23 tahun dari Peristiwa 30 September 1965, atau 44 tahun dari sekarang di tahun 1988, setamat SMA kami diminta mengurus SKBL, entah untuk apa: aku lupa. Namun yang masih kuingat, aku mengurusnya dengan seorang teman akrab, selapik seketiduran, kata orang Minang, kami berangkat bersama. Setelah menunggu beberapa hari kamipun menjemput hasilnya, apa hendak dikata SKBL-ku terbit sementara temanku tidak.
Kulihat pandangannya menerawang jauh ke langit biru, setetes air mengalir di matanya. “Ya, syudahlah…!”, hanya itu yang terlontar dari mulutnya.



