Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN
Anggota Tim Hisab Rukyat, Kemenag
Saya menjadi mahasiswa Astronomi ITB angkatan 1981. Semester pertama program pendidikan astronomi, saya mendapatkan kuliah Astronomi Bola, dasar-dasar untuk penguasaan posisi benda-benda langit pada waktu tertentu. Karena materi kuliah tersebut sangat terkait dengan penentuan waktu ibadah (jadwal shalat, awal bulan hijriyah, dan gerhana) serta arah kiblat, saya perlu memperkuat penguasaan dalil-dalil fikih terkait ilmu falak. Dalil-dalil umum sudah saya ketahui dari buku-buku fikih, namun kajian lebih rinci perlu saya perdalam. Maka saya temui dosen Ilmu Falak Unisba (Universitas Islam Bandung) yang berdekatan dengan ITB untuk mendapatkan rujukan dalil-dalil fikih yang lebih lengkap. Alhamdulillah saya mendapatkan pinjaman buku untuk saya pelajari.
Dengan menggunakan data dari Astronomical Almanac sejak saat itu saya mulai membuat jadwal shalat dan perhitungan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dengan menggunakan kriteria Wujudul Hilal. Saat itu kriteria Wujudul Hilal adalah kriteria rujukan yang digunakan pemerintah dan juga beberapa institusi, termasuk Unisba dan Masjid Salman ITB. Kemampuan hisab-rukyat itu kemudian saya gunakan untuk membantu komunitas Muslim di Jepang saat saya sekolah di Kyoto University (1989-1994). Saat menjadi Secretary for Culture and Publication di Muslim Student Associationof Japan (MSA-J) awal 1990-an saya terbitkan “Guide Book for Muslim in Japan” terutama berisi jadwal shalat untuk seluruh perfecture di Jepang. Jadwal shalat itu saya buat dengan program BASICS. Saat itu sumber jadwal shalat hanya dari Islamic Center di Tokyo dan Masjid Kobe, sehingga komunitas Muslim di kota lain sulit memperkirakan waktu shalat di tempat mereka. Saya juga membuat garis tanggal awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk memberikan informasi awal kepada Kedutaan Besar RI di Tokyo, Islamic Center, dan Masjid Kobe, walau dalam pelaksanaannya mereka akan menunggu informasi dari Indonesia, Malaysia, Turki, atau negara-negara Arab. Saya pun diminta memberikan penjelasan ketika komunitas Muslim di Nagoya dihadapkan pada perbedaan Idul Fitri antara negara-negara Arab dan Asia Tenggara.
Sebagai bagian dari popularisasi sains, khususnya astronomi dan implementasinya pada ibadah, saya sudah menulis artikel ilmiah populer di berbagai koran dan majalah. Dimulai sejak SMA dan makin banyak saat kuliah sampai jadi peneliti. Lebih dari 100 tulisan ilmiah populer sudah saya publikasikan. Tulisan perdana tentang kalender hijriyah saya tulis pada 1984 “Hanya berbeda satu hari dalam 2419 tahun: Kalender Hijriyah Mempunyai Ketepatan Tinggi” di majalah Kiblat. Tulisan pertama tentang masalah penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya saya tulis di majalah Panggilan Adzan 1991 berjudul “Awal Ramadan dan Awal Labaran: Mungkinkah disamakan di Seluruh Dunia?” dan di majalah The Muslim World League Journal pada 1992 berjudul “Observing Eid on the Same Day Everywhere?”.
Masalah perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha mulai saya ulas pada 1993 di koran Republika berjudul, “Memahami sebab Perbedaan Awal Ramadan dan Ied”. Dulu sumber perbedaan karena beda faham antara metode hisab dan metode rukyat. Dengan menggunakan pendekatan astronomi saya mulai menawarkan solusi dengan tulisan di koran Pikiran Rakyat pada 1995, “Dari mana kita mulai: Mengurai Kepelikan Kalender Hijriyah”. Intinya, hisab dan rukyat perlu dipandang sederajat. Tidak ada yang lebih unggul. Masing-masing punya keunggulan, tetapi masing-masing juga ada kelemahannya.
Akar masalah perbedaan penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha ternyata bukan karena beda metode hisab dan rukyat. Pada penentuan Idul Fitri 1419 H/1998, makin nyata sebab utama perbedaan adalah karena beda kriteria. Itu saya tulis di koran Pikiran Rakyat pada 1998 dengam judul “Renungan Menjelang Tahun Baru 1419 Hijriah: Pelajaran 3 Hari Raya Terakhir”. Karena sumber perbedaan adalah masalah kriteria, saya mulai gunakan analisis astronomis untuk menunjukkan potensi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha dengan tulisan di Republika pada 1999, “Aspek Astronomis dalam Kesatuan Ummat”. Menunjukkan sumber perbedaan karena perbedaan kriteria setiap terjadi perbedaan bukanlah untuk memprovokasi, tetapi untuk mendorong upaya penyamaan kriteria agar perbedaan dapat diselesaikan. Pada 2001 saya tulis di koran Republika, “Awal Ramadhan 16 atau 17 November: Urgensi Menyatukan Kriteria”. Menyatukan kriteria adalah jalan tengah untuk mempertemukan pengamal rukyat dan pengamal hisab. Astronomi sangat berperan untuk menuju titik temu tersebut.
Sejak saat itu saya sering diundang dalam berbagai forum yang diselenggarakan NU, Muhammadiyah, Persis, dan masjid-masjid terkait upaya menyatukan kalender hijriyah agar tidak ada lagi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pada Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah Oktober 2003 di Padang saya diundang untuk berbicara tentang “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Tetapi saya ubah menjadi “Pengertian dan Perbandingan Madzhab tentang Hisab Rukyat dan Mathla”, karena bukan hanya mengkritisi Wujudul Hilal tetapi juga praktek rukyat saat itu. Kemudian pada 2007 saat Wapres Jusuf Kalla akan berupaya menyatukan NU dan Muhammadiyah agar bisa bersatu dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya, saya dipanggil Menteri Agama saat itu, Pak Maftuh Basuni. Menteri Agama meminta saran cara menyatukan NU dan Muhammadiyah. Saya sarankan untuk menyatukan kriteria yang merupakan titik temu pengamal hisab dan pengamal rukyat.
Kumpulan tulisan di media massa telah dikumpulkan oleh kolega di Pengadilan Tinggi Agama Bandung dan diterbitkan menjadi buku “Menggagas Fikih Astronomi” (2005). Buku itu banyak dirujuk oleh artikel ilmiah. Menurut Google Scholar buku itu saat ini telah dirujuk 135 artikel ilmiah. Tema riset saya biasa dikenal sebagai Astronomi untuk Masyarakat (Astronomy for Society), termasuk di dalamnya tema-tema Astronomi untuk Ibadah yang banyak diperlukan ummat Islam. Pada 2010 LAPAN menerbitkan kumpulan tulisan saya berupa buku “Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat” (2010) yang juga banyak dirujuk artikel ilmiah. Di buku itu dibahas “Analisis Visibilitas Hilal untuk Usulan Kriteria Tunggal di Indonesia” yang menjadi cikal bakal usulan kriteria tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kriteria tersebut kemudian bersesuaian dengan kriteria MABIMS 2021. Publikasi terkait dengan implementasi kriteria baru MABIMS saya tulis bersama peserta Postdoc BRIN 2023 “The implementation of new minister of religion of Brunei, Indonesia, Malaysia, and Singapore criteria towards the Hijri calendar unification” di jurnal internasional.

Dulu gagasan pemikiran saya banyak saya publikasi dalam bentuk artikel ilmiah populer di koran atau majalah. Tetapi sejak adanya blog (2010) saya lebih banyak menuliskan di blog saya. Blog saya bertema “Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi”. Selain pemikiran baru, beberapa tulisan yang pernah dipublikasikan koran atau majalah saya muat juga di blog saya. Makalah teknis ilmiah sering saya tuliskan dalam bentuk populer dalam bahasa awam lalu saya masukkan di blog saya. Tujuannya untuk diseminasi dan edukasi publik. Sejak April 2010 blog telah dikunjungi lebih dari 2,55 juta pembaca dari berbagai negara. Kategori terbanyak adalah Hisab Rukyat (260 tulisan) serta Astronomi & Antariksa (216 tulisan). Banyak tulisan saya di blog juga dirujuk artikel ilmiah sepertii ditunjukkan oleh Google Scholar.
Untuk mempromosikan tulisan saya di blog, saya gunakan media sosial saya, terutama di facebook. Laman fb saya diikuti lebih dari 25 ribu orang, selain teman yang kenal saya, sebagian besar pengikut adalah penggemar astronomi dan ilmu falak. Di fb saya memperkenal diri sebagai “Muslim berprofesi peneliti astronomi-astrofisika untuk integrasikan iman, ilmu, dan amal”. Keliru kalau menganggap fb saya memprovokasi, karena isinya sekadar mempromosikan kajian yang saya tulis di blog. Isi lengkapnya, silakan dibaca rinci di blog saya. Blog saya terbuka untuk tanggapan dan pertanyaan. Tanggapan dan pertanyaan yang relevan selalu saya upayakan dijawab. Tanggapan yang tidak relevan terpaksa saya hapus untuk menjaga nuansa positif diseminasi ilmiah dan edikasi publik.
Filed under: 2. Hisab-Rukyat | Leave a comment »










































