dilokasi gereja ini. HKBP Partali Toruan.
Bisik-bisik:Masa kecilku di sini, ada sekolah SR tidak jauh dari lokasi ini, di situ pula aku sekolah.
Kami sempatkan foto bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing
Jumat pagi tgl 22 November 2019
“Papaaa good morning pa, Besok jadinya jam 11.00 yah pa” pesan anak saya si Rumiris di hp saya..
“Ya nak, pukul 12.00 kata mama Nak” kutulis pesan jawaban.
“Oke paa, Sipp, Reservasi atas nama Febriani, yah paa” balasnya.
Febriani adalah juga namanya. Nama lengkapnya Rumiris Mangaranap Febriani. Nama itu menjadi panggilan kami sehari hari dalam masyarakat sukuku, suku Batak Toba. Maka saya dipanggil Ama Rumiris dan polisi toba istri tercinta dipanggil Nai Rumiris, dia disebut siboru panggoaran.
Sabtu pagi tgl 23 November 2019
Kulihat alamat restoran dibilangan Senopati melalui pesan singkat di hp ku.
lalu kubalas “bapa masih menunggu mama, belum pulang dari gereja” jam telah menunjukkan pukul 11.52, hari ini ada acara martumpol, pra-pernikahan atau pengukuhan dan pengumuman rencana nikah dari seorang anak tetangga kami kepada khalayak di gereja HKBP Cinere.
“Waduh, aku udah nyampe, Hahaha hmm…Kok bisa” balasnya, tiba tiba kudengar deruman mesin mobil dan klakson dari depan rumah, saya buru buru keluar kulihat polisi toba sudah nyampe, sambil kutulis pesan “ini baru berangkat”, “Oke Paa” balasnya.
“Sepuluh koor” kata polisi toba sambil makan kue yang dibawanya, saya jalankan mobil menuju toll Antasari,
“Biasa!, HKBP, selalu konser, jangankan pesta pemberkatan, hari minggu biasa pun selalu konser” kataku, maka tidak heran acaranya selalu memakan waktu yang lama lanjutku.
Tiba di restoran, mereka sudah menunggu dengan adiknya putri kami yang melahirkan cucu kami si Kavod, dia bersama suaminya. Lalu kami makan dan bersenda gurau dengan senangnya, apalagi si Kavod lagi lincah-lincahnya, dia lari kesana kemari sungguh senang rasanya. Sayang cucu panggoaran si Tigor dengan orang tuanya berhalangan, soalnya mereka pergi ke rumah Opa danOmanya. Omanya ulang tahun.

#imajo, kami sempatkan foto bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing
Borhat ma ahu, dungi mulak muse. (Saya pergi untuk pulang)
Saya senang juga karena siklus keseharian tubuhku tidak terganggu. Pesawat yang membawaku ke Lubuklinggau berangkat pukul 11.00. maka kemarin tidur dan bangun pagi hari ini berlaku seperti biasa, cuma hmmm..perutku agak terganggu, diaree..entah apa penyebabnya.
Besok, presentasi menjelaskan pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh calon kontraktor, lalu menunjukkan lokasi ditengah hutan di suatu tempat di Sumatera Selatan, dan menyusurinya lewat jalan besar menuju Bangko Sumatera Barat, kembalinya ke arah timur di suatu tempat dekat kota Jambi. Hmmm..hutan daerah ini tidak asing bagiku.
Tahun 2006-2008 yang lalu, saya dengan dua orang temanku selalu menyusuri hutan hutan ini, banyak dinamika, hutan, lumpur jalan tanah, perkampungan, rumah satu satu, sore, malam gelap, suara binatang, jalan ke kota kecil menginap masih jauh.
Kini saya duduk ditaksi, bertiga tidak kenal satu sama lain, tadi saling menunggu Bus DAMRI yang tak muncul muncul, sepanjang perjalanan saya melihat kesibukan Jakarta dari jendela, gedung motor, mobil, jalan tol, jalan umum pejalan kaki, pedagang pinggir jalan semua tergesagesa.

Mengantar ke Stasiun Bis 
Tiba di Sukarno Hatta
Tentu, tentu saya diberangkatkan istri tercinta polisi toba. Saya diantar ke stasiun bus. Berdoa, selamat pergi, selamat diperjalanan, selamat pulang. Tuhanku yang mengaturnya, lalu kami serahkan hidup kami sepenuhnya kepadaNya. Juga anak dan cucu kami, mereka the next generation agar hidup dijalan dan didalam kesukaanNya. Amen.
#imajo, borhat ma ahu, dungi mulak muse. Saya pergi untuk pulang.
Saya cuma salah seorang pekerja.
Kucoba mengingat, sudah berapa kali saya mengunjungi hutan Sumatera Selatan dan Jambi pada satu dekade ini, tetapi yang muncul adalah Indonesia negeri yang kaya, lalu siapa pemiliknya. Pertanyaan yang melahirkan pertanyaan baru dan pertanyaan lebih baru dan pertanyaan terbaru.

Lokasi Pembangkit, di suatu tempat propinsi Jambi
Hari ini saya mengikuti rombongan calon investor dan kontraktor meninjau suatu lokasi untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik dan penyalurannya ke sistem Sumatera. Semoga berhasil, semoga.
#imajo, Saya cuma salah seorang pekerja dalam tim desain gardu induk dan transmisi untuk pembangkit ini.
Lagi lagi saya hanya pekerja
Pagi ini, kau telah siap untuk berangkat ke lokasi proyek yang akan kau tunjukkan dan jelaskan pada calon kontraktor, agar mereka dapat menyiapkan diri untuk bertanding bulan depan.
“Selamat menyiapkan diri, selamat bertanding, yang terbaiklah yang menang, sebaik proyek ini selesai maka energi listriknya dapat disalurkan bahkan sampai ke Medan, lewat kampungku” katamu pada mereka sambil menunjuk gardu induk Bangko, delapanpuluh empat kilometer jauhnya dari lokasi pembangkit yang kalian kunjungi kemarin.

Menunggu di Lobby suatu hotel di kota Bangko 
Menunggu di GITET 275 Bangko
“Bangko ini terhubung ke Payakumbuh-Sidempuan-Sarulla-Tarutung-Porsea-Galang-Binjai-lalu Medan” katamu kepada mereka. “Kalian siapkan yang terbaik, masyarakat menunggu karya kalian” tambahmu memberi semangat, lalu kau serahkan penutupan kepada pimpinan yaitu pemilik proyek, perusahaan milik pemerintah.
#imajo, lagi lagi saya hanya pekerja
Pikiran acak, tanda sehat? Semoga.
Jakarta, sudah lebih dari lima puluh tahun kau disini, menelusuri jalan jalan yang sesak dengan sepeda motor dan mobil, pinggir jalan yang dipakai pedagang asongan padat bercampur baur dengan pejalan kaki atau orang yang sedang menunggu angkutan kota.
Gedung gedung tinggi dan megah, mengagumkan, bali hoo elektronik menunjukkan iklan dengan foto gadis gadis cantik, menarik hati meski tidak kau beli. Kau memacu mobilmu dari Cinere ke kawasan Senen, malam ini acara ulang tahun besan. Putrimu memberi tahu “datang ya Pak, Ma” katanya melalui wa.
Hmmm, aneh bagimu pada acara ulang tahun. Orangtuamu, kau dan sebelas adik adikmu tidak pernah melakukannya, bahkan kau sering mengingat besoknya atau lusanya “saya ulang tahun kemarin” pikirmu, tersenyum lalu bersyukur. Dasar orang kampung.
Dulu kalau ada lauk yang enak di rumah, lalu ibu kita tanya “siapa yang ulang tahun uma”, uma adalah panggilan untuk ibu. Itu saja, tidak lebih, lalu berdoa dan yang ulang tahun yang pertama mengambil lauk, biasanya daging ayam. Hahaha jarang kita makan daging, biasanya ikan asin dengan daun singkong tumbuk
Lalu kau ingat, kampungmu di Tarutung terletak di lembah atau rura Silindung. hamparan sawah yang luas, bergelombang seperti lautan ditiup angin. Tarutung dikelilingi bukit dan gunung, sejuk menyegarkan karena diselimuti kabut ketika pagi dan malam, dibelah tiga sungai besar mengalirkan air yang ditumpahkan dari gunung menyuburkan sawah dan kebun.
Para pemuda menyanyikan lagu merdu merayu gadis gadis cantiknya, mereka bernyanyi sambil berjalan memetik gitar, ada yang tertawa tawa saling menggoda satu sama lain menuju kampung gadis pujaannya. Akankah dia menerimanya? gadis Tarutung sungguh sulit ditaklukkan.
Busyet pikiranku berproses acak, mana mungkin kau lupa, kau selalu menunggu sado kereta kuda yang mengantarnya, paling tidak kau lihat wajahnya, mana mungkin kau lupa uang sekolahmu dua liter beras. Hmmm… kau tersenyum dibelakang setir.
#imajo, pikiran acak, semoga tidak pikun
