Tidak tidur sejak 29 tahun

Apakah kau pernah merasa isi kepalamu sangat penuh hingga kau mengira tidak ada satu hal spesifik pun yang sedang kau pikirkan? ya, setiap hariku begitu.

KSA -2022

Aku mulai memikirkan bahwa terlalu banyak sinyal yang dilempar-tangkap oleh ribuan sel otak dalam kepalaku membuatku selama 29 tahun tidak pernah benar-benar merasakan tidur pulas. Aku selalu berpikir bahwa orang yang bisa langsung tertidur dalam hitungan detik sejak memejamkan mata adalah orang paling beruntung di dunia, mengapa? Karena setidaknya ia bisa sejenak memiliki injury time untuk mengambil jeda mengusap luka dari pedihnya dunia.

Tapi bukan berarti aku tidak pernah memiliki tidur paling bahagia, pernah. Selama kurang lebih 60 menit aku bersyukur pada Allah atas tidur terbaik dalam hidupku. Saat itu aku ingat seorang dokter menyampaikan bahwa cairan analgesik akan disuntikkan padaku untuk proses sedasi yang bahkan hingga kini kumaknai sebagai sebuah anugrah indah yang sempat mengalir dalam diri. Jika itu legal terjual bebas, aku pasti akan membeli dan mengkonsumsinya tiap hari. Demi bisa sebentar sembunyi dari hiruk pikuknya perjuangan diri. Setidaknya kini aku sedikit memahami mengapa banyak orang menjadi candu dan mencari cara bagaimana bisa hidup ‘bahagia’ darinya.

Namun, jika aku masih harus melewati 50 tahun lagi untuk menjalani tidur dari setiap malam-malam yang ada, dengan rela hati aku akan menerimanya sebagai bentuk waspada yang Allah beri. Menjalani dengan sejuta energi yang terus dicari meski harus selamanya berusaha mengenal diri.

📷: @onielmillsap

45 PURNAMA: Apa kabar?

“Keeping your stories bottled up inside can make you sick, but when you write them down, you get them out of your cells. You feel lighter.”

—Nancy Slonim Aronie

Hai, aku kembali. Melakukan hal-hal yang sudah lama kutinggal pergi. Kabarku baik, meski tak seperti 45 purnama lalu. Namun soal bahagia, segala hal yang kumiliki dan kucapai kini buatku jauh lebih bahagia. Semoga kamu juga, meski kita sudah tak lagi sama.

Mari kembali mendata cerita dalam kata-kata. Sampai jumpa!

MENIKAH MUDA : Pelarian atau Pencapaian?

Nikah muda? Why not? Daripada pacaran mendekati zina, lebih baik nikah muda. (@kartunmuslimah @***fara)

Jika anda setuju dengan kutipan ini, itu baik. Tapi jika tidak, mungkin itu belum tentu tidak baik, atau mungkin bisa jadi jauh lebih baik. Saya pun agaknya merasa janggal. Penggunaan ‘daripada.., lebih baik..‘-nya dirasa kurang tepat.

Mungkin itu sebuah Pelarian, jika anda menikah karena : belum siap kerja, belum nemu kerja, orang tua gak ada biaya, ‘daripada pacaran’, capek, patah hati, mau ngapain lagi, daripada sendiri, dan blablabla…

Namun,..

Bisa jadi itu sebuah Pencapaian, jika anda menikah karena : ingin punya anak banyak, umur tidak jauh dengan anak, belajar berumah-tangga, sedekat dan secepatnya dengan surga, menyempurna agama, menenangkan jiwa, sudah terencana, dan lain-lain…

Pembenaran itu terkadang memang bisa dibenarkan. Jika anda salah satunya pemilik alasan tersebut, anda benar (menurut anda).

Lalu bagaimana dengan keduanya, dimana konjungsinya bukan ‘atau’, melainkan ‘dan’ ?

Sebuah Pencapaian dari sebuah Pelarian—

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nur 24:32)

Aku bercita-cita tinggi, ingin sekolah ke luar negeri. Tapi keinginanku menikah muda menjadikan ini semacam kontradiksi. Namun, melakukan keduanya bukan lah hal yang tidak mungkin.

Kusampaikan pada ibu, aku ingin menikah sebelum usiaku 25. Di tengah usaha mendapatkan beasiswa, itu menjadi sebuah doa. Kusampaikan pada bapak, aku ingin lebih dari Sarjana. Di situasi yang masih sendirian, itu menjadi sebuah kekhawatiran. InsyaAllah, akan ada jalan yang Allah mudahkan!

Tepat sebelum pergi ke benua biru, ada lelaki datang bertamu, memintaku. Ya, Allah yang menjamin tanpa ada ragu. Di saat hati gundah dan kelu, Allah yang akan bantu.

Semudah itu Pencapaianmu ?

Tentu tidak! Itu ku-‘capai’ setelah aku melakukan sebuah Pelarian.

Aku lari dari masa lalu yang kebanyakan dinikmati remaja sekarang. Kusadari bahwa itu sebuah kesalahan, dan sudah sepatutnya aku tinggalkan. Aku lari dari perihnya sakit hati. Bahwa harapan pada manusia hanyalah fana. Aku lari, karena aku ingin pergi. Dan kemudian datang dalam sebuah pencapaian.

 

PROBLEMATIK

Jika anda ingin, tapi belum siap. Lalu.. kok gak buruan sih, apa yg kurang?

Jika anda siap, tapi belum bertemu. Lalu.. mau dicariin jodoh gak?

Jika anda sudah bertemu, tapi belum ingin. Lalu.. uda gak usah nyicil, kelamaan nunggu apa?

Pertanyaan dan komentar manusia memang selalu menyebalkan. Jadi buat apa memutuskan untuk mendengar. Yang terpenting, sudah sejelas apa anda sudah berupaya memperjelas cita-cita dan tujuan hidup anda. Sisanya, biarlah semua pada rencana-Nya, tapi jangan lupa berdoa dan berusaha. Karena pasrah tidak sama dengan malas. Semangat!

AZRA : Di Dalam Keramaian Aku Masih Merasa Sepi, Sendiri Memikirkan Kamu

Namaku Azra. Asli suku Jawa. Sarjana Teknik. Tapi bukan teknisi.

Hobiku makan. Berat badanku masih 49 kg. Mungkin cacingan.

.

Namanya Aqila. Asli keturunan Betawi. Sarjana Sains. Tapi bukan peneliti.

Dia tidak ber-bapak, hidup jauh dari ibu. Penderita galau akut.

Kami pernah saling bertemu, tapi sulit bertukar rindu.

Fashionable, bully-able.

.

Tengah malam dia meneleponku. Sesenggukan pilu. Sambil mengadu.

Aku hanya diam mendengarkan.  Karena bukan saran yang sedang dia butuhkan.

.

Suasana tak seperti biasanya yang lebih banyak bercanda. Sama sekali tidak ada tawa.

“Ra, aku pengen pacaran.”, “Hah? Kenapa?”

Betapa bodohnya aku yang spontan merespon dengan kata tanya kurang tepat.

Tapi memang hanya itu yang ingin, yang akan, dan yang bisa kuucapkan.

5 detik. Hening.

“Aku kesepian.”

Pernah tahu rasanya terpentok pintu? Seperti itu kondisi kejutku.

.

Ada seorang gadis dalam kondisi kritis. Dan aku tak berhak berkata banyak.

Meski dalam hati lantang aku berteriak : Itu bukan solusi !

5 menit. Tanpa suara.

“Halo ? Kenapa kita jadi diam gini, Ra ?”, “Karena kamu kesepian.”

.

Tiba-tiba dia tertawa, masih sambil sesenggukan tentunya.

Merasa lucu karena percakapan kami bak sebuah drama.

Alhamdulillah. Dia kembali pulih.

.

Hidup dalam keramaian membuat kita tidak ada waktu untuk menepi.

Lupa bahwa harus ada ruang yang sepi untuk berdua : aku dan Dia.

“Jangan lagi mengutuk kesepian, dia itu teman. Dan jangan lagi telpon tengah malam, itu tidak sopan, kawan !”

“Dasar cacingan. Tuhan selalu ada, harapan selalu disana, ya kan?”

“Kalo gitu jangan lupa dandan, si doi uda di jalan. Kalo lihat kamu lagi pacaran, doi bisa balik badan ! Hahaha.”

.

Cerita Kata Azra #2

AZRA : Terjebak Nostalgia

Namaku Azra. Usiaku 22 tahun. Masih gadis. Tapi akan segera menikah.

Tinggiku 161 cm. Berat badanku 49 kg. Tirus, tinggi kurus.

 

Sementara itu…

Namanya Althaf. Usianya 23 tahun. Seorang peneliti dan sama tinggi.

Kami baru sekali bertemu, tepatnya setahun lalu.

Namun sejak saat itu, ia menjadi idolaku.

Kosakatanya tajam, meskipun ia lebih banyak diam.

.

Seperti yang kukatakan, aku akan segera menikah. 1 bulan lagi.

Dia adalah pilihan orang tuaku.

Maksudku, aku meminta orang tuaku menentukan pilihan ketika dia datang.

Dia bukan ia, dia tidak bernama Althaf.

.

Aku sudah menentukan pilihan. Tapi Althaf mendadak muncul di pikiran.

Sadar ini tidak seharusnya. Ini jelas salah. Ini sangat jelas disebut zina.

.

Dia memang masih orang lain. Bagaimanapun.

Meski pada dia akan kuselipkan masa depan.

Tapi ia, tempatku pernah membayangkan.

Sampai kini tak pernah terkatakan.

Orang bilang cinta dalam diam? Bukan.

.

Althaf pernah bilang bahwa aku boleh bercita-cita tinggi.

Tapi ia bilang bahwa aku tercipta sebagai seorang bidadari. Yang tak seharusnya jauh pergi.

Althaf bilang bahwa aku tak seharusnya begitu keras.

Karena ia yakin bahwa aku seorang gadis yang cerdas.

.

Allah maafkan aku. Lindungi aku dari segala yang semu.

Jauhkan aku dari segala yang tak melalui ridho-Mu.

Tolong ampuni, aku yang tak tahu diri.

.

Kami mungkin tak akan bertemu. Karena ia sangat jauh.

Sementara dia semakin mendekat. Semakin terhubungan erat.

.

Althaf, semoga lekas kau bertemu jodohmu. Ini aku, Azra.

.

Cerita Kata Azra #1

Kita Tidak Akan Bisa Bersama, Meskipun Kita Seagama…

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Q.S Al Hujurat :10)

Tapi, mengapa sangat sulit untuk bisa saling merasakan persaudaraan ?

Memang, saya tidak banyak tahu ataupun tahu banyak. Namun saya ingin mengungkapkan bahwa begitu banyak rasa kepedihan dalam hati sebagai seorang muslim, sebagai seseorang yang meyakini Islam adalah sebuah kebenaran dan pembenaran. Soal ilmu, jelas saya masih sangat jauh, masih sangat dangkal. Tapi soal bagaimana cara melihat sesuatu dari satu sudut pandang, saya berhak untuk merasa benar dan melakukan pembenaran. Atas pandangan yang saya miliki.

Ya, berbicara tentang Islam yang benar dan setiap manusia yang berhak merasa benar. Inilah yang terjadi ketika keduanya berdampingan, Islam dan manusia.

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan.” (HR. Muslim)

      Jika seseorang di-asing-kan karena ketaatannya pada Allah, karena keyakinan terbesarnya dalam beribadah, bisa jadi ia lah yang dibenarkan oleh Islam.

Pertama : Bukan hal baru jika masyarakat seringkali melabeli Islam ‘ekstrim’ pada saudaranya yang kemudian memberi jarak pada hubungan mereka. Mereka seakan melihat bom waktu yang menjadikan seseorang itu lebih terlihat seperti teroris dibandingkan saudara seiman. Pertanyaannya : apa definisi ‘ekstrim’ itu? Ekstrim adalah keluar dari batas yang dianggap biasa. Lalu, apa salahnya? Setiap dari kita kan harusnya berlomba-lomba untuk tampak istimewa di mata Allah. Meskipun itu artinya kita juga akan semakin tampak berbeda dan dibedakan dari mayoritas manusia. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah konsekuensinya. Bukan kah terasing itu baik? Ya, mungkin definisi ‘ekstrim’ tak melulu tentang bagaimana hubungan kita pada Allah, tapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia sebagai makhluk Allah. Mungkin pernah kita tahu, meski sama-sama melakukan sholat, seseorang dapat dianggap sebagai ‘najis’ oleh seseorang yang lain. Yang mana bekas tempat ia bersujud pada Allah (Tuhan yang sama bagi keduanya) harus segera dibersihkan. Belum lagi sikap anarkis seperti menumpahkan mangkok bakso seseorang dan merusak warung di bulan Ramadhan dengan sengaja, dan bahkan melakukan pembunuhan besar-besaran (yang mengatas-namakan Islam). Kenyataannya, inilah definisi Islam ‘ekstrim’ di kalangan masyarakat. Singkat dari saya, mereka bukan Islam apalagi ‘ekstrim’, mereka hanya mengaku Islam. Lebih hina dari sebutan Islam KTP.

Kedua : Jika kita menginginkan sikap toleransi selalu ada di dunia dengan tak mempedulikan suku, ras, dan agama. Lalu, bagaimana itu mungkin jika meyakini Tuhan yang sama masih saling mencela? Sering kita tahu, media internet maupun televisi menjadi sarana pemecah-belah paling ampuh. Bagaimana tidak, saling sindir dan saling membela diri yang pada akhirnya menguatkan rasa kebencian. Saya memahami bahwa tujuan utama yang sebenarnya adalah dakwah. Tapi alur selanjutnya justru berupa pembenaran keyakinan diri yang diungkapkan dengan menyalahkan keyakinan orang lain. Saya berikan contoh real-nya, seorang teman dari salah satu media sosial saya berinisial MAR menulis status yang berisi pembelaan dan pembenaran tentang ‘bacaan Al Fatihah untuk mayit’. MAR menyayangkan pernyataan artis TW di salah satu stasiun tv yang menyebutkan bahwa kegiatan tersebut tidak sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Baik MAR maupun TW menyebutkan hadist yang saling memperkuat argumennya. Saya tidak terfokus pada siapa yang lebih benar, karena keduanya memiliki keyakinan yang mereka anggap benar. Bukan kah Allah Maha Tahu? Karena sebenar-benarnya nilai sebuah ibadah terletak pada niatnya. Lillahi ta’ala. Yang menjadi sorotan saya adalah dampak negatif beruntun yang ditimbulkan. Pernyataan TW yang mungkin bagi MAR terkesan menyalahkan, menyebabkan MAR menulis status tersebut. Lalu, yang lebih buruk dan yang lebih mengiris hati saya adalah komentar-komentar yang tidak seharusnya diucapkan oleh seorang muslim pada status yang ditulis MAR. Saya meyakini bahwa itu bukan hal yang diinginkan MAR, bukan itu tujuan yang ingin didapat MAR. Namun pada akhirnya, mudharat itu nyata adanya. Kemudian, dimana benarnya? Apa yang bisa dibenarkan dari kata-kata buruk yang muncul?

Islam memang satu, karena Allah Maha Esa. Meskipun umatnya terbagi dalam ribuan partai. Merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan hitam. Biarlah. Yang terpenting kita masih sama, masih dalam agama yang dirahmati Allah. Jika pun berbeda keyakinan tentang adanya Allah, sudah seharusnya kita saling menghormati dan menghargai nilai toleransi karena mereka juga makhluk Allah. Saya mohon, tolong hentikan kegiatan saling sindir lewat media. Karena itu bukan dakwah, tapi lebih mengarah pada dosa. Biar saja cara kita beribadah tak sama, melaksanakan hari raya pada hari berbeda, langkah menuju masjid yang tak searah, biarlah. Selama kita meyakini tujuan hidup kita adalah surga (Jannah), maka aku dan kamu sebenarnya sama dan bisa bersama. 🙂

Adinda…

Adinda, apakah kau seorang pendusta ?

Mungkin.

Tidak. Aku yakin kau tidak sebodoh itu, kau juga kan?

Mungkin tidak.

Kenapa tidak kau jelaskan padaku sedikit saja ? Bukankah tiada lagi sebuah rahasia ?

Bisakah kau memilih diam ?

Bukan itu aturannya. Kau menjawab, lalu kemudian bisa bertanya.

Dengar. Aku bukanlah harapan yang harus menjadi kenyataan.

Adinda, aku menemukanmu sebagai sebuah kenyataan dari pedihnya harapan.

Pernahkah kau merasa sangat ramai padahal semua sedang diam?

Pernahkah kau merasa sangat tahu padahal kau tak pernah melihat?

Pernahkah kau merasa sangat jauh padahal ada di dekatmu?

Pernahkah kau merasa hampa padahal semuanya ada? Pernah ?

Itu hanya fatamorgana, Adinda. Ayoo lah!

Aku pernah.

Kita hanya butuh waktu.

Kau salah. Justru manusia tidak akan pernah memilikinya.

Aku merasakan punya segalanya padahal hanya ada kau.

Aku memiliki seorang pendusta dalam sebuah dunia yang penuh dusta, bukankah itu istimewa?

Bagaimana… bisa?

Lihat aku. Apalagi yang kau butuhkan selain sebuah ucapan semua akan baik-baik saja padahal tidak. Selain rasa cukup dari kekurangan yang menghimpit. Selain perkataan indah pada hal yang sangat sederhana. Semua akan jadi bahagia, bukan?

Tapi, terlalu banyak tapi. Akan selalu banyak tapi…

#1

Sia-sia Saja Menjadi Sarjana, Jika Hanya Menjadi Seorang IBU

Sejujurnya, cita-citaku yang hakiki adalah menjadi seorang ibu muda. Seperti ibuku.

Assalamualaikum, senang mengenalmu. Bolehkah aku menemui ayahmu? | Hah? Hhmm, walaikumsalam. Silahkan~ | Baiklah, saya akan bersilaturahim minggu depan. InsyaAllah. | Tapi.. tapi saya berniat melanjutkan studi, di tempat yang cukup jauh.

Bagaimana pun ibu harus berpendidikan tinggi~

Dalam buku berjudul “Kado Pernikahan Untuk Istriku”, penulis M. Faudzil Adhim menyebutkan bahwa menuntut ilmu tidak seharusnya menjadi alasan menunda pernikahan jika memang mental dan bekal untuk menikah sudah dimiliki. Saya memahami bahwa itu tak akan mudah. Karena bisa saja keduanya harus hidup terpisah dengan shadaqah tetap dari orang tua. Tapi saya setuju dengan beliau, bahwa pernikahan dan ilmu bisa berjalan beriringan. Namun, masih saja ada yang menganggu pikiran saya…

Tidak masalah. Saya akan mendukung apapun yang akan menjadi keputusan mbak. Jika memang Allah menjodohkan kita, itulah takdir. Sama halnya dengan kesempatan melanjutkan studi, itu juga takdir. | 2 tahun? | Itu tidaklah lama. Tapi, apakah mbak sudah memikirkan bagaimana jika nantinya punya anak? | Soal itu…

Ah, benar juga. Bagi sebagian besar pasangan yang sudah menikah namun masih harus melanjutkan studi memilih untuk menunda memiliki momongan. Alasannya beragam, mulai dari finansial, waktu untuk mengurus anak, dan belum lagi menjadi tidak fokus yang berujung pada kesimpulan : tidak maksimal menjadi mahasiswa sekaligus seorang ibu. Mungkinkah menjalani keduanya ? Mungkin. Pada kenyataannya saya menemukan ada wanita tangguh semacam itu, dan tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah para pejuang yang meyakini bahwa wanita memang diciptakan dengan kemampuan multi-tasking yang sangat tinggi. Barakallah, betapa berlipat ganda-nya pahala dan manfaat yang mereka dapatkan.

Jika gelar pendidikan sudah diraih, apa yang selanjutnya akan dicari ? Pekerjaan. Secara normal, jawabannya adalah pekerjaan.

Apakah seorang ibu harus bekerja ?

Tentang ini. Banyak sekali penilaian masyarakat yang saya anggap sangat dangkal memandang jalan hidup orang lain. Mereka seringkali berkomentar : “Sayang sekali ya? Sarjana ekonomi yang cumlaude harus berdiam diri di rumah.”, “Meski sudah ataupun belum menikah, setelah lulus harusnya bekerja terlebih dahulu. Balas budi lah sama orang tua yang sudah membiayai sekolah.”, dan lain-lainnya yang hanya menghasilkan guratan senyum kecil di wajah mereka yang dikomentari. Hanya ada luka dan dosa, bagi saya, tidak ada pesan baik yang bisa saya tangkap dari kalimat-kalimat itu.

Ada beberapa hal yang ingin saya jabarkan, kepada seluruh ibu maupun calon ibu.

Yang pertamatanyakan pada dirimu sendiri apa alasan terbesar kau harus berpendidikan tinggi? Jika untuk mendapat pekerjaan yang layak dan hidup sejahtera dengan gaji yang berkecukupan, maka kejarlah karirmu setinggi-tingginya. Tentu kau membutuhkan banyak waktu, bukan? Sehingga tak mungkin bagimu menjadi ibu yang baik di usia yang relatif masih muda. Memang, mungkin saja kau memiliki anak dengan sambil bekerja (konteks bekerja yang saya maksud adalah bekerja di luar rumah dengan adanya ‘jam kerja’). Tapi apakah masih bisa menjadi ibu yang baik sementara yang lebih banyak diberikan kepada anak adalah materi, bukan waktu. Hal yang membuat saya khawatir adalah para ibu muda yang lupa bahwa jaman telah berubah, ancaman dan bahaya pada anak menjadi lebih besar. Sementara dulu, pada jaman kita menjadi seorang anak, adalah jaman dimana mayoritas wanita adalah ibu rumah tangga (saja), tanpa bekerja. Namun, jika saya berpikir bahwa pendidikan tinggi adalah bekal untuk membentengi anak-anak dari bahaya jaman ini. Maka tidak masalah bagi saya mendengar seluruh pandangan miring orang lain. Karena saya tidak hidup dan mengabdi untuk mereka. Tapi untuk keluarga kecil saya. Sehingga pendidikan dan ilmu adalah investasi terbesar untuk anak dan keluarga.

Yang kedua, tanyakan apakah orang tuamu menginginkan balas budi berupa materi dan kehormatan atas jabatan yang kau dapatkan? Jika ya, maka bekerjalah dengan baik. InsyaAllah ada berkah dan pahala tak terkira dari setiap rasa syukur yang mereka panjatkan dalam doa. Jika bukan, maka tanyakan lah sekali lagi apa yang mereka inginkan dari seorang anak yang telah dibesarkan. “Lakukan apa yang memang telah kau cita-citakan. Sepanjang bapak mampu, bapak akan terus mendukung. Bapak tidak menuntutmu bekerja, jika itu hanya tentang materi, balas budimu tak akan pernah cukup. Jika itu tentang rasa bangga, maka bapak akan bangga jika kamu menjadi anak sholehah yang bisa menjalani hidup untuk-Nya. Kamu investasi bapak dan ibu. Tugas bapak yang terakhir adalah menikahkanmu. Bapak ingin kamu menjadi istri dan ibu yang sholehah. Dengan begitu pahala yang kau kirim untuk bapak dan ibu semakin berlipat. Kita semua akan berkumpul di Jannah-Nya.”. MasyaAllah, cukuplah pedoman itu yang saya pegang. Seluruh orang tua pasti setuju jika mereka menginginkan anaknya melebihi mereka, baik dari segi ilmu dan akhlak.

Jadi, untukmu yang telah maupun akan menjadi Sarjana, Master, Doktor, Karyawati, Manager, Direktur, atau Menteri. Takdirmu adalah seorang ibu. Seorang ibu, sebenar-benarnya ibu di dunia dan akhirat. Jangan pernah malu jika ‘hanya’ menjadi seorang ibu. Karena ‘hanya’ itulah sebaik-baiknya ‘pekerjaan’.


*Saya memang belum menjadi seorang ibu, baru calon ibu. Tapi saya berharap apa yang saya tulis menjadi suatu manfaat, insyaAllah. Mengingat semua dari kita pasti mengidoalkan ibu 🙂

PARIS, maafkan aku. Mungkin kita (belum) berjodoh..

Mungkin kah aku terlalu dalam menancapkan mimpi untuk menyentuhmu seperti kakimu yang kuat mencekram bumi, wahai menara baja, Eiffel?

Mungkin kah aku terlalu percaya diri untuk mampu mengumpukan segenap probabilitas menguasai seluruh hal tentangmu, Perancis?

Mungkin kah aku terlalu yakin untuk menginjakkan kaki di bumi lapang yang kau temukan, Napoleon?

Mungkin kah aku terlalu obsesi untuk membuktikan bahwa kesempatan bukan hanya milik mereka yang pintar, tapi milik mereka yang mau berjuang?

Mungkin kah aku terlalu optimis mengatakan pada dunia bahwa tahun ini aku bisa mewujudkannya?

Mungkin kah aku terlalu ingin semesta mendukung?

Mungkin kah aku terlalu keras untuk berusaha?

Atau.. Mungkin aku terlalu egois dalam mengejar cita-cita, Paris?

Mungkin.

Sehingga aku terlalu konsisten mendikte Allah.

#SURAT MERINDU SANG JODOH

Assalamualaikum wr. wb.

Sudah sejauh mana langkahmu, wahai jodohku? Apakah sudah dekat atau masih jauh?

Ini adalah surat kedua buatmu. Namamu masih tersimpan dengan rapi dan belum tersentuh.

Jodohku…

Mungkin terlalu cepat jika kukatakan sekarang bahwa aku merindukanmu. Apakah aku merindukan orang yang belum jelas adanya? Ah.. Entahlah

Kerinduan ini semakin menjadi-jadi, tapi hanya kepada-Nya aku bersimpuh. Menuangkan bait-bait kerinduan itu dalam doa. Mungkin, tak sedikit orang merindukan jodohnya dengan serius, tak banyak orang yang membingkai rindunya dengan bingkai yang semestinya, tapi percayalah wahai jodohku, rinduku ini tak terjamah oleh nafsu. Pelampiasan rinduku ada dalam doa yang selalu kupanjatkan.

Tahukah kau jodohku..

Aku selalu memohon kepada Sang Pemilik Rindu agar melabuhkan rindu ini pada orang yang tepat. Orang selalu menjaga ibadanya dan menjaga rindunya. Aku percaya saat ini rinduku tak bertepuk sebelah tangan, di  tempat dan waktu yang berbeda kau juga merindukanku, bukan? Kuharap Ya.

Sebanyak apa pun bait rindu dalam surat ini takkan mampu membaca besar rindu di sini. Takkan mampu menafsirkan arti dari rindu. Rindu sesungguhnya adalah menanti kehadirannya menjemput dengan syariat-Nya.

Rindu ini akan kuasuh, kujadikan ladang pahala bagiku. Mengikatnya dengan tali ibadah dan merebahkannya pada tikar-tikar doa. Bagiku, ini rindu yang terhormat, bukan rindu yang merendahkan. Rindu ini seperti kerinduan Tuhan kepada istighfar hamba-hambaNya dan seperti kerinduan umat Islam kepada Rasulullah saw.

Aku selalu bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberikan rasa rindu dalam hati meski sebenarnya masih abstrak diperuntukan bagi siapa. Tapi, yang kutahu, rindu untuk jodohku di masa depan. Rindu yang kelak akan menjadi halal jika waktu itu benar-benar tiba. Akan kulabuhkan semua rindu ini jika kita sudah dipertemukan oleh-Nya, tak tersisa sedikit cerita. Pertemuan kita adalah euforia bertemunya rindu dalam bingkai kemesraan berlandaskan syariat-Nya. Senyum ini merekah saat membayangkan pertemuan kita. Rasa syukur selalu terucap dari lisanku dan lantunan ayat-ayat suci-Nya menjadi penenang.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Salam Kasih,

Kekasihmu