Makanan dan penganan murah meriah, sehatkah?
*Cerita semasa KP :D*
Saya baru saja kembali dari cafeteria, di kantor tempat saya melakukan kerja praktek untuk rentang waktu tertentu. Jam segini memang merupakan jadwal tetap saya untuk sekedar ngopi,sambil menatap padatnya lalu lintas kota Jakarta dari lantai 27. Lumayan, untuk melupakan sejenak kejenuhan karena tidak jelasnya apa yang saya musti kerjakan selanjutnya dalam kerja praktek ini.
Seperti biasa, hari ini para bapak-bapak itu kembali berkumpul,mengobrol sambil memegang cangkir kopi mereka masing-masing. Suara mereka cukup keras, sehingga saya pun bisa menyimak apa yang sedang mereka bicarakan. Tema mereka cukup menarik hari ini, mengenai makanan yang layak untuk dikonsumsi. Berikut saya ceritakan apa yang saya dengar, sekaligus dengan opini saya perihal tersebut.
Mungkin banyak dari kita yang mengkonsumsi hidangan-hidangan yang memuaskan selera di sekitar lingkungan kita. Seperti yang kita ketahui, kuliner Indonesia begitu kaya akan rasa. Ada gorengan, bakso, sate, siomay, batagor, mie ayam dan lain sebagainya. Penganan-penganan barusan dapat dengan mudah kita temukan di berbagai sudut kota. Selagi menunggu bis dari macetnya kota, para karyawan dan pekerja membeli sebungkus gorengan untuk sekedar cemilan. Selagi menunggu adzan magrib, anak-anak membeli semangkuk bakso untuk dinikmati hingga matahari terbenam. Begitu mudah dan murahnya (relatif) untuk kita mengenyangkan perut ini. Ini saya bandingkan ketika saya sempat tinggal di Jepang (cuma sebentar). Begitu susahnya disana mencari penganan kecil. Mana ada abang bakso atau mang gorengan yang dengan setia menemani hingga larut malam?.
Namun demikian, apakah pernah terpikir oleh kita, apa yang dikandung penganan yang sehari-harinya kita santap?. Tak sadarkah kita sudah menimbun racun yang terakumulasi hingga menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan kita nanti?. Dan percayakah kita bahwa sebenarnya kita diracuni oleh saudara sendiri?.
Berdasarkan investigasi dan reportase yang diberikan oleh beberapa tim jurnalistik, diketahui bahwa beberapa penganan mengandung berbagai macam bahan berbahaya yang bila dikonsumsi dapat berakibat buruk untuk kesehatan manusia. Tidak hanya itu,sering para pedagang (meski tidak semua) mencampurkan bahan-bahan yang tidak layak makan bahkan haram, untuk dijadikan sebagai aditif ataupun bahan utama untuk dagangan mereka. Bakso adalah penganan yang beberapa tahun lalu marak dibincangkan. Setelah ditelusuri banyak bakso yang dibuat tidak dengan daging sapi, namun dengan daging oplosan yang telah dicampurkan dengan bahan-bahan tidak layak makan, ntah itu bahan-bahan kimia ataupun bangkai/daging haram. Lalu, untuk menambah kerenyahan gorengan,para penjual memasukkan minyak goreng SEKALIGUS plastik kemasannya. Plastik yang jelas-jelas merupakan polimer dengan struktur kimia yang kuat dan sulit diuraikan oleh tanah sekalipun, dicampurkan sebagai perenyah penganan yang sering kita santap?. Berbagai jajanan anak-anak yang beraneka warna, disinyalir menggunakan pewarna pakaian untuk menarik perhatian para bocah. Tak hanya makanan saji, bahkan bahan-bahan makanan sudah sangat lumrah dioplos. Daging sapi dioplos dengan daging babi beberapa waktu lalu. Sulit dibedakan untuk orang awam, apalagi jikalau daging babi tersebut sudah diberi perlakuan tertentu sehingga dibuat serupa dengan daging sapi.

Ayam disuntik dengan zat kimia agar bertambah beratnya, sehingga minim gizi layaknya ayam-ayam normal. Buah-buahan tak lepas dari perlakuan curang para penjual. Buah disuntik dengan pemanis dan pewarna buatan meski buah tersebut masih muda. Bahan-bahan makanan yang sudah tidak layak makan/kadaluarsa dibaurkan dengan bahan-bahan makanan baru agar laku terjual.
Siapa yang begitu tega mencampurkan racun ke dalam bahan makanan kita?. Mengapa mereka tidak memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan oleh tindakan yang demikian?. Sederhana saja alasannya, mereka butuh uang untuk makan. Mereka hanya ingin mendapatkan uang dan keuntungan yang lebih dari cara yang demikian. Mereka dapat membeli bahan baku dengan harga yang jauh lebih murah, kemudian menjualnya berupa penganan dengan harga yang sama. Atau mereka menarik pembeli dengan menawarkan harga murah, namun dengan bahan baku oplosan. Dengan iming-iming keuntungan yang berlipat ganda, mereka tega meracuni saudaranya sebangsanya sendiri.

Bicara tentang makanan diatas, terlihat bahwa kita, bangsa Indonesia masih lemah dalam pengawasan bahan makanan. Kita tidak sadar berapa banyak makanan-makan yang bebas didapatkan di pinggiran jalan, yang dibuat dari bahan-bahan yang haram dan merusak kesehatan. Siapa yang tau apakah bakso yang kita makan diolah dari daging sapi atau malah daging babi?. Siapa yang tau mie ayam yang kita makan berasal dari ayam halal atau malah bangkai yang diolah?. Ini jelas tidak hanya masalah ketentuan beragama,namun juga menyangkut kesehatan konsumen.
Apakah semua penjual dan pedagang makanan melakukan hal-hal tercela diatas?. Tidak, namun mereka terkena imbasnya. Akibat para oknum yang melakukan pengoplosan bahan makanan, mereka yang mengolah makanan dan menjualnya sesuai ketentuan yang berlaku,juga dijauhi pembeli. Para pembeli tidak percaya lagi dengan bakso keliling, mengakibatkan para pedagang bakso mengeluh karena pendapatan mereka turun drastis.
Banyak konsumen yang sadar akan bahaya dari bahan-bahan makanan oplosan yang dikenal murah ini. Namun mau tidak mau, mereka tetap membeli bahan-bahan makanan murah tersebut, karena alasan ekonomi. Mereka tidak mampu membeli bahan makanan yang disertifikasi,yang tentunya jauh lebih mahal. Masyarakat kita mayoritas masih menganut paham “asal bisa makan”. Mereka concern dengan kesehatan, namun kondisi ekonomi tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk memilih.
Demikian,betapa ironisnya bangsa kita. Keterpurukan memaksa kita untuk saling meracuni satu sama lain. Sedangkan yang diatas berlomba-lomba memupuk kekayaan untuk diri pribadi mereka,dengan enggan memandang ke bawah. Semoga nantinya kita bisa menatap masa depan yang lebih baik, dimana kita mau untuk berbagi dan ikut merasakan.
tigabelas
Ashita kyou yori mo suki ni nareru, afureru omoi ga tomoranai
Ima mo konna ni suki de iro no ni, kotoba ni dekinai
Kimi no kureta hibi ga tsumikasanari, sugisatta hibi futari aruita kiseki
Bokura no deai ga moshi guuzen naraba, unmei naraba kimi ni meguriaeta
Sorette kiseki
Futari yurisotte aruite, towa no ai wo katachi ni shite
Itsu mademo kimi no yoko de waratte itakute
Arigatou ya aa aishiteru ja mada
Tarinai kedo semete iwasete
Shiawase desu to
Itsumo kimi no migi no tenohirai wo, tada boku no hidari no tenohira ga
Sotto tsutsundeku sore dake de, tada ai wo kanjite ita
Hibi no naka de chiisana shiawase, mitsuke kasane yukkuri aruita kiseki
Bokura no deai wo ookina sekai de, chiisana dekigoto meguriaeta
Sorette kiseki
Umaku ikanai hi datte, futari de ireba hare datte
Tsuyogari ya sabishisa wo wasurerareru kara
Boku wa kimi de rara boku de ireru kara
Dakara itsumo soba ni ite yo
Itoshii kimi e
Futari fuzake atta kaerimichi, sore mo taisetsu na bokura no hi
Omoi yo todoke to tsutaeta toki ni, hajimete miseta hyoujou no kimi
Sukoshi no ma ga aite kimi ga unazuite, bokuna no kokoro mitasareteku ai de
Bokura mada tabi no tochuu de, mata kore kara saki mo nanjuunen
Tsuzuite ikeru you na mirai e
Tatoeba hora ashita wo miushinaisou ni
Bokura natta toshitemo
Umaku ikanai hi datte, futari de ireba hare datte
Yorokobi ya kanashimi mo subete wakeaeru
Kima ga eru kara ikite ikeru kara
Dakara itsumo soba ni ite yo
Itoshii kimi e
Saigou no ichibyou made
Ashita kyou yori egao ni nareru, kimi ga iru dake de sou omoeru kara
Nanjuunen nanbyakunen nansennen, toki wo keoyou
Kimi wo ai shiteru
Nothing more. This song just for you only 🙂 🙂 🙂
20091229
EK Sani
Polemik Berjilbab: Menutup Aurat atau Menutup Kepala ?
Kenapa kamu belum memakai jilbab ?
Hidayah itu belum datang kepada saya.Kenapa kamu memakai jilbab ?
Karena demikianlah yang diperintahkan oleh agama.
Polemik berjilbab, belakangan kembali marak akibat hebohnya pemberitaan mengenai terpilihnya Putri Indonesia 2009 asal Aceh beberapa waktu lalu. Diberitakan bahwa Qory Sandioriva (Putri Indonesia 2009 .red) telah melepas jilbanya untuk mengikuti salahsatu ajang kecantikan di tanah air (baca selengkapnya di sini dan sini :p). Sesaat setelah terpilihnya Putri perwakilan dari Aceh ini, mendadak beberapa dari teman saya memasang status Facebook untuk mengecam terpilihnya Putri Aceh tersebut dengan alasan melepas jilbabnya.
Kemudian beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah video, yang merupakan rekaman tayangan sebuah stasiun televisi lokal, berjudul “Lebaran bersama Keluarga Shihab”. Dalam salahsatu episodenya, terdapat hal yang menarik perhatian saya dimana seorang penonton, ibu-ibu, bertanya perihal jilbab kepada Quraish Shihab. Berikut cuplikan link dari video tersebut, (lihat pada menit 07.00 hingga selesai)
watch?v=t-yVRjW7IdA&feature=PlayList&p=6E89F51ED11526CE&index=5
Jawaban dari Pak Quraish Shihab saya rasa tepat. Beliau lebih mengutamakan cara komunikasi yang bersahabat, tanpa terkesan memberikan pandangan yang takutnya nanti menjadi suatu keharusan (terlepas bahwa Najwa sendiri belum memakai jilbab ^^). Kebanyakan dari kita terlalu senang untuk menghakimi sesuatu, tidak jarang tanpa memiliki ilmu yang dalam dan pengetahuan yang cukup akan hal tersebut. Bahkan para alim ulama sendiri, yang jelas-jelas memiliki capability untuk berdebat tentang masalah ini, masih belum menemukan karakteristik yang cukup menjelaskan mengenai jilbab itu sendiri.
Saya pun merasa belum memiliki ilmu yang cukup mengenai jilbab dan aurat. Namun jikalau diminta beropini pribadi, saya menyenangi perempuan yang memakai jilbab, yang lebih mengutamakan fungsi dari jilbab itu sendiri. Saya juga suka dengan model-model jilbab yang indah dan modis, namun jangan sampai menghilangkan esensi berjilbab itu sendiri. Salahsatu fungsi dari jilbab bagi saya adalah untuk menghindari pandangan-pandangan yang memancing ke arah kemaksiatan. Para perempuan yang memakai jilbab bagi saya terlihat anggun, terlihat menjaga dirinya dari pandangan-pandangan sekitar yang tidak baik. Ini bukan berarti juga saya membenci perempuan yang tidak berjilbab. Banyak dari mereka mungkin tidak berjilbab (baca: menutup kepala dan rambutnya), namun mereka tetap memakai pakaian terhormat, yang tidak menampakkan apa yang seharusnya tidak terlihat. Yang menurut saya tidak baik adalah mereka yang berpakaian dengan tidak menjaga kehormatan pribadi mereka, memancing pandangan-pandangan yang mengarah kepada kemaksiatan.
Sebelumnya saya juga pernah berdebat dengan seorang Doktor lulusan EHESS Prancis dalam bidang Kebudayaan (jikalau saya tidak salah). Beliau bertanya tentang kepentingan seorang wanita memakai jilbab. Beliau dengan tegas mendebat saya bahwa jilbab sekarang hanya sebagai atribut fashion belaka. Bahkan beliau dengan berani membeberkan fakta bahwa sejumlah siswi dan mahasiswi memakai jilbab untuk menutupi bekas perbuatan maksiat mereka (masyaAllah). Saya jujur sedih dengan fakta yang demikian. Mungkin inilah sebab argumen yang diajukan oleh beberapa orang, bahwa kita sering memakai atau mengenakan sesuatu, tapi cenderung dengan alasan ikut-ikutan dan tanpa mengetahui apa maksud dan fungsi sebenarnya.
Akhirnya, mari kita berdakwah lebih ke arah manfaat, bukan malah menjelek-jelekan satu dan lainnya. Saya disini hanya ingin memberikan pandangan, bukan menghakimi. Mari kita jaga keluarga, kerabat dan teman-teman untuk selalu berpakaian dengan terhormat, untuk menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Nya. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada hamba-hamba Nya yang taat.
EK Sani
Berpikir lebih bijak : Permasalahan Indonesia-Malaysia
Minggu yang lalu aku berkunjung ke kontrakan salahsatu temanku, Arif namanya, Muhammad Arif. Aku diundang untuk berbuka puasa bersama, dengan hidangan yang dia sediakan seadanya. Kebetulan hari itu aku kebingungan akan berbuka dengan apa, di kamarku belum ada-apa, nasi pun tak ada untuk dijadikan makan malam sehabis berbuka. Alhamdulillah, ini karunia Tuhan aku kira.
Setiba di kamarnya, kami berbuka dengan secangkir teh kemasan dengan aroma apple, cukup untuk menghilangkan dahaga. Kemudian kami pun makan malam seadanya, dengan gulai daging khas masakan pemuda single seperti kami. Alhamdulillah, kenyang rasanya setelah berbuka. Sehabis makan, seperti biasa dia membakar tembakaunya, duduk menghadap keluar di jendela, menikmati udara luar. Aku dihidangkan 2 toples kue kering, yang dia bilang adalah kue lebaran yang dia bawa dari negaranya. Aku bertanya, apakah tidak apa dimakan sekarang ?. Dia bilang, tak apalah dimakan sekarang, sambil tersenyum. Akhirnya setelah merokok, dia mengambil beberapa kue kering, dan aku pun ikut serta. Kami pun bercengkrama tentang banyak hal, tentang keseharian di negeri orang ini, masa depan serta persamaan dan pengalaman di negara kami masing-masing.
Negara masing-masing ?. Ya, Muhammad Arif adalah seorang Malaysia. Seorang penduduk yang negaranya sedang akrab di telinga rakyat kita, sedang dicaci maki, sumpah serapah oleh rakyat kita. Seorang yang negaranya begitu terkenal di media masyarakat kita, yang katanya gemar melakukan klaim sana-sini dengan budaya negara kita.
Aku seorang Indonesia, seorang yang juga memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tak boleh diganggu gugat. Aku seorang Indonesia, yang meski sedikit, mengerti akan kekayaan budaya Indonesia. Aku juga seorang Indonesia, yang juga pernah aktif untuk melestarikan dan menjaga salahsatu kebudayaan Indonesia. Namun aku seorang Indonesia, yang prihatin akan kedewasaan berpikir kita dan media informasi negara kita.
Aku tidak habis pikir dengan macam pemberitaan di media nasional. Berbagai sorotan negatif selalu muncul, bak tak ada hal-hal positif yang bisa diambil. Beberapa oknum melakukan reaksi yang luarbiasa brutal menurutku. Begitu banyak tindakan-tindakan anarkis, pembakaran bendera, munculnya nama “Malingsia” dan sebagainya, pengejekan dan pencacian di jejaring-jejaring sosial dunia maya. Bahkan beberapa temanku memasang status yang jelas-jelas mengundang permusuhan, yang menurutku tanpa sama sekali menunjukkan rasa nasionalisme akan negaranya. Artis dan public figur ikut-ikutan berkomentar, mengejek memancing permusuhan. Jujur, aku prihatin dengan semua ini.
Balada Sebatang Rokok
Anda kenal rokok ?. Pada usia berapa Anda mulai menghirup asap rokok ?. Apakah Anda hidup di lingkungan perokok ?. Berapa orang perokok yang Anda lihat setiap harinya, menghembuskan asap beracun di hadapan Anda ?. Berapa banyak ajakan merokok yang telah Anda terima selama Anda hidup ?. Atau, seberapa besar uang yang Anda depositkan untuk rokok tiap bulannya ?.

Pertanyaan diatas hanya sekumpulan pertanyaan, yang boleh jadi Anda bisa jawab sendiri, atau Anda ucapkan sekeras mungkin, namun lebih baik jikalau dituliskan di comment box di bawah :p. Saya pun nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan penjelasan berbagai sisi. Mungkin tulisan ini bisa kembali mengasah kemampuan analisis saya yang sudah lama tertimbun dalam-dalam, seiring waktu blog ini sudah terkubur dalam arus *update-an status f.c.b.o.k* :D.
Yap, saya kenal rokok, begitu kenal. Saya sudah menghirup asap rokok sejak saya tahu kalau yang saya hirup itu asap rokok, karena mayoritas laki-laki di keluarga saya adalah perokok. Saya juga hidup di kalangan perokok, teman-teman saya perokok, bukan suatu keanehan jikalau saya berada di tengah kerumunan orang dengan tembakau berasap di mulut mereka. Sudah begitu banyak ajakan, rayuan agar saya merokok. Tentunya dari teman-teman sepermainan, karena keluarga begitu melarang saya untuk menghisap tembakau. Sampai sekarang saya bukanlah perokok dan tidak pernah merokok, bukan karena larangan mereka, tapi karena kemampuan berpikir saya menyimpulkan bahwa saya tidak akan jadi perokok, itu saja.
Saya bukanlah orang yang membenci perokok, teman-teman saya banyak yang merokok. Saya sudah terbiasa bergaul dengan mereka, selalu ditawari sebatang tembakau saat bercengkrama (meski saya tolak dalam-dalam). Bagi saya itu merupakan pilihan mereka, cara yang ingin mereka jalani dalam hidup mereka. Saya memilih untuk tidak merokok, dan mereka memilih untuk menikmati rokok. Tidak ada bedanya, kami sama-sama memilih. Namun, tentunya pilihan itu harus dibuat sendiri, dengan kedewasaan berpikir dan menentukan baik-buruknya.


1 comment