Di saat malam sepi, di bawah guyuran hujan dan suara gemuruh yang tidak terlalu mengelegar, saya terdiam. Tidak ada kata yang bisa saya ucapkan, tidak ada hal yang bisa saya lakukan. Beberapa jam kemudian hujan makin lebat dan air pun mulai meninggi. Tidak tahu darimana air itu berasal, tapi yang bisa saya rasakan tinggi air tersebut telah menyentuh lutut saya. Sungguh peristiwa yang baru kali ini saya rasakan. Saya melihat orang lain yang sibuk memindahkan barang2,dan mereka…………
Mata saya tertuju pada suatu sosok orang tua yang berkata” Beginilah dik, kalau kita tidak siap dengan datangnya hujan, Uh…!” Sementara itu permukaan jalan telah tertutup oleh air, dan ketika itu juga seoang anak muda berkata” Tenang aja, nich bukan tsunami, toh kita g bakalan mati karena banjir segini, santai Brow”. Dan orang tua itu terdiam, tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya mengelengkan kepala, dan melanjutkan memindahkan barang-barang dengan tubuh yang renta dan pucat pasi menahan dinginnya air hujan.
Melihat orang tua itu saya jadi merasa betapa arogannya kita sebagai manusia. Kita telah diberikan kehidupan yang layak dengan alam kita yang indah ini, tetapi ketika kita lupa menjaganya, kita diberikan sedikit teguran oleh-Nya. Namun apa yang kita lakukan? Malah kita menyepelekannya, dan menganggap hal itu merupakan hal yang gampang untuk kita hadapi. Mungkin kita baru akan sadar kembali setelah Beliau menarik kembali karunia-Nya, hingga yang tersisa hujatan-hujatan dan penyesalan kita sendiri. Dan mungkin pada saat itu juga baru kita menghargai pemberian-Nya.