Membesarkan anak tanpa Kakek-Nenek
Salah satu kekhawatiran mengenai masalah ini adalah ketika berbincang dengan teman pada suatu hari, perbincangan tentang mudik kemana yang berujung dengan kalimat “Jadi anak2 udah ngga ada kakek-neneknya ya?” Well.. practically sih masih ada, karena Bapak menikah lagi, jadi masih ada Mama, atau ‘Uti’ panggilan HadrianAffa. Tapi sejak dulu nampaknya Mama tidak terlalu ingin ‘masuk’ ke dalam kehidupanku. Sejak aku hamil, mama sudah menyatakan bahwa mama tidak bisa membantu aku mengurus bayi, (yang menyebabkan aku diboyong ke rumah Mama Yus -Ibu Suami), padahal Mama Yus sendiri sudah bedrest, hihi. Well, long story short.. begitulah.
“Waduh, nanti kl disuruh bikin karangan berlibur ke rumah Kakek dan Nenek, ngga ada pengalamannya itu, jeng..”
Sebenarnya, kekhawatiran pertama aku bukanlah soal karangan yang tidak ada pengalaman. Tapi rasa kehilangan yang sudah muncul dipermukaan. Tempo hari ketika aku jalan pagi bersama Hadrian, ada temannya yang dari kejauhan mengenali mobil Aki-Nini-nya yang datang berkunjung, sang teman berlari sambil loncat2 kegirangan. Dan Hadrian menunjuk “Tuh, Ibu.. itu Aki-Nini-nya Taro datang..” “Iya, Taro senang ya..” “Senang, kalo ada Aki dan Nini itu senang”..
*nyess
Aku sendiri sejak lahir, tidak memiliki Kakek. Kakek hanya aku ‘miliki’ ketika Bapak menikah kembali, dan Mama saat itu masih memiliki orang tua yang lengkap. Itu puuun, tidak pernah sepenuhnya memiliki, karena mbah Kakung, tentu saja (walau mungkin cuma perasaan aja ya) lebih memfokuskan perhatiannya kepada adikku, yang lahir dari Mama.
Tentu saja, Hadrian Affa memiliki pasangan Engking, Enin, Oma, Opa, Kakek, Uti, dari sepupu2 ayah dan ibunya, mereka juga punya Uwa, Mommy, Om, Tante yang sayang kepada mereka, terutama tante Nez yang selama ini tinggal bersama kami di Pulo Gebang, sebelum kami pindah ke rumah kami sendiri. But, still it is not the same thing. Mereka juga sudah memiliki cucu-cucu dan anak-anak yang juga masih mereka urus dan membutuhkan perhatian mereka, aku dan suami tentu saja sangat sungkan untuk ‘ngrepotin’ mereka.
So, browsing2. bagaimana berdamai dengan perasaan ini.. salah satunya yang disarakan adalah ‘adopting grandparents’. Kurang lebih cari sosok pengganti, (duileee.. kl diminta cari pengganti, mending kita cari pengganti dari sodara sendiri dong… *dan dilema-nya berputar, hihihi). Langkah pertama, tentunya aku dan suami harus berdamai dulu dengan ‘kesungkanan’ kami. Hal ini penting, agar jangan sampai kami sendiri mengkompensasi kekurangan yang mereka miliki dalam bentuk kasih sayang yang berlebihan.
Tips yang kedua adalah dengan menghadirkan Kakek-Nenek mereka dalam bentuk cerita. So, inilah yang sedang aku coba lakukan, MENULIS. Aku kembali menulis di blog, karena aku ingin menuliskan cerita-cerita dan memori seputar kehidupan mereka, agar suatu saat mereka dapat membacanya sendiri…
Apakah ada yang memiliki pengalaman serupa dan ingin berbagi? π

