http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=53
Perwujudan Malang sebagai kota pendidikan yang bertaraf Internasional mulai disorot oleh berbagai kalangan. Simak tulisan-tulisan sebelumnya di forum ini (Saudara Wahyu Widayat dan Saudara Karyoto) yang mengevaluasi kinerja Malang sebagai Kota Pendidikan. Disatu sisi Malang telah dideklarasikan sebagai kota pendidikan dan sekaligus kota pendidikan internasional, tetapi disisi lain berbagai prasarana dan sarana baik fisik dan non fisik masih belum sepenuhnya mengacu kepada pencapaian predikat tersebut. Simak saja dari APBD Kota Malang untuk tahun 2005 alokasi anggaran untuk sektor pendidikan masih dibawah perda yang telah dibuat oleh Pemerintah Kota Malang sendiri. Belum lagi masalah penyediaan gedung-gedung pendidikan yang representatif bagi penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. Kalau demikian adanya kenapa Malang mendeklarasikan diri menjadi kota pendidikan internasional ? Tulisan berikut ini ingin melihat dari sisi lain tentang keberadaan Kota Malang dewasa ini berkaitan dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup.
Dalam beberapa tahun terkahir ini pemandangan Kota Malang diwarnai oleh munculnya bangunan fisik yang mengarah pada Kota Metropolitan. Di berbagai kawasan, khususnya yang terletak di pinggir jalan strategis berdiri ruko-ruko dan gedung-gedung swalayan baru dengan aneka bentuk dan jenis kegiatannya. Beberapa bangunan rumah yang tadinya berdiri di sepanjang jalan yang ada kini beralih fungsi menjadi sederatan pusat perdagangan dan industri kecil. Begitu pula dengan lahan yang tadinya berupa sawah/kebun produktif kinipun beralih fungsi menjadi tempat berdirinya berbagai bangunan fisik dengan berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan. Apabila dicermati lebih jauh lagi dapat diperhatikan bahwa bisnis properti (perumahan) berkembang subur di Kota Malang, khususnya pada daerah-daerah pinggiran. Daerah-daerah ini merupakan daerah penyangga Kota Malang yang telah penuh sesak dengan berbagai aktivitasnya. Sehingga menyebabkan pembangunan kawasan perumahan baru banyak berdiri pada daerah-daerah yang tadinya tegalan, kebun dan sawah yang berada di sekitar Kota Malang.
Realitas di Kota Malang juga menunjukkan bahwa mobilitas penduduk di Kota Malang juga menunjukkan peningkatakan dalam aktivitasnya. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya volume kendaraan roda dua dan roda empat yang melewati jalan-jalan strategis. Mobilitias penduduk yang tinggi tersebut semakin bervariasai kegiatannya seiring dengan momen-momen khusus yang terjadi. Pada hari-hari libur nasional jalanan bertambah padat dengan arus kendaraan di Kota Malang. Masyarakat dari luar Kota Malang atau masyarakat Malang sendiri ingin menghabiskan waktu untuk berlibur di tempat-tempat wisata yang di Malang. Sedangkan pada hari-hari penerimaan mahasiswa baru (Tahun Ajaran Baru), Kota Malang diserbu oleh para lulusan SLTA dari berbagai Kota di Jawa Timur khususnya untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa baru di beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Kota Malang.
Pada kondisi lain dapat juga diperhatikan bahwa keadaan lingkungan hidup di Kota Malang akhir-akhir ini menunjukkan terjadinya banjir di beberapa jalan wilayah perumahan maupun pertokoan, asap kendaraan bermotor yang semakin meningkat dan volume sampah yang semakin meningkat pula. Konsekuensi dari beberapa kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan permasalahan di sektor kesehatan, seperti munculnya kasus-kasus demam berdarah dan firus flu burung.
Rangkaian fenomena di atas menunjukkan bahwa perkembangan Kota Malang diwarnai ole tiga kegiatan penting, yakni pendidikan, wisata dan ekonomi. Namun demikian dalam perkembangannya, pembangunan fisik untuk kegiatan ekonomi lebih dominan dibandingkan dengan kedua kegiatan di atas. Hal ini ditunjukkan oleh berdirinya pusat-pusat perbelanjaan dan ruko-ruko baru yang banyak berdiri. Berdirinya pusat perbelanjaan tersebut menimbulkan diferensiasi kegiatan yang beraneka ragam, mulai dari jasa parkir hingga transportasi. Peminatnyapun semakin bertambah seiring dengan semakin bervariasinya bentuk pusat perbelanjaan dan aktivitas yang ditawarkannya. Sehingga image yang muncul adalah Kota Malang sebagai pusat perbelanjaan baru yang menyuguhkan aroma glamour dan kemewahan ketimbang aroma kutu buku. Fenomena pusat perbelanjaan di Kota Pendidikan sebenarnya tidak hanya terjadi di Malang saja, Yogyakarta yang disebut juga sebagai Kota Pendidikan pun juga diwaranai oleh banyaknya pusat perbelanjaan baru yang beridiri di sekitar kawasan pendidikan. Bagaimana dampak pembangunan sektor non pendidikan tersebut terhadap kelestarian alam dan lingkungan di Kota Malang ?
Nampaknya paradigma pembangunan yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan obat mujarab untuk mengatasi masalah kemiskinan masih menjandi pedoman bagi pembangunan di Kota Malang. Dalam kacamata pencapaian target pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi (Produk Domestik Regional Bruto tinggi), nampaknya pembangunan sarana fisik yang bercirikan gedung-gedung pertokoan yang baru dengan diferensiasi kegiatan yang beraneka ragam di Kota Malang merupakan pembenaran dari paradigma pertumbuhan ekonomi. Namun apabila dikaitkan dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup, paradigma tersebut perlu untuk dikaji ulang untuk penerapannya dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Adalah Kuznets (1955) yang berupaya mengkritisi model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, pembangunan tanpa memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan hanya akan menciptakan kerusakan lingkungan hidup itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai dalam beberapa periode sebelumnya justru akan terkikis oleh ekses-ekses negatif dari pertumbuhan itu sendiri. Analisis Kuznets tentang pengaruh kelestarian lingkungan hidup terhadap pertumbuhan ekonomi ini secara teoritis diungkapkan dengan muncunya teori Environmental Kuznets Curve (EKC). Teori Environmental Kuznets Curve (EKC) menyatakan bahwa untuk kasus di negara sedang berkembang seiring dengan perjalanan waktu, kegiatan industri dapat merusak kelestarian alam dan lingkungan. Sebaliknya untuk negara maju, seiring dengan perjalanan waktu dalam kegiatan industrinya, maka kelestarian lingkungan hidup semakin bisa dijamin keberadaannya. Berdasarkan pada penemuannya tersebut, bentuk kurva EKC adalah huruf U terbalik (Munasinghe, 1999).
Guna menjaga kelestarian lingkungan hidup yang dapat menopang pembangunan dalam jangka panjang (long run development), dibutuhkan peran pemerintah. Peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam yang berpokok pada kelestarian lingkungan hidup mengandung dimensi penting, yakni melakukan investasi (tambahan) dalam hal pemeliharaan dan pengamanan sumber daya alam secara berkelanjutan (Djoyohadikusumo,1994).Apa yang terjadi di Kota Malang dewasa ini menimbulkan kondisi dilematis bagi semua fihak, pemerintah kota (eksekutif), dewan (legeslatif), akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, tokoh agama/masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Kesemua elemen masyarakat tersebut merupakan stakeholder yang tentunya ingin agar keseimbangan dan kesinambungan pembangunan di Kota Malang benar-benar dapat terjaga. Pertumbuhan ekonomi dengan berbagai sarana fisik yang diciptakannya tidak akan dapat bertahan lama kalau lingkungan hidup di sekitarnya tidak memberikan dukungan yang optimal. Kita sudah melihat secara riil bagaimana dampak dari banjir yang muncul akhir-akhir ini, harta, rumah dan ternak hancur terbawa arus air. Belum lagi beban moral (shocks) yang harus ditanggung dari musibah yang dialami oleh masyarakat. Butuh waktu lama lagi untuk menyegarkan moral dari serangkaian bencana alam yang terjadi.
Nampaknya kita tidak ingin agar buah dari pembangunan yang telah dicapai oleh Kota Malang justru hancur oleh ekses negatif dari pembangunan itu sendiri. Munculnya berbagai bangunan fisik yang menjamur di Kota Malang walaupun tidak semuanya memberikan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, namun perlu diperhatikan aspek pembangunannya dari dimensi kelestarian alam dan lingkungan hidup.
Sebagai akhir dari tulisan ini, nampaknya dapat digarisbawahi bahwa upaya untuk merealisasikan Malang sebagai Kota Pendidikan (apabila bertaraf internasinal) perlu rethinking kembali tentang hakekat/makna dari Kota Pendidikan. Menurut hemat penulis, sebutan Malang sebagai Kota Pendidikan harus dilandasi oleh semangat kultural yang berorientasi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Kota Malang khususnya melalui pemberdayaan secara autonomus. Dalam hal ini pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator dan penyedia anggaran bagi penyediaan fasilitas publik di sektor pendidikan. Pembangunan industri tentunya diarahkan hanya sebagai supporting sector terhadap keberadaan sektor pendidikan yang telah lama menjadi idola bagi masyarakat. Pembangunan pusat perbelanjaan baru dan ruko-ruko diharapkan menjadi penyedia terhadap berbagai kebutuhan yang muncul sebagai akibat dari adanya sektor pendidikan dan bukan sebaliknya. Selain itu pula dalam rangka menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan lingkungan hidup, maka perlu diminimalisir ekses-ekses negatif dari perkembangan di sektor non pendidikan (sektor industri). Hal ini dapat dilakukan dengan mengevaluasi kembali keberadaan RT/RW yang terkait dengan penataan dan peruntukan lahan/wilayah di Kota Malang. Begitu pula dengan aspek administrasi dari pembangunan bangunan fisik seperti harus memenuhi persyaratan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).http://sosial.malangkota.go.id/news.php?subaction=showfull&id=1170392039&archive=&start_from=&ucat=11& Bertempat di Aula Kecamatan Klojen Kota Malang pada hari Selasa, 19 Desember 2006 Pemerintah Kota Malang menyelenggarakan dialog interatif Relawan Remaja Kota Malang, dengan tema “Peranan Pemuda Dalam Mencegah Seks Pra Nikah“.Adapun maksud dan tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut, secara umum guna mensosialisasikan bahaya seks usia dini secara sistematik ditinjau dari segi kesehatan, sosial dan agama. Di samping itu, sebagai tindakan preventif kepada Siswa/Siswi SMA dan SMK di Kota Malang untuk tidak melakukan seks pra nikah.Walikota Malang Drs. Peni Suparto, M.AP dalam sambutannya mengharapkan kepada para peserta untuk dapatnya memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya, agar apa yang kita harapkan bersama dapat tercapai dan kepada Narasumber disampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya untuk ikut memberikan materi kepada peserta.Bertindak sebagai Narasumber adalah dari unsur Badan Narkotika Kota Malang, unsur Dinas Pendidikan Kota Malang, unsur Dinas Kesehatan Kota Malang dan dari unsur Departemen Agama Kantor Kota Malang.
Peserta berasal dari Siswa/Siswi Sekolah Menengah Atas, maupun Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Malang http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/21/revisi-kbk-cermin-ketidaksiapan-pemerintah-dalam-mengelola-pendidikan/
Berita terakhir yang diterima adalah, Pemerintah akan segera merevisi Kurikulum Berbasis Kompetensi dan segera menerbitkan kurikulum baru karena KBK dinilai malah memperberat tugas guru karena membebani guru dengan urusan administratif. Penulisan rapor yang terlalu rumit membuat guru tidak maksimal dalam mengajar.
Selanjutnya pemerintah menyiapkan kurikulum baru yang nantinya ada standar kompetensi lulusan (SKL) sehingga tiga ujian yang akan menentukan kelulusan seorang siswa, yaitu ujian guru, ujian sekolah (US) dan ujian nasional (UN). Kalau UN lulus, tapi US dan ujian guru tidak lulus, siswa yang bersangkutan dinyatakan tidak lulus. Guru menyelenggarakan ujian untuk kelompok mata pelajaran kepribadian, estetika, pendidikan agama, dan pendidikan jasmani/kesehatan. US untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan UN tetap untuk tiga mata pelajaran yakni matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
***
Bila melihat seperti apa kurikulum baru pengganti KBK nanti bukankah akan menambah kebingunan dan kesulitan bagi guru dan juga sekolah nantinya? Dan akhirnya berdampak pada masyarakat dalam hal ini orang tua dan siswa.
Sekolah direpotkan dengan adanya tiga ujian yang akan menentukan kelulusan seorang siswa, yaitu ujian guru, ujian sekolah (US) dan ujian nasional (UN). Otomatis siswa juga akan semakin dihantui perasaan kegagalan karena harus menyiapkan tenaga ekstra menghadapi berbagai ujian yang akan dihadapi. Guru pun semakin dipersulit karena harus menyiapkan pada tugas administratif seperti membuat soal ujian dan otomatis menyeleksinya selain tugas utamanya mengajar yang sudah sangat menyita waktunya.
Sebenarnya menurut saya KBK atau kurikulum apapun itu bagus KALAU semua pihak berperan sebagaimana mestinya. Guru janganlah dibebankan urusan administrasi dan evaluasi. Biar fungsi itu ada pada guru bidang media dan kurikulum (seperti guru BP tapi dia bertanggung jawab pada urusan media dan kurikulum sekolah). Sebab sudah ada jurusan KURIKULUM dan TEKNOLOGI PENDIDIKAN di hampir semua kampus penghasil tenaga kependidikan (baca: ex IKIP dan UPI yang sampai kini perannya belum jelas di dalam sistem pendidikan dan persekolahan).
Saya melihat seharusnya fungsi sekolah seperti rumah sakit, ketika pasien datang ke Unit Gawat Darurat sudah ada perawat, dokter, dikter bedah, ahli anastesi, apoteker yang menangani. Dokter tidak akan melakukan bedah sendiri atau anastesi sendiri karena ada yang bertanggung jawab atas itu. Begitu juga guru, SEHARUSNYA tidak bertanggung jawab terhadap tugas membuatan media, administrasi dan evaluasi karena sudah ada yang bertanggung jawab atas itu.
Sehingga mau seperti apapun kurikulum yang akan dipakai, bila sistem yang akan menanganinya sudah jelas dan tidak bertumpu pada tugas guru saja. Karena permasalahannya bukan pada kururikulum apa yang akan dipakai tapi seberapa besar wewenang dan tanggung jawab guru dalam mengajar, dan seyogyanya guru tak lagi direpotkan dengan tugas pembuatan media, administrasi, dan evaluasi. Guru tinggal hanya mengembangkan gagasan-gagasannya saja selanjutnya dibuat kongkrit oleh para pembuat, administrator, dan evaluator.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/14/pakuan/sukabumi01.htm
Sekolah Model Adiwiyata Utama
SEKOLAH adiwiyata. Sekilas kata tersebut agak asing di telinga kita. Program adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif. Untuk wilayah pulau Jawa, tahun lalu telah ditetapkan sebanyak sepuluh sekolah sebagai sekolah model Adiwiyata salah satunya adalah SDN Pakujajar Cipta Bina Mandiri (CBM) Kota Sukabumi.
Sekolah yang terletak di Jalan R.H. Didi Sukardi ini sejak awal memang sudah mengembangkan sekolah yang berbasis lingkungan. Setelah di-regrouping dari empat sekolah dasar di sekitar Jalan Baros tahun 2001, timbullah nama SDN Pakujajar CBM. “Dahulu sebelum ada perlombaan sekolah sehat, kita memang sudah mengembangkan sekolah yang berbasis lingkungan,” ujar Dra. Tjutju Sundarsih, M.Pd. Kepala Sekolah SDN Pakujajar CBM.
Diberlakukannya paradigma Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam regrouping tersebut ditujukan agar masyarakat percaya terhadap pembiayaan dengan dibentuknya komite sekolah. “Adanya transparansi biaya pendidikan sehingga masyarakat percaya dengan biaya dihabiskan untuk pendidikan di sini,” tambahnya.
Berangkat dari situ berbagai fasilitas dibangun untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang berbasis lingkungan. “Karena iklim mulai berubah, kita ingin mencegah terjadinya bencana lingkungan,” katanya.
Pada 2004 juga, sekolah ini mampu menjuarai sekolah sehat tingkat provinsi dan nasional. Dan baru-baru ini juga di beri nama sebagai sekolah model untuk program adiwiyata utama. “Ini merupakan hasil dari adanya paradigma MBS yang memudahkan kita melakukan sinergitas dengan instansi terkait lingkungan,” jelas Tjutju.
Selain itu juga ia menambahkan bahwa adanya sinergitas tersebut mampu meningkatkan pengetahuan lingkungan bagi siswa maupun guru yang ada. “Adanya sinergitas instansi, kita dapat sharing pengetahuan dengan si narasumber. Dan mudah-mudahan ini adalah bekal bagi para murid nantinya,” tambahnya.
Dengan jumlah murid sebanyak 689 anak, dibantu dengan 26 guru yang rata-rata berpendidikan strata satu, sekolah ini mengembangkan kurikulum “Pakem” (pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan). “Oleh karena itu, kita mengembangkan di sekolah itu menjadi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan,” kata Tjutju Kamis (5/7).
Proses bukan hasil
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana negara telah menganugerahkan SDN Pakujajar CBM sebagai sekolah model adiwiyata utama. Salah satu kelebihannya adalah dengan dilakukannya 20 penelitian sederhana yang dilakukan siswanya.
“Ada pembuatan kompos, penambahan nilai tanaman lidah buaya, pengembangbiakan larva lalat untuk pakan ikan maupun penjernihan air dengan teknologi sederhana dan masih banyak lagi,” papar Tjutju
Ia juga menerangkan bahwa penelitian tersebut ditujukan agar setiap siswa memiliki kompetensi dasar untuk mengembangkan ilmu yang didapatnya di masa depan. “Proses pembinaan siswa melalui penelitan untuk memicu kompetensi dasar di kehidupannya nanti,” jelasnya.
Pemanfaatan pekarangan sekolah dan lahan tidur untuk penelitian tersebut setidaknya bisa menghasilkan produk olahan semisal lidah buaya. Namun, hasilnya tidak untuk dijual ke masyarakat. “Intinya, kita memberikan kompetensi dasar siswa itu point terpentingnya adalah proses bukan hasilnya,” tegas Tjutju. (PK-2)***
http://www.menlh.go.id/popup.php?cat=17&id=2402
Penghargaan ADIWIYATA 2007
Program Adiwiyata adalah salah satu progam Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah agar menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan pekerja lainnya), sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.Program Adiwiyata dikembangkan berdasarkan norma-norma dasar dalam berkehidupan yang antara lain meliputi: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam. Prinsip-prinsip dasar Program Adiwiyata adalah partisipatif (komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan tanggung jawab dan peran) dan berkelanjutan (seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif).Dalam mewujudkan Program Adiwiyata telah ditetapkan beberapa indikator yaitu: (i) pengembangan Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan. (ii) pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan. (iii) pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif. (iv) pengembangan dan atau Pengelolaan Sarana Pendukung Sekolah. Keempat indikator tersebut dijabarkan lagi menjadi beberapa kriteria yang lebih terperinci dan detail.Sebagai langkah awal, program ini telah dilaksanakan untuk wilayah pulau Jawa dengan melibatkan seluruh unsur terkait seperti instansi pemerintah, perguruan tinggi dan LSM yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan. Di tahun 2006 telah ditetapkan sebanyak 10 (sepuluh) sekolah sebagai sekolah model Adiwiyata, yang selanjutnya melalui pembinaan dan penilaian kembali di tahun 2007, sekolah-sekolah tersebut ditetapkan sebagai sekolah yang layak mendapatkan Trophy Adiwiyata.Adapun 10 sekolah tersebut terdiri dari:(i) Sekolah yang telah mencapai 90% indikator, yaitu: SDN Pakujajar-Sukabumi, SMAN Mancirancan-Kuningan. (ii) Sekolah yang telah mencapai 88% indikator, yaitu SMPN 2 Ciamis, SMPN 1 Kedamean-Gresik, SDN Kampung Dalam Tulungagung, SMAN Gondang-Mojokerto, SMAN 4-Pandeglang dan SDN Ungaran-Yogyakarta. (iii). Sekolah yang telah mencapai indikator 70%, yaitu: SMPN 4-Gresik dan SD Alam-Ciganjur.Pada tahun 2007 program Adiwiyata dilaksanakan secara nasional dan diikuti oleh 17 (tujuh belas) provinsi dengan total peserta 146 sekolah. Penilaian dilakukan secara bertahap. Tahap awal melalui penilaian kuesioner dan dokumen (desk evaluation) ditetapkan 52 sekolah, yang kemudian melalui penilaian tahap kedua (evaluasi lapangan) terseleksi 30 sekolah yang masuk pada kategori “Calon Model Sekolah Adiwiyata tahun 2007”.Adapun Calon Model Sekolah Adiwiyata 2007 adalah: (i). Tingkat Sekolah Dasar: SDN Theresia Surabaya, SDN Sumbersono-Mojokerto, SD Kanisius Kalasan-Sleman DIY, SDN 04 Panggang-Jepara, SDN Tunjung Sekar-Malang, SDN Kembang Malang-Kulon Progo DIY, SDN Cipanengah CBM Kota Sukabumi, SDN 05 Singakerta Gianyar, SDN 05 Bukit Raya Riau, SDN 03 Balikpapan, SDN 07 Gianyar Barat Karangasem, SDN 36 Pontianak, (ii). Tingkat Sekolah Menengah Pertama: SMPN 1 Dlanggu Mojokerto, SMPN 5 Malang, SMPN 1 Luragung Kuningan, SMPN 7 Bandung, SMPN 1 Sukodono Lumajang, SMPN 4 Denpasar, SMPN 4 Mendoyo Jembrana, SMPN 47 Padang, SMPN 2 Bitung. (iii). Tingkat Sekolah Menengah Atas: SMAN 2 Probolinggo, SMAN 5 Malang, SMA Semen Gresik, SMA N 2 Krakatau Steel Cilegon, SMKN 3 Sukabumi, SMKN 1 Losarang Indramayu, SMAN 5 Denpasar, SMAN 1 Kuta Selatan, SM
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=&id=176994&kat_id=105&kat_id1=151&kat_id2=191
Sekolah dengan Empat Layanan Pendidikan
Selama bulan Ramadhan, siswa-siswa SMP Islam PB Soedirman punya kegiatan khusus. Selain mengikuti proses belajar sebagaimana biasa, mereka pun harus mengikuti pesantren kilat (Sanlat). Kegiatan ini bersifat wajib untuk semua siswa sebagai upaya meningkatkan kualitas kecerdasan emosional dan spritual (iman dan taqwa).
Penyelenggaraannya dilangsungkan, baik dalam bentuk klasikal, shalat nawafil, ceramah, diskusi, game islami, nasyid, dan ifthar jama’i, di dalam dan di luar kelas. Untuk itu, pihak sekolah menyediakan buku panduan yang bersisi materi kegiatan Sanlat. ”Buku panduan kegiatan ini dipegang dan ditaati oleh setiap peserta didik tentang apa, mengapa, di mana, kapan, dan bagaimana Sanlat dilaksanakan,” tutur Drs H Nur Alam MA, kepala SMP Islam PB Soedirman.
Materinya berbeda antara siswa kelas VII (kelas I), kelas VII (kelas II), dan kelas IX (kelas III). Siswa kelas VII, misalnya. Selain Tadarrus Alquran (menggafal ayat-ayat pendek), para siswa juga memperoleh materi tentang Ma’rifatullah, Rasulullah SAW Teladan Kita, Sikap Angkuh dan Riya’, serta Kunci Sukses. Semua materi tersebut dilengkapi dengan bahan tertulis.
Kegiatan itu dilaksanakan, sejalan dengan visi sekolah yang terletak di bilangan Jalan Raya Bogor, Cijantung, Jakarta Timur ini. Yakni, menjadi salah satu SMP Islam swasta yang memiliki kualitas unggul dalam imtaq dan iptek, berwawasan global, dan mampu berkompetisi.
Di bawah pembinaan Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman, sekolah ini didirikan pada Januari 1992. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, pada 1995/1996 SMP Islam PB Soedirman dianugerahi status sebagai SMP pendamping unggulan (plus) swasta bersama-sama SMP negeri dan swasta lainnya di DKI Jakarta.
Sampai saat ini, jelas Nur Alam, SMP Islam PB Soedirman telah memberikan empat layanan pendidikan kepada peserta didik: program reguler, program plus, program percepatan belajar (akselerasi), dan program bahasa asing (Inggris dan Arab). Selain itu, sekolah ini juga menjadi salah satu jaringan proyek sekolah berasosiasi dengan UNESCO.
Program akselerasi, dibuka sejak tahun ajaran 2000/2001. Program ini memberikan layanan pendidikan bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk memperoleh layanan pendidikan yang memungkinkan bisa menyelesaikan pendidikannya dalam masa pembelajaran dua tahun, setahun lebih cepat dari program reguler. Menurut Nur Alam, SMP Islam PB Soedirman termasuk salah satu sekolah perintis penyelenggara akselerasi di Indonesia yang ditetapkan dengan SK Dirjen Dikdasmen, Depdiknas No 217/C/Kep/MN/2000.
Siswa peserta program ini dipacu untuk terus giat belajar. Kebiasaan itu, menurut Nur Alam, ternyata terbawa saat mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. ”Ada siswa program akselerasi yang masuk ke SMA reguler. Dia mengaku, di SMA rasanya santai, tidak ada kesulitan,” tutur Nur Alam.
Program bahasa asing, menurut dia, baru dimulai pada tahun ajaran 2004/2005. Program ini memberikan layanan khusus kepada siswa yang memiliki kemampuan berbahasa asing. Bagi siswa peserta program ini, ada tambahan jam belajar untuk bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Jepang. ”Ada penutur asing ikut memberikan pembinaan,” tuturnya.
Secara umum, program pembelajaran di sekolah ini dilaksanakan dengan memadukan antara Kurikulum 2004 (KBK) berdiferensiasi dan khas yayasan dengan penekanan pada peningkatan spiritualitas yang terintegrasi dalam setiap bidang studi. Dari sini diharapkan dapat memacu siswa dalam meningkatkan kecerdasan intelektual, kreativitas, keterlekatan pada tugas, sosial emosional, dan spiritualnya secara seimbang.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, sekitar 900 siswa dibina oleh 51 guru. Semua guru mengajar sesuai dengan keahliannya. ”Tidak ada yang mengajar tidak sesuai dengan keahliannya,” ujar Nur Alam. Ini didukung oleh sejumlah fasilitas seperti laboratorium komputer, IPA fisika dan biologi, bahasa, tata boga, elektronika, perpustakaan, dan sejumlah sarana olahraga.
Semua itu diselenggarakan sesuai misi yang diemban sekolah ini. Yakni, meningkatkan mutu layanan pendidikan yang optimal kepada peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Selain itu, mengaktifkan setiap siswa dan guru untuk berbahasa asing pada hari-hari tertentu dan menyiapkan siswa agar memiliki akidah yang benar, akhlak yang mulia, akal yang cerdas, dan amal yang saleh, di samping memiliki prestasi dalam berbagai lomba serta menghasilkan lulusan yang siap memasuki sekolah terbaik pada jenjang yang lebih tinggi.
http://pustakamawar.multiply.com/journal/item/10
|
SBI sekolah diskriminatif jika penerapannya hanya
menitikberatkan pada pemenuhan sarana dan prasarana. Maka pemerintah akan
menciptakan kelas kasta bagi anak-anak yang mampu membayar mahal dengan
fasilitas sekolah termewah, terlengkap dan dengan disiapkan guru-guru pilihan. Program
seperti ini merupakan belenggu di dunia pendidikan. Konsep yang dikembagkan adalah bukan memberi pemerataan
pendidikan tetapi diskriminasi pendidikan. Kemudian pendidikan hanya diarahkan
dan didominasi oleh otak kiri dengan bertumpu pola pikir logis dan realitis.
Pendidikan hanya bertumpu pada pengembangan kekuatan IQ (kecerdasan otak) saja.
Para orang tua sebagaimana saya temukan telah memburu dengan mengorban biaya
sangat mahal agar para putra-putrinya dapat diterima di SBI. Mereka, para orang
tua membanggakan bahwa anak adalah anak yang ber IQ jenius. Keyaqinan mereka
adalah seolah-olah dunia kesuksesan akan dapat diraihnya. Kesuksesan akan
digenggamnya. Dia akan menjadi manusia super yang menguasai segalanya.
Nah di sisi lain
pada sekolah yang sama para orang tua yang putra-putri tidak dapat lolos pada
program SBI telah dikubur kebanggaanya. Telah dihukum dengan predikat, bahwa
putra-putri-mu meruapakan generasi kedua. Anak yang ber-IQ sangat rendah. Kecerdasan
otak tidak dapat berpikir cepat. Dan mohon maaf mungkin akan muncul penghinaan-penghinaan
silih berganti, bertubi-tubi menghantam dirinya. Kelompok anak-anak yang tidak
masuk di program SBI seolah-olah mereka akan
tersingkir dari kehidupan. Seolah-olah masa depan suram telah digariskan. Dunia
menjadi hitam kelam. Tiada nur cahaya kesuksesan. Kemiskinan
tergambar dalam diri anak. Termarginalkan.
Saya selalu bertanya kepada teman-teman guru yang di
sekolahannya ada program kelas unggulan (program tempo lampau). “Bagaimana
sikap guru dalam mengajar kelas unggulan dengan kelas biasa”. Pasti kita dapat
menduga jawabannya sangat tidak mencerminkan jiwa guru, jiwa pendidik, jiwa
murobbi. Ada sikap
diskriminatif. Mohon maaf, saat guru mengajar dikelas unggulan mereka
menyiapkan semua bahan dengan matang. Mengajar dengan metode terbaik. Telaten
membimbing agar hasilnya tidak memamlukan kepala sekolah. Tidak memalukan
kepala diknas. Atau agar tidak memalukan Pak Bupati. “Wahhhh ngajar di kelas
unggulan sangat efektif, mas. Anaknya mudah menerima. Diskusinya berjalan
lancar. Materinya terserap dengan cepat”. “Jika di kelas biasa, waduhhh
mas…., susah. Susah diatur. Otaknya jongkok. Yaaaa kita biarkan aja yang
penting tugas mengajar tuntas”.
SBI yang dirancang
ada kemiripan dengan kelas-kelas unggulan di setiap sekolah. SBI akan memberi
peluang kepada semua pihak untuk membuat mental anak menjadi mental yang sombong
dan menyombongkan diri. Saya sangat mengagumi jika SBI konsepnya tidak
diskriminatif tetapi dapat dijangkau oleh semua otak anak. Seberapa cerdas anak
dapat mendapatkan pembelajaran dengan penghantar bahasa inggris atau dengan
multimedia. Jika dalam kelas ada anak yang cerdas melebih teman-temannya maka
sangatlah baik jika dia difungsikan menjadi guru sebaya. Menjadi guru sebaya
akan memberi nilai latihan leadership.
Saya sangat berharap
ada konsep SBI yang dapat kita ‘blejeti’ maksudnya kita kupas tuntas. Jika Pak
Satria memiliki dan tidak keberatan, sangatlah baik disebarkan ke milis ini
agar kami dapat ikut memberi alternatif ke arah pendidikan yang lebih
manusiawi.
Saya memahami dan menyadari bahwa dii setiap kurun waktu para orang
tua selalu menginginkan generasi terbaik. Mereka menyiapkannya dengan berbagai
cara. Mereka memberi semangat agar generasi yang saat ini masih kanak-kanak
harus tampil lebih pandai dan berkwalitas. Mereka menyadari bahwa zaman yang
akan dimasukinya jauh berbeda dengan zaman yang saat ini kita jalani. Hasil
dari pendidikan adalah manusia baru yang mampu mandiri sehingga menjadi penerus
perjuangan bukan menjadi sampah, beban masyarakat karena moral bobrok. Nah
konsep SBI sudahkan bertumpuh pada pembentukkan karakter anak dan moral anak.
Ataukah memang konsepnya sudah melepaskan diri dari konsep kepribadian merah
putih.
Saya hanya punya satu saran
agar pendidikan dapat mengarahkan agar anak didik menjadi generasi yang mampu
membuat jalan kehidupan di masa depannya. Bekalnya, tentu saja kejujuran, rasa
saling percaya, saling peduli, cinta pada keadilan, bertanggung jawab, tekun
beribadah, dan tentu moral berbakti pada orang tuanya. Skill merupakan tuntutan
hasil yang dibangun pada moral.
Saya sangat kwatir jika SBI
dibangun pada pondasi yang tidak kokoh maka akan dihasilkan out put, anak didik
yang tidak berakhlaq. Apalagi saat ini kondisi moral anak didik semakin hari
semakin memprihatinkan, kalau tidak boleh dikatakan bobrok. Kebobrokkan akhlaq
pelajar hampir tiap hari menghiasi berita koran dan meramaikan berita TV.
Selamat datang SBI. Selamat
menyelamatkan moral generasi mendatang. Semoga SBI tidak menciptakan kasta di
dunia pendidikan. Diskriminatif pendidikan. |
| |