SUKU-suku yang tingal di Jayawijaya (Irian Jaya) tidak hanya dikenal tradisi perangnya di masa silam. Sejak dilahirkan, sebagian besar penduduk Jayawijaya yang hidup di pegunungan juga berperang melawan kedahsyatan alam untuk mempertahankan hidup sehari-hari. Pada kemurahan dan juga keganasan alam yang digeluti inilah mereka menggantungkan hidup, tanpa banyak bersentuhan dengan teknologi masa kini. Adaptasi dan inovasi mereka selama perjalanan ratusan tahun menggeluti kebutuhan pangan telah memunculkan ribuan jenis varietas umbi-umbian. Umbi-umbian yang mereka sebut hipere dibudidayakan dengan peralatan seadanya dan layaklah kalau mereka disebut pakar umbi-umbian.
Namun, belum lekang dari ingatan kejadian di tahun 1997, keganasan alam menimpa penduduk Jayawijaya. Wilayah yang luasnya 62.433 kilometer persegi dan terbagi ke dalam 28 kecamatan yang sebagian besar penduduknya hidup di lereng-lereng bukit yang sulit dijangkau ini, dilanda kekeringan panjang yang belum pernah dialami sebelumnya.




