RSS

Sepatu bulukku dan Sang Tali Sepatu

Cahaya bulan menerangi malamnya hari
Tujuannya pasti untuk menari
Sang bintang pun ikut bernyanyi
Ditemani belalang tua yang sedang berjemur matahari
Lautan pun bergoyang mengikuti alunan lagu hati
Angin pun berdendang sampai pagi

Sepatu bulukku tertawa
Karena sang tali sepatu menari dalam pembuka
Pembuka hari yang penuh canda

Sepatu bulukku menjerit
Teriak lalu lari terbirit
Karena sepatu bulukku terjepit
Terjepit sendal jepit
dan tertusuk sumpit

Sang tali sepatu terbahak
melihat sepatu bulukku tersedak

Sepatu bulukku telah pergi
Mati meninggalkan sang tali sepatu sendiri
Sang tali sepatu gila tanpa jati diri
Sang tali sepatu lari kesanakemari
Tanpa ada yang berani menghampiri 

Sang tali sepatu melihat tali
dan berniat mengakhiri harinya ini
Dengan menggantung diri

Akhirnya sang tali sepatu mati
Kemudian sepatu bulukku dan sang tali sepatu kembali bersama lagi
Menari bernyanyi di siangnya hari
Mengikuti angin bernyanyi
Mengikuti laut menari

Sepatu bulukku dan sang tali sepatu
Terus menari dan bernyanyi di kematiannya
Menemani diriku yang sudah dulu disana


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 November 2010 inci Fun, inspirasi, poem

 

Mew – Sometimes life isn’t easy

No, don’t cry for me.
Celebrate the one you love.
The way it operates.
No, don’t cry for me.
Celebrate the one you love.
The way it oughta be.

Thinking about everything,
Why did you stop?
You don’t know what it’s like.
isn’t that how it goes,
When you’re lovesick?
Thinking about everything.

Don’t you know sometimes,
When it feels like someone put a hex on you?
Well, I felt like that.
I was blaming myself.
I was cushioning my fall.

Hold my arms back when they beat me,
Leave me in the ditch when they kick me,
Sever my limbs and deceive me,
Sometimes life isn’t easy.

Here we go, here we go.
[ Find more Lyrics on http://mp3lyrics.org/WuB7 ]
I’m surprised in you.
Here we go home.
Beside you,
And like you,
I’m lost in your doubt.
Scrolling, scrolling, scrolling.

Hold my arms back when they beat me.
(I promise you)
don’t you know sometimes,
When you can’t see no end to the tricks we play?
Sometimes life isn’t easy.

Here we go, here we go.
I’m surprised in you,
Here we go home.
Beside you,
And like you,
I’m lost in your doubt.
Scrolling, scrolling, scrolling

Safety net, I regret
I am shaky
(We know you are)
I am shaking

Safety net, I regret
I am shaky
(We know you are)
I am shaking

 

Mew – Sometimes Life Isn’t Easy

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2010 inci inspirasi, lirik, music

 

Tag: , ,

Dengarlah Diriku, Wahai Gadis Dibalik Pintu…

wahai yang dibalik pintu
dengarlah diriku
bukalah pintumu
janganlah kau sombong padaku
asal kau tau…
dari 10 wanita, 7 diantaranya membutuhkan aku
mencintaiku dengan tulus dan jujur
mengapa dirimu diam dibalik pintu
menunggu diriku pergi jauh dari pelataran rumahmu
Aku sayang kamu
tolonglah sambut diriku
dengan senyuman dibalik wajahmu yang lucu
tolonglah berikan aku jalan menuju hatimu yang suci
menjadi bagian dalam derasnya darah mengalir disetiap sarafmu
tolonglah berikan dirimu untukku
karena diriku berhak mendapatkanmu
karena kau hawa dan aku adamnya
karena kau bunga dan aku kumbangnya
kita satu
kita bersama menjalani hidup ini
untuk satu kehidupan dunia
bukan untuk surga atau neraka

dengarlah diriku, wahai gadis dibalik pintu…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2010 inci Cinta, curhat, Fun, poem

 

Percakapan Cowok Perjaka Dengan Cewek Tidak Perawan

sepasang kekasih

Sang Wanita: “Aku sudah sering dipeluk cowo lain”
Pria dengan hangatnya menjawab: “Dan aku adalah pria yang akan memelukmu dengan kasih”

Sang Wanita: “U R not my FIRST kiss”
Pria dengan senyumannya: ” And U R my First Kiss ”

Sang Wanita: “Beberapa cowo pernah menjamah tubuhku”
Pria dengan sabarnya mengatakan: “Yang inginku jamah adalah hatimu, rasamu”
Sang Wanita: “Pernah ada cowo yang melihatku naked”
Pria itu menatapnya: “Dan aku melihatmu begitu polos, suci bersih tak bernoda”

Sang Wanita: “Aku pernah petting dengan mantanku”
Pria itu memeluknya dengan sabar: “Dan aku tahu, kau tak kan seperti itu lagi”

Sang Wanita menangis, terenyuh, dan berkata:
“Aku gakkan pernah pantas untukmu!! aku udah ga perawan!!”
Pria itu, menatapnya dalam, memeluknya, tersenyum dan berkata:
“Aku bukan mencintai keperawananmu, yang aku cintai adalah dirimu, sepenuhnya,…”

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2010 inci Cinta, inspirasi

 

Saat-saat Terakhir Presiden Soekarno

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

sukarno_1

Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer. Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah tampannya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan.

Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini. “Pak, Pak, ini Ega…”.Senyap. Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia koma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. “Hatta.., kau di sini..?”.

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. “Ya, bagaimana keadaanmu, No?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

sumber http://wahw33d.blogspot.com/2010/09/saat-saat-terakhir-presiden-soekarno.html#ixzz108PJ6yfX

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 November 2010 inci Presiden, Sejarah, Soekarno