Ketika Cinta Tidak Harus Memiliki

Ini adalah kisah tentang Sya, adik semata wayangku. Kisah yang membuatku sadar akan kalimat, “Manusia boleh berencana namun Tuhan-lah yang Maha Menentukan…”

Sya adalah seorang perempuan yang matang di usianya yang kedua puluh lima. Dia cantik, sukses dan pintar. Bisa disebut “cantik”, karena ia nampak seperti gambarkan kecantikan modern yang biasa kita lihat di media massa, tingginya 171 cm, berkulit kuning langsat, berhidung mancung walau seratus persen berdarah Jawa. Hanya saja, tak seorangpun tahu seberapa panjang rambut Sya yang konon kabarnya berwarna hitam legam, karena jilbab yang selalu menutupi rambut ketika ia keluar rumah. Dapat dibilang “sukses” karena Sya tercatat sebagai manager di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Dan… layak dikatakan “pintar” karena Sya lulus SUMMA CUM LAUDE dari S2-nya dalam bidang Psikologi Komunikasi di usia 23 tahun. Emm… jika tidak layak disebut “pintar” maka gadis ini patutnya disebut “jenius”…

Abdul adalah tipikal sebaliknya… Di usianya yang kedua puluh delapan, ia… emm… bisa disebut “mengenaskan”. Mengapa demikian? Secara fisik, jejaka kita ini tidak bisa disebut “jelek” namun tak layak pula disebut “tampan”. Tingginya 175 cm, berkulit hitam (euh, coklat tua), berambut keriting yang ia potong ala tentara, dan berhidung persegi. Abdul adalah kakak kelas Sya. Walau tidak satu jurusan. Ia sudah cukup lama kuliah di universitas tersebut, dan tahun ini memasuki tahun kesembilan baginya. Karena statusnya yang mahasiswa, tentu ia masih menggantungkan hidup pada kedua orang tua.

Betapa Cinta itu Buta
Lima purnama sebelum Bulan Suci Ramadhan…

Abdul bukanlah orang asing bagi Sya. Mereka pernah satu organisasi saat Sya masih kuliah S1. Mereka berdua aktif dalam sebuah organisasi politik mahasiswa. Dimana Abdul sebagai ketua bidang politik dan Sya adalah ketua bidang pembinaan. Namun pada saat itu, setahuku, tidak ada getar cinta antara mereka. Jika ada, Sya pasti sudah menceritakannya…

Tepat tiga tahun setelah Sya meraih gelar Sarjana. Tuhan mempertemukan pasangan ini dalam sebuah reuni. Di Bandung, kota tempat Sya kuliah S1 dan kota tempat Abdul menghabiskan sembilan tahun terakhirnya. Abdul pernah berkata kepadaku, saat itu adalah cinta pada pandangan pertama. Setelah berbilang tahun tiada berjumpa, Sya sangat cantik di matanya.
Cinta memang buta. Bagi Sya, Abdul adalah pria pertama yang benar-benar telah mempesona dan memperangkap jiwanya. Bagi Sya, Abdul adalah laki-laki yang anomali. Ia adalah pria satu-satunya dimana Sya tidak harus menjadi pendengar. Ia, yang tidak langsung “curhat”, begitu tahu profesi Sya yang seorang Psikolog. Ia, yang rela menempuh enam jam perjalanan hanya untuk menemani Sya makan malam. Ia, tempat Sya bisa bermanja dan melepas lelah akibat himpitan pekerjaan. Di mata orang lain, Abdul memang memperlakukan Sya bagai ratu. Walau tidak pernah mengantar jemput Sya, Abdul selalu memberikan seuntai kata cinta sebagai sarapan pagi hari. Abdul selalu memperhatikan kesehatan Sya yang memang lemah sejak kecil, dengan selalu mengingatkan untuk makan, dan cukup istirahat. Hal-hal kecil memang, namun di mata Sya, Abdul memberikan apa yang tidak pernah diberikan orang lain. Perhatian yang tulus. Abdul mewarnai hari-hari Sya dengan cinta, dan kecemburuan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Namun bagi Aku, kakak Sya. Ada yang tidak tepat di dalam hubungan ini. Entah apa. Saat itu, aku tidak tahu apa yang mengusikku. Maka, ketika Sya meneleponku untuk mengabarkan bahwa keluarga Abdul akan datang melamar, kutepiskan keraguanku jauh-jauh.

Akhirnya lamaran itu tiba… tepat tujuh hari menjelang Ramadhan, bulan yang mulia. Dia nampak bahagia ketika mempersiapkan prosesi lamaran di rumah orang tua kami, 1000 km dari kota tempat Sya tinggal saat ini.

Ketika Langit Seakan Runtuh
Hari itu tepat Hari Kedua Puluh Lima pada bulan Ramadhan…

Aku menghentikan mobil tepat di depan rumah orang tua kami. Sebelum kakiku menginjak tanah, ponselku berbunyi. Dari seberang, terdengar suara Sya. Amat berat. “Dia membatalkan pernikahan kami…” Setelah itu yang tersisa hanya diam. Sepertinya tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya cekatan-cekatan yang meluruhkan sendi hati. “Aku terbang ke sana, ya?,” sambung suara di seberang.

“Kemarilah, pesanlah tiket dan aku tunggu di bandara. Kuatlah. Sampailah sini. Biar kutemani kau”. Hanya itu yang bisa kukatakan. Selebihnya aku hanya nanar. Bagaimana bisa, Abdul membatalkan pernikahan dengan Sya. Apa yang salah. Salahkah penilaian kami terhadap Abdul. Atau benarkah “keraguanku” selama ini.

Buliran bening mengalir juga di pipiku. Aku merasa.. tiba-tiba kakiku menjadi pendek. Karena aku tak tahu harus bagaimana menolongnya dari kejauhan. Membantunya tetap berdiri. Memastikan bahwa dia tidak menginginkan kematian karena putus asa. Rasa tak berdaya ini akhirnya memecahkan tangisku. Tersedu. Tangis itu baru berhenti setelah tangan suamiku menggengam erat “Jangan larut, tahan, tahan.”

Aku menunggu di ruang makan, dengan perasaan tak menentu, karena baru saja Sya mengabarkan, hanya ada pesawat pukul 10 malam. Itupun delay karena ada trouble engine. Kegelisahanku terjawab. Tepat pukul 4 sore “Aku gak kuat, dadaku sesak” begitu bunyi pesan tak bersuara itu. Aku memandang mata suamiku mengabarkan ketakberdayaan. Aku takut, jantung Sya yang lemah sejak kecil tidak mampu menahan beban ini. Dia paham. Dan ponselkupun jatuh ke tangannya. Di luar dugaan, dia berlari. Sayup-sayup kudengar orang muntah berkali-kali lalu senyap. Hening…

Beberapa saat, aku mulai curiga, suamiku tak muncul lagi dan kuputuskan melihatnya. Suamiku bersandar di wastafel dengan badan bergetar. Ia hanya diam. Setelah kutembus matanya, aku baru tahu apa yang harus kulakukan. Dengan perasaan tak menentu, aku tapping badannya. Tanpa Set Up. Satu putaran, dia lalu berdiri, berjalan ke arah dapur. Mengambil air segelas penuh dan meminumnya. “Kau tak apa?” Dia tersenyum sambil berkata “Untung kau datang.” Ganti aku yang terduduk dengan keringat bercucuran. Meski hanya tiga menit, aku merasa sangat lelah. Seperti berjalan jauh tanpa air…

Ponselku bergetar perlahan… “Alhamdulillah, Kak… Aku udah bisa berdiri. Makasih. Tadi rasanya langit mau runtuh. Gelap. Aku hanya mampu memeluk ponselku” Aku tertegun membaca kalimat itu. Benarkah? Lalu, sebegitu mampukah apa yang kulakukan untuk membuat Sya bertahan ketika ada di ujung bumi?

Aku masih terdiam, kala suamiku menggambilkan segelas air untuk kuminum… Dia berkata, begitu memegang ponselku, dia merasa jiwa Sya masuk dalam tubuhnya. Berat. Tiba-tiba dia merasa dadanya sangat sesak. Lalu ia muntah hingga badannya bergetar. Ketika berusaha mengangkat tangan, lengannya terasa lunglai. Aku menatapnya penuh. “Kau tak apa?” Dia hanya tersenyum.

Mataku memandang nyalang ke arah pintu kedatangan domestik. Aku melirik arlojiku. Jam 11. Mana Sya? “Aku dah sampai bandara” seuntai kalimat menyerbu ponselku. Bergegas aku memacu langkah. Aku menemukannya dalam sorot mata kuyu. Ia berlari sebelum tumpah di pelukanku. Antara kelu, lega dan luruh bercampur. Setidaknya aku bisa memastikan dia bisa sampai kota ini tanpa halangan berarti meski dengan hati carut marut.

“Kak, untung kau surrogate aku. Aku tidak tahu apa jadinya jika kau tak menolongku dari sini. Karena semuanya terasa gelap. Sangat gelap dan berat. Langit terasa pendek hendak menghimpitku.” Lama aku terdiam, membiarkan tanganku mendekapnya. Jika aku kuat, ingin rasanya kubawa terbang, berpelukan dan berputar-putar. Karena ada yang bergemuruh tak tentu di dadaku saat ia tumpah di pelukanku. Tapi terbang semacam itu, pastilah hanya ada dalam dongeng… Heem…

Dalam lamunan ingin membawanya terbang, tiba-tiba ada yang mengalir sejuk di hatiku. Mungkin karena aku merasa tetap bisa menjaganya meski jarak memisahkan kami dan tidak berpikir apa yang telah kulakukan. Terima kasih Tuhan.

Jakarta, menjelang Hari Kemerdekaan, 2008
Kontemplasi di rumahku sendiri

The Road to be Great Leader

The kine is envolving path that actually changes
according to the first steps we envolves take to begin the journey…

(David Wyhte, English poet & author)

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menguraikan tentang bagaimana seorang pemimpin yang tadinya hangat, yang tadinya penuh semangat, yang tadinya inspiratif, ‘tiba-tiba’ tersesat. Mereka berubah menjadi pribadi yang sulit didekati, bertindak dengan cara yang tidak sehat atau bahkan koruptif, serta melupakan nilai-nilai yang dulu pernah mereka pegang teguh. Hal ini disebut kondisi dissonance. Nah, seorang pemimpin dapat dengan mudah berada pada kondisi ini, terutama pada era dimana perubahan terjadi setiap sekejab mata. Dengan kata lain dissonance is default. Tulisan ini akan mengupas bagaimana caranya seorang pemimpin dapat kembali pada kondisi resonance.

Martha’s Story…

Martha Gostling adalah manager pemasaran dari sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultasi bisnis. Tahun 2006, ia mendapatkan penghargaan sebagai pemasar nomor satu di divisinya. Ia pun dipromosikan untuk menjadi kepala divisi pemasaran di kantor pusat. Kesuksesan bukanlah hal baru bagi Martha. Sesaat setelah lulus dari HBS ia menapaki karirnya sebagai pemasar sukses dari satu perusahaan ke perusahaan lain dengan prestasi yang cemerlang. Ia bahkan menduduki posisinya yang sekarang karena sebuah executive hijacking dari perusahaan kompetitor.

Namun seperti yang telah saya singgung sebelumnya, perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti terjadi. Perubahan pun terjadi pada bisnis Martha. Akibat badai ekonomi yang menggulung Amerika Serikat dan dunia, perusahaannya pun ikut goyah. Perusahaan Martha pun mulai melakukan perampingan. Mereka melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan siapa yang akan dirumahkan.

Pada hari Senin yang cerah, direktur HR-nya mendadak membuat dunia Martha menjadi kelabu. “We have a situations,” katanya. Sang direktur menyodorkan sebuah daftar panjang hasil wawancara yang dilakukannya dengan orang-orang yang bekerja dengan Martha. Rekan sekerja dan juga para kliennya. Isi dari daftar itu menghancurkan hati Martha. Mereka mengatakan bahwa Martha hanya peduli dengan target, Martha hanya peduli dengan kesuksesannya sediri, Martha hanya peduli dengan apa yang dikatakan oleh bosnya dan tidak peduli dengan nasib rekan kerjanya. Senin itu juga, Martha diminta untuk mengosongkan mejanya. Namun sebelum pergi, sang direktur memberinya sebuah buku tentang bagaimana caranya menjadi seorang yang empatik , seraya berpesan agar Martha membacanya.

Dan… Martha benar-benar membacanya.

Martha menemukan AHA-nya setelah membaca buku tersebut. Ia menyadari kesalahannya. Selama ini, Martha yakin bahwa emosi tidak mendapat tempat di dunia kerja. Selama ini, Martha menganggap menunjukkan perhatian pada rekan sekerja akan membuatnya tampak lemah. Selama ini, Martha adalah seorang manajer dingin, berjarak dengan rekan kerjanya. Sebenarnya ini cukup bertolak belakang dengan keseharian Martha sebagai ibu rumah tangga. Martha dikenal sebagai seorang ibu yang perhatian dan istri yang penuh kasih.

Sembari mencari kerja di tempat yang lain, Martha mencari bantuan untuk berubah. Ia menemui seorang coach untuk mengajarinya menjadi seorang yang empatik di dunia kerja. Coach Martha memulai dengan memintanya untuk menggali kelebihan utamanya serta kelemahan fatalnya. Martha menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemasar yang lihai dan kekurangannya adalah ia terlalu fokus pada keberhasilannya untuk menjual suatu produk, bukan pada apa manfaat yang diperoleh pembeli dari produk yang dijualnya. Kemudian, sang coach meminta Martha membayangkan gambaran ideal dari seorang pemasar yang bisa menunjukkan empati pada kliennya. Martha mencoba membayangkan pemasar yang penuh perhatian seperti seorang ibu pada anak-anaknya. Hal ini mudah baginya, seperti yang saya sudah sebutkan sebelumnya, Martha adalah seorang ibu yang penuh kasih. Lalu atas dasar itu, Martha berlatih untuk memvisualisasikan apa yang dipikirkan para kliennya. Ia membayangkan dirinya berada pada posisi kliennya. Martha dan sang coach bahkan melakukan role play berkali-kali sampai Martha benar-benar memahami apa yang dirasakan oleh kliennya. Awalnya cukup sulit, namun pada akhirnya Martha benar-benar menguasai cara berfikir baru ini.

Ketika pada akhirnya Martha menemukan sebuah pekerjaan baru sebagai tenaga pemasar di perusahaan periklanan, ia mempraktekkan hasil coaching-nya. Pada semester awal pekerjaannya, seperti biasa, Martha sukses melampaui target penjualan yang dibebankan padanya. Sebagai bonus, Martha mendapatkan feedback luar biasa dari orang-orang yang berkerja dengannya. Mereka semua merasakan betapa Martha Gostling adalah pribadi yang hangat dan menginspirasi.

Mari kita bedah bersama, bagaimana proses perubahan ini terjadi pada Martha…

Ephipanies: Changes are Truly Discoveries…

Perubahan ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan menyadari bahwa Anda sebagai seorang pemimpin telah salah arah. Tanpa kesadaran penuh, perubahan yang ‘diniatkan’ tidak mungkin terjadi. Dalam kasus Martha kesadaran ini muncul dari feedback yang diberikan oleh direktur HR-nya. Namun sayangnya umpan balik ini juga adalah sebuah kartu merah untuk Martha. Ia harus kehilangan pekerjaannya. Hal ini, jika menilik dari tulisan saya yang sebelumnya, adalah sebuah alram yang nyaring bunyinya. Sebuah dramatic live event. Setelah dipecat, Martha dipaksa untuk melihat dirinya dengan cara yang berbeda. Martha dipaksa untuk menjadi seorang pemasar yang empatik. Martha dipaksa untuk menjadi seorang pemasar yang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh kliennya.

Richard Boyatzis melakukan serangkaian penelitian untuk mempelajari proses bagaimana seorang dapat menjadi pemimpin yang lebih baik melalui kesadaran bahwa ia harus berubah. Boyatzis yakin bahwa tanpa kesadaran penuh, pemimpin mustahil untuk benar-benar berubah. Untuk itu, mindfullness atau kesadaran penuh akan kondisi diri dan lingkungan sekitar mutlak diperlukan. Ini semacam radar yang mengabarkan pada Anda bahwa Anda telah tersesat. Kemudian, Anda tentu memerlukan impian atau gambaran ideal atau harapan, hope, sebagai obor penyemangat Anda untuk kembali kepada jalan yang benar. Anda juga harus terus menerus mengembangkan jejaring sosial yang empatik, compassion, yang dapat membantu Anda atau setidaknya tempat Anda bertanya apakah arah perubahan Anda sudah tepat atau belum. Bukankah malu bertanya akan sesat di jalan? 🙂

Boyatsis menamakan teorinya akan kesadaran untuk berubah ini dengan “Intentional Change Theory”, berikut adalah tahapannya;

Step 1: Finding Your Ideal Self
Sebuah tahapan untuk menemukan gambaran ideal tentang diri Anda. Pada kasus di atas, sang coach meminta Martha membayangkan gambaran ideal dari seorang pemasar yang bisa menunjukkan empati pada kliennya. Martha mencoba membayangkan pemasar yang penuh perhatian seperti seorang ibu pada anak-anaknya.
Anda bisa berlatih untuk menemukan gambaran ideal ini dengan mencoba untuk diam sejenak… Pejamkan mata… Lalu coba bayangkan bahwa Anda berada di taman pemakaman. Anda melihat suami/istri, anak-anak, orang-orang terdekat Anda melingkar mengelilingi tanah basah. Mata mereka sembab sebab mereka berduka karena telah kehilangan orang yang paling berarti untuk mereka, Anda. Sekarang… coba Anda bayangkan, kira-kira apa yang mereka katakan tentang diri Anda…

Step 2: Boosting Your Strength and yet Limited Your Fatal Weakness
Menemukan kelebihan dan kekurangan Anda. Saya menyarankan untuk menemukan kelebihan utama Anda. Keunikan Anda. Brand Anda. Karakter yang membedakan Anda dari orang yang lain. Lalu kemudian menyadari kekurangan fatal Anda. Kekurangan yang dapat melumpuhkan Anda. Karakter atau sifat tertentu yang jika Anda lakukan akan mengurangi atau bahkan meniadakan kelebihan Anda.
Pada kasus di atas, Martha menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemasar yang lihai dan kekurangan utamanya adalah ia terlalu fokus pada keberhasilannya untuk menjual suatu produk, bukan pada apa manfaat yang diperoleh pembeli dari produk yang dijualnya.
Anda dapat melakukan eksplorasi kelebihan dan kekurangan Anda dengan berbagai macam alat ukur. Saya menyarankan Anda untuk melakukan serangkaian test psikologi atau just simply go online. Anda bisa mengunjungi situs http://www.viacharacter.org, atau http://www.reachcc.com.

Step 3: Creating Learning Agenda for A New Future
Setelah Anda menemukan arah mana yang harus Anda tuju dan posisi di mana Anda saat ini, langkah berikutnya adalah menentukan rute mana yang harus Anda lalui untuk menuju puncak kesuksesan Anda. Ibaratnya, jika Anda ingin ke Surabaya dan Anda sekarang berada di Jakarta, Anda harus memutuskan apakah akan melalui jalur pantura atau memilih melalui jalur selatan.
Dalam kasus Martha, ia membayangkan gambaran ideal dari seorang pemasar yang bisa menunjukkan empati pada kliennya. Martha mencoba membayangkan pemasar yang penuh perhatian seperti seorang ibu pada anak-anaknya. Lalu atas dasar itu, Martha berlatih untuk memvisualisasikan apa yang dipikirkan para kliennya. Ia membayangkan dirinya berada pada posisi kliennya.
Untuk mempraktekkan langkah ini Anda bisa melakukan dengan berbagai macam strategi eksekusi. Saya menganjurkan Anda melakukannya dengan langkah ajaib yang dikembangkan oleh Franklin Covey yaitu Four Disipline of Executions, 4Dx. Untuk lebih jelasnya silakan kunjungi http://franklincovey.eu atau mengunjungi discussion board-nya di Facebook.

Step 4: Practice Makes Perfect
Tentu sekali mencoba tidak cukup. Trial error. Kadang Anda harus melalui belokan salah satu, belokan salah dua, belokan salah banyak hingga Anda menemukan jalan yang tepat untuk mencapai tujuan Anda. Dengan melakukan perencanaan yang baik di langkah sebelumnya, Anda dapat mengurangi kesalahan.
Martha dan sang coach bahkan melakukan role play berkali-kali sampai Martha benar-benar memahami apa yang dirasakan oleh kliennya. Awalnya cukup sulit, namun pada akhirnya Martha benar-benar menguasai cara berfikir baru ini.

Step 5: Don’t Try This Alone
Dan… untuk berubah Anda membutuhkan bantuan orang lain. Sebuah support group yang membantu Anda untuk terus menerus berubah ke arah yang lebih baik. Pada kisah di atas, Martha meminta bantuan dari seorang coach untuk mendampinginya menuju arah perubahan yang lebih baik.

Jadi, untuk berubah ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan menyadari bahwa Anda sebagai seorang pemimpin telah salah arah. Kemudian, Anda perlu menentukan arah mana yang harus Anda tuju dan posisi di mana Anda saat ini, langkah berikutnya adalah menentukan rute mana yang harus Anda lalui untuk menuju puncak kesuksesan Anda. Lalu, Anda harus merencanakan bagaimana caranya untuk mencapai impian Anda dan terus menerus berupaya untuk mencari jalan yang tersingkat dan tercepat. Untuk itu, Anda harus didampingi oleh seorang guide yang baik, yang membantu Anda menuju arah yang tepat. Dalam menapaki jalan menuju resonansi, Anda memerlukan tiga kompetensi lain. Ketiganya merupakan bekal untuk membuat perjalanan Anda labih mudah…

Berikut urian ketiganya…

Mindfullness: Awake, Aware, Attentive…

Saya mendefinisikan mindfullness dengan meminjam istilah dari Eckhart Tolle adalah berkonsentrasi pada kondisi ‘saat ini’. Menyadari apa yang sedang terjadi pada saat ini. ‘Mengada’ pada realitas. Sebagai peneliti senior dari EI, Richard Boyatzis dan Anne McKee menyimpulkan bahwa proses renewal hanya dapat dicapai ketika pemimpin berkomitmen untuk ‘mengada’ secara holistik. Menyadari ada perubahan dalam diri. Menyadari ada perubahan dalam bersikap, berfikir dan berprilaku. Menyadari wake up calls. Dengan kata lain, pemimpin harus menjadi sadar bahwa mereka sedang ‘tidak sadar’. Kesadaran seseorang akan diri, orang lain, dan konteks di mana dia hidup dan bekerja. Mengembangkan rasio, mengurus kondisi fisik, mengelola emosi, dan memperhatikan aspek spiritulitas adalah rangkaian aspek penting yang harus diperhatikan dalam mindfulness. Menyeimbangkan otak, fisik, emosi dan jiwa. Mindfulness membuat pemimpin tetap berada pada jalur yang tepat.

Dalam upaya untuk mencapai mindfullness Anda dapat mencoba latihan berikut ini…

Stop. Tutup mata Anda. Lalu berkonsentrasilah dengan apa yang Anda rasakan saat ini. Jangan dianalisis. Cukup rasakan lalu beri nama. Namai perasaan Anda saat ini. Istilah tertentu yang menggambarkan kondisi Anda pada saat ini. Anda mungkin membutuhkan waktu hingga lima menit untuk menemukan istilah yang tepat. Anda mungkin akan mendefinisikan perasaan Anda sebagai stress, capek, kesal dan seterusnya.

Lakukan latihan ini tiga hingga empat kali dalam sehari. Usahakan lakukan selama seminggu berturut turut. Dengan semakin sering berlatih Anda akan semakin cepat menemukan istilah yang tepat. Dengan semakin sering berlatih Anda akan semakin akurat. Stress berubah menjadi frustasi dan sedikit cemas. Capek menjadi lelah karena tugas yang menggunung. Kesal berubah menjadi marah karena ditegur oleh bos.

Hope: Arouse, Accomplish, Amplify…

Harapan menggugah emosi positif kita. Ketika kita mencoba membayangkan gambaran ideal akan masa depan, maka kita akan mengalami sensasi yang membangkitkan semangat. Sebuah pengalaman hope dapat merubah struktur kimia dalam otak kita, dan pada akhirnya dapat memperbaharui pikiran dan tubuh kita. Harapan adalah magnet emosi, ia meningkatkan energi dan mendorong semangat kita.

Harapan membuat kita percaya bahwa masa depan itu sangat mungkin bisa kita raih. Kita dapat membayangkan rute menuju impian kita. Kita pun dapat menginspirasi orang lain untuk bergerak ke arah yang sama. Harapan ini membias. Harapan dapat mempengaruhi ikatan emosional kita dengan orang lain. Harapan dapat menjadi mendorong yang sangat bagus untuk memotivasi kelompok.

Dalam upaya untuk menggali impian Anda dapat mencoba latihan berikut ini…

Stop. Tutup mata Anda. Silakan mulai menghitung mundur dari angka 10 hingga ke 1. Bayangkan diri Anda menuruni sepuluh anak tangga. Anda akan merasa semakin relaks setiap angka hitungan mulai berkurang, dan puncaknya ketika hitungan Anda mencapai angka 1, Anda akan merasa sangat rileks dan nyamaan sekaliii. Bernafaslah dengan santai tarik nafas dan keluarkan perlahan.

Bayangkan Anda membuka sebuah pintu. Di balik pintu itu Anda akan bertemu dengan diri Anda sepuluh tahun yang akan datang. Lihatlah dia. Mungkin rambutnya sedikit dihiasi uban, mungkin ada timbunan lemak di sekitar perutnya, mungkin ia telah mengenakan kaca mata. Namun, semua itu malah membuatnya makin matang dan dewasa. Lihat, ia menyapa Anda dengan senyumnya yang lebar. Lalu, ia mulai bercerita tentang keberhasilan yang telah ia raih selama sepuluh tahun ini. Ia juga bercerita tentang hal-hal apa saja yang dapat membuatnya berhasil. Ia juga menyebutkan siapa saja yang membantunya untuk mencapai posisi puncak.

Setelah mendengar seluruh ceritanya, rasakan dada Anda mulai bergetar, darah mengalir cepat di urat nadi Anda, rasakan semangat Anda menggelegak. Anda siap untuk menyongsong masa depan gemilang seperti apa yang sudah Anda saksikan.

Kemudian, berbaliklah menuju pintu dimana Anda masuk tadi. Buka pintunya, dan naikilah kembali tangga yang tadi Anda lalui. Mulai dari hitungan 1 hingga 10. Pada hitungan ke sepuluh Anda siap membuka mata dan memulai hari yang baru dengan semangat yang baru pula…

Compassion: Emphaty in Actions…

Sebagai seorang pemimpin kita harus memiliki empati pada orang yang bekerja dengan kita. Hal tersebut dimulai dengan memahami bahwa setiap orang adalah unik. Mereka memiliki cara padang yang berbeda untuk melihat dunia. Mereka memiliki sikap yang berbeda saat menghadapi sebuah masalah. Mereka pun berfikir dengan cara yang berbeda pula. Sebagai pemimpin yang efektif, mau tak mau, kita harus meluangkan waktu untuk belajar mengerti orang lain. Namun, memahami saja tidak cukup. Kita juga harus menunjukkannya pada tindak tanduk kita dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Boyatzis dan McKee, compassion memiliki tiga komponen utama. Pertama, memahami perasaan dan pengalaman orang lain. Kedua, peduli pada orang lain. Ketiga, bersedia untuk menunjukkan sikap ini pada prilaku sehari-hari.

Syarat utama untuk menumbuhkan compassion dalam realitas kepemimpinan adalah active listening. Pemimpin yang baik harus bersedia menjadi seorang pendengar yang baik, dan pengamat yang memahami. Intinya, menggunakan seluruh panca indra dan bahkan sixth sense Anda untuk benar-benar mengerti orang yang bekerja di bawah koordinasi Anda.

Compassion ini adalah sebuah tindakan yang sifatnya timbal balik. Artinya, ketika Anda memulai untuk bersikap baik pada orang lain, jangan heran apabila mereka tiba-tiba bersikap baik pada Anda. Emosi positif yang Anda berikan pada orang lain akan mempengaruhi mereka, emosi mereka pun akan membias pada Anda. Ini yang dinamakan resonansi. Pemimpin yang efektif membiaskan resonsansi positif terhadap lingkungan di sekitarnya.

Dalam upaya untuk melatih kepekaan terhadap perasaan orang lain, Anda dapat mencoba latihan berikut ini…

Pilih seorang yang bekerja atau hidup bersama Anda. Bisa bos, rekan kerja, bawahan atau suami/istri dan bahkan anak Anda. Tutup mata Anda, dan bayangkan Anda menjadi mereka. Mulai sesaat setelah mereka membuka mata di pagi hari, bangun, bekerja, makan malam bersama keluarga hingga saat mereka kembali memejamkan mata untuk istirahat. Bayangkan apa yang mereka lihat, dengar, pikir dan rasakan.

Apa kira-kira yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari? Apa yang kira-kira penting untuk mereka? Apa kira-kira yang membebani pikiran mereka? Siapa kira-kira orang yang paling mereka sayangi? Bayangkan sedetil mungkin, seakan Anda melihat sebuah film tentang kehidupan mereka.

Terakhir, poin-poin yang saya uraikan di atas, tampaknya sering Anda dengar, namun saya yakin sedikit dari Anda yang sudah mulai mempraktekkannya. Common sense but not common practice. Ingat, perubahan membutuhkan komitmen, kontinuitas dan keberanian.

So… Enjoy your trip…

Tabik…

When Great Leaders Gone Ghastly

I don’t know me anymore…
Can’t recognize who is the stranger in the mirror…

(Sidney Sheldon)

Saya mengutip kata seorang tokoh fiktif ciptaan Sidney Sheldon ini untuk mengawali sebuah tulisan tentang bagaimana seorang pemimpin yang tadinya hangat, yang tadinya penuh semangat, yang tadinya inspiratif, ‘tiba-tiba’ nampak tersesat. Mereka berubah menjadi pribadi yang sulit didekati, bertindak dengan cara yang tidak sehat atau bahkan koruptif, serta melupakan nilai-nilai yang dulu pernah mereka pegang teguh. Mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Mereka tidak lagi pribadi yang mampu dikenali oleh koleganya, tidak juga oleh rekan kerjanya, pun tidak oleh keluarganya, dan bahkan tidak oleh dirinya sendiri.

Pada artikel ini, pointer awal akan menguraikan beda yang sangat mencolok antara pemimpin hebat berkecerdasan emosional yang mampu memancarkan energi positif pada lingkungannya (resonance) dan pemimpin yang tidak (dissonance) . Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan tentang bagaimana disonansi adalah sesuatu yang ‘default’ dan betapa mudahnya, bahkan bagi para pemimpin yang tadinya resonan, terpeleset dalam disonansi serta menyeret orang di sekitar mereka dalam pusaran arus yang sama. Menelisik aspek fisiologis dari neuro-endokrin yang berefek pada suasana hati, perasaan, persepsi, dan prilaku seorang pemimpin. Lalu, penjelasan tentang bagaimana pemimpin yang telah tersesat mampu menyadari ketersesatannya, kemudian tercerahkan dan menjadi pemimpin yang jauh lebih hebat melalui mindfullness, hope dan compassion.

Resonance or Dissonance : Examples From Leaders…

Pada poin ini kita akan berkenalan dengan sosok dua orang pemimpin yang menggambarkan dengan jelas bagaimana pemimpin yang memancarkan energi positif (resonance) dan pemimpin yang sebaliknya (dissonance). Keduanya dikutip dari buku Primal Leadership.

Pertama, mari berkenalan dengan Joe Torre. Ia adalah manajer klub bisbol, New York Yankee . Joe, begitu rekan-rekannya biasa menyebut, terkenal sebagai hati dan jiwa dari klub ini. Joe dikenal sebagai sosok yang tenang, lembut, pengasih serta kebapakan. Hal ini, merupakan sebuah anomali, mengingat lingkungan kerja Joe yang terdiri dari orang-orang yang terkenal berwatak keras. Dia juga seorang pemimpin yang penuh kasih. Ia akan membela pemain sedang menurun prestasinya, jika ia tahu bahwa pemain ini sedang mengalami badai dalam rumah tangga atau sebab-sebab lain bisa dipertanggungjawabkan. Joe juga pribadi yang hangat dan terbuka, sebuah ciri khas yang terpancar darinya. Joe mengamalkan espirt de corps dalam tindakan-tindakan nyata. Gaya kepemimpinan ini memberikan dampak luar biasa pada iklim organisasi dan berkontribusi positif pada prestasi timnya. Joe memberikan pujian secara terbuka pada mereka yang layak mendapatkannya, dan memberikan peringatan secara pribadi pada mereka yang bermasalah. Joe juga memberikan kesempatan pada anak buahnya untuk tumbuh dan berkembang dengan gaya fasilitatif. Joe melibatkan seluruh tim untuk membuat pernyataan visi, mendefinisikan misi, menetapkan standar pencapaian sehingga setiap anggota tim tahu secara pasti kontribusinya untuk kemajuan organisasi. Ini adalah sebuah kombinasi yang sempurna hingga Bronx Bombers mampu mencapai puncak kejayaan dan melegenda dalam sejarah bisbol dunia.

Kemudian, bandingkan dengan Al Dunlap. Ia terkenal sebagai mantan CEO Scott Paper. Awalnya, Dunlap dianggap memiliki talenta ajaib karena telah merubah kondisi Scott Paper secara dramatis. Menyelamatkan perusahaan ini dari jurang kebangkrutan. Gaya kepemimpinannya melibatkan efisiensi besar-besaran. Namun gaya kepemimpinannya tidak diimbangi dengan gaya yang lebih interpersonal, yaitu penghargaan atas kinerja individu, dan kenyamanan dalam berorganisasi, Dunlap malah cenderung mengabaikannya. Kemudian, analis melihat bahwa taktik penghematan yang dilakukan Dunlap sebagai suatu tindakan yang berlebihan sehingga membahayakan kelanggenggan perusahaan. Gaya kepemimpinan Dunlap yang disonan, serta seluruh masalah yang telah diakibatkannya, mengantarkan Dunlap pada posisi berikutnya di Sunbeam. Hasilnya, dia dipecat dua tahun kemudian. Tidak hanya itu, Dunlap dan eksekutif lain di Sunbeam terlibat skandal besar dan sedang diusut oleh SEC.

Dari kedua pemimpin ini mari kita analisis perbedaan yang mendasari gaya kepemimpinannya…

Joe Torre,
leadership choosen styles; visioner :menggerakan dan memotivasi kelompok dengan cara berbagi impian; coaching: mengembangkan potensi individu dalam kelompok melalui interaksi personal, affiliative:fokus pada orang dan membangun hubungan interpersonal daripada penyelesaian tugas dan pencapaian target; demokratis : mencari komitmen melalui pelibatan dan masukan dalam penyelesaian masalah
end result, Membuat anggota tim merasa terhibur walau dalam masa-masa sulit. Membuat iklim organisasi menjadi positif sehingga individu dapat mengembangkan talentanya serta bersaing secara sehat. Dalam jangka panjang mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan performa organisasi (sustainable growth).
how they operate, Pemimpin mendorong prestasi kelompok dengan sikap optimis. Mereka bertindak secara otentik sesuai nilai-nilai yang mereka yakini. Mereka terbiasa memancarkan perasaan positif pada lingkungannya.

Al Dunlap,
leadership choosen styles;commanding: top-down, pendekatan yang otoriter; pacesetting:
berfokus pada pencapaian hasil sebanyak-banyaknya dengan biaya yang seminimal mungkin; tottem pole management: menginjak bawahan dan menjilat atasan; creates toxic environment: membuat anggota curiga satu sama lain dengan cara mengadu domba.
end result, Meskipun para pemimpin ini mungkin tampak efektif dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang mereka menciptakan malapetaka pada kultur organisasi, mencekik potensi individu, dan akhirnya menjatuhkan performa organisasi.
how they operate, Pemimpin mendorong prestasi anggota dengan sikap pesimis, rasa takut dan rasa bersalah. Mereka mengembangkan iklim yang ambigu dan kurang transparan. Dan terkadang sengaja menciptakan gap antaranggota dengan menunjuk ‘anak emas’.

How A Leader Creates Dissonance…?

Poin ini memaparkan tentang bagaimana disonansi adalah sesuatu yang ‘default’ dan betapa mudahnya, bahkan bagi para pemimpin yang tadinya resonan, terpeleset dalam disonansi serta menyeret orang di sekitar mereka dalam pusaran arus yang sama. Menelisik aspek fisiologis dari neuro-endokrin yang berefek pada suasana hati, perasaan, persepsi, dan prilaku seorang pemimpin.

Cerita tentang pemimpin hebat yang berubah menjadi jahat, bukan lagi cerita yang aneh, terutama dalam iklim perubahan dewasa ini. Belum pernah perubahan terjadi begitu cepat, radikal, atau pun mendunia seperti yang terjadi saat ini. Dunia kita adalah sebuah dunia baru, dunia yang membutuhkan gaya kepemimpinan yang baru pula. Tidak cukup hanya menjadi seorang pendekar manajemen atau penyihir keuangan. Tidak cukup hanya memahami ekonomi, kompetisi, tren, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi organisasi. Sebaliknya, pemimpin hebat dewasa ini menciptakan resonansi; mereka cerdas secara emosional dan selaras dalam hati, diri dan jiwa.

Pemimpin resonan memahami dan mengembangkan kecerdasan emosional (EI) – yaitu, empat domain yang meliputi kompetensi yang berkaitan dengan kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness), dan manajemen hubungan (relationship management). Mereka mengelola emosi diri dengan baik dan mengeluarkan talenta terbaik dari orang lain. Pemimpin resonan tahu bahwa emosi menular, bahwa emosi mereka merupakan dorongan yang kuat untuk suasana hati anak buah mereka, dan juga, memotivasi kinerjanya.

Untuk beberapa eksekutif, emosional intelegence tampaknya mengesankan kelemahan seorang pemimpin, lembek. Namun penelitian membuktikan bahwa EI seorang leader memberikan pengaruh yang signifikan untuk mendorong kinerja karyawannya. Eksekutif yang memiliki skor EI 85-90% ternyata menjadi pemimpin yang lebih efektif dibandingkan dengan kolega mereka yang memiliki skor jauh dibawahnya. Pemimpin resonan mengakui bahwa menciptakan kesan angker dan menumbuhkan rasa takut untuk memotivasi bawahan adalah strategi jangka pendek terbaik. Namun emosi negatif ini, sering kali menjadi bumerang. Membuat bawahan menjadi bingung, cemas, dan tidak efektif. Pemimpin resonan mengilhami anak buah melalui tindakan yang mencontohkan gairah, komitmen, perhatian yang mendalam dalam hubungan interpersonal serta pencapaian visi organisasi. Mereka memberi orang keberanian dan harapan. Mereka membantu orang untuk mengeluarkan potensi terbaik diri.

Masalahnya adalah, resonansi bukan hanya sulit dikembangkan, namun juga sulit untuk dipertahankan. Mengapa? Karena para pemimpin harus ‘memberikan diri’ mereka terus-menerus. Pemimpin hidup di bawah tekanan konstan untuk tampil di perubahan zaman dengan tuntutan-tuntutan ambigu. Bagi para pemimpin, pilihan sejernih kristal jarang mereka dapatkan, kadang mereka harus mengambil keputusan atas realitas yang ambigu.

Kepemimpinan juga identik dengan kesepian. Kepemimpinan adalah ilmu meraih kekuasaan dan pengaruh atas orang lain. Namun, ingat, kekuasaan menciptakan jarak antarmanusia. Pemimpin hidup di bawah sorotan lampu panggung kekuasaan. Pemimpin dinilai dan diamati dari semua sisi pada setiap situasi. Sehingga menjadi pemimpin, kadang membuat mereka merasa sendirian, teralienasi. Perasaan ini juga menimbulkan krisis tersendiri dalam diri seorang pemimpin. Boyatis dan McKee telah menciptakan sebuah istilah untuk stres jenis ini: power stress.

Namun, stres akan selalu menjadi bagian dari realitas kepemimpinan dan akan selalu ada. Padahal dalam kondisi tertekan (stress) otak manusia, sebagai homo sapiens, akan mengaktifkan sistem simpatis-nya untuk memproduksi hormon-hormon epinephrine, norepinephrine dan corticosteroids. Hormon-hormon ini membuat tekanan darah naik, otot menengang, sistem imun menurun dan membuat otak berhenti memproduksi neuron baru. Hasilnya, orang cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, dan kehilangan sisi kreatifnya. Dulu, sebagai manusia purba, mekanisme ini sangat berguna untuk berburu dan bertahan hidup, karena hormon-hormon ini memicu reaksi bertahan atau menyerang (fight or flight). Namun, ketegangan yang dialami homo sapiens kala itu hanya terjadi sesekali. Sedangkan, tekanan yang dialami oleh pemimpin dewasa ini terjadi hampir setiap saat.

Tubuh manusia tidak diciptakan untuk menghadapi krisis jenis ini, hari demi hari, tahun demi tahun. Idealnya, setelah kondisi krisis, manusia membutuhkan waktu untuk memperbaiki kondisi emosinya (renewal). Namun deadline, target, krisis, masalah dan tanggung jawab yang berat adalah tantangan sehari-hari pemimpin dewasa ini. Mereka jarang memiliki cukup waktu untuk memulihkan kondisi emosinya. Ibarat handphone yang terus dipakai tanpa mengisi ulang baterai, lambat laun pemimpin akan kehilangan tenaga dan terjebak dalam sacrifices syndrome, terus memberi dan memberi. Akhirnya, tergelincir ke dalam keresahan, kerusuhan, dan stres. Karena pemimpin selalu menjadi sorotan dan panutan, kondisi emosi yang labil ini akan menular. Saat inilah disonansi terjadi. Seperti contoh pada poin pertama, Al Dunlap. Pemimpin yang disonan akan membiaskan malapetaka. Mereka menciptakan frustrasi, ketakutan, dan pesimisme. Mereka mendorong orang lain dengan cara yang salah, untuk alasan yang salah dan menuju arah yang salah. Mereka sering sekali tidak menyadari kerusakan yang telah mereka lakukan. Dengan kata lain, disonansi menjadi default, bahkan bagi pemimpin yang tadinya dapat menciptakan resonansi.

Untuk pemimpin yang tadinya resonan, perubahan menjadi disonan kadang terjadi secara perlahan dan sangat sumir. Sehingga disonansi tidak mudah untuk didiagnosa sampai terjadi petaka. Hal ini terjadi karena seorang pemimpin yang sukses biasanya merasionalisasikan simtom-simtom disonance. Walau hati kecil mereka sebenarnya menyadari ada yang ‘salah’ namun cara yang termudah adalah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Ketika seorang pemimpin tergelincir dalam sacrifices syndrome, dia akan mengurangi efek tekanannya dengan coping stress jenis tertentu. Beberapa melakukan perbuatan beresiko untuk menstimulasi adrenalin, sehingga mereka akan merasa kuat dan berkuasa kembali. Beberapa menjadi sinis, menyalahkan situasi dan orang lain untuk masalah yang tidak mampu mereka tangani. Beberapa merubah persona sehingga tidak cocok dengan kepribadian asli mereka. Namun, semakin mereka menolak realitas, maka mereka akan semakin terjebak pada penjara yang mereka bangun sendiri, negative spiral. Mereka justru akan semakin frustasi, marah dan hopelessness.

Disonasi semakin tidak mudah terdeteksi, juga karena organisasi sendirilah yang mendorong hal ini terjadi. Dengan kata lain, organisasi menciptakan monster mereka sendiri. Hal ini terjadi karena dua alasan. Pertama, karena organisasi biasanya lebih menghargai kesuksesan jangka pendek dan formula yang paling efektif untuk mencapainya adalah menciptakan kesan angker dan menumbuhkan rasa takut untuk memotivasi bawahan. Ingat, Dunlap awalnya sangat dihargai karena kepemimpinannya mampu menyelamatkan Scott Paper dari jurang kebangkrutan. Kedua, pemimpin jarang memperoleh masukan yang jujur dan terbuka dari bawahannya. Ingat, kepemimpinan menciptakan jarak, CEO Disease. Ketika terjadi perubahan dalam diri pemimpin, bawahan jarang menanyakan apa yang terjadi secara terbuka. Kecuali bila kondisinya sudah sangat merusak dan menimbulkan dampak yang nyata pada organisasi.

The Wake Up Calls…

Anda pasti pernah merasakan semangat yang menyala-nyala saat pergi ke kantor. Anda tidak sabar untuk sampai di kantor. Namun, ingat-ingat lagi, kapan Anda terakhir kali merasakan hal itu? Apakah yang terjadi sekarang sebaliknya? Anda merasa malas. Bahkan mendengar kata kantor saja sudah membuat perut Anda mulas. Atau membuat Anda frustrasi. Atau bahkan mungkin merasa bosan. Padahal Anda telah berada di puncak karir Anda. Namun tetap saja, Anda merasa tidak puas. Padahal Anda telah memberi karyawan Anda iming-iming bonus besar. Namun tetap saja, mereka sulit menampilkan performa yang Anda inginkan. Padahal Anda telah berusaha sekuat mungkin. Namun tetap saja, target perusahaan tampaknya sulit Anda raih. Anda bertanya-tanya, “apa yang terjadi?” Padahal Anda merasa selalu menjadi pemimpin yang baik. Pahahal Anda telah bekerja lebih keras daripada sebelumnya. Walau hati kecil Anda sebenarnya sering membisikkan bahwa ada sesuatu yang ‘salah’, namun Anda gagal mendefinisikan apa yang salah.

Banyak pemimpin yang tadinya resonan terpeleset masuk dalam jurang disonansi. Tidak jarang mereka tidak menyadari apa yang telah terjadi. Atau, sengaja membutakan diri dari realitas yang ada. Namun ketika seorang pemimpin pada akhirnya ‘menyadari’ ada sesuatu yang salah maka itu adalah titik balik dari proses renewal. Ada beberapa tanda atau pesan dari alam semesta yang dapat membantu kita untuk ‘menyadari’ bahwa hidup kita telah menyimpang ke arah yang salah. Boyatzis dan McKee menamakan hal ini: wake-up call. Mereka mendefinisikan ada sedikitnya tiga, yaitu;

  • Dramatic Life Event
  • Repetition Failure Life Cycle
  • A Slow, Steady Declinations

Kadang pesan dari alam semesta itu dapat kita baca dengan jelas, namun sering kali amat samar. Mari kita selidiki satu per satu…

Dramatic Live Event. Tentu saja, life event adalah pesan yang jelas, terutama kejadian yang merupakan tragedi. Perceraian, kematian, kegagalan, bisa menjadi wake-up calls. Biasanya setelah kejadian besar semacam ini, kita dipaksa untuk melihat diri kita dengan cara yang berbeda.

Repetition Failure Life Cycle. Kadang, wake-up call terjadi bagai siklus. Kita seperti mengalami siklus berulang dalam hidup kita secara ritmis. Contohnya, orang yang sering gagal dalam investasi usaha, pada kurun waktu tertentu. Entah kenapa ia acap kali ditipu oleh orang yang berkarakteristik mirip dengan cara yang hampir serupa. Bagi kebanyakan orang siklus ini terjadi dalam tujuh tahun sekali, seperti yang tencantum dalam kitab suci atau yang disebutkan oleh Erik Erikson. Namun siklus ini biasanya terjadi lebih samar dan sulit untuk terdeteksi. Coba Anda ingat-ingat lagi, apakah Anda pernah mengalami kegagalan berulang dalam satu aspek kehidupan?

A Slow, Steady Declinations. Bagi kebanyakan pemimpin, ketegangan konstan yang menyebabkan sacrifies syndrome sering kali tidak terdeteksi. Hanya saja, lama kelamaan mereka mudah merasa kelelahan. Perlahan tapi pasti terjadi penurunan motivasi kerja, kesehatan dan bahkan gairah hidup. Mereka berubah jadi pemarah, tidak sabaran, sedih, atau bahkan frustrasi terus menerus. Mereka kehilangan sentuhan emosional dengan orang-orang terdekat. Mereka berubah menjadi pribadi yang sulit didekati, bertindak dengan cara yang tidak sehat atau bahkan koruptif, serta melupakan nilai-nilai yang dulu pernah mereka pegang teguh. Akhirnya, mereka menjadi orang yang sama sekali berbeda. Mereka tidak lagi pribadi yang mampu dikenali oleh koleganya, tidak juga oleh rekan kerjanya, pun tidak oleh keluarganya, dan bahkan tidak oleh dirinya sendiri.

Mindfullness, Hope & Compassion Steps to Renewal…

Stres selalu menjadi bagian dari realitas kepemimpinan. Untuk mempertahankan keunggulan performa, para pemimpin harus mengelola sacrifies syndrome, stres, dan disonansi agar tidak menjadi korbannya. Menurut Boyatzis dan McKee stres, bahkan power stress, bukan inti masalahnya. Masalahnya, adalah terlalu sedikit waktu untuk melakukan pemulihan diri (renewal). Ingat, deadline, target, krisis, masalah dan tanggung jawab yang berat adalah tantangan sehari-hari pemimpin dewasa ini. Mereka jarang memiliki cukup waktu untuk memulihkan kondisi emosinya. Menggunakan renewal untuk kembali ke resonansi lagi dan lagi adalah kuncinya.

Sebagai peneliti senior dari EI, Richard Boyatzis dan Anne McKee menyimpulkan bahwa proses renewal hanya dapat dicapai ketika pemimpin berkomitmen untuk ‘mengada’ secara holistik. Menyadari ada perubahan dalam diri pemimpin. Menyadari ada perubahan dalam bersikap, berfikir dan berprilaku. Menyadari wake up calls. Dengan kata lain, pemimpin harus menjadi sadar bahwa mereka sedang ‘tidak sadar’. Penelitian menunjukkan bahwa renewal memicu tubuh dan hormon di otak kembali pada state well-being. Renewal bergantung pada tiga elemen yang pada awalnya mungkin terdengar terlalu lembek untuk mendukung kerja keras seorang pemimpin resonan. Namun tiga elemen ini benar-benar terbukti efektif untuk memulihkan kondisi emosi. Yaitu, minfullness, hope, dan compassion.

Mindfulness. Artinya, hidup dalam kesadaran penuh. Kesadaran seseorang akan diri, orang lain, dan konteks di mana dia hidup dan bekerja. Mengembangkan rasio, mengurus kondisi fisik, mengelola emosi, dan memperhatikan aspek spiritulitas adalah rangkaian aspek penting yang harus diperhatikan dalam mindfulness. Menyeimbangkan otak, fisik, emosi dan jiwa kita. Sayangnya, para pemimpin sering diminta untuk berkonsentrasi pada tindakan rasional yang terlibat dalam proses manajerial (planning, organizing, controlling sumber daya). Hal ini membuat banyak orang merasa teralienasi. Hilangnya relasi dengan rekan kerja, klien, teman, keluarga, dan terutama diri dengan mereka sendiri. Mindfulness membuat pemimpin tetap berada pada jalur yang tepat.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menciptakan mindfulness? Bisa dimulai dengan melakukan refleksi diri. Self contemplation. Meluangkan waktu untuk menyendiri, berkonsentrasi akan pikiran dan perasaan kita. Cara yang dianjurkan oleh Eckhart Tolle adalah berkonsentrasi pada kondisi ‘saat ini’. Menyadari apa yang sedang terjadi pada saat ini. Misal, Anda sedang berjalan di sebuah taman, lihatlah warna daun, rasakan udara yang mengendus kulit Anda, rasakan lembut sinar mentari, dan yang terpenting menyadari bagaimana perasaan Anda pada saat itu. Senang, sedih, gelisah atau apa. ‘Mengada’ pada realitas. Jika meditasi diri ini Anda lakukan minimal 20 menit setiap hari, Anda akan mendapatkan manfaat yang luar biasa. Menurut penelitian, transcendental meditation dapat memperlancar peredaran darah, menyegarkan fikiran, dan bahkan memperbaiki mood. Atau, secara serius melakukan praktek spiritualitas menurut agama yang Anda yakini. Lalu mungkin melakukan olah raga secara rutin. Olah raga terbukti secara nyata meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Ketiga, Anda bisa memberikan contoh yang lain?

Hope. Ketika kita mengalami hope kita percaya bahwa masa depan itu sangat mungkin bisa kita raih. Kita dapat membayangkan rute menuju impian kita. Kita pun dapat menginspirasi orang lain untuk bergerak ke arah yang sama. Renewal ini dipicu oleh emosi positif. Sebuah pengalaman hope dapat merubah struktur kimia dalam otak kita, dan pada akhirnya dapat memperbaharui pikiran dan tubuh kita. Harapan adalah magnet emosi, ia meningkatkan energi dan mendorong semangat kita. Sebagai tambahan, hope ini membias. Harapan dapat mempengaruhi ikatan emosional kita dengan orang lain. Maka hope dapat menjadi mendorong yang sangat bagus untuk memotivasi kelompok.

Compassion. Kita tidak hanya sekedar berempati pada orang lain, namun juga termotivasi untuk melakukan tindakan kebaikan nyata pada mereka. Seperti harapan, kasih sayang juga menular. Kita harus menunjukkan kasih sayang pada orang lain agar terjadi proses renewal, kita juga harus bersedia untuk menerimanya. Kita harus percaya bahwa kita tidak sendirian.

Tanpa unsur-unsur ini, pemimpin tidak dapat mempertahankan resonansi pada diri mereka sendiri atau dengan orang lain. Dengan mindfullnes, hope dan compasion, emosi positif dan hubungan yang sehat dapat berkembang. Unsur ini membantu membangun ketahanan emosi kita dan memastikan perilaku yang efektif meskipun ada berbagai tantangan yang menghadang.

Untuk mengatasi tantangan yang tak terelakkan dari peran kepemimpinan, individu perlu untuk melakukan dalam proses renewal secara sadar, setiap hari, selamanya. Untuk melakukannya, kita harus secara sadar mengubah pendekatan kita untuk mengelola diri sendiri dengan mempelajari perilaku baru. Praktek yang memungkinkan kita untuk mempertahankan resonansi internal dan menyelaraskan prilaku kita dengan mereka yang kita pimpin. Dengan berfokus pada penciptaan sengaja resonansi dalam diri kita -pikiran, tubuh, hati, dan jiwa- lalu membiaskan resonansi untuk orang-orang yang bekerja untuk kita, hidup bersama kita, dan menikmati kehidupan di sekitar kita.

Belajar Bersyukur

Percayakan Anda, bila saya sebutkan bahwa bersyukur itu ada riset ilmiahnya? Anda tahu, menurut sebuah penelitian di Oxford University, Britain, bersyukur atau gratefulness membutuhkan sebuah hormon khusus yang disebut dengan “serotonin AB+”. Konon, hormon ini akan merangsang lobus frontalis sebagai pusat emosi. Efek dari hormon ini adalah perasaan clam, peace dan joy…
Menurut penelitian ini juga, bersyukur bisa dipelajari atau dilatih. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk memahami makna dari enam huruf ini…

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si Sopir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.”
Merasa penasaran dengan jawaban ini, Si Direktur bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?” Sang Sopir menjawab, “Begini Pak, saya sudah belajar bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya sukai. Karena itu, saya selalu belajar untuk menyukai apapun yang saya dapatkan.” Jawaban singkat tadi merupakan contoh perwujudan rasa syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya persaan tidak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tidak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tidak bisa bersyukur.

Pertama, kita sering memfokuskan pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah, Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap dan pasangan yang baik. Tetapi Anda masih begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Apabila tak mendapatkannya, kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, hal itu hanya menjadi kesenangan sesaat. Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi. Sebuah hedonic treadmill. Jadi, berapa pun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai “kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki segalanya, tetapi orang dapat menikmati segala yang mereka miliki.

Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, namun kita perlu menyadari bahwa inilah akar dari perasaan gelisah. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Coba lihat sekeliling Anda. Lihat apa yang sudah Anda miliki. Lalu bersyukurlah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik; pasangan, atasan, rekan kerja, anak-anak, dan siapapun di sekitar Anda. Mereka akan menjadi orang yang lebih menyenangkan.
Hal kedua yang sering membuat kita tidak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemana pun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat ketika pertama kali bekerja, saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Sampai akhirnya saya sada bahwa hal ini tidak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada sebuah cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung seraya menggumam, “Lulu… Lulu…” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi oleh orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain, ia terkejut. Ia melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya ke tembok dan berteriak, “Lulu!!?! Lulu!?!” “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah orang yang akhirnya menikah dengan Lulu…”
Artinya, sekiranya saja orang yang pertama bisa bersabar, ia akan mendapatkan hikmah dari berakhirnya hubungan dengan si Lulu. Namun, sebagian besar kita lebih senang bereaksi spontan tanpa mau bersabar mencari makna di dalamnya. Seorang bijak pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini adalah perwujudan rasa syukur. Hidup akan lebih bahagia kalau kita menikmati apa yang telah kita miliki. Karena itu, bersyukur merupakan kualitas hati tertinggi.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, tetapi tetap terlihat bahagia. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Tabik…

Ruang Kontemplasi, 15 Juni 2009

Harap-harap Cemas

Dewasa ini perempuan Indonesia telah mengalami kemajuan yang menakjubkan. Sejak Kartini menghembuskan nafas perubahan bagi perempuan Indonesia, pergerakannya telah mencapai kemajuan yang mencengangkan. Ribuan Perempuan Indonesia mengukir prestrasi dengan menjadi wanita karier, dokter, sopir, astronot, politisi, dan paling dasyat (atau sayangnya) Presiden Republik Indonesia Raya yang tercinta ini. (dan sedang berkampanye untuk dipilih kembali).

Perempuan Indonesia telah memasuki “dunia laki-laki” yang lebih mengutamakan ketegasan, logika dan rasio. Sama rata, sama rasa dan sama karsa (tapi bukan jargon komunis, lho!) dengan pria. Dari urusan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan hidup bahkan dalam urusan seks sekalipun.

Namun ternyata dalam urusan pasangan hidup, masih banyak perempuan Indonesia yang kolot (seperti saya misalnya!) Ada seorang kawan saya yang berkata lebih baik mati daripada melamar duluan ikhwan yang ia pikir dan rasa cukup sholeh untuk membina rumah tangga. Ada juga seorang lagi yang berkata lebih baik menjaga gengsi daripada harus nembak duluan pada orang yang disukainya. (Walau tiap malam stres menunggu sms atau telpon darinya ^_^)

Tulisan ini saya tujukan untuk Anda, perempuan yang sedang menunggu. Terombang-ambing. Usia yang sudah beranjak menua, ketika “pangeran berkuda putih” tak kunjung datang untuk memberikan sebuket bunga mawar dan sebentuk cincin…

Jodoh adalah rahasia-Nya. Ingatlah dan yakinlah! Saya sering berhadapan dengan akhwat atau ikhwan yang tampaknya sangat ngebet untuk menikah, tetapi ternyata tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melaksanakannya. Apa sih sumber daya yang dibutuhkan oleh seorang yang akan menikah?

  • Kesiapan fisik
  • Kesiapan ruhiyah
  • Kesiapan finansial

Itu kata Ustadz Anis Matta, dan menurut Saya lebih banyak diperuntukkan bagi pria. Kalau kata saya untuk akhwat, cukup satu, yaitu NIAT! Apabila kita ingin untuk menikah kita harus meninjau ulang niat kita. Jujur atau tidak alasan utama perempuan usia 20-an untuk menikah adalah kebutuhan biologis, tuntutan adanya cucu dari orang tua dan tekanan sosial dimana hampir semua teman sepermainan sudah menggendong anak!

Ukhtifillah, dalam tuntunan jama’ah kita, landasan yang paling akhsan dalam memutuskan menikah adalah DAKWAH. Dengan kerangka itu kita mulai niat kita, kita persiapkan ubo rampen-nya untuk hajatan besar dalam hidup kita itu.

Lalu dengan landasan niat itu kita kondisikan orang tua, tentang rumah tangga ideal sesuai tuntunan uswah kita, Rasullah SAW. Mengapa mengkondisikan orang tua saya jadikan langkah yang pertama? Hal ini dikarenakan, banyak ikhwah yang melupakannya. Sudah ta’aruf dengan ikhwan yang sholeh dan merasa cocok, namun ketika si ikhwan datang mengkhitbah, orang tua menentang dengan alasan ma’isah-nya belum jelas, bibit, bobot dan bebetnya tidak sebanding dan sebagainya.

Langkah kedua, kondisikanlah diri kita secara fisik. Siapkah siapkah kita menjadi istri dan ibu? Menjadi tonggak Islam, melahirkan jundullah? Hiduplah dengan pola hidup sesuai ajaran Rasul, makan jika lapar dan berhentilah sebelum kenyang, puasalah, dan berolah ragalah. Hal ini yang sering kita lupakan. Karena alasan kesibukan amanah, olah raga menjadi agenda yang kesekian dari prioritas kita. Dan sebaik-baiknya olah raga adalah yang diajarkan Rasul yaitu, berenang, memanah dan berkuda. Olah raga mahal memang, di mana kita bisa menemukan kuda (kecuali di pasar UNPAD mungkin), apalagi lapangan memanah atau kolam renang khusus akhwat. Tapi jalan dan lari pagi mungkin sudah cukup.

Persipan yang terakhir, adalah persiapan tentang ruhiyah. Keikhlasan kita menunggu pasangan hidup. Siapapun dan bagaimanapun ia nantinya. Bila ternyata tidak sesuai dengan gambaran kita tentang ikhwan ideal. Keikhlasan kita untuk memerima kekurangan dan kelebihannya.
(Dia manusia biasa Ukhti…)

Tahap menunggu adalah hal yang tersulit bukan? Sering kali kita merasa kesal jika dalam sebuah perjanjian teman yang janji bertemu tidak kunjung datang. Menunggu pasangan hidup memanglah tidak mudah. Harap-harap cemas. “Diakah? Atau dia? Apakah dia?”

Dalam tahap ini kita harus yakin satu hal, jodoh adalah rahasia-Nya! Jadi tunggu saja, kita pasti mendapatkan yang terbaik buat kita. Memang standar baik kita berbeda yang standar baik-Nya. Jadi…. Percayalah JODOH ADALAH RAHASIANYA!

Wallahu’alam bi showab.

Diperuntukkan bagi diri saya dan akhwatfillah yang sedang “menunggu”, SABARLAH!
Sebuah perenungan saat 4JJI menyuruh Saya istirahat dengan nikmat sakit.

Kesucian antara Utopia dan Realitas

Bila dilontarkan kata suci maka definisi yang timbul dalam benak adalah putih, bersih, harum bahkan melati. Hal ini berkaiatan dengan memori kolektif manusia bahwa suci atau kesucian adalah sebuah ekspresi tentang kemurnian.

Bila kata suci ini dikaitkan dengan kesetiaan maka yang mungkin muncul adalah mengenai keprawanan. Dalam etika pergaulan yang terjadi di sekitar kita, terutama di kota-kota besar, kata keprawanan adalah hal yang langka. Menurut penelitian yang dilakukan sebuah LSM di Yogyakarta hampir 89% dari remaja dengan karakteristik tertentu sudah tidak lagi perawan. Survei dilakukan pada remaja perempuan, namun Saya kira angka tersebut akan membengkak bila survei dilakukan di kalangan remaja pria. Karena bukankah pria cenderung tidak memiliki ‘bekas’?

Saya pernah memiliki pengalaman yang mungkin bisa dijadikan renungan untuk para pencari cinta sejati. Ini curhatan datang dari seorang ikhwan salaf. Awalnya ia bercerita tentang malasnya untuk kuliah dan penyakit psikosomatisnya yang menjurus ke anangkastik. Lalu ia mulai bercerita tentang gangguan maniakal yang ia idap. Maniak secara seksual, artinya mudah terangsang namun tidak mudah terpuaskan. Ia bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Ia dulu semasa SMA sering melakukan hubungan seksual dengan pacar-pacarnya. Ia sering bergonta-ganti pacar sebab pacarnya sering minta putus. Dan alasan putus karena pacarnya gak kuaat… menahan semburan bazokanya. Wow, ikhwan lho! Siapa yang mengira! Tapi akhirnya saya nyadar bahwa ia adalah pria. Yah, PRIA sebenar-benarnya…

Para pria amat mengagungkan keprawanan. Lalu kalau tidak perawan artinya adalah cemar. Namun pernahkah Anda pikir hal ini tidak adil rasanya… Bagi seorang semacam saya yang tidak akan pernah pacaran sebelum menikah, hal tersebut sedikit mengancam. Bagaimana proses ta’aruf bisa mengungkap hal ini? Rasanya kok tidak mungkin kita bertanya, Mas masih perjaka atau tidak? Punya penyakit seksual atau tidak? Berapa ukuran anu-nya? Kok rasanya ndak pantes. Tetapi bagaimana? Kita kan tidak mau membeli kucing dalam karung… Kalau misalnya pasangan kita adalah seperti ikhwan yang saya paparkan di atas. Bagaimana? Mau? Kok saya agak menolak ya? Rasanya kok mengerikan dan tidak adil!

Pria menuntut keprawanan dari seorang perempuan namun ia sendiri tidak menjaga keperjakaannya untuk dipersembahkan pada istrinya di malam pertama. Bagaimana seorang wanita bisa membuktikan keperjakaan pasangannya? Kan untuk pria hal seperti itu sulit dibuktikan, atau mungkin bisa dilihat dari kecanggihan gaya seksnya… Kalau amatiran berarti masih perjaka dan kalau sudah ekspert berarti hal tersebut bukan kali pertama…

Tampaknya jawabannya kembali ke Quran. Seorang perempuan yang baik pasti akan mendapatkan pria yang baik pula. Jadi kalau misalnya Anda dapat pria model di atas, maka Anda harus mulai bertanya tentang sejauh mana Anda telah memelihara diri Anda. Adil?

Bandung, 13 November 2005
Kontemplasi di Kotak Sabun

Caraku Mencintaimu…

Aku mencintaimu….
Sungguh! Aku mencintaimu bukan karena keindahan tampilan fisikmu. Aku mencintaimu bukan karena keluasan wawasanmu. Aku mencintaimu bukan karena harta milikmu. Aku mencintaimu karena dirimu, hanya dirimu. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu…
Sungguh! Aku tidak ingin merubahmu. Aku tidak ingin membatasi ruang gerakmu. Aku tidak ingin menyuruhmu ini dan itu. Karena aku tahu kau tak kan suka. Aku hanya ingin kau dapat menjadi dirimu. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu….
Sungguh! Aku tak ingin jadi pelita yang menerangi gulita kalbumu, tapi membuatmu tak berarah kala aku redup. Aku tak ingin menjadi anak tangga yang menyanggamu saat kau ingin berdiri yang lebih tinggi, tapi mematahkan mimpimu kala aku rapuh. Aku tak ingin menjadi semilir angin yang mengantar bidukmu arungi samudra, tapi menghempasmu kala karang menerjang. Aku cuma ingin menjelma jadi setitik pemicu dalam aliran darahmu, bersemayam di relung alam bawah yang menopang untuk maju merengkuh saujana. Terus… meski Aku tiada… Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu….
Sungguh! Namun, Aku tak bisa menjamin, tidak ada perdebatan dan pertengkaran antara kita. Aku tidak bisa menjamin, kau akan bahagia bersamaku.. Aku tak bisa menjamin, perasaanku padamu tak akan berubah. Aku hanya bisa berjanji, aku untuk tumbuh bersamamu. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu…
Sungguh! Namun jangan pernah memintaku untuk membelah dadaku untuk menujukkan betapa aku mencintaimu. Jangan pernah memintaku untuk mengatakannya. Jangan pernah memintaku untuk bersumpah. Karena aku tidak pandai berkata. Bagiku, kata-kata tak kan mampu mengungkap sejuta makna hatiku. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu…
Sungguh! Aku tidak berharap kau membalas cintaku. Aku tidak berharap kau mengerti perasaanku. Aku bahkan tidak berharap kau memahamiku. Karena cinta itu perkara memberi, dan aku memang hanya memberi. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu…
Sungguh! Jangan pernah jadikan cintaku menjadi bebanmu. Jangan pernah berusaha untuk membalasnya jika kau tidak bisa. Jangan pernah memaksa dirimu untuk mengasihaniku. Karena itu akan menyakitiku. Aku hanya mohon padamu, biarkan aku menyimpan rasaku. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu…
Sungguh! Jangan jadikan cintaku alasan untuk melenakan dirimu. Jangan jadikan cintaku alasan untuk melalaikan amanat Tuhanmu. Jangan jadikan cintaku alasan untuk membutakanmu. Jangan… karena Aku tak sanggup membiarkanmu terluka karena cintaku. Inilah caraku mencintaimu…

Aku mencintaimu…
Sungguh! Izinkan aku mencintaimu dengan sederhana. Karena… Inilah caraku mencintaimu…

occupation:HOUSEWIVE!!!

I will start this note by asking you a question;

What is the distinction between house wife and house maid?”

Probably you will wrinkle your forehead and widely smile, while starting mumbling these answers;

Different title but the same occupation…

Different in paycheck…

One is worked by divine calling, one by pocket earning…

Sleep in different rooms

Yeah…, of course one is using ‘w’ letter and one is using ‘m’ letter...”

Most people said housewife isn’t an occupation. It just divine calling. Once you get engaged in marriage and not allowed to work by your partner because you are already have kids. Or it just your logical reason because you think motherhood is your divine calling. But, how if, being a housewife is an agony, as if you might recall this following story in daily news…

“Anik Coriah (31), the Bandung woman accused of killing her three sons, Abdullah Faras (6), Nazhif Aulia Rahmatullah (4), and Muhammad Umar Nasrullah (9 month) …, argues that God told her to do so…

Defense attorney argued that insanity was the only reasons why deeply religious mother who homeschooled her children would kill all of them without so much tears. “There was no cry,” her psychologist said. “She was insane. There is no other explanation.” Psychologist testified that Anik believed she was divinely chosen by God to kill her children as a test of faith. In a videotape played at her trial, Anik said she saw her youngest son play with a spear, hold rock and squeeze a frog, and took them all as signs from God that she should kill her children.”

And that case is not the one. I have more than 100 cases in Indonesia and thousands of them worldwide. In fact, some researcher found several thousand cases from 1990 to 1999 involving mothers who killed their children, and they had researched over 200 of them. Approximately, 10% of these women had killed more than one child.

Then, you perhaps asking me a question,

“Why would a mother kill her own children?”

Usual boring monotonic life can lead to depression. And major depression is the biggest contributor to the reason why would housewives kill their own children. Domestic daily cares are central activities that consume most time of the housewife. They have less time to do another thing, especially “me time”. Most of them have lack ability to socialize in their neighborhood, and have an introvert personality. It shows that their lives are tedious and miserable. Those indications can lead to depression, and major depression can direct to suicidal thought and even murdering action.

For woman in particular, depression is common. Martin Seligman, the founder of positive psychology, once ever said that “human race are in the middle of epidemic depression, the consequences are suicidal mood and suicide action. It takes so many lives, more than AIDS ever do. We are facing the world with 10 time depressed population than 50 years ago. And it takes women twice more than man, and consumes ten generation younger than ever before…”

According to National Mental Health Associations, approximately 12 million women in United States experience clinical depression each year. About one in every night women can expect to develop clinical depression during their life time. In Indonesia, the statistics even more horrifying. According to research conducted by Association of Mental Health Doctors, almost all of the population (98%) undergo minor into major depression, and half of them (about 48%) endure depression that prohibit to have full function life for about two weeks, and another 20% are diagnose having habitual depression in the rest of their life.

Women are about twice as likely as men to suffer from depression. This two to one difference persists across racial, ethnic, and economic divides. In fact, this gender difference in rates of depression is found in most countries around the world.

And so, another question flash into your head,

“What is depression, anyway? And why it attacks more women than men?”

If you’re feeling sad, guilty, tired, and just generally “down in the dumps”, you may suffering from major depression. Common complaint includes; depress mood, loss of interest or pleasure in activities you used to enjoy. If you have at least three of these symptoms, you are may be in high risk of having depression. Those symptoms are; feeling guilt, hopelessness and worthlessness; suicidal thoughts or recurrent thoughts of death; sleep disturbance (sleeping more or sleeping less); appetite and weight changes; difficulty concentrating; lack of energy and fatigue.

Although the sign and symptoms of depression are the same, for both men and women, women are tending to experience certain symptoms more often than men. For example, women are more likely to experience the symptoms of atypical depression. In atypical depression, rather than sleeping less, eating less, and losing weight, the opposite is seen: sleeping excessively, eating more (especially carbohydrate), and gaining weight. Feeling of guilt associated with depression is also prevalent and pronounced in women. Women also have higher thyroid problems, hypothyroidism can cause depression.

Then, the next question is…

“What are the causes of depression in women? Especially during motherhood…”

There are a number of theories which attempt to explain the higher prevalence of depression in women. Many factors have been implicated, including social and cultural causes, psychological and also biological factors, which women are heavenly designed differ than men.

Social and cultural causes of depression in women are involved role strains. Women often suffer from role strain over conflicting and overwhelming responsibilities in their life. The more a woman is expected to play as a magnificent mother and wife, the more vulnerable she is to role strain and subsequent stress and depression. Depression is more common in women who receive little help with housework and child care. Social and psychological burden is even harder when society still see that raising great children is women responsibility. It’s even vigorous when husband seems neglected his wives emotional strain. Minor depression looks as if nothing. When a mother fail raising children as society wants them to be, she become the black sheep.

Unequal power and status often be major problems among housewives. Women’s relative lack of power and status in our society may lead to feelings of helplessness. The course of this feeling such as, inharmonic relations between husband and wife, or maybe there are problems caused by extended family member. This sense of helplessness puts women at greater risk of depression.

Relationship dissatisfaction also contributes depression among wives. While rates of depression are lower for the married than for the single and divorced, the benefits of marriage and its general contributions to well-being are greater for man and for woman. Furthermore, the benefits disappear entirely for woman whose marital satisfaction is low. Lack of intimacy and marital discord are linked to depression in wives.

Psychological causes divided into two major causes. First is, coping mechanisms. Women are more likely to ruminate when they are depressed. This includes crying to relieve emotional tension, trying to figure out why they’re depressed, and talking to their friends about the depression. However, ruminations have been found to maintain depression and even make it worse. Men, on the other hand, tend to distract themselves when they are depressed. Unlike ruminations, distractions can reduce depression. According to Psychology Today, women are more likely than men to develop depression under lower level of stresses. Furthermore, the female psychological response to stress is different. Women produce more stress hormone than men do, and the female sex hormone progesterone prevents the stress hormone system from turning itself off as it does in men.

Biological contributors to depression are in pregnancy and infertility. The many hormonal changes that occur during pregnancy can contribute to depression, particularly in women already at high risk. Other issues relating to pregnancy such as miscarriage, unwanted pregnancy, and infertility can also play role in depression. Many new mothers experience the “baby blues.” This is a normal reaction that tends to subside within few weeks. However, some woman experience severe, lasting depression. This condition is known as postpartum depression. Postpartum depression is believed to be inflated, at least in part, by hormonal fluctuations. Women may be increased risk for depression during perimenopause, the stage leading to menopause when reproductive hormones rapidly fluctuate. Women with past histories of depression are at an increased risk of depression during menopause as well.

Your next question would be…

“How depression in housewives can affect their children, excluding murdering?”

Children grow and learn by modeling. They learn from examples are given by their environment, especially their parents, moms, as significant others. When their moms are in depression, children are commonly share the same psychological pattern. Children with anxiety mothers are more likely to have seven times higher chances to have anxiety disorder. The newest report comes from National Research Council and the Institute of Medicine in United States. This research said that one of five mothers in United States are having habitual depressions, and 15.6 million children under 18 years old live with adult which under major depression.

Commonly, depression in mothers not directly affected their children. But, several studies show that when the time mothers in depression, their children often have poor health, deviance behavior and emotional disturbance. Judy Garber from Nashville’s Vanderbilt University judged that preadolescent is the most vulnerable phase through depression. Garber reported that about one to five adolescence steps into depression when they reach 18 years old. From his study, Garber found that 316 participants confess that they have mothers in major depression.

Depression level in teenagers is come from the anxiety of their moms. They mostly have negative thought or overprotective with their children. Bryan King, director of Child Psychiatry in Seattle Hospital said that, child which have depression mother seem don’t have emotional support to flourishing their own self worth feeling.

One study hold by Loraine Bezaldine, M.D. in female brains indicates that depression is also transferred through generations during pregnancy. Woman with depression develop glooming reactions that produces hormones which affected the infant. Once the baby was born, their mom’s often having baby blues syndrome. These babies often grew up become introvert children.

Woman with depression often can’t cope their own emotional disturbance. This also affected their spouse. If this relations become worse and worse, it can leads to divorcing, and divorce parent can straight to depression on their children.

So, the next question would be…

“Is depression treatable?”

All these years, counseling in depression and treatment method commonly designed only for personal therapy. Even though, if depression is infected mother as housewives, most of family members are affected, as I have notice above. To determine the root of depression we often has to route to the whole family relation to each other, said Jane England psychiatrist from Regis College. Her studies provide new vision to treat depression, which provides holistic treatment not only for parent but also their children. Nowadays, professional mental health provider often includes the entire family member in therapeutic treatment; often the obstacles come from the women. Only one third women are asking for help to treat their depression. Most of depression is hidden behind the walls, until it burst to clinical action, murdering their children.

Women depression can affected the whole family even the society, so I suggest, the cure are also involving the whole community. I call this “holistic social support”.

You may ask the final question…

“Why should holistic social support?”

This approach not only provides curative action for women with depression, but also can provide preventive ones. With strong social support, community can notice which mother are having the higher risk to major depression.

As you can see above, most women which suffer depression are lack of social support. They often have to deal with day to day stresses all by themselves. This holistic social support is given housewives sense of bounding. Feeling to be accepted, wanted, and has live purpose in the community.

We develop holistic social support from their origins. Such as, “arisan” or “pengajian.” In those activities, women are already bounding in certain activity. We just added what was the lack on their process. We notice that in those activities originally focus only in one purpose, and often miss guided as gossips forum. So, we enter these communities by asking them what they want most in their daily life. After so many rehearsals, we found several aspects that can develop in this local environment. The aspects are spiritual, emotional, aesthetic, intellectual, social and financial.

We are developing activities which can expand their interests, in those aspects. In spiritual and intellectual matters we provide frequent discussion about religion and common issues. In emotional aspect we teach them simple self help treatment like NLP, EFT, self awareness and simple counseling methods, to enhance their problems solving skills, improving interpersonal relationships, and reducing negative thinking and ineffective coping technique. In aesthetic and financial parts, we provide homemade handicraft skill or developing their cooking skills, so they can sell it to earn income. In social portion, we create social event such as helping local disaster survivors or simple gardening in the local park. With those actions, we hope that housewife has better atmosphere that empower them as human being. So, it can prevent them from minor or even major depressions.

With this community approach, hopefully we can reduce a half of major depression which affected women in this society. Foremost, women as housewives.

Self Talk About Changes…

Change is eternity…

I do believe in that phrase. Change is eternity. There is no absolute and constant in this world except the change itself. Changes keep us moving, into another part of life. Massive technology and globalization, changes so many parts of our lives. Electricity, mass communication, television, internet, and facebook, makes changes even faster than ever before. We cannot say again, that lives will flow though the river of changes. If we do that, of course we will consumed by change itself. We will only become followers or viewers, than the agent of change.

Development is remaining journey; so that we keep survive in this live. Development will lead to changes. Development can be move forward or backward, positive or negative. Positive development gives human ability to adapt within its surrounding. Negative development can incline human to the rear, depression or even suicides.

And human being need organize them self into society in order to become better agent of change. Human welfare is determined by development of an organization. Better nations, gives its citizen better quality of life. Better family organization, provide positive environment to raise strong and great children.

People within organization is the “it” factor. They will lead organization into better or worse conditions. Without positive, imaginative and creative people, organization will enter to stagnant phase. Or even slope to backwards, bankruptcy or death.

I do believe in planning. If we can conclude systematic changes, it will stimulate well planned development which can lead us into positive changes. Organizational fluid design gives the world rapid and positive changes.

The change and development word, gives me insight about live changing experience. As you may notice, I’ve been working in my organization for almost three years. I with two friends of mine have one dream to overcoming lack of health, mental disorder and poverty in Indonesia. Within these years I feel that the steps that we have done is far from the impact that we’re expected. So, I think I need quantum leap in order to bring my organization into better quality or even great ones. I really feel that this study provides me tools and help care to overcome gaps in my organization.

I also have personal interest in women empowerment, especially in my capacity as Bachelor in Psychology. I’ve been studied about clinical mental health which can influence women empowerment particularly in victims of domestic violence. In this research I found that woman as survivor in domestic violence is fragile and severe major depression. But, once I notice that women with better social support will able to move one than the one who doesn’t. I have dream about organization that prevent women from this disease. Give them power before the having serious emotional problem. And, I think I can use skill and knowledge from this program to develop it.

Uelek, Muiskin, dan Guoblok…

You are beatifful… No matter what they said…
(Christina Aguilera)

Jika Anda seperti saya, ‘uelek’…

Sabtu pagi, saya, secara tidak sengaja, menyaksikan acara perjodohan berjudul Take Her Out yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Itu kali pertama saya menyaksikannya, meski sudah berulang kali saya mendengar teman-teman menceritakan reality show itu. Setelah menyaksikan sekian menit lamanya, acara itu membuat saya tergelak, terhibur dan juga membuat saya trenyuh.

Mengapa saya trenyuh? Saya menyaksikan seorang wanita muda muncul dan setelah beberapa menit mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri, MC memberikan kesempatan kepada para pria untuk memilih atau tidak. Para pria berdiri dengan meja berlampu di depannya. Kalau mereka tidak berniat memilih, meja berlampu itu berubah menjadi merah. Dalam hitungan detik, pria sejumlah lebih kurang tiga puluh orang itu semaunya mematikan meja berlampu yang ada di hadapan mereka. Artinya, tak satupun dari mereka berniat memilih wanita muda itu. Sudah bisa ditebak, wanita itu harus angkat kaki dan pulang dengan tangan hampa.

Saya tak bisa membayangkan kalau saya jadi wanita muda itu. Saya pasti malu sekali. Saya yakin muka saya merah padam seperti warna meja berlampu itu. Saya akan merasa ditolak mentah-mentah. Tidak laku. Saya akan sedih pada diri saya sendiri, melihat kenyataan kalau tidak ada yang merasa perlu memberikan kesempatan bagi saya untuk di-probe lebih lanjut. Dan, yang paling membuat perasaan teriris adalah sejagat Nusantara ini melihat saya tidak laku. Tidak bernilai.

Bukankah sejujurnya tidak ada manusia di dunia ini yang mau mendengar hal yang menyinggung perasaan hatinya? Yang menyakitkan meskipun faktanya memang demikian? Tetapi, di layar televisi hari itu, saya menyaksikan masih ada orang yang berani berhadapan dengan ketersinggungan itu. Saya mendapat pelajaran untuk melihat nilai-nilai yang ora elok yang dulu diajarkan itu sekarang boleh dibuka habis-habisan di depan umum. Luar biasa. Terus terang, saya angkat topi kepada wanita itu. Ia adalah seorang pemberani. Berani mengambil resiko. Resiko untuk dipermalukan di depan umum.

Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘uelek’. Jangan Anda merasa terbuang. Jangan bersembunyi dengan pemikiran, kalau jelek secara fisik, saya masih punya kecantikan dari dalam. Jangan. Jelek ya jelek. Cantik ya cantik. Diterima saja, jangan memanipulasi perasaan dan jangan mencari tempat persembunyian. Bagian luar dan bagian dalam jangan dicampur aduk. Sudah demikian adanya, di dunia ini harus ada yang berperan sebagai orang jelek dan orang cantik. Jangan pernah menyalahkan Pencipta Anda. Ia tidak mungkin keliru.

Tapi ingat…
Yang membuat standar jelek dan tidak jelek, bukan Sang Pencipta, tetapi penghakim… eh… salah, manusia. Manusia yang diciptakanNya, yang bertabiat seperti penghakim.

Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’…

Kemudian, saat melihat tayangan tersebut, seorang kawan nyeletuk dan bercerita. Di kali lain, ia pernah melihat tayangan serupa yang menampilkan seorang bapak guru yang dipajang dalam etalase yang sama. Bapak guru ini hanya bermodalkan sepeda juga bernasib nyaris sama dengan wanita muda yang sedang kami saksikan.

Saya tidak bisa membayangkan jika saya jadi bapak guru bermodal sepeda itu. Siapa yang mau pacaran dan berjodoh dengan saya kalau saya miskin? Kalau saya cuma punya sepeda dan hanya sekedar guru honorer, bukan seorang general manager yang mungkin gajinya setinggi langit yang biru. Kalau secara de facto di layar televisi dan se-Nusantara tahu saya ditolak mentah-mentah pada menit pertama oleh sekian puluh sosok, kemana saya harus pergi?

Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’. Jangan merasa terbuang dan berfikir tidak ada yang mau dengan Anda. Saya pastikan tetap ada yang mau. Jangan memanipulasi dengan berkata aku miskin, tetapi kaya dalam perbuatan baik dan kaya dalam kebahagiaan batin. Miskin itu menurut ukuran manusia adalah yang uangnya tidak ada, tidak berhubungan dengan kekayaan jiwa. Itu urusan lain. Jadi, terima kenyataan Anda itu miskin karena memang ada yang harus berperan sebagai orang miskin.

Tapi ingat…
Yang membuat standar miskin dan tidak miskin, bukan Yang Maha Memiliki, tetapi manusia. Manusia yang suka mengaku-aku, yang suka menilai segala sesuatunya dari satu sudut pandang saja. Uang.

Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’…

Setelah melihat tayangan tersebut, saya jadi ingat akan pertemuan saya beberapa bulan yang lalu di kota kelahiran saya. Pada akhir acara yang merupakan reuni akbar itu, seorang Bapak maju untuk mengumumkan, beliau dengan timnya telah membentuk program mulia mendukung anak-anak yang kurang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan persyaratan indeks prestasi minimal harus setinggi gunung.

Maksud saya setinggi gunung itu bukan satu koma atau dua koma, tetapi tiga koma sekian. Kalau bisa empat koma. Semoga tidak koma alias semaput. Beliau juga mengajak para undangan malam itu, kalau punya teman atau kenalan yang kurang mampu tetapi memiliki IP yang tinggi, bisa menghubungi beliau. Tujuannya bukan hanya sekedar memberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi agar suatu hari mereka-mereka yang IP-nya di atas tiga koma sekian-sekian itu bisa duduk di dalam jajaran pemerintahan dan memajukan negeri ini.

Saya hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar itu semua. Saya membayangkan menjadi pemuda/i yang memiliki IP nasakom. Nasib satu koma. Siapa yang akan mendukung saya? Siapa yang akan memberi fasilitas untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi kalau saya sudah tidak mampu secara finansial dan tidak punya IP di atas tiga? Apakah saya tidak bisa masuk ke dalam jajaran pemerintahan supaya bisa memajukan negeri ini? Ke mana saya harus pergi? Pertanyaannya salah, ke mana saya akan dibuang? Sudah miskin, bodoh pula.

Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’. Jangan merasa terbuang. Juga jangan memanipulasi, dengan memberi penyataan dalam hati, biar bodoh, tetapi cantik dan kaya. Anda tetap bodoh dan kita sedang tidak dalam membicarakan soal harta yang berlimpah. Kalaupun Anda mau menghubungkan kata cantik dan bodoh, maka berbahagialah kalau Anda bodoh sehingga tidak memiliki kemampuan berfikir menjual kecantikan Anda ke tempat yang tidak benar. Tetapi, hati-hati karena ada orang pandai di sekitar Anda yang bernama orang tua, teman, germo yang bisa melihat Anda bisa dijual.

Tapi ingat…
Yang membuat standar bodoh dan tidak bodoh, bukan Yang Maha Tahu, tetapi manusia. Manusia yang sok tahu, yang membuat standar klasifikasi hanya dari satu aspek saja. Otak.

Jika Anda seperti saya, ‘uelek, muiskin & guoblok’…

Setelah mengingat semua peristiwa itu, saya tidak bisa tidur… Ke mana saya harus dibuang? Siapa yang mau sama saya kalau semua maunya yang cantik, pintar dan kaya raya? Apakah saya harus operasi plastik dan mempermak, menambal muka dan tubuh sana sini agar laku? Apakah saya harus belajar begitu keras atau membeli gelar sajalah agar dianggap pintar? Ataukah saya harus kerja banting tulang untuk menjadi kaya? Meski jelek, orang pasti mau sama saya karena ada agenda lain di benak mereka. Mengejar harta saya, dan saya tidak keberatan daripada tidak laku…

Pada akhirnya saya tersadar… Saya juga manusia, yang suka memilah-milah, memilih-milih. Mengklasifikasi… Saya pun jarang untuk melihat manusia utuh, sebagaimana adanya… Walau jelek mereka pasti ada kelebihan lain… Walau miskin, mereka adalah pejuang sejati… Walau bodoh, mereka hebat dalam hal lain… Karena toh, jelek, miskin, bodoh, adalah bagian dari klasifikasi saya terhadap mereka. Di hadapan Tuhan, mereka indah sebagaimana adanya…

Tabik…
Dari saya yang jelek, miskin dan bodoh…

Posted in Care..., Encouraging.... Comments Off on Uelek, Muiskin, dan Guoblok…
Design a site like this with WordPress.com
Get started