Ada seorang ayah,
Dengan senyum tulusnya, mengayuh sepeda menuju sebuah sekolah dasar
Bukan jarak yang jauh yang menjadi beban baginya,
bukan pula karena lelahnya kaki mengayuh rantai sepeda yang sudah tua dimakan waktu,
Tetapi karena anak kecil berkepang dua di boncengannya, yang dengan lugunya menanyakan arti kesuksesan
Tidak ada jawaban panjang menjemukan
Tidak ada petuah yang akan lapuk dimakan usia
Hanya filosofi hidup yang kekal senantiasa terucap,
Sabarlah Nak, berdoa dan berusaha, Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita..
Terus berjalan, berdecit, bersinergi antara gerigi satu dengan lainnya
Sepeda itu berjalan lagi, masih dengan penumpang yang sama
Namun kali ini, bebannya semakin berat
Bukan karena si anak berkepang dua itu yang semakin besar
Atau karena sang Ayah yang semakin menunjukkan guratan usianya
“Papa, aku takut tidak bisa memenangkan lomba Siswa Teladan ini Pa..Aku takut kalah..”
“Aku merasa mendapat beban dari sekolah, Pa”
Kembali, senyum tersungging tulus, menutupi kerutan wajahnya
“Nak, jadilah TELADAN bagi dirimu. Yakinkan itu. Kamu pasti bisa. Doa Papa akan selalu bersama kamu, Nak..”
Kedua ayah dan anak itu tersenyum,
Tidak ada rasa berat hati, tidak ada rasa khawatir,
Sepeda itu kembali terkayuh ringan, dan tidak pernah berhenti berjalan,
“Papa, Alhamdulillah aku diterima di SLTP favorit seperti cita-cita aku!!!Senangnya…”
Anak kecil berkepang dua yang mulai menginjak masa remaja itu, terpekik kegirangan mengetahui namanya tercantum di papan pengumuman,
Lagi dan lagi, senyum bahagia tersungging di bibirnya
Ya Allah, ridhoilah setiap perjalanan masa depan anak ini, batinnya..
Seolah tidak ada harta yang lebih berharga
selain kesuksesan gadis kecil yang sedang memeluknya ini
Gadis kecil itu kini belajar untuk mandiri,
walau sifat manjanya belum bisa hilang
Dan sepeda itu benar-benar tidak dikayuh lagi
Sang ayah mulai berusaha untuk sanggup menatap gadis kecil kesayangannya dari jauh
Gadis kecil itu hanya mampu menahan bulir air matanya, saat harus mencium tangan ayahnya,
Disusul kepada ibundanya, dan juga adik kecilnya yang masih termangu
Segera ia berpaling, lalu berlari menuju sekumpulan barisan siswi kelas satu SMU Taruna Nusantara
Walau pedih, tetap harus berbaris rapi
Tinggalkan galau hati, dan terus melangkah pasti
Demi sebuah cita-cita bersama seorang ayah dan anak kecil berkepang dua
Demi langkah awal menuju masa depan
Lambaian tangan dan peluk erat, mungkin hanya setahun sekali
Namun pertalian itu semakin terjalin kuat di hati
Seorang ayah
Dan seorang gadis remaja yang tengah menapak masa depan
***
Dear Papa,
Papa, aku ngga akan pernah lupa perjalanan cerita seorang ayah dan anak kecil berkepang dua di atas sepeda tua itu.
Papa, itu kita di masa lalu, dengan segenap harapan, cita-cita dan doa yang perlahan-lahan sudah mulai terlihat, bahwa Allah memang tidak pernah meninggalkan kita, seperti yang selalu papa bilang, jika kita selalu berdoa dan berusaha. Jutaan harapan yang pernah kita rangkai bersama, cerita masa depan yang selalu Papa uraikan untukku, aku berjanji Pa, dan semoga Allah memang meridhoi, aku akan menggapainya, demi Papa, Mama, Ade, demi kebahagiaan kita bersama.
Papa, terimakasih atas segala kebaikan dan ketulusan Papa.
Selamat Ulang Tahun, Papaku tersayang…Aku, Mama dan Ade, akan selalu ada dan menyayangi Papa..Walaupun aku tidak di Magelang, tapi percayalah Papa, doaku akan selalu menyertai Papa..
Papa, aku selalu bahagia memiliki seorang Papa yang tetap setia dan sabar merawat Mama, membantu Mama, mendampingi Mama, apapun suka dan duka Mama. I love you too, Mam..
Papa,aku selalu bangga punya seorang Papa yang masih dengan sukarela memboncengkan anaknya di atas sepeda, ketika zaman sudah berubah menjadi zaman kendaraan bermotor.Papa benar-benar seorang Ayah yang hebat, mampu menanamkan nilai-nilai luhur pada diriku dan Ade, bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang bagi sebuah tujuan mulia..
Papa, aku selalu bersyukur memiliki seorang Papa sekaligus seorang guruku di rumah, seorang sahabat, seorang penasihat bijak, seorang motivator sejati…
Papa, bersama surat ini pula aku memohon doa restu, supaya aku bisa mempertahankan beasiswa dan lulus dari universitas dengan nilai baik. Jika nanti aku berkeluh kesah mengenai ujianku, atau aku berceloteh mengenai kesulitan skripsiku, jangan dijadikan beban ya Pa? Aku akan berusaha Pa,aku harus bisa, dan insya Allah aku akan sanggup,karena aku akan selalu ingat besarnya usaha dan harapan yang selalu Papa perjuangkan untukku, yang pastinya lebih sulit bila dibandingkan kerja kerasku.
Seusai wisuda, kita pulang bersama ke Magelang ya Pa?? Nanti jika sudah sampai di Magelang, kita masak-masak bersama, aku kangen ikan bakar buatan Papa,yang dipadukan dengan sambal buatan Mama..Atau, bagaimana jika aku bereksperimen membuat spaghetti jamur yang selalu aku ceritakan di telepon itu? Atau pancake caramel, supaya bisa menyaingi pancake coklat Papa? Papa belum tahu kan..kalau selama disini, aku sering penasaran dengan resep-resep baru, tetapi aku tidak bisa mempraktikkannya..Ah Papa, kenapa aku sudah membayangkan itu semua ya?Bahkan judul skripsipun belum kutemukan.. Aku jadi kangen rumah, kangen Papa, Mama, dan Ade….
Papa, sekali lagi, Selamat Ulang Tahun…Sudah 59 tahun berselang bagi Papa untuk belajar memaknai hidup dan menjalaninya. Jika orang lain mengatakan Papa sudah tua, aku tidak peduli. Walaupun Papa sudah tua, tetapi semangat Papa tetap tak lekang dan terus berpacu, tidak hanya untuk diri Papa, tetapi juga keluarga Papa. Terimakasih ya Pa..Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk Papa, demikian pula bagi kita sekeluarga. Semoga kita sekeluarga senantiasa diberi kebahagian dan kesejahteraan ya Pa, lahir dan batin…amin.
Papa, mungkin untuk sementara, ini dulu yang bisa aku sampaikan. Sesungguhnya,beribu kata dan ungkapan hati berebut untuk ditumpahkan, tetapi aku yakin, tanpa aku tunjukkan itu semua, batin Papa yang ikhlas telah mampu membaca sanubariku, yang tak pernah berhenti menyayangi Papa.
I love you, Dad..
Happy Birthday..
..your lovely daughter,
-Ananda-
——————-
diambil dari
Ikastara.org
Kontes Surat Cinta 2008
Ayu Anindhita Ratri Wijaya / XIII