Feeds:
Pos
Komentar

A’rab dan ‘Arab

Yai Muhammad Arman:

PERTAMA , para Ulama sepakat bhw mengenai pengertian dari Al-A’RAB yaitu orang-orang Arab Badui yang tinggal di sahara tanah Arab yang berkebiasaan berpindah-2 tempat dengan menaiki sekedup di atas punggung onta , sedangkan AL-ARAB adalah orang-2 Arab yg tinggal di kota atau perkampungan atau pedesaan Arab …

فمن نزل البادية أو جاور البادين وظعن بظعنهم وانتوى بانتوائهم فهم أعراب ، ومن نزل بلاد الريف واستوطن المدن والقرى العربية وغيرها ممن ينتمي إلى العرب فهم عرب

KEDUA , watak dan karakter orang A’RAB ( Arab Badui ) adalah kasar dan angkuh , sedangkan orang ARAB ( Arab Madani ) terkenal dgn kehalusan pekertinya dan kefasihan bicaranya …

Karena tabiat orang Arab Badui yang kasar dan kurang berpekerti inilah maka Allah tidak mengutus seorang Rasul yg berasal dari kalangan mereka , sbgmn dijelaskan oleh uraian tafsir berikut ini :

ولما كانت الغلظة والجفاء في أهل البوادي لم يبعث الله منهم رسولا وإنما كانت البعثة من أهل القرى ، كما قال تعالى : ( وما أرسلنا من قبلك إلا رجالا نوحي إليهم من أهل القرى ) [ يوسف : 109 ] ولما أهدى ذلك الأعرابي تلك الهدية لرسول الله صلى الله عليه وسلم فرد عليه أضعافها حتى رضي ، قال : ” لقد هممت ألا أقبل هدية إلا من قرشي ، أو ثقفي أو أنصاري ، أو دوسي ” ؛ لأن هؤلاء كانوا يسكنون المدن : مكة ، والطائف ، والمدينة ، واليمن ، فهم ألطف أخلاقا من الأعراب : لما في طباع الأعراب من الجفاء

KETIGA, tidak diperkenankan utk menyebut orang ARAB sebagai A’RAB terlebih thd orang Arab dari kalangan Muhajirin dan Anshor , mengingat kelemahan dlm hal iman yg ada pada diri A’RAB dimana karena kelemahan ini mereka tidak diterima syahadat kesaksiannya dan tidak diperkenankan menjadi imam dlm jamaah sholat bersama orang kaum muslimin dari kalangan ARAB …

والثاني : أنه لا يجوز أن يقال : للمهاجرين والأنصار أعراب ، إنما هم عرب ، وهم متقدمون في مراتب الدين على الأعراب . قال عليه السلام : ” لا تؤمن امرأة رجلا ولا فاسق مؤمنا ولا أعرابي مهاجرا

وثانيها : إسقاط شهادة أهل البادية عن الحاضرة ; لما في ذلك من تحقق التهمة

وثالثها : أن إمامتهم بأهل الحاضرة ممنوعة لجهلهم بالسنة وتركهم الجمعة

KEEMPAT, Allah meninggikan martabat orang ARAB dengan Sabda Rasul-Nya SAW : ” حب العرب من الإيمان ” ( Mencintai Arab sebagian dari iman ) , sedangkan terhadap orang A’RAB secara tegas mengecam mereka dengan ayat At-Taubah 97 berikut ini :

الأعراب أشد كفرا ونفاقا وأجدر ألا يعلموا حدود ما أنزل الله على رسوله والله عليم حكيم

وقول الله عز وجل : قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا ، فهؤلاء قوم من بوادي العرب قدموا على النبي صلى الله عليه وسلم المدينة طمعا في الصدقات لا رغبة في الإسلام فسماهم الله تعالى الأعراب ، ومثلهم الذين ذكرهم في سورة التوبة ، فقال : الأعراب أشد كفرا ونفاقا الآية

KELIMA , orang yang tidak bisa membedakan antara Al-‘ARAB dengan Al-A’RAB, atau antara AL-‘ARABY dengan Al-A’RABY, sangat boleh jadi akan mengalami kekeliruan fatal dalam memahami ayat Al-Quran Surat At-Taubah 97 yang mengecam hal-ihwal kaum Arab Badui ( Al-A’rab ), dikarenakan karena kebodohan orang itu akan perbedaan keduanya …

قال الأزهري : والذي لا يفرق بين العرب والأعراب والعربي والأعرابي ربما تحامل على العرب بما يتأوله في هذه الآية ، وهو لا يميز بين العرب والأعراب

File Penting!!
Naskah Asli UN SMP 10 Tahun Terakhir

Mengingat kabar yg beredar bahwa Tahun 2019, UN sebagai penentu kelulusan, tentunya perlu persiapan yg matang untuk menghadapinya, sementara pelaksanaan UNBK mengakibatkan Naskah Soal UN menjadi “Barang” yg langka,

2018 : https://goo.gl/z1RZur
2017 : https://goo.gl/GG7vHt
2016 : https://goo.gl/oZJjFf
2015 : https://goo.gl/xxQMEG
2014 : https://goo.gl/ATUKCK
2013 : https://goo.gl/cDYMjN
2012 : https://goo.gl/kSEfj5
2011 : https://goo.gl/ZS5sSc
2010 : https://goo.gl/fJnDHp
2009 : https://goo.gl/b42XCC

Silakan share, semoga bermanfaat

Islam Nusantara

Khitah Islam Nusantara

Oleh Kyai Haji Ma’ruf Amin
.
Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya.
Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.

Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua’sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.

Tiga pilar

Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika “al-jumûd ‘alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi”, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan ‘urf atau ‘ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.

Penanda Islam Nusantara

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Ketiga, tatawwu’iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.

Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.

Ijtihad

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalahmaãlahah (kebaikan).

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: “idhã wujida nasssS fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar’ al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah”. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.

Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.

#IslamNusantara

*ANALISIS ISTILAH “FIHI NAZHAR” IMAM AL-BUKHARIY*
_(Studi Kasus Rawi Habib bin Salim dalam Hadits Bisyarah Nabawiyah tentang Khilafah)_

_Oleh: Yuana Ryan Tresna_

Lagi, ada yang bertanya tentang perkataan Imam al-Bukhariy: “fihi nazhar”. Sebenarnya sudah sering menjawab soalan ini, tetapi penanya ini sedikit berbeda, karena menghadirkan berbagai bukti bahwa rawi yang dinilai “fihi nazhar” oleh Imam al-Bukhariy sudah pasti dhaif. Untuk itulah catatan singkat ini dibuat.

Memang benar, pada keumumannya, “fihi nazhar” itu berkaitan dengan penilaian jarh dari Imam al-Bukhariy. Pada umumnya jarh ringan. Tapi tak sesederhana itu. Tidak bisa memutlakan kedhaifan hadits yang terdapat rawi yang dinilai “fihi nazhar”.

Ungkapan “fihi nazhar” tergantung qarinah-qarinanya. Qarinah ini perlu diteliti dan dikaji. Sayangnya sebagian pihak tergesa-gesa memutlakan kedhaifan hadits yang di dalamnya ada rawi yang dinilai “fihi nazhar” oleh Imam al-Bukhariy tanpa memperhatikan qarinah-qarinahnya. Termasuk penilaian para ulama jarh wa ta’dil lainnya ketika menilai rawi yang dikomentari “fihi nazhar”.

“Fihi nazhar” seperti ungkapan hipotesis dari seorang peneliti, bahwa rawi ini perlu diperhatikan atau diteliti lebih lanjut. Tetapi yang jelas, Imam al-Bukhariy tidak sedang menunjukkan ta’dil dengan ungkapan tsb., melainkan jarh ringan yang masih membuka ruang interpretasi para nuqad. Termasuk potensi jarh syadid bahkan ta’dil, ketika pada tempat lain Imam al-Bukhariy menerimanya.

Ada yang mengajukan pendapat bahwa ungkapan “fihi nazhar” bermakna pertengahan. Dia menunjukkan ungkapan al-Hafizh Ibnu Hajar saat membahas Abu Balj di kitab Badzlu al-Ma’un fi Fadhli al-Tha’un hlm. 117:

وقال البخاري فيه نظر وهذه عبارته فيمن يكون وسطا

Menurutnya, penilaian imam al-Bukhariy “fihi nazhar” untuk Abu Balj bukan jarh yang sifatnya menjatuhkan. Namun bermakna bahwa Imam al-Bukhariy memiliki sedikit keraguan terhadapnya. Bisa jadi Imam al-Bukhariy menilai Abu Balj shaduq, namun ada sedikit keraguan terhadapnya.

Qarinahnya, Imam al-Bukhariy berhujjah dengan keterangan Abu Balj saat membahas rawi lain. Dalam biografi Muhammad bin Hatib al-Qurasyi di Tarikh al-Kabir (1/18), Imam al-Bukhariy berhujjah dengan ini:

…حَدَّثَنَا أَبُو بلج قَالَ لنا مُحَمَّد بْن حاطب ولدت فِي الهجرة الأولى بالحبشة.

Hanya saja, saya sedikit keberatan ketika dikatakan bahwa asal dari istilah “fihi nazhar” itu adalah pertengahan jarh dan ta’dil. Dengan alasan: (1) Itu sangat kasuistik tergantung rawi yang ditelitinya; (2) makna pertengahan adalah interpretasi al-Hafizh Ibnu Hajar pada kasus tertentu. Adapun interpretasi ulama lainnya berbeda; (3) adanya penjelasan langsung dari Imam al-Bukhariy tentang “fihi nazhar”.

Berikut ini adalah penjelasan Imam al-Bukhariy terhadap istilah “fihi nazhar”:

1. Dalam kitab Tahdzib al-Kamal (hlm. 544), al-Mizzi menyebutkan:

قال الحافظ أبو محمد عبد الله ابن أحمد بن سعيد بن يربوع الإشبيلي: قال البخاري في التاريخ : كل من لم أبين فيه جرحة فهو على الاحتمال، وإذا قلت فيه نظر فلا يحتمل.

Secara jelas Imam al-Bukhariy menyebutkan sendiri dengan indikasi jarh (لا يحتمل).

2. Imam al-Bukhariy menyebutkan dalam biografi Suwaid bin Abdul Aziz bin Numair al-Sulamiy Abi Muhammad al-Dimasqiy (al-Dhu’afa al-Shaghir, hlm. 57; lihat Tahdzib al-Tahdzib, 4/242):

فيه نظر لا يحتمل

Imam al-Bukhariy menyebutkan sendiri dengan indikasi jarh (لا يحتمل) sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.

3. Al-Khathib al-Baghdadiy (Tarikh Baghdad, 2/25; lihat Taghliq al-Ta’liq, 2/10; dan al-Hady, 481) dengan sanad kepada Abu Ja’far Muhammad bin Abi Hatim, bahwasannya dia berkata: Muhammad bin Ismail (al-Bukhariy) ditanya tentang informasi suatu hadits, maka al-Bukhariy berkata:

يا أبا فلان! تراني أدلس وقد تركت عشرة آلاف حديث لرجل فيه نظر، وتركت مثلها أو أكثر منها لغيره لي فيه نظر.

Secara jelas, hal ini menunjukkan bahwa beliau meninggalkan hadits yang di dalamnya ada rawi yg dinilai “fihi nazhar”.

Dengan demikian, dugaan awal atau hipotesis dari ungkapan “fihi nazhar” adalah cela ringan. “Fihi nazhar” ini masih membuka ruang penelitian. Imam al-Bukhariy sendiri adakalanya menolak dan adakalanya menerima rawi yang dinilai “fihi nazhar”. Demikian juga dengan penilaian para ulama hadits lainnya, seperti Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Adiy, dll., berbeda-beda tergantung rawi yang ditelitinya.

Ringkasnya, “fihi nazhar” memberikan peluang kesimpulan mulai dari kadzdzab hingga tsiqah. Sebuah rentang peluang yang sangat lebar.

Istilah yang tercakup dalam bahasan فيه نظر diantaranya adalah:

في حديثه نظر، في إسناده نظر، منكر الحديث فيه نظر، فيه بعض نظر، في صحته نظر، إسناده فيه نظر، في إسناده نظر فيما يرويه، في يعض حديثه نظر، في حفظه نظر، الخ…

Para muhaddits dan para nuqad telah meneliti persoalan ini. Mereka tidak satu suara dalam menilai rawi yang disebutkan “fihi nazhar” atau istilah yang semisalnya oleh Imam al-Bukhariy.

Paling tidak ada 80 rawi yang dinilai “fihi nazhar” oleh Imam al-Bukhariy. Ini baru yang “fihi nazhar”. Belum lagi yang dinilai “fi isnadihi nazhar, fi haditsihi nazhar, fihi ba’dhu nazhar, dll”. Untuk contoh, dalam hadits bisyarah nabawiyah “khilafah ‘ala minhaj al-nubuwah”, ada rawi bernama Habib bin Salim, Maula Nu’man bin Basyir. Dalam al-Tarikh al-Kabir (al-Bukhariy, 2/2606), al-Dhu’afa’ al-Kabir (al-Uqaili, 2/66) dan al-Kamil fi Dhu’afa al-Rijal (Ibnu Adiy, 2/405), Imam al-Bukhariy menilainya “fihi nazhar”.

Imam Ibnu Adiy menilai Habib bin Salim munkar dan idhthirab dalam sanad, tetapi Imam Ibu Hatim, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menilai “la ba’sa bihi”. (Lihat al-Jarh wa Ta’dil, 3/102; al-Tsiqat, 4/138; al-Kamil, 2/405; al-Taqrib, 1/151). Imam Muslim menggunakan dalam hadits cabang sebagai mutaba’ah. Imam Ahmad dan al-Darimi meriwayatkannya. Demikian juga kalau kita ambil contoh rawi yang lainnya.

Informasi tambahan yang cukup berharga ketika saya berdiskusi di media sosial dengan seorang penelaah adalah bahwa meski Habib bin Salim dinilai “fihi nazhar”, namun Imam al-Bukhariy menilai shahih riwayat Habib bin Salim di ‘Ilal al-Tirmidzi no. 152,

حَدَّثَنا قتيبة ، حَدَّثَنا أبو عوانة عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر ، عَن أَبِيه عن حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في العيدين والجمعة ب {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} و {هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ} وربما اجتمعا في يوم فيقرأ بهما

سَألْتُ مُحَمدًا عن هذا الحديث ، فقال : هو حديث صحيح وكان ابن عيينة يروي هذا الحديث عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر فيضطرب في روايته قال مرة حبيب بن سالم ، عَن أَبِيه عن النعمان بن بشير وهو وهم والصحيح حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير

Indikasi lainnya, meski Habib bin Salim dinilai “fihi nazhar”, tapi imam al-Bukhariy berhujjah dengan perkataan Habib bin Salim dalam biografi Yazid bin Nu’man bin Basyir (Tarikh al-Kabir, 8/365), al-Bukhari berhujjah dengan perkataan Habib bin Salim:

قَالَ حبيب بْن سالم يزيد بن أصحاب عُمَر بْن عَبْد العزيز

Demikian juga kalau memperhatikan penilaian para imam nuqad mutaqaddimin, semisal Imam Yahya bin Ma’in, Abu Hatim al-Razi dan Ibnu Adiy, ketiganya selalu berbeda dalam menilai rawi yang disebutkan “fihi nazhar”. Mulai dari kadzdzab, munkar, syaikh, shalih, la ba’sa bihi, hingga tsiqah. Jadi sekali lagi, jangan tergesa-gesa.

Pembahasan ini juga dibahas dalam kitab Muthalahat al-Jarh wa al-Ta’dil wa Tathawwuruha al-Tarikhiy fi al-Turats al-Mathbu’ li al-Imam al-Bukhariy ma’a Dirasah Musthalahiyyah li Qaul al-Bukhariy (Fihi Nazhar), hlm. 621-644.

Catatan lainnya, bahwa manhaj yang dipegang oleh para ahli hadits dan fuqaha adalah bahwa penilaian dhaif dan shahih suatu hadits tidak selalu disepakati semua ahli hadits dan bersifat mutlak. Bagi fuqaha, penilaian shahih menurut sebagian ahli hadits sudah cukup dapat dijadikan sebagai hujjah.

Bagi para pengkaji, ini (jarh dan ta’dil) salah satu medan penelitian yang sangat penting. Kita bisa meneliti, membandingkan dan mengambil suatu kesimpulan. Saya pernah contohkan analisis model ini (tarjih antara jarh dan ta’dil) dalam kasus hadits puasa Syawal. Berdasarkan tingkat akurasi dan kedalaman kajiannya, saya mengedepankan yang menta’dil dari pada yang mentajrih.

Dalam menilai rawi Habib bin Salim misalnya, para ulama tidak satu suara. Tetapi sebagian besar menerimanya. Bahkan para ulama hadits telah menerima hadits yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim, termasuk hadits bisyarah nabawiyah sebagaimana disebutkan di atas. []

Akad Murabahah

بسم الله الرحمن الرحيم
Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-’Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau
Jawaban Pertanyaan: Apakah MurabahahHalal ataukah Haram?
Kepada: Suha Mostafa
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Semoga Allah senantiasa menjaga Anda. Saya ingin menanyakan satu pertanyaan, apakah murabahah itu halal ataukah haram? Yakni seseorang ingin membeli tanah sementara ia tidak puya dana.Lalu ia datang kepada seseorang yang lain dan berkata kepadanya, “Aku ingin membeli tanah tetapi aku tidak punya dana”. Lalu seseorang tersebut menjawab, “Aku akan membelinya dan mencatatkan atas namaku, kemudian aku jual kepadamu dengan harga yang lebih mahal dengan jangka waktu tertentu.” Apakah kesepakatan ini boleh atau tidak? Dan apakah jumlah tambahan dari harga tanah itu merupakan riba ataukah keuntungan? Semoga Allah memberi balasan yang lebih baik kepada Anda.
Jawab:
Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Tidak boleh ada dua akad dalam satu akad, yakni keduanya saling dipersyaratkan satu sama lain. Misalnya, tidak boleh kita sepakat untuk saya membeli mobilmu dengan ketentuan engkau beli tanahku. Ini tidak boleh. Akan tetapi wajib masing-masing akad dijalankan sesuai ketentuan syariahnya tanpa disyaratkan dengan akad lain.
Imam Ahmad telah mengeluarkan dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dari bapaknya, ia berkata:
«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ وَاحِدَةٍ»
“Rasulullah saw melarang dua transaksi dalam satu transaksi.”
Ini artinya larangan dari adanya dua akad dalam satu akad. Seperti seseorang berkata: aku jual rumahku ini kepadamu dengan ketentuan aku jual rumahku yang lain dengan sekian, atau dengan ketentuan engkau jual rumahmu, atau dengan ketentuan engkau nikahkan aku dengan putrimu. Ini tidak sah, sebab ucapannya “aku jual rumahku” adalah akad, dan ucapannya “dengan ketentuan engkau jual rumahmu kepadaku” merupakan akad kedua dan keduanya dikumpulkan dalam satu akad. Ini tidak boleh.
Dan pertanyaanmu jatuh pada keharaman ini. Engkau bersepakat dengannya agar ia sekarang membeli tanah tersebut dari pemiliknya secara kontan dengan syarat ia menjualnya kepadamu setelah jangka waktu tertentu dengan harga yang lebih tinggi… Keduanya adalah akad yang saling dipersyaratkan satu sama lain, maka tidak boleh. Akan tetapi masing-masing wajib dijalankan sendiri-sendiri tanpa dipersyaratkan dengan akad yang lain… Aku memohon kepada Allah SWT untukmu barakah pada harta, keluarga dan anak.
Saudaramu
Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah
18 Rajab 1435 H
17 Mei 2014 M

Al quran

Download MP3 AlQur’an Per Juz
Dari Syeikh Mishary Rasyid

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Juz 1 ⇨ http://bit.ly/1RqIGw4
Juz 2 ⇨ http://bit.ly/1RqIGMm
Juz 3 ⇨ http://bit.ly/1J0Ctol
Juz 4 ⇨ http://bit.ly/1J0Cton
Juz 5 ⇨ http://bit.ly/1RqIIE5
Juz 6 ⇨ http://bit.ly/1RqIGvZ
Juz 7 ⇨ http://bit.ly/1RqIGvY
Juz 8 ⇨ http://bit.ly/1RqIInF
Juz 9 ⇨ http://bit.ly/1J0CuIZ
Juz 10 ⇨ http://bit.ly/1J0Ct85
Juz 11 ⇨ http://bit.ly/1J0CuJ1
Juz 12 ⇨ http://bit.ly/1RqIIDZ
Juz 13 ⇨ http://bit.ly/1RqIGw1
Juz 14 ⇨ http://bit.ly/1RqIInB
Juz 15 ⇨ http://bit.ly/1J0Ctor
Juz 16 ⇨ http://bit.ly/1RqIGw7
Juz 17 ⇨ http://bit.ly/1RqIInz
Juz 18 ⇨ http://bit.ly/1J0CuIW
Juz 19 ⇨ http://bit.ly/1J0Ct86
Juz 20 ⇨ http://bit.ly/1RqIGw6
Juz 21 ⇨ http://bit.ly/1RqIIE0
Juz 22 ⇨ http://bit.ly/1RqIInD
Juz 23 ⇨ http://bit.ly/1RqIInJ
Juz 24 ⇨ http://bit.ly/1RqIIE3
Juz 25 ⇨ http://bit.ly/1J0Ctop
Juz 26 ⇨ http://bit.ly/1J0CuIV
Juz 27 ⇨ http://bit.ly/1RqIGMo
Juz 28 ⇨ http://bit.ly/1J0CuJ0
Juz 29 ⇨ http://bit.ly/1RqIGMp
Juz 30 ⇨ http://bit.ly/1RqIInH

🔸🔶🔸🔶🔸🔶🔸
*KOLEKSI AL-QURAN 30 JUZ*
*17 Qari Terkenal Dunia*

📖 *[Abdul Basit 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1332)

📖 *[Ali Al-Hudzaifi 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1467)

📖 *[Mustafa Ismail 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/2460)

📖 *[Khalil Al-Husori 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/646)

📖 *[Misyari Al-‘Afasy 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/141)

📖 *[Sa’ad Al-Ghamidi 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/006)

📖 *[Sa’ud Al-Shuraym 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/521)

📖 *[Muhammad Jibril 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1202)

📖 *[Abdullah Matrood 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1068)

📖 *[Maher Al-Mueaqly 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/770)

📖 *[Abu Bakr Al-Shatri 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/2042)

📖 *[Ahmad Ali Al-‘Ajmi 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/922)

📖 *[Imad Zuhair Hafez 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/2595)

📖 *[Mahmud Al-Banna 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1732)

📖 *[Mohammad Ayyub 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/399)

📖 *[Siddiq Al-Minshawi 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1599)

📖 *[Abd Rahman Sudais 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/276)

📖 *[Misyari & Terjemahan 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1922)

📖 *[As-Shurym & As-Sudais 30juz]*
(https://telegram.me/Quran30Juz/1886)

*Nantikan qari-qari seterusnya*

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
_Sesiapa yang berbuat kebaikan, maka baginya balasan 10 kali ganda amalnya._ (6:160)

*Sebarkan, pahala dari ujung jari anda 🖐🏻*
🔸🔶🔸🔶🔸🔶🔸

Istilah Khilafah dan Imamah Sinonim, Maknanya Pemerintahan Islam

Pengantar

Istilah Khilafah dan Imamah sebetulnya sinonim; maknanya adalah sistem pemerintahan Islam. Namun, oleh segelintir orang, kedua istilah itu dianggap berbeda pengertiannya. Mereka mengatakan ada perbedaan antara Khilafah dan Imamah; begitu juga istilah turunannya seperti imam dan khalifah. Menurut mereka Imam di sini adalah penguasa dalam pengertian umum. Pemimpin itu- masih menurut mereka- bisa kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan lain-lainnya. Walhasil menurut anggapan mereka, Imamah itu berarti kepemimpinan yang bersifat umum. Adapun Khilafah adalah kepemimpinan yang lebih khusus.
Pengertian Khilafah dan Imamah

Adalah penting dalam masalah ini merujuk kepada pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Idza takallama al-mar’u fi ghayri fannihi atâ bi hadzihi al-‘aja’ib (Jika seseorang berbicara di luar bidang keahliannya, dia akan mengucapkan kalimat yang ajaib).” (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, III/683). Coba, kita lihat pendapat Imam Ar-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dalam kitab Mukhtâr ash-Shihâh hlm. 186:

الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين

Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim. (Lihat: Muslim al-Yusuf, Dawlah al-Khilâfah ar-Râsyidah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, hlm 23; Wahbah a-Zuhaili, Al-Fiqh a-Islâm wa Adillatuhu, VIII/270).

Mari kita lihat juga pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hlm. 190:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصب وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (khalifah) dan bahwa ia adalah wakil dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) khalifah dan imam. (Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, hlm. 34).

Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu (VIII/418) menyatakan pendapat serupa:

الخلافة (أو الإمامة أو إمارة المؤمنين) أو أي نظام شوري يجمع بين مصالح الدنيا والآخرة كلها ذات مدلول واحد

Khilafah (atau Imamah atau Imarah al-Mukminin) atau yang berarti sistem berdasarkan musyawarah yang menghimpun kemaslahatan dunia dan akhirat, semuanya mempunyai pengertian yang sama. (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/418).

Dhiyauddin ar-Rays dalam kitabnya, An-Nazhariyât as-Siyâsiyah al-Islâmiyyah hlm. 92 juga mengatakan:

يلاحظ أن الخلافة والإمامة الكبرى وإمارة المؤمنين ألفاظ مترادفة بمعنى واحد

Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama. (Lihat Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/465).

Semua kutipan ulama di atas menyatakan bahwa istilah Imamah dan Khilafah (juga Imaratul Mukminin) maknanya sama, tidak berbeda.

Kutipan-kutipan yang menunjukkan kesamaan makna Khilafah dan Imamah itu masih banyak sekali. Silakan cek pendapat yang sama dari: Rasyid Ridha dalam kitabnya, Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-‘Uzhma, hlm. 101; Prof. Dr. Ali as-Salus dalam kitabnya, ‘Aqîdah al-Imâmah ‘Inda asy-Syî‘ah al-Itsnâ ‘Asyariyah (terj.) hlm. 16; Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya, Membentuk Negara Islam, hlm. 30; dan Hasbi ash-Shiddieqy dalam bukunya, Islam dan Politik Bernegara, hlm. 42-43.

Silakan cek juga pendapat para ulama bahasa Arab (ahli kamus) yang menyamakan arti Imamah dan Khilafah, misalnya: Rawwas Qal‘ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi dalam Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’, hlm. 64, 150, dan 151; Ibrahim Anis dkk dalam Al-Mu‘jam al-Wasîth, 1/27 dan 251.

Jika Imamah dan Khilafah pengertiannya sama, demikian juga istilah Imam dan Khalifah. Keduanya sama-sama berarti pemimpin tertinggi dalam negara Khilafah, tidak berbeda. Ini sebagaimana pernyataan Ibnu Khaldun yang telah dikutip di atas. Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thâlibîn (X/49) menegaskan hal yang sama:

يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين

Boleh saja Imam itu disebut dengan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin. (Lihat: ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ, hlm. 34).

Mengapa Imamah dan Khilafah Semakna?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, atas dasar apa para ulama menyamakan pengertian Imamah dan Khilafah? Di sinilah Imam Taqiyuddin an-Nabhani memberi penjelasan yang gamblang dalam kitabnya, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah Juz 2. Imam An-Nabhani berkata, “Telah terdapat hadis-hadis sahih dengan dua kata ini [Khilafah dan Imamah] dengan makna yang satu. Tidak ada makna dari salah satu kedua kata itu yang menyalahi makna kata yang lain, dalam nas syariah mana pun, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah, karena hanya dua itulah yang merupakan nas-nas syariah. Tidaklah wajib berpegang dengan kata ini, yaitu Khilafah atau Imamah, tetapi yang wajib ialah berpegang dengan pengertiannya.” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/13).

Jadi, Khilafah dan Imamah memiliki arti yang sama karena nas-nas syariah, khususnya hadis-hadis sahih, telah menggunakan dua kata itu, yaitu kata “imam” atau “khalifah” secara bergantian namun dengan pengertian yang sama. Sebagai contoh, kadang Rasulullah saw. menggunakan kata “khalifah” seperti sabdanya:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا

Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (HR al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam Al-Awsâth. Lihat Majma’ az-Zawâ’id, V/198). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lihat: Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, XII/242).

Namun, kadang Rasulullah saw. juga menggunakan kata “imam” seperti sabdanya:

مَنْ بَايَعَ إَمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ

Siapa saja yang membaiat seorang imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan imam itu maka penggallah leher orang lain itu. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Kata “khalifah” dan “imam” dalam kedua hadis di atas mempunyai pengertian yang sama, yaitu pemimpin tertinggi dalam Negara Islam. (Lihat: Rawwas Qal’ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ, hlm. 64 dan 151). Jika “khalifah” dan “imam” sama pengertiannya maka sistem pemerintahan yang dipimpinnya, yaitu “Khilafah” dan “Imamah”, juga sama maknanya; tidak berbeda.

Antara Khilafah dan Imarah

Dalam banyak hadis shahih memang ada pembahasan kepemimpinan dalam pengertian umum. Kepemimpinan dalam arti umum ini disebut dengan istilah Imârah, Qiyâdah, atau Ri’âsah. Imam Taqiyuddin An-Nabhani menerangkan, “Imarah (kepemimpinan) itu lebih umum, sedangkan Khilafah itu lebih khusus, dan keduanya adalah kepemimpinan (ri’âsah). Kata Khilafah digunakan khusus untuk suatu kedudukan yang sudah dikenal, sedangkan kata Imarah digunakan secara umum untuk setiap-tiap pemimpin (amir).” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/125).

Hadis tentang Imarah, misalnya, sabda Nabi saw.:

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan, hendaklah satu orang dari mereka menjadi pemimpinnya. (HR Abu Dawud).

Dengan demikian, jelaslah bahwa kepemimpinan dalam arti yang umum, memang juga diterangkan dalam Islam, namun istilahnya bukan Khilafah atau Imamah melainkan Imarah. Imarah inilah yang bersifat umum sehingga mencakup kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan sebagainya. [KH. M. Shiddiq Al-Jawi]

Daftar Pustaka

Ad-Dumaiji, Abdullah bin Umar bin Sulaiman, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl as-Sunnah wa Al-Jamâ‘ah, (www.saaid.net), 1987.

Ahmad, Zainal Abidin, Membentuk Negara Islam, (Jakarta : Penerbit Widjaya), 1956.

Al-Yusuf, Muslim, Dawlah al-Khilâfah ar-Rasyîdah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, (www.saaid.net).

An-Nabhani, Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, Juz 2, (Beirut: Darul Ummah), 2002.

Anis, Ibrahim dkk, Al-Mu’jam al-Wasîth, (Kairo: Tanpa Penerbit), 1972.

As-Salus, Ali, Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i (Aqidah Al-Imamah ‘Inda Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyah), Penerjemah Asmi Salihan Zamakhsyari, (Jakarta: Gema Insani Press), 1997.

Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Islam dan Politik Bernegara, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra), 2002

Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Juz 8, (Maktabah Syamilah).

Qal’ah Jie, Rawwas, & Qunaibi, Hamid Shadiq, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’ (Beirut: Dar an-Nafa’is), 1988.

Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Khilafah

Para ulama Islam menyebut institusi pemerintahan Islam dengan beberapa istilah. Istilah yang paling sering mereka pakai dalam kitab-kitab akidah, fikih, dan sejarah adalah istilah “Imamah”, “Khilafah”, dan “Imarah” atau “Imaratul Mukminin”. Berikut ini penjelasan tentang pengertian masing-masing istilah ini.

PENGERTIAN IMAMAH

  1. Pengertian Secara Bahasa

Terminologi imamah merupakan bentuk isim mashdar. Ia diambil dari kata kerja dasar dalam bahasa Arab: amma – yaummu – amman wa amaaman wa imaamatan (أَمَّ- يَؤُمُّ-أَمًّا وَأمَاماَ وَأِمَامَةً) yang berarti: memimpin. Kata ‘imam’ secara bahasa memiliki makna: (1) setiap orang yang diikuti baik berada di atas kebenaran maupun kebatilan, (2) pengurus dan penanggung jawab suatu urusan, (3) jalan yang luas, dan (4) panutan.[1]

  1. Pengertian Secara Istilah

Para ulama menyebutkan sejumlah definisi imamah. Meskipun ungkapan mereka beragam, namun secara makna memiliki kesamaan. Di antara definisi imamah yang disebutkan oleh para ulama adalah sebagai berikut.

  • Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Asy-Syafi’I (450 H):

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah adalah sebuah jabatan yang menjadi penerus peranan kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama.”[2]

  • Imamul Haramain Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini Asy-Syafi’i (478):

اَلإِمَامَةُ رِيَاسَةٌ تَامَّةٌ وَزِعَامَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ فِى مُهِمَّاتِ الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا

Imamah adalah kepemimpinan yang sempurna dan kekuasaan yang meliputi orang-orang khusus (para pejabat dan penguasa) maupun rakyat secara umum, dalam mengelola persoalan-persoalan agama dan dunia.”[3]

  • Imam Sa’duddin Mas’ud bin Umar bin Abdullah At-Taftazani (793 H):

والإمامة رياسةٌ عامة في أمر الدين والدنيا خلافة عن النبي صلى الله عليه سلم

“Imamah adalah kepemimpinan umum dalam perkara agama maupun dunia, sebagai pelanjut dari tugas kepemimpinan Nabi SAW.”[4]

  • Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun At-Tunisi (808 H):

حمل الكافة على مقتضى النظر الشرعي في مصالحهم الأخروية والدنيوية الراجعة إليها ، إذ أحوال الدنيا ترجع كلها عند الشارع إلى اعتبارها بمصالح الآخرة ، فهي في الحقيقة خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

Mengatur seluruh rakyat sesuai dengan aturan syari’at Islam demi merealisasikan kemaslahatan mereka dalam urusan akhirat maupun urusan dunia yang membawa maslahat bagi akhirat. Sebab, semua keadaan di dunia dalam pandangan Allah dipehitungkan jika membawa maslahat di akhirat. Maka pada hakekatnya imamah adalah pelanjut peran dari pengemban syariat (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan pedoman agama.[5]

  • Syaikh Muhammad Najib Al-Muthi’i:

اَلرِّئَاسَةُ الْعَامَّةُ فِى شُؤُوْنِ الدُّنْيَا وَ الدِّيْنِ

Kepemimpinan umum (atas semua rakyat -penj) dalam urusan-urusan dunia dan agama.”[6]

Semua definisi ‘Imamah’ yang diuraikan para ulama di atas menjelaskan hakekat imamah, yaitu:

  1. Imamah merupakan sebuah jabatan tertinggi dalam negara Islam, karena membawahi semua orang, baik kalangan pejabat (menteri, panglima perang, hakim, gubernur, dan lain-lain) maupun kalangan rakyat jelata.
  2. Karena Nabi SAW adalah penutup para nabi dan rasul, dan tidak ada lagi nabi sepeninggal beliau, maka fungsi imamah meneruskan tugas-tugas kenabian yaitu memimpin dan mengurus urusan seluruh umat Islam, baik urusan-urusan agama maupun urusan-urusan dunia.
  3. Imamah memimpin seluruh umat Islam dengan berdasarkan hukum-hukum syariat Islam, baik dalam urusan-urusan dunia maupun urusan-urusan akhirat.

PENGERTIAN KHILAFAH

  1. Pengertian Secara Bahasa

Terminologi Khilafah adalah bentuk isim mashdar, dari kata kerja asal dalam bahasa Arab: khalafa – yakhlufu – khalafun wa khilaafatun. Maknanya secara bahasa adalah menggantikan posisinya, atau menggantikan peranannya. Ia secara bahasa juga memiliki makna datang sesudahnya, atau pelanjut dan penerus dari orang sebelumnya.

Dalam bahasa Arab dikatakan khalafa fulaanun fulaanan fi qaumihi, artinya adalah fulan B menggantikan fulan A sebagai pemimpin kaumnya. Dalam bahasa Arab juga dikatakan khalafa fulanun fulaanan, artinya adalah fulan B datang setelah fulan A.[7]

  1. Pengertian Secara Istilah

Para ulama memberikan beberapa definisi tentang khilafah. Berikut ini sebagian definisi yang mereka ungkapkan.

  1. Imam Yusuf bin Hasan bin Abdul Hadi Ad-Dimasyqi Al-Hambali (wafat 909 H):

عبارة عن الإمام والسلطان

“Khilafah adalah ungkapan lain untuk imam dan sultan.”[8]

  1. Muhammad Ra’fat Utsman (wafat 1438 H):

الزعامة العظمى وهى الولاية العامة على سائر أفراد الأمة و القيام بتسيير شؤونها والنهوض بكل ما يحقق مصالحها وفق ما أمر به الشرع.

“Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi, yaitu kekuasaan yang berlaku umum atas seluruh individu umat Islam, mengurus dan menjalankan urusan-urusan umat Islam, dan melakukan segala hal yang merealisasikan kemaslahatan-kemaslahatan umat Islam sesuai dengan aturan yang telah diperintahkan oleh pembuat syariat (Allah SWT).”[9]

  1. Dr. Muhammad bin Ahmad bin Musthaafa Abu Zahrah Al-Mishri (wafat 1394 H):

الخلافة وهي الإمامة الكبرى ،وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي في إدارة شؤونهم

“Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi. Dinamakan khilafah karena orang yang memegang jabatan tersebut dan menjadi pemimpin tertinggi kaum muslimin adalah orang yang menggantikan peranan Nabi SAW dalam mengatur urusan kaum muslimin.”[10]

  1. Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah (Abu Bashir At-Thartusyi):

الخلافة الإسلامية هي الدولة التي توحّد و تحمع جميع المسلمين على اختلاف ألوانهم و أجناسهم ولغاتهم وقومياتهم, وعلى اختلاف أقطارهم وبلدانهم وولاياتهم وأماكن تواجدهم, يكون لهم جميعا نفس الحقوق و الواجبات, في دولة واحدة, يحكمها إمام و خليفة واحد, بكتاب الله و سنة نبيه صلى الله عليه وسلم, منتخب و مرضي من قبل الأمة, وممثلي الأمة من أهل الحل و العقد في جميع الأقطار و الولايات.

“Khilafah Islamiyah adalah daulah (negara) Islam yang menyatukan dan mengumpulkan seluruh kaum muslimin, dengan keberagaman warna kulit, suku, bahasa, dan bangsa mereka; dengan perbedaan negara, negeri, wilayah, dan daerah tempat tinggal mereka; mereka semua memiliki kesamaan hak dan kewajiban, dalam satu negara, dipimpin oleh seorang imam dan khalifah, dengan pedoman kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya SAW, dimana imam dan khalifah tersebut dipilih dan diridhai oleh umat Islam dan Ahlul Halli wal Aqdi sebagai representasi umat Islam dari seluruh penjuru dan wilayah.”[11]

Semua definisi khilafah tersebut mengarah kepada makna yang satu, yaitu institusi kekuasaan tertinggi dalam Islam, yang membawahi seluruh kaum muslimin, dan mengatur urusan kehidupan kaum muslimin dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

DEFINISI IMARAH / IMARATUL MUKMININ

Terminologi Imaratul Mukminin terdiri dari dua suku kata; imarah dan mukminin.

  1. Pengertian secara bahasa

Terminologi Imarah adalah isim mashdar. Ia berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab: amara – ya’muru – amrun wa imratun wa imaaratun. Maknanya adalah memerintah. Amiir adalah pemimpin, yaitu orang yang memberi perintah.

Ia dapat juga diambil dari kata kerja dasar: imara – ya’maru – imratun wa imaaratun, artinya sesuatu yang besar. Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa Abu Sufyan bin Harb saat diundang dan dimintai keterangan oleh Kaisar Romawi perihal surat dakwah Nabi Muhammad SAW, ia berkomentar:

لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ

Sungguh, perkara Ibnu Abi Kabsyah (nama pelecehan untuk Nabi SAW. Abu Kabsyah adalah bapak susuan Nabi SAW) telah membesar, sampai-sampai Kaisar bangsa kulit kuning (Romawi) pun gentar terhadapnya.” (HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)[12]

  1. Pengertian secara istilah

Jika terminologi Imarah digabungkan dengan terminologi mukminin, sehingga menjadi frase “Imaratul Mukminin”; maka menurut para ulama memiliki pengertian yang sama dengan terminologi khilafah dan imamah.

Adapun jika sebatas pada terminologi “Imarah”, atau “Imarah Islamiyah”, maka menurut para ulama memiliki pengertian yang lebih sempit. Terminologi Imarah atau Imarah Islamiyah biasanya memiliki pengertian sebuah wilayah bagian dari sebuah daulah (negara) yang menyeluruh cakupannya, atau sebuah wilayah sebagai cabang dan bagian dari satu kesatuan khilafah Islamiyah yang menyeluruh.[13]

Jika khilafah mencakup seluruh wilayah negeri kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang imam, maka imarah biasanya adalah satu negara bagian dari khilafah, atau satu propinsi dari khilafah, atau satu wilayah bagian lainnya yang lebih kecil (misal, seukuran kota dan kabupaten).

Dalam terminologi yang biasa dipergunakan di bidang sejarah Islam, pemimpin sebuah imarah disebut amiir dan kedudukannya adalah setingkat seorang gubernur wilayah. Komandan pasukan dan panglima perang juga bisa dipanggil dengan nama gelar amiir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

Barangsiapa menaatiku niscaya ia telah menaati Allah dan barangsiapa mendurhakaiku niscaya ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa menaati Amir yang aku angkat, niscaya ia telah menaatiku dan barangsiapa mendurhakai Amir yang telah aku angkat, niscaya ia telah mendurhakaiku.” (HR. Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835)

ASAL MULA PENAMAAN AMIRUL MUKMININ

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin memanggil diri beliau dengan nama panggilan “Khalifah Rasulullah SAW”.

Imam Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra meriwayatkan bahwa saat Abu Bakar As-Shiddiq wafat dan kedudukannya digantikan oleh Umar bin Khathab, kaum muslimin memanggil Umar dengan sebutan “Khalifah Khalifah Rasulullah SAW”. Kaum muslimin kemudian berkata, “Orang yang menggantikan jabatan Umar, kelak akan dipanggil Khalifah Khalifah Khalifah Rasulullah SAW. Tentu nama panggilan itu makin lama akan makin panjang.” Kaum muslimin kemudian memikirkan nama panggilan yang lebih sederhana dan singkat. Sebagian kaum muslimin berkata, “Kita adalah orang-orang mukmin dan Umar adalah Amir kita.” Sejak itu, Umar bin Khathab dipanggil dengan nama gelar “Amirul Mukminin.”

Imam Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khathab mengirim surat kepada gubernur Irak, agar mengirim dua orang yang cerdas untuk ditanyai tentang kondisi Irak. Maka Gubernur Irak mengutus Labid bin Rabi’ah Al-Amiri dan Adi bin Hatim Ath-Thai ke Madinah.

Ketika keduanya tiba di Madinah, keduanya segera menambatkan tali kekang unta mereka ke tempat berteduh. Keduanya bertemu dengan Amru bin Ash, maka keduanya berkata, “Mintakanlah izin untuk kami kepada Amirul Mukminin!” Amru bin Ash berkomentar, “Kalian telah memanggil dengan nama gelaran yang tepat. Beliau adalah Amir kita, dan kita adalah orang-orang beriman.”

Amru bin Ash lalu menemui Umar bin Khatab, dan berkata, “As-Salamu ‘alaikum, wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Apa-apaan ini?” Amru bin Ash menjawab, “Anda adalah Amir dan kami adalah orang-orang yang beriman.” Sejak saat itu Umar dan para khalifah sesudahnya dipanggil dengan nama gelar Amirul Mukminin.[14]

IMAMAH, KHILAFAH, DAN IMARATUL MUKMININ ADALAH SINONIM

Dari penjelasan definisi-definisi di atas, bisa dipahami bahwa ketiga terminologi “Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin” pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Ketiga istilah ini adalah sinonim. Demikian ditegaskan oleh para ulama dalam pernyataan-pernyataan mereka.

  • Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi (676 H) berkata:

يجوز أن يقال للإمام : الخليفة ، والإمام ، وأمير المؤمنين

“Imam itu boleh disebut khalifah, imam, dan amirul mukminin.”[15]

  • Imam Ibnu Khaldun berkata:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصب وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

“Setelah kami menjelaskan hakekat jabatan (Imamah) ini dan bahwasanya ia adalah menggantikan penyampai syariat (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan pedoman agama, maka jabatan ini disebut Khilafah dan Imamah, sedangkan pemangku jabatan ini disebut Khalifah dan Imam.”[16]

  • Syaikh Muhammad Najib Al-Muthi’i berkata:

والمراد بالامام الرئيس الأعلى للدولة، والامامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة، والمراد بها الرياسة العامة في شئون الدين والدنيا

“Adapun yang dimaksud dengan imam adalah kepala (pejabat) tertinggi negara. Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin itu sinonim. Maksudnya adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, dalam urusan-urusan agama maupun dunia.”[17]

Hal yang sama ditegaskan oleh Imam Al-Mawardi Asy-Syafi’i, Al-Baghawi Asy-Syafi’i, Ibnu Abdul Hadi Ad-Dimasyqi Al-Hambali, Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Prof. Dr. Muhammad bin Ahmad Abu Zahrah Al-Mishri, Syaikh Muhammad Al-Mubarak, Dr. Muhammad Ra’fat Utsman, Prof. Dr. Abdul Aziz bin Izzat Al-Khayath, Dr. Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji, dan para penulis lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Penulis : Fadlullah

Editor : Ibnu Rodja

[1] Lisanul Arab, Al-Qamus Al-Muhith, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, entri: amma.

[2] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, tahqiq: Ahmad Jad, Kairo: Darul Hadits, cet. 1, 1427 H, hal. 15.

[3]. Al-Juwaini, Ghiyatsul Umam fi At-Tiyats Azh-Zhulam, tahqiq: Prof Dr. Abdul Azhim Mahmud Ad-Dayyib, Jeddah: Darul Minhaj, cet. 1, 1432 H, hal. 217.

[4]. At-Taftazani, Syarh Maqashidi At-Thalibin fi Ilmi Ushulid Dien, Astanah: Daru At-Thiba’ah, cet. 1277 H, hal. 200. Dikutip dari Dr. Muhammad Ra’fat Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, hal. 50.

[5]. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun, Tunis: Dar At-Tunisiyah, cet. 1984 M, hal. 244.

[6]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab Ma’a At-Takmilah lil-Muthi’i, Jedah: Maktabah Al-Irsyad, t.t. XXI/26.

[7]. Al-Murtadha Az-Zabidi, Tajul ‘Arus min Jawahiril Qamus, X/100 dan Al-Jauhari, Tajul Lughah wa Shihahul Aarabiyah, IV/1356.

[8]. Ibnu Abdil Hadi, Idhah Thuruqil Istiqamah fi Bayan Ahkam Al-Wilayah wal Imamah, Damaskus: Dar An-Nawadir, cet. 1, 1432 H, hlm. 26.

[9]. Muhammad Ra’fat Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, Kairo; Darul Kitab Al-Jami’I, cet. 1, 1395 H, hlm. 27.

[10]. Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, I/21. Dikutip dari Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Uzhma Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Riyadh: Dar Thayibah, cet. 2, 1408 H, hal. 33-34.

[11]. Abu Bashir At-Thartusyi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah wa As-Siyasah Asy-Syar’iyah, t.p, t.t, hlm. 18.

[12]. Ibnu Abdil Hadi, Idhah Thuruqil Istiqamah fi Bayan Ahkam Al-Wilayah wal Imamah, hlm. 26.

[13]. Abu Bashir At-Thartusyi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah wa As-Siyasah Asy-Syar’iyah, hlm. 19.

[14]. Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Uzhma, hlm. 35 dan Utsman, Riyasatu Ad-Daulah, hlm. 43-44.

[15]. An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin, tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awwidh, Riyadh: Dar ‘Alamil Kutub, cet. 1, 1423 H, vol VII hal. 269.

[16]. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun, hal. 244.

[17]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab Ma’a At-Takmilah, XXI/26.

KODE NIK DI KTP

Ini rahasia di balik kode angka dalam NIK e-KTP kamu, belum tahu kan?Biasanya pada KTP kamu ada 16 digit angka Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam e-KTP. Erina Wardoyo

عرفت الخلافة بأنها رئاسة عامة للمسلمين جميعاً في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم.

والخلافة والإمامة بمعنى واحد، حيث وردت الأحاديث الصحيحة بهاتين الكلمتين بمعنى واحد، روى مسلم عن النبي أنه قال: «ومن بايع إماماً فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر»، وفي الحديث الطويل الذي أخرجه الإمام أحمد، أنه e قال: «ثُمّ تكونُ خِلافةً على مِنهاج النُّبُوَّة»، وسواء سميت خلافة أو إمامة أو إمارة المؤمنين أو الدولة الإسلامية، فلا مشاحة في ذلك طالما التزم المدلول؛ لأن الواجب ليس التزام اللفظ، وإنما الواجب هو التزام المدلول، وهو كون الخلافة رئاسة عامة للمسلمين جميعاً في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم.

وبما أن الخلافة قد أصبحت رأيا عاما عند عامة المسلمين، وباتت أملهم في الخلاص من الوضع المزري الذي يعيشونه، كما أنها أضحت هدفا عند بعض الحركات الإسلامية، فقد صار لزاما على المسلمين الآن، وأكثر من أي وقت مضى، معرفة طريقة إقامتها، كما دلت عليها الأدلة الشرعية.

إن المسلم إذا أراد معرفة كيف يصلي فإنه يدرس أدلة الصلاة، وإذا أراد أن يجاهد فهو يدرس أدلة الجهاد، وإذا أراد أن يزكي ماله أو يحج فإنه يدرس الأدلة المتعلقة بكل مسألة بعينها، فهو لا يبحث عن أحكام الصلاة في أدلة الحج، ولا عن أحكام الزكاة في أدلة الصوم، وهكذا. وكذلك إذا أراد أن يقيم الدولة؛ فإن الواجب عليه أن يدرس أدلة قيامها من فعل الرسول e، وحيث إنه لم يرد عنه eطريقة لإقامة الدولة إلا الطريقة المبينة في سيرتهe؛ فإنه قد جانب الصواب أولئك الذين ذهبوا للبحث عن طريقة إقامة الدولة في أحكام الجهاد، وتبنوا القتال طريقة لإقامتها؛ لأن الرسول e لم يقم بالقتال مطلقا قبل إقامة الدولة، أي أنه لم يتخذ من القتال طريقة لإقامتها، بل إنه e قد نهى عن ذلك وشدد عليه، فقد جاء في صحيح البخاري ‏عَنْ ‏خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ ‏قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ‏e ‏وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ ‏الْكَعْبَةِ ‏قُلْنَا لَهُ أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ قَالَ‏: «كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ‏ ‏صَنْعَاءَ ‏إِلَى ‏حَضْرَمَوْتَ ‏لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ». كما جاء في تفسير ابن كثير عَنْ اِبْن عَبَّاس أَنَّ عَبْد الرَّحْمَن بْن عَوْف وَأَصْحَابه أَتَوْا النَّبِيّ e بِمَكَّة فَقَالُوا: يَا نَبِيّ اللَّه، كُنَّا فِي عِزَّة وَنَحْنُ مُشْرِكُونَ فَلَمَّا آمَنَّا صِرْنَا أَذِلَّة قَالَ: «إِنِّي أُمِرْت بِالْعَفْوِ فَلَا تُقَاتِلُوا الْقَوْم» وفي الحادثتين كأن بعض الصحابة رضوان الله عليهم قد استبطأوا إقامة الدولة، فأرادوا أن يلجأ e إلى القتال في إقامتها، وفي هاتين الحادثتين وفي غيرهما أصر e على المضي في طريقته، بل وغضب ممن أراد أن يثنيه عنها وإصرار الرسول eعلى القيام بأي أمر رغم تحمله الأذى في سبيله دليل على أن هذا الأمر فرض كما في الأصول.

إن إقامة الخلافة تحتاج إلى قوة عسكرية تمكن لها، هذا صحيح، لكن هذه القوة ليس مطلوباً أن تتوفر في الجماعة التي تعمل لإقامتها، بل لا يجوز أن تكون هذه الجماعة إلا سياسية، والأدلة السابقة وغيرها واضحة في ذلك، أما القوة العسكرية فواجب توفرها في الذين سيعطون النصرة للجماعة لتمكينها من استلام الحكم وإقامة الخلافة، وهم من يطلق عليهم أهل القوة والمنعة.

وهذا ما سار عليه الرسول e في إقامته للدولة الإسلامية الأولى، فإنه e قد طلب النصرة من أصحاب القوة والمنعة الذين كانوا يشكلون مقومات دولة حسب واقع المنطقة حولهم، ولذلك فإن الرسول e كان يدعو القبائل القوية إلى الإسلام ويطلب منها النصرة، فقبيلة تدمي قدميه الشريفتين، وقبيلة تصده، وقبيلة تشترط عليه، ومع ذلك يستمر e ثابتاً على ما أوحى الله إليه دون أن يغير تلك الطريقة إلى طريقة أخرى كأن يأمر أصحابه بقتال أهل مكة، أو قتال بعض القبائل ليقيم الدولة بين ظهرانيهم، وصحابته كانوا أبطالاً لا يخشون أحدا إلا الله، ولكنه e لم يأمرهم بذلك، بل استمر في طلب النصرة من أهل القوة والمنعة حتى يسَّر الله سبحانه الأنصار إليه فبايعوه بيعة العقبة الثانية، بعد أن كان مصعب رضي الله عنه قد نجح في مهمته التي كلفه بها الرسول e في المدينة المنورة، فبالإضافة إلى توفيق الله سبحانه له برجال من أهل القوة ينصرونه، فإنه رضي الله عنه قد أدخل بإذن الله الإسلامَ إلى بيوت المدينة وأوجد فيها رأياً عاماً للإسلام، فتعانق الرأيُ العام مع بيعة الأنصار، ومن ثم أقام الرسول eالدولة في المدينة ببيعةٍ نقية صافية.

هذه هي الطريقة الشرعية لإقامة الخلافة، والتي يجب أن تُتَّبع، لأن الأصل في الأفعال التقيد بالحكم الشرعي، كما أن سلوك غير هذه الطريقة يؤدي إلى تضييع جهود المسلمين، بل قد يؤدي إلى تركيز نفوذ الكفار المستعمِرين وعملائهم في بلاد المسلمين.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai