ingin titipkan pada malam…
untuk semua kelam yang pernah tersulam
ketika jatuh dan jatuh hingga palung dalam
lalu pasrah pada deras hujan yang dendam menendam
……..(mencari semua yang mampu meredam)
ingin titipkan pada malam…
untuk semua kelam yang pernah tersulam
ketika jatuh dan jatuh hingga palung dalam
lalu pasrah pada deras hujan yang dendam menendam
……..(mencari semua yang mampu meredam)
Menyambut sunyi
Yang kian menjadi……
Menunggu sepi
Yang telah menepi…..
Tak harus bersama di ujung keindahan
Tak mesti terhimpun diruang keriangan
Sedang ingin sendiri….
Menikmati sepi
……………
Lama….kemana berhembus…
lama….dimana bersembunyi…
melupakan sebentuk ruang
Seperti lelaki renta berjalan pulang
Mencari rumah dan halamannya
Bertanya pada pepohon
Yang semakin kuning diterpa
Pucat cahaya sore…
Menggali kembali ladang ingatannya
Menyelam kembali lautan memorinya
Seperti lelaki renta berjalan pulang
Mencari rumah dan halamannya
Yang sesengguhnya tak pernah
Ia tinggalkan…
(dari Puisi-puisi tak berbingkai)
Menemukan wajah pagi
Saat mentari telah jauh mendaki
Mendapati mekar bunga
Pada padang di musim belukar
Terbaca riuh di pantai kosong
Dengan sepi ombak menepi
Selami dalam, lautannya hati
Bolakbalik wajahnya keputusan
Ternyata tidak
Ternyata mungkin
Menemukan syair,
Saat puisi tertutup
(dari kumpulan ‘puisi-puisi tak berbingkai’)
Sesempurna apapun Persiapan untuk sebuah perpisahan
Sebentuk apapun rasa yang Dijaga pada sebuah persimpangan
Selalu saja terasa Tak utuh ruang yang dilapangkan
…..
Selalu saja ada sewujud kehilangan
Yang menyergap Menyandera batin
Deras mengaliri loronglorong
Menerjang hancur
Runtuh kepingkeping bening
Kaca sepasang jendela
(dari buku Kumpulan Puisi-Puisi Tak Berbingkai)
Telah ku cari di setiap sudut penjuru pulau
Telah ku datangi pada semua tepian sungai
Pada tempattempat yang mungkin pernah kau singgahi dan berteduh
Pada dermagadermaga yang bisa jadi pernah kau labuhkan sauhmu
…
belum
tidak juga kutemukan…
Padahal pada setiap senja dengan unggasunggas yang terbang pulang
selalu ku paksakan hening, barang kali ada tercecer tentang mu dari celotehceloteh
Juga di selalu tujuan angin berhembus yang menembus malam dan gelap
kan kupastikan kupasangkan perangkap, siapa tahu dapat menangkap ‘mu’
meski hanya sebatas kabar…
‘ buat sahabatsabahatku yang entah dimana….,
Semoga di suatu titik waktu, pada sebuah koordinat ruang, garisgaris bersinggungan’
Pernah lebih sering kau ajak masuki ruang bilikmu
Banyak tergantung lukisanlukisan mempesona
Namun tidak sedikit juga siluetsiluet nan getir
Yang kadang sengaja kau sembunyikan di lengkung senyum
Pernah lebih sering kita membahas satupersatu siluetmu
Yang masih ragu kau tunjukkan kepada ku
Hingga semua kata telah habis
Lalu kita hanya diam membisu
Tinggal tiktok jam dinding di bilikmu
Pernah lebih sering aku rindu
Pada ruangan di bilikmu
Pada lukisanlukisanmu yang sering membuatku takjuk
Pada sunyi kegetiranmu yang kau sembunyikan diderai tawa
Entah…..
Takdir waktu telah menutup pintupintu kita
Entah kapan kan terbuka lagi…..
Entah mungkin telah dengan sengaja kita menghilangkan kuncikuncinya
kemana puisi…
yang menjadi syair penghantar hangat pagi
menggoda ilalangilalang basah dengan menggayutkan cahaya pada puncakpuncaknya
kemana puisi…
yang menggubah deru ombak menjadi nyanyian pantai
dengan gesekan helai daun sebagai iringan nada…
….
rumahrumah, ruangruang yang menyimpan kata sedang terkunci rapatrapat
detikdetik yang tanggal tidak menyisakan ruang kosong
hari berakhir dengan hari tak ada punya
…..sungguh, lagi diserempet waktu
sepotong hari yang letih
dari siang yang peluh…
kadang lebih terobati pada selembar merah senja
yang hadir dengan bayangbayang malam..
…
maka,
senja..biarkan senja
menutup hari lelah
Komentar