Film: Pawn – 담보 (Dambo) || Director: Dae-gyu Kang || Writer: Lee Jang-hoonJu-Yeon Son || Cast: Sung Dong-il (Park Doo Seok), Kim Hee-won (Jong Bae), Ha Ji-Won (Lee Seung Yi/Park Seung Yi dewasa), Park So Yi (Lee Seung Yi/Park Seung Yi bocil), Hong Seung Hee (Lee Seung Yi/Park Seung Yi remaja), Yun Jin Kim (Kang Ming Ja – ibu Lee Seung Yi), Naa Mon Hee (Nenek Seung Yi), Lee Do Yeop (Kepala Sekolah), Yoon Soon Wong (Byeong Dal – katanya paman Seung Yi) || Production: CJ Entertainment|| Release Date: September 29th, 2020 || Language: Korean || Country: Korean || Genre: Teen Drama, Drama, Family Drama, Comedy, Slice of Life
Rating saya: 900/10 (versi IMDB 7.6/10)
Peni nonton di mana? Di channel TvN Movies
Sinopsis:
A human drama about a man who would do anything for money becoming friends with a child who is then taken hostage. (IMDB)
Plot:
Park Doo Seok dan rekan kerjanya, Jong Bae yang lagi nagihin hutang, karena dia kerja di sebuah Pawn (lembaga peminjaman uang) sebagai debt collector, secara nggak sengaja banget papasan sama ibu Kang Mi Ja yang lagi gandengan sama anaknya, Lee Seung Yi, auto nagih hutangnya di depan banyak orang. Karena Kang Mi Ja nggak punya uang saat itu juga, nggak segan-segan Park Doo Seok ngangkut Lee Seung Yi buat jaminan biar Kang Mi Ja segera bayar hutangnya. Sebab, Kang Mi Ja udah sempet menghilang sampe susah dicari buat ditagih pembayarannya.
Park Doo Seok berjanji akan menjaga dan merawat Lee Seung Yi sampai Kang Mi Ja berhasil bayar hutangnya. Karena panik, Kang Mi Ja nelepon seseorang, ngasi tau kalo anaknya jadi jaminan hutangnya dan akhirnya orang di seberang sana setuju untuk bantu menyelesaikan masalahnya.
Keesokan harinya, Seung Yi dibawa ke kantor yang membuat Park Doo Seok dimarahin bosnya. Bukannya bawa duit malah bawa bocil ke kantor. Heuheu. Kenapa Seung Yi dibawa ke kantor, ya kan bayar hutangnya di kantor. Harusnya. Tapi karena ternyata Kang Mi Ja nggak muncul sampai siang buat bayar hutangnya ya makin kesel lah bosnya Park Doo Seok. Terus dibawa pulang, kan, niatnya mau nganterin sih, ke rumah Kang Mi Ja, sambil beneran nagih. Di jalan, pas kebeneran nyaris tabrakan, Seung Yi berkesempatan turun dari mobil dan melarikan diri, lalu sembunyi dan masuk rumahnya sendiri.
Sementara itu Park Doo Seok dan Bong Jae nyari-nyari tapi ga ketemu. Besoknya, Park Doo Seok nyari Seung Yi di tempat tinggal mereka, tapi bocil itu udah pergi dari rumah, ninggalin tulisan, nyari ibunya. Status mama Seung Yi tertangkap dan akan dideportasi karena ternyata Kang Mi Ja bukan warga Korea Selatan dan merupakan imigrasi gelap.
Singkat cerita, Seung Yi diserahkan ke so called pamannya atas permintaan ibunya, oleh Park Doo Seok. Tapi, dia merasa bahwa pamannya itu, Byeong Dal, bukan orang baik. Smell fishy, karena ga tau nama asli Seung Yi, pas mereka ketemuan. Ditambah kayaknya udah ada bonding antara Park Doo Seok dengan Seung Yi, jadi saat Seung Yi udah ga ada di antara Park Doo Seok dengan Bong Jae, kek ada yang hilang gitu.
Feeling Park Doo Seok bener. Seung Yi malah dijual ke tempat hiburan. Bocah sekecil itu, dong… 😭😭😭
Why I gave high rating, padahal di IMDb ratingnya ga gede-gede amat? Suka-suka aku lah… da aku mah bukan kritikus film.. kekeke..😬
Pertama nonton ini, aku jatuh cinta sama pemeran Lee Seung Yi kecil (subyektif banget emang). Her smily bright eyes yang bikin kalo dia tersakiti hati dan fisiknya, memicu emosi tingkat tinggi aku (yes, aku nangis sejak liyat dia pulang ke rumahnya, kakinya luka-luka, terus pas pipinya kena beling… 😭😭😭)
Pemeran Park Doo Seok, Sung Dong Il ahjussi kan emang bapak nasional, ya… jadi peran dia sebagai ayah di mana-mana biasanya keren. Aku paling suka saat dia jadi bapaknya Deok Sun (diperankan sama Hye Ri) di Reply 1988. Dari ketiga serial Reply, Sung Dong Il ahjussi kan emang jadi ayah pemeran utama terus, kan, ya…
Kalo Park Doo Seok ahjussi ini tipikal kasar di luar tapi lembut di dalam, Bong Jae ahjussi ini lembut luar dalam dan bisa ngajak bicara Seung Yi bocil. Dia juga yang membujuk Seung Yi buat jadi “anak” secara legal dalam surat biar Seung Yi bisa sekolah.
Aku nggak punya pembanding untuk film-film kayak gini, jadi nggak bisa bilang film ini mind blowing juga, karena siapa tahu emang ada film dengan cerita semirip ini. Konsep culik anak biar hutang kebayar aja udah aneh sih, sebenernya. Tapi kan emang anak itu harta berharga orang tua, ya… Jadi kalo ada yang berani nyakitin anaknya, orang tua udah pasti pasang badan lyke monster. Attitude kek ginilah yang ditunjukkan oleh Park Doo Seok ahjussi saat mengasuh dan merawat Seung Yi sampai dewasa.
Iya, setelah insiden Seung Yi dijual ke tempat hiburan, dengan aksi super heroiknya, Park Doo Seok ahjussi datang untuk menyelamatkan Seung Yi setelah dapet telepon dari Seung Yi kalo dia terluka, pipinya kena beling dari botol yang dilempar pelanggan ke tembok, pas Seung Yi lagi ngepel deket situ. Huaaaaah! Aku emosi banget! 😭😭😭
Setelah itu, Lee Seung Yi jadi anak angkat Park Doo Seok. Disekolahin, disiapin bekal, diantar ke sekolah. Oh, ya, Seung Yi itu dapet panggilan kesayangan 담보 (Dambo) yang artinya “jaminan”. Sering banget ahjussi ini manggil Seung Yi dengan sebutan 담보 bahkan setelah dia dewasa. Hahaha.
Suatu hari saat Seung Yi diajak jalan-jalan sama Park Doo Seok dan Bong Jae atas permintaan si pamannya sebelum serah terima itu, Seung Yi ngasih nama ahjussi dengan Seung Bo, soalnya Doo Seok artinya “kepala batu”. Nama Seung Bo yang dikasih Seung Yi ini jadi identitas yang terus diingat Doo Seok, bahkan ketika ahjussi menghilang selama 10 tahun.
Nonton di TvN aja aku nangis mulu, gimana lagi kalo nonton di bioskop, ya… Dook Seo ahjussi ini tempelable banget buat Seung Yi, padahal orangnya kek kasar melulu ke Seung Yi.
Yang bikin aku ngasi rating segede ini adalah… karena kemistri antara Seung Yi kecil sama Dook Seo ahjussi bikin terharu banget banget banget. Park So Yi mainnya keren bangetttt… dan dia adorable 😭😭😭😭
Sekian laporan pandangan mata Peni tentang 담보. Nah, bagiku, kalo Sung Dong Il ahjussi yang main sih, film ini ga kaleng-kaleng. Dah gitu aja…
Film: Bertaut Rindu – Semua Impian Berhak Dirayakan || Director: Rako Prijanto || Writer: Nuridzka Mutiaradini, Goodscript Writers Room, Tian Topandi || Cast: Adhisty Zara (Jovanka), Ari Irham (Magnus), Aida Nurmala (Diana – Mama Magnus), Willem Bevers (Brata – Papa Magnus), Irgi Fahrezi (Agung – Ayah Jovanka), Nadine Alexandra (Delina – istri baru Agung), Putri Ayudya (Yuli/bunda Jovanka), Aulia Deas (Maria – bestie Jovanka), Bertram Beryl (Koko – bestie Magnus), Oki Rengga (Pak Yudhi – Wali Kelas Magnus, Jovanka, Maria, dan Koko)|| Production: Sinemart || Release Date: July 31st, 2025 || Language: Indonesia || Country: Indonesia || Genre: Coming Of Age, Teen Drama, Teen Romance, Drama, Romance
Rating saya: 5/10 (versi IMDB 4.4/10)
Sinopsis:
Kehidupan Jovanka berubah setelah perceraian orang tuanya. Bersama dengan Yuli, ibunya, ia pindah ke Bandung dan memulai semuanya dari awal. Di sekolah baru, ia bertemu dengan Magnus, cowok pendiam yang menyimpan banyak rahasia dan trauma. Pertemuan ini tak hanya mempertemukan dua hati, tapi dua jiwa yang sama-sama terluka. (Wikipedia)
Plot:
Opening: sebuah SMA, balkon. Seorang cewek berseru memanggil nama, “Magnus”, target menoleh, bocah cewek ini buru-buru bersembunyi di balik dinding balkon. Dua kali terdengar seruan nama Magnus dan kedua kali itu pula si target menoleh mencari arah suara. Maria, pelakunya, dihardik oleh temannya yang bernama Jovanka, lalu membalas dalam bahasa Sunda, lengkap dengan logatnya. Adegan ini menggambarkan Maria sebagai bestie Jovanka punya maksud mau nyomblangin atau buka jalan buat Jovanka biar deket sama Magnus sesegera mungkin. Karena bentar lagi mereka bakalan lulus sekolah.
Singkat cerita, “comblang” ini berhasil walau bukan murni campur tangan Maria, karena usaha Jovanka pedekate ke Magnus juga lumayan kenceng. Long story short: keduanya pun akhirnya deket. Udah gitu aja? Ya nggak. Karena bukan itu inti filmnya xD
Pasar Burung adalah tempat pelarian Magnus ketika dia sedang merasa overwhelmed sama pikirannya. Kena mental, kalo istilah anak sekarang. Burnout gitu juga katanya. Kenapa? Dia punya desire pengen seriusin melukis dengan lanjut sekolah ke Seni Rupa ITB (udah daftar SMBPTN dan bahkan diterima di sana juga, surprisingly, bareng Jovanka, sama-sama diterima di Jurusan dan kampus yang sama. Asik banget, kan? Semudah itu ternyata diterima di jurusan Seni Rupa ITB). Eh, tapi ternyata si kemudahan ini (mungkin saking otaknya gacor ya sampe gampil banget keterima di SR ITB) mendapat pertentangan dari papa dan mamanya yang maksa anaknya buat lanjutin sekolah bisnis di London. Sebagai anak tunggal, Magnus harus melanjutkan keberlangsungan perusahaan papanya, dong, ah. Mana perusahaan papanya itu udah sering menang penghargaan, kan. Masa nggak diwariskan ke anak semata wayangnya?
Selanjutnya mah bisa ditebak lah, jalan ceritanya kayak gimana. Nggak jauh-jauh dari sinetron yang udah kita sering lihat kok. Bahkan endingnya pun udah bisa diprediksi BMKG.
I know that you don’t ask my opinion, but let me spill my own two cents…
Konfliknya nanggung. Konflik Magnus vs orang tua, konflik Jovanka vs ayah dan istri baru ayahnya.
Si Jovanka ini emang nggak punya adab, ya, sama orang lebih tua. Dia nyiram istri baru ayahnya yang nyamperin dia ke galeri pakai air bilasan kuas lukis. Padahal si tante Delina ngasih laptop mahal, loh. Eh, abis itu, laptopnya dipake juga. Huwaaa… Pas ada mama Magnus juga nggak salim, kek, minta izin dulu, kek, mau bicara sama Magnus. Huh!
Oki Rengga yang jadi Pak Yudhi… ini masalah pribadi aku, sih. Sebelum film ini tayang, ada iklan trailer film – yang diperankan Oki Rengga – pas di adegan lagi manggil Jalangkung. Jadi ketika dia berperan jadi pak guru penuh wibawa, citra dia sebagai orang yang lagi manggil Jalangkung masih nempel di benakku. Well, you know lah, pikiranku jadi nge-mix: pak Yudhi yang guru SMA mewah ternyata hobi main manggil Jalangkung.
Akting semua pemain nggak natural. Hahah. Nggak ada kemistri antar pemain yang terbangun. Boro-boro ada transfer emosi pemeran ke penonton. Filmnya hanya berasa pembacaan naskah dialog dengan nada datar.
Mama Magnus tetep dandan cetar membahana walau udah di rumah dan jam mau tidur. Mungkin saat itu dia baru pulang party atau arisan, kali ya, terus tiba-tiba harus ngurusin anaknya yang bikin papanya kesel. Abisnya masih pake make up lengkap, rambut no lepek, nggak lupa lengkap dengan giwang segede alaihim gambreng, ikat pinggang dan sepatu high heels: masuk kamar Magnus cuma buat bilang (kurang lebih), “besok kamu berangkat ke London”.
Ceritanya bu Yuli (ibunda Jovanka) ditemukan udah nggak berdaya (ada sakit yang dirahasiakan dari anaknya), terus dilarikan ke rumah sakit. Pas Jovanka nyamperin ibunya, si ibu bilang kalo dia baik-baik aja, dengan selang oksigen masih di hidung. Ngomongnya penuh senyum dan lancar. Saat adegan itu, aku protes ke adek, “dih, kok, dia bisa ngomong lancar dan penuh senyum gitu pake selang oksigen?” Adek jawab, “yaaa.. ga ada oksigennya kali, Bun…” Sebagai orang yang udah beberapa kali pake selang oksigen baik pas di ICU maupun di UGD, boro-boro bisa senyum apalagi ngomong dengan nada lemah lembut kayak gituuuuuu.. pas liyat adegan ini… gemesssss.
Magnus kan sempet ngilang, udah mau lompat dari air terjun juga, tapi dia takut jadi batal terjun. Oh, mungkin bukan takut. Mungkin dia terngiang-ngiang ucapan Jovanka tentang bersikukuh sama impian, jadi urung buat lompat. Nah, pas adegan ini kan dia dicari tuh sama temen-temennya dan tim SAR, bahkan Tante Delina juga ikut nemenin Jovanka and friends nyariin Magnus. Mama Magnus sendiri? Baru muncul pas Magnus udah ditemukan dan masuk ambulans. Jadi tadi pas temen-temen Magnus dan tim SAR nyariin Magnus, mamanya ke mana? Pulang dulu? Buka arisan dulu? Ngedugem dulu? Anda di mana waktu temen-temen Magnus dan tim SAR nyariin anakmu, Mama? Magnus tuh anakmu atau anak siapa, sih, Mama? Bingung saya.
Maria sama Koko (temen-temen Jovanka sama Magnus) pas di awal-awal dialognya pake logat Sunda kental, giliran di pertengahan film sampe akhir… lenyap nggak berbekas. Emang capek sih, ngomong pake logat Sunda kalo itu bukan bahasa keseharian mah…
Di awal film, make up Zara yang meranin Jovanka kayak tante-tante mau ambil rapor anaknya yang udah masuk SMA, padahal ceritanya dia anak SMA itu sendiri xD
Scriptnya menurut saya nggak mateng. Semuanya kayak setengah-setengah. Atau standar Sinemart emang kayak gini? Atau kepentok durasi jadi susah milih mana yang mau ditonjolkan? Pasti konflik sih buat milih highlight xD
Baca komentar seseorang, yang baca bukunya, dia bilang beda banget adaptasi film vs novelnya. Sependek pengetahuan saya, umumnya film adaptasi novel nggak mirip cerita aslinya, karena produksi film itu mahal banget. Biasanya hanya ngambil ide cerita novelnya dan udah kayak “kesepakatan umum” kalo produsen film pengen penontonnya bisa menikmati film yang mereka buat, sementara pembaca buku menikmati baca bukunya tanpa saling membandingkan film versus buku. Apalagi kalo cerita versi novel “kurang menjual” untuk dibuat visualisasinya, minimal filmnya dibuat dalam rangka jualan visual pemerannya atau adegan romansanya, biar nggak sia-sia bikin film. IMSO ini mah. IMSO.
Judul film Bertaut Rindu dengan tagline Semua Impian Berhak Dirayakan entah kenapa kek nggak masuk aja sama cerita di sepanjang film yang disuguhkan. IMSO lagi.
Saya a bit menyayangkan film ini harus disaksikan sama anak-anak SMP sekolah anak saya, karena buat saya nggak masuk umurnya (masuk ke dalam program nonton bareng yang didampingi orang tua dan keluarga guru), meanwhile di sekolah anak saya tuh, ada doktrin “pacaran itu haram”, sementara film ini sebagian besar emang ceritanya tentang pedekate sampai jadian, meski ide utamanya lebih ke tentang impian bocah yang nggak dapat restu orang tua. Sebagai orang tua konservatif macam saya, program sekolah buat nobar film ini (sorry for my harsh speaking) agak absurd. Soalnya anak-anak usia remaja baru ini visually-nya malah lebih fokus ke pegangan tangannya, ke pacarannya atau bahkan mereka ngerasa boring karena ceritanya ga relate sama sekali. Ga ada adegan menarik, jadinya malesin buat disimak.
Kalo memang niat buat ngasih pesan ke orang tua, I prefer program nobarnya buat orang tua aja, sih. hihi… anak-anak nggak usah ikut nonton. Karena balik lagi ke poin di atas: jalan ceritanya nggak fit in sama karakter anak-anak usia SMP, terutama SMP dengan doktrin “pacaran itu haram” xD
Kayaknya masih ada another two cents, tapi saya udah keburu lupa. But thanks to Bertaut Rindu, rumah YongHwa jadi ada tambahan penghuni. Worth to watch? Nonton sendiri aja. Soalnya saya lihat banyak, kok, ibu-ibu yang ummm… kebawa baper sama cerita filmnya… xD
Yang pasti mah… THIS MOVIE IS NOT FOR ME AND MY FAMILY. TENTU SAJA. Peace and Love xD
Film: Madogiwa no Totto Chan (Totto Chan: The Little Girl at the Window || Director: Shinnosuke Yakuwa || Writer: Tetsuko Kuroyanagi, Yôsuke Suzuki, Shinnosuke Yakuwa || Cast: Liliana Ôno (voice of Totto Chan), Koji Yakusho (voice of Kobayashi), Shun Oguri (voice of Moritsuna Kuroyanagi), Anne Watanabe (voice of Cho Kuroyanagi) || Distribution: Toho, Co., Ltd. || Release Date: Dec 8, 2023 (Japan), May 1, 2024 (Indonesia) || Language: Japanese || Country: Japan || Genre: Friendship, Childhood, Life, School, History, Memoar
Rating saya: 1000/10
Sinopsis:
This engaging series of childhood recollections tells about an ideal school in Tokyo during World War II that combined learning with fun, freedom, and love. This unusual school had old railroad cars for classrooms, and it was run by an extraordinary man-its founder and headmaster, Sousaku Kobayashi–who was a firm believer in freedom of expression and activity. (Kondansha)
An ideal school in Tokyo during World War II that combined learning with fun, freedom, and love. This unusual school had old railroad cars for classrooms, and it was run by an extraordinary man-its founder and headmaster, Sosaku Kobayashi who was a firm believer in freedom of expression and activity. (IMDB)
Plot:
Cerita dibuka dengan adegan Totto Chan yang ngumpet di balik kotak pengumpulan tiket kereta api di stasiun kereta api dalam perjalanannya bersama mamanya untuk “interview” di sekolah baru. Mama tampak gugup menghadapi hari itu, si Totto malah sibuk sendiri. Misalnya dia bertanya apakah boleh minta tiketnya ke petugas tiket yang jutek, dan dijawab, “ga boleh.” Tapi usaha Totto ga sampai di situ, dia nanya lagi, “semua tiketnya punya Bapak?” yang dijawab rada ketus, “bukan. Punya stasiun”.
Karena tertarik liyat bapak petugas tiket itu ngumpulin tiket dan bayangin punya tiket kereta banyak-banyak, Totto lalu bilang ke bapak itu, “nanti kalo udah gede, aku mau kerja jadi petugas tiket juga!” yang terus bikin ekspresi si Bapak dari jutek ke senyum dan mulai ngeh sama keberadaan Totto Chan, lalu si Bapak jawab, “anak saya juga mau jadi pegawai stasiun. Mungkin nanti bisa bekerja sama.”, yang malah dijawab Totto, “aku akan pikirkan lagi.” Mamanya udah keburu manggil soalnya.
Meanwhile, Mama nervous luar biasa, karena dia beneran khawatir Totto Chan bakalan ga diterima di calon sekolah baru yang akan mereka datengin, sebab kejadian di sekolah lamanya membuat Totto Chan mendapat label “pengganggu” dan harus out dari sekolah itu.
Long story short, setelah ngobrol selama empat jam dengan pak Kepala Sekolah, Totto chan diterima di sekolah barunya yang bernama Tomoe. Bapak Kepala Sekolah amazing yang bernama pak Sosaku Kobayashi, yang – saat pertemuan pertamanya, Totto nanya ke Bapak Kepala Sekolah dengan pertanyaan, “Bapak itu Pegawai Stasiun atau Kepala Sekolah?” yang disambut tawa kencang dan jawab, “Bapak adalah Kepala Sekolah.” Jawaban itu membuat mata Totto Chan berbinar, karena dia pengen banget sekolah di situ. Kenapa? Salah satu sebabnya, ruang kelasnya adalah gerbong kereta api yang udah nggak dipake lagi. Asik banget, kan?
Dan Totto pun cerita ke papanya, bahwa dia nggak akan pernah bolos sekolah lagi, karena sekolahnya menyenangkan. Tentu ini bikin papa dan mamanya lega banget. Soalnya stres juga, kan, kalo punya anak yang ditendang dari sekolahnya. Bikin mental ortu nge-drop, karena nyari sekolah yang oke buat anak tuh ga mudah.
Apakah ceritanya berhenti sampai di situ?
Ya nggak. Selanjutnya ceritanya bergulir tentang keseharian Totto Chan di sekolah Tomoe dengan segala dinamikanya. Pengennya spill semuanya karena emang pengen banget cerita. Tapi aku highlight aja, deh, ya… Soalnya jatuhnya spoiler kalo aku ceritain semua.. Aselik ga tahan banget pengen ceritain semuanya… ^^ (tahan, pen… tahan… sekuat kamu nahan kebelet saat perjalanan dari Garut ke Bandung di arus balik yang makan waktu 5 jam).
Berikut highlight scene Madogiwa Totto Chan yang pengen saya bagi di sini:
Bekal sekolah.
Pak Kobayashi mewajibkan semua anak membawa bekal makan siang dengan keyword “yang berasal dari laut dan dari gunung”. Ga usah bayangin bekal anak-anak tuh bawa gurita atau paus untuk kriteria “dari laut” atau bawa kambing gunung apalagi rusa untuk kriteria “dari gunung”. Sesederhana ikan goreng untuk kriteria “dari laut” dan telur dadar untuk kriteria “dari gunung” aja, kok. Atau kalo mau lebih sederhana lagi, rumput laut a.k.a nori udah masuk banget ke kriteria “dari laut” dan umeboshi (sejenis asinan) udah masuk ke kriteria “dari gunung”.
Mereka berkumpul di aula dengan membawa bekalnya masing-masing, kemudian Pak Kobayashi akan memeriksa bekal setiap anak, berdiskusi dengan mereka untuk menentukan makanan yang mereka bawa tuh udah memenuhi kriteria “dari laut dan dari gunung” apa nggak. Terus gimana kalo bekal anak ga lengkap? Cuma ada salah satunya aja? No worries! Istri pak Kobayashi ngikutin inspeksi Pak Kobayashi sambil bawa panci bersekat, yang berisi makanan dari laut dan dari gunung, sebelah-sebelahan. Jadi kalo ada yang “kurang”, bu Kobayashi yang akan nambahin ke piring anak itu.
Poinnya apa, sih, diajarin begini? Anak diajarin ga milih-milih makanan, makanan dari laut dan dari gunung itu perlu (secara implisit ngajarin berterima kasih sama alam yang udah menyediakan kita makanan), ga perlu minder dengan bekal masing-masing, dan semua bisa makan bersama dengan bahagia.
Di hari pertama Totto Chan bersekolah, bekalnya dibuat oleh Mama yang ditata secantik taman bunga dan dapat pujian dari pak Kobayashi. Dan, karena ada hal yang menarik untuk didiskusikan saat melihat ke bekal Totto Chan, pak Kobayashi mengajukan pertanyaan ke anak-anak, “kalo denbu (dendeng ikan) itu asalnya dari laut atau dari gunung, ya?”
Bocah-bocah kemudian mikir. Karena dendeng warnanya coklat, mirip warna darat, jadi pada jawab, “dari gunung!” Dengan santai, pak Kobayashi jawab, “dari laut.” Diprotes, tentu saja. Dan pak Kobayashi jawab lagi, “Denbu itu terbuat dari ikan laut yang dikeringkan dan diserut.” yang disahut, “ooooh” panjang oleh anak-anak dan mereka merasa pintar selangkah lagi karena dapet ilmu baru dari pak Kepala Sekolah.
Ritual sebelum makan
Setelah memeriksa bekal setiap anak dan memastikan makan siang setiap anak udah lengkap sebelum disantap, pak Kobayashi duduk di depan piano dan mulai memainkan musik yang instrumennya tuh dari lagu yang kita tahu “Row, Row, Row Your Boat” tapi liriknya digubah jadi “kunyah, kunyahlah semua makanan… kunyah, kunyah, kunyah, semua makanan”, (ga hafal lirik Japanesenya, euy). Setelah itu, anak-anak mengucapkan, “itadakimasu” terus makan, deh…
Belajar di Kelas
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, yang jadwal belajarnya udah ditentukan per jam-nya dengan subject yang akan dipelajari hari itu, di Sekolah Tomoe, guru menulis semua mata pelajaran yang diajarkan hari itu di papan tulis, dan muridnya tinggal milih mau belajar yang mana duluan, tergantung kesukaan mereka. Jadi, di reguler pertama (jam pelajaran pertama) bisa jadi ada anak yang lagi menggambar, ada yang ngerjain soal matematika atau malah bikin percobaan kimia. Tinggal dateng ke gurunya buat minta dijelasin kalo emang ada yang perlu dijelasin. Dan nggak ada paksaan harus selesai seketika, tapi sebisa mungkin, semua pelajaran bisa diselesaikan hari itu. Dengan cara itu, anak-anak Tomoe semuanya ikhlas banget nyelesaiin pelajaran mereka sebelum jam sekolah berakhir. Bahkan ada bonus jalan-jalan ke luar sekolah kalo semua anak udah kelar menyelesaikan pelajaran hari itu sebelum jam pulang. Buat anak kelas satu SD kayak Totto Chan, yang energi kinestetiknya buanyaaak banget, perjalanan kayak gini tuh menyenangkan banget karena bisa lihat-lihat sekitar bareng temen-temen sekelas. Kesannya cuma jalan-jalan ya, padahal mereka belajar banyak tentang biologi, sejarah, dan apapun subject belajar yang bisa mereka temui di acara jalan-jalan itu.
Yasuaki Yamamoto
Ada anak laki-laki pendiam di kelas Totto Chan yang menarik perhatiannya. Jalannya pelan, kadang diseret, namanya Yasuaki Yamamoto. Kaki dan tangannya kecil sebelah, karena dia menderita polio. Tau diri kalo dia ga selincah teman-teman sekelasnya, dia sering memilih berada di kelas dan baca buku. Totto Chan adalah anak yang ga cuma cerewet dan periang, dia juga pengen semua temennya bahagia seperti dirinya, makanya dia melakukan apapun supaya Yasuaki nggak left behind dan ikut bersenang-senang seperti anak lainnya. Poster filmnya tuh jitu banget, karena di poster itu menggambarkan usaha Totto Chan ngajakin Yasuaki melakukan sesuatu yang tampak mustahil bagi anak yang berjalan aja susah payah: naik pohon. Buat anak sekecil itu…, ini tuh ide yang gila banget… Melihat Totto Chan yang nggak menyerah pada Yasuaki, membuat rasa minder anak ini perlahan terkikis. Semangat Totto Chan menular banget ke Yasuaki.
Ruang Kelas
Seru banget, ga, sih, punya ruang kelas yang berasal dari gerbong kereta api yang udah nggak terpakai? Emang kesannya sumpek karena gerbong kereta api kan nggak besar, yaaa.. udah gitu semua kursi penumpang diganti dengan kursi dan meja belajar kayak di kelas pada umumnya. Tapi emang murid di Sekolah Tomoe nggak banyak, so, no problem. Rasanya tiap belajar di kelas tuh kayak lagi travelling pake kereta api.
Menginap di Sekolah
Sebenernya nggak ada acara khusus. Cuma gara-garanya, putri pak Kobayashi ngasih tahu bahwa malam itu mereka akan kedatangan gerbong kereta baru, bocah-bocah jadi pengen lihat kan.. Penasaran dengan cara gerbong kereta api dibawa ke sekolah, mereka terus berdiskusi ngeluarin segala jurus teori dan imajinasi masing-masing di kepala mereka. Sampai akhirnya mereka memutuskan minta ke pak Kepala Sekolah boleh melihat kedatangan gerbong kereta api. Beruntung, pak Kepala Sekolah mengizinkan mereka menginap di sekolah, karena gerbong itu akan datang di larut malam. Jadi, pas si gerbong datang, mereka senang luar biasa.
Asli masih banyak banget yang pengen kuceritain, tapi ntar jatuhnya sopiler. Mendingan nonton sendiri aja dan baca bukunya kalo belum pernah tahu Totto Chan.
Kesan saya….
Sejak trailer-nya bertebaran di bulan Oktober 2023 kalo Madogiwa no Totto Chan dibuat animasinya dan akan tayang di Jepang tanggal 8 Desember 2023, jadi nunggu-nunggu kapan bakalan tayang di Indonesia. Tapi sempat agak cemas juga, “bakalan tayang di Indonesia, nggak, ya?” Tapi, kan, pembaca Totto Chan di Indonesia tuh buanyaaaak banget! Pasti semua pembacanya pengen nonton! Alhamdulillaah, beredar info kalo 1 Mei 2024 akan serempak tayang di bioskop di Indonesia.
Saya nonton di CGV Paris van Java. Sempat kecewa karena nggak ada display poster film ini, padahal udah bawa bukunya dan pengen fotoin bukunya di dekat posternya. Hahaha. Mimpi. Ternyata info teman lain, di CGV BEC juga nggak ada display posternya. Bahkan saya menemukan komentar di postingan saya di medsos, “jangankan display posternya, jadwalnya aja nggak dapet”. Hanya tayang di CGV dan Cinepolis, jadi mempertanyakan kenapa XXI ga ikut menayangkannya. Di tanggal saya nonton, lumayan banyak kok, penontonnya.
Karena Ilman dan Zaidan belum pernah baca bukunya, mereka ngotot pengen ikut saya nonton, anyway, mereka kaget pas adegan berenang. Well, Ilman dan Zaidan kan memang kami ajari batasan aurat, ya… jadi, saat adegan berenang (semua anak-anak kecil di Tomoe berenang nggak pake sehelai kain pun), saya diprotes Ilman, “aurat!” katanya. Terus, Zaidan juga protes, karena dia khawatir ini jatuhnya pelecehan. Pelan-pelan saya jelaskan ke keduanya, bahwa di film ini tuh nggak bermaksud pamer aurat. Orang Jepang tuh sebenernya pemalu urusan perilaku, tapi urusan tubuh, mereka ga malu buat telenji di depan orang selama itu tempatnya bener (misalnya di onsen/pemandian air panas) dan di sekolah Tomoe ini. Dan di situ Pak Kobayashi pengen mengajarkan semua anak itu sama, bentuk tubuh semua anak sama. Jadi no rules untuk minder atau harus ngebeda-bedain satu sama lain. Betul memang aurat, tapi karena ini Jepang, maka ini jadi biasa aja di sana. Poin saya menjelaskan ini ke mereka adalah: agar mereka menghormati kebiasaan mereka, tapi ga perlu nge-judge atau jadi ikut-ikutan juga. Stick pada prinsip sendiri mah harus, tapi ga perlu menggurui orang lain juga.
Film ini juga ngajarin sejarah secara langsung ke Ilman dan Zaidan dari sudut pandang orang Jepang, saat sedang berlangsungnya Perang Dunia II. Kehidupan yang tadinya baik-baik aja, berubah hancur semua. Gimana kita semua menyaksikan rumah tinggal Totto Chan, harus ditinggalkan dan dihancurkan. War is never good to anyone.
Saya tentu saja nangis entah berapa kali sepanjang film ini, mengingat ini tuh beneran kejadian nyata yang di-film-kan tanpa ada tambahan cerita imajinasi. Baru mulai aja udah mrebes mili, misalnya pas interview Totto Chan mau masuk Sekolah Tomoe dan kata-kata pak Kobayashi mengubah hidup Totto Chan selamanya, cuma dengan bilang, “kamu anak baik”, di saat Totto Chan merasa bahwa setengah dunia menolaknya, menganggapnya sebagai “anak yang problematik”.
Atau pas Pak Kobayashi nyuruh Yasuaki pergi ke luar sama temen-temennya, tapi Yasuaki menolak karena minder, merasa dirinya lamban. Atau pas penutupan sekolah Tomoe karena semua orang harus mengungsi. Atau pas adegan saat menyaksikan Tomoe hancur oleh rudal, Pak Kobayashi ngomong gini sambil senyum ke arah penonton, “nanti kita bikin sekolah kayak apa lagi, ya?” Dudududu… rontooooook hati iniiii….
Ga cuma dibikin nangis sih, dibikin ketawa juga ada. Termasuk ekspresi geuleuh saat Totto Chan berusaha menemukan dompetnya yang jatuh. No. Saya ga mau cerita.
Saya pengen nonton ini tiap hariiiiiiiiiiiiiiii. Tapi per hari ini saya nulis, jadwal tayang hanya tersisa di CGV BEC. Di Cinepolis Istana Plaza dan di CGV PVJ udah ga tayang lagi… Kan jadi sediiih…
Malam setelah nonton itu, saya berdiskusi dengan Pa il, tentang display poster yang ga ada di CGV ditambah jadwal tayang yang ga menentu: mungkin film ini nggak menarik karena nggak mengandung drama. Murni cerita hidup seseorang tanpa unsur komersial yang bisa jadi gimmick. Kesannya memang hanya menyasar segmen tertentu: terutama segmen pembaca buku Totto Chan. Saya nggak lihat promosi dari pihak penayang yang seheboh mengiklankan film-film horor lokal. Sedih? Tentu saja. Mungkin karena terkesan “segmented” tadi dan seolah-olah hanya yang related dengan bukunya aja yang bakalan nonton, saya ga lihat ada promosi dari pihak penayang. Atau dari pihak distributornya juga ga melakukan promosi yang heboh? Entahlah. Hanya mereka yang tahu.
Mari kita berdoa semoga tayang di N ga lama lagi kalo gitu, ya… Biar bisa puas nonton terus. Kalo misalnya ga kebagian nonton saat ini, boleh, lho, baca dulu aja bukunya…
Ini adalah Totto Chan yang udah dewasa, eh, senior, karena usianya udah 90 tahunan…
Berikut mini data tentang Totto Chan atau Tetsuko Kuroyanagi:
Tetsuko Kuroyanagi (born August 9, 1933) is a Japanese actress, television personality, World Wide Fund for Nature advisor, and Goodwill Ambassador for UNICEF. She joined NHK Broadcasting Theatre Company as the first television actress in 1953. In 1954, she made her debut as the lead actress in the radio drama Yambō Nimbō Tombō.
Seperti biasa, saya selipkan trailer filmnya di sini, ya…
Film: Radiant|| Director: Kim Seok Yoon || Writer: Kim Soo Jin, Lee Nam Gyu || Also known as: Nooni Booshige , Eyes Are Dazzling , Dazzling , nun bu-si-ge , Radiant , Nuni busige , Nuni busigye || Cast: Han Ji Min, Kim Hye Ja, Nam Joo Hyuk, Son Ho Jun, Ahn Nae Sang, Lee Jung Eun, Kim Ga Eun, Song Sang Eun, Jung Young Sook, Kim Hee Won, Kim Kwang Shik, Woo Hyun || Production: jTBC, Viki || Release Date: Feb 11, 2019 – Mar 19, 2019 || Language: Korean || Country: South Korea|| Genre: Friendship, Comedy, Romance, Life, Drama, Family, Melodrama
Rating saya: 10/10
Sinopsis:
A girl who can travel through time meets a man who lives a torpid life. Kim Hye Ja is a bright and positive 26-year-old woman who wishes to become an announcer. One day, she gains the ability to exploit time and from there, is involved in a complicated timeline as a 70-year-old. Lee Joon Ha is a man who wishes to become a reporter. He worked hard to reach his goal, but now throws away his time and lives lethargically. When the two opposites meet in a complicated time, a love story begins to unfold.
Plot:
Cerita dibuka dengan Kim Hye Ja berusia 25 tahun yang sedang berlibur dengan keluarganya. Keluarga ini sangat hangat dan memperhatikan satu sama lain. Abang Hye Ja adalah seorang “pengangguran”, yang berkarir sebagai vlogger. Tipikal yang akan melakukan apa saja demi saweran.
Kim Hye Ja adalah seorang gadis yang bercita-cita menjadi seorang announcer. Suatu sore, di reuni sekolahnya, dia bertemu dengan Lee Joon Ha yang juga sedang merintis karir sebagai seorang reporter. Pertemuan mereka bisa dibilang ga romantis menye-menye gimana gitu.
Hye Ja punya jam tangan ajaib yang konon bisa memutar waktu. Suatu ketika, dia mendapati Joon Ha yang tampak putus asa karena masalah keluarga, Hye Ja menawarinya untuk meminjamkan jam tangan ajaibnya itu. Meski merasa konyol, Joon Ha baik hati mau menerima pinjaman jam tangan ajaib itu.
Sampai suatu saat, Kim Hye Ja datang meminta kembali jam tangan itu untuk memutar waktu di mana ayah Hye Ja masih hidup. Bingung?
malam sebelum kejadian nahas itu…
Suatu pagi saat Hye Ja lagi goler-goleran, ayah Hye Ja berangkat kerja. Ayah Hye Ja berprofesi sebagai supir taksi. Nah, di hari naas itu, ayah Hye Ja tabrakan dan meninggal. Hye Ja yang sayang banget sama ayahnya, berusaha memutar waktu di mana Hye Ja bisa mencegah kepergian ayahnya.
Seberapa kali Hye Ja berusaha, ayahnya tetap kecelakaan dan meninggal. Ketika dia terbangun, Hye Ja berubah menjadi nenek tua, yang berusia 70 tahun. Dia nggak terima dengan keadaannya yang menua. Dia berusaha keras untuk bisa kembali ke waktu di mana dia berusia 25 tahun.
pas muncul sebagai “tamu” di vlog-nya Lee Min Soo oppa
Sebenernya banyak adegan lucu, kayak dia berusaha bertingkah kayak Hye Ja usia 25 tahun di depan Joon Ha. Berusaha deketin Joon Ha sampai kayak jadi stalker gitu. Sampai akhirnya dia belajar menerima keadaannya yang menua mendadak itu.
Selagi dia “berdamai” dengan menjadi tua ini, dia tetap main sama kedua sahabatnya, tetep “deketin” Joon Ha juga berinteraksi sama temen-temennya di klub khusus lansia.
Sampai akhir cerita, Hye Ja tua nggak pernah bisa berubah lagi menjadi Hye Ja muda berusia 25 tahun….
Kesan saya….
Bingung sama plot ceritanya yang terus terang jedak jeduk ga karuan sampai episode 10. Meski saya dibuat bingung, saya nggak sempat bertanya-tanya ini cerita apa. Berhubung saya nontonnya di Viki Rakuten (apps), ada aja komentar yang terbaca. Hihi. Kayaknya mereka senasib dengan saya: sama-sama nggak ngerti. Bedanya, mereka sempat meluangkan waktu untuk ngetik komen, saya nggak.
Saya lagi belajar menikmati ceritanya aja walau apa yang saya harapkan nggak kejadian di cerita ini. Dibilang genrenya romance, ada. Tapi bukan tipikal cerita romance yang biasa kita temukan di drakor pada umumnya.
Linda udah pernah ngingetin saya soal nonton drakor ini. Dia nanya, “kenapa nonton ini? I warn you, drama ini bikin depresi.”
Iyes. Drama ini depressing banget. Tapi karena ceritanya bikin bingung, saya jadi ga bisa berhenti buat terus menyelesaikan nonton cerita ini. Karena pindah-pindah waktunya pas di awal ngebingungin. Dan cerita ini bisa dibilang nggak happy ending sama sekali.
Lalu apa yang membuat saya bertahan nonton ini selain karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya? YA TENTU SAJA! NAM JOO HYUK penyebabnya! Jadi terus terang, saya tertarik nonton ini gara-gara poster filmnya di Viki Rakuten yang saya pikir bakalan kocak gimana gitu. Hahaha. Maaf spoiler.
See? Siapa yang tahan sama godaan ini?
Tapi ceritanya beneran bagus. Especially karena cerita ini mengangkat suatu sisi menjadi manula. Apa yang mereka rasakan, baik secara fisik maupun mental. Kita semua, akan menjadi tua. Dan kita semua, lahir dari orang tua kita. Buat yang masih punya orang tua dan mereka mulai sepuh, drakor ini bisa jadi referensi bagaimana menghadapi orang tua kita. Terutama memahami perasaan mereka.
Film ini “speak up” rasanya menjadi manula itu gimana. Kayak langkah kaki yang mulai tersendat. Sendi-sendi yang mudah terasa sakit. Nafsu makan yang mulai berkurang. Jiwa yang “terpenjara” tubuh renta. Belum lagi ingatan campur aduk akibat dementia.
Huhuhu… kayaknya kalo mental saya lagi drop, saya ga bakalan berhenti nangis sepanjang nonton drakor ini, deh. “Untung”nya saya nonton pas keadaan saya baik-baik saja. Jadi walau depressing, saya masih bisa melaluinya dengan baik. Plot twistnya gila. Ini penulisnya edan banget sih menurut saya. Dan… akting para aktornya… Badass!
Drama ini nggak sepenuhnya depressing, sih, karena kebetulan ada Lee Min Soo oppa yang tingkahnya menyebalkan sekaligus kocak.
salah satu kelakuan si oppa… menikah settingan… hahaha…
Saya kasih rating 10 dari 10. Saya berharap cerita cinta cheesy, it turned out to be depressing fantasy story with amazing plot. Bikin kaget terus!
Kalo penasaran nonton aja sendiri, but I warn you. It’s a depressing drama.
Informasi tambahan… Drama ini mendapat award berupa…
55th Baeksang Arts Award Grand Prize in TV (Mbah uti Kim Hye Ja jadi pemenangnya)
55th Baeksang Arts Award for Best Supporting Actress in TV (tante Lee Jung-Eun yang dapat award-nya)
Film: COCO || Director: Lee Unkrich, Adrian Molina (co-director) || Writer: Lee Unkrich (original story by), Jason Katz (original story by), Adrian Molina (co-director), Matthew Aldrich (original story by), Adrian Molina (screenplay by), Matthew Aldrich (screenplay by) || Cast: Anthony Gonzalez, Gael García Bernal, Benjamin Bratt, Alanna Ubach, Renee Victor, Jaime Camil, Alfonso Arau, Herbert Siguenza, Gabriel Iglesias, Lombardo Boyar, Ana Ofelia Murguía, Natalia Cordova-Buckley, Selene Luna, Edward James Olmos, Sofía Espinosa, Carla Medina, Dyana Ortelli, Luis Valdez, Blanca Araceli, Salvador Reyes, Cheech Marin, Octavio Solis, John Ratzenberger || Production: Disney Pixar || Music by: Michael Giacchino (original score composed by) || Release Date: 24 November 2017 (Indonesia) || Language: English || Country: Mexico
Rating saya: 10/10
Sinopsis:
Despite his family’s generations-old ban on music, young Miguel dreams of becoming an accomplished musician like his idol Ernesto de la Cruz. Desperate to prove his talent, Miguel finds himself in the stunning and colorful Land of the Dead. After meeting a charming trickster named Héctor, the two new friends embark on an extraordinary journey to unlock the real story behind Miguel’s family history.
Plot:
Adegan dibuka dengan kisah yang dituturkan Miguel mengenai kisah cinta Mamá Imelda dengan seorang pemusik (yang tidak pernah disebutkan namanya) dan pernikahan mereka memberikan seorang anak perempuan bernama Coco. Mereka hidup sangat berbahagia, hingga suatu waktu, papa Coco pergi untuk melanjutkan karir musiknya dan tidak pernah kembali.
Mamá Imelda merasa sangat terpukul, kemudian memutuskan untuk bangkit dengan membuang segala hal yang berhubungan dengan musik dan bekerja sebagai pembuat sepatu. Mamá Imelda punya usaha sepatu turun temurun. Miguel adalah cicit Coco. Berarti hubungan Miguel sama Mamá Imelda apa, ya? Janggawareng gitu? Hohoho…
Mungkin karena Miguel ini keturunan Coco, yang punya papa pemusik, darah pemusik mengalir deras di tubuh Miguel. Walaupun musik diban di rumah itu, Miguel tidak menyerah. Miguel punya secret sanctuary di loteng rumahnya, tempatnya belajar gitar dan menyanyi. Idola Miguel saat itu adalah Ernesto de La Cruz, penyanyi legendaris yang meninggal tertimpa lonceng besar ketika perform.
Di kesehariannya, Miguel punya pekerjaan yang nggak jauh-jauh dari sepatu ~ jadi penyemir sepatu. Suatu ketika, Miguel bekerja di alun-alun, menyemir sepatu seorang pemusik yang sedang memainkan gitar. Saat itu juga dia tahu, bahwa ada kontes bakat musik, yang Miguel pikir, kalo dia ikut dan menang kontes itu, musik nggak akan diban lagi sama keluarganya.
Sayangnya, pas lagi nyoba main gitar punya pemusik jalanan yang disemirin sepatunya oleh Miguel, Abuelita (nenek Miguel) tahu dan langsung marah. Gitar pemusik jalanan itupun dirusak, Miguel dikurung di rumahnya. Ketahuan juga sanctuary rahasia Miguel. Gitar kesayangan Miguel dihancurkan dan ini membuat Miguel marah besar.
Adegan bergulir ke hari peringatan kematian. Ketika Miguel menghampiri altar, dia menemukan foto Mamá Imelda, Coco kecil di pangkuan Mamá Imelda, dan ada seorang lelaki di samping mereka berdua, bagian kepalanya disobek. Pas Miguel perhatiin gitar laki-laki di samping kedua perempuan itu, gitarnya sama persis kayak gitar Ernesto de La Cruz.
Miguel langsung menduga bahwa lelaki itu adalah Ernesto de La Cruz. Dia adalah cucu Ernesto de La Cruz, seorang penyanyi legendaris pujaan banyak orang.
Ketika seharusnya datang ke makam leluhurnya di hari peringatan kematian, Miguel malah kabur ke altar Ernesto de La Cruz lalu ngambil gitar sang legendaris yang terawat dan dipasang di altar khusus itu.
Sewaktu dia berhasil ambil gitar itu, Miguel malah masuk ke dunia arwah. Dan bertemu dengan leluhurnya. Salah satunya Mamá Imelda yang nggak bisa masuk ke kota arwah, karena fotonya nggak terpasang di altar. Ini bikin Mamá Imelda marah, pas ketemu dengan Miguel, ngejar-ngejar Miguel.
Miguel masih punya hasrat pengen ketemu dengan Ernesto de La Cruz. Sewaktu dia masuk ke dunia arwah, dia malah nyari di mana exactly tempat Ernesto de La Cruz. Pencarian ini membuat dia ketemu Héctor, yang ternyata pernah kerja bareng Ernesto. Dan Héctor juga yang ngasih cara buat ketemu Ernesto. Salah satunya adalah harus ikut kontes di festival, yang kalo jadi juaranya, bakalan perform bareng Ernesto di konsernya.
Jelas, Miguel seneng banget buat ngisi kesempatan itu. Di sisi lain, dia dikejar-kejar nenek moyangnya, di sisi lain dia pengen tampil biar bisa ketemu Ernesto. Walau akhirnya, pertemuannya dengan Ernesto nggak seindah yang dibayangin dan Miguel malah akhirnya ketemu sama papa Coco.
Kesan Saya:
Pertama kali lihat trailernya di Disney Channel setahun lalu, cuma mikir, “kayaknya harus nonton sama Zaidan”, lebih karena film itu film 3D buatan Disney. Saya pengen kasih Zaidan pengalaman menonton, untuk bantu dia mengembangkan imajinasinya. Minimal, pengen tahu reaksinya saat menonton adegan tertentu. Either dia mau cerita ulang atau mereka ulang kejadiannya. Atau cuma tertawa.
Saya sampai lupa kalo ada film ini, hingga suatu ketika, Pakde Iwan cerita kalo dia baper sama film Coco.
Akhirnya tiba waktu yang ditakdirkan Allah buat nonton film ini sama Zaidan, sesuai keinginan yang terbesit di waktu pertama kali lihat trailernya.
Film yang dibuka dengan mini film Olaf – Frozen Adventure, sempet bikin Zaidan nggak sabar buat segera nonton Coco. Jadi, karena fokus Zaidan adalah mau nonton Coco, di sepanjang tayangan film Olaf, dia terus-terusan nagih Coco ke saya. Dia udah nonton trailer Coco, jadi nggak sabar pengen segera ketemu Coco.
Sayangnya nih, Coco nggak terlalu banyak tampil. Jadi, untuk Zaidan yang belum cepet nangkep percakapan, selalu mengira bahwa Miguel adalah Coco. Padahal, Coco itu ya nenek buyut Miguel. Sementara tokoh utamanya adalah Miguel. Perlu waktu cukup lama bagi saya untuk menjelaskan bahwa Miguel bukan Coco dan Coco bukan Miguel.
Overall, pesannya bagus banget. Miguel tipikal anak pada umumnya, yang pasti pengen memberontak ketika dia merasa usahanya untuk mencapai cita-citanya dihalangi oleh keluarganya untuk alasan yang sama sekali nggak bisa dia pahami. Selayaknya anak-anak yang suka pengen buktiin bahwa dia bener dan keluarganya salah, dia kabur dan seterusnya.
Walau pada akhirnya, dia menyadari, bahwa keluarganya “mengikatnya” untuk alasan bahwa mereka sayang padanya dan takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Adegan yang bikin saya meleleh adalah waktu Miguel nyanyi lagu yang sering dinyanyiin papa Coco pas Mama Coco masih kecil. Adegannya menyentuh banget. Zaidan kaget lihat linangan air mata di muka saya, dia sibuk ngelapin. Hihi…
Yang jelas sih, adegan itu bikin saya langsung unduh lagu Remember Me di iTunes.
Pengennya sih spoiler penuh, apalagi filmnya udah nggak tayang di bioskop sini. Tapi, sayang juga kalo pada nggak nonton. Karena ini film bagus banget nget nget. Selain faktor judul film, yang lain saya suka banget.
Oya, pas adegan ini, dari mulut Zaidan terdengar, “waaah… bajus, ya, bun…” dengan mata berbinar
Baiklah. Saya nggak punya kata-kata lagi buat bilangin gimana saya pengen nonton Coco berulang-ulang kali lagi. Someday kalo udah keluar versi DVD-nya, saya harus beli.
A coming of age story that follows five young university who form a circle of friends. Tamotsu and Osamu (Kimura) fall in love with Narumi, who prefers Tamotsu. In order not to hurt each other as friends, both young men try to avoid forming a relationship with Narumi which inadvertedly leads to tragedy among the friends. After the accidental death of Junichiro, the friends leave university for various reasons leaving Narumi to continue and finish her studies. A few years later they all meet again to be surprised by a few secrets that are revealed.
Plot:
Di hari pertama ujian masuk Universitas, isi pensil mekanik Sonoda Narumi (Ishida Hikari) hilang pas jatuh. Padahal isi pensilnya patah dan dia belum kelar ngerjain ujian. Panik, dia heboh bongkar tasnya. Di tengah kebingungannya itu, tau-tau ada seorang cowok yang naruh pensil di mejanya sambil berlalu buat ngumpulin kertas ujiannya. Narumi cuma ingat cowok itu dari samping dan terus jadi misteri sampai akhirnya Narumi masuk ke sebuah ruangan berisi beberapa orang yang sedang mendengarkan alunan musik klasik yang dimainkan oleh Matsuoka, setelah Narumi resmi jadi mahasiswa di sana. Mendadak sebuah klub didirikan, yang dinamakan Asunaro Hakusho, terdiri dari mereka berlima: Narumi, Kakei, Toride, Seika, dan Matsuoka.
Lelaki yang meminjamkan pensilnya itu ternyata bernama Tamotsu Kakei, jurusan Arsitektur. Di saat yang sama, Osamu Toride (Kimura Takuya) naksir berat Narumi. Pas nembak Narumi dan ditolak, Toride menyarankan Narumi untuk menyatakan perasaannya pada Kakei, walau Kakei sebenernya punya pacar.
Toride tetap berusaha jadi teman Narumi walau harus menyaksikan Narumi dan Kakei mesra banget di depan mereka (di depan teman-teman klub Asunaro Hakusho).
Sampai suatu ketika, Kakei ketahuan bobo sama seorang perempuan lebih tua, dengan alasan kasihan sama perempuan itu. Perempuan itu dan Kakei sama-sama punya status anak tanpa ayah. Hal ini bikin Narumi sulit untuk menganggap nggak pernah ada masalah, dan akhirnya mereka pun putus.
Sebenernya mereka berusaha untuk balikan lagi, tapi suatu malam Natal, ketika Narumi ingin kasih kesempatan kedua pada Kakei, dia titip surat lewat Matsuoka, yang nggak disampaikan ke Kakei. Karena Matsuoka naksir Kakei. Hihi. Sampai tengah malem Narumi nungguin Kakei nggak juga muncul, di sudut tempat Narumi nungguin Kakei, ada Toride yang “nemenin” Narumi dari jauh.
Ketika sadar bahwa Kakei nggak akan pernah datang, akhirnya Narumi memutuskan untuk pindah ke hati Toride.
Ternyata, Narumi emang nggak bisa punya perasaan lebih ke Toride. Meski mereka kemudian resmi pacaran, Narumi keliatan banget nggak bahagia.
Kesan saya:
Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita mencintai orang itu secara keseluruhan. Bukan hanya karena dia ganteng/cantik atau penampilannya keren. Bukan semata-mata karena dia look smart. Kalo pun dia punya itu, kita juga mencintai kedodolannya. Semua orang punya flaw. Seringnya, kita shock saat tahu kekurangan orang yang kita cintai, tapi kemudian kita bisa nerima pada akhirnya, karena cinta itu isinya paketan rasa sayang, suka, sekaligus berkomitmen menerima segala kekurangannya.
Kayak gimana Toride tau banget kekurangan Narumi, tapi dia nggak berhenti mencintai Narumi. Begitu juga ketika Kakei melakukan kebodohan. Meski mereka sempet break up dan usaha untuk berbaikan begitu menemui banyak kendala, Narumi menyadari bahwa hatinya nggak bisa ke mana-mana lagi.
Love can make us tired, sometimes. Tapi bukan cinta namanya, kalo nggak butuh perjuangan. Haelah! Hahaha…
Jadi, sebagai pejuang cinta, kita nggak boleh cuma mencintai kelebihan orang yang kita cintai, melainkan juga bisa menolerir kekurangan-kekurangannya.
Bokap pernah kasih advice ke saya gini, “kamu sama Fahmi (Pa Il, maksudnya) punya kelebihan dan kekurangan. Kekurangan kamu dilengkapi oleh kelebihan Fahmi, kekurangan Fahmi dilengkapi oleh kelebihan kamu”. Well, selama itu bukan masalah berat badan (ups!) sepertinya memang seperti itulah jalan semua pasangan. Saling nerima kedodolan satu sama lain. Sebab, mencintai kelebihan satu sama lain mah udah pasti mutlak.
Ah, iya! Sontrek film ini tuh, beuh! Udah mau 24 taun aja masih merajai playlist saya!
Drama: On the Way to the Airport || Revised Romanization: Gonghang Ganeun Gil || Director: Kim Cheol-Kyu || Writer: Lee Sook-Yun || Cast: Kim Ha-Neul, Lee Sang-Yoon, Shin Sung-Rok, Choi Yeo-Jin, Jang Hee-Jin, Lee Young-Ran, Kim Hwan-Hee, Ye Soo-Jung, Son Jong-Hak, Choi Song-Hyun, Kim Sung-Hoon, Kim Tae-Hyung, Park Sun-Im, Na Hye-Jin, Choi Seo-Yeon, Jung Yeon-Joo, Lee Jung-Hyuk, Park Se-Yeon, Kim Kwon, Oh Ji-Hye, Ha Jae-Suk, Jo Kyung-Sook, Kim Sa-Hee, Song Yoo-Hyun, Jay, Kim Min-Sang || Network: KBS2 || Release Date: 21 September 2016 – 10 November 2016 || Episode: 16 || Language: Korean || Country: South Korea
Rating saya: 10/10
Plot:
Choi Soo-A (Kim Ha-Neul) works as an assistant purser at an airline. She has been working there for 12 years. Her husband is a pilot and they have a 12-years-old daughter. Choi Soo-A thinks she is content with her life, but she meets Seo Do-Woo (Lee Sang-Yoon). Her life changes. Seo Do-Woo works as a part-time instructor in architecture. He has a bright and warm heart. He is married and they have a daughter, but a shocking incident occurs. Due to this, he becomes confused and Choi Soo-A comes into his life.
Ceritanya….
Setelah insiden yang menimpa Seo Eun Woo atau Annie (roommate Park Hye Eun, putri Choi Soo Ah dan Park Jin Seok, di Malaysia), Choi Soo Ah malah jadi sering ketemu dengan Seo Do Woo, ayah Annie. Awalnya karena Kim Hye Won, ibu kandung Annie, meminta Marie, perawat Annie dan Park Hye Eun di homestay mereka di Malaysia, untuk membuang semua barang-barang milik Annie yang ada di Malaysia. Sementara Seo Do Woo ingin mengumpulkan setiap benda milik Annie.
Choi Soo Ah yang merasa berhutang budi pada Seo Doo Woo karena telah membantunya menyelesaikan urusan transkrip nilai Park Hye Eun padahal tengah berduka, membantu Marie mengepak barang Annie dan memberikannya pada Seo Doo Woo. Ketika melihat perlakuan Choi Soo Ah pada abu jenazah Annie, Seo Doo Woo merasa menemukan tempat nyaman di diri Choi Soo Ah. Sebaliknya, Choi Soo Ah yang agak disia-siakan oleh Park Jin Seok juga merasa menemukan tempat nyaman di diri Seo Doo Woo.
Makin lama, mereka makin merasa membutuhkan satu sama lain. Apalagi, Choi Soo Ah adalah orang terakhir yang memberikan makanan yang sangat disuka Eun Goo, ibu Seo Doo Woo, menjelang kematiannya. Ibu Seo Doo Woo bahkan menulis wasiat untuk putranya, dengan menulis nama Choi Soo Ah sebagai kurir surat wasiat itu.
Choi Soo Ah sempat memberlakukan 3 NOs untuk hubungan mereka: not wanting, touching, or leaving. Tapi, pada akhirnya, mereka pecah satu-satu. Terutama di no touchingnya. Hihi. Ada adegan kissu, tapi cuma sekali 😀 Eh, dua kali, sih. Sama dua orang berbeda 😀
Oya, cerita sempet panas, sewaktu Song Mi Jin tugas bareng Park Jin Seok ke Sidney dan mereka ketemu sama Kim Hye Won. Karena Mi Jin takut terendus urusan Soo Do Woo dan Choi Shoo Ah, dia merelakan dirinya digosipin anak buahnya, salah satunya menghabiskan waktu semalam di kamar Park Jin Seok. Bukan buat bobo bareng, kok, mereka ngobrol semalam suntuk doang. Park Jin Seok dan Song Mi Jin pernah pacaran dan hidup bersama sebelum akhirnya Park Jin Seok menikahi sahabat Song Mi Jin, ini yang bikin semua pramugari yang satu tim dengan mereka jadi hawt-hawt gimana gitu… 😀 Sampai Mi Jin diperintahkan buat minta maaf ke Soo Ah.
Kesan Saya…
Hmmm… gimana ya… Dorama ini sukses berat bikin saya baper, terutama karena chemistry seluruh pemainnya oke banget. Seperti biasa, Lee Sang Yoon selalu all out kalo main perasaan. Haha. Makin suka, deh 😛
Sebenernya yang bikin agak terlalu fiktif itu karena selalu kayak ada kebetulan. Tapi, dorama ini titik beratnya ada di “fate”. Semacam, lo mau lari ke mana juga, kalo emang takdirnya ketemu ya bakalan ketemu. Lo udah berusaha berhenti, kalo takdirnya emang harus jalan, somehow, akan jalan, apa pun keadaan dan jalannya. Dan ketika udah sepakat jalan bareng, pasti ada hambatan atau rintangan dan bakalan terasa sangat berat.
Kebetulan yang agak dipaksakan itu, misalnya, pas Seo Doo Woo lagi naruh abu jenazah Annie di pemakaman. Dia berbisik, kalo dia ga punya foto terbaru Annie. Di saat yang sama, Choi Soo Ah lagi beberes koper Park Hyo Eun, nemu foto-foto Annie, lalu dipotret dan dikirim ke Seo Doo Woo. Tapi emang, Seo Doo Woo nanya, sih, “kamu bisa lihat aku dari sana, ya? Kamu baru aja ngirimin sesuatu yang aku perlukan”.
Trus, pas Choi Soo Ah dan Park Hye Eun kabur ke Jeju do. Choi Soo Ah sempet motret satu rumah, yang emang unik dan natural banget, yang konon, ketika liyat rumah itu dan sekitarnya, rasanya Seo Doo Woo banget. Nggak disangka, Seo Doo Woo malah ada di pulau yang sama dan nempatin rumah itu. Hihi.
Tapi yah, entah kenapa, semuanya jadi termaafkan gitu. Karena walau emang terlalu banyak kebetulan, nggak sedikit juga kok, kejadian yang emang karena dicari. Misalnya, pas Seo Doo Woo kangen banget sama Choi Soo Ah dan pengen ketemu banget, pas Choi Soo Ah mesti terbang ke Cebu, Seo Doo Woo sengaja beli tiket pesawat ke Cebu, cuma demi ngeliat Choi Soo Ah di pesawat. Begitu juga Choi Soo Ah sengaja datang ke rumah ibu Seo Doo Woo, sambil dia ga tau kalo itu ibu Seo Doo Woo dan mereka bertemu di sana.
Saya yakin, yang nonton dorama ini pasti akan menyimpulkan satu hal aja untuk cerita ini. Selingkuh. Yah, emang bener sih. Tapi, toh, pas masing-masing pisah sama pasangannya, bukan karena faktor selingkuh itu. Seo Doo Woo kecewa berat karena selama ini dia dibohongi istrinya, Kim Hye Won, plus Park Jin Seok selalu seenaknya aja terhadap istrinya. Lama-lama kan Choi Soo Ah capek juga. Jadi intinya, pas mereka pisah, bukan karena selingkuhannya. Emang karena mereka punya masalah masing-masing.
Oke, saya ga mau bahas soal selingkuhnya ini lebih lanjut, soalnya saya mau komentar yang lain. Yang bikin saya betah nonton ini, selain faktor Lee Sang Yoon yang bikin drooling ini, saya suka faktor lain, di antaranya:
Tentang dunia aviasi, dari sudut pramugari. Walau ga terlalu banyak diceritain tentang dunia aviasinya, macam cerita Good Luck, tapi tetep aja: melibatkan pesawat terbang dan pilot 😀 Yah, walau sebenernya ini lebih ke cerita personilnya, bukan cerita dunia aviasinya
Tentang pomegranate alias delima, eh, dilema ibu bekerja. Tau banget rasanya ada di posisi Choi Soo Ah ini
View di banyak tempat yang kayak emang sengaaja ditonjolkan di cerita ini. Misalnya, salah satu view kota Seoul dari ruang kerja Seo Doo Woo. Atau view Sungai Hang. View Jeju Do. View jembatan yang mirip dengan jembatan di Sungai Han di Malaysia. Dan masih banyak lagi yang emang kayak dipromosiin gitu. SUKA BANGET!
Make up pemain. Ini penting banget, karena Lee Sang Yoon juga Kim Ha Neul dan seluruh pemain lain bedakannya rapi. Saya selalu keganggu sama alis yang ga normal. Alhamdulillaah, semua pemain dimake up natural banget dan alisnya ga dipermak aneh-aneh. Warna rambut juga ga ada yang lebay, jadi suka ama kesederhanaan mereka. Baju yang dipake Lee Sang Yoon juga malah ada yang kusut begitu XD Di sini, Lee Sang Yoon jauh lebih normal cakepnya ketimbang pas dia main di Angel Eyes, mirip-mirip pas dia main di My Daughter Seo Young, lah. Ga lebay make upnya.
Banyak kalimat yang dipake berupa kalimat kiasan. Puitis gimana gitu sih, kesannya. SUKA BANGET!
Jalan ceritanya alami banget, jadi kayak lagi ngeliat kehidupan nyata beberapa orang di dalam cerita itu.
Suka dengan kasih sayang keluarga Seo Doo Woo ke mendiang Seo Eun Woo, juga gimana Park Hye Eun disayang banyak orang di sekitarnya
Ceritanya sendiri nggak membosankan, walau ada banyak adegan yang sering direwind. Kenapa? Soalnya, kita kayak ikut nebak teka-teki misteri Annie dan ayahnya 😀
Hmm.. oya, di cerita ini, ada craft sebagai salah satu elemen cerita. Bikin suka banget. Dan jadi pengen mulai main quilting… *eh gimana
Yang paling penting, walau cuma beberapa detik, Lee Sang Yoon main basket bentar. Dan keren seperti seharusnya. Hahah.
Ratingnya konon lumayan gede mulai episode 4. Emang mulai panas, sih.. hihi… Sejak episode satu, bintang dari saya sepuluh dari sepuluh 😀
Drama: Angel Eyes || Revised Romanization: Enjelaizeu || Director: Choi Mun-Seok, Park Shin-Woo || Writer: Yoon Ji-Ryeon || Cast: Goo Hye-Sun, Lee Sang-Yoon, Kim Ji-Suk, Jung Jin-Young, Jung Ae-Ri, Kong Hyung-Jin, Seung-Ri, Hyun Jyu-Ni, Kim Yeo-Jin, Seo Tae-Hwa, Kim Ho-Chang, Seo Dong-Won, Park Jin-Joo, Lee Seung-Hyeong, Lim Seung-Dae, Kwon Hae-Hyo, Kim Seung-Wook, Sung Chang-Hoon, Lee Ha-Yul, Yoon Ye-Joo, Shin Young-Jin, Jung Ji-Hoon, Nam Ji-Hyun, Kang Ha-Neul, Shin Hye-Sun || Network: SBS || Release Date: 5 April 2014 – 15 Juni 2014 || Episode: 20 || Language: Korean || Country: South Korea
Rating saya: 9/10
Plot
Park Dong-Joo is a surgeon. His first love was a blind girl. Yoon Soo-Wan is an emergency 119 worker. She was blind when she was younger, but an eye transplant surgery allowed her to see.
Park Dong-Joo and Yoon Soo-Wan were each other’s first love. They separated due to sad family histories. They meet again 12 years later.
Cerita
Park Dong Joo kerap bantuin ibunya mengantar susu kedelai homemade ke rumah-rumah pelanggan menjelang Subuh. Satu dari salah satu pelanggan itu adalah rumah dengan penghuni yang punya anak gadis buta bernama Yoon Soo Wan. Menjelang Subuh, Yoon Soo Wan sering ngoceh di balkon rumahnya, ngafalin materi buat di teropong bintang, karena dia suka jadi narator di teropong bintang. Park Dong Joo nggak tahu kalo Yoon Soo Wan buta awalnya. Begitu dia tahu, segala dilakukannya buat Yoon Soo Wan.
Suatu ketika, kecelakaan tragis menimpa ibu Park Dong Joo. Ibu Park Dong Joo menjadi korban tabrak lari, pelakunya adalah Kang Ji Woon. Jadi rumit, setelah diketahui kalo ibu Park Dong Joo adalah salah satu donatur mata untuk Yoon Soo Wan. Ada dua orang yang punya kepentingan di sini dan mereka sama-sama dokter. Ibu Kang Ji Woon ingin membebaskan anaknya dari hukuman seandainya ibu Park Dong Joo masih hidup dan bersaksi, sementara ayah Yoon Soo Wan, pengen anaknya segera bisa melihat.
Setelah Yoon Soo Wan bisa melihat, justru Park Dong Joo harus pergi ke Amerika, tinggal bersama bibinya.
Dua belas tahun kemudian, Park Dong Joo yang udah jadi dokter spesialis bedah balik ke Korea, selain emang kangen kampung halamannya, juga mau cari Yoon Soo Wan. Siapa tau, dia masih nunggu 😀
Terus ya mereka ketemu. Semudah itu? Ternyata nggak. Soalnya sebenernya Yoon Soo Wan udah tunangan dengan Kang Ji Woon. Jadi dia keder sendiri pas akhirnya ketemu Park Dong Joo. Gitu. Hahaha. Lebih ngeselin lagi, pas tau, kalo bokap kandungnya sendiri ikut andil dalam kematian ibu Park Dong Joo.
Kesan saya:
Njelimet sih, emang.
Saya sih tahan nonton ini karena awalnya ada faktor Kang Ha Neul yang main jadi Park Dong Joo muda, ditambah lagi pas udah dewasa, ternyata Lee Sang Yoon yang meranin. Gitu aja, sih.
Bikin baper? Iya. Heuheu.
Sebenernya yang bikin agak pusing itu karena emosi diaduk-aduk, plus make up mereka, uy. Plus saya agak keganggu sama kontak mata Yoon Soo Wan ke Park Dong Joo. Kan udah ga buta. Kok, matanya masih sering ga fokus sih, pas memandang Park Dong Joo? Plus, keganggu sama make up Yoon Soo Wan yang kurang natural. Potongan rambut Park Dong Joo juga agak kurang sesuai, plus bedaknya agak ketebelan. Udah sih itu aja. Suka juga sama adegan kissunya yang banyak. Heh! 😛
Sembilan dari sepuluh rating saya, untuk banyak faktor 😀
Hajime Shinkai (Takuya Kimura) adalah co-pilot yang baru saja lulus pelatihan pilot. Dia mulai mendapatkan tugas mendampingi pilot. Di hari pertamanya bertugas sebagai co-pilot, Shinkai sudah melakukan sebuah “kesalahan”. Kesalahan yang dilakukannya adalah melakukan pendaratan tidak sempurna, akibat ketidaksigapannya menjadi co-pilot tatkala pilot Mizushima (Iwaki Koichi) mendadak mengalami nyeri hebat di bagian punggungnya pada saat sudah waktunya melakukan pendaratan. Akibatnya, pendaratan yang dilakukan Shinkai tidak mulus. Usai pendaratan, Shinkai langsung dipanggil koordinator penerbangan, Kouda Kozuki (Tsutsumi Shinichi). Shinkai mendapatkan peringatan keras, antara lain, jika dia bermasalah dengan kesehatan dan fokus, sebaiknya berhenti saja menjadi pilot.
Shinkai tersinggung sekali dengan ucapan Kapten Kouda. Dia pun membenci Kouda dan menjuluki Kapten Koda sebagai “Cyborg”. Ditambah lagi, setelah pemanggilan itu, Kapten Pilot Mizushima mengundurkan diri sebagai pilot. Kebayang kan tambah kesel.
Pada saat Shinkai akan melakukan penerbangan bersama Kapten Pilot Naiko Jane (Naoto Takenaka), Shinkai melakukan inspeksi di area mesin untuk memastikan pesawat mereka sudah siap terbang. Di bagian blower, Shinkai menemukan sehelai bulu burung. Shinkai kemudian meminta pengecekan ulang kepada mekanik yang sedang bertugas saat itu. Mereka adalah Ayumi Ogawa (Kou Shibasaki) dan Takayuki Abe (Jun Kaname).
Ayumi yang merasa sudah melakukan pengecekan keseluruhan, marah pada Shinkai. Tapi Abe sebagai supervisor Ayumi, menyatakan akan melakukan pengecekan ulang. Pilot Jane yang playboy sih malah negur Shinkai yang keras pada Ayumi. Ayumi Ogawa juga marah pada Shinkai karena dia telah menyaksikan pendaratan yang dilakukan Shinkai sebelumnya.
Ada hubungan kebencian antara Ayumi benci ke Shinkai, sementara Shinkai benci Kapten Kouda.
Ketika Shinkai mendapatkan skors selama sepekan karena dia sempat meninggalkan kokpit untuk menenangkan pesawat, ada pramugari senior Togashi Noriko (Hitomi Kuroki) yang berusaha menenangkan Shinkai dan menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Kapten Koda ada benarnya. Membawa pesawat bukan sekedar bersenang-senang. Ada banyak harapan yang tertumpu di pundak pilot ketika dia menerbangkan pesawat. Ada seorang ayah yang sedang pulang dari tugas, ingin segera bertemu keluarganya. Ada direktur yang sedang berusaha mendapatkan kontrak untuk kesejahteraan karyawannya. Ada seorang kekasih yang ditunggu kepulangannya. Dan seterusnya.
Ayah Shinkai, Shinkai Ryoji (Ikariya Chosuke) adalah seorang pelaut. Dia juga memberi petuah tentang apa yang dialaminya di lautan, ketika Shinkai pundung nggak mau jadi pilot lagi.
Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, Ayumi Ogawa dan Hajime Shinkai ini jadi punya romance. Kita juga pada akhirnya tahu bahwa yang menyebabkan Kapten Kouda begitu keras pada pilot adalah kecelakaan yang nyaris dialaminya. Dia terhindar dari sebuah kecelakaan pesawat terbang karena terserang flu. Namun dia merasa sangat bersalah hingga saat itu.
Nonton ini nggak pernah ada bosannya. Bahkan saya menjadikan dorama ini sebagai tontonan wajib setiap tahunnya. Paling nggak, tiap tahun saya mesti nonton ini minimal sekali. Dunia aviasi memang punya daya tarik tersendiri bagi saya, walau saya belum pernah melakukan banyak riset mengenai ini. Alasannya sih simple: takut menyesal nggak pernah berusaha menjajaki dunia ini ketika saya masih muda dulu. Plus memang Takuya Kimura adalah daya tarik tersendiri dari dorama ini :p
Romance yang ditampilkan nggak mlenye-mlenye dan panjang. Hajime Shinkai juga nggak romantis. Khas karakter yang diperankan Takuya Kimura sih emang (uhuk!). Pssst… Takuya Kimura adalah pria pertama yang membuat saya jatuh hati alias cinta pertama saya. Iya, pas saya puber saya “ketemu” Takuya Kimura dan gedebuk in lap untuk pertama kalinya pada pria. Informasi penting ini! Hahaha.
kalo lagi begini, mirip xx a.k.a mantan 😀
Selain romance dan dunia aviasi plus perjuangan Shinkai untuk recovery pasca patah kaki pas pelatihan keselamatan membuat drama ini penuh dengan semangat. Jangan lupakan juga tetangga sebelah apartemen Shinkai yang bikin seru walau kemunculannya sebentar-sebentar. Cewek Korea kawaii bernama Park Mi-Suk (Yoon Soon-Ha) ini aktingnya cakep. Walau dia cuma muncul dikit-dikit, tapi bikin gemes! Hihihi….
Keberadaan Kapten Pilot Jane playboy yang menyebalkan juga bikin dorama ini lebih hidup. Kisah pramugara Kentaro Ota (Yasunori Danta) juga lumayan menyentuh walau sedikit diceritakannya. Ada pramugari centil, Urara Fukaura (Rina Uchiyama) yang deketin Shinkai. Cerita pribadi Ayumi Ogawa juga lumayan menyentuh.
10 episode sebenernya kurang. Saya jadi kurang lama ngeliatin Kimutaku. Hihihi. Tapi sih, drama dia yang lain banyak. Yang jelas, di setiap episodenya semua rasa ada: tawa, senyum, haru, sedih… ada semua! Semua dikemas dalam satu episode rapi dan nggak dibiarkan menggantung. Jadi sedih aja sih pas harus pisah dengan mereka pas nonton episode terakhir… Walau tentu saja, saya pada akhirnya nonton ulang bolak balik. Hahahaha…
Selain kemasan ceritanya yang apik dan chemistry antar pemain yang keren, jangan lupa bahwa ini bicara soal penerbangan. Mungkin emang ada unsur promosi dari ANA, salah satu maskapai penerbangan di Jepang. Udah pasti pesawat yang muncul adalah ANA.
Oya, soundtracknya juara banget, nih! Keren! Salah satunya Departure. Aduuuuh! Saya pengen banget bisa main angklung lagu ini!
Di Youtube banyak versi orchestranya. Silakan liyat-liyat sendiri aja. Keywordnya: Departure – Good Luck dorama 😀
Sekian review cemen saya tentang Good Luck. Saya nggak pengen banyak numpahin sopiler, sayang kalo nggak pada nonton sendiri. Errrr… ke depannya kayaknya saya masih bakalan review dorama ketimbang film. Lagi ngedraft Inside Out, tapi kok belum kelar aja ya… T_T
Revised Romanization: Nae Ddal Seoyoungi ||Director: Yoo Hyun-Ki || Writer: Seo Hyon-Kyeong ||Cast: Lee Bo-Young, Lee Sang-Yoon, Cheon Ho-Jin, Park Hae-Jin, Choi Jung-Woo, Kim Hye-Ok, Park Jung-Ah, Lee Jung-Shin, Hong Yo-Seop, Song Ok-Suk, Choi Yoon-Young, Shim Hyung-Tak, Min Yeong-Won, Kwak Seung-Nam, Cho Eun-Sook, Jang Hee-Jin, Kim Min-Kyung ||Network: KBS2 ||Release Date: 15 September 2012 – 3 Maret 2013 ||Episode: 50
Lee Seo-Young (Lee Bo-Young) adalah seorang mahasiswi Fakultas Hukum yang juga bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya juga membantu biaya kuliah kembarannya, Lee Sang-Woo (Park Hae-Jin), di Fakultas Kedokteran. Ketika sedang melakukan pekerjaan paruh waktunya, Seo-Young mendapat kabar bahwa ibunya jatuh sakit. Karena panik, dia membawa motor milik Kang Woo-Jae (Lee Sang-Yoon) yang sedang parkir dengan manisnya di sebuah pinggir jalan, untuk mengantarnya ke bandara demi menemui sang ibu sebelum akhir hayatnya.
Woo-Jae adalah anak pertama konglomerat, Kang Ki-Beom, pemilik perusahaan WINNERS, yang sangat diharapkan akan meneruskan bisnis keluarganya. Namun karena dia ingin memberontak, Woo-Jae memilih pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya di dunia perfilman. Kepulangannya ke Korea diikuti oleh Jung Soon-Woo (Jang Hee-Jin) yang adalah sahabat Kang Mi-Gyung (Park Jung-Ah), adik perempuan Woo-Jae. Soon-Woo sangat menyukai Woo-Jae, bahkan dia melakukan “manuver” langsung mendekati kedua orangtua Woo-Jae, menginap di rumah mereka dengan alasan orangtuanya sedang berlibur ketika dia pulang ke Korea.
Kang Song-Jae (Lee Jung-Shin), putra bungsu Kang Ki-Beom, adalah anak SMA yang punya masalah dengan studinya. Ayahnya pusing dan mengancamnya jika dia tidak lulus SMA, dia akan dikirim ke militer. Untuk membuat Song-Jae mau belajar, Kang Ki-Beom memanggil guru privat untuk membantu Song-Jae belajar. Tidak ada satupun guru privat yang sanggup menghadapi Song-Jae. Hingga suatu ketika, Seo-Young melamar menjadi guru privat Song-Jae.
Di hari pertama kedatangan Seo-Young ke rumah keluarga Kang Ki-Beom, sudah diwarnai insiden: baju putih Seo-Young kecipratan genangan air dari mobil yang dikemudikan Woo-Jae ketika melintas. Cha Ji-Sun, istri Kang Ki-Beom, meminjamkan baju Mi-Gyung pada Seo-Young. Keesokan harinya, baju Seo-Young yang sudah dicuci diguntingi bagian bawahnya oleh Song-Jae, tapi Seo-Young tetap mengenakannya dan melanjutkan mengajar.
Sementara itu, karena motor kesayangannya hilang, Woo-Jae jadi kelimpungan. Pasalnya, motor itu hadiah dari mendiang kakeknya. Dan dia sudah sampai pada batas waktu yang diberikan ayahnya: antara mau kerja di WINNERS atau balik ke US. Dia minta tambah waktu lagi pada ayahnya untuk menemukan pencuri motornya terlebih dahulu sebelum balik ke US.
Bisa ketebak, sih. Setelah ketahuan kalo Seo-Young yang mencuri motor Woo-Jae, hidup Seo-Young dan Woo-Jae tidak sama lagi. Setelah sibuk menyudutkan Seo-Young walau sudah minta maaf, Woo-Jae menyadari bahwa dirinya mulai menyukai Seo-Young. Walau pencuri motornya sudah ketemu, Woo-Jae terus menerus minta waktu tambahan pada ayahnya untuk tinggal di Korea, hingga akhirnya dia memutuskan nggak jadi ke US dan mau gabung dengan perusahaan ayahnya, demi Lee Seo-Young.
Di sisi lain, berkat kegigihan Seo-Young menaklukkan Song-Jae demi bonus besar yang diberikan Kang Ki-Beom, nilai-nilai akademik Song-Jae mengalami peningkatan. Nggak hanya itu, perilaku Song-Jae pun berubah banyak. Selain menjadi tutor pelajaran sekolah, Seo-Young banyak memberi dukungan moril pada Song-Jae, hingga Song-Jae jatuh hati pada Seo-Young.
Woo-Jae sudah sampai puncaknya dalam menyukai Seo-Young, dia meminta Seo-Young menikahinya dan ikut dengannya ke US. Seo-Young yang berasal dari keluarga miskin, ibunya meninggal, ayahnya yang saat itu bekerja sebagai pemandu pengunjung wanita paruh baya di sebuah pub, merasa tidak layak bersanding dengan Woo-Jae. Dia juga sudah memperkirakan bahwa Cha Ji-Sun tidak akan menyetujui pernikahan mereka, maka dia menolak menikahi Woo-Jae. Karena sedih lamarannya ditolak, Woo-Jae balik ke US. Di situ, Seo-Young mulai merasakan bahwa hidupnya penuh ketika ada Woo-Jae.
Dasar sinetron, yak, Woo-Jae yang katanya ke US, tau-tau ada di kampus Seo-Young setelah beberapa bulan kemudian. Hihihi. Singkat cerita, Seo-Young mau hidup dengan Woo-Jae. Berbagai upaya dilakukan Woo-Jae untuk meyakinkan mamanya supaya merestui hubungannya dengan Seo-Young.
Ketika akhirnya Cha Ji-Sun merestui keduanya, Seo-Young merasa harus menutupi keberadaan keluarganya yang sebenarnya. Dia merasa cukup bahagia bersama Kang Woo-Jae dan tidak ingin kebahagiaannya berakhir. Maka ketika Cha Ji-Sun bertanya di mana ayahnya bekerja, Seo-Young menjawab bahwa dirinya tidak punya ayah. Dia juga bilang bahwa adik laki-lakinya sedang belajar di luar negeri.
Cerita terus bergulir pada pernikahan keduanya, yang sebelumnya ada konflik antara Seo Young dan kembarannya. Sang-Woo meminta Seo-Young untuk menganggapnya mati juga. Karena Seo-Young nggak punya tamu undangan, maka untuk undangan dari pihak Seo-Young, sekretaris Kang Ki-Beom bernama Yoon So-Mi (Choo Eun-Suk), menyewa orang-orang untuk berperan sebagai tamu undangan dengan bayaran tinggi. Salah satu tamu itu adalah Lee Sam-Jae, ayah Seo-Young.
Sementara itu, seorang gadis bernama Choi Ho-Jung (Choi Yoon-Young), jatuh hati pada Sang-Woo. Dia berusaha keras menarik perhatian Sang-Woo, tapi terus menerus ditolak Sang-Woo. Hingga akhirnya, Ho-Jung dikirim ke US untuk meneruskan sekolah musiknya oleh sang ibu. Sang-Woo menjadi residen di sebuah rumah sakit dan bertemu dengan Kang Mi-Gyung, sesama residen juga. Selama ini, Kang Mi-Gyung selalu mengakui bahwa dirinya yatim piatu, bukan anak perempuan satu-satunya pengusaha WINNERS. Mereka lalu pacaran, sampai akhirnya Sang-Woo mendapati fakta bahwa Mi-Gyung adalah adik Kang Woo-Jae, suami Lee Seo-Young, kembarannya. Tentu saja, Sang-Woo kemudian memutuskan hubungan mereka.
Selesai sampai di sini? Nggak. Masih panjang lagi ceritanya. Konfliknya masih banyak banget. Saya nggak sanggup cerita semuanya. Hahaha.
Ini adalah drama pertama terpanjang yang saya tonton seumur hidup. 50 episode, bow! 20 episode aja biasanya udah males pake banget. Saya tabah banget, ya, nontonnya. Walau butuh sekian bulan untuk nontonnya, sampai ganti tahun bahkan, tapi di tiga episode terakhir, saya nontonnya marahthon, sambil back-up data ke iCloud tadi malam. Kekekek. Sebetulnya saya sempat ganti nonton dorama lain dulu ketika bosan dengan konflik mereka.
Apa yang membuat saya bertahan nonton ini? Tentu saja faktor si ganteng Lee Sang-Yoon! Saya betah liyat dia lama-lama. Oya, Lee Jung-Shin juga jadi salah satu alasan saya mau menonton My Daughter Seo-Young ini.
Sebetulnya yang saya suka dari My Daughter Seo-Young bukan hanya faktor Lee Sang-Yoon atau Lee Jung-Shin semata. Dialog mereka punya makna dalam. Nontonnya sering bikin baper tapi juga bikin mikir.
Sekarang saya mau ngomong yang saya kurang sreg (boleh juga dibilang ketidaksukaan saya, SPOILER ALERT):
Ada pertanyaan yang nggak perlu dijawab: kenapa harus ke US? Apakah penulis cerita dan sutradaranya punya hubungan baik dengan negara Amerika? Atau punya obsesi terpendam? Jung Sun-Woo, Kang Woo-Jae, Choi Ho-Jong, bahkan Kang Mi-Gyung semuanya diceritakan ngerasain bersekolah di Amerika 😀
Paling garing sih, pas ada adegan (sebentar banget) Kang Mi-Gyung lagi di Amerika. Ceritanya dia lagi ada di dalam sebuah laboratorium bersama para bule, nelepon seniornya di rumah sakit di Korea, Choi Gyung-Ho (Shim Hyung-Tak). Yang bikin fail adalah: ada bendera Amerika segede gambreng yang tampil di salah satu dindingnya, buat mendetailkan bahwa Kang Mi-Gyung emang beneran ada di Amerika. Eaaaa! Ini fail banget dari seluruh cerita! Padahal tampilan lainnya udah manis dan lumayan. Rusak sama bendera Amerika itu. Huft!
Kalo nggak tahan sama konflik yang terus-terusan muncul, nonton ini jadi melelahkan. Udah klimaks-antiklimaks-klimaks-antiklimaks lagi. Terus aja gitu. Hahaha. Dan pemainnya banyak banget, semuanya saling berhubungan. Bikin susah berhenti nontonnya kadang-kadang.
Berbulan-bulan “hidup” bersama mereka membuat saya merasa ada chemistry dengan mereka. Jadi, pas menyadari saya sudah masuk ke episode 50, rasanya sedih mau berpisah dengan mereka. Husyah!
Karakter Lee Seo-Young digambarkan punya harga diri yang sangat tinggi dan mau berkorban demi saudara kembarnya. Karakter Kang Woo-Jae digambarkan sebagai pribadi yang kalo udah memberi titah, orang nggak punya pilihan lain selain nurut sama dia.
Saya selalu suka chemistry yang dimunculkan Lee Sang-Yoon dalam setiap perannya. Terus terang, karena saya nonton dia di dorama yang lain terlebih dahulu, ketika melihat dia berpasangan dengan Lee Bo-Young di dorama yang ini, saya agak cemburu. Hahaha.
Dorama ini nggak saya rekomendasikan buat kalian yang nggak suka drama dengan klimaks-antiklimaks-klimaks dan seterusnya. Endingnya garing, mengingat kita dihajar konflik yang nggak berkesudahan, trus pas bagian menutup cerita malah kerasa datar banget. Happy ending, sih. Beberapa adegan cerita penutup malah udah ketebak banget. Nggak ada twist yang mengejutkan juga. Tapi saya sukaaaaaaa, makanya rela kasih 4 bintang juga.
Salahin Sang-Yoon aja yang udah bikin saya tabah nonton ini! I love seeing him smiling, laughing, crying, in anger. Ah, dia ngapain aja saya suka! Walau si Odhiet bilang kalo Sang-Yoon oppa ini cakepnya biasa aja, saya mah sukaaaaaaaaaaaaaa! *keukeuh*
Bai de way, saya nemu foto ini. Dudududu…. Gemesin banget, yaaaa… Yang ngegendong dan digendongnya 😛
Demikianlah review pertama saya di The Flat Screen Stories ini. Terima kasih kepada My Daughter Seo Young karena dorama inilah, blog yang saya tujukan untuk review film dan drama yang saya tonton akhirnya lahir juga setelah diniatkan dari tahun lalu. Blog ini lahir hari ini karena saya ingin mengungkapkan keengganan saya “berpisah” dengan para cast, terutama Lee Sang-Yoon 😛
Info tambahan:
My Daughter Seo Young mendapat penghargaan berupa…
2013 2nd Daejeon Drama Festival – APAN Star Awards: Best Screenwriter (So Hyun Kyung)
2013 2nd Daejeon Drama Festival – APAN Star Awards: Top Excellence Actress (Lee Bo Young)
2013 6th Korea Drama Awards: Grand Prize/Daesang (Lee Bo Young)
2013 6th Korea Drama Awards: Best Drama
2013 8th Seoul International Drama Award: “Like Back Then” (My Daughter Seo Young OST – Melody Day)
2012 KBS Drama Award: Best Couple Award (Lee Sang Yoon and Lee Bo Young)
2012 20th Korean Culture Entertainment Awards: Drama Popularity Award (Lee Sang Yoon)