Pandemi Covid-19, sehingga muncul kebijakan pemerintah Work From Home (WFH) bagi pegawai.
Bincang Pagi tentang Simkes di Radio Raisa Jogja

Makassar (10 Maret 2021), Prodi IKM Fakultas Kedokteran UGM kerjasama dengan Radio Raisa Jogjakarta menyelenggarakan Bincang-Bincang Pagi selama satu jam tentang Pentingnya setiap level institusi kesehatan memiliki SDM berkompetensi SIMKES.
Sebagai kehormatan bagi saya karena diundang sebagai narasumber.
Tidak ada yg “JAGO” dengan COVID
Sejak Maret 2020 seluruh masyarakat di Makassar dirundung ketakutan dengan penularan virus corona yg begitu cepat beredar info nya di media sosial, penularannya pun sangat cepat.
Saya termasuk salah satu korban penularan Covid terhitung 6 November 2020. Bermula diketahui setelah rapat monev di kantor yang dipimpin oleh Kepala BNNP Sulsel yg baru, seluruh personil dilakukan rapid test, termasuk saya dengan hasil reaktif.

Setelah itu, dengan cepat mencari info keberadaan mobil Covid, ternyata ada di depan rumah Perjuangan Prof Andalan. Saya dan isteri segera melakukan test swab di situ.

Keesokan harinya Sabtu 7 November 2020, dapat kiriman surat hasil swab dari tim Covid bahwa hasil swab saya (+)covid dan isteri (-).

Dengan itu saya segera mengambil tindakan pencegahan penularan terhadap anak dan isteri, apalagi saat itu ada mertua dan adik ipar dari Palu hendak menginap di rumah, maka saya segera mencari tempat isolasi/ karantina. Saya telepon GM hotel Almadera, dan segera disuruh merapat supaya segera diregister, terhitung sejak tanggal 7 November 2020. Tidak lama kemudian, tim Covid menelepon bahwa telah disiapkan kamar di hotel Swiss Bell, tetapi sudah terlanjur masuk kamar di hotel Almadera. Tercatat di register Covid19 Sulsel an. Sudarianto mengikuti program wisata covid di hotel Almadera Makassar. Program ini merupakan program pemerintah Prov Sulsel.
Saya tdk tahu dapat dari mana virus Covid itu, karena saya termasuk orang yg sangat patuh dengan protokol Covid. Kemana-mana mesti pakai masker, bawa hand sanitizer. Di masjid Babul Afiah, kalau ada jamaah yg tidak pakai masker, sy langsung tegur dan berikan masker. Di ruang kerjapun kalau ada orang yg masuk, langsung pakai masker. Tetapi itulah namanya takdir, dan saya mengambil hikmah nya bahwa tidak ada yg jago dengan Covid ini. Semua orang bisa terinfeksi jika Tuhan menghendaki, apalagi jika tidak mematuhi protokol kesehatan.
Riwayat aktifitas yg saya curigai sumber penularannya antara lain (1)perjalanan Makassar-Jakarta PP tanggal 21 sd 23 Oktober 2020; (2)menghadiri undangan pesta pernikahan di gedung BPN Makassar tanggal 31 Oktober 2020; (3)menghadiri undangan pernikahan di Kota Pangkep 31 Oktober 2020; selebihnya hanya aktifitas di rumah, kantor dan masjid Babul Afiah dan masjid Ceng Hoo.
Kesimpulan saya begini, semua orang bisa terinfeksi Covid jika Allah menghendaki, apalagi jika tidak patuh protokol kesehatan. Hanya saja, bagi yg kuat anti bodynya tidak menimbulkan gejala dan bagi yang anti bodynya lemah maka akan menimbulkan gejala.
Mari semuanya senantiasa menggunakan masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak.
Mengintip Suku Kajang dari Dekat
Suatu waktu 5 November 2020 melakukan monitoring dan evaluasi layanan rehabilitasi penyalah guna narkoba di FAN CAMPUS Kab. Bulukumba. Setelah kegiatan selesai, menyempatkan mengintip SUKU KAJANG dari dekat dengan melakukan perjalanan kurang lebih 1,5 jam dari kota Bulukumba. Cerita tentang suku Kajang saya sudah dengar sejak kecil, baca di media tetapi penasaran dengan keberadaan suku Kajang tersebut membuat saya bersama tim datang mengintip dari dekat.
Secara geografis, suku Kajang berada di wilayah Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sekitar 56 kilometer dari pusat kota Bulukumba.
Para pengunjung yang akan masuk dalam kawasan adat diharuskan mengikuti aturan adat yang berlaku. Tidak boleh menggunakan kendaraan modern, bahkan sepatu maupun sendal. Hanya boleh menunggangi kuda atau berjalan kaki. Pengunjungpun harus mengikuti khas pakaian adat kajang yang berwarna hitam.
Tana Toa yang berarti tanah yang tertua. Nama ini berdasarkan kepercayan Suku Kajang yang mendiaminya, yang yakin Tana Toa adalah daerah yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan di muka bumi ini.
Kawasan suku Kajang oleh pemangku adat tidak membolehkan difasilitasi kehidupan modern seperti sekolah termasuk jalanan dan lampu listrik. Sumber air pun hanya terdapat satu tempat yg terdiri dari dua mata air alami yang ditampung dengan menyusun batu segi empat untuk dijadikan tempat mandi dan mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga mereka.





Ayo menanam pohon

Saya terlahir dari seorang ayah yang petani dari Kab Bone, gemar menanam pohon semasa hidupnya, kini beliau telah tiada dan sayapun pindah ke Kota Makassar yang tidak ada lahan untuk bertani. Tetapi, pada awal 2020, seorang kawan yg bernama Rudi mengajak menanam pohon pada pot. Sejak saat itulah menurunkan bakat orang tua menanam pohon. Berbagai pohon pun saya tanam di depan dan belakang rumah, antara lain mangga, jambu biji/air, lengkeng, rambutan, jeruk nipis/santang/purut, durian, belimbing, manggis, srikaya, bidara, kelor serta beberapa pohon jangka pendek antara lain pepaya, lombok, okra, ginseng jawa, sereh, cemangi, lengkuas, jahe, pandan, kumis kucing. Selain itu, ibunya anak2 juga tidak mau kalah dengan berbagai macam kembang nya.
Hijaunya pohon tersebut sangat menyenangkan, ketika muncul pucuk apalagi jika muncul buah nya… hhhh.
Setelah baca artikel dari lingkungan hidup, pohon ternyata berfungsi untuk menurunkan pencemaran udara. Pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan karbon dioksida terperangkap di atmosfer kita. Hal ini menyebabkan suhu menjadi panas serta mengubah iklim kita dengan cara yang berbahaya. Penanaman pohon dapat memperlambat proses ini. Sebuah pohon mampu menyerap sebanyak 48 ton karbon dioksida per tahun. Bahkan, manfaat sebatang pohon dapat menyerap satu ton karbon dioksida pada saat ia berusia 40 tahun. Maka di Indonesia, setiap orang berhutang 25 pohon semasa hidupnya jika mau udara di sekelilingnya bersih.
Pada artikel itu juga diutarakan fungsi pohon lainnta bagi kehidupan manusia dalam hal mengurangi tingkat kriminalitas. Sebuah lingkungan yang memiliki banyak pohon akan memiliki tingkat kejahatan lebih rendah. Hal ini disebabkan karena ruang hijau memiliki efek menenangkan sehingga mendorong orang untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman mereka di taman. Akhirnya, ini akan memperkuat tingkat kepercayaan dan modal sosial di dalam suatu komunitas.
Oleh karena itu, saya mengajak kepada pembaca untuk memulai menanam pohon, walaupun pada lahan sempit seperti pada halaman rumah saya.

Pusing tanpa sebab, daya ingat menurun, mungkin perlu detox




Anda tiba2 pusing tanpa sebab, sakit punggung, rambut rontok, dab daya ingat menurun, mungkin perlu lakukan detox dengan TOXICLEAR. Info lebih lanjut silahkan klik link berikut : https://bit.ly/bersihkanRACUNtubuhTOXICLEAR6
https://bit.ly/bersihkanRACUNtubuhTOXICLEAR6
Menyenangkan isteri merupakan ibadah

Green Daya Makassar 4 Mei 2019, mengantar isteri tercinta ke lokasi pengabdian masyarakat…..

Pengguna narkoba melaporkan diri, tidak dipidana melainkan direhabilitasi
MAKASSAR, 28 April 2019 — Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulsel terus mengajak para pengguna narkotika agar mengikuti program rehabilitasi. Daftarkan diri secara sukarela, pengguna yg melaporkan diri tidak dituntut pidana dan gratis.
Program Rehabilitasi merupakan cara untuk memulihkan pengguna agar terbebas dari narkoba dan bisa kembali produktif. Meski memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun proses ini dianggap penting dan sangat efektif.
Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Sulsel, Sudarianto mengungkapkan, penyalah guna atau pecandu narkoba itu kriminal, namun dijamin oleh UU untuk direhabilitasi.
“Pengguna Narkoba yang menjalani rehabilitasi tidak dituntut pidana seperti tercantum pada UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Baik yang sudah cukup umur, maupun yang belum cukup umur,” ungkapnya.
Pria kelahiran Bone, 10 Mei 1968 ini menambahkan, setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam menjalani rehabilitasi, tergantung tingkat keparahan. Biasanya memakan waktu dua hingga sembilan bulan, sebab perlu perawatan fisik dan mental.
“Untuk fisik, waktu rehabilitasi dipengaruhi dari jenis narkoba yang digunakan. Sedangkan untuk perawatan mental, waktunya agak lama karena keinginan menggunakan narkoba juga bisa muncul sewaktu-waktu,” tambahnya.
Olehnya, ada beberapa alur jika ingin mendaftarkan diri untuk direhabilitasi. Bisa secara langsung maupun online yang diakses lewat rehabilitasi.bnn.go.id/public/user/register. Kemudian, menyerahkan berkas seperti KTP dan KK.
Setelahnya, akan dilakukan pemeriksaan yaitu screening dan asesmen medis untuk menyusun rencana terapi. Selanjutnya, intervensi singkat rehabilitasi rawat jalan, atau rehabilitasi medis rawat inap, maupun rehabilitasi sosial rawat inap.
Beberapa tempat rehabilitasi yg gratis selain BNN, antara lain seluruh Puskesmas di Kota Makassar, dan seluruh RS Umum Daerah di Sulawesi Selatan serta beberapa tempat rehabilitasi swasta yg bermitra dengan BNN.
Terus bersepeda supaya sehat

Makassar (27 April 2019), setiap hari Sabtu dan Ahad saya rutin melakukan aktifitas olah raga sepeda. Rute hari ini dari rumah Jl. Wijaya Kusuma I, ke Vetetan Selatan, Monginsidi, Rusa, Lanto dg Pasewang, Ratulangi, Kakatua, Cenderawasih, Dangko, Abdul Kadir, masuk Benteng Sombaopu (sekaligus ngintip anak sibungsu berkemah). Berputar dalam Benteng Sombaopu olahraga sambil menikmati wisata budaya.
Pulangnya melewati Abdulkadir, Jl. Kumala, Vetetan Selatan masuk Banta2eng, finish di rumah.
Memilih olah raga rutin dengan bersepeda karena selain sepeda sebagai alat untuk rekreasi, bersepeda membuat tubuh bergerak aktif. Sebagaimana kita tahu, tubuh yang aktif adalah salah satu syarat penting untuk menjaga kualitas kesehatan kita.
Lakukan aktifitas rutin, tetatur dan terukur supaya senantiasa sehat.
Reuni kelompok terbang 24 KBIH KODAM

Akhir-akhir ini reuni menjadi trend baru, kalau semula hanya ada reuni teman-teman SMA/SMU atau lulusan suatu perguruan tinggi atau mantan karyawan suatu perusahaan berskala nasional, kini sudah merebak hingga reuni teman-teman SMP dan SD. Bahkan adalagi reuni teman kelompok terbang jamaah haji, yaitu reuni dengan kloter 34 KBIH KODAM.
Kami bertemu kembali setelah dua tahun lalu kami bersama terbang, bersama di hotel, bersama naik bis, bersama masuk masjid, bersama tawaf, bersama sa’i, bersama wukuf, dan yg paling sering yaitu bersama makan.
Peryemuan itu di Rumah Kebun Bili2 Kab. Gowa pada tanggal 21 April 2019. Kami bersalaman, bercanda, saling mengingatkan peristiwa ketika beribadah.
Semoga persaudaraan ini terjalin selamanya.



Terus berolah raga (rutin, teratur dan terukur), di Taman Pakui Sayang 3 Mar 2019

Makassar (3-3-2019), terus berolah raga dengan sepeda dari rumah melalui Jl. Rappocini Raya, ke Jl. Pangeran Pettarani, belok ke Jl. Boulevard (car free day). Mampir senam, tetapi karena cepat selesai… maka lanjut menggayung sepeda ke Taman Pakui Sayang. Senam sampai capek… kemudian pulang lewat Jl. S. Saddang, Jl. Pelita tembus Jl. Rappocini, terus ke rumah.



Sepeda sehat supaya enak makan dan enak …

Makassar (2 Maret 2019), setiap hari Sabtu saya rutin melakukan aktifitas olah raga sepeda dari rumah Jl. Wijaya Kusuma I, ke Jl. Rappocini Raya, Jl. Pangeran Pettarani.
Memilih olah raga rutin dengan bersepeda karena selain sepeda sebagai alat untuk rekreasi, bersepeda membuat tubuh bergerak aktif. Sebagaimana kita tahu, tubuh yang aktif adalah salah satu syarat penting untuk menjaga kualitas kesehatan kita.
Sesampai di Taman Pakui Sayang, kami parkir sepeda pada tempat parkir yg sudah disiapkan, kemudian ikut senam sehat. Setelah lelah, aktifitas kami variasi dengan jogging mengikuti rombongan komandan 5YL.
Kemudian, dilanjut brrsepeda dari Taman Pakui Sayang menelusuri Jl. Pangeran Pettarani, belok ke Jl. S. Saddang, Jl. Pelita Raya, masuk ke lorong-lorong tembus ke Jl. Rappocini Raya, masuk ke Lr. 6 menuju Jl. Wijaya Kusuma I tempat saya dan keluarga berdomisili.
Lakukan aktifitas rutin, tetatur dan terukur supaya enak makan dan enak …
Yogya, saya datang tiga hari… terus pergi lagi
Jogja adalah satu kata yang memberikan getaran berdenyut di dada ketika mendengarkannya. Ia tumbuh dan mengakar ke dalam nurani sanubariku. Ia memang hanya sebuah kota. Tapi asal kamu tahu, Jogja adalah sebuah kehidupan penuh drama, romantika, penuh kenangan. Padahal, saya bukan orang Jogya, melainkan orang bugis yg menuntut ilmu di UGM tahun 2006 sd 2008. Tetapi, Jogya selalu ngangenin.
Siapapun yang pernah ke Jogja dan berdiam untuk beberapa lama, rindu adalah sebuah nyeri yang selalu datang ketika kata Jogja terdengar di telinga. Tidak. Sungguh, ini tidak berlebihan. Ada banyak rasa yang tercipta kala di Jogja.
Teringat senyum orang Jogja yang meneduhkan. Keramahtamahan enggan hilang meski metropolitan kian membentang. Kehadiran saya dulu di Jogya dilengkapi dengan beragam festival gratisan, mulai FKY, Pasar Kangen, sunmor, makanan murah, setiap sabtu dan ahad keliling kota Jogya, pegel2 banyak pijat kakiku, dan lainnya… pokoknya banyak yg dikangenin.
Satu hal yang bikin Jogja selalu terkenang adalah karena kesederhanaannya, kebersahajaannya. Prinsip hidup di sini, “nrimo ing pandum,” menerima rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Nggak rakus maupun kemaruk. Materi dan hal-hal duniawi bukan prioritas utama. Warga Jogja mencari ketentraman, keberkahan dan kebahagiaan. Dan definisi filosofis itu terejawantah dalam sebentuk gerobak angkringan.
Ada cinta di setiap bungkus nasi kucing angkringan. Ada kerinduan dalam Kopi Joss Lek Man yang membuat kita selalu nyaman berlesehan. Ada rasa kemanisan dalam gudeg Wijilan. Tak lelah menyambangi Sate klatak di Bantul sana, atau Bakmi Jowo Mbah Moh di Bantul, yang lokasinya kok ya selalu blusukan. Pokoknya itu semua rutinitas yang sederhana namun tak terlupakan. Angkringan menyadarkan aku bahwa tak ada jurang kesenjangan antar manusia.
Sehingga suatu waktu yg bertepatan dengan undangan pesta pernikahan kawan se kantor di Wates Kulon Progo, maka terciptalah lepas kangen bisa ke *Yogya, aku datang tiga hari, terus pergi lagi*.
Kami bersama rombongan beberapa kel. BNNP Sulsel sebanyak 29 orang tiba di bandara Adi Sucipto 15-2-2019 kira2 jam 17.00 sore, dijemput bis yg difasilitasi oleh Ka BNNP Sulsel menuju Hotel Rich di Sleman menyimpan tas, kemudian melanjutkan makan malam di Rumah Makan Gudeng Yu Jum di Wijilan. Dasar lidah coto yg senangnya kecut pedis, rombongan kami 95% belum menyukai gudeg.

Setelah itu, berjalan cukup melelahkan ke arah selatan untuk masuk alun2 selatan Keraton Yogyakarta. Kelelahan terobati dengan uji nyali melewati antara dua pohon beringin dengan mata tertutup kain hitam (rombongan kami tdk ada yg bisa lolos dgn terheran2 karena merasa tidak pernah merasa belok, kenapa bisa belok ?).

Sebagian kawan yg tdk puas bermain waktu kecil, mereka naik kereta roda yg berhiaskan lampu pernak pernik berkeliling mengitari alun2. Kemudian pulang ke hotel untuk istirahat.

Keesokan harinya, Sabtu 16-2-2019 rombongan kami berwisata ke candi Borobudur. Saya sesungguhnya sdh bosan berkunjung ke Borobudur karena sdh sering ke situ, tetapi rasa kebersamaan tim, sy memandu mereka ke sana dan ikut merasakan terik nya matahari walaupun ditutupi dengan payung.

Pulang dari Borobudur, singgah makan di RM Jejamuran (ref Gusti Rahayu dkk). Saya belum pernah ke situ, karena waktu sekolah dulu, belum kenal/ belum ada tempat ini. Kesannya, 99% menyukai jejamuran.


Setelah itu, lanjut dan bis parkir di sekitaran titik nol Jogya (depan BI). Kemudian sy memandu rombongan menuju pasar Bringharjo … walaupun hujan rintik2 membasahi kami, berusaha lari2 kecil akhir nya keringat pun bercucuran di tengah hujan rintik2 di Jl. Malioboro.

Sambil menunggu rombongan berbelanja di pasar Bringharjo, saya masuk di toko Hamzah untuk mendinginkan badan pada suhu AC toko Hamzah. Tiba2 hp saya berdering, ter nyata teman saya dr. Peni (Kabid Rehab BNNP Yogya) sudi menemui saya dan menawarkan apa2 yg bisa dibantu ke rombongan kami. Mau ngajak jalan2, tapi sayang karena saya tidak tega meninggalkan rombongan. Saya ingin menemani mereka menikmati sebagian Kota Yogya yg bisa dijangkau, karena waktu terbatas. Kami memanfaatkan suhu di toko Hamzah sambil bercerita dan foto dengan kawan ini, dan akhir nya beliu pamit… sampai jumpa dok, salam buat keluarga.

Tidak lama kemudian, hp berdering lagi… ternyata Mas Ugik (teman kuliah sewaktu UGM) mau ngajak napak tilas … sebenarnya dengan kawan ini, bisa lepas kangen dengan segala lekuk2 Jogya, tetapi sayang karena saya tidak mungkin meninggalkan rombongan ini. Apa kata mereka nanti. Sambil nunggu kumpulnya rombongan, saya naik mobil Mas Ugik, sambil pelan2 bercerita sampil berputar mengelilingi seputaran titik nol Jogya, terus saya mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf. Sampai jumpa Mas Ugik, salam buat keluarga.

Rombongan sdh berdatangan dan pada menjinjing tas kreseknya hasil belanjaan di Pasar Bringharjo (mereka riuh cerita tentang harga, ada yg ngeluh karena panas di dalam pasar karena banyak orang, ada yg cerita … bingung mau pilih mana dll). Setelah kumpul semua, kami bergerak untuk makan malam di Bakmi Kadin (sesungguhnya sy tawarkan ke Bakmi Pele, yg raciknya satu-satu, kalau rombongan terima… bisa jadi jam 24.00 baru semuanya selesai makan). Kesannya, kurang lebih 90% menyukai Bakmi Yogya.


Kenyang, lelah, kusut karena pakaian basah2 empuk karena hujan gerimis campur keringat, maka rombongan sepakat pulang hotel mandi dan ganti pakaian, setelah itu acara bebas. Rupanya, setelah saya intip2, 100% rombongan perempuan nyeberang ke mall Jogya (ngerti sajalah).
Saya tidur pulas malam itu. Keesokan harinya… rombongan siap2 tepat waktu karena ada telepon dari Ka BNNP bersama isteri bahwa mau ikut di bis bersama semua rombongan menuju ke Hotel Kings di Wates Kulon Progo untuk menghadiri resepsi pernikahan rekan kantor BNNP Sulsel antara Ismaya dan Musafir. Selamat menempuh hidup baru, insya Allah samawa, amin.

Kira2 jam 11.30 bergerak meninggalkan acara resepsi menuju toko Bakpia 25 (saya intip mereka, 100% beli oleh2 Bakpia untuk dibawa pulang ke Makassar). Terus ke bandara Adi Sucipto (tidak jadi ke Candi Prambanan karena khawatir ketinggalan pesawat).
Yogya, saya datang tiga hari terus… pergi lagi.