Model Vensim Siklus Komoditas

July 9, 2009 at 5:41 am (Uncategorized)

model vensim siklus komoditas

Permalink Leave a Comment

Laporan Siklus Komoditas

July 9, 2009 at 5:36 am (TuBeS siSDiN)

1.  Pendahuluan

Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut mempengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa yang akan menentukan harga dan bagaimana harga, pada gilirannya akan menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya. Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan dalam skala makro, dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama (ceteris paribus). Kebalikan dari ekonomi mikro ialah ekonomi makro, yang membahas aktivitas ekonomi secara keseluruhan, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan, serta dampak atas beragam tindakan pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap hal-hal tersebut.

Barang komoditas memiliki beberapa karakteristik meliputi :

  1. Tidak dapat dibedakan, karena itu tidak ada satu produsen manapun yang mampu mendapatkan harga yang lebih tinggi atau waktu penjualan yang lebih baik dengan cara mengiklankan/promosi atau dengan cara memodifikasi produk.
  2. Biaya variabel produksi (pekerja dan material) adalah kecil apabila dibandingkan dengan biaya tetapnya. Dengan demikian dalam jangka waktu yang singkat, output komoditas akan cenderung tidak sensitif dengan perubahan harga.
  3. Dalam pandangan pengguna barang komoditas, harga komoditas hanya merupakan sedikit bagian dari biaya akhir produk. Oleh karena itu, dalam jangka waktu yang pendek harga konsumsi cenderung inelastis.

Hampir lebih dari 20 komoditas penting (sebagai contoh ; minyak, coklat, gula dan timah) berpindah tangan dalam perdagangan komoditas. Jumlah perdagangan komoditas berkontribusi besar terhadap pendapatan dari pertukaran dengan pihak luar, pada umumnya lebih ekonomis apabila dilakukan dengan negara berkembang. Telah kita ketahui bersama bahwa harga dan tingkat produksi dari barang komoditas adalah tidak stabil dan terkadang menjadi beragam dari 1 tahun ke tahun berikutnya, kisaran ragam/variasi yang ada mulai dari 5 sampai 25 persen. Siklus produksi komoditas menyebabkan beberapa kesulitan untuk pihak produsen, distributor, manufaktur maupun pihak konsumen. Beberapa negara dan agen internasional telah menginvestasikan usaha-usaha untuk menstabilkan variasi siklus komoditas tersebut. Dan belum ada pihak yang sudah berhasil dalam usaha untuk menstabilkan tersebut, bahkan kebanyakan dari mereka benar-benar tidak mendapatkan keuntungan dari usaha yang telah dilakukan.

2.  Deskripsi Sistem

Sistem yang akan dibangun adalah dalam lingkup penggambaran siklus komoditas, meliputi beberapa entitas dan juga isu yang terlibat di dalamnya. Persoalan sistem yang akan dibahas adalah berdasarkan pada interaksi di antara 3 sektor pasar, meliputi; produksi, distribusi dan konsumsi, dari barang komoditas. Harga menghubungkan tiga sektor tersebut. Produsen mencoba untuk mengatur kapasitas produksi untuk memaksimalkan level keuntungan dengan melihat harga pasar. Distributor mencoba untuk mengatur harga pasar dengan menjaga suatu persediaan yang optimal. Sedangkan pada pihak konsumen memberikan respon konsumen untuk harga pasar, yaitu dengan cara mencoba untuk memaksimalkan utilitas mereka.

Untuk mengembangkan persoalan simulasi dari siklus komoditas produksi, beberapa informasi yang dimiliki meliputi :

  • Hubungan antara persediaan distributor dengan harga (price lookup) dispesifikasikan dengan beberapa pasangan nilai, seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Nilai tengah dapat ditentukan dengan interpolasi linear.

Tabel 1  Nilai Price Lookup yang Dihubungkan dengan Inventori Distributor

Inventori Distributor (unit)

0

2000

4000

6000

8000

10000

Harga (* Rp 10.000,-)

100

94

80

50

20

10

  • Hubungan antara harga dengan konsumsi per kapita (consumption lookup) dispesifikasikan dengan beberapa pasangan nilai, seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Nilai tengah dapat ditentukan dengan interpolasi linear.


Tabel 2  Nilai Consumption Lookup Yang Dihubungkan Dengan Harga

Harga (* Rp 10.000,-)

0

20

40

60

80

100

Konsumsi per Kapita (Puluhan Ton)

8

6

4

2

1

0

  • Hubungan antara harga yang diharapkan dengan kapasitas produksi yang diinginkan (production capacity lookup) dispesifikasikan dengan beberapa pasangan nilai, seperti ditunjukkan pada Tabel 3. Nilai tengah dapat ditentukan dengan interpolasi linear.

Tabel 3  Nilai Production Capacity Lookup yang Dihubungkan dengan Konsumsi per Kapita

Harga yang Diharapkan

(* Rp 10.000,-)

0

20

40

60

80

100

Kapasitas Produksi yang Diinginkan (Puluhan Ton)

0

40

200

1000

1200

1500

  • Besar populasi konsumen dari produk komoditas diketahui sebesar 200 (dalam ribuan) sektor.
  • Kapasitas awal produksi adalah sebesar 600 (Puluhan Ton) per bulan, dan simpanan distributor awal adalah 6000 (Puluhan Ton).
  • Harga komoditas memiliki rata-rata pemulusan eksponensial dari harga, dimana tingkat pemulusannya tetap dan nilai delay selama 5 bulan.
  • Kapasitas pendapatan sama dengan selisih antara perkiraan kapasitas produksi dan kapasitas produksi dibagi dengan delay didapatkannya kapasitas, yaitu sebesar 4 bulan.
  • Nilai inisiasi yang terdapat pada produksi adalah sama dengan kapasitas produksi.
  • Nilai produksi diketahui sebesar sepertiga delay pemesanan eksponensial dari tingkat inisiasi, waktu delaynya merupakan delay produksi yaitu sebesar 12 bulan.

Pada kenyataannya, sistem produksi komoditas biasanya terdapat beberapa “noise” dalam prosesnya. Sebagai contoh adanya perubahan cuaca atau perselisihan/kekacauan dari penduduk yang menyebabkan fluktuasi acak pada produksi atau konsumsi komoditas. Diasumsikan bahwa besarnya nilai noise diawali dari waktu 0,5 sampai 10 bulan.


3.  Perumusan Masalah

Persoalan ini dipandang hanya dari sudut mikroekonomi saja, dengan melibatkan 3 entitas, yaitu produsen, distributor dan konsumen. “Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjual belikan”.

Isu yang diangkat pada kasus ini adalah adanya hubungan sebab akibat yang terjadi akibat interaksi antara harga dengan ketiga pihak di atas berdasarkan prinsip ekonomi, dimana harga merupakan parameter yang dijadikan pertimbangan utama oleh ketiga pihak untuk menentukan kebijakan.

Permasalahan ini akan coba kami simulasikan dengan menggunakan software vensim untuk mengetahui hubungan kebijakan antara ketiga pihak pelaku ekonomi tersebut dan untuk mencari kondisi keseimbangan antara permintaan dan penawaran dari ketiga pihak yang terlibat (produsen, distributor, dan konsumen).

3.  1              Asumsi Sistem

Dalam memodelkan permasalahan siklus komoditas tersebut, terdapat beberapa asumsi yang digunakan untuk membatasi ruang lingkup sistem agar sesuai dengan kapasitas pembahasan sistem. Beberapa asumsi yang digunakan dalam sistem adalah sebagai berikut :

  1. Hal-hal mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan, serta dampak atas beragam tindakan pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap persoalan di atas, diabaikan.
  2. Kapasitas produsen dan distributor dalam melayani konsumen tidak terbatas.
  3. Kemampuan daya beli konsumen tidak terbatas.
  4. Harga merupakan pertimbangan utama ke tiga pihak (produsen, distributor, konsumen ) dalam pengambilan keputusan.
  5. Komoditas bersifat non-perishable (tidak mudah rusak).
  6. f.      Produsen merespon permintaan konsumen secara make to stock.

4.  Pemodelan Sistem

  1. Rich Picture

Penggambaran sistem agar lebih mudah untuk dipahami disajikan dalam bentuk rich picture pada gambar 1 berikut.

Gambar 1 Rich Picture Siklus Komoditas

  1. Feedback Diagram

Feedback diagram menggambarkan hubungan keterkaitan antar komponen yang terdapat dalam perputaran siklus komoditas, yaitu melibatkan perputaran komoditas dari pihak konsumen, pihak produsen (perusahaan) maupun pihak distributor sebagai penyalur barang komoditas itu sendiri. Hubungan antar ketiga komponen tersebut lebih jelasnya diuraikan pada penjelasan berikut :

▪         Komponen konsumsi

Tingkat konsumsi komoditas konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi :

  1. Banyaknya konsumen yang sama-sama menggunakan komoditas, yang selanjutnya disebut sebagai populasi.

Semakin banyak populasi maka tingkat penggunaan komoditas akan semakin bertambah, begitu juga sebaliknya, populasi yang sedikit akan mengakibatkan  semakin berkurangnya penggunaan komoditas.

Misalnya :

▪        Konsumsi BBM di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya volume kendaraan di jalan raya.

▪         Dengan semakin berkurangnya tingkat hunian di hotel setelah masa liburan berakhir, maka akan mengurangi penggunaan sumber daya hotel

Gambar 2 Hubungan Populasi dengan Penggunaan Komoditas

  1. Adanya gangguan (noise)

Noise/gangguan di sini merupakan suatu nilai yang mempengaruhi fluktuasi penggunaan komoditas oleh konsumen karena dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya adanya perubahan cuaca atau perselisihan/kekacauan dari penduduk.

Misalnya :

▪        Pada musim hujan, permintaan jas hujan akan mengalami peningkatkan, sebaliknya pada musim kemarau permintaan produk ini akan menurun secara drastis.

▪        Pada saat terjadi kerusuhan, distribusi produk terganggu, sehingga mengakibatkan penggunaan konsumen akan suatu produk akan menurun karena kekurangan pasokan.

Gambar 3 Hubungan Noise dengan Penggunaan Komoditas

  1. Harga Komoditas

Banyaknya komoditas yang beredar di pasaran, akan mempengaruhi harga komoditas tersebut. Semakin banyak produk yang beredar di pasaran, akan mengakibatkan harga jual produk tersebut menurun, sebaliknya jika produk semakin langka, maka harga jual produk tersebut akan meningkat.

Misalnya :

▪        Pada saat terjadi musim durian, harga durian yang ditawarkan lebih murah karena jumlahnya melimpah.

▪        Kelangkaan minyak dunia, mengakibatkan meningkatnya harga minyak di pasaran.

Gambar 4 Hubungan Harga dengan Penggunaan Komoditas

▪         Komponen produksi

Tingkat produksi barang komoditas dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi :

  1. Delay kapasitas produksi

Delay yang dimaksud di sini adalah waktu yang diperlukan produsen dalam mempersiapkan kegiatan produksi meliputi persiapan bahan baku yang sangat bergantung dengan kondisi alam, persiapan mesin-mesin produksi meliputi kelayakan mesin, ketersediaan perlengkapan peralatan dan lain-lain.

Gambar 5 Hubungan Delay dengan Tingkat Produksi

  1. Harga komoditas di pasaran

Tingkat produksi yang dilakukan oleh produsen juga melihat seberapa besar harga komoditas yang ada di pasaran. Semakin besar harga suatu komoditas maka akan semakin besar keinginan produsen untuk membuat komoditas tersebut, bagitu juga sebaliknya apabila harga yang ada di pasaran sangat rendah maka produsen cenderung untuk mengurangi produksinya bahkan memutuskan untuk tidak berproduksi.

Misalnya :

▪        Pada saat harga notebook meningkat tajam, produsen akan merespon dengan menambah jumlah produknya di pasaran. Hal ini terbukti dengan semakin bermunculnya merk-merk notebook baru.

Gambar 6 Hubungan Harga dengan Tingkat Produksi

▪         Komponen distribusi

Tingkat penyaluran barang komoditas dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi:

  1. Tingkat konsumsi komoditas

Banyaknya persediaan yang terdapat pada distributor barang komoditas dipengaruhi oleh tingkat konsumsi barang. Semakin besar tingkat konsumsi maka akan semakin banyak barang yang akan dipasok oleh produsen kepada distributor dan juga semakin sering perputaran barang yang terjadi.

Misalnya :

▪        Pada saat musim mudik lebaran, permintaan akan jasa transportasi meningkat. Hal ini akan direspon Dinas Perhubungan dengan menambah armada angkutan.

Gambar 7 Hubungan Tingkat Konsumsi dengan Distribusi

  1. Tingkat produksi komoditas

Semakin banyak tingkat produksi komoditas maka persediaan yang ada di distributor akan semakin besar pula sehingga komoditas yang disalurkan juga semakin besar. Dan apabila tingkat produksi kecil maka distributor hanya memiliki sedikit barang komoditas sehingga terdapat kemungkinan apabila permintaan barang komoditas naik distributor tidak dapat memenuhi semua permintaan tersebut.

Misalnya :

▪        Pada saat musim beras, persediaan beras akan meningkat. Hal ini harus diimbangi dengan meningkatkan pendistribusian beras untuk mengurangi penumpukan barang di gudang penyimpanan.

▪        Pada saat terjadi kerusakan di depo pengisian elpiji milik Pertamina, akan mengakibatkan penurunan produksi tabung gas, sehingga terjadi kelanggkaan.

Gambar 8 Hubungan Tingkat Produksi dengan Distribusi

  1. Model Vensim

Pemodelan sistem siklus komoditas yang bersifat dinamis, karena banyak dipengaruhi oleh isu-isu baik dari pihak produsen, pihak distributor, pihak konsumen dan beberapa gangguan (noise) dari penentuan harga yang dilihat dari konsumsi per kapita. Pada model Vensim yang kami bangun, waktu simulasi model yang dipergunakan adalah selama 240 bulan (20 tahun) dengan langkah tiap waktu sebesar 0.5 bulan. Penggambaran model vensim disajikan pada gambar 9.

Gambar 9 Model Vensim Siklus Komoditas

  1. Penentuan Parameter

Parameter merupakan segala sesuatu yang memiliki pengaruh terhadap keseimbangan sistem. Parameter yang digunakan dalam simulasi ini adalah populasi, delay harga yang diharapkan, delay kapasitas produksi, dan delay produksi dimana parameter tersebut akan sangat mempengaruhi keseimbangan sistem. Untuk lebih jelasnya, akan dibahas lebih detail sebagai berikut :

  1. Populasi

Populasi akan sangat mempengaruhi banyaknya tingkat konsumsi suatu komoditas, semakin banyak populasi konsumen maka tingkat konsumsinya juga akan semakin banyak. Begitu pula sebaliknya, jika populasi sedikit, maka tingkat konsumsinya akan sedikit pula.

  1. Delay harga yang diharapkan

Delay harga yang diharapkan menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk suatu komoditas berubah menjadi harga yang diharapkan oleh ketiga entitas. Jika delay harga semakin cepat, maka permintaan akan produk komoditas cenderung akan berfluktuatif karena ekspektasi mereka terhadap harga yang murah dapat terpenuhi dengan segera. Begitu juga sebaliknya, jika delay harga lama, maka permintaan akan stabil, karena dengan delay yang lama konsumen merasa harga stabil, sehingga tidak mempengaruhi tingkat konsumsi mereka.

  1. Delay kapasitas produksi

Delay kapasitas produksi menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan produsen untuk mempersiapkan segala sesuatunya (bahan baku, tenaga kerja dan mesin produksi) agar bisa melaksanakan kegiatan produksi. Semakin lama waktu yang dibutuhkan, maka akan mengakibatkan terjadinya kelangkaan komoditas yang akan mengakibatkan ketidakseimbangan harga dengan permintaan. Begitu pula sebaliknya, jika delay kapasitas produksi cepat akan menghasilkan kondisi pasar yang stabil dan berkecukupan.

  1. Delay produksi

Delay produksi adalah waktu yang diperlukan produsen untuk memproduksi komoditas sesuai dengan permintaan konsumen. Delay produksi juga sudah termasuk waktu mengiriman komoditas sampai ke gudang penyimpanan distributor. Semakin lama waktu yang dibutuhkan produsen, maka akan memungkinkan keterlambatan distributor dalam memenuhi permintaan konsumen. Begitu juga sebaliknya, jika delay produksi cepat, persediaan komoditas distributor cukup untuk memenuhi permintaan konsumen.

  1. Running Sistem

▪         Daftar rumus Vensim

(01)      delay harga yang diharapkan = 5

Units: **undefined**

(02)      delay kapasitas produksi=4

Units: **undefined**

(03)      delay produksi = 12

Units: **undefined**

(04)      FINAL TIME  = 240

Units: Month

The final time for the simulation.

(05)      harga = lookup harga(Persediaan Distributor)

Units: **undefined**

(06)      harga yang diharapkan = SMOOTH(harga, delay harga yang diharapkan)

Units: **undefined**

(07)      INITIAL TIME  = 0

Units: Month

The initial time for the simulation.

(08)      Kapasitas Produksi = INTEG(tingkat perolehan kapasitas, 600)

Units: **undefined**

(09)      kapasitas produksi yang diinginkan = lookup kapasitas produksi(harga yang diharapkan)

Units: **undefined**

(10)      konsumsi per kapita = lookup konsumsi(harga) * (1+ noise)

Units: **undefined**

(11)      lookup harga  ([(0,0)-(10000,100)],(0,100),(2000,94),(4000,80)

,(6000,50),(8000,20),(10000,10) )

Units: **undefined**

(12)      lookup kapasitas produksi  ([(0,0)-(100,1500)],(0,0),(20,40)

,(40,200),(60,1000),(80,1200),(100,1280) )

Units: **undefined**

(13)      lookup konsumsi  ([(0,0)-(100,8)],(0,7),(20,6),(40,4),(60,2)

,(80,1),(100,0) )

Units: **undefined**

(14)      noise= RANDOM UNIFORM(-0.5, 0.5, 2374) * STEP(0.5, 10)

Units: **undefined**

(15)      Persediaan Distributor = INTEG(+tingkat produksi-tingkat konsumsi, 6000)

Units: **undefined**

(16)      populasi = 200

Units: **undefined**

(17)      SAVEPER  =  TIME STEP

Units: Month [0,?]

The frequency with which output is stored.

(18)      TIME STEP  = 0.5

Units: Month [0,?]

The time step for the simulation.

(19)      tingkat inisiasi= Kapasitas Produksi

Units: **undefined**

(20)      tingkat konsumsi = populasi * konsumsi per kapita

Units: **undefined**

(21)      tingkat perolehan kapasitas=(kapasitas produksi yang diinginkan – Kapasitas        Produksi) / delay kapasitas produksi

Units: **undefined**

(22)      tingkat produksi = DELAY3(tingkat inisiasi, delay produksi)

Units: **undefined**

▪         Running model Vensim

Gambar 10 Running Model Vensim

  1. Sensitivity Analisys

Analisa sensitifitas dilakukan untuk melihat perubahan sistem yang terjadi apabila nilai parameternya diganti. Dalam hal ini kami hanya melakukan perlakuan dengan hanya mengubah nilai parameter populasi, karena pada nilai parameter yang lain tidak berpengaruh terhadap sistem secara signifikan. Populasi 200 menjadi kondisi awal.

▪         Keadaan awal

Gambar 11 Tingkat populasi 200

▪         Menambah tingkat populasi, dengan menambah populasi menjadi 1000

Gambar 12 Tingkat populasi 1000

▪         Mengurangi tingkat populasi

Gambar 13 Tingkat populasi 50

5.     Analisa

5.1. Analisa Model

Setelah melakukan eksperimen pada model yang kami bangun, didapatkan bahwa prinsip ekonomi berlaku pada kasus ‘Siklus Komoditas’ ini dari sudut pandang distributor dan produsen saja, sedangkan konsumen bertindak pasif dengan hanya merespon segala sesuatu yang ada di pasar.

Fungsi dari masing-masing entitas pada kasus siklus komoditas, adalah sebagai berikut :

  1. Produsen
  • Mempertimbangkan kapasitas produksi berdasarkan harga komoditas di pasaran

Semakin tinggi harga komoditas, produsen akan cenderung untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Sebaliknya, jika harga komoditas di pasaran melemah, produsen cenderung untuk menurunkan kapasitas produksinya.

  • Mempersiapkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan konsumen

Setelah produsen mengetahui tingkat permintaan konsumen berdasarkan informasi dari distributor, produsen harus benar-benar memperhatikan kapasitas yang dimilikinya, jangan sampai terjadi overload yang akan mengakibatkan stockout pada persediaan distributor

  1. Distributor
  • Mengendalikan persediaan di gudang penyimpanan

Dengan distributor mengendalikan tingkat persediaannya di gudang penyimpanan, maka distributor memiliki kekuasaan untuk mengatur harga komoditas di pasaran. Karena komoditas merupakan barang unperishable (tidak mudah rusak), distributor tidak merasa khawatir apabila menyimpan komoditas dalam waktu lama. Produsen harus menentukan tingkat persediaan seoptimal mungkin agar tidak terjadi kekurangan, namun disisi lain distributor juga harus menjaga banyaknya komoditas yang didistribusikan agar harga jualnya tidak jatuh karena jumlahnya terlalu berlimpah.

  • Mendistribusikan komoditas ke konsumen

Dengan distribusi produk yang lancar ke arah konsumen dapat menjamin tidak terjadinya kekurangan komoditas karena permintaan konsumen melebihi banyaknya komoditas yang berada di pasaran.

  1. Konsumen
  • Sebagai pengguna akhir dari komoditas

Konsumen adalah entitas yang tidak memiliki kekuasaan dalam mempengaruhi keadaan pasar. Karena konsumen hanya bisa merespon terhadap semua kondisi yang berada di pasar menyangkut komoditas.

Hubungan sebab akibat yang terjadi pada ketiga pihak tersebut adalah sebagai berikut :

  • Hubungan antara distribusi inventori dengan harga

Apabila produk yang beredar di pasar jumlahnya berlimpah (melebihi permintaan), maka harga atau nilai jual dari produk itu akan semakin rendah. Sebaliknya, jika produk yang beredar di pasar langka (kurang dari permintaan), maka harga atau nilai jual dari produk tersebut akan semakin tinggi.

  • Hubungan antara harga dengan konsumsi per kapita

Apabila harga dari suatu produk rendah, maka konsumen akan cenderung melakukan aksi beli. Sebaliknya, jika harga dari suatu produk tinggi, konsumen akan cenderung untuk mengurangi kuantitas pembelian.

  • Hubungan antara harga dengan kapasitas produksi

Apabila harga dari suatu produk di pasaran tinggi, maka produsen akan mengimbanginya dengan menaikkan kapasitas produksinya dengan harapan untuk meraih keuntungan yang lebih banyak, namun apabila harga jual suatu produk di pasaran merendah, maka produsen akan menurunkan kapasitas produksinya untuk menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

5.2 Analisa Sensitivitas

Tabel 4 Analisa Sensitivitas Perbandingan tiap Parameter

Populasi

Tingkat Konsumsi

Kapasitas produksi yang diinginkan

Harga

Persediaan Distributor

200

601,35

595,92

49,94

6003,96

1000

1135,95

1166,69

77,33

4144,49

50

253,77

221,27

27,17

8285,96

Tabel 4 menunjukkan perbandingan antar tiap parameter yaitu dengan cara mengubah-ubah jumlah populasi, nilai tiap parameter didapatkan dengan membuat rata-rata nilai dalam kurun waktu pemodelan (240 bulan). Hasil yang didapatkan dari perbandingan tersebut diantaranya :

  1. Tingkat konsumsi

Pada populasi 1000, tingkat konsumsi meningkat dari sejumlah 601,35 menjadi 1135,95. Sedangkan pada populasi 50, tingkat konsumsi mengalami penurunan yaitu menjadi 253,77.

  1. Kapasitas produksi yang diinginkan

Pada populasi 1000, kapasitas produksi yang diinginkan mengalami peningkatan dari sejumlah 595,92 menjadi 1166,69. Sedangkan pada populasi 50, kapasitas produksi yang diinginkan mengalami penurunan yaitu menjadi 221,27.

  1. Harga

Pada populasi 1000, harga komoditas meningkat dari sebesar 49,94 menjadi 77,33. Sedangkan pada populasi 50, harga komoditas mengalami penurunan yaitu menjadi 27,17.

  1. Persediaan distributor

Pada populasi 1000, persediaan distributor menurun dari sejumlah 6003,96 menjadi 4144,49. Sedangkan pada populasi 50, tingkat persediaan distributor mengalami peningkatan yaitu menjadi 253,77.

6.  Kesimpulan

Kesimpulan yang kami dapatkan setelah melakukan eksperimen menyangkut ‘Siklus Komoditas’ di pasaran adalah harga merupakan parameter utama yang dijadikan pertimbangan oleh ketiga entitas, dan tidak mungkin untuk menghasilkan suatu kondisi yang saling menguntungkan untuk ketiga entitas karena harga murah akan menguntungkan konsumen, tetapi akan merugikan pihak produsen dan distributor, sebaliknya jika harga komoditas tinggi, akan menguntungkan pihak distributor dan produsen, tetapi disisi lain akan merugikan konsumen. Kebijakan distributor dalam mengatur persediaan komoditas pada tingkat yang optimal di pasaran yang memungkinkan untuk menciptakan harga yang stabil dan optimal sehingga dapat menguntungkan ketiga entitas.

Permalink Leave a Comment

Model Perbaikan

June 21, 2009 at 7:18 am (TuBeS siSDiN)

Setelah ditambah LOOKUP maka model yang baru menjadi :

model vensim barusekarang bingung soal “NOISE”nya???

Permalink Leave a Comment

LOOKUP…

June 21, 2009 at 6:49 am (Uncategorized)

Setelah dipelajari lebih lanjut, akhirnya ketemu juga “LOOKUP”nya…

contoh untuk LOOKUP konsumsi :

lookup

ternyata LOOKUP ada di Type

Permalink Leave a Comment

Model VensiM…maSiH menCobA..

June 14, 2009 at 11:30 pm (TuBeS siSDiN)

vensim siklus komoditi 15 Juni'09

Permalink Leave a Comment

Gambarnya…

June 12, 2009 at 10:36 am (TuBeS siSDiN)

Untuk persoalan yang baru, jika digambarkan secara sederhana, maka akan dapat dilihat sebagai berikut :

siklus komoditas

Permalink Leave a Comment

Akhirnya Ganti Juga

June 12, 2009 at 10:17 am (TuBeS siSDiN)

Setelah berdiskusi akhirnya kelompok Suppercat memutuskan untuk mengganti studi kasus dengan persoalan yang baru. Untuk persoalan yang baru dapat dijelaskan sebagai berikut :

SIKLUS KOMODITAS
Persoalan ini berdasarkan pada interaksi di antara 3 sektor pasar, produksi, distribusi dan konsumsi. Harga menghubungkan tiga sektor. Produsen mencoba untuk mengatur kapasitas produksi untuk memaksimalkan level keuntungan dengan memberi harga pasar. Distribusi mencoba untuk mengatur harga pasar dengan menjaga suatu persediaan yang optimal. Respon konsumen untuk harga pasar, mereka mencoba untuk memaksimalkan utilitas mereka.
Untuk mengembangkan persoalan simulasi dari siklus komoditas produksi, kita memiliki beberapa informasi :
• Hubungan antara distribusi persediaan dengan harga (price lookup) dispesifikasikan dengan pasangan nilai. Nilai lanjutan ditentukan dengan interpolasi linear.

Distribusi inventori 0 2000 4000 6000 8000 12000
harga 100 94 80 50 20 10

• Hubungan antara harga dengan konsumsi per kapita (consumption lookup) dispesifikasikan dengan pasangan nilai. Nilai lanjutan ditentukan dengan interpolasi linear.

harga 0 20 40 60 80 100
konsumsi per kapita 7 6 4 2 1 0

• Hubungan antara harga yang diharapkan dengan kapasitas produksi yang diinginkan (production capacity lookup) dispesifikasikan dengan pasangan nilai. Nilai lanjutan ditentukan dengan interpolasi linear.

harga yang diharapkan 0 20 40 60 80 100
kapasitas produksi yang diinginkan 0 40 200 1000 1200 1280

• Tingkat konsumsi sama dengan konsumsi per kapita dikalikan dengan populasi. Besar populasi adalah 200.
• Harga komoditas memiliki rata-rata pemulusan eksponensial dari harga, dimana tingkat pemulusan yang tetap dan nilai delay selama 5 bulan..
• kapasitas pendapatan sama dengan selisih antara perkiraan kapasitas produksi dan kapasitas produksi dibagi dengan delay didapatkannya kapasitas, yaitu sebesar 4 bulan.
• Nilai inisiasi adalah sama dengan kapasitas produksi.
• Nilai produksi diketahui sebesar sepertiga delay pemesanan eksponensial dari tingkat inisiasi, waktu delaynya merupakan delay produksi yang bernilai 12 bulan.
• Kapasitas produksi awal adalah 600 unit per bulan, dan simpanan distributor awal adalah 6000 unit.
• Pergunakan satu langkah waktu dari 0.5 bulan untuk simulasimu, dan jalankan ini untuk 240 bulan (20 tahun).
• Pada kenyataannya, sistem produksi komoditas biasanya terdapat beberapa “noise” dalam prosesnya. Sebagai contoh adanya perubahan cuaca atau perselisihan/kekacauan dari penduduk yang menyebabkan fluktuasi acak pada produksi atau konsumsi komoditas. Diasumsikan bahwa besarnya fluktuasi acak dalam konsumsi per kapita adalah sebesar ± 25% dari nilai lookup konsumsi yang diawali dari waktu 0,5 sampai 10 bulan.

Kembangkan satu model simulasi untuk siklus komoditas produksi dan distribusi mempergunakan keterangan di atas.

Permalink Leave a Comment

haluu…

June 8, 2009 at 1:16 am (fRieNds)

SuppeRcaT –ChaNdra..> AdhieN.. > TiNo ..

dbC kaSusNya…dikeRjaKan…diasIsteNsi… ^^v

Permalink Leave a Comment

PenGajuaN kaSuS tuBeS 1

June 2, 2009 at 8:09 am (TuBeS siSDiN)

studi kasus PT. X utk meminimumkan ongkos persediaan

MenCoba… utk meneMukaN kasus TubeS yg baIk…
D.1 Studi Kasus PT ”X” & Co
PT.”X”&Co merupakan salah satu Badan Usaha Milik Daerah Provinsi Jawa Barat yang bergerak di bidang pembuatan produk yang berbahan baku karet. Salah satu tujuan didirikannya perusahaan ini adalah untuk menambah sumber pendapatan daerah dan turut serta dalam melaksanakan usaha-usaha pembangunan sesuai dengan fungsinya serta meningkatkan produk/jasa dan perdagangan di bidang karet.
Permasalahan yang ditemukan pada PT ”X” & Co adalah:
Pemesanan bahan baku
Pemesanan bahan baku hanya dilakukan bila terlihat persediaan yang dimiliki sudah hampir habis, dengan kata lain belum ada sistem untuk menentukan jumlah dan saat pemesanan yang tepat, akibatnya persediaan sering mengalami kekurangan atau kelebihan dari kebutuhan.
Formulasi masalah
Bagaimana merencanakan kebutuhan bahan baku sehingga diperoleh biaya persediaan seminimal mungkin?
Penyelesaian Masalah
Prioritas Penanganan Persediaan
Produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini terdiri dari 74 jenis dan jenis produk tersebut memiliki jumlah dan harga yang bervariasi, sehingga dalam menangani persediaannya diperlukan prioritas, metode yang digunakan dalam menentukan prioritas penanganan persediaan produk tersebut adalah Analisis ABC dari Pareto, dan hasilnya seperti dibawah ini.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diperoleh 10 produk yang berkategori A, artinya produk-produk inilah menjadi prioritas yang harus ditangani secara intensif agar perusahaan mampu mengendalikan persediaan dengan jumlah yang kecil (20 jenis) tetapi memiliki nilai yang besar (80%), dengan demikian bahan baku yang diperlukan oleh produk tersebut pun dapat ditentukan.
Tabel Produk dan Bahan baku Prioritas

Berdasarkan Tabel1 tersebut, ternyata terdapat 4 jenis bahan baku yang menjadi prioritas penanganan yaitu (1) sheet III PTP, (2) sheet III Rakyat, (3) Kosyn KBR-01, dan (4) TPC.
Elemen Ongkos Persediaan

Perhitungan Kebijakan Optimum
Kebijakan optimum manajemen persediaan tergantung dari besarnya permintaan terhadap produk yang dihasilkan, dan besarnya permintaan tersebut merupakan hasil peramalan. Adapun ramalan permintaan untuk 4 bahan baku untuk 2005 adalah, (1) sheet III PTP: 436 kg, (2) sheet III Rakyat : 21.849 kg, (3) Kosyn KBR-01 :3.084 kg dan (4) sheet I :1.225 kg.
Perhitungan kebijakan optimum yang dilakukan adalah meliputi, kuantitas dan besarnya ongkos adapun optimasi jumlah meliputi:
Contoh perhitungan untuk bahan baku Sheet III PTP
1. Jumlah unit optimum setiap kali pemesanan

=
= 37
2. Jumlah unit maksimum backorder optimum

=
= 17
3. Persediaan maksimum backorder yang optimum
M* = Q* – J*
= 37 – 17
= 20
4. Frekuensi Pemesanan

=
= 12
5. Reorder Point, dengan lead time 2 hari,

=
= -14
Hasil Perhitungan Kebijakan Optimum
Bahan Baku Kebijakan Optimum Kuantitas
Q* J* M* F B
Sheet III PTP 37 17 20 12 -14
SheetIII Rakyat 140 62 78 45 -21
KosynKBR-01 90 33 57 33 -4
TPC 61 26 35 20 -18
Ongkos Persediaan Model Backorder
Bahan Baku Komponen Ongkos Persediaan TAC
R(Kg) P(Rp) C(Rp) H(Rp) K(Rp)
Sheet III PTP 436 12.500 22.400 25.925 32.000 99.475
SheetIII Rakyat 21.849 8.250 22.400 25.900 26.475 89.658
KosynKBR-01 3.084 17.500 22.400 25.975 38.500 111.025
TPC 1.225 10.500 22.400 25.925 29.400 94.855

Permalink 3 Comments

TeMaN….

June 2, 2009 at 1:40 am (fRieNds)

seMaNGaT!!!nTr Lg Bs!!

Permalink Leave a Comment

Next page »

Design a site like this with WordPress.com
Get started