Jadi juga

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga rencana pindahan setelah terkatung selama beberapa hari. Sok aja atuh dateng ke sini. Punten pisan jika lebih buruk dari yang ini (padahal yang ini nggak ada bagus-bagusnya). Seperti harapan semua orang lewat blognya, sayapun berharap bisa berbagi dan memberi manfaat buat yang lain.

Buat temen-temen yang udah kkomen-komen disini, ayuk pada main ke rumah baru. Tapi jangan tanya makan-makan yah 😉

Hampir pindah

Dalam beberapa waktu ke depan blog ini akan saya tinggalkan dan mungkin juga bisa jadi hilang sama sekali. Tapi bukan saya berhenti dari kegiatan ini, melainkan hanya ingin mengalihkannya ke alamat baru dan supaya lebih terfokus dengan isinya.

Rasanya ‘fokus’ merupakan kata yang saya butuhkan saat ini tidak hanya dalam mempersiapkan ‘rumah’ baru tetapi juga kontennya nanti. Insyallah segera setelah semuanya siap, address baru akan di-online-kan.

Tulisan ini adalah keprihatinan saya terhadap perkembangan masyarakat kita belakangan ini yang saya ikuti di media massa. Sebuah masyarakat yang dikenal keramahannya, kekeluargaannya, dan kegotongroyongannya — at least berdasarkan buku Pendidikan Moral Pancasila Sekolah Dasar dulu.

Agaknya tuntutan untuk mempertahankan hidup ditengah perubahan yang terjadi mulai mengikis pelan (mungkin di beberapa daerah sudah habis) nilai-nilai luhur nenek moyang ini. Betapa tidak, saat terjadi kenaikan harga kedelai lalu misalnya, pengrajin tempe ramai-ramai memboikot bahkan di beberapa tempat melakukan sweeping terhadap rekan-rekannya yang masih bekerja. Continue Reading »

Lagi-lagi tentang televisi, khususnya siarannya. Siapa yang tak kenal dengan acara Extravaganza yang ditayangkan oleh TransTV ? Saya yakin tua muda pasti tahu dan kebanyakan suka, karena bersamanya kita bisa ketawa-ketiwi terus selama 2 jam bahkan bisa sampai sakit perut.

Kemunculannya mendapat sambutan hangat dari pencinta televisi hingga mampu membuat pamor dari para pemainnya melambung tinggi. Setiap acara off air di daerah-daerah selalu ramai dengan penggemar, merekapun menjadi bintang iklan dan film. Pokoknya kesohor dah. Lanjut Yuk !

Seperti biasa, sehabis acara hunting bersama, selalu ada ritual tetap yang tidak boleh dilupakan yaitu Foto Keluarga, bukan foto bareng anggota keluarga tetapi foto bareng anggota hunting. Dan kali ini giliran saya yang mendapatkan ‘jatah’ untuk motret. Maka jadilah saya orang yang berada dibelakang kamera hue he he he.

Buat rekan-rekan yang ikutan acara Inifotoku.com Photo Club goes to City – 4 Mei 2008 ini foto dari kamera saya. Salam kenal buat kalian, mohon maaf karena saya belum kenal satu persatu walau ada beberapa yang sudah kenal dan sering ketemu.

Jangan salah, Tamansari yang disini adalah kebun binatang di jalan Tamansari Bandung. Ini oleh-oleh saat menghabiskan sore hari Sabtu yang cerah. Well, buat yang ingin hunting di kebun binatang, ada beberapa catatan saya yang bisa dipertimbangkan.

    Pilih waktu saat binatang-binatang sedang bermain, yaitu sekitar jam 8.00 – 10.00 atau jam 15.00 – 17.00. Lewat dari itu mereka lebih banyak tiduran. Tapi kalau mau motret kandangnya saja ya silakan.
    Pakai kamera dengan kemampuan zoom terbesar (optikal). Boleh juga pakai yang pendek, tapi siap-siap dicakar macan… lol….

Monggo dinikmati, siapa tau ada yang ngerasa kejepret.





The Icon

Foto ini saya ambil beberapa bulan yang lalu setelah lama mengamati lokasi ini dengan melihat gambar-gambar dan survey lokasi langsung. Bukannya tanpa kegagalan, berkali-kali saya tidak mendapatkan kondisi yang bagus. Misal PJU sedang mati, cuaca mendung, hujan, dan lain sebagainya.

Adalah Kang Black, seorang rekan yang juga sangat berminat dengan fotografi, memberitahu bahwa sudah beberapa hari lampu Icon kota Bandung ini menyala. Dan kebetulan pula cuaca sore itu cukup bersahabat. Maka berangkatlah kami dengan ditemani oleh 2 orang kawan lain ke lokasi dan langsung beraksi. Semoga hasil jepretan saya ini cukup dapat dinikmati bersama.

The Icon 1
| Model: Canon EOS 350D DIGITAL | Orientation: Normal | ExposureTime: 15/1 seconds | FNumber: F/22 | ISOSpeedRatings: 100 | DateTimeOriginal: 2008:01:18 18:49:00 | ExposureBiasValue: 0 Step | MeteringMode: Multi-segment | Flash: 16 | FocalLength: 18 mm | ColorSpace: Uncalibrated |

The Icon 2
| Model: Canon EOS 350D DIGITAL | Orientation: Normal | ExposureTime: 15/1 seconds | FNumber: F/22 | ISOSpeedRatings: 100 | DateTimeOriginal: 2008:01:18 18:41:09 | ExposureBiasValue: 0 Step | MeteringMode: Multi-segment | Flash: 16 | FocalLength: 18 mm | ColorSpace: Uncalibrated |

Pikir-pikir dulu

Setiap kali ada kawan bertanya tentang keinginan dia untuk membeli sebuah kamera SLR selalu saya jawab dengan kalimat yang sama. “Bagus..! Tapi pikir dulu baik-baik.” Dengan tidak bermaksud untuk mengurangi bara semangatnya, saya berterus terang menyampaikannya —kecuali jika yang bertanya tidak mempunyai batasan kekuatan finansial.

Itu istilah yang saya gunakan untuk me-label-i golongan yang jika kirim sms ke bapaknya “Pa Pulsaku habis,” maka tak berapa lama Sang Bapak membalasnya dengan “Operator X sudah jadi milikmu sekarang Nak.” Ha ha ha just kidding, lagian opo tumon ?

Kembali kemasalah niatan migrasi ke kamera DSLR, sedikit banyak saya merasakan bagaimana harus tenggelam kedalam sebuah kolam yang bernama fotografi. Awal penuh semangat, tapi setelah itu harus sadar diri terhadap kemampuan finansial yang tidak tak terbatas —jadi inget pelajaran UUD dulu yah.

Sampai saat ini saya punya dugaan hal tersebut adalah sebuah strategi produsen peralatan fotografi agar hasil jerih payahnya teteap ada yang beli. Pertama membuat paket standar — lebih dikenal dengan istilah kit — yang sudah bisa langsung digunakan dengan. Tapi untuk menjadi bagus apalagi superior, nanti dulu …. Merekapun akan merekomendasikan produk lain yang memang lebih berkualitas. Contohnya lensa.

Umumnya lensa kit, atau lensa yang satu paket dengan body hasilnya tidak akan dapat bersaing dengan lensa-lensa kelas diatasnya, walaupun jika dibandingkan dengan kamera jenis pocket ataupun prosumer hasilnya sudah jauh lebih baik.img_4428_185

Selain lensa, ‘kewajiban’ lain yang sering dipenuhi oleh mereka-mereka yang baru mempunyai kamera DSLR adalah filter (ada ratusan jenis), flash, baterray grip, tas, blower peniup debu, dan lain-lain yang harganya tidak mau kalah dengan harga komponen komputer yang tidak pernah berhenti merangkak mengikuti laju kurs mata uang. Parahnya, mata uang kita tidak begitu punya daya tawar yang besar terhadap nilai tukar dengan mata uang asing.

Sebenarnya ada siasat jitu yang sering dilakukan oleh rekan-rekan saya dalam kondisi seperti ini, dan saya pikir ini sedikit tricky. Silahkan pilih, jual barang lama beli barang baru yang diidamkan atau pinjam-meminjam antar teman. Untuk yang terkahir ini, akan lebih baik kalau kita sudah sering aktif di sebuah komunitas fotografi, jangan jadi monyet di dalam kandang he he he.

Well, setiap asa pastilah ada jalan keluarnya. Jadi meskipun saya akan menjawab pikir-pikir lagi, tapi saya sangat menyarakan Anda melakukannya —beli kamera DLSR, karena sangat banyak yang bisa di dapat dari situ. Tapi jangan lupa, sadari resikonya, banyak-banyak puasa.[]

Tersadarkan

Awalnya kukira kehadiran mereka menjadi hiburan buatku yang sehari-hari hanya bermain diruangan sempit ini. Melompat kesana kemari sambil sesekali berlari dan meneriaki tetangga sebelah yang kemudian turut membuat gaduh suasana. Beberapa anak kecil mengamati senang akan tingkah kami ini, sampai-sampai si gendut tidak merasa es krimnya meleleh tumpah ruah ditangannya.

Entah karena dianggap satu-satunya makhluk selain manusia yang jaraknya paling dekat —menurut Darwin— sering para orang-tua mengajak anaknya berlama-lama didepanku. Menunjuk-nunjuk kearah kami sambil kadang berusaha membagikan makanannya, kacang kulit, pisang, daun, bahkan temenku yang diujung sana kulihat sedang menghisap rokok pada suatu saat. “Entah manusia mana yang menyodorkan padanya”, geramku dalam hati.

Walau sudah lama dan terbiasa dengan kehadiran manusia, aku masih belum mengerti kemauan mereka. Sungguh suatu kesulitan terbesar memahami makhluk yang diciptakan paling kompleks dan mulia ini —kabarnya Allah memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud kepada mereka yang diciptakan lebih mulia dari keduanya. Pernah suatu sore sepasang muda mudi bergandengan menikmati siraman mentari dan berhenti di depanku.

Mengenakan celana jeans skinny biru tua, perempuan itu wajahnya berbunga-bunga ceria, berponi ala mutakhir yang membuat bentuk wajah lebih bulat laksana anak-anak. Tak kalah cerianya lelaki berkulit gelap berasesoriskan rantai di saku celananya yang selalu bergoyang kekiri-kanan saat mereka melangkah. Dengan menggunakan handphone ditangan kanannya mereka menggambil gambarku sambil tertawa cecikikan. Dongkol juga hati ini, walau sama sekali tak kumengerti kata-katanya.

Pemuda itu menunjukkan hasil fotonya ke siperempuan yang kemudian menunjuk bergantian kepadaku dan kepada sebelahnya. “Ha ha ha”, tawaku dalam hati, “potongan rambutnya sama denganku rupanya”. Akupun melompat untuk menghampiri temanku dan mengabarkan bahwa manusia diluar sana sudah mengidolakanku.

“Mimpi kamu !” teriaknya setengah tak ingin diganggu.

“Ndak percaya lihat saja sendiri potongan rambutnya … sama persis denganku dan kamu,” jawabku.

Seiring dengan makin tergelincirnya mentari ke barat, suara langkah kaki dan tawa anak-anak mulai menyepi meninggalkan gema yang makin menghilang. Tirai hitam dilangitpun mulai ditarik pelan bangau-bangaupun sudah menggelar tempat tidurnya di atas pohon angsana tua yang ada disisi barat komplek kebun binatang ini. Suara paraunya perlahan menghilang berganti dengkuran kelelahan. Sangat berbeda dengan cicitan mamalia bersayap yang mulai berkeliaran di kegelapan mengandalkan sensor suara.

Lepas maghrib, akupun berkumpul dengan teman sekamarku dalam diam dan berdekatan. Cara ini memang selalu kami pakai untuk mengatasi angin dingin yang kadang bertiup tiba-tiba. Walau pelan, dinginnya kota Bandung ini cukup menusuk tulang-tulang monyetku yang kecil. Bayang-bayang tawa orang-orang yang berhenti di depanku kembali melintas. Melemparkan apa saja yang ada ditangannya seolah kami ini pemakan segala. Tiba-tiba saja aku terhenyak, tersadar bangkit dari pemikiranku selama ini.

“Siapakah sebenarnya yang menjadi hiburan, mereka atau aku ?”

*Foto by Welly

Hati si pencuri

Pencuri, walaupun tidak ada yang menyebut saya begitu tapi tidak jarang sebutan itu sangatlah layak untuk disandang. Sebuah konsekuensi dari kebiasaan yang ‘rasanya’ masih susah untuk ditinggalkan.

Saat gerakan belumnya tuntas sempurna, saya sudah melanjutkan dengan rukun yang lain. Apalagi dengan bacaan, belumnya tuntas badan ini sudah bergerak, seolah tanpa membaca apapun. Padahal rukun-rukun tersebut merupakan syarat sahnya sebuah komunikasi ke Yang Maha Pengasih.

Tapi mengapa masih saja ini saya lakukan ?

Sederhana saja awalnya, hanya karena kebiasaan, tidak lebih. Kebiasaan untuk tidak memperhatikan dengan seksama terhadap setiap apa yang dilakukan. Ditambah lagi dengan tidak adanya rasa ikhlas untuk meletakkan ‘sejenak’ segala urusan dunia untuk menghadap kepadaNya, berkeluh kesah, menangis dan meraung sejadi-jadinya.

“Aku ingin menangis dan meraung tanpa henti! “

Next Page »



Design a site like this with WordPress.com
Get started