Riset, Diseminasi, dan Edukasi Publik Astronomi untuk Masyarakat (Astronomy for Society), termasuk Astronomi untuk Ibadah

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kemenag

Saya menjadi mahasiswa Astronomi ITB angkatan 1981. Semester pertama program pendidikan astronomi, saya mendapatkan kuliah Astronomi Bola, dasar-dasar untuk penguasaan posisi benda-benda langit pada waktu tertentu. Karena materi kuliah tersebut sangat terkait dengan penentuan waktu ibadah (jadwal shalat, awal bulan hijriyah, dan gerhana) serta arah kiblat, saya perlu memperkuat penguasaan dalil-dalil fikih terkait ilmu falak. Dalil-dalil umum sudah saya ketahui dari buku-buku fikih, namun kajian lebih rinci perlu saya perdalam. Maka saya temui dosen Ilmu Falak Unisba (Universitas Islam Bandung) yang berdekatan dengan ITB untuk mendapatkan rujukan dalil-dalil fikih yang lebih lengkap. Alhamdulillah saya mendapatkan pinjaman buku untuk saya pelajari.

Dengan menggunakan data dari Astronomical Almanac sejak saat itu saya mulai membuat jadwal shalat dan perhitungan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dengan menggunakan kriteria Wujudul Hilal. Saat itu kriteria Wujudul Hilal adalah kriteria rujukan yang digunakan pemerintah dan juga beberapa institusi, termasuk Unisba dan Masjid Salman ITB. Kemampuan hisab-rukyat itu kemudian saya gunakan untuk membantu komunitas Muslim di Jepang saat saya sekolah di Kyoto University (1989-1994). Saat menjadi Secretary for Culture and Publication di Muslim Student Associationof Japan (MSA-J) awal 1990-an saya terbitkan “Guide Book for Muslim in Japan” terutama berisi jadwal shalat untuk seluruh perfecture di Jepang. Jadwal shalat itu saya buat dengan program BASICS. Saat itu sumber jadwal shalat hanya dari Islamic Center di Tokyo dan Masjid Kobe, sehingga komunitas Muslim di kota lain sulit memperkirakan waktu shalat di tempat mereka. Saya juga membuat garis tanggal awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk memberikan informasi awal kepada Kedutaan Besar RI di Tokyo, Islamic Center, dan Masjid Kobe, walau dalam pelaksanaannya mereka akan menunggu informasi dari Indonesia, Malaysia, Turki, atau negara-negara Arab. Saya pun diminta memberikan penjelasan ketika komunitas Muslim di Nagoya dihadapkan pada perbedaan Idul Fitri antara negara-negara Arab dan Asia Tenggara.

Sebagai bagian dari popularisasi sains, khususnya astronomi dan implementasinya pada ibadah, saya sudah menulis artikel ilmiah populer di berbagai koran dan majalah. Dimulai sejak SMA dan makin banyak saat kuliah sampai jadi peneliti. Lebih dari 100 tulisan ilmiah populer sudah saya publikasikan. Tulisan perdana tentang kalender hijriyah saya tulis pada 1984 “Hanya berbeda satu hari dalam 2419 tahun: Kalender Hijriyah Mempunyai Ketepatan Tinggi” di majalah Kiblat. Tulisan pertama tentang masalah penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya saya tulis di majalah Panggilan Adzan 1991 berjudul “Awal Ramadan dan Awal Labaran: Mungkinkah disamakan di Seluruh Dunia?” dan di majalah The Muslim World League Journal pada 1992 berjudul “Observing Eid on the Same Day Everywhere?”.

Masalah perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha mulai saya ulas pada 1993 di koran Republika berjudul, “Memahami sebab Perbedaan Awal Ramadan dan Ied”. Dulu sumber perbedaan karena beda faham antara metode hisab dan metode rukyat. Dengan menggunakan pendekatan astronomi saya mulai menawarkan solusi dengan tulisan di koran Pikiran Rakyat pada 1995, “Dari mana kita mulai: Mengurai Kepelikan Kalender Hijriyah”. Intinya, hisab dan rukyat perlu dipandang sederajat. Tidak ada yang lebih unggul. Masing-masing punya keunggulan, tetapi masing-masing juga ada kelemahannya.

Akar masalah perbedaan penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha ternyata bukan karena beda metode hisab dan rukyat. Pada penentuan Idul Fitri 1419 H/1998, makin nyata sebab utama perbedaan adalah karena beda kriteria. Itu saya tulis di koran Pikiran Rakyat pada 1998 dengam judul “Renungan Menjelang Tahun Baru 1419 Hijriah: Pelajaran 3 Hari Raya Terakhir”. Karena sumber perbedaan adalah masalah kriteria, saya mulai gunakan analisis astronomis untuk menunjukkan potensi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha dengan tulisan di Republika pada 1999, “Aspek Astronomis dalam Kesatuan Ummat”. Menunjukkan sumber perbedaan karena perbedaan kriteria setiap terjadi perbedaan bukanlah untuk memprovokasi, tetapi untuk mendorong upaya penyamaan kriteria agar perbedaan dapat diselesaikan. Pada 2001 saya tulis di koran Republika, “Awal Ramadhan 16 atau 17 November: Urgensi Menyatukan Kriteria”. Menyatukan kriteria adalah jalan tengah untuk mempertemukan pengamal rukyat dan pengamal hisab. Astronomi sangat berperan untuk menuju titik temu tersebut.

Sejak saat itu saya sering diundang dalam berbagai forum yang diselenggarakan NU, Muhammadiyah, Persis, dan masjid-masjid terkait upaya menyatukan kalender hijriyah agar tidak ada lagi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pada Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah Oktober 2003 di Padang saya diundang untuk berbicara tentang “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Tetapi saya ubah menjadi “Pengertian dan Perbandingan Madzhab tentang Hisab Rukyat dan Mathla”, karena bukan hanya mengkritisi Wujudul Hilal tetapi juga praktek rukyat saat itu. Kemudian pada 2007 saat Wapres Jusuf Kalla akan berupaya menyatukan NU dan Muhammadiyah agar bisa bersatu dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya, saya dipanggil Menteri Agama saat itu, Pak Maftuh Basuni. Menteri Agama meminta saran cara menyatukan NU dan Muhammadiyah. Saya sarankan untuk menyatukan kriteria yang merupakan titik temu pengamal hisab dan pengamal rukyat.  

Ini halaman depan paparan saya di Munas Tarjih 2003 di Padang

Kumpulan tulisan di media massa telah dikumpulkan oleh kolega di Pengadilan Tinggi Agama Bandung dan diterbitkan menjadi buku “Menggagas Fikih Astronomi” (2005). Buku itu banyak dirujuk oleh artikel ilmiah. Menurut Google Scholar buku itu saat ini telah dirujuk 135 artikel ilmiah. Tema riset saya biasa dikenal sebagai Astronomi untuk Masyarakat (Astronomy for Society), termasuk di dalamnya tema-tema Astronomi untuk Ibadah yang banyak diperlukan ummat Islam. Pada 2010 LAPAN menerbitkan kumpulan tulisan saya berupa buku “Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat” (2010) yang juga banyak dirujuk artikel ilmiah. Di buku itu dibahas “Analisis Visibilitas Hilal untuk Usulan Kriteria Tunggal di Indonesia” yang menjadi cikal bakal usulan kriteria tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kriteria tersebut kemudian bersesuaian dengan kriteria MABIMS 2021. Publikasi terkait dengan implementasi kriteria baru MABIMS saya tulis bersama peserta Postdoc BRIN 2023 “The implementation of new minister of religion of Brunei, Indonesia, Malaysia, and Singapore criteria towards the Hijri calendar unification” di jurnal internasional.

Tema riset yang dipublikasikan di buku, jurnal, atau majalah ilmiah yang banyak dirujuk (versi Google Scholar) adalah tema hisab-rukyat.

Dulu gagasan pemikiran saya banyak saya publikasi dalam bentuk artikel ilmiah populer di koran atau majalah. Tetapi sejak adanya blog (2010) saya lebih banyak menuliskan di blog saya. Blog saya bertema “Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi”. Selain pemikiran baru, beberapa tulisan yang pernah dipublikasikan koran atau majalah saya muat juga di blog saya. Makalah teknis ilmiah sering saya tuliskan dalam bentuk populer dalam bahasa awam lalu saya masukkan di blog saya. Tujuannya untuk diseminasi dan edukasi publik. Sejak April 2010 blog telah dikunjungi lebih dari 2,55 juta pembaca dari berbagai negara. Kategori terbanyak adalah Hisab Rukyat (260 tulisan) serta Astronomi & Antariksa (216 tulisan).  Banyak tulisan saya di blog juga dirujuk artikel ilmiah sepertii ditunjukkan oleh Google Scholar.

Blog saya bertemakan “Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi”.
Banyak tulisan saya di blog dijadikan rujukan karya ilmiah yang diindeksisasi oleh Google Scholar.

Untuk mempromosikan tulisan saya di blog, saya gunakan media sosial saya, terutama di facebook. Laman fb saya diikuti lebih dari 25 ribu orang, selain teman yang kenal saya, sebagian besar pengikut adalah penggemar astronomi dan ilmu falak. Di fb saya memperkenal diri sebagai “Muslim berprofesi peneliti astronomi-astrofisika untuk integrasikan iman, ilmu, dan amal”. Keliru kalau menganggap fb saya memprovokasi, karena isinya sekadar mempromosikan kajian yang saya tulis di blog. Isi lengkapnya, silakan dibaca rinci di blog saya. Blog saya terbuka untuk tanggapan dan pertanyaan. Tanggapan dan pertanyaan yang relevan selalu saya upayakan dijawab. Tanggapan yang tidak relevan terpaksa saya hapus untuk menjaga nuansa positif diseminasi ilmiah dan edikasi publik.

Tulisan saya di blog diinformasikan di fb saya untuk diketahui penggemar astronomi dan ilmu falak

Memaknai Keseragaman Kalender Hijriyah

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kemenag

Ibadah umat Islam yang bersifat masal dan global adalah ibadah Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Perbedaan penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha sering menjadi perhatian publik dan keresahan karena akan mengurangi kenyamanan beribadah. Bisa dibayangkan kalau dalam suatu lingkungan masyarakat ada yang masih berpuasa (Ramadhan atau puasa Arafah) namun ada juga yang sudah berhari raya yang bebas makan dan minum. Atau pada saat sebagian ummat masih shalat tarawih, ada sekelompok orang sudah bertakbir untuk persiapan idul fitri. Bagi orang dewasa tentu saja hal itu mudah diatasi cukup dengan imbauan untuk saling menghargai. Tetapi untuk anak-anak yang masih dalam taraf belajar, perbedaan itu itu cukup mengganggu. Itu sebabnya Pemerintah, melalui Kementerian Agama, sejak lama mengupayakan dialog antar-ormas Islam untuk dapat merumuskan unifikasi (penyatuan) kalender hijriyah untuk dapat mempersatukan ummat. Perbedaan antar-negara juga diupayakan melalui dialong antar-bangsa melalui berbagai forum.

Secara de facto, perbedaan mendasar dari segi dalil hisab dan rukyat menyebabkan munculnya perbedaan antara pengamal hisab (mendasarkan pada perhitungan astronomis) dan pengamal rukyat (mendasarkan pada pengamatan hilal — bulan sabit pertama). Hal yang diupayakan Kementerian Agama adalah mengupayakan rumusan yang bisa mempertemukan pengamal hisab dan pengamal rukyat dalam satu sistem kalender. Langkah seperti itu dilakukan juga oleh negara-negara serumpun yang tergabung dalam forum MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Mempertemukan pengamal hisab dan pengamal rukyat adalah langkah yang realistis untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi perbedaan yang sering terjadi di Indonesia. Kalender yang dijadikan sebagai kalender titik temu adalah kalender berbasis kriteria imkan rukyat atau kriteria visibilitas hilal. Dengan kriteria itu, hasil hisab berupa kalender diupayakan sama dengan hasil rukyat. Bagi pengamal hisab, mereka cukup merujuk pada kalender. Tetapi bagi pengamal rukyat mereka menunggu konfirmasi hasil rukyat. Karena kriterianya berdasarkan data visibilitas hilal jangka panjang, diharapkan hasil rukyat akan sama dengan hasil hisab di kalender. Apakah dengan demikian proses rukyat dan itsbat (penetapan) awal bulan bisa dihilangkan? Tidak. Bagi pengamal rukyat, proses rukyat adalah bagian ta’abudi, ketaatan pada contoh Rasul. Pemerintah mengadakan sidang itsbat awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dalam rangka melayani ummat Islam, baik pengamal hisab maupun pengamal rukyat secara setara. Pada saat itu dibahas hasil hisab dan hasil rukyat dalam forum yang melibatkan pakar hisab-rukyat, perwakilan ormas Islam, dan perwakilan instansi terkait.

Kalender hijriyah yang saat ini diadopsi Pemerintah dan sebagian besar ormas Islam merujuk pada kriteria imkan rukyat yang disepakati oleh MABIMS. Kriterianya, tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat pada saat maghrib di wilayah negara-negara MABIMS. Dalam implementasinya, karena tidak disebutkan eksplisit, elongasi ada yang mendefinisikan sebagai elongasi toposentrik (merujuk permukaan bumi) dan elongasi geosentrik (merujuk pusat bumi). Perbedaan definisi tersebut tidak masalah, kecuali ketika garis tanggalnya berada dekat perbatasan wilayah barat Asia Tenggara. Perbedaan elongasi geosentrik dan toposentrik akan menimbulkan potensi perbedaan penetapan awal bulan. Namun, pada sebagian besar kasus yang jauh dari batas wilayah Asia Tenggara, perbedaan elongasi geosentrik dan toposentrik tidak bermasalah.

Namun, menyusul kesepakatan MABIMS pada 2021, pada 1447 H/2025 M ada ormas Islam yang mengumumkan pemberlakuan sistem kalender global dengan merujuk kriteria Turki 2016. Tujuannya untuk menghilangkan perbedaan antar-negara. Kriterianya secara umum, tinggi bulan di atas ufuk minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat (sering disingkat sebagai kriteria [5,8]) pada saat maghrib sebelum pukul 00.00 UTC di mana saja atau ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia baru. Dengan konsep terpenuhinya kriteria “di mana saja” diharapkan rujukannya bukan lokal, tetapi global. Seluruh dunia dinyatakan sebagai satu tanggal hijriyah mengikuti garis tanggal internasional. Itu sebabnya kalender yang diusulkan pada konferensi di Turki pada 2016 disebut Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

KHGT ingin mempersatukan ummat dengan kalender tunggal. Diharapkan awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha bisa dilaksanakan serentak di seluruh dunia. Namun konsep ideal seperti itu hanya ada dalam konsep pengamal hisab. Pengamal rukyat yang mendasarkan pengamatan lokal jelas menolaknya. Kondisi ekstrem, sebagai contoh, adalah pada saat kriteria [5,8] terpenuhi di benua Amerika, di Asia Tenggara posisi bulan masih sangat rendah atau bahkan di bawah ufuk. Kondisi itu jelas tidak memungkinkan adanya rukyat hilal di Indonesia dan negara-negara MABIMS.

Konsep KHGT untuk mempersatukan ummat adalah suatu impian yang mustahil terwujud atau setidaknya sulit direalisasikan. Perbedaan penafsiran “tinggi 5 derajat dari ufuk” yang mendasar secara astronomi, tidak bisa segera diselesaikan yang berdampak perbedaan awal Ramadhan 1447 pada 19 Februari 2026 di Turki dan 18 Februari 2026 di Indonesia. Belum lagi ego politis negara-negara Muslim pasti jadi penghambat. Arab Saudi tidak mungkin mengikuti Turki. Sehingga Arab Saudi dan negara-negara yang sefaham tidak akan mengadopsi KHGT. Indonesia dan negara-negara MABIMS pun tidak ada rencana untuk mengadopsi KHGT. Apa lagi keyakinan fikih pengamal rukyat lokal di berbagai negara tidak bisa diubah beralih ke faham hisab setelah berabad-abad berlalu.

Lalu, apa makna keseragaman kalender hijriyah yang kita dambakan dan realistik untuk diwujudkan? Keseragaman kalender hijriyah secara global seperti kalender berbasis matahari mustahil atau sulit terwujud mengingat secara alami ketampakan hilal tidak bisa disamakan dengan ketampakan matahari. Ketampakan matahari yang relatif tetap sepanjang tahun mudah didefinisikan dengan garis batas tanggal di samudera Pasifik. Garis batas tanggal kalender hijriyah bergantung kriteria yang digunakan dan setiap bulan bergeser. Kalender hijriyah global tunggal tidak bisa diwujudkan, kecuali ada otoritas global yang diakui berdasarkan konsep fikih “wilayatul hukmi”. Tetapi itu pun sulit diwujudkan sebagai kalender tunggal, karena satu wilayah (misalnya benua Amerika) siang hari dan wilayah lainnya (wilayah non-Amerika) malam hari. Konsep wilayatul hukmi dalam kalender hijriyah global yang mungkin diadopsi adalah konsep kalender bizonal (dua zona), yaitu kalender zona Amerika dan zona non-Amerika.

Makna keseragaman kalender hijriyah yang paling hakiki adalah keseragaman di sutau wilayah dalam pelaksanaan ibadah, khusunya ibadah Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tidak perlu dipaksakan untuk seragam secara global. Masyarakat dalam suatu wilayah nyaman beribadah, tanpa bayang-bayang perbedaan dengan tetangga yang berbeda ormas. Perbedaan antar-negara adalah sesuatu yang wajar terjadi karena perbedaan ketampakan hilal dan perbedaan kebijakan pemerintahnya.

Beda Garis Tinggi Bulan: Toposentrik Diyanet dan Geosentrik MTT PPM

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kemenag

Kritik saya tentang perbedaan garis ketinggian bulan awal Ramadhan 1447 antara Diyanet (Kemenagnya Turki) dan KHGT dianggap tendesius dan mencari-cari kesalahan MTT PPM. Sebenarnya bukan mencari-cari kesalahan, tetapi menunjukkan kesalahan fatal secara astronomis pada garis tanggal yang dibuat MTT PPM. MTT PPM tidak faham bahwa kriteria “tinggi 5 derajat di atas ufuk” itu bermakna “toposentrk”. Sehingga tidak ada alasan menyebut kriteria Turki tidak menyebut “toposentrik’ atau “geosentrik”. Beda kasus dengan kriteria MABIMS yang hanya menyebut “elongasi 6,4 derajat” karena bisa dimaknai “toposentrik” (merujuk pada permukaan bumi) atau “geosentrik” (merujuk pada pusat bumi). Nomenklatur “tinggi di atas ufuk” hanya ada pada konsep toposentrik.

“Pakar Falak” (saya beri tanda petik) dari MTT PPM yang tidak faham tinggi toposentrik tersebut juga menganggap bahwa sampel yang ditunjukkan hanya untuk Ramadhan. Saya sudah menganalisis garis tanggal produk Diyanet (sampai 1457 H) dan produk MTT PPM. Sayangnya peta KHGT oleh MTT PPM hanya tersedia untuk 1447, belum ada untuk bulan-bulan lain untuk diperbandingkan. Berikut ini hanya ditampilkan empat garis tanggal yang bisa diperbandingkan. Tidak semua peta KHGT menampilkan gambar yang setara dengan hasil Diyanet.

Masih tidak percaya bahwa MTT PPM salah (bukan lagi tidak akurat) dalam menerapkan kriteria Turki? Dampak paling nyata dalam pengambilan keputusan awal Ramadhan 1447. MTT PPM menetapkan awal Ramadhan 18 Februari 2026, sedangkan Diyanet menetapkan 19 Februari 2026.

KHGT Tidak Akurat Merujuk Turki: Beda Ramadhan 1447 karena Tinggi Toposentrik-Geosentrik, Bukan Masalah Alaska

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Di blog ini sudah diulas tentang perbedaan KHGT dengan Diyanet (Kemenag-nya Turki):

Saya mengulasnya sesuai kepakaran astronomi saya. Karenanya sekaligus mengkaji Penjelasan MTT PP Muhammadiyah tentang 1 Ramadan 1447 Hijriah yang diklaim sebagai penjelasan ilmiah. Jadi layak untuk diuji menurut bidang ilmu terkait, yaitu astronomi. Saya gunakan dua sumber garis tanggal otoritatif dari Diyanet Turki dan dari MTT PPM.

Ini garis tanggal Ramadhan 1447 dari Diyanet.

Garis tanggal itu membelah Kepulauan Aleut (Aleutian) dari Semenanjung Alaska. Gambar di bawah ini memperjelas posisi Semenanjung Alaska dan Kepulauan Aleut.

Karena itu, ketika MTT PPM menanyakan alasan Diyanet tentang alasan mereka menetapkan awal Ramadhan 1447 pada 19 Februari 2026, mereka beralasan karena Kepulauan Aleut bukan bagian dari benua Amerika. Itu terpisah dari Semenanjung Alaska. Ini cuplikan di Maklumat PPM tentang alasan Diyanet:

Ini garis tanggal awal Ramadhan 1447 dari MTT PPM (KHGT).

Garis tanggal KHGT mencakup Semenanjung Alaska yang merupakan bagian daratan Amerika. Sehingga KHGT menetapkan awal Ramadhan 1447 pada 18 Februari 2026. Ini cuplikan di Maklumat PPM tentang alasan MMT PPM:

Alasan Diyanet benar, karena merujuk garis tanggal yang dibuatnya. Alasan MTT PPM juga sesuai dengan kenyataan garis tanggal yang dibuatnya. Namun, sebenarnya lokasinya berbeda. Diyanet beragumentasi karena Kepulauan Aleut bukan bagian daratan Amerika. Sedangkan MTT PPM berbicara tentang Semenanjung Alaska yang memang bagian dari daratan Amerika.

Mengapa rujukan lokasinya berbeda? Alasan utama karena MTT PPM tidak cermat merujuk kriteria Turki. Diyanet merujuk kriteria Turki dengan menggunakan tinggi 5 derajat di atas ufuk. Maknanya itu tinggi toposentrik. Sedangkan MTT PPM menggunakan tinggi 5 derajat geosentrik yang bermakna jarak sudut bulan ke pusat bumi, bukan merujuk ufuk. Tinggi 5 derajat toposentrik hanya mencakup Kepulauan Aleut. Sedangkan tinggi 5 derajat geosentrik mencakup Semenanjung Alaska.

Ini perbedaan garis 5 derajat toposentrik dan geosentrik dari aplikasi Hisab Astronomis.

Garis biru ketinggian toposentrik. Garis merah tinggi dan elongasi geosentrik

Garis tanggal Diyanet jelas menggunakan kriteria tinggi toposentrik, sehingga hanya mencakup Kepulauan Aleut (pada garis tanggal yang dibuat Diyanet). Sedangkan dengan tinggi geosentrik Semenanjung Alaska dan sebagian daratan Alaska sebelah barat juga termasuk. Ini yang saya sebut KHGT tidak akurat merujuk kriteria Turki. Mestinya KHGT juga merujuk tinggi toposentrik seperti yang dirumuskan saat konferensi 2016.

Hal yang mendasar secara astronomi, ketinggian dari ufuk selalu bermakna tinggi toposentrik, bukan geosentrik. Pada konsep geosentrik (bumi sebagai titik) tidak dikenal sebutan “ufuk”.

Mengapa KHGT (Akan) Berbeda dengan Turki dalam Penetapan Awal Ramadhan 1447?

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofsika BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag RI

Menurut garis tanggal awal Ramadhan 1447 yang dibuat Diyanet (Kemenag-nya Turki) pada saat maghrib 17 Februari 2026 kriteria Turki belum terpenuhi di daratan benua Amerika (gambar atas), maka awal Ramadhan 1447 = 19 Februari 2026.

Menurut garis tanggal awal Ramadhan 1447 yang dibuat MTT PPM pada saat maghrib 17 Februari 2026 kriteria KHGT telah terpenuhi di daratan benua Amerika (di Alaska, gambar bawah), maka awal Ramadhan 1447 = 18 Februari 2026.

Kok bisa beda, padahal sama-sama mengusung kalender global? Jawabnya, karena KHGT tidak merujuk dengan cermat kriteria Turki. KHGT menggunakan ketinggian geosentrik (G), sedangkan Turki menggunakan ketinggian toposentrik. Penjelasan rincinya ada di blog saya ini.

Ulasan Astronomi #2025-008: Mengapa 1 Rajab 1447 bagi Pengamal Rukyat jatuh pada 22 Desember 2025?

Mengapa 1 Rajab 1447 bagi pengamal rukyat jatuh 22 Desember 2025? Yuk simak penjelasannya.

Ulasan Astronomi #2025-007: Kapankah Awal Ramadhan 1447?

Kapankah awal Ramadhan 1447? Adakah potensi perbedaan? Yuk simak di YouTube saya.

Tahun Saat Rasul Hijrah ke Madinah Adalah Tahun 0 Hijriyah

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Banyak yang mengira, termasuk di kalangan pakar ilmu falak, bahwa tahun Hijriyah bermula dari tahun 1 H (Hijiriyah). Bisa jadi pendapat itu karena merujuk tahun Masehi yang hanya mengenal tahun 1 M (Masehi), sedangkan sebelum 1 M disebut Sebelum Masehi (SM). Dengan pendapat seperti itu, maka peristiwa hijrah Rasul disebut terjadi pada 12 Rabiul Awal 1 H. Benarkah?

Pendapat yang benar adalah peristiwa hijrah terjadi bukan pada tahun 1 H, tetapi tahun 0 H. Kok bisa, tahun Hijriyah punya tahun 0 H? Itu yang terekam dalam sejarah Islam. Kisah sejarah Rasul biasanya selalu disebut “sekian tahun setelah suatu peristiwa”. Sebelum ada tahun Hijriyah, kronologi waktu didasarkan pada suatu peristiwa besar. Misalnya tahun Gajah (saat raja Abrahah berangkat menyerang Ka’bah, namun digagalkan oleh kawanan burung ababil), Tahun Kenabian (saat Muhammad SAW menerima wahyu pertama), dan Tahun Duka Cita atau Tahun Kesedihan (saat istri Rasul –Khadijah– dan paman Rasul –Abu Thalib– wafat). Peristiwa paling besar dalam sejarah Islam yang kemudian dijadikan rujukan kalender Islam adalah peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah. Maka kejadian setelah itu biasanya dinyatakan “1 tahun setelah Hijrah”, “2 tahun setelah Hijrah”, dan seterusnya. Puasa diwajibkan 2 tahun setelah hijrah (ditulis 2 H). Haji Wada (Haji Perpisahan, haji terakhir yang dihadiri Rasul) terjadi pada 10 tahun setelah Hijrah atau ditulis 10 H. Dalam naskah bahasa Inggris biasa ditulis “10 AH (After Hijrah)”.

Untuk pembuktiannya digunakan hisab mundur menghitung masa lalu dengan menggunakaa Program Konversi Kalender Masehi-Hijriyah. Program yang saya buat tahun 1990-an berbasis DOS dengan bahasa BASIC alhamdulillah masih bisa dipakai dengan memanfaatkan aplikasi VDOS. Uji konsistensi historis-astronomis sudah saya tuliskan di blog saya, Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriyah.

Informasi hadits dan pendapat sahabat Rasul bisa jadi kunci uji untuk pembanding. Dalam sebuah hadits sahih tentang puasa hari Senin, Rasulullah SAW menyatakan bahwa hari itu (Senin) beliau dilahirkan, diutus menjadi Rasul, dan diturunkan Alquran pertama kalinya (HR Muslim). Jabir dan Ibnu Abbas berpendapat Rasulullah SAW dilahirkan malam Senin 12 Rabi’ulawal, pada hari dan tanggal itu beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, di mi’rajkan ke langit, hijrah ke Madinah, dan wafat.

Di buku sejarah Rasul disebutkan bahwa Rasul berangkat hijrah dari Mekkah pada 2 Rabiul Awal dan tiba di Madinah pada 12 Rabiul Awal. Menurut Jabir dan Ibnu Abbas hari tiba di Madinah adalah Senin. Info tersebut bisa jadi kunci uji untuk membuktikan apakah tahun hijrah rasul itu tahun 1 Hijriyah atau tahun 0 Hijriyah.

Kalau diasumsikan saat tahun hijrah adalah tahun 1 H, hasil konversi tanggal menghasilkan 12 Rabiul Awal 1 H = Jumat, 24 September 622 M. Jumat terlalu jauh dari hari Senin yang disebutkan oleh Jabir dan Ibnu Abbas.

Bila tahun hijrah diasumsikan sebagai tahun 0, maka hasil konversi kalender menyatakan 12 Rabiul Awal 0 H = Senin, 5 Oktober 621 M. Ini sesuai dengan dengan pendapat Jabir dan Ibnu Abbas bahwa Rasul hijrah ke Madinah pada Senin, 12 Rabiul Awal.

Ada yang beragumentasi bahwa sebelum turunnya larangan naasi’ (mengundurkan bulan haram yang disebut di QS 9:37) bisa jadi ada pergeseran bulan kalender. Namun pendapat itu hanya dugaan yang tidak bisa dibuktikan. Tidak ada rujukan sejarah yang bisa dijadikan kunci uji untuk membuktikan terjadinya naasi’ pada zaman pasca kenabian Muhammad SAW. Ada yang mencoba membandingkan dengan sistem interkalasi kalender luni-solar Yahudi untuk menelisik kejadian naasi’. Namun pendapat itu terbantahkan, karena pergeseran bulan haram hanya semau-maunya penguasa Quraisy masa itu terkait strategi perang, bukan merujuk sistem luni-solar Yahudi.

Update

DI WAG diskusi berlanjut. Pak Hendro mencuplik bagian kitab Fathul Bari untuk mendukung pendapat bahwa saat Rasul Hijrah adalah tahun 1 H. Justru bagian kitab itu menunjukkan bukti tahun 1 H dimulai sejak Muharram berikutnya atau Muharram setelah hijrah, bukan Muharram sebelum hijrah. Jadi Rabiul Awal saat hijrah secara matematis ditulis tahun 0 H, dan tahun 1 H dimulai sejak Muharram sesudah peristiwa hijrah.

Ini cuplikan dari Kitab Fathul Bari dengan terjemahan dari Image Google Translate.

Al-Hakim meriwayatkan dari Sa’id ibn al-Musayyab, yang berkata: “Umar mengumpulkan orang-orang dan bertanya kepada mereka tentang hari pertama kalender harus ditulis. Ali berkata: ‘Dari hari Rasulullah hijrah kepada Allah dan meninggalkan negeri kemusyrikan.’ Maka Umar pun melakukannya.” Ibn Abi Khaythama meriwayatkan dari Ibn Sirin, yang berkata: “Seorang pria datang dari Yaman dan berkata: ‘Saya melihat sesuatu di Yaman yang mereka sebut kalender; mereka menuliskannya dari tahun sekian dan bulan sekian.’ Umar berkata: ‘Ini bagus, jadi mari kita buat kalender.’ Ketika mereka berkumpul untuk membahas masalah ini, sebagian berkata: ‘Mari kita mulai dari kelahiran Nabi,’ sebagian lain berkata: ‘Dari saat beliau hijrah,’ sebagian lain berkata: ‘Dari saat beliau wafat.’ Maka Umar berkata: ‘Mari kita mulai dari keberangkatan beliau dari Mekah ke Madinah.’ Kemudian beliau berkata: ‘Bulan apa yang harus kita mulai?'” Sebagian berkata: ‘Rajab,’ sebagian lain berkata: ‘Ramadan.’ Utsman berkata: ‘Mari kita mulai dari Muharram, karena itu adalah bulan…’

Cuplikan itu menyatakan epoch hijrah jadi jadi pilihan. Bukan dari tahun kelahiran atau tahun wafat. Lalu bulan apa sebagai awal tahun hijriyah? Ada yang mengusulkan Rajab, Ramadhan, dan Muharram. Akhirnya Umar ibnu Khattab memilih Muharram seperti usulan Utsman. Lalu Muharram kapan sebagai tahun 1 H? Cuplikan berikut lebih memperjelas.

Pernyataan beliau, “(kedatangannya),” merujuk pada waktu kedatangannya, bukan bulannya, karena kalender dimulai dengan hari pertama tahun. Beberapa ulama telah mengemukakan alasan untuk memulai dengan Hijrah (migrasi), dengan mengatakan: Ada empat peristiwa yang dapat digunakan untuk menentukan tanggal peristiwa: kelahirannya, misinya, hijrahnya, dan kematiannya. Mereka lebih memilih untuk memulai dengan Hijrah karena tahun kelahiran dan misinya tidak bebas dari perdebatan. Adapun waktu kematiannya, mereka menghindarinya karena kesedihan yang akan ditimbulkannya. Oleh karena itu, mereka membatasinya pada Hijrah. Mereka menundanya dari Rabi’ al-Awwal ke Muharram karena niat awal untuk berhijrah adalah pada bulan Muharram. Ikrar baiat terjadi pada bulan Dzul Hijjah, yang merupakan pendahuluan hijrah. Dengan demikian, bulan baru pertama setelah ikrar baiat dan niat untuk berhijrah adalah bulan baru Muharram, sehingga tepat untuk memulainya. Ini adalah alasan terkuat yang saya temukan untuk memulai dengan Muharram.

Pada cuplikan di atas, ada dua hal yang jadi fokus diskusi:

  • Alasan pemilihan “Muharram” karena ada baiat pd Dzulhijjah dan niat hijrah sejak Muharram. Tdk ada alasan utk memilih Rajab atau Ramadhan.
  • Menunda dari Rabiul Awal ke Muharram dalam konteks tahun hijriyah dimulai sejak Muharram berikutnya. Dalam makna matematis, tahun 1 H sejak Muharram sesudah peristiwa hijrah, bukan Muharram sebelum hijrah. Jadi Rabiul Awal saat hijrah bukanlah tahun 1 H, melainkan (secara matematis) tahun 0 H.

Kalender Hijriyah Indonesia Tahun 2026

Kalender Hijriyah Indonesia 2026 dihitung oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama menggunakan kriteria MABIMS yang disepakati Indonesia (tinggi bulan minimal 3 derajat, elongasi geosentrik minimal 6,4 derajat)

Dentuman Meteor Cirebon

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

BMKG Astanajapura Cirebon (ACJM) merekam adanya getaran pada pukul 11:39:12 UT (18:39:12 WIB).

Ahad malam, 5 Oktober 2025 saya disibukkan dengan pertanyaan teman-teman media terkait kejadian di Cirebon. Info yg saya terima dari teman-teman media sebagai berikut:

  • Ada suara dentuman yang terdengar di sekitar Kuningan dan Kab Cirebon sekitar pukul 18.30 WIB.
  • Ada yang mengirimkan video objek terang di langit yang meluncur seperti meteor atau sampah antariksa. Tetapi tanpa konfirmasi lokasi pengamatan dan arahnya. Saya meragukan, karena sering terjadi tanpa penjelasan lokasi, gambar seperti meteor diambil dari kejadian di tempat lain. Perlu diperiksa keaslian videonya.
  • Ada yang mengirimkan video dengan nyala api yang berkobar di kejauhan, tetapi tanpa penjelasan kaitannya dengan dentuman.
  • Ada yang mengirimkan gambar seperti bola api yang bergerak tegak lurus ke bawah, seperti flare atau suar. Itu bukan benda langit.
  • Ada data dari BMKG Cirebon (ACJM) yg mengindikasikan adanya getaran pk 18:39:12 WIB dg azimut 221 (gambar di atas)
  • Ada yang membagikan CCTV objek seperti meteor dengan catatan waktu 18:35 (WIB) dan video lain yang menyebutkan di rekam di wilayah dekat perbatasan Cirebon-Brebes.

Analisis berdasarkan kesaksian warga yang dibagikan teman-teman media, ada beberapa fakta yang saya percayai.

  • Adanya dentuman yang terdengar di wilayah Kuningan dan Kabupaten Cirebon.
  • Terdeteksi adanya getaran oleh BMKG Cirebon di Astanajapura (ACJM) pada pukul 11:39:12 UT (18:39:12 WIB) pada azimut 221 (arah barat daya).
  • Ada video menunjukkan bola api yg meluncur dan ada rekaman CCTV pada pukul 18:35 WIB.
  • Ada tambahan informasi di fb saya, bahwa di Tasikmalaya juga ada saksi yang melihat objek seperti meteor. Ada juga yang melaporkan dentuman terdengar juga sampai tegal. Di Pekalongan dilaporkan ada yang melihat objek seperti meteor.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, saya menyimpulkan fenomena dentuman di Cirebon dan sekitarnya adalah meteor cukup besar yg melintas dari arah barat daya di selatan Jawa terus ke wilayah Kuningan dan Kabupaten Cirebon sekitar pukul 18.35 – 18.39 WIB. Ketika memasuki atmosfer yang lebih rendah dan lebih padat di atas Kuningan – Kabupaten Cirebon terjadi gelombang kejut yang terdengar warga sebagai suara dentuman dan terdeteksi oleh BMKG Cirebon pukul 18.39.12 WIB. Diduga meteor jatuh di laut Jawa.

Kalau kita bandingkan dengan kejadian meteor Bone 2009, yang menimbulkan dentuman keras yang terdengar sampai jarak 10 km dan kaca jendela rumah warga bergetar, meteor Cirebon ukurannya lebih kecil namun cukup menimbulkan gelombang kejut. Meteor Bone ditaksir oleh peneliti NASA ukurannya sekitar 10 meter. Saya memperkirakan ukuran meteor Cirebon sekitar 3 – 5 meter.

All Sky Camera Observatorium Yanbu’ul Qur’an Menawan, Kudus, meyakinkan adanya meteor melintas sekitar Cirebon pada pukul 18:35:56 WIB. Citra meteor terekam di langit barat (sisi kanan gambar), sementara bulan ada di langit timur (sisi kiri gambar).
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai