Buku Keduabelas Tulisan Pak Guru Sumbo Tinarbuko ‘’PERANCANGAN DAN PENGKAJIAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL’’
Lapor bosqu, buku ke – 12 pak guru @sumbotinarbuko berjudul: Perancangan dan Pengkajian Desain Komunikasi Visual, sudah bisa anda miliki dengan mahar Rp. 261.000,-
Ongkos kirim P. Jawa: Rp. 40.000,-
Ongkos kirim di luar P. Jawa: Rp. 80.000,-
Pembayaran dilakukan melalui transfer ke nomer rekening 0030388949 – Bank BNI Yogyakarta – atas nama: Sumbo Tinarbuko atau Agnes Setia Wardhani
Bagi pemesan buku, setelah melakukan pembayaran via transfer bank, dipersilakan kirim identitas dan data diri – alamat rumah/kantor – no hp – jumlah pemesanan buku – ke email sumbotinarbuko@gmail.com – sertakan juga foto bukti pembayaran
#klastanpadinding ruang untuk bersama-sama belajar dan belajar bersama-sama perihal desain komunikasi visual
Ditengarai ada dua kubu saling berseberangan dalam menyikapi kedatangan (akal imitasi) AI di jagat desain komunikasi visual (DKV). Mengapa ada pihak sangat ketakutan atas hadirnya AI. Di sudut lainnya, ada yang menyatakan AI adalah sahabat karib. Kehadirannya senantiasa ditunggu. Bahkan keberadaannya dinantikan. Tujuannya? Untuk diajak kerja kolaborasi kreatif guna memecahkan masalah komunikasi visual yang dihadapi siapapun.
Terlepas kemunculan oposisi biner atas kehadiran AI. Sejatinya AI merupakan hasil kreativitas manusia yang sudah dibekukan dalam wujud bahasa mesin. Hal itu merupakan keyakinan kelompok optimis bin progresif. Mereka memandang AI sebagai teman sekaligus sahabat. Mereka memposisikan AI sebagai alat. Dimanfaatkan guna mempercepat proses menemukan dan mengeksekusi ide yang berkelindan di dalam otak. Organ tubuh terhormat manusia bertugas memproduksi gagasan dengan mengedepankan kreativitas tinggi.
Optimis vs Pesimis
Sebaliknya, bagi kelompok desainer komunikasi visual yang mengedepankan perasaan pesimis. Serta senantiasa memelihara zona nyaman. Menganggap AI musuh bebuyutan. Mereka meyakini. Penetrasi AI dalam ranah DKV akan mematikan profesinya sebagai desainer komunikasi visual. Pendapat umum dalam kelompok pesimis. Kelompok ini menyatakan AI menyebabkan desainer komunikasi visual kehilangan pekerjaannya. Benarkah demikian?
Tentu saja anggapan itu ditepis kelompok optimis serta progresif. Baginya, sudut pandang rekan rekanita yang pesimis, dirasa sangat memprihatinkan. Untuk itu harus dibantu. Wajib diinfuskan energi optimis dengan senantiasa mengedepankan kreativitas serta ditopang kecerdasan visual yang signifikan.
Bagaimana menumbuhkan sikap optimis dari kelompok pesimis yang merasa diganggu serta dihantui kehadiran AI di ruang publik digital? Berdasarkan catatan risalah sejarah,AI itu menjadi bagian dari revolusi industri ketiga. Dalam catatan penulis, revolusi industri 3.0 ditandai hadirnya teknologi baru berbasis internet. Dari sanalah muncul peradaban baru. Dimasukkan dalam peradaban budaya layar dan budaya digital.
Bagi rekan rekanita yang mengimani ilmu desain komunikasi visual. Apakah berkarya nyata di industri desain komunikasi visual sebagai praktisi. Atau berprofesi sebagai dosen. Bekerja di lingkungan industri pabrik gelar kawasan sentra industri pendidikan. Seyogianya menyikapi kehadiran AI sekadar alat. Rekan rekanita yang menyandarkan diri lewat ilmu desain komunikasi visual harus menguasai AI. Terpenting, kehadiran AI wajib dikolaborasikan dengan imajinasi kreatif yang mengedepankan kreativitas. Mengapa harus demikian? Jika tidak menjalankan hal itu, maka anda akan dilibas dan dikuasai AI berikut ahli AI.
Sejujurnya, AI merupakan proses mendokumentasikan data. Berasal dari pemikiran serta kreativitas yang pernah dipublikasikan dan dibagikan lewat internet. Jejak digital itu kemudian dibaca mesin algoritma menjadi data. Selanjutnya disimpan mesin algoritma. Kumpulan data digital disusun secara rapi, terstruktur, sistematis dan masif. Kemudian disebut jiwanya AI.
Harus diakuI AI mampu mengadopsi, meniru, mencontoh pikiran dan rekaman otak manusia yang sudah dimediasikan melalui internet. Sementara AI belum terbukti memiliki imajinasi dan masih belum terbukti memiliki nalar perasaan.
Kehebatan otak manusia terletak pada kekuatan daya pikir, daya nalar dan imajinasi. Gumpalan otak manusia memiliki ruang publik untuk pementasan theatre of mind. Storytelling, adegan, akting yang dilakukan otak dalam pementasan theatre of mind sangat kaya raya dengan visualisasi. Imajinasi yang berkelindan di dalam otak manusia sangat luas, besar dan penuh warna. Selain itu, di dalam otak manusia bersemayam nalar perasaan dan akal pikiran. Mereka saling berangkulan dengan mesra. Otak manusia senantiasa bekerja keras atas inisiatif dari sang pemilik otak.
Untuk rekan rekanita yang masih pesimis atas kehadiran AI. Penyebabnya ditengarai kemampuan mengelola kreativitas mulai macet. Kecerdasan visualnya sudah mulai beku. Jika semuanya itu terjadi ada baiknya mengingat kembali hal yang paling mendasar dari ilmu desain komunikasi visual.
Sekadar Alat
AI dalam DKV diyakini menjadi sesuatu saling melengkapi. Mengapa dikatakan demikian? Karena keberadaannya senantiasa menjalankan kerja sama secara egaliter. Untuk itu jalinan persahabatan antara AI dan DKV harus dielaborasi. Mereka berdua wajib dikawinkan agar menghasilkan keturunan ideologis yang cerdas dan kreatif. Atas dasar itulah, industri kreatif DKV, desainer komunikasi visual, dan pendidikan tinggi DKV, disarankan bersedia menjalankan kerja kolaborasi kreatif bersama AI.
Mengapa harus demikian? Karena AI ini terbukti membantu pengayaan gagasan desain, membuat varian visual baru guna menguatkan industri kreatif DKV, desainer komunikasi visual, ilmu desain komunikasi visual dan lembaga pendidikan desain komunikasi visual.
Percayalah, AI tidak akan mematikan atau memusnahkan ekstensi desain komunikasi visual bersama pernak pernik lainnya. Pun desainer komunikasi visual. Justru sebaliknya kemunculan AI dalam DKV saling mendukung. Bukan malah menelikung.
Mengapa demikian? Sejujurnya harus diakui, AI mempunyai kelemahan fundamental. Antara lain: pertama, AI tidak memiliki kemampuan berpikir kreatif. Kedua, AI tidak mampu berpikir secara logis. Ketiga, AI tidak memiliki rasa empati. Keempat, AI tidak memiliki sikap bijaksana. Kelima, AI akan hadir kalau dia diperintah. Artinya, AI nir inisiatif, pasif dan tidak mampu berimajinasi secara holistik.
Maka bagi desainer komunikasi visual, industri DKV, ilmu desain komunikasi visual dan lembaga pendidikan desain komunikasi. Sebaiknya AI digunakan sekadar alat! Jangan didewakan! Dilarang diposisikan sebagai kekuatan super. Artinya, segalanya harus ditentukan AI.
Disarankan keberadaan AI didudukkan sebagai referensi visual. AI harus ditempatkan sebagai salah satu cara pandang desainer komunikasi visual untuk menyempurnakan konsep berpikir desain.
Dengan bantuan AI, desainer komunikasi visual dimudahkan dalam mengedepankan proses berpikir kreatif lewat panduan kerja design thinking. Dari sana diharapkan mampu menghasilkan konsep problem solving komunikasi visual yang bersifat solutif, komunikatif, unik dan menarik. Semua proses itu akan bermuara pada karya desain komunikasi visual yang mengedepankan unsur kebaruan (novelties).
Jujur harus diakui, sejatinya AI merupakan hasil kerja kolaborasi digital yang salah satu kreatornya berasal dari disiplin ilmu desain komunikasi visual. Mereka menjadi pemasok untuk produk design characters, visual assets, digital assets, intellectual property, visual icons and symbols, font design, corporate colors, visual illustrations. Mereka juga menciptakan bahasa gambar berwujud simbol gift dan berlian yang menjadi objek saweran tiktok live.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menempatkan Desain Komunikasi Visual (Dekave) sebagai disiplin ilmu baru. Keberadaannya melengkapi dekapan hangat ilmu desain, ilmu komunikasi dan ilmu visual. Kolaborasi itu menjadi soko guru bagi gaya hidup baru masyarakat kontemporer.
Pada era budaya digital, dekave tidak sekadar dipandang sebagai praktik estetika semata. Mengapa? Karena eksistensi ilmu dekave bagaikan malaikat pewarta gembira. Ia mengemban tugas sosial guna memecahkan masalah komunikasi visual yang dihadapi siapapun.
Ia juga menjalankan tugas sosial lainnya sebagai problem solver dengan mempersembahkan solusi ciamik. Seperti apa solusinya? Diejawantahkan lewat proses strategi kreatif yang dikemas dalam balutan ilmu semiotika komunikasi visual. Apa kegunaannya? Tentu saja untuk memintal sekaligus menenun pesan verbal dan pesan visual yang didedikasikan kepada target sasaran.
Demi mencapai tujuan mulia itu, kehadiran ilmu dekave harus ditopang asupan makanan bergizi. Jenis gastronomi bergizi yang sangat dirindukan ilmu dekave agar terlepas dari kutukan rasa lapar dan dahaga. Berupa literatur dan ilmu bantu lainnya yang relevan. Hal ini penting diusahakan agar dapat dihubungkan ikatan kolaborasi antar literatur yang terintegrasi dan kontekstual.
Apa tugas sang literatur? Wajib memayungi kehebatan kerjasama antara ilmu desain, ilmu komunikasi dan ilmu visual. Secara politis, ia menjadi pendamping untuk hal-hal bersifat filosofis, strategis dan praktis. Ketiganya bagaikan taji runcing ayam jago yang mampu menyelesaikan masalah komunikasi visual.
Jujur harus diakui, sejatinya ilmu dekave dibangun untuk melunaskan rasa lapar dan dahaga atas karya dekave yang komunikatif, solutif, dan unik. Terpenting, eksekusi dan tampilan visualnya senantiasa mengedepankan unsur novelties.
Karena itulah, jejak digital serta publikasi digital maupun tercetak menjadi relevan. Sebab ia berfungsi sebagai teks rujukan kontekstual. Ditujukan kepada siapa? Dipersembahkan sebagai wujud sedekah ilmu dekave bagi akademisi, peneliti, mahasiswa strata satu, magister maupun program doktor. Tidak ketinggalan didedikasikan sebagai bank pengetahuan untuk praktisi profesional yang berfokus pada pengkajian atau perancangan desain.
Ilmu dekave senantiasa menggoreskan lima simpul kajian dekave guna mengekalkan janji ilmu dekave. Apakah itu? Terbaca jelas lewat upaya mengekalkan pergulatan makna pesan verbal visual di antara teks dan konteks berdasarkan kesepakatan bersama. Tidak ketinggalan, hadirnya aksentuasi kumpulan tanda verbal visual dan pesan verbal visual berikut penanda yang ada, menjadi penentunya.
Anatomi ilmu dekave sengaja didesain untuk meneriakkan hakikat karya desain komunikasi visual. Diyakini mengemuka dari hasil proses berpikir kreatif. Semuanya itu didasarkan upaya nontoni (melihat), niteni (mengamati), nambahi (menambahkan). Hal itu diajarkan Ki Hajar Dewantara sebagai modal sosial untuk masuk wilayah tafsir menafsir karya dekave yang terstruktur.
Di antaranya: pertama, pengetahuan dasar dekave. Terdiri layout, komposisi, morfologi bentuk serta spektrum warna. Kedua, semiotika komunikasi visual sebagai roh tafsir visual. Risalah ini mendudukan semiotika sebagai ilmu sekaligus metode analisis tanda dan makna. Ketiga, tipografi. Ilmu tentang bagaimana memilih dan menempatkan huruf untuk disusun menjadi pesan verbal visual.
Keempat, personal branding. Penting bagi orang dekave. Mengapa? Sebab kehadirannya merepresentasikan nilai lebih atas keahlian sang desainer. Juga menjadi petunjuk arah guna menginformasikan aspek diferensiasi desainer. Pun menunjukkan kebermanfaat atas nilai lebih serta kekuatan diferensiasi yang dimiliki desainer.
Kelima, storytelling. Kemunculannya menjadi gerbong terakhir untuk mengkreasikan pesan verbal visual. Wujudnya berupa narasi verbal visual. Hal itu menarik! Karena storytelling berfungsi sebagai ikat pinggang. Bertugas menyeimbangkan perwujudan pesan verbal visual.
Kelima ikatan literatur ilmu bantu itu diharapkan memberikan sumbangan positif. Ia berperan juga sebagai jembatan penghubung. Secara ideologis bertugas merekatkan unsur kerja konseptual pada karya dekave. Tentu dalam konteks rezim desain modern: form follows function.
Kementerian Pariwisata lewat Asisten Deputi Strategi Event menggagas aktivitas nasional. Kegiatan itu dijanjikan mampu mendorong pembangunan pariwisata berkelanjutan dalam konteks budaya visual dan ekonomi kreatif. Wujudnya seperti apa? Mereka mendaku menggalang gerakan sosial guna meningkatkan kualitas event pariwisata di Indonesia.
Konkritnya berupa apa? Mereka menggagas konsep memajukan panggung seni tradisional menuju aksi atraksi pariwisata berkelanjutan. Di dalamnya berupaya memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana karya, tradisi, dan praktik budaya visual dapat dikelola sebagai konten utama event pariwisata berkelanjutan.
Mereka berniat membekali peserta dengan perspektif dan model kebijakan yang mampu mendukung ekosistem event pariwisata berkelanjutan. Pihak Kementerian Pariwisata juga memberikan keterampilan praktis dalam hal manajemen event pariwisata berkelanjutan. Mulai dari desain visual, komunikasi visual, branding dan pemasaran, etika budaya, hingga strategi pembiayaan.
Upaya mewujudkan gagasan itu menjadi tekad nasional yang terus menerus dikawal jajaran Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata. Dalam perjalanan waktu, realitas sosial mencatat munculnya fenomena over komersialisasi. Artinya, gelombang tsunami kapitalisme global menggempur apapun yang layak dan laku dijual untuk diberi merek atas produk, barang dan jasa. Dampaknya, nilai budaya dan etika budaya tergerus perlahan dengan sangat mengkhawatirkan.
Realitas media lainnya menjejakkan catatan bernada sumbang. Akibat berkembangnya ideologi komodifikasi pada panggung seni tradisional. Dampak turunannya, keberadaannya kehilangan esensinya sebagai panggung tontonan, tuntunan dan hiburan. Dengan demikian, panggung seni tradisional sebagai medium alih wahana turun kasta.
Hal yang mengecewakan, panggung seni tradisional yang mempertontonkan representasi sastra tradisi lisan. Referensinya bersumber dokumentasi jejak adat istiadat berwujud kemasan seni pertunjukan menjadi kehilangan rohnya. Kehadirannya berorientasi sisi hiburan komersial yang sangat banal. Pertunjukan panggung seni tradisional dalam konteks ini sengaja direkonstruksi untuk meninggalkan aspek tuntunan dan hiburan mendidik dalam arti sebenarnya.
Jejak digital berikutnya terlihat menorehkan guratan memprihatinkan. Komunitas seni tradisional, budayawan bersama seniman pendukungnya ternyata hanya diposisikan sekadar objek tontonan semata. Dibayar secara sepihak dalam kesepakatan kontrak kerja sepihak. Pendeknya, mereka sengaja di casting sebagai pengisi acara dengan standar bayaran ala kadarnya.
Modus komodifikasi panggung seni tradisional semacam itu menyebabkan komunitas seni tradisional, budayawan bersama seniman pendukungnya tidak memperoleh manfaat ekonomi dalam konteks pekerja seni profesional. Parahnya lagi, komunitas panggung seni tradisional bersama budayawan dan seniman pendukungnya, yang seharusnya menjadi aktor utama, sering kali hanya berperan sekadar pengisi acara. Kehadirannya dianggap sebagai buruh kasar seni tontonan tanpa mendapatkan manfaat ekonomi maupun posisi strategis yang layak, laiknya kontrak pekerja seni profesional.
Lalu bagaimana solusinya? Potensi besar event pariwisata berkelanjutan, ternyata tidak lepas dari berbagai tantangan serius. Tanpa pengelolaan bijak dalam balutan konsep peruntungan win-win solution, event pariwisata berkelanjutan hanya bermuara pada pelabuhan bernama over komersialisasi. Dampak sosial budaya yang mengemuka, nilai budaya adiluhung atas kehebatan pesan moral seni tradisional tereduksi menjadi sekadar tontonan kualitas rendah.
Atas pertanyaan kritis di atas, dapat diurai lewat pendekatan: pertama, menjaga warisan leluhur sesuai dengan konteks gerak zaman yang melingkupinya. Kedua, melibatkan partisipasi aktif komunitas seni yang ada di sentra panggung seni tradisional dan budayawan sebagai penjaga budaya.
Ketiga, menjaga etika budaya secara konsisten dan bertanggung jawab. Keempat Kementerian Pariwisata senantiasa menyuntikan dana operasional untuk menggerakan nomor satu hingga empat. Serta memfasilitasi terbentuknya jejaring kolaboratif lintas komunitas, pemerintah, dan penyelenggara event untuk memperkuat ekosistem event pariwisata berkelanjutan.
Titik fokusnya terletak pada pengembangan seni budaya berbasis komunitas seni tradisional. Hal itu diharapkan menjadi soko guru event pariwisata berkelanjutan. Terakhir, harus dibangun jejaring sosial yang mengedepankan unsur win-win solution dalam perspektif pentahelix.