Private Sub APLIKASIPERHITUNGANGAJI_Click()
UAPLIKASIPERHITUNGANGAJI.Show
End Sub

Private Sub HURUFMUTU_Click()
UHURUFMUTU.Show
End Sub

Private Sub KRETAAPI_Click()
KERETAAPI.Show
End Sub

Ilmuwan Gunakan Cahaya untuk Mengontrol Otak

Minggu, 17 Juni 2012 18:05 wib

detail berita

(Foto: Telegraph)

WASHINGTON – Ilmuwan melakukan penelitian mengenai penggunaan cahaya agar dapat mengontrol otak. Dengan hanya menggunakan jentikan saklar, implan yang memberikan cahaya ke dalam otak manusia bisa menjadi alternatif pengobatan baru untuk penyakit seperti epilepsi dan alzheimer (sejenis sindrom terkait sel otak).

Dilansir Telegraph, Minggu (17/6/2012), ini merupakan area bagi para ilmuwan yang memiliki kekuatan untuk mengontrol pikiran manusia dengan alat khusus yang dapat dijentikkan seperti saklar. Ilmuwan mengembangkan sebuah cara dengan menggunakan tekanan cahaya untuk mengubah sel otak.

Dengan sistem yang dikembangkan tersebut, ilmuwan mengklaim mampu menyediakan cara untuk mengendalikan otak yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Para peneliti telah melakukan uji coba pada kera dengan menggunakan cahaya untuk menjadikan mereka terkantuk dan kemudian tertidur.

Ilmuwan kini berupaya mengembangkan tekniknya lebih lanjut untuk digunakan pada manusia. Teknologi ini menjanjikan untuk memberi pengobatan baru yang bersifat revolusioner untuk penyakit yang sangat sulit untuk dikontrol seperti epilepsi, alzheimer serta penyakit kejiwaan.

Bahkan, bisa membantu orang membuat kenangan baru. Akan tetapi, seperti kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kemungkinan teknik ini dibagi ke dalam ranah publik, ilmuwan serta komunitas medis, karena dianggap pula sebagai teknologi yang menuai kontroversi.

Pertama, sel-sel otak itu harus diubah secara genetik. Sehingga mereka bereaksi terhadap cahaya. Modifikasi genetik yang diimplementasi terhadap manusia masih menjadi bidang science yang dikembangkan dan belum diketahui efek jangka panjangnya.

Implan juga harus ditempatkan langsung ke otak, membutuhkan operasi agar dapat memberikan cahaya ke sel-sel otak menggunakan serat optik kecil. “Sebagai terapi, ini bisa membantu mengatasi penyakit yang sulit atau tidak mungkin ditangai dengan cara lain,” ujar Biological Engineer, Edward Boyden di Massachusetts Institute of Technology.

Edward mengatakan, timnya telah melakukan tes pertama optogenetics pada non-manusia (kera) dan menunjukkan hasil yang aman. “Kami masih membutuhkan beberapa hal untuk melakukan teknik ini pada manusia, ini merupakan potensi yang mengesankan,” tandasnya.

Edward dan timnya telah membangun purwarupa implan yang bisa bersinar ke cahaya ke area tertentu dari otak dan sel tunggal. Bahkan, mereka mengupayakan untuk mengembangkan terapi baru untuk penyakit saraf. (fmh)

Opera 12 Tampil dengan Opsi Kustomisasi Baru

Minggu, 17 Juni 2012 14:19 wib

detail berita

Opera 12 (Foto: Techspot)

OSLO – Bagi Anda yang senang melakukan browsing di Internet melalui desktop, kini telah hadir Opera 12 yang tampil dengan opsi kustomisasi baru. Rilis anyar tersebut dikembangkan oleh Opera Software yang menghadirkan transformasi baru aplikasi peramban yang dibutuhkan oleh pengguna.

Dilansir Geekzone, Minggu (17/6/2012), software unduh gratis tersebut hadir dengan tema, yakni jalan mudah untuk kustomisasi tampilan browser penggunanya. Perusahaan yang berkantor pusat di Oslo, Norwegia itu, menyuguhkan hingga ratusan tema yang tersedia serta tambahan tema baru setiap harinya.

Software peramban versi terbaru itu memungkinkan pengembangnya untuk menciptakan aplikasi yang menggunakan perangkat webcam milik penggunanya. Aplikasi seperti Photo Booth, Polaroid, FaceKat mencoba untuk membuat penggunaan browser itu semakin menyenangkan sebagai platform hiburan dan games.

Selain itu, Opera 12 hadir dengan security badges baru yang memudahkan penggunanya perihal kemanan dan privasi situs yang akan dikunjungi. Pengguna dapat dengan cepat melihat, apakah situs menggunakan informasi lokasi atau ingin mengaktifkan webcam milik penggunanya.

Hadirnya Opera 12 tidak hanya menampilkan fitur menarik, tetapi juga peningkatan kecepatan. Perusahaan mengatakan bahwa pengguna dapat berselancar di dunia maya dengan loading halaman yang cepat, mempercepat proses start up serta mendukung HTML5 ketimbang versi sebelumnya.

Dukungan 64-bit pada sistem operasi Windows dan Mac, memberikan kinerja yang lebih baik pada mesin. Software peramban populer yang juga menampilkan grafis hardware akselerasi ini tampil dengan 60 bahasa dan tambahan dukungan teks baca dari kanan ke kiri serta lima bahasa baru seperti bahasa Arab, Persia, Ibrani, Urdu dan Kazahk. (fmh)

Kontrol Xbox 360 Anda via iPhone

Senin, 18 Juni 2012 09:50 wib

detail berita

Pengunjung tengah mencoba konsol Xbox 360 di ajang E3 2012 (Foto: Getty Images)

CALIFORNIA – Microsoft telah melakukan pembaharuan (update) bagi aplikasi My Xbox Live versi 1.5 yang dapat mengontrol konsol Xbox 360 dengan perangkat smartphone, iPhone. Update ini tersedia untuk seluruh platform iOS, namun untuk alasan yang tidak jelas, fitur ini hanya dapat berjalan di iPhone.

Pertama, untuk menghubungkan Xbox 360 dengan iPhone, kedua perangkat tersebut dipastikan harus tersambung melalui jaringan WiFi. Anda bisa melihatnya di WiFi status dengan mengeceknya di setting pada iPhone dan network settings di Xbox. Seperti dicitat dari Cnet, Senin (18/6/212).

Pengguna harus memastikan kedua perangkat menggunakan satu jaringan WiFi. Jika telah terkoneksi Anda bisa mengkontrol Xbox 360 dengan iPhone.

Melalui aplikasi tersebut, Anda dapat melakukan berbagai interaksi dengan konsol game tersebut menggunakan iPhone. Untuk mulai menyambungkan perangkat, Anda dapat mengunduh (download) aplikasi My Xbox Live di Apps Store, setelah itu masuk (log in) dengan akun Xbox Live Anda.

Cerita Orang Sukabumi Sukses “Unjuk Gigi” di Microsoft

Sabtu, 16 Juni 2012 16:04 wib

detail berita

Henry Setiawan bangga bisa berkarya di Microsoft (Foto:Gesit/Okezone)

BAGI sebagian orang, berprestasi dan berkarir di luar negeri itu glamor, mengejar penghasilan juga prestise. Karena itulah, tidak sedikit para ekspatriat Indonesia yang memilih bekerja di negeri orang.

Fenomena ini juga yang membuat pemerintah khawatir dengan jumlah orang pintar Indonesia yang semakin banyak, tetapi selalu direkrut negara-negara lain. Jumlahnya bertebaran.

Sebut saja Henry Setiawan, satu dari ratusan orang pintar Indonesia yang kini menjadi bagian dalam pengembangan produk Microsoft, di salah satu produk besutan perusahaan raksasa perangkat lunak, Bing.

Henry Setiawan yang asli kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 33 tahun lalu itu, sebelum bergabung di Bing, ia kerap menjadi bagian di Messenger Server.

Bagi Henry, biar bagaimana pun, dan selama apa pun, bekerja di luar negeri, ia tetap bangga menjadi orang Indonesia, meskipun, tempat ia bekerja 70 persen dikuasai orang China dan India.

“Ketika di luar negeri, saya bangga sebagai orang Indonesia yang punya andil besar di Microsoft,” ujar Henry saat menjawab pertanyaan Okezone, beberapa waktu lalu.

Alasan itulah yang membuat pria bergelar PhD untuk Computer Science di University of Technology Sydney, Australia ini, selalu ingin kembali ke Tanah Air dan berkomunikasi dengan banyak orang Indonesia, dan satu hal yang terpenting adalah berkontribusi bagi anak-anak di Indonesia, khususnya di bidang teknologi.

“Saya sangat ingin sekali terus berada di Indonesia, dan bisa memberikan masukan ke anak-anak Indonesia,” tuturnya.

Posisi di Microsoft

Pria yang mengagumi Bill Gates (pendiri Mocrosoft) lantaran  menganggap sebagai sosok yang visioner ini, berharap suatu saat banyak anak Indonesia yang bergabung dengan perusahaan berlokasi di Redmond, Amerika Serikat.

Ia sekarang ini menduduki posisi Senior Software Design Engineer, menjadi bagian dari pengembangan Bing. Pria dua anak ini juga sesekali menjadi mentor ke junior untuk sharing pengetahuan.

Menyoroti kemampuan anak-anak Indonesia, ia melihat tidak kalah hebatnya, terlebih di bidang teknis. Namun yang menjadi sorotan Henry, banyak anak muda yang bekerja tanpa passion, improve dan mau mengembangkan kemampuan.

Putra dari pasangan Jan Setiawan dengan Ine Setiawan ini juga mengungkapkan, bekerja di luar negeri itu, memang dituntut untuk bisa mencari masalah dan membuat peluang. “Dan menjadi bagian dari pengembangan produk Microsoft merupakan pengalaman yang luar biasa,” urai  pria yang pernah juga mengenyam pendidikan di Singapura  mengambil Computer Enginering ini.

Bagaimana Masuk Microsoft

Lalu, bagaiman pria pendengar lagu David Foster ini sukses berkarir di Microsoft. Menurutnya, momentum datang ketika ia melanjutkan sekolah di Australia, pada 2006.

Ketika itu Microsoft membuka lowongan pekerjaan dan Henry pun mencoba, setelah mengikuti serangkaian tahapan serta proses wawancara selama enam jam, hingga akhirnya diterima, dan ia pun diboyong ke Redmond, Amerika Serikat (AS).

“Ada beberapa tahapan dan wawancara yang memakan waktu enam jam. Puji syukur saya diterima,” ungkap Henry yang mengaku pernah menjadi loper koran di Australia.
(amr)

Intel Garap TV yang Bisa ‘Menonton” Penggunanya

Sabtu, 16 Juni 2012 15:21 wib

detail berita

ilustrasi (foto: Telepreseceoption.com)

CALIFORNIA – Intel dikabarkan sedang mengembangkan sebuah set-top box (STB) baru yang mengadopsi teknologi facial recognition. Penerapan teknologi tersebut pada STB kemudian dimanfaatkan untuk menyiarkan iklan sesuai sasaran (targeted advertising).

Diwartakan TechRadar, Senin (11/6/2012), STB ini tidak melakukan identifikasi yang spesifik. Namun akan mengumpulkan informasi mengenai usia dan jenis kelamin orang yang menonton TV.

Informasi ini sangat berharga bagi para pengiklan yang perlu meyakini produk mereka ditampilkan di hadapan pemirsa yang tepat. Teknologinya tidak hanya menarik bagi pengiklan saja, tapi juga para provider siaran TV.

Kamera ruang tamu dari Intel akan bisa menjabarkan lebih akurat mengenai persoalan kebiasaan menonton di publik. Selain kemampuan menyaksikan orang yang menontonnya, “kotak Intel” ini juga menyediakan fasilitas streaming konten.

Sumber dari situs Reuters meyakini, Intel berencana meluncurkan layanan tersebut di akhir tahun ini, meskipun penjualannya mungkin akan sulit. “Mereka mengatakan teknologi ini akan menjadi lebih interaktif dengan iklan yang bisa menjadi uang. Tapi ini sedikitnya belum terbukti,” ujarnya. (yhw)