Setiap kali ada kawan bertanya tentang keinginan dia untuk membeli sebuah kamera SLR selalu saya jawab dengan kalimat yang sama. “Bagus..! Tapi pikir dulu baik-baik.” Dengan tidak bermaksud untuk mengurangi bara semangatnya, saya berterus terang menyampaikannya —kecuali jika yang bertanya tidak mempunyai batasan kekuatan finansial.
Itu istilah yang saya gunakan untuk me-label-i golongan yang jika kirim sms ke bapaknya “Pa Pulsaku habis,” maka tak berapa lama Sang Bapak membalasnya dengan “Operator X sudah jadi milikmu sekarang Nak.” Ha ha ha just kidding, lagian opo tumon ?
Kembali kemasalah niatan migrasi ke kamera DSLR, sedikit banyak saya merasakan bagaimana harus tenggelam kedalam sebuah kolam yang bernama fotografi. Awal penuh semangat, tapi setelah itu harus sadar diri terhadap kemampuan finansial yang tidak tak terbatas —jadi inget pelajaran UUD dulu yah.
Sampai saat ini saya punya dugaan hal tersebut adalah sebuah strategi produsen peralatan fotografi agar hasil jerih payahnya teteap ada yang beli. Pertama membuat paket standar — lebih dikenal dengan istilah kit — yang sudah bisa langsung digunakan dengan. Tapi untuk menjadi bagus apalagi superior, nanti dulu …. Merekapun akan merekomendasikan produk lain yang memang lebih berkualitas. Contohnya lensa.
Umumnya lensa kit, atau lensa yang satu paket dengan body hasilnya tidak akan dapat bersaing dengan lensa-lensa kelas diatasnya, walaupun jika dibandingkan dengan kamera jenis pocket ataupun prosumer hasilnya sudah jauh lebih baik.
Selain lensa, ‘kewajiban’ lain yang sering dipenuhi oleh mereka-mereka yang baru mempunyai kamera DSLR adalah filter (ada ratusan jenis), flash, baterray grip, tas, blower peniup debu, dan lain-lain yang harganya tidak mau kalah dengan harga komponen komputer yang tidak pernah berhenti merangkak mengikuti laju kurs mata uang. Parahnya, mata uang kita tidak begitu punya daya tawar yang besar terhadap nilai tukar dengan mata uang asing.
Sebenarnya ada siasat jitu yang sering dilakukan oleh rekan-rekan saya dalam kondisi seperti ini, dan saya pikir ini sedikit tricky. Silahkan pilih, jual barang lama beli barang baru yang diidamkan atau pinjam-meminjam antar teman. Untuk yang terkahir ini, akan lebih baik kalau kita sudah sering aktif di sebuah komunitas fotografi, jangan jadi monyet di dalam kandang he he he.
Well, setiap asa pastilah ada jalan keluarnya. Jadi meskipun saya akan menjawab pikir-pikir lagi, tapi saya sangat menyarakan Anda melakukannya —beli kamera DLSR, karena sangat banyak yang bisa di dapat dari situ. Tapi jangan lupa, sadari resikonya, banyak-banyak puasa.[]








Pemuda itu menunjukkan hasil fotonya ke siperempuan yang kemudian menunjuk bergantian kepadaku dan kepada sebelahnya. “Ha ha ha”, tawaku dalam hati, “potongan rambutnya sama denganku rupanya”. Akupun melompat untuk menghampiri temanku dan mengabarkan bahwa manusia diluar sana sudah mengidolakanku.









