I AM A PHARMACIST

Ditulis Juni 14, 2008 oleh swestika
Kategori: apoteker

Tags:

I am a specialist in medication
I supply medicines and pharmaceuticals to those who need them
I prepare and compound special dosage forms
I control the storage and preservation of all medication in my care

I am a custodian of medical information
My library is a ready source of drug knowledge
My files contain thousands of specific drug names and tens of thousands of facts of them
My record include the medication and health history of entires families
My journals and meeting report advances in pharmacy from around the world

I am a companion of the physician
I am a partner in the case of every patient who takes any kind of medication
I am a consultant of the meritss of different therapeutic agent
I am the connecting link between physician and patient and final check on the safety of medicines

I am a counselor to the patient
I help the patient understand the proper use of prescription medication
I assist in the patient’s choice of nonprescription medication
I advice the patient on matters of prescription storage and potency

I am guardian of the public health
My pharmacy is a center for health-care information
I encourage and promote sound personal health practices
My services are available to all at all times

This is my calling
This is my pride

(Anonymous author)

Menjelang deadline artikel, aku ngubek-ngubek arsip lama. Puisi ini ada di buku suci OSPEK HMF Ars Praeparandi tahun 2001.
Puisi bagus, tapi jadi inget penyampaian materinya waktu OS. Senior ngasih taunya lewat lisan, mana diketawain gara-gara pronunciation yang kacau balau. Secara, beberapa kata nulisnya kaya gimana ama artinya aja kagak tau.

Setelah OS selesai, aku masih suka baca puisi ini. Dalem dan menumbuhkan semangat.. ITU TUGAS KITA BANGET!!!

Are u pharmacist??

WP Menjadi Pilihan

Ditulis April 16, 2008 oleh swestika
Kategori: blogging

Tags:

Selama ini saya setia numpang di blogspot. Terus, saya punya blog di dagdigdug. Eh, enak juga ya pake layanan WP.

Karena semenjak weekend kemaren itu blogger down mulu, saya jadi impor smua tulisan saya ke WP. Bikin blog baru lagiii… πŸ˜€

Case 2

Ditulis Maret 11, 2008 oleh swestika
Kategori: apoteker

Masih tertarik dengan interaksi obat dan efek samping? saya sengaja pilihkan kasus berikut dari arsip lama Pharmacytimes.

CS (19, male) memiliki penyakit asma, mengeluh bahwa jantungnya berdebar, insomnia dan menjadi mudah marah sepanjang minggu terakhir ke dokternya.
Sejarah pengobatan CS menunjukkan kalau dia penderita asma kronik yang tergantung dengan steroid (chronic steroid-dependent astma). Dia telah mendatangi RS tiga kali setahun terakhir karena serangan asma. Selain itu dia juga mempunyai riwayat gastroesophageal reflux dan tennis elbow.
Pengobatan yang sedang CS jalani sekarang adalah theophylline 400 mg dua kali sehari, prednisone 20 mg sekali sehari, albuterol inhalor jika diperlukan, sal-meterol inhaler dua kali sehari, dan fluticasone inhaler dua kali sehari.
CS juga meminum obat OTC untuk obat gastroesophageal refluxnya, tapi dia lupa nama obatnya karena dia baru meminum obat itu seminggu ini.
Setelah pemeriksaan fisik, dokter meminta tes laboratorium untuk memeriksa kadar theophylline dalam darah CS. Laboran menelepon dokter karena hasil tes darah menunjukkan kadarnya meningkat drastis. Dokter juga sangat kaget karena kadar bulan sebelumnya pada batas normal. Satu-satunya hal yang berubah adalah penambahan obat OTC untuk obat refluxnya. Dokter menduga bahwa obat itulah yang yang menyebabkan kadar theophylline dalam darah CS meningkat.

Ibu, bapak, adik, kakak, teman-teman apoteker, kira-kira obat OTC yang menyebabkan reaksi itu apa ya??

postingan sejenis:
case one
jawaban case one

Jawaban Case One

Ditulis Februari 26, 2008 oleh swestika
Kategori: apoteker

Maaaaaf baru bisa jawab sekarang postingan Case One yang ini. Seminggu ini tiap malam saya sengaja fokus nonton science fiction series Kyle XY. Waktu untuk menulis dan ngenet saya kurangi secara drastis. Tapi, wuaah seneng deh pada bisa jawab Buat saya, mengeluarkan soal ini berarti belajar juga loh walaupun saya sudah tau jawabannya terlebih dahulu.
Jawabannya adalah kedua produk herbal yang mengandung Licorice dan Echinacea-marshmallow tidak boleh diberikan kepada EM mempertimbangkan pengobatan yang sedang dijalani dan sejarah kesehatannya.
Licorice secara umum mempengaruhi kadar beberapa hormon di dalam tubuh sehingga mengakibatkan banyak efek samping. Dengan merubah aktivitas dari beberapa hormon, licorice dapat menyebabkan gangguan elektrolit. Efek yang mungkin terjadi adalah retensi sodium dan cairan, rendahnya kadar potassium serta metabolic alkalosis.
Licorice meningkatkan ekskresi potassium, sehingga tidak bisa digunakan bersama diuretic dan glikosida jantung. Penggunaan bersama dengan furosemide menyebabkan kadar potassium menjadi sangat rendah. Selain itu, toksisitas digoxin juga akan meningkat pada kondisi kadar potassium darah rendah.
Licorise meretensi Na dan air sehingga berefek antagonis terhadap obat antihipertensi yang digunakan EM. Licorice memang kontraindikasi untuk pasien hipertensi.
Marshmallow menambah efek hipoglikemia dari obat antidiabetes seperti glyburide.
Dan satu lagi temen-temen, alasan yang belum dicantumkan oleh 5 jawaban di comment postingan sebelumnya, yaitu
Penggunaan Echinacea kontraindikasi untuk pasien yang alergi terhadap Suku Asteraceae. Sedangkan Echinaceae dan Ragweed, keduanya merupakan tanaman dari suku Asteraceae.
Wah, jadi kuliah Morsistum, Anfistum, dan Farmakognosi memang berguna ya? *statement aneh* πŸ˜€
Jadi, kita semua sama-sama belajar kan? Kita tidak harus hafal semua literatur, tetapi melatih cara berpikir sebagai pharmacist dan –tenang- ada teknologi yang bisa membantu dengan cepat seperti Google, Wikipedia, ebooks gratisan bahkan program untuk diinstal di PC atau PDA kita.

Reference
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/natural/patient-licorice.html
WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, 1999
Pharmacy Times, Edisi Maret 2007

UPDATE
Mau jawab comment dari Listya, tapi gak muat karena saya pengen jawab agak panjang ;).
Di postingan saya nulis: Echinacea kontraindikasi untuk pasien yang alergi Asteraceae.
Ragweed dan Echinace keduanya adalah suku Asteraceae. Ibu EM kan alergi ragweed, jadi gak boleh minum Echinacea kan?
Tanaman yang satu suku biasanya mempunyai kesamaan dalam tipe daun, bunga, dan buah. Contohnya suku Asteraceae kaliksnya termodifikasi menjadi pappus yang berbentuk berbagai macam rambut atau sisik, perbungaan dalam kapitulum, buah akhene dengan pappus yang persisten, biji berminyak dengan endosperm tipis hampir tak ada. Bayangkan saja tanaman suku Asteraceae yang ada di sekitar kita seperti Ageratum conyzoides si babadotan atau si bunga matahari.
Kaitannya dengan alergi, dalam satu suku kemungkinan besar bagian yang menjadi alergennya sama bukan? Biasanya pollen dari bunga yang membuat alergi.
Begitu kira-kira, CMIIW…

Case one

Ditulis Februari 12, 2008 oleh swestika
Kategori: apoteker

Sejak setahun lalu, setiap bulan saya biasa dikirimi free magazine dari USA. Nama majalahnya Pharmacy Times, Practical Information for Today’s Pharmacist. Temen-temen yang praktek di apotek pasti suka deh bacanya dan bakalan mupeng karena berharap ada majalah sejenis di Indonesia. Telat satu bulan sih, tapi gpp deh gratis getoo loh..
Salah satu rubrik yang saya sempat-sempatkan untuk baca adalah studi kasus. Soalnya jadi ingat masa-masa keemasan kuliah Farmakologi dan Farmakoterapi. Sekaligus menyadari kalau saya itu harus terus belajar, belajar dan belajar.
Saya bagi deh contoh kasusnya yang saya terjemahkan secara bebas, suka-suka gue.

EM, wanita 66 tahun, datang ke apotek langganannya untuk me-refill resep rutinnya dan mencari obat untuk meredakan gejala flu (tulisan aslinya adalah cold, di Indonesia common cold sudah umum disebut flu). Dia menghampiri counter apotek dan disapa oleh apotekernya (fuiiih.. asyik banget ya). Sembari si apoteker menangani resepnya, Ibu EM menjelaskan dia agak tidak nyaman karena flu yang dideritanya. Dia sebenarnya ingin membeli obat, tapi dia merasa dia sudah terlalu banyak minum obat dan malas untuk memakan satu jenis lagi.
Ketika apotekernya bertanya tentang gejala penyakit flu Ibu EM, anaknya EM juga bertanya tentang 2 produk herbal dan apakah produk tersebut dapat dikonsumsi EM untuk meredakan flunya. Produk pertama mengandung licorice dan obat kedua mengandung echinacea dan marshmallow. (Yihaa.. di Indonesia juga ada kan?)
Apoteker kemudian me-review profil pengobatan Ibu EM dan sejarah obat sebelum membuat rekomendasi. Sesuai data di apotek, pengobatan Ibu EM adalah:
– Digoxin 0.125 mg daily
– Enalapril 10 mg daily
– Furosemide 20 mg daily
– Glyburide 5 mg daily
– Ibuprofen 200 mg kalau diperlukan
Sejarah pengobatan Ibu EM ditujukan untuk penyakit CHF (Congestive Heart Failure), hipertensi, coronary heart disease, DM tipe 2 dan osteoarthritis.
Ibu EM diketahui tidak alergi terhadap obat tertentu, tetapi alergi terhadap ragweed (Ambrosia sp.).
Haruskah si apoteker merekomendasikan kedua produk tersebut untuk mengobati gejala flu yang diderita Ibu EM?

Ya, sebenarnya saya pengen langsung memberi tahu jawabannya. Tapi penasaran nih, aldi, fauzan, lutfi, ipin, ika, riris, dini, ibu Ophi, listya, defa-siapa lagi ya temen-temen farmasi yang Blogger atau yang rajin ol?- bisa mencoba memberi solusi gak ya?
(Berharap-harap cemas karena kebanyakan jarang online )

Kalau tetep gak ada jawaban, ya saya posting aja di milis 2000 deh.


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai