Floating

Because God’s decision cannot be rushed
even when you feel like you are swayed all over the place
even when you feel like you truly want it to be true
if it is not meant to be
then
it will not be
be brave though
for everything that happens
happened for a reason
be patient though
for every little prayer that you desire
Allah plans the best answer
be strong though
for every tears does not always mean eternal sadness
so be still
for with every hardship you went through
ease follows
and Allah is there

Tentang menghargai sesuatu yang banyak

Jadi ceritanya kemarin ini habis beberes kartu pos yang terkumpul selama 2 tahun yang lalu. Awalnya malas, soalnya udah rapi di satu kotak, mau diapa-apain kok ya kaya ga ada kerjaan aja, mana banyak pula (bukan nyombong loh ya, ampun sodara-sodara). Terus yaudah sih kartu pos doang (padahal dulu nyarinya susah *emot-monyet-tutup-muka*). Tapi terus jadi kepikiran.

Di dunia ini apa-apa yang tersedia banyak pada akhirnya malah jadi sulit dapat apresiasi. Mungkin karena jadi mainstream. Mungkin karena jadi membosankan. Mungkin karena memang kita ga sanggup meresapi nilai dan menghargai suatu hal saat jumlahnya terlalu banyak. Beras di rumah orang yang jadwal makannya masih tergantung apakah ia pulang bawa uang atau tidak akan jauh lebih dihargai dibanding beras di rumah orang yang uangnya berhamburan kaya bedak bayi. Air bersih akan jauh lebih dihargai di tempat yang kering sulit air dibanding di desa yang lokasinya dekat dengan mata air. Waktu akan jauh lebih dihargai saat seseorang sibuk dibandingkan saat ga ada kerjaan. Manusia di negara yang penduduknya sedikit juga jauh lebih dihargai dibanding manusia di negara yang berpenduduk banyak haha.

Mungkin itu kenapa katanya ada ujian di setiap rezeki yang diterima. Ada ujian di setiap “keberlebihan” yang dialami setiap manusia, setiap keluarga, setiap negara. Bedanya, kalau ujian dalam keterbatasan atau kesempitan bisa dilihat dan dirasakan dengan jelas, ujian dalam keberlebihan lebih mirip piranha berbulu domba. Datangnya ga jelas kapan, tau-tau kita udah bocel-bocel digerogotin. Mungkin itu kenapa Umar bin Khattab ra sampai bilang “aku tak peduli akan susah dan senangku, karena aku tak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku”. Soalnya dalam kesempitan akan lebih mudah buat bersyukur, menghargai sekecil-kecilnya rezeki, tapi ada ujian untuk bersabar. Dalam keberlebihan akan lebih mudah buat bersabar, tapi ada ujian untuk bersyukur, tetap menghargai apa-apa yang sudah tersedia banyak.

Jadi apa hubungannya sama si kartu pos? Ga ada sih haha cuma akhirnya si kartu pos-kartu pos yang tadinya bertengger-hampir-terlupakan di kotak akhirnya di tempel satu-satu di karton biar bisa dihargai keunikannya satu per satu. Biar dalam ketersediannya yang banyak, si kartu pos ini bisa tetap dihargai secara individu yang merdeka dan berdiri sendiri. Biar dalam ketersediannya yang banyak, si kartu pos ini ga malah jadi kehilangan potensinya buat diapresiasi.

Pebbles on this journey of life. A reminder

“..dan kemanapun hidup membawa kita, semoga kita bisa tetap ingat tujuan awal dari semua langkah-langkah itu..”

Jika hidup dimulai karena takdir, maka kehidupan berjalan di atas pilihan – pilihan. dengan setiap pilihan mengandung konsekuensi takdirnya masing-masing. maka pastikanlah tiap pilihan yang kita ambil, adalah pilihan yang berasal dari kita sendiri, bukan pilihan orang lain yang mengambil alih tempat dalam kehidupan kita.

Saat kehidupan kita berjalan di atas pilihan – pilihan orang lain, maka keluhan akan lebih mudah terucapkan. sementara saat kehidupan kita tersusun atas pilihan kita sendiri, maka tak ada alasan untuk mengeluh. karena segala kelelahan dan kesulitan yang kita alami adalah bentuk tanggung jawab terhadap konsekuensi yang kita ambil menggunakan tangan sendiri.

when our pray doesn’t seem to be answered, don’t take premature prejudice. Maybe it’s just not the time for our prayer to be answered, not the time for what we want to be ours. Maybe it’s because our hands are too full to receive any, maybe our plates already full so it can not contain anything else, so God made us waiting. So we can realize that we already have too much on hand. So we can realize we have to lose something to gain something.

as much as we hate storms, our life need it just like nature do. Storms in our life allow us to see, to rethink of what we have done with our life, and what we’ve achieved.

It lets us readjust the sail and give us the time to check whether this boat called life we’ve been through everyday is heading the right way, to the right destination. To our dreams that we long to achieve.

Humans and their thought processes

Sometimes we don’t realize that even though we are all human, our thought might not always be the same. The way we think is not always the same as how everyone else think. How we approach matters might be different. What we think inappropriate, might be taken as normal by others. What we value most, might be taken for granted by someone else.

Subconsciously, we may think that the way we perceive something is just apply globally. Indeed, it is free to express our thoughts. But to force everyone else to have the same thoughts as us is just not right.

We live in a world built upon interaction of different idealistic value, expressed by everyone with different thought process. The daily life we lived is merely a representation of how those values intertwined, compromising each other. Everyone has their own right to perceive which values are applied to their life. It is also common to build expectation that everyone else will see the same as they are, But in the end, it is impossible.

In the end, we have no control of what and how others think. In the end, we have to realize the concept of what is ideal might be differ in many terms. In the end we have to admit it is impossible to fuse the massive web of various ideals into one single entity. So let’s stop trying to control things we cannot control.

Tentang sinaps dan manusia

Berfungsinya otak secara optimal bergantung pada gimana sel-sel syaraf didalamnya saling bekerjasama. Sel syaraf manusia di otak ga bisa kerja sendiri. Mereka harus kerja dalam suatu sistem supaya si manusia nya bisa berpikir. Saat sel-sel saraf berkomunikasi, terbentuk koneksi yang namanya sinaps. Semakin sering mereka berkomunikasi, semakin kuat sinapsnya. Sebaliknya, semakin jarang mereka berkomunikasi, semakin lemah sinapsnya. Sinaps yang jarang dipakai lama-lama akan hilang.

Mirip kaya hubungan antar manusia, Tali silaturahim yang ga pernah dicek lagi keberadaannya, lama-lama bisa hilang, entah putus, entah dimaling ayam.

Sel syaraf yang memberikan informasi namanya sel presinaptik. Sel syaraf yang menerima informasi, namanya sel postsinaptik. Supaya si sinaps antar keduanya tetap ada, baik si sel presinaptik maupun sel postsinaptik punya kewajiban yang harus dipenuhi. Si sel presinaptik harus mengeluarkan informasi yang dia punya. Si sel postsinaptik harus membuka pintu-pintu di lapisan sel nya supaya si informasi itu bisa diterima.

Mirip kaya komunikasi antar manusia. Orang ga akan tahu apa yang kita pikir, kecuali kita ucapkan. Kita ga akan mengerti apa yang orang coba sampaikan, kecuali kita “buka” telinga, dan mendengarkan.

Tentang diri dan tanggung jawab

Ceritanya habis memutuskan mengulang analisis data karena ternyata sejak senam SKJ berubah jadi poco-poco, sailor moon pun berubah jadi tupai berbelalai panjang (sebetulnya karena saya awalnya ga terlalu paham apa yg dikerjakan selama analisis dan cuma ikut-ikutan kodingan orang aja,dan eh ternyata salah). Tiba-tiba kepikiran ~

Kalo manusia itu pabrik dan semua hal yang keluar dari dirinya itu produk, maka semua produk dari diri kita secara otomatis mengandung label ‘pabrik’nya. Seperti pabrik yang dikenal lewat produknya, manusia dikenal lewat apa yang dia hasilkan. Dan seperti pabrik yang bertanggung jawab terhadap kualitas produksinya, ada tuntutan tanggung jawab dalam apapun yang dihasilkan seorang manusia (baik secara langsung maupun tidak langsung) .Mau itu perkataan, perilaku, tulisan, postingan, re-posting-an, gerakan, air mata, keringat, bekas spidol di meja, bekas hangus di panci, kalau diketahui itu asalnya dari kita, maka mau nggak mau kita bertanggung jawab terhadapnya. Begitupun dengan salah dan benar. Kita bertanggung jawab di tiap kesalahan yang kita buat sama halnya kita bertanggung jawab di tiap kebenaran yang kita yakini.

Disitulah pentingnya memastikan kalo diri kita sendiri paham ‘produk’ apa yang kita keluarkan. Supaya paham apa yang dipertanggungjawabkan. Supaya kalaupun salah, kita yakin itu kesalahan kita, tahu salahnya dimana, dan tahu dimana harus diperbaikinya. Supaya kalaupun benar, kita tahu kenapa itu benar, bisa yakin untuk meyakinkan orang lain, dan bisa memberi manfaat ke orang lain dengan kebenaran itu.

bermimpilah.

This is supposed to be written in my last year of college. But even though now I’ve been graduated, well, what’s the harm of posting it now?

So, this was my thought back when I was working my undergraduate thesis.

Fenomena mahasiswa GALAU di tingkat akhir itu biasa, a common phenomenon. I’m not talking about GALAU because of love, not that. I’m talking about GALAU because of the future, galau yang di trigger karna bayangan akan masa depan yang begitu mendominasi. Masa depan bagian mana yang bikin galau? Kerja? Nikah? Sekolah lagi? Harus sukses? Harus kaya? Harus bisa mewujudkan mimpi-mimpi? Well, anything can happen in our future, for it is not a single event but a series of event working on our single life. The interesting part is the uncertainty of future, of life, is somehow getting the edge of everybody, especially those who stand on life’s intersection.

Sekian banyak kekhawatiran mendominasi pikiran and affect our action plans. Kekhawatiran akan bentuk masa depan, termasuk juga kekhawatiran ga terwujudnya mimpi, ga terwujudnya apa-apa yang diharapkan, yang dicita-citakan atau sia-sianya perjuangan yang selama ini sudah ditempuh demi mencapai mimpi-mimpi itu. Well, gue juga pernah ngerasain hal yang sama.  gue juga sering denger curhatan orang tentang kekhawatiran yang sama. But, if life teach me only one thing, that would be ‘everything happens for a reason’. Ga ada yang namanya kesia-siaan. Perjuangan tetep perjuangan even if it seems none of it gave the expected outcome. Dunia itu besar, dan seringkali kita ga sadar bahwa manusia terlalu kecil untuk bisa memahami bagaimana jalannya kehidupan. So maybe the outcome of our fight will come some day. Or maybe the things we fought for was never meant to be happened, but then, we’re accepting much better other things. We never know what life may bring us, right?

Kadang gue ngerasa gue terlalu sok tau dalam menyikapi hidup. Kita, manusia, hidup basically influenced by our book of comparison. Sometimes we’re too busy comparing our life with others and ended up regretting our own life, cursing here and there, and pitying ourselves. We’re too busy looking to other’s life then we forgot how to live our own life. Padahal, in fact, we’re merely creatures that have no idea what’s best for us.

Dan, kesoktauan gue berlanjut,

Di umur gue yang sekarang ini, iri rasanya ngeliat banyak orang yang lebih muda dari gue duluan mencapai mimpi-mimpi mereka, mimpi-mimpi yang juga gue impikan dan belum bisa terwujud sampai sekarang. Tapi, di sisi lain, gue juga ngeliat begitu banyak orang yang giving up their dream, forgetting it, or even dump it, while they went on their journey of life. Cukup banyak orang yang banting stir, belok jauh banget dari jalan yang seharusnya ditempuh untuk mewujudkan mimpi mereka. For those who have dreams full of idealisms, many of them forgetting how they value the right thing, and end up betraying their own beliefs. Yah, kata orang sih, jalan hidup memang unpredictable. Terus gue jadi sadar, life IS unpredictable. Banyak kejadian dalam hidup yang membelokkan begitu banyak orang, baik secara pemikiran, perilaku, hingga pengambilan keputusan sehingga tak jarang banyak orang ninggalin mimpinya untuk memenuhi tuntutan kehidupan. Tapi apa kalo kaya gitu kita ga boleh punya mimpi?padahal motivator di luar sana berkoar-koar menyebarkan paradigma kalo hidup harus punya goals. Tujuan yang jelas. Well, in my opinion, hidup emang harus punya tujuan yang jelas, jangka panjang maupun jangka pendek. It’s important for us to know where we want to be going, what destination we choose. That way we will navigate our boat of life well.

Oke, tujuan jangka panjang apa? Gue sih berharap surga. Semoga. Jangka pendeknya? Nah, ini baru yang sifatnya duniawi. Tapi tetap harus terkait juga sama tujuan jangka panjangnya. Tujuan atau mimpi jangka pendek orang pasti beda-beda. Tapi dari ngeliat hidup orang lain, gue jadi belajar, mimpi yang kita kejar ga perlu mimpi yang berwujud. Hakikatnya, menurut gue, bukan wujud mimpi yang harusnya kita kejar, tapi nilainya. Contoh, seseorang bisa aja bermimpi untuk jadi dokter. Tapi dalam perjalanan hidup, bisa terjadi banyak hal. Entah itu ia terpaksa putus sekolah karna masalah finansial, harus jadi tulang punggung keluarga, anything can happen  along our journey of life, dan akhirnya mimpi orang tersebut harus terhenti. Then, is it means he/she must leave their dream? Menurut gue di situlah masalahnya kalo kita bermimpi sesuatu yang berwujud. Pokoknya harus jadi dokter! Pokoknya harus jadi pengusaha sukses! Dan pokoknya-pokoknya yang lain. Well, saat kita mengejar sesuatu yang berwujud, we usually end up forgetting its essence, the value of our dream. Seseorang bisa bermimpi jadi dokter dengan dua cara. Menjadi orang dengan gelar dokter, pakai jas putih, kerja di rumah sakit besar. Atau menjadi orang yang bisa membaikkan kehidupan orang lain. The first one is dream based on its form, the other one is dream based on its essence. Orang yang membentuk mimpi melalui cara kedua akan mampu mewujudkan mimpinya, no matter what happens, walau bukan dalam bentuk menjadi dokter. He will not betray his dream. Kalo kita membentuk goals yang bersifat esensi, apapun yang kita lakukan, kemanapun jalan hidup membawa kita, maka mimpi-mimpi itu masih punya ruh untuk hidup. Tapi, saat kita membentuk goals yang berwujud, maka mimpi-mimpi itu akan rentan mati saat jalan hidup mengombang-ambingkan kita.

Well, mungkin ini cuma kesoktauan gue, as an observer of others life. Tapi, gue mulai meyakini kesoktauan pikiran gue itu, dan gue mulai membentuk esensi dari mimpi-mimpi gue selama ini.

Kenapa harus risih?kenapa harus aneh?

“mana mau dia salaman sama lo, bukan muhrim!”

“masa perda ngelarang cewek pulang malem, aneh banget!”

“sholat lo?udah tobat?!”

“ngaji?ga salah lo ngajak gue?gw bukan orang alim men, ngapain lo ngajak gw ngaji?”

itu sebagian kalimat-kalimat yang sering gw denger selintas dari orang-orang sekitar. sekilas emang wajar. tapi kalo dipikir lebih baik, ironis rasanya. Islam itu agama mayoritas di Indonesia. Agama yang seharusnya ajarannya diterapin secara wajar di kehidupan sehari – hari. Indonesia emang bukan sebuah negara agama, tapi kita juga bukan negara sekuler. jadi kenapa harus aneh kalo nilai – nilai agama diterapin di kehidupan sehari-hari?mendahulukan bicara dengan basmallah dan salam, berjabat tangan ketika bertemu atau mau berpisah, bergeser untuk ngasih tempat duduk di angkot pada orang yang baru naik, dan hal – hal lainnya. pendapat ini mungkin emang cuma dari satu sisi. secara mungkin in others opinion, based on my appearence, gw termasuk what people called the religious one or something like that. but i’ll try to explain my point of view fairly. sebenernya gw agak heran sih, kenapa orang, public society, harus ngebeda-bedain antara orang yang istilahnya taat beragama sama orang yang gaul, atau apapun itu sebutannya. balik lagi kaya yang gw bilang sebelumnya, agama itu bukanlah sesuatu hal yang ada di luar kehidupan kita. when we choose to believe, we have to get into it throughly. kenapa aneh saat orang ngajakin sholat hanya karna udah rahasia umum kita itu ga pernah sholat. kenapa harus risih saat orang ngajak kita untuk beraktivitas di masjid padahal kita belum make jilbab? islam is welcoming every single person yang udah ngucapin syahadat, untuk bernaung dibawahnya, menjadi bagian darinya, dan dipenuhi hak-haknya. saat kita diterima dengan baik bahkan dipenuhi hak-haknya, apakah masih ada alasan untuk kita menolak menjalani kewajibannya?apakah masih ada alasan untuk kita tidak menjalani kehidupan based on the islam regulation?  lagipula, Islam itu semua ajarannya ada dasar dan kebaikannya kok. mungkin belum semua aturannya dipahami oleh orang-orang, secara ajaran Islam itu datangnya dari our Creator. wajarlah kalo ada beberapa aturan-Nya yang masih belum bisa kita pahami. tapi faktanya adalah, banyak dari aturan Islam yang terbukti benar dan memberi kebaikan. jadi kenapa harus mencari berbagai pembenaran untuk membuat aturan – aturan tersebut terlihat salah dan ga wajar?dan kenapa harus aneh saat ada orang yang mengajak kita ke kebaikan tanpa melihat gimana penampilan kita?

di sisi lain, emang sih mungkin persepsi itu ada karna dari sisi lain, mereka yang dibilang orang alim, terlihat terlalu eksklusif, terlalu jauh, dsb. yah, memang, kalo diliat dari teori psikologi, manusia itu cenderung berteman, berkumpul, berkelompok dengan orang yang punya banyak persamaan dengannya. jadi saat kita bergaul dengan orang-orang yang setipe, cenderung dilihat sebagai grup, atau geng. saat geng itu punya ciri menonjol, such as wearing jilbab, wearing stylist clothes, or something like that, geng itu akan jadi perhatian dan dianggap ekslusif. well, percaya deh, jarang ada orang yang senang dianggap mengeksklusifkan diri. most people indeed feel insecure when they are alone. jadi ga aneh saat kita berkelompok. tapi seharusnya ga aneh juga saat kita mencoba bergaul dengan orang – orang yang tidak sekelompok dengan kita. kan manusia itu makhluk sosial, yang diberi kemampuan untuk bersosialisasi dengan banyak orang. dan ga ada salahnya untuk sesekali keluar dari zona aman pergaulan kita. manusia itu unik, dengan perbedaan dan persamaan di tiap individunya. saat kita bersosialisasi dengan orang lain, saat itu juga kita banyak belajar. belajar untuk menyikapi perbedaan, belajar untuk sabar, belajar untuk mengerti, belajar untuk berkomunikasi dan belajar untuk mendengarkan. saat orang – orang yang dianggap publik merupakan orang alim bisa “membumi” dan bergaul dengan orang diluar zona amannya dengan wajar, maka mungkin saat itu juga islam bisa membumi, menjadi bagian dari keseharian, tanpa terasa ada yang aneh atau janggal.