Daftar berikut ini saya buat beberapa tahun lalu, dan saya makin masih akan berguna untuk mahasiswa Indonesia yang tengah mencari-cari informasi universitas di Amerika Utara untuk studi S3/PhD.  Tolong beritahukan melalui komentar jika ada link yang putus.


ALABAMA

 


ALASKA

 


ARIZONA

 


ARKANSAS

 


CALIFORNIA

 


COLORADO

 


CONNECTICUT

 


DELAWARE

 


DISTRICT OF COLUMBIA

 


FLORIDA

 


GEORGIA

 


HAWAII

 


IDAHO

 


ILLINOIS

 


INDIANA

 


IOWA

 


KANSAS

 


KENTUCKY

 


LOUISIANA

 


MAINE

 


MARYLAND

 


MASSACHUSETTS

 


MICHIGAN

 


MINNESOTA

 


MISSISSIPI

 


MISSOURI

 


MONTANA

 


NEBRASKA

 


NEVADA

 


NEW HAMPSHIRE

 


NEW JERSEY

 


NEW MEXICO

 


NEW YORK

 


NORTH CAROLINA

 


NORTH DAKOTA

 


OHIO

 


OKLAHOMA

 


OREGON

 


PENNSYLVANIA

 


RHODE ISLAND

 


SOUTH CAROLINA

 


TENNESSEE

 


TEXAS

 


UTAH

 


VIRGINIA

 


WASHINGTON

 


WEST VIRGINIA

 


WISCONSIN

 


CANADA

 

Salah satu pertanyaan yang sering saya dengar dan terima adalah

Saya tertarik bekerja di CERN/Fermilab/<laboratorium fisika partikel lain> sebagai fisikawan partikel eksperimen. Bagaimana saya bisa menjadi fisikawan partikel eksperimen, sedangkan di Indonesia tidak ada kegiatan penelitian bidang fisika partikel eksperimen ?

atau variasi dari pertanyaan seperti itu. Jawaban untuk pertanyaan di atas adalah: Dengan menempuh program pendidikan doktor (S3) dalam bidang fisika partikel eksperimen.

In merupakan titik masuk pertama untuk karir dalam bidang fisika partikel eksperimen (FPE). Karena saat ini di Indonesia tidak ada kegiatan penelitian dalam bidang FPE, maka pendidikan doktor dalam bidang FPE harus ditempuh di luar negeri. Langkah-langkah yang diperlukan adalah:

  1. Mempersiapkan untuk menempuh pendidikan S3 dalam bidang fisika partikel eksperimen.
  2. Mencari dan mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan S3 dalam bidang fisika partikel eksperimen.

Langkah (1) secara singkat adalah menyelesaikan pendidikan pra-doktoral (S1 dan mungkin S2) yang sesuai untuk meneruskan ke S3 bidang fisika partikel eksperimen.

Mungkin sekilas tampak mustahil (Bagaimana mungkin meneruskan S3 fisika partikel eksperimen kalau di Indonesia tidak ada kegiatan penelitiannya?). Namun kenyataanya: LIMA orang Indonesia telah berhasil menyelesaikan S3 dalam bidang fisika partikel eksperimen. Jadi ada bukti nyata bahwa ini bukan hal yang mustahil. Pengalaman yang sudah menyelesaikan: Ini tidak mudah. Namun juga tidak mustahil.

Sebelum meneruskan ke artikel berikut dalam seri ini, saya rekomendasikan anda juga membaca tulisan saya tentang bekerja di CERN. Artikel tersebut memberikan ilustrasi / gambaran kasar tentang bekerja di CERN dan bagaimana mencari jalan ke arah itu.

Pertama-tama, perlu dibedakan antara bekerja di CERN dan bekerja untuk CERN:

  1. Bekerja di CERN: Ini berarti lokasi kerja adalah di CERN/Jenewa, namun tidak berarti digaji oleh CERN.
  2. Bekerja untuk CERN: Ini berarti bekerja sebagai pegawai CERN, digaji oleh CERN, dan lokasi kerja juga di CERN.

Bekerja di CERN

Untuk yang ini ada banyak sekali jalan. Yang termudah adalah dengan menjadi mahasiswa PhD atau peneliti pascadoktoral. Ada ratusan universitas dan lembaga penelitian yang aktif terlibat dalam penelitian di CERN, dan saya tidak akan bisa menuliskan semuanya disini. Penelitian-penelitian di CERN terutama dilakukan dalam bidang:

  1. Fisika partikel elementer eksperimen (Experimental particle physics).
  2. Teknologi informasi dan komputasi (Information technology and computing).
  3. Rekayasa. Terutama teknik mesin, teknik elektro, teknik fisika (Engineering. Especially: mechanical engineering, electrical and electronic engineering, engineering/applied physics). CERN memang bukan merupakan pusat penelitian dalam bidang rekayasa, namun dalam operasi sehari-hari memerlukan dukungan staf insinyur yang sangat banyak.
  4. Fisika akselerator (Accelerator physics).
  5. Fisika medis (Medical physics).

Masalah utama yang dihadapi siswa asal Indonesia adalah: Mereka tidak tahu bagaimana mencari peluang beasiswa PhD atau lowongan pekerjaan pascadoktoral bidang2 tersebut! Untuk hal ini memang harus rajin mencari.

  1. Pertama-tama, identifikasikan universitas atau lembaga penelitian yang memiliki program penelitian yang terkait dengan/berlokasi di CERN. Ini ada ratusan. Daftar komprehensif tersedia di http://greybook.cern.ch/
  2. Pikirkan apa topik penelitian dan/atau eksperimen yang ingin anda ikuti. Ada puluhan eksperimen/topik penelitian di CERN. Cari informasi tentang eksperimen seperti ATLAS, CMS, akselerator LHC, akselerator ISOLDE, etc. Beberapa sumber informasi yang saya sarankan adalah laporan tahunan CERN (http://library.web.cern.ch/library/library/AnnualReport.html), kemudian majalah CERN Courier atau Symmetry, blog fisika Quantum Diaries atau Cosmic Variance.
  3. Untuk beasiswa dari universitas, bisa mencari ke website universitas, website departemen Fisika, website lembaga pemberi beasiswa dari negara tersebut (misalnya NUFFIC untuk Belanda, DAAD untuk Jerman), atau website di portal2 fisika seperti Physics Today, Physics World. Banyak tempat tersebut juga memiliki account twitter atau facebook.
  4. Untuk posisi peneliti pascadoktoral, ini harus mencari ke portal2 pekerjaan dalam bidang fisika. INSPIRE HEPJobs, Physics Today, Physics World, program Marie Curie atau Uni Eropa, dan banyak website lab2 menyediakan informasi lowongan kerja. Demikian pula terkadang website universitas atau grup penelitian menyediakan informasi lowongan kerja.
  5. Kemungkinan besar bidang yang anda tekuni di Indonesia tidak terkait langsung dengan 5 topik inti penelitian di atas. Adalah tugas anda untuk: (a) Mencari hubungan atau kaitan meski tidak langsung atau (b) Berani berganti bidang penelitian dan keluar dari zona nyaman!

Bekerja untuk CERN

Selain point2 di atas mengenai topik penelitian/pekerjaan dan bagaimana mencarinya, perlu diingat bahwa CERN saat ini hanya menerima warganegara dari negara-negara anggota CERN sebagai pegawai tetap.

Untuk warga negara Indonesia, kesempatan kerja untuk CERN hanya tersedia melalui Fellowship program, yakni posisi kerja sementara (max 2 tahun, bisa diperpanjang 6-12 bulan). Silakan mencari informasi di website CERN bagian employment.

Terkadang ada pula program dari Marie Curie atau Uni Eropa yang membiayai posisi Fellowship, ini bisa dilihat di website Marie Curie atau Uni Eropa.

Terakhir: Google is your friend! I am just one person and I can’t answer questions from everybody. Read carefully what I wrote above, think about it, play with Google, read more, play with Google again. Ask your physics professors/teachers. There is so much information out there that it will be redundant for me to repeat here. I probably cab and more willing to help once you have a rather specific and clear plan. But if you still figuring out and don’t really know what you want: Please find out more first.


Lokasi: Ruang Sinema, Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia

Waktu: Selasa, 26 Juni 2012, 14:00 – 16:00

Pembicara: Professor Emmanuel Tsesmelis. Senior Physicist at CERN Directorate Office and Visiting Professor at Oxford University.

Abstract:

CERN is the European Laboratory for Particle Physics, the world’s largest particle physics research centre. Founded in 1954, the Laboratory was one of Europe’s first joint ventures and has become a premier example of international collaboration. CERN’s subject of study is pure science and is concentrated on exploring the Universe’s most fundamental questions, such as “What is it made of?” and “How did it come to be the way it is?” The Laboratory’s high-tech tools, its particle accelerators and particle detectors, are amongst the world’s largest and most complex scientific instruments. The Large Hadron Collider (LHC) is CERN’s latest large accelerator project and it has launched a new era of research in particle physics.

In this seminar, the Laboratory’s primary aims in fundamental discovery science, research and development for innovative technology, as well as education and training initiatives, will be presented. Opportunities for international collaboration with CERN will also be outlined.

Latar Belakang Acara:
Professor Tsesmelis adalah penasehat Direktur Jendral CERN untuk hubungan kerjasama CERN dengan negara-negara Asia Tenggara. Dalam kapasitas ini beliau telah berhasil membangun dan mewujudkan kerjasama CERN dengan Thailand dan Vietnam; dan tengah merintis kerjasama dengan Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Acara ini merupakan bagian dari kunjungan resmi Prof. Tsesmelis ke Indonesia, yang juga merupakan kunjungan resmi pertama wakil CERN ke Indonesia. Adalah sebuah kehormatan bagi Universitas Indonesia untuk menjadi kampus universitas pertama dan satu-satunya yang dikunjungi dalam kesempatan ini.

Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Duta Besar RI di Jenewa untuk PBB dan Organisasi Internasional pada tanggal 9 Januari 2012. Foto-foto kunjungan tersebut dapat dilihat di website resmi CERN.

http://cdsweb.cern.ch/record/1416348

Dalam kunjungan ini acara Prof. Tsesmelis meliputi:

– Audiensi dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi.
– Audiensi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
– Audiensi dengan Pimpinan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
– Audiensi dengan Pimpinan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI).
– Kunjungan ke fasilitas dan laboratorium penelitian LIPI dan BATAN di Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek Serpong).
– Kuliah umum dan ramah tamah dengan sivitas Universitas Indonesia.

Tanggal 30 Maret 2010  sekitar pukul 1 siang Geneva (6 sore Jakarta), tim operasional CERN LHC berhasil menumbukkan proton-proton pada energi 7 TeV untuk pertama kalinya. Siaran pers dari CERN bisa dilihat dibawah ini.

http://press.web.cern.ch/press/PressReleases/Releases2010/PR07.10E.html

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, kini saatnya untuk mulai melihat dan menganalisis data … eksperimen LHC akan berjalan selama 10-20-30 tahun sehingga rekan-rekan muda yang membaca posting ini dapat berpartisipasi kelak di masa depan.

Berita ini disampaikan melalui siaran pers Humas CERN tanngal 23 Maret 2010 :

http://press.web.cern.ch/press/PressReleases/Releases2010/PR06.10E.html

Ringkasan: CERN telah mengumumkan bahwa pada tanggal 30 Maret LHC akan
mencoba untuk menumbukkan berkas partikel pada energi total 7 TeV pada tanggal
30 Maret 2010. Media-media massa besar dari seluruh penjuru dunia telah
merencanakan liputan langsung acara ini.

Direncanakan akan diselenggarakan webcast langsung dari lokasi CERN di Geneva.

http://webcast.cern.ch/lhcfirstphysics/
http://press.web.cern.ch/press/lhc-first-physics/schedule/webcast/

CMS juga akan berpartisipasi, perhatikan situs berikut ini:

http://cms.web.cern.ch/cms/News/2010/7TeVCollisions.html

Tanggal 3 Februari CERN mengumumkan secara resmi rencana pengoperasian LHC untuk tahun 2010-2011.  LHC akan dijalankan secara terus menerus selama 18 hingga 24 bulan pada energi 7 = 3.5 + 3.5 TeV. Kemudian LHC akan memasuki tahap istirahat panjang (diperkirakan sekitar 1 tahun) untuk memperbaiki dan mempersiapkan LHC untuk beroperasi pada energi 14 = 7 + 7 TeV.

Terdapat beberapa pertimbangan teknis, logistik, maupun prospek masa depan riset yang mendasari keputusan ini. Penjelasan lengkap dapat dilihat pada slide dalam presentasi dari manajemen CERN kepada warga CERN tanggal 5 Februari lalu.

http://indico.cern.ch/conferenceDisplay.py?confId=83135

Keputusan ini memiliki beberapa arti:

– Masa pengoperasian yang panjang memberi kesempatan bagi eksperimen LHC (ALICE, ATLAS, CMS, LHCb) untuk mempelajari dan melakukan kalibrasi detektor.

– Jangkauan / kemampuan LHC untuk membuktikan keberadaan/ketidakberadaan Higgs menurun dibandingka jika LHC beroperasi pada 7+7 TeV. Demikian pula dengan pencarian partikel baru seperti dimensi ekstra, supersymmetry, dan lain-lain.

– Data dari masa pengoperasian yang panjang ini akan cukup untuk ratusan disertasi, paper, dan analisis  dengan berbagai topik. Analisis data fisika partikel eksperimen membutuhkan waktu sangat lama, antara beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Sebagai contoh, hingga tahun 2010 masih ada paper baru diterbitkan dari eksperimen terkait akselerator LEP di CERN yang resmi ditutup pada tahun 2000! Meskipun LHC masuk ke dalam masa istirahat panjang setelah 2010-2011, tidak berarti fisikawan LHC akan berhenti melakuan penelitian. Analisis data akan dimulai semenjak hari pertama data direkam, dan akan terus berlangsung hingga lama setelah pengambilan data berakhir.

– Dan tentunya .. masa-masa 18 hingga 24 bulan mendatang akan merupakan salah satu masa paling sibuk, berat, dan penuh tantangan.   Tidak hanya bagi saya, tapi bagi seluruh anggota masyarakat LHC, baik di CERN maupun seluruh dunia!

Tahun 2010 akan menjadi tahun awal dari masa berlangsungnya eksperimen fisika di CERN LHC, sebuah masa yang diperkirakan berjalan paling tidak 10-15 tahun bahkan bisa hingga 20 atau 30 tahun. Masa-masa dimana penemuan-penemuan besar dalam fisika partikel akan terjadi. I’m looking forward to be part of those times when discoveries and histories in physics are being made.

Pada bagian kedua dari seri tulisan ini, saya akan memberikan contoh nyata tentang perbedaan antara mempelajari sains dan menekuni sains. Contoh ini menurut saya sederhana dan bisa dicerna banyak orang, namun memberikan ilustrasi yang sangat tepat dengan perbedaan antara mempelajari sains dan menekuni sains.

Problem yang dihadapi atau ilmu yang dikuasai adalah Bahasa Inggris. Sebagian pembaca artikel ini saya yakin tahu Bahasa Inggris meski tingkat penguasaannya berbeda-beda.

Situasi pertama:

A adalah seorang Indonesia yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Kemudian A memutuskan untuk mempelajari Bahasa Inggris dengan mengikuti kursus Bahasa Inggris.
  • A menghadiri kuliah yang diberikan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tentang Bahasa Inggris.
  • A memiliki akses dan dibolehkan membaca buku tentang aturan tatabahasa Bahasa Inggris (English grammar) dalam edisi dwibahasa (yakni menjelaskan tatabahasa Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia). A juga dibolehkan membaca kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris.
  • A dibolehkan membaca buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam bidang ilmu selain Bahasa Inggris (sejarah, matematika, politik, komputer, antropologi, dll).
  • A dibolehkan untuk berbicara dengan orang-orang yang menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dan dibolehkan bertanya kepada orang-orang tersebut tentang Bahasa Inggris dan bidang ilmu selain Bahasa Inggris.
  • A dibolehkan menonton film/televisi, mendengarkan radio/musik/CD dalam Bahasa Inggris.
  • A dibolehkan mengamati kegiatan orang-orang yang berbahasa Inggris disekitarnya, dan membandingkan pembicaraan mereka dengan perilaku mereka.

Situasi Kedua:

B adalah seorang Indonesia yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Sekarang B ditempatkan di sebuah negara yang berbahasa Inggris.

  • B hanya dibolehkan berbicara kepada orang-orang di negara tersebut dalam Bahasa Inggris dan tidak dengan bahasa lain (termasuk bahasa isyarat/tarzan, jadi misalnya B tidak boleh menunjuk suatu benda dan menanyakan apa kata Bahasa Inggris untuk benda tersebut).
  • B tidak memiliki akses dan tidak dibolehkan membaca buku tentang aturan tatabahasa Bahasa Inggris (English grammar) dalam edisi dwibahasa (yakni menjelaskan tatabahasa Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia). B tidak dibolehkan membaca kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris. B hanya dibolehkan membaca buku English grammar dalam Bahasa Inggris dan kamus Bahasa Inggris yang juga menggunakan Bahasa Inggris.
  • B dibolehkan membaca buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam bidang ilmu selain Bahasa Inggris (sejarah, matematika, politik, komputer, antropologi, dll).
  • B dibolehkan untuk berbicara dengan orang-orang yang menguasai Bahasa Inggris saja, atau orang-orang yang menguasai Bahasa Indonesia saja, dan dibolehkan bertanya kepada orang-orang tersebut hanya tentang bidang ilmu selain Bahasa Inggris.
  • B dibolehkan menonton film/televisi, mendengarkan radio/musik/CD dalam Bahasa Inggris.
  • B dibolehkan mengamati kegiatan orang-orang yang berbahasa Inggris disekitarnya, dan membandingkan pembicaraan mereka dengan perilaku mereka.
Permasalahan yang dihadapi A dan B adalah sama:
Mendapatkan pengetahuan lengkap tentang Bahasa Inggris baik dari segi tatabahasa, kosa kata, pengucapan, dan lain sebagainya.
Sekarang renungkan sejenak. Menurut saya: A jelas berada pada situasi yang lebih mudah. B berada pada situasi yang lebih sulit, dan perbedaan kesulitan yang dihadapi B dibandingkan A adalah bagaikan perbedaan langit dan bumi. Situasi pertama yang dihadapi A adalah analog dengan mempelajari sains. Situasi kedua yang dihadapi B analog dengan menekuni sains. Bahkan jika A ditempatkan pada situasi dimana A harus mempelajari bahasa yang relatif lebih sulit dikuasai dari Bahasa Inggris (misalnya Bahasa Rusia, Bahasa Cina, Bahasa Jepang, dll), menurut saya tetap situasi yang dihadapi A relatif lebih mudah dibandingkan situasi yang dihadapi B.
Jika kita sudah melihat situasi B, sekarang apakah yang B bisa lakukan agar dia dapat berhasil menyelesaikan tugasnya untuk menguasai Bahasa Inggris. Jawabannya adalah:
B harus menguasai ilmu dan metode untuk mempelajari bahasa baru yakni ilmu dan metode linguistik (linguistics). Linguistik adalah ilmu yang mengkaji tentang bahasa secara umum, tanpa memandang secara khusus bahasa apa yang dipelajari. Untuk mengetahui lebih jauh tentang linguistics, silakan mengecek artikel Wikipedia (dalam Bahasa Inggris) dibawah ini:
Jika B menguasai linguistik, maka B dapat mengkaji Bahasa Inggris yang digunakan orang-orang disekitarnya dengan sistematik dan menggunakan metode linguistik yang telah teruji. B kemudian dapat merumuskan aturan tatabahasa Bahasa Inggris, aturan pengucapan kata-kata dalam Bahasa Inggris, kamus dan kosakata Bahasa Inggris, dan lain-lain.
Jika B tidak menguasai linguistik, maka B bisa saja mencoba-coba berbagai pendekatan untuk mencapai tujuannya, namun jelas bahwa B akan menemui kesulitan yang lebih besar dibandingkan jika B telah menguasai ilmu linguistik dan menggunakan metode linguistik. Bisa jadi bahwa pada akhirnya B akan menemukan ilmu dan metode linguistik itu sendiri sebelum dia menerapkan ilmu dan metode linguistik tersebut pada permasalhan untuk menguasai Bahasa Inggris! Sekarang problem B telah berlipat ganda: Dia tidak hanya harus menemukan dan menguasai Bahasa Inggris, namun dia juga harus menemukan dan menciptakan ilmu dan metode linguistik.

Jadi dari diskusi di atas disimpulkan bahwa B sebaiknya telah menguasai linguistik sebelum ditempatkan di negara asing tersebut. Jika B belum menguasai linguistik dan telah ditempatkan di negara asing tersebut, B sebaiknya mempelajari linguistik, sambil menerapkan ilmu dan metode linguistik yang tengah dipelajarinya untuk mempelajari Bahasa Inggris dari orang-orang di sekitarnya.
Kemudian, bahkan jika B telah menguasai linguistik, masih ada banyak masalah yang muncul dalam usaha B untuk mempelajari Bahasa Inggris:
  • Tidak semua orang menggunakan Bahasa Inggris dengan tatabahasa yang baku dan benar. B mungkin akan bingung jika dia mendengar dua kelompok menggunakan ekspresi yang berbeda untuk maksud yang sama. Kalangan yang menggunakan Bahasa Inggris baku berkata “I want to go to school“, sementara kalangan yang menggunakan Bahasa Inggris yang tidak baku berkata “I wanna go to school“. Bagi orang yang tidak tahu, sulit untuk menentukan mana diantara kedua bentuk ini yang benar.
  • B yang latar belakangnya adalah Bahasa Indonesia, tidak mengetahui beberapa karakteristik khusus Bahasa Inggris yang tidak ditemui dalam teori linguistik Bahasa Indonesia seperti: Bahasa Indonesia menggunakan pola DM (Diterangkan-Menerangkan, misalnya meja bundar), namun Bahasa Inggris menggunakan pola MD (Menerangkan-Diterangkan, misalnya round table). Bahasa Indonesia tidak mengenal gender untuk kata ganti orang ketiga (dia dalam Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk laki-laki atau perempuan, sementara dalam Bahasa Inggris she digunakan untuk perempuan dan he digunakan untuk laki-laki). Bahasa Indonesia menggunakan banyak sekali awalan, imbuhan, dan akhiran, sementara Bahasa Inggris tidak. Jika B tidak segera menyadari adanya kemungkinan perbedaan semacam ini, sangat mungkin sekali B akan tersangkut dan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memahami hal yang sekilas tampak mudah dan sepele seperti perbedaan antara MD dan DM.
  • Kemudian B sekali lagi yang latar belakangnya Bahasa Indonesia, belum tentu menyadari adanya perbedaan antara penulisan dan pengucapan dalam Bahasa Inggris. Kasus sederhana mengapa kata Bahasa Inggris “run” dibaca “ran”, sementara kata Bahasa Inggris “put” dibaca “put”, bisa jadi sangat membingungkan.
Dari situasi dan persoalan yang dihadapi A dan B, kita bisa menarik beberapa ciri-ciri:
  1. Situasi yang dihadapi B secara umum jauh lebih sulit dari situasi yang dihadapi oleh A.
  2. Yang dapat dilakukan oleh B sebelum memulai tugasnya adalah mempersiapkan dan membekali diri dengan ilmu dan metode untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
  3. B akan menghadapi berbagai situasi dan perbedaan antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, yang meski nampak mudah/trivial bagi mereka yang sudah mengetahui, akan nampak sulit/non-trivial bagi B yang sama sekali tidak mengetahui tentang Bahasa Inggris.
Ciri-ciri situasi yang dihadapi B, merupakan salah satu bentuk nyata dari ciri-ciri umum pekerjaan menekuni sains, namun sudah dikhususkan hanya untuk kasus mempelajari Bahasa Inggris. Masih ada beberapa contoh situasi lain yang akan saya jelaskan dalam seri tulisan ini.

Kurangnya kegiatan dalam pembelajaran sains maupun penelitian sains di Indonesia, kelihatannya menyebabkan sangat sedikit orang yang menyadari bahwa ada perbedaan besar antara ‘Belajar Sains’ (Learning Science) dan ‘Menekuni Sains’ (Doing Science). Bahkan tidak semua orang saintis senior di Indonesia menyadari perbedaan ini. Atau kalaupun ada yang menyadari, tidak semuanya dengan terbuka berbicara dengan calon saintis muda tentang perbedaan ini. Mungkin karena keterbatasan waktu, kesibukan lain, atau alasan sendiri-sendiri.

Menurut saya perbedaan ini sangat penting untuk diketahui para kaum muda yang tengah mempertimbangkan untuk menekuni sains ataupun yang sudah menekuninya. Disini saya mendefinisikan ‘sains’ secara luas sebagai ilmu, baik itu ilmu dasar, ilmu kesehatan, ilmu rekayasa, ilmu sosial, ilmu budaya, dan lain-lain.

Perbedaan ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

Dalam belajar sains (learning science), tujuan utama adalah penguasaan pengetahuan yang sudah ada.

Dalam menekuni sains (doing science), tujuan utama adalah menghasilkan pengetahuan baru sebagai tambahan kepada pengetahuan yang sudah ada.

Anda mungkin sudah pernah membaca atau mendengar variasi dari pernyataan di atas. Namun pada umumnya anda belum mendengar dengan detail bagaimana sebenarnya bentuk nyata dari pernyataan di atas tersebut. Kedua proses di atas saling terlibat, dimana seseorang yang tengah menekuni sains selalu telah, atau tengah mempelajari sains. Lebih lanjut, pada umumnya orang yang sukses dalam menekuni sains, juga selalu sukses dalam mempelajari sains, namun relasi yang sama tidak berlaku ke arah yang berlawanan: Belum tentu orang yang sukses dalam mempelajari sains akan sukses dalam menekuni sains. Jadi mempelajari sains adalah prasyarat untuk menekuni sains, namun bukan merupakan satu-satunya prasyarat.

Jika saat ini anda masih mahasiswa program sarjana atau magister yang tengah menjalani perkuliahan, berkutat dengan pekerjaan rumah + laporan praktikum + karya tulis + laporan kerja praktek + tugas tugas lain yang banyak, anda berada pada tahapan mempelajari sains (learning science). Sesulit dan sebanyak apa pun tugas yang anda kerjakan, anda tahu bahwa terdapat penyelesaian dan jawaban di belakang tugas-tugas perkuliahan.

Namun untuk anda yang tengah melakuan penelitian untuk menyelesaikan atau menjawab sebuah persoalan, maka anda berada pada tahapan menekuni sains (doing science). Pada tahapan ini, umumnya satu atau lebih dari point-point dibawah ini berlaku:

  • Tidak ada jaminan bahwa persoalan yang dihadapi memiliki penyelesaian.
  • Jika persoalan yang dihadapi memiliki penyelesaian, tidak ada seorang pun yang mengetahui penyelesaian di belakang persoalan yang dihadapi. Bahkan tidak seorang doktor, profesor, ataupun pemenang Hadiah Nobel.
  • Tidak ada jaminan bahwa cara atau teknik atau pendekatan yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah cara/teknik/pendekatan yang paling optimal.
  • Dalam sangat banyak kasus, penyelesaian untuk persoalan yang dihadapi memerlukan kerja yang melelahkan, tampak sangat membosankan dan tidak menarik, namun harus dilakukan jika ingin mendapatkan penyelesaian.
  • Terkadang, ada orang lain yang tengah menekuni persoalan yang sama, dan orang lain tersebut berhasil menyelesaikan persoalan itu lebih dahulu, dan orang itulah yang mendapat pengakuan sebagai orang pertama yang menyelesaikan persoalan yang ditekuni.
  • Bahkan jika pada akhirnya penyelesaian dari persoalan yang dihadapi berhasil didapatkan, belum tentu penyelesaian tersebut dinilai tinggi. Terlebih sering, penyelesaian tersebut menuntut pekerjaan lebih lanjut dan lebih dalam.

Kalau sudah membaca point-point tentang menekuni sains, mungkin ada yang berpikir “Wow. Kalau begitu menekuni sains merupakan kegiatan yang sangat berat dan menantang.” Memang betul! It is a very demanding and challenging activity. Banyak saintis senior kurang menekankan dan mengajarkan kepada calon saintis muda betapa beratnya kegiatan sains tersebut. Meski berat dan menantang, ada langkah-langkah persiapan yang bisa dilakukan calon saintis muda selama tahapan mempelajari sains agar mereka lebih siap dalam menekuni sains. Langkah-langkah persiapan tersebut sebenarnya tidak sangat sulit, dan (menurut saya) bisa dilakukan di Indonesia.

Sayangnya, sekali lagi, tidak terlalu banyak saintis senior yang mau bercerita kepada dan membimbing calon saintis muda tentang langkah-langkah tersebut. Yang sering saya lihat baik di Indonesia dan mancanegara adalah para saintis senior yang terlalu bergairah mengundang kalangan muda untuk menekuni sains, namun kurang memberikan bimbingan dan gambaran yang jujur tentang situasi yang sebenarnya tentang menekuni sains. Yang terjadi adalah: Ada banyak kalangan muda yang berbondong-bondong masuk ke program pascasarjana master dan doktor, namun kebanyakan dari mereka tidak siap dan menghadapi banyak masalah selama program pascasarjananya. Kabar mengenai masalah dalam program pascasarjana ini kemudian ditafsirkan secara negatif menjadi: studi pascasarjana sains sangat berat dan susah, sehingga akhirnya orang menjadi tidak tertarik untuk menekuni sains. Keadaan akhirnya pada akhirnya merupakan titik keseimbangan antara faktor positif dari antusiasme, promosi, dan undangan untuk menekuni sains, dan faktor negatif karena kurangnya bimbingan saintis senior kepada calon saintis muda tentang situasi sebenarnya dalam menekuni sains. Menurut saya, jika faktor negatif dapat dikurangi dengan meningkatkan bimbingan dan memberikan pandangan yang jujur kepada calon saintis muda tentang menekuni sains, kondisi akhirnya adalah calon saintis muda lebih siap untuk masuk ke dalam program pascasarjana dan menekuni sains. Mereka juga akan menjadi lebih produktif dan efektif selama masa belajar di program pascasarjana, sehingga bisa diharapkan untuk menghasilkan lebih banyak karya sains.

Mungkin ada juga yang sudah membaca namun masih belum yakin atau mengerti, saya akan memberikan beberapa contoh dan analogi untuk membandingkan antara mempelajari sains dan menekuni sains.  Mengenai langkah-langkah persiapan calon saintis muda untuk menekuni sains, dan contoh untuk membandingkan antara mempelajari sains dan menekuni sains, akan dibahas pada bagian selanjutnya dari seri tulisan ini.

Catatan: Tulisan ini diinspirasi dari sebuah artikel opini “The importance of stupidity in scientific research”, yang dapat diambil dari situs dibawah ini

http://jcs.biologists.org/cgi/content/full/121/11/1771

Di CERN, hari kerja resmi dimulai pada tanggal 4 Januari lalu.  Meski pada prakteknya — pegawai CERN banyak yang masih cuti (resmi).  Sementara itu fisikawan dengan status peneliti tamu (visitor) seperti saya, banyak yang masih bekerja dari kampusnya masing-masing yang terletak di seluruh penjuru dunia.

Tanggal 11 Januari, Dirjen CERN Profesor Rolf-Dieter Hauer memberikan pidato dan presentasi tahun baru kepada seluruh warga CERN. Rekaman video maupun slide dari presentasi beliau bisa diambil dari situs ini:

http://indico.cern.ch/conferenceDisplay.py?confId=78316

Salah satu hal penting dalam rencana CERN tahun 2010 adalah mengoperasikan LHC untuk menghasilkan data dalam jumlah yang cukup banyak. Cukup disini berarti memberikan peluang bagi LHC untuk melewati Tevatron/Fermilab dalam upaya pencarian Higgs ataupun partikel baru. Menurut saya rencana itu tampak berani dan optimis, karena rencana yang saya dengar tahun lalu yang saya dengar rencana aslinya tidak seoptimis rencana tahun ini. Namun saya sebagai warga CERN tentu mendukung dan gembira dengan rencana tersebut.

Hari Jum’at 15 Januari, Prof. Heuer juga menyampaikan imbauan kepada warga CERN untuk mendonasikan sumbangan kepada upaya dompet kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Haiti. Sebuah bank Swiss besar yang memiliki kantor cabang di CERN, UBS AG, telah membuka rekening khusus untuk dompet kemanusiaan untuk Haiti. Marilah kita sama-sama memberikan apa yang bisa kita berikan kepada para korban, dan senantiasa mensyukuri bahwa kita masih berada dalam kondisi dan situasi yang jauh lebih baik.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai