Icip Ucup

Namanya Yusuf, sama dengan nama salah satu Nabi yang terkenal akan kegantengannya. Walaupun katanya ganteng itu relatif, Yusuf yang saya sebut ini, dulu lebih terkenal akan kebongsorannya, bukan gendut ya, tapi yang punya tulang gede  & badan tinggi! Dia anak lelaki ragil dari 3 bersaudara, satu kakak perempuannya sudah hampir menyelesaikan bangku kuliah di Malang sedangkan satunya sudah bersiap masuk dunia kerja, sering PP Kediri – Malang. Jadi tidak si Yusuf ini menjadi kesayangan Ibunda-nya di rumah. Ohya, sekeluarga mereka berperawakan tinggi gede!

Yusuf termasuk anak yang supel, akrab dengan Guru dan humoris ketika bergaul dengan teman – teman, tidak heran dia selalu “ditunjuk” jadi Ketua Kelas, sejak kelas 1. Di kelas dia tidak pernah benar – benar dipanggil “Yus” / “Suf” melainkan: “Yusop”, “Sup”, “Cup”, “Guk”, “Su”, “Beruk”, “Bud (nama bapaknya)”, khusus panggilan dari para gadis di kelas dengan manja: “uCupz”. Yusuf sering menjadi objek candaan teman – teman. Walaupun sudah berkali – kali dia protes bahwasannya Ketua Kelas itu harus dihargai, berwibawa, dst., namun nyatanya tidak pernah digubris, mungkin karena protes sambil pasang muka kurang serius kali ya hehehe.

Walaupun dari SMP satu sekolahan, kami baru mulai berteman ketika masuk kelas 2 SMA karena sebelumnya tidak sempat sekelas. Pada awal tahun pelajaran itu kami diminta Wali Kelas supaya duduk sebangku di kursi belakang, katanya supaya tidak menghalangi pandangan anak – anak lain di kelas, maklum saya boleh dibilang tinggi , tapi beda dengan Yusuf, tinggi saya yang versi cungkring hehe.

Dari obrolan sebangku, ternyata baru tahu orang tua kami relasi di Pemkot Kediri, bahkan ibu kami satu grup pengajian. Hal itu menjadikan kami lebih akrab dan terjadi simbiosis mutualisme. Contohnya, Asal keluar rumah dengan Yusup atau sebaliknya, kami tidak terlalu dicurigai oleh orang tua masing – masing, walaupun baru pulang rumah jam 1 malam hehehe. Selain di kelas, kami sering beraktivitas bersama di luar kelas: Bimbel, Sepak bola sore, PS-an, dll. Kebetulan rumah kami tidak begitu jauh. Setiap janjian jalan bareng, kami gantian antar jemput naik motor, tapi yang di depan selalu Yusup, hehehe soalnya kalau mboncengin Yusup setirnya jadi berat!

Ada kejadian unik ketika kenaikan kelas 3, dimana pada awal tahun ajaran dilakukan penjurusan bagi siswa (IPA/IPS/Bahasa) yang artinya isi kelas akan diacak lagi!. Pengumuman akan dipajang di setiap pintu kelas masing – masing sesuai jurusan dan kelas nya. Hal itu membuat para siswa jadi khawatir dimasukkan ke kelas yang tidak ada kenalan sama sekali dari kelas sebelumnya (kelas 2), mungkin karena sudah terlanjur akrab satu sama lain. Saya sendiri juga agak parno, takut kalau – kalau dimasukkan kelas IPS atau Bahasa! karena sadar hanya punya nilai yang pas pasan (pas buat ranking 10 besar, hehe) sedangkan inginnya masuk kelas IPA.

Masuk pada hari pertama kelas 3, seperti hari – hari biasa berangkat sekolah bareng Yusup, menyusuri lorong melihat daftar siswa yang dipajang di setiap pintu. Saya ingat kami berdua deg-deg-an ketika tidak ada nama kami di pintu kelas 3 IPA-1 dan IPA-2. Ada beberapa siswa/siswi lain yang berteriak histeris karena terpisah kelas dengan teman satu geng-nya. Entah kenapa menyusuri lorong kelas pagi itu terasa lebih seram daripada jurit malam di lorong yang sama ketika Persami!

Sampai depan pintu kelas 3 IPA-3 membuat saya tercengang dan bersyukur. Nama saya, Yusup, dan sebagian besar teman – teman akrab di kelas sebelumnya terdaftar pada kelas yang sama! Selidik punya selidik ternyata Bapak/Ibu Yusup nitip ke sekolah supaya anaknya dan si A, B, C, D, … (termasuk saya), dijadikan sekelas lagi. Jadi Bapak Yusup adalah wali murid yang ditunjuk menjadi ketua Komite Sekolah, punya banyak kenalan Guru yang mengatur pembagian kelas. Hal ini tentu saja bikin iri teman – teman saya di kelas lain. Ibarat klub bola di game PES, isinya pemain editan semua! Katanya Hahaha.

Sudah 13 tahun berlalu tapi banyak cerita yang bikin senyum sendiri kalau teringat. Khusus dengan Yusup banyak episode “cimon”-nya: bantu pdkt dengan si Yatik, teman Yusup SMP yang saya taksir, Cinta segitiga Yusup – Candra – Fajar, Mediasi prahara cinta bertepuk sebelah tangan, dll bisa jadi judul ftv ya.

Pernah sebelum Ibu Yusup tidak tahu asal usul saya, Yusup saya traktir makan – makan dalam rangka Ulang Tahun. Sebelum berangkat Ibunya pesan,

“Mas, Yusup anak baik lho ya, jangan diajak nakal!”.

25662_1168021739982_4208538_n

2003 : Main bola sore di lap. sekolah

Walaupun saya dan beberapa teman dekat sudah jarang bertemu sejak mulai beranjak kuliah, interaksi kami ketika ketemu langsung ataupun tidak langsung masih “sefrontal” seperti 13 tahun yang lalu, mirip – mirip film Grown Ups deh.

Pagi tadi dapat kiriman whatsapp dari Ibuk, bilang kalau bu Nurul – Ibunya Yusuf meninggal. Ikut sedih rasanya. Saya hubungi teman – teman dekat yang domisili di Kediri supaya jenguk ke rumah Yusup, dan terpostinglah pula tulisan ini! Oalah sup..sup.

8-14-2017 11-26-15 AM