(imajinasi. harapan. dan pikiran saya sadja. harap maklum dengan gaya tulisan dan perbendaharaan kata)
emosi..
huaaa.
kata yang cukup membuat saya berpikir.
(?)
yang diatur oleh limbic system dalam otak kita tercinta.
apa yang mengaktifkannya? stimulus?
yap2
dan saya pikir setiap orang punya kadar stimulus yang berbeda-beda untuk menciptakan lonjakan potensial listrik di sel-sel syarafnya.
ini bukan tulisan tentang apapun, kecuali bayangan saya ketika semua orang bisa saling mengerti dan memaklumi.
menurut apa yang saya amati selama ini (ngasal ambil kesimpulan. lalalala…), saya merasa banyak bertemu mayoritas orang seperti ini :
orang yang sensitiologic
apaan tuh?
sangat perasa, sensitif dengan perubahan, dan menggunakan logika sewajarnya.
tapi, kebanyakan mereka hipersensitif. (ngasal)
kebanyakan orang yang hipersensitif mudah terpengaruh dengan perkataan dan keadaan.
reaksinya pun beragam, dari menangis bombay sampai ngamuk mendadak.
dan mereka cenderung senang mengkritik orang pedas-pedas berdasarkan perasaannya.
ga semua ya.. cuma mayoritas.
mereka banyak menekan perasaan mereka sendiri, dan menghilangkannya dengan melakukan sesuatu yang melibatkan dirinya. contoh : melawak untuk diri sendiri.
lebih peka dengan keadaan orang lain, dan ikut terbawa aura emosi orang sekitarnya tanpa diminta.
intinya? mereka sangat peduli pada orang lain. 🙂
mudah tersinggung. responnya? ada yang ‘down’, ada yang terbangun semangatnya. tapi kebanyakan mereka sepertinya jatuh dulu dalam renungan panjang dan sedikit kesedihan.
tetapi perubahan yang dilakukan akan sangat luar biasa.
ada pula yang menggunakan “Topeng Ajaib”.
Karakteristik : terlihat sangat ceria di luar tapi rapuh di dalam.
dia berbagi kebahagian ke luar, karena senang melihat orang lain senang akan dirinya.
tapi memojok di ruangan, tersembunyi saat sedih, walaupun sebenarnya banyak diantara mereka yang ingin berbagi.
entah mengapa. mungkin karena takut orang lain sedih juga?
tapi sepertinya karena berpikir orang lain tak mungkin mengerti apa yang mereka rasakan.
sangat disukai banyak orang karena kelembutan/keunikan karakternya
nyuhuhuhu..
banyak yang membuat status ambigu di jejaring sosial.
begitu ditanya kenapa, jawabannya : nggak apa2 kok.. XD
begitu pake logika, sebenarnya akan lebih bisa diterima oleh mereka.
dan mereka pun bagus dalam menggunakannya.
dan mereka akan lebih stabil.
hahaha.. tapi ga tau yaa..
ini sih dari pengamatan saja.
Sedangkan yang lainnya adalah orang-orang yang logicosenso
apaan tuh?
berpikir logis, berdasarkan fakta, dan memiliki sensitifitas yang sewajarnya.
Mereka adalah apa adanya mereka, “yang saya pikirkan, itulah yang saya ucapkan”.
jarang pake perasaan,
mengukur semua tindakan yang dilakukan.
terkadang mereka menggunakan ketegasan dalam memberi saran maupun kritik.
yaay.
cenderung bisa membaca orang ketika mengekspresikan emosinya. (dengan ekspresi yang sesuai tentunya)
contoh : “dia sedih karena saya melihat dia menangis”
mereka mudah melakukan perubahan ketika diberi saran.
ketika mereka menggunakan sensitifitasnya (perasaan), kebanyakan dari mereka membuat renungan malam yang lama
mereka benar-benar berpikir mengapa hal itu terjadi, dan benar-benar ingin merubahnya
jadi sangat sensitif begitu..
nyohohoho
tapi perubahan yang dilakukan sangat bagus.
bukannya mereka tidak peka loh yaa..
tapi kebanyakan mereka berpikir sesuatu tidak akan selesai menggunakan perasaan saja.
ga tau juga yaa.. namanya juga kesimpulan sendirii.. B-)
banyak kasus orang yang terlalu sensitif mudah tersinggung oleh orang yang banyak berpikir berdasarkan fakta
padahal, coba kalau mereka saling memahami.
A : “Oh, saya tau, dia kan orangnya kalau memberi saran memang tegas. Ga apa2 dong, demi kebaikan saya juga. Saya ga boleh tersinggung..:D”
bukankan sang sensi itu peka? peka lah bahwa orang yang memberikan kritik padanya adalah untuk kebaikan. sekalipun menurutnya sangat menusuk jiwa, anggap saja orang itu tidak tahu bahwa kita sensitif.
kalaupun ada yang mengganjal, segera utarakan dengan baik, karena ternyata saling bicara itu akan meringankan beban emosi.
nyahahaha..
butuh waktu untuk sembuh? jalanilah dengan baik tanpa ada pikiran negatif dengan orang yang mungkin ‘dirasa’ menyakiti.
B : “Wah, dia orangnya agak sensitif. mungkin kalau saya mau ngajak bicara, sedikit diperhalus dan secara baik-baik. Pokoknya yang penting dia paham apa yang saya katakan, dan perasaannya ga terganggu dengan perkataan saya”
bukankah mereka peritungan? rencanakanlah pembicaraan yang baik. hitung kemungkinan sampai tidaknya informasi dan cara bicara juga bahasanya. 😀
kalaupun butuh ketegasan yang sangat, kita minta maaf terlebih dahulu mungkin, kalau2 menyakiti perasaannya.
sehingga orang lain tahu, “mungkin cara saya kurang mengenakkan, tapi ini harus disampaikan.”
semoga orang lain mengerti dan tidak tersakiti.
yah.. harapan mungkin. jangan sampai ada yang tersinggung, atau sangat merasa bersalah. kalau diutarakan dengan baik, akan lebih nyaman sepertinya. sulit? tapi mungkin kaan.. hehehe..
Posted in Uncategorized