Ini pengalaman gw saat Pelatnas 8 besar di UI. Pada suatu hari minggu, kami berdelapan: gw, Irvan, Risan, Gogo, Ricky W, Ronny, Sam, dan Yudi, bersama Pak Suryana pergi ke Ancol. Rencananya kita mau ke Dufan, (yang mana Irvan menyebutnya DUVAN atau Dunia Irvan). Yah, setiap ke dufan, hampir dapat dipastikan naik arung jeram dong, maka kami semua membawa baju ganti. Lalu, kami berangkat ke Ancol naik transportasi umum.
Kami naik kereta eksekutif dari stasiun di UI. Kami berhenti di Stasiun Gambir. Eh iya, dalam perjalanan, SMA Kanisius sempet keliatan dari dalem kereta (keretanya lewat belakang sekolah). Dari Gambir, kami naik Busway sampe Ancol (sempet nyambung2). Fuh, setelah perjalanan yang melelahkan, sampai juga di Ancol. Di dekat halte busway, kami melihat poster-poster, seperti Dufan, Seaworld, Atlantis, dan BIOSKOP 4 DIMENSI!! Gambarnya keren, maka Irvan minta Pak Sur untuk ke BIOSKOP 4 DIMENSI di GELANGGANG SAMUDRA.
Jah, ternyata GELANGGANG SAMUDRA itu terletak sangat jauh dari halte, padahal pintu masuk Dufan tepat di sebelah halte. Yah, gw mikir, toh gw ga pernah ke yang namanya GELANGGANG SAMUDRA, jadi gw ikut aja, siapa tau worth it. Kami berjalan jauh sekali, sampe Yudi keliatan mau mati. Sampe disana, NAH LO, tiket masuk GELANGGANG SAMUDRA: 60 ribu seorang!! Dengan berat hati, Pak Sur membayar 540 ribu (makasih Pak :D). Di GELANGGANG SAMUDRA, kami langsung mengantri untuk BIOSKOP 4 DIMENSI.
Kami udah lama ngantri dan nunggu. Akhirnya kami masuk juga. Di dalam sangat gelap, dan tempat duduknya khusus, bahkan gw bisa melihat ada penyemprot air di depan masing2 bangku, untuk spesial efek. Akhirnya dimulai. Menit-menit pertama, “Hmm, efeknya bagus juga, lumayan lah.” Tapi, LHOOO… Koq cuma sepuluh menit!! Entah apa cuma perasaan doang, tapi cepet bener abisnya. Pokoknya terakhir-akhir, ada monyet-monyet lagi dalam keadaan damai di batang pohon, terus pohonnya tumbang. Gw kira bakal ada monster atau apa, gw kira itu baru prolog, EH UDAH SELESAI!!
Dengan masih tidak terima kenyataan, kami keluar dan makan. Keadaan hening, cuma Sam yang terus menyalahkan Irvan (tenang Van, bukan salah lw). Akhirnya, tidak ingin 60 ribu sia-sia, kami mencari-cari, apa ada yang bisa dinikmati di sini. Kami pun menonton pertunjukan “Lumba-Lumba dan Paus Pintar.” Awalnya, kami cukup terhibur dengan Lumba-Lumbanya, namun diakhir-akhir, Lumba-Lumbanya gak terkontrol, ga bisa disuruh-suruh sama pelatihnya, sampe petugasnya memukul-mukul air dengan galah panjang. Wah, udah bukan pertunjukan deh. Pausnya juga begitu. Mungkin tu Lumba ama Paus sekongkol untuk bikin pelatihnya dimarahin ama bos π
Setelah dari itu, kami mencari-cari lagi, apa yang bisa dinikmati. Kami melihat suatu bangunan yang seperti akuarium. Di depannya, ada patung ikan hiu gede. “Wah, mungkin ada ikan-ikan besar dan keren di sini”, pikir gw. Ternyata, isinya cuma ikan-ikan hias (kata Karol, mungkin malah itu akuarium punya orang, kalo malem dibawa pulang). Udah gitu, bangunannya kecil bener, cuma: masuk -> lurus -> belok kiri -> lurus dikit -> belok kiri -> lurus -> keluar. Bah, abal bener. Udah gitu, mainan di sini cuma dikit, namanya aneh-aneh pula. Ada Boto-Boto (kayak pesawat-pesawatan komdei puter), Ubur-Ubur, sama satu lagi mainan macam Bom-Bom Car, tapi lupa namanya, pokoknya alay juga namanya.
Akhirnya, kami keluar dari GELANGGANG SAMUDRA. Lalu, di suatu perairan, ada penyewaan perahu bebek. Kami pun bermain di sana. Kayaknya menyenangkan. Tapi ternyata bosan juga, udah gitu pegel ngayuhnya (kayak seopeda air), bisa bikin kaki kekar. Pembagian perahunya: Gw+Sam, Risan+Ronny, dan Ricky W+Gogo. Irvan ga ikut, soalnya si Yudi capek. Seperti kata pepatah, Adhit+Sam=Bencana. Biar seru, gw ama Sam berkeliling-keliling danau, mengumpulkan buah kelapa yang mengapung di air. Lalu, kelapa-kelapa itu kami lemparkan ke air di sebelah perahu Risan-Ronny dan RickyW-Gogo sehingga airnya nyiprat. Si Risan bahkan sempet menelan air sampah (air danaunya kan kotor, banyak sampah, bahkan gw bisa dapet sendal orang dan bungkus deterjen). Katanya asin-asin sepet gitu π
Fiuh, setelah asik bermain, kami semua kembali ke wisma tempat kami di karantina di UI. Naik taksi!! Soalnya si Yudi gak enak badan dan capek. Sampe wisma, si Risan langsung minum obat cuci perut π Well, bener-bener pengalaman yang menyenangkan, terlepas dari gak-jadi-ke-dufan-tapi-gelanggang-samudra. Eh tapi ternyata setelah itu, si Yudi divonis sakit tipus. Waaa… Maafkan kami Yudi, telah mengajakmu bercapek-capek… Yah, menyenangkanlah. Terima kasih semua yang delapan besar TOKI 2008!! Entah kapan lagi kita bisa seperti itu… π¦
p.s. yang boom boom car itu, ternyata namanya LagaLogon