“Itu apa, Bu?”
“Gunung.”
“Gunung apa, Bu?”
“Gunung Bungsu.”
“Kalau yang itu, Bu?” kata Israfil sementara jari telunjuk kecilnya yang baru berusia hampir lima tahun mengacung ke arah berlawanan.
“Aduh, kamu banyak tanya, Is. Dari tadi tidak pernah diam,” kata Nuraini, sebuah tangannya memegang tangan Israfil kecil yang hampir berlari di sampingnya.
“Kalau yang itu, Bu?” ulang Israfil seolah tak mendengar keluhan ibunya. Pertanyaan beruntun tak putus-putusnya menyembur dari mulut anak kecil itu, menghujani Nuraini sejak mereka tadi meninggalkan pasar dan sepanjang jalan dari Koto, desa tempat mereka tinggal, ke pasar beberapa jam sebelumnya. Nuraini tak habis pikir dari mana anak bungsunya itu mendapatkan tenaga sebanyak itu. Dia berjanji tidak akan minta gendong kalau dibolehkan ikut ke pasar. Janji itu ditepatinya. Padahal pasar tidak kurang jauhnya dari Koto. Dan berjalan di dalam pasar pun melelahkan orang dewasa. Tetapi Israfil tetap bersemangat, butir-butir keringat membasahi keningnya. Kadang-kadang kasihan juga Nuraini melihat anaknya. Dicobanya menggendongnya di sebelah keranjang sandangnya, tetapi Israfil menolak. Dia mau jalan. Dan bertanya!
“Itu Gunung Merapi.”
“Itu pohon apa, Bu?”
“Puding emas.”
“Itu, Bu? Yang di dekat tebing itu?” Jari kecilnya menunjuk lagi.
“Semacam pohon. Ibu tidak tahu…”
“Bukan, bukan pohon itu.”
“O, yang menjalar itu. Namanya…”
“Bukan!” Suaranya meninggi. Kakinya yang mungil dihentak-hentakkannya ke tanah, jengkel ibunya tidak tahu apa yang dimaksudkannya. “Bukan tanaman.”
“Yang mana?”
“Itu,” katanya sambil menunjuk lagi.
“Batu itu?”
“Itu batu? Yang seperti orang berdiri itu?”
“Ya, itu memang batu.”
“Mengapa batu kelihatannya seperti orang, Bu?” Nuraini paling merasa susah kalau sudah ditanya “mengapa” oleh Israfil. Kalau “apa” masih tidak terlalu sulit baginya menjawabnya. Empat anaknya yang pertama juga suka bertanya. Ya, keingintahuan anak kecil. Tetapi Israfil lain, Nuraini sering berpikir. Bertanya baginya bukan sekadar ingin tahu. Ia dapat dikatakan bakatnya! Bila sebuah bakat dimulai sejak kecil, akibatnya bisa luar biasa. Bakat si kecil Mozart memusatkan seluruh energi anak itu pada musik. Coba bayangkan, pada umur tiga tahun, ia mulai main piano. Pada umur enam, dia sudah mengarang musik! Israfil bertanya bukan sekadar ingin tahu. Perhatiannya seluruhnya tertuju pada alam sekeliling, pada jawaban yang diberikan pada setiap pertanyaannya, baik oleh ibunya atau siapa saja.
“Itu ada ceritanya, Is,” jawab Nuraini. “Bukan saja batu itu kelihatan speerti orang, tetapi batu itu juga bisa menangis.”
“Menangis? Seperti Ibu?”
“Ya, seperti Ibu. Seperti kamu. Batu itu namanya Batu Menangis.”
“Bagaimana ceritanya, Bu?”
“Panjang ceritanya, Is. Nanti malam Ibu ceritakan.”
“Janji, Bu?”
“Ya, Ibu berjanji.”
Israfil tambah tegap langkahnya. Janji Nuraini membesarkan hatinya. Berhenti ia bertanya tentang batu itu, tetapi hujan pertanyaannya makin lebat. Tentang awan yang berarak, tentang pohon yang tak sama tingginya, tentang darimana asalnya hujan.
*
Dahulu kala hidup di Koto ini sebuah keluarga miskin. Di dalam keluarga itu hanya ada dua orang: ibu dan seorang anak perempuannya. Ibunya sudah ditinggal cerai bapaknya. Mereka tidak punya tanah atau barang berharga. Ibu dan anak itu tinggal di sebuah pondok tua. Untuk menghidupi mereka, si ibu bekerja sebagai buruh upahan. Dia bekerja di sawah dan ladang orang atau mengerjakan apa saja yang ada.
Setelah mencapai usia remaja, anak perempuan itu hanya suka bersolek. Ia tidak pernah menolong ibunya bekerja. Setiap hari ibunya berangkat pagi dan pulang sore hari, tujuh hari seminggu. Ia harus bekerja lebih keras sebab permintaan anaknya makin banyak. Anaknya perlu pakaian bagus, lipstik, minyak harum, cat kuku, dan banyak lagi.
Setiap kali ibunya mengajaknya pergi bekerja di sawah, dia menolak. Dia tidak mau mengotorkan kukunya yang panjang. Dia takut kulitnya yang bersih akan kotor oleh lumpur. Setiap sore dia berdandan dan keluar rumah, pergi ke rumah teman atau hilir mudik kampung tanpa tujuan jelas selain mempertontonkan kecantikannya. Tidak malu ia bersolek bagus-bagus dan memperlihatkannya kepada seisi kampung sementara keadaan di rumah sendiri jauh berbeda.
Hubungan di antara ibu dan anak semakin buruk. Ibunya semakin sedih melihat anaknya yang tidak menyadari nasib. Beberapa kali ia marah. Dia mencaci maki anaknya yang hanya mau menghabiskan pencarian yang didapat dengan begitu susah. Tidak mudah bagi ibunya menjadi kuli. Bukan saja pekerjaannya berat, dia juga merasa dirinya tak berharga. Tetapi anaknya menggunakan uang yang didapat dengan susah payah untuk bersolek, supaya dirinya kelihatan bagus di luar sekalipun keropos di dalam.
Suatu hari pekan, anak perempuan itu menyuruh ibunya membelikannya cat kuku terbaru. Ibunya tidak tahu apa yang dimaksudkan anaknya. Mereka bertengkar. Akhirnya keduanya pergi ke pasar. Waktu sampai di luar pondok, anak perempuan itu melihat perbedaan mencolok di antara ibunya dan diirnya. Ibunya tampak kotor di matanya. Pakaiannya lusuh, bertambal, dan berubah warna. Wajahnya telah keriput, bukan karena dimakan usia tetapi karena terik matahari dan guyuran hujan di sawah dan ladang orang.
Anak itu tidak mau berjalan di samping ibunya. Malu. Wajahnya nan cantik, pakaiannya yang bagus dan rapi, dandanannya yang molek tak mungkin berada di samping orang tua yang jelek dan kelihatan kotor itu. Ia berjalan di depan ibunya, mempercepat langkahnya bila ibunya mendekat. Separuh jalan, dekat tebing itu, dia berpapasan dengan seorang tua.
“Mau ke mana, Nak?” tanya orang tua itu.
“Ke pasar,” jawab perempuan muda itu dengan anggun dan senyum manis.
“Itu siapa, Nak?” tanya orang tua itu sambil menunjuk ke arah ibunya.
“Oh itu,” jawab anak perempuan itu agak tergagap.
“Itu pembantu saya.”
Percakapan mereka terdengar oleh ibunya yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Hancur hati ibu itu. Kedurhakaan anaknya sudah melampaui batas dalam pikirannya. Dia sudah tak berdaya menghadapinya. Dia berhenti di pinggir jalan dan berdoa. “Oh, Tuhan. Hukumlah anakku yang durhaka ini!”
Dengan seketika, anak perempuan itu berubah menjadi batu, mulai dari kaki, badan, dan kemudian kepalanya. Sebelum kepalanya berubah menjadi batu, dia minta maaf kepada ibunya sambil menangis. Setelah seluruh tubuhnya berubah menjadi batu, orang masih sering melihat air menetes dari kepalanya. Kata orang, air itu adalah air mata anak itu. Batu itu diletakkan orang di pinggir jalan, bersandar ke tebing, yang kita lewati pulang-pergi ke pasar itu.
*
“Siapa orang tua yang bertanya itu, Bu?” tanya Israfil.
“Malaikat.”
“Malaikat?” gumam Israfil hampir tak terdengar.
“Dia dikirim Tuhan untuk menguji anak perempuan itu.”
“Kalau badan berubah menjadi batu itu, sakit, ya, Bu?”
“Tentu. Itu hukuman bagi anak yang durhaka itu.”
“Durhaka itu apa artinya, Bu?”
“Ingkar. Tidak patuh. Tidak menuruti perintah.”
“Perintah siapa, Bu?”
“Perintah siapa saja. Ya, perintah orang tua, Ya, perintah Tuhan.”
Israfil terdiam. Nuraini melihat anaknya menatap loteng. Matanya berkedip kencang. Terlukis di situ otaknya berputar cepat. Entah apa yang dipikirkannya. Nuraini khawatir Israfil takut pada malaikat yang menguji tingkat kedurhakaan anak tadi. Ia khawatir Israfil ngeri membayangkan sakitnya perubahan diri menjadi batu.
“Bu,” kata Israfil sambil mengalihkan pandangannya dari loteng ke wajah Nuraini yang berdekatan dengan wajahnya. Nuraini merangkul anaknya yang berbaring di tempat tidur. Senyum keibuannya mencoba meyakinkan Israfil bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutinya. “Kalau aku tidak patuh pada perintah Ibu, apa Ibu akan meminta Tuhan menghukum aku?”
Tersentak Nuraini mendengar pertanyaan anaknya. Dipeluknya Israfil. “Tetapi kamu tidak durhaka, Is. Kamu selalu menolong Ibu.”
“Bagaimana kalau aku tidak menolong Ibu?”
“Kamu anak yang baik.”
“Ini kalau saja, Bu. Bagaimana kalau aku durhaka?”
“Kau pasti bukan anak yang durhaka, Is.”
Lama Israfil berpikir. Dia tidak mengerti mengapa ibunya tidak menjawab pertanyaannya. Dia terlalu kecil untuk membaca kerumitan pikiran ibunya. Pikiran kecilnya terlalu lugu untuk mengajak kerumitan pikiran orang dewasa yang selalu punya banyak pertimbangan. Sementara itu, Nuraini khawatir jangan-jangan Israfil merasa ngeri karena cerita itu. Tetapi, Israfil seringkali mengagetkannya. Jalan pikiran anaknya acapkali tidak bisa diterkanya. Walaupun anaknya boleh dikatakan hampir 24 jam berada di sampingnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya seringkali membuat Nuraini ternganga. Dari kecil, jelas setiap anak merupakan manusia yang unik.
“Ya, ini kalau. Kalau anak Ibu durhaka, bagaimana?”
“Ibu tidak akan berdoa Tuhan memurkainya. Ibu akan berdoa supaya Tuhan menolongnya.”
Israfil diam lagi. Lalu, “Kenapa, Bu?” tanyanya sambil mempermainkan kerah baju ibunya.
“Karena aku sayang kepadamu, Is. Kepada semua anak Ibu.”
“Kenapa, Bu?” lanjut Israfil. Pertanyaan “kenapa” paling menarik baginya sejak ia belajar kata-kata itu.
“Kenapa Ibu sayang padamu?”
Israfil mengangguk.
“Itu kewajiban Ibu.”
“Disuruh Tuhan?”
“Ya. Tuhan menyuruh orang tua menyayangi anak-anaknya. Dan anak menyayangi orang tuanya.”
Israfil berpikir lagi. Matanya berkedip dengan cepat. Kemudian, “Kalau begitu, ibu anak yang menjadi batu itu yang paling durhaka, ya, Bu.”
Terperanjat Nuraini mendengar perkataan anaknya. “Kenapa, Is?”
“Dia tidak patuh kepada perintah Tuhan. Dia mendoakan anaknya dihukum. Apa dia sering memarahi anaknya, Bu?”
“Ibu tidak tahu.”
“Apa anaknya tidak mau menolongnya karena dia ibu yang jelek, Bu?”
“Entahlah, Is.”
“Dia pasti tidak sebaik Ibu, ya Bu?”
“Mungkin, Is,” kata Nuraini sambil mencubit hidung Israfil. Mata anaknya hampir tertutup. Kantuk menguasai dirinya.
“Apa Ibu yakin yang menjadi batu itu bukannya ibunya, Bu?”
“Ibu tidak yakin, Is. Ini cerita orang.”
Israfil terlelap dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.*
— Melbourne, Musim Semi 2001 —
Ismet Fanany. Batu Menangis – Cerpen Pilihan KOMPAS 2002. 2002. hlm. 117-125.