Parsobanan

Posted August 22, 2009 by stam54
Categories: Blogroll

Di Parsobanan

Ai diingot ho dope ito rap dakdanak uju i
Rap marmeam meam di hauma manang di balian i
Ho marlojong lojong di batangi laos hu adu sian pudi
Laos tinggang do ho ditikki i sap gambo bohimi

Ai diingot ho dope ito nadiparsobanan i
Ima na so tarlupahon au tikki roma rimbus i
Laos hubukka ma dabajukki asa adong saong-saong mu
Tung massai gomos do ho huhaol asa tung las ma dagingmi

Hape dung saonari nungnga leleng dang pajumpang dohot ho.. hasian
Nungnga adong sappulu taon atik naung muli do ho
Molo tung namuli pe ho ito dang na pola sala i.. hasian
Asal ma huida bohimi nungnga tung sonang rohakki

Ai diingot ho dope ito nadiparsobanan i
Ima na so tarlupahon au tikki roma rimbus i
Laos hubukka ma dabajukki asa adong saong-saong mu
Tung massai gomos do ho huhaol asa tung las ma dagingmi

Hape dung saonari nungnga leleng dang pajumpang dohot ho.. hasian
Nungnga adong sappulu taon atik naung muli do ho
Molo tung namuli pe ho ito dang na pola sala i.. hasian
Asal ma huida bohimi nungnga tung sonang rohakki

Anggo ala rokkap do ito Tuhanta do umboto i

—-

Di Rangkiang

Takana ndak di adiak sangkek awak ketek daulu
Samo bamain di ladang atau sawah
Adiak balari-lari di ateh pamatang, lalu denai dari balakang
Kudian adiak tajarambok, mangko adiak balumua luluak

Takana ndak di adiak nan di rangkiang daulu
Nantun indak ka talupo sangkek hujan turun rinai-rinai
Mangko denai bukak baju den, nak kajadi payuang dek adiak
Kironyo kau denai paluak, nak raso angek di badan adiak

Tapi kini alah lamo awak indak basuo.. oi kanduang
Kini lah ado sapuluah tahun, lai alah balaki kau ndak
Santano adiak lah balaki, usahlah maraso badoso.. oi kanduang
Asa den caliak bakeh adiak kini, buliahlah sanang hati denai

Nan apo sababnyo, diak, Tuhan kito nan Maha Tahu

****

Sianok Cry

Posted July 14, 2009 by stam54
Categories: Blogroll

Sianok jo Koto Gadang

Dalam pandangan di hari sanjo

Tangguang bana oi mandeh kanduang oi

Malapeh angok basamo gadang

Sananglah awak ditinggakannyo

Tolong bana oi tolong bana

Den baok den ka ladang mamak

Baladang bari indak bacangkok

Sansai badan den ondeh kanduang oi

Oi baok den badagang

Ikatan kanduang lai nan bak nangko

Sansai den dibueknyo ondeh kanduang oi

Ka guruh hari ka den pangakan

Hari lah paneh tasingkok tidak

Ondeh tuan oi

Rusuahlah hati ka den pangakan

Badan malaruik tagarai tidak

Hati den mantun ondeh tuan oi

Rao-rao balai kanango

Pandan tajamua lah di subarang

Sansai den di nyo lai tuan oi

Awak lai sadang bansaik pasan lah tibo

Jo a lah kampuang dek ka den jalang

Baa kok iyo oi nan kanduang oi

Manyarah kalah lah nan manggerai

Tibo di rimbo nan labek bana

Rusak hati den ondeh kanduang oi

Banyaklah bujang oi nan marasai

Tibo di badan lah tapek bana

Antilah mantun ondeh tuan oi

Hydra

Posted March 28, 2009 by stam54
Categories: Uncategorized

Hydra

Hydra

There was a man

Who walked alone

Searching for the girl who had just caught his

“I was a fool!” he cried

His mind had wandered

He blinked and the sky moved ever so slightly

He searched the city

She was nowhere to be found

Meanwhile she was floating downward, downward

“Do you want your freedom?

“Do you want my love?

“Do you want your freedom from the one you’re thinking of?”

There lies a lady

Naked and yet not knowing it

A spell had chained her heart forever

Pray upon by the wolves in Times Square

Feel into an abyss of thin air

Innocence caged in sanctuary

There sat the Dragon Lord

Playing solitairy

Defying the rules the holy boys leap Hell’s Kitchen

“Do you want your freedom?

“Do you want my love?

“Do you want your freedom from the man who lives above?”

Suddenly a voice was heard

In a flash the brave young man appeared

The Dragon Lord will cut him with his tail

Chased him to the stairway

Caught him halfway to the top

Sent him whirling down

Fireballs, summer solstice

The Dragon Lord descended down on him

She turned to look but saw only darkness silence

“You don’t want your freedom

“You don’t want my love

“You don’t want your throat cut by the same I’m thinking of!”

~Toto. “Hydra“. 1979.

Batu Menangis

Posted February 9, 2009 by stam54
Categories: Cerpen

“Itu apa, Bu?”

“Gunung.”

“Gunung apa, Bu?”

“Gunung Bungsu.”

“Kalau yang itu, Bu?” kata Israfil sementara jari telunjuk kecilnya yang baru berusia hampir lima tahun mengacung ke arah berlawanan.

“Aduh, kamu banyak tanya, Is. Dari tadi tidak pernah diam,” kata Nuraini, sebuah tangannya memegang tangan Israfil kecil yang hampir berlari di sampingnya.

“Kalau yang itu, Bu?” ulang Israfil seolah tak mendengar keluhan ibunya. Pertanyaan beruntun tak putus-putusnya menyembur dari mulut anak kecil itu, menghujani Nuraini sejak mereka tadi meninggalkan pasar dan sepanjang jalan dari Koto, desa tempat mereka tinggal, ke pasar beberapa jam sebelumnya. Nuraini tak habis pikir dari mana anak bungsunya itu mendapatkan tenaga sebanyak itu. Dia berjanji tidak akan minta gendong kalau dibolehkan ikut ke pasar. Janji itu ditepatinya. Padahal pasar tidak kurang jauhnya dari Koto. Dan berjalan di dalam pasar pun melelahkan orang dewasa. Tetapi Israfil tetap bersemangat, butir-butir keringat membasahi keningnya. Kadang-kadang kasihan juga Nuraini melihat anaknya. Dicobanya menggendongnya di sebelah keranjang sandangnya, tetapi Israfil menolak. Dia mau jalan. Dan bertanya!

“Itu Gunung Merapi.”

“Itu pohon apa, Bu?”

“Puding emas.”

“Itu, Bu? Yang di dekat tebing itu?” Jari kecilnya menunjuk lagi.

“Semacam pohon. Ibu tidak tahu…”

“Bukan, bukan pohon itu.”

“O, yang menjalar itu. Namanya…”

“Bukan!” Suaranya meninggi. Kakinya yang mungil dihentak-hentakkannya ke tanah, jengkel ibunya tidak tahu apa yang dimaksudkannya. “Bukan tanaman.”

“Yang mana?”

“Itu,” katanya sambil menunjuk lagi.

“Batu itu?”

“Itu batu? Yang seperti orang berdiri itu?”

“Ya, itu memang batu.”

“Mengapa batu kelihatannya seperti orang, Bu?” Nuraini paling merasa susah kalau sudah ditanya “mengapa” oleh Israfil. Kalau “apa” masih tidak terlalu sulit baginya menjawabnya. Empat anaknya yang pertama juga suka bertanya. Ya, keingintahuan anak kecil. Tetapi Israfil lain, Nuraini sering berpikir. Bertanya baginya bukan sekadar ingin tahu. Ia dapat dikatakan bakatnya! Bila sebuah bakat dimulai sejak kecil, akibatnya bisa luar biasa. Bakat si kecil Mozart memusatkan seluruh energi anak itu pada musik. Coba bayangkan, pada umur tiga tahun, ia mulai main piano. Pada umur enam, dia sudah mengarang musik! Israfil bertanya bukan sekadar ingin tahu. Perhatiannya seluruhnya tertuju pada alam sekeliling, pada jawaban yang diberikan pada setiap pertanyaannya, baik oleh ibunya atau siapa saja.

“Itu ada ceritanya, Is,” jawab Nuraini. “Bukan saja batu itu kelihatan speerti orang, tetapi batu itu juga bisa menangis.”

“Menangis? Seperti Ibu?”

“Ya, seperti Ibu. Seperti kamu. Batu itu namanya Batu Menangis.”

“Bagaimana ceritanya, Bu?”

“Panjang ceritanya, Is. Nanti malam Ibu ceritakan.”

“Janji, Bu?”

“Ya, Ibu berjanji.”

Israfil tambah tegap langkahnya. Janji Nuraini membesarkan hatinya. Berhenti ia bertanya tentang batu itu, tetapi hujan pertanyaannya makin lebat. Tentang awan yang berarak, tentang pohon yang tak sama tingginya, tentang darimana asalnya hujan.

*

Dahulu kala hidup di Koto ini sebuah keluarga miskin. Di dalam keluarga itu hanya ada dua orang: ibu dan seorang anak perempuannya. Ibunya sudah ditinggal cerai bapaknya. Mereka tidak punya tanah atau barang berharga. Ibu dan anak itu tinggal di sebuah pondok tua. Untuk menghidupi mereka, si ibu bekerja sebagai buruh upahan. Dia bekerja di sawah dan ladang orang atau mengerjakan apa saja yang ada.

Setelah mencapai usia remaja, anak perempuan itu hanya suka bersolek. Ia tidak pernah menolong ibunya bekerja. Setiap hari ibunya berangkat pagi dan pulang sore hari, tujuh hari seminggu. Ia harus bekerja lebih keras sebab permintaan anaknya makin banyak. Anaknya perlu pakaian bagus, lipstik, minyak harum, cat kuku, dan banyak lagi.

Setiap kali ibunya mengajaknya pergi bekerja di sawah, dia menolak. Dia tidak mau mengotorkan kukunya yang panjang. Dia takut kulitnya yang bersih akan kotor oleh lumpur. Setiap sore dia berdandan dan keluar rumah, pergi ke rumah teman atau hilir mudik kampung tanpa tujuan jelas selain mempertontonkan kecantikannya. Tidak malu ia bersolek bagus-bagus dan memperlihatkannya kepada seisi kampung sementara keadaan di rumah sendiri jauh berbeda.

Hubungan di antara ibu dan anak semakin buruk. Ibunya semakin sedih melihat anaknya yang tidak menyadari nasib. Beberapa kali ia marah. Dia mencaci maki anaknya yang hanya mau menghabiskan pencarian yang didapat dengan begitu susah. Tidak mudah bagi ibunya menjadi kuli. Bukan saja pekerjaannya berat, dia juga merasa dirinya tak berharga. Tetapi anaknya menggunakan uang yang didapat dengan susah payah untuk bersolek, supaya dirinya kelihatan bagus di luar sekalipun keropos di dalam.

Suatu hari pekan, anak perempuan itu menyuruh ibunya membelikannya cat kuku terbaru. Ibunya tidak tahu apa yang dimaksudkan anaknya. Mereka bertengkar. Akhirnya keduanya pergi ke pasar. Waktu sampai di luar pondok, anak perempuan itu melihat perbedaan mencolok di antara ibunya dan diirnya. Ibunya tampak kotor di matanya. Pakaiannya lusuh, bertambal, dan berubah warna. Wajahnya telah keriput, bukan karena dimakan usia tetapi karena terik matahari dan guyuran hujan di sawah dan ladang orang.

Anak itu tidak mau berjalan di samping ibunya. Malu. Wajahnya nan cantik, pakaiannya yang bagus dan rapi, dandanannya yang molek tak mungkin berada di samping orang tua yang jelek dan kelihatan kotor itu. Ia berjalan di depan ibunya, mempercepat langkahnya bila ibunya mendekat. Separuh jalan, dekat tebing itu, dia berpapasan dengan seorang tua.

“Mau ke mana, Nak?” tanya orang tua itu.

“Ke pasar,” jawab perempuan muda itu dengan anggun dan senyum manis.

“Itu siapa, Nak?” tanya orang tua itu sambil menunjuk ke arah ibunya.

“Oh itu,” jawab anak perempuan itu agak tergagap.

“Itu pembantu saya.”

Percakapan mereka terdengar oleh ibunya yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Hancur hati ibu itu. Kedurhakaan anaknya sudah melampaui batas dalam pikirannya. Dia sudah tak berdaya menghadapinya. Dia berhenti di pinggir jalan dan berdoa. “Oh, Tuhan. Hukumlah anakku yang durhaka ini!”

Dengan seketika, anak perempuan itu berubah menjadi batu, mulai dari kaki, badan, dan kemudian kepalanya. Sebelum kepalanya berubah menjadi batu, dia minta maaf kepada ibunya sambil menangis. Setelah seluruh tubuhnya berubah menjadi batu, orang masih sering melihat air menetes dari kepalanya. Kata orang, air itu adalah air mata anak itu. Batu itu diletakkan orang di pinggir jalan, bersandar ke tebing, yang kita lewati pulang-pergi ke pasar itu.

*

“Siapa orang tua yang bertanya itu, Bu?” tanya Israfil.

“Malaikat.”

“Malaikat?” gumam Israfil hampir tak terdengar.

“Dia dikirim Tuhan untuk menguji anak perempuan itu.”

“Kalau badan berubah menjadi batu itu, sakit, ya, Bu?”

“Tentu. Itu hukuman bagi anak yang durhaka itu.”

“Durhaka itu apa artinya, Bu?”

“Ingkar. Tidak patuh. Tidak menuruti perintah.”

“Perintah siapa, Bu?”

“Perintah siapa saja. Ya, perintah orang tua, Ya, perintah Tuhan.”

Israfil terdiam. Nuraini melihat anaknya menatap loteng. Matanya berkedip kencang. Terlukis di situ otaknya berputar cepat. Entah apa yang dipikirkannya. Nuraini khawatir Israfil takut pada malaikat yang menguji tingkat kedurhakaan anak tadi. Ia khawatir Israfil ngeri membayangkan sakitnya perubahan diri menjadi batu.

“Bu,” kata Israfil sambil mengalihkan pandangannya dari loteng ke wajah Nuraini yang berdekatan dengan wajahnya. Nuraini merangkul anaknya yang berbaring di tempat tidur. Senyum keibuannya mencoba meyakinkan Israfil bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutinya. “Kalau aku tidak patuh pada perintah Ibu, apa Ibu akan meminta Tuhan menghukum aku?”

Tersentak Nuraini mendengar pertanyaan anaknya. Dipeluknya Israfil. “Tetapi kamu tidak durhaka, Is. Kamu selalu menolong Ibu.”

“Bagaimana kalau aku tidak menolong Ibu?”

“Kamu anak yang baik.”

“Ini kalau saja, Bu. Bagaimana kalau aku durhaka?”

“Kau pasti bukan anak yang durhaka, Is.”

Lama Israfil berpikir. Dia tidak mengerti mengapa ibunya tidak menjawab pertanyaannya. Dia terlalu kecil untuk membaca kerumitan pikiran ibunya. Pikiran kecilnya terlalu lugu untuk mengajak kerumitan pikiran orang dewasa yang selalu punya banyak pertimbangan. Sementara itu, Nuraini khawatir jangan-jangan Israfil merasa ngeri karena cerita itu. Tetapi, Israfil seringkali mengagetkannya. Jalan pikiran anaknya acapkali tidak bisa diterkanya. Walaupun anaknya boleh dikatakan hampir 24 jam berada di sampingnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya seringkali membuat Nuraini ternganga. Dari kecil, jelas setiap anak merupakan manusia yang unik.

“Ya, ini kalau. Kalau anak Ibu durhaka, bagaimana?”

“Ibu tidak akan berdoa Tuhan memurkainya. Ibu akan berdoa supaya Tuhan menolongnya.”

Israfil diam lagi. Lalu, “Kenapa, Bu?” tanyanya sambil mempermainkan kerah baju ibunya.

“Karena aku sayang kepadamu, Is. Kepada semua anak Ibu.”

“Kenapa, Bu?” lanjut Israfil. Pertanyaan “kenapa” paling menarik baginya sejak ia belajar kata-kata itu.

“Kenapa Ibu sayang padamu?”

Israfil mengangguk.

“Itu kewajiban Ibu.”

“Disuruh Tuhan?”

“Ya. Tuhan menyuruh orang tua menyayangi anak-anaknya. Dan anak menyayangi orang tuanya.”

Israfil berpikir lagi. Matanya berkedip dengan cepat. Kemudian, “Kalau begitu, ibu anak yang menjadi batu itu yang paling durhaka, ya, Bu.”

Terperanjat Nuraini mendengar perkataan anaknya. “Kenapa, Is?”

“Dia tidak patuh kepada perintah Tuhan. Dia mendoakan anaknya dihukum. Apa dia sering memarahi anaknya, Bu?”

“Ibu tidak tahu.”

“Apa anaknya tidak mau menolongnya karena dia ibu yang jelek, Bu?”

“Entahlah, Is.”

“Dia pasti tidak sebaik Ibu, ya Bu?”

“Mungkin, Is,” kata Nuraini sambil mencubit hidung Israfil. Mata anaknya hampir tertutup. Kantuk menguasai dirinya.

“Apa Ibu yakin yang menjadi batu itu bukannya ibunya, Bu?”

“Ibu tidak yakin, Is. Ini cerita orang.”

Israfil terlelap dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.*

— Melbourne, Musim Semi 2001 —

Ismet Fanany. Batu MenangisCerpen Pilihan KOMPAS 2002. 2002. hlm. 117-125.

Sorban

Posted February 9, 2009 by stam54
Categories: Kisah

Laki-laki berjubah putih, sorbannya tinggi melilit kepala seperti Resi Bisma itu termangu-mangu menatap sungai yang membentang lebar di depannya. Makin lama arus air makin deras, dan buih-buih yang mengambang di atasnya makin banyak.

Hujan di hulu mengakibatkan banjir dadakan dan para pendayung perahu yang tak menduga akan datangnya banjir itu tak segera siap melayani mereka yang hendak menyeberang. Laki-laki berjubah itu pun tahu akan hal itu, dan dia menunggu.

Tiba-tiba, datang laki-laki dalam pakaian petani, siap menyeberang.

“Sedang banjir Ki Sanak,” kata laki-laki berjubah itu memperingatkan.

“Saya tahu,” jawab si petani.

“Airnya deras,” kata orang berjubah itu lagi.

“Saya tahu.”

“Lagipula dalam.”

“Saya tahu.”

“Kok sampeyan nekat hendak menyeberang?”

“Anak saya sakit. Ia perlu obat ini,” katanya sambil menunjukkan bungkusan.

Orang berjubah itu berteriak memperingatkan agar si petani bersabar sebentar dan tak menempuh bahaya, tetapi si petani melambaikan tangannya. Daya magnetik dari pancaran wajahnya begitu besar, dan orang berjubah itu kemudian ikut menyeberang.

“Romo Penembahan mau ke mana?” tanya si petani.

“Ke desa di kaki bukit sana. Orang-orang maksudnya komunitas jamaahnya menunggu saya.”

“Karena itu kita harus segera menyeberang,” kata si petani.

Orang berjubah itu baru sadar ia berada di tengah ombak deras, jubahnya berkibar-kibar diseret arus, dan basah kuyup, dan tangannya menggapai-gapai ke arah si petani yang tampak begitu anggun, dan tenang, dan pakaiannya tidak basah, seperti layaknya orang berjalan di darat.

“Rohaniwan kok penakut begini. Pantas doanya tak pernah makbul,” kata si petani, sambil mencomot sorban si rohaniwan dan membuangnya ke dalam arus deras, dan sorban itu lenyap ditelan kegelapan malam.

“Sorbanku… sorbanku!” teriaknya cemas.

“Apa tanpa sorban kau bukan lagi rohaniwan?

“Say, say, saya….”

“Baik, kalau begitu. Lihat, di depan sana, sorbanmu nyantel di dahan pohon.”

Tiba di pinggir dengan selamat, dan takjub karena jubahnya pun tidak basah, rohaniwan itu lebih takjub lagi karena bagaimana mungkin sorbannya nyantel di dahan?

“Ini mukjizat,” pikirnya.

“Tetapi, bukan mukjizatmu.”

Rohaniwan itu menoleh, dan cuma bayangan si petani yang ia lihat pergi menjauh.

“Tuhan, aku malu,” bisik rohaniwan itu, sambil menangis tersedu-sedu, tangis yang keluar dari jiwanya, yang membuatnya lemas dan terkulai di tanggul sungai yang banjir.

(Mohamad Sobary. Singgasana dan Kutu Busuk. 2004. hlm 203-205.)

Sorban bagi rohaniwan adalah atribut. Sama halnya dengan mahkota bagi raja, toga bagi hakim dan jaksa. Atau seragam dan pentungan bagi polisi. Ia diberikan dan dikenakan sebagai pertanda kemampuan dan kapabilitas si empunya. Bagi sang tokoh, ia adalah simbol kebesaran, walaupun terkadang bisa jadi ia betul-betul ‘kebesaran’.

Sejatinya, sorban, toga, dan seragam apa pun itu hanyalah kain belaka. Maknanya yang terpenting tetaplah pengakuan sekaligus kepercayaan dari masyarakat. Maka ketika kepercayaan tersebut hilang, sebenarnya hilang pulalah makna dari segala atribut tadi. Daripada merepotkan, memberatkan, dan mengganggu terus dalam perjalanan, lebih baik dia dibuang saja jauh-jauh. Sayangnya banyak tokoh yang tidak sadar, atau pura-pura tidak tahu bahwa sorban, toga, atau seragam kebesaran mereka telah bolong-bolong, koyak, atau bahkan sudah lenyap sama sekali. Sementara arus sungai makin deras, siap untuk membenamkan mereka.

Dulu, di sini tak banyak orang seperti si petani dalam cerita di atas. Bukan soal kesaktian atau kemampuan mendatangkan mukjizat, melainkan sekadar memiliki kemauan atau keberanian untuk menunjukkan kepada si orang berjubah, bahwa sorbannya itu memang pakaian ‘kebesaran’, jadi lebih baik dilemparkan saja ke sungai. Atau sekadar mengingatkan kepada para raja (besar dan kecil) dan para pembantunya, bahwa jubah dan seragam mereka telah sobek-sobek, sebagian malah sudah tidak ada sama sekali. Dulu, orang mengiya-iyakan saja, malah memuji keindahan jubah dan sorban para pembesar, meskipun jelas-jelas para pembesar ini banyak yang telanjang bulat. Semua orang waktu itu tak berani macam-macam, takut kena gebuk.

Lain dulu, lain sekarang. Kini semua orang vokal, berani buka mulut lebar-lebar. Semua hal dikomentari. Tetapi jangan dikira soal atribut menjadi tidak laku lagi. Sorban bolong tak perlu lagi dikuatirkan, walaupun sudah ketahuan oleh seantero negeri. Sebab ternyata masih ada pihak-pihak tertentu yang berkenan memberikan dan menyematkan sorban baru yang lebih bagus, lebih mentereng. Lebih menunjukkan kebesaran dari sang tokoh, karena memang dia ‘kebesaran’.

Beberapa waktu yang lalu, muncul kontroversi soal guru bangsa. Rupanya ‘guru bangsa’ adalah sembarang tokoh yang bisa dijadikan pelajaran bagi bangsanya, terlepas itu baik atau buruk. Kalau demikian, barangkali Amrozi cs. juga boleh diusulkan jadi guru bangsa, sebab mereka juga berjasa mencuatkan nama Indonesia di dunia internasional.

Jika mantan presiden dapat menjadi guru bangsa, presiden yang masih menjabat pun boleh juga mendapat hadiah sorban baru berupa gelar doktor kehormatan dari perguruan tinggi jempolan. Meskipun, sang presiden yang sekaligus doktor pernah tertipu mentah-mentah oleh dongengan bahan bakar air. Atau sedikit kecele dengan angan-angan padi super. Rupanya memang tak ada makhluk yang super di dunia ini.

Maka wajar kalau orang jadi bertanya-tanya, dagangan macam apa lagi ini? Jangan-jangan sorban, jubah, seragam, dan setiap helai pakaian yang kita kenakan kini sebenarnya sudah bolong di sana-sini, bahkan sudah benar-benar tiada. Dan kita heboh, mau memperjualbelikan pakaian yang bolong-bolong pula. •


Design a site like this with WordPress.com
Get started