“Dan pada akhirnya, bukan jawaban yang membuat tenang… tapi percakapan.”
Di antara gelas kopi pahit tanpa gula dan asap rokok yang menggantung pelan di udara malam, sebuah obrolan mengalir, dia hadir dari kegundahan pencarian, sebuah dialog yang menelusuri antara logika, sains, dan ruang tak terlihat bernama kesadaran.
Kita mulai dari sesuatu yang sangat kecil—atom. Setiap benda, termasuk tangan yang menulis ini dan mata yang membaca ini, tersusun dari atom. Tapi jika dibedah secara ilmiah, atom itu mayoritas terdiri dari ruang kosong. Elektron yang mengelilingi inti atom tidak benar-benar berada di satu titik, melainkan melayang dalam probabilitas kuantum.
Jadi… segala yang tampak padat, sesungguhnya kosong. Dan yang kosong… bukan berarti tidak ada.
Mereka tetap percaya pada sesuatu yang tak bisa dibuktikan secara total. Mereka percaya pada ruang kosong, pada elektron yang tak terlihat, pada gaya gravitasi yang tidak kasat mata. Terkadang menafikan Tuhan dengan alasan tak terdeteksi indra ataupun alat2, namun dalam praktik sainsnya, mereka justru ‘dipaksa’ mengimani realitas yang tak terlihat, medan kuantum, energi gelap, materi tak terdeteksi.
“Yang kosong belum tentu tidak ada. Kadang, yang kosong justru sedang menunggu untuk diisi oleh kesadaran.”
Begitu juga dengan Tuhan. Tidak terlihat, tidak bisa disimulasikan, tidak bisa diukur. Tapi justru dari yang tidak bisa ditangkap pancaindra itulah semua realitas bermula. Seperti elektron yang tak terlihat namun membentuk segala materi, Tuhan pun tak terlihat namun menjadi asal segala eksistensi.
“Ketika Rasionalisme Diam-diam Beriman.”
Ilmuwan modern tahu ini. Ya, bahkan para rasionalis dan ilmuwan pun harus tunduk pada misteri, jika Tan Malaka menyebutnya dengan logika mistika.
Para imuwan dan para rasionalis mereka tetap menikah, atau berpasangan.. meski menganggap cinta adalah ilusi kimia. Mereka tetap berbuat baik.. meski moralitas tak bisa didefinisikan mutlak.
Mereka tetap percaya pada sesuatu yang tak bisa dibuktikan secara total.
Itu bentuk iman—bukan dalam bentuk dogma, tapi iman dalam pengakuan bahwa tidak semua bisa dijelaskan.
Maka pencarian Tuhan bisa dimulai bukan dari langit, tapi dari kopi pahit dan asap rokok yang mengepul, kesadaran yang terus bertanya, dan kekosongan yang tidak kosong.
Karena kadang…“Yang paling nyata, justru tak butuh bentuk.”

“Mustahilnya Keberadaan dari Nihil Sejati”
Pertanyaan yang sering diajukan para pencari makna adalah: “Apakah semesta ini benar-benar bisa muncul dari ketiadaan?” Jawaban paling masuk akal dari sisi logika dan filsafat adalah: sangat mustahil.
Ketiadaan sejati bukan sekadar ‘ruang kosong’ atau ‘energi nol’. Itu adalah keadaan di mana tidak ada apa-apa sama sekali — tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada hukum, tidak ada potensi, tidak ada sebab, tidak ada bahkan konsep “ada” itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin muncul apa-apa.
Karena segala “kemunculan” butuh sebab, dan nihil sejati tidak mengandung sebab, maka tidak ada alasan apapun mengapa sesuatu bisa tiba-tiba eksis dari ketiadaan murni. Filsuf klasik menyimpulkan ini dalam kalimat ringkas:
“Ex nihilo nihil fit.” – Dari ketiadaan, tak akan muncul apa-apa.
Namun dalam fisika modern, ketika ilmuwan bicara tentang “nothing”, yang mereka maksud bukan nihil sejati, melainkan vakum kuantum: ruang hampa yang masih punya struktur, hukum fisika, dan fluktuasi energi. Artinya, itu sudah “sesuatu” — bukan murni kosong.
Dan di sinilah letak celahnya: jika bahkan “ketiadaan” dalam fisika masih punya hukum, dari mana asal hukum itu? Siapa yang menanamkan potensi dalam kekosongan itu?
Filsafat metafisika menjawab: pasti ada sesuatu yang tidak berasal dari apapun — yang sudah ada sejak awal. Suatu entitas yang tidak diciptakan, tidak tergantung hukum, dan menjadi penyebab dari segala sebab. Inilah yang dalam spiritualitas kita kenal sebagai Tuhan, atau dalam bahasa logika disebut Kausa Prima.
“Dari ketiadaan sejati tak mungkin lahir apa-apa. Maka, keberadaan pertama pasti berasal dari sesuatu yang tak pernah tidak ada.”
Inilah titik temu antara sains, filsafat, dan iman. Ketika segala penjelasan berhenti di batas logika, kesadaran menoleh kepada yang Maha Awal.
Yang terakhir … (jika kita mengikuti waktu linear 😊)
Alam semesta ini adalah kitab terbuka. Dari susunan atom hingga susunan galaksi, semua menyimpan tanda-tanda.
“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (keberadaan Kami) di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fussilat: 53)
Salam
dari gelas enamel yang berkerak, asbak dan kepulan asap tembakau diantara dua tarikan nafas
Toekang Mlakoe – Demang





Komentar