Lewati navigasi

Di sebuah kota kecil, mendekati penghujung Jawa Timur,
Ada seorang ayah,
Dengan senyum tulusnya, mengayuh sepeda menuju sebuah sekolah dasar
Bukan jarak yang jauh yang menjadi beban baginya,
bukan pula karena lelahnya kaki mengayuh rantai sepeda yang sudah tua dimakan waktu,
Tetapi karena anak kecil berkepang dua di boncengannya, yang dengan lugunya menanyakan arti kesuksesan
Tidak ada jawaban panjang menjemukan
Tidak ada petuah yang akan lapuk dimakan usia
Hanya filosofi hidup yang kekal senantiasa terucap,
Sabarlah Nak, berdoa dan berusaha, Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita..

 

Sepeda itu seolah tidak pernah bosan dikayuh
Terus berjalan, berdecit, bersinergi antara gerigi satu dengan lainnya

 

Hingga di suatu kota, di lembah Tidar
Sepeda itu berjalan lagi, masih dengan penumpang yang sama
Namun kali ini, bebannya semakin berat
Bukan karena si anak berkepang dua itu yang semakin besar
Atau karena sang Ayah yang semakin menunjukkan guratan usianya
“Papa, aku takut tidak bisa memenangkan lomba Siswa Teladan ini Pa..Aku takut kalah..”
“Aku merasa mendapat beban dari sekolah, Pa”
Kembali, senyum tersungging tulus, menutupi kerutan wajahnya
“Nak, jadilah TELADAN bagi dirimu. Yakinkan itu. Kamu pasti bisa. Doa Papa akan selalu bersama kamu, Nak..”
Kedua ayah dan anak itu tersenyum,
Tidak ada rasa berat hati, tidak ada rasa khawatir,
Sepeda itu kembali terkayuh ringan, dan tidak pernah berhenti berjalan,

 

Hingga..
“Papa, Alhamdulillah aku diterima di SLTP favorit seperti cita-cita aku!!!Senangnya…”
Anak kecil berkepang dua yang mulai menginjak masa remaja itu, terpekik kegirangan mengetahui namanya tercantum di papan pengumuman,
Lagi dan lagi, senyum bahagia tersungging di bibirnya
Ya Allah, ridhoilah setiap perjalanan masa depan anak ini, batinnya..
Seolah tidak ada harta yang lebih berharga
selain kesuksesan gadis kecil yang sedang memeluknya ini

 

Sepeda itu mulai berhenti dikayuh
Gadis kecil itu kini belajar untuk mandiri,
walau sifat manjanya belum bisa hilang

 

3 tahun berselang
Dan sepeda itu benar-benar tidak dikayuh lagi
Sang ayah mulai berusaha untuk sanggup menatap gadis kecil kesayangannya dari jauh
Gadis kecil itu hanya mampu menahan bulir air matanya, saat harus mencium tangan ayahnya,
Disusul kepada ibundanya, dan juga adik kecilnya yang masih termangu
Segera ia berpaling, lalu berlari menuju sekumpulan barisan siswi kelas satu SMU Taruna Nusantara
Walau pedih, tetap harus berbaris rapi
Tinggalkan galau hati, dan terus melangkah pasti
Demi sebuah cita-cita bersama seorang ayah dan anak kecil berkepang dua
Demi langkah awal menuju masa depan

 

Sepeda itu benar-benar tidak pernah dikayuh lagi,
Lambaian tangan dan peluk erat, mungkin hanya setahun sekali
Namun pertalian itu semakin terjalin kuat di hati
Seorang ayah
Dan seorang gadis remaja yang tengah menapak masa depan

***

Dear Papa,
Papa, aku ngga akan pernah lupa perjalanan cerita seorang ayah dan anak kecil berkepang dua di atas sepeda tua itu.

Papa, itu kita di masa lalu, dengan segenap harapan, cita-cita dan doa yang perlahan-lahan sudah mulai terlihat, bahwa Allah memang tidak pernah meninggalkan kita, seperti yang selalu papa bilang, jika kita selalu berdoa dan berusaha. Jutaan harapan yang pernah kita rangkai bersama, cerita masa depan yang selalu Papa uraikan untukku, aku berjanji Pa, dan semoga Allah memang meridhoi, aku akan menggapainya, demi Papa, Mama, Ade, demi kebahagiaan kita bersama.
Papa, terimakasih atas segala kebaikan dan ketulusan Papa.

Selamat Ulang Tahun, Papaku tersayang…Aku, Mama dan Ade, akan selalu ada dan menyayangi Papa..Walaupun aku tidak di Magelang, tapi percayalah Papa, doaku akan selalu menyertai Papa..
Papa, aku selalu bahagia memiliki seorang Papa yang tetap setia dan sabar merawat Mama, membantu Mama, mendampingi Mama, apapun suka dan duka Mama. I love you too, Mam..

Papa,aku selalu bangga punya seorang Papa yang masih dengan sukarela memboncengkan anaknya di atas sepeda, ketika zaman sudah berubah menjadi zaman kendaraan bermotor.Papa benar-benar seorang Ayah yang hebat, mampu menanamkan nilai-nilai luhur pada diriku dan Ade, bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang bagi sebuah tujuan mulia..

Papa, aku selalu bersyukur memiliki seorang Papa sekaligus seorang guruku di rumah, seorang sahabat, seorang penasihat bijak, seorang motivator sejati…

Papa, bersama surat ini pula aku memohon doa restu, supaya aku bisa mempertahankan beasiswa dan lulus dari universitas dengan nilai baik. Jika nanti aku berkeluh kesah mengenai ujianku, atau aku berceloteh mengenai kesulitan skripsiku, jangan dijadikan beban ya Pa? Aku akan berusaha Pa,aku harus bisa, dan insya Allah aku akan sanggup,karena aku akan selalu ingat besarnya usaha dan harapan yang selalu Papa perjuangkan untukku, yang pastinya lebih sulit bila dibandingkan kerja kerasku.
Seusai wisuda, kita pulang bersama ke Magelang ya Pa?? Nanti jika sudah sampai di Magelang, kita masak-masak bersama, aku kangen ikan bakar buatan Papa,yang dipadukan dengan sambal buatan Mama..Atau, bagaimana jika aku bereksperimen membuat spaghetti jamur yang selalu aku ceritakan di telepon itu? Atau pancake caramel, supaya bisa menyaingi pancake coklat Papa? Papa belum tahu kan..kalau selama disini, aku sering penasaran dengan resep-resep baru, tetapi aku tidak bisa mempraktikkannya..Ah Papa, kenapa aku sudah membayangkan itu semua ya?Bahkan judul skripsipun belum kutemukan.. Aku jadi kangen rumah, kangen Papa, Mama, dan Ade….

Papa, sekali lagi, Selamat Ulang Tahun…Sudah 59 tahun berselang bagi Papa untuk belajar memaknai hidup dan menjalaninya. Jika orang lain mengatakan Papa sudah tua, aku tidak peduli. Walaupun Papa sudah tua, tetapi semangat Papa tetap tak lekang dan terus berpacu, tidak hanya untuk diri Papa, tetapi juga keluarga Papa. Terimakasih ya Pa..Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk Papa, demikian pula bagi kita sekeluarga. Semoga kita sekeluarga senantiasa diberi kebahagian dan kesejahteraan ya Pa, lahir dan batin…amin.

Papa, mungkin untuk sementara, ini dulu yang bisa aku sampaikan. Sesungguhnya,beribu kata dan ungkapan hati berebut untuk ditumpahkan, tetapi aku yakin, tanpa aku tunjukkan itu semua, batin Papa yang ikhlas telah mampu membaca sanubariku, yang tak pernah berhenti menyayangi Papa.

I love you, Dad..
Happy Birthday..

..your lovely daughter,

-Ananda-

 

——————-
diambil dari
Ikastara.org
Kontes Surat Cinta 2008
Ayu Anindhita Ratri Wijaya / XIII

Untuk Ayah…

Selamat pagi ayah,
Selamat pagi??
Iya, karena kuingin agar hari-harimu selalu seindah pagi yang hangat.

Bagaimana kabar ayah?
Ah ya, aku sudah tahu,
Ayah pasti baik-baik saja,
karena saat ini aku bisa merasakan semangat ayah dalam diriku,
dan karena itulah ayah pasti tahu aku baik-baik saja.

Tak terasa kini aku sudah menjadi seorang mahasiswa.
Doakan aku ya Yah, karena dengan doa dan restumu aku pasti bisa.
Doakan agar anakmu ini bisa menjalani hidup
dengan penuh semangat dan rasa syukur,
Seperti kata ayah,bersemangat dalam menjalani hidup adalah hakikat syukur
yang sesungguhnya, benar kan?

Yah,
Beberapa waktu yang lalu aku sebal, benci.
Salah seorang temanku t’lah mengecewakanku.
Tapi tenang saja ayah, itu tidak lama,
karena aku tahu ayah tidak akan membiarkanku membenci dan marah
terhadap makhlukNya.

Ah lucu juga kalau diingat,betapa bodohnya aku
saat bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan itu.
Tapi untungnya aku ingat ayah pernah berkata,
“Orang baik diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Baik.”
“Tentu saja,”jawabku.
“Kalau orang jahat, siapa yang menciptakan?”
“Hmm…juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Baik,”aku menyahut.
Lalu kata ayah,”Kalau begitu, apakah Tuhan salah?”
Mana mungkin Tuhan salah, Tuhan itu Maha SUci, suci dari kesalahan.
Seperti kata ayah, dia hanyalah ‘alat Tuhan’ yang tidak datang ‘sendirian’,
ia membawa serta kesabaran, kearifan, dan ketegaran bersamanya.
Jadi, mengapa aku harus marah?

Dasar bodoh…

Kemarin aku baru saja ikut ujian,
ternyata nilaiku jelek,
hingga aku sangat bersedih.
Maafkan aku ya Yah?
Bukan untuk nilaiku yang jelek,
karena aku tahu ayah tidak pernah marah karena itu.
Maafkan aku yang telah bersedih,
karena ketika aku bersedih,aku menjadi tidak bersyukur.

Ayah,
Kemarin aku berjumpa dengan teman lamaku.
Ternyata baru kutahu kalau dia sangat membenci ayahnya.
Katanya ayahnya tidak sungguh-sungguh menyayanginya.
Tapi aku tahu dan selalu yakin kalau ayah sayang padaku.
Aku bersyukur untuk hari-hari yang penuh kasih sayangmu.
Terimakasih ayah,aku juga sayang ayah.

Ayah,
untuk kesekian kalinya aku mengecewakan Tuhan.
Aku tahu ayah juga pasti kecewa.
Aku gagal dalam ujian sekolah kehidupan.
Mungkin aku harus ikut her.
Aku minta maaf dan minta ampun padaNya.
Semoga Tuhan memaafkan aku.
Dan ketika Sang Pemilik waktu masih memberikan kesempatan
padaku untuk memandang dunia,
aku berjanji aku akan berusaha untuk membuatNya bangga.
Mengendalikan pikir dan hati agar s’lalu lurus.

Doakan aku ayah.

Walaupun ayah tak lagi bersamaku kini,
aku bersyukur atas saat-saat kebersamaan kita.
Aku merasa beruntung karena bahkan ada orang yang
tak pernah bertemu ayah atau orang tuanya.
Aku beruntung, ya tentu saja aku beruntung.

Sekalipun ayah tidak bisa lagi membalas sms dariku,
terimakasih karena sampai saat ini aku masih bisa menemukan
pesan-pesan bijak dari ayah.
Tiap kali aku bisa menemukannya terselip diantara
tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Sesekali kumenemukannya di pagi hari,
saat munculnya mentari disambut nyanyian alam.
Terkadang datang bersama hujan,
atau samar-samar dalam tangisan anak-anak yatim
yang bahkan tidak punya ayah.
Aku tahu ayah selalu ada untukku.
Tiap hari, tiap jam, bahkan tiap detik.
Saat bahagia maupun duka cita.

Aku tahu aku tak pernah sendiri,
karena ada ayah, dan seperti kata ayah,
Tuhan tidak akan meninggalkanku,
Tuhan itu dekat, sangat dekat.

Tahukah ayah,
Aku senang sekali.
Ketika kita menebarkan kebahagiaan,
rasanya hidup demikian indah.
Serasa seluruh dunia tersenyum padaku,
mereka mendukungku.
Dan ketika itu kurasakan damai kearifan.

Ayah,
Maafkan aku saat terkadang aku mengabaikan
kata-katamu.
Maafkan aku saat perilaku dan kata-kataku menyakitimu.
Maafkan aku ketika aku mengecewakanmu.
Maafkan aku jika tak bisa memenuhi harapan-
harapanmu dan membuatmu bangga.
Maafkan atas semua kesalahanku ayah, aku sungguh menyesal…
Aku sungguh menyesal…

Ayah,
Terimakasih untuk tetes demi tetes keringat kerja kerasmu,
aku sadar bahwa itu bukan untuk kesia-siaan.

Terimakasih untuk tiap kata semangat darimu,
yang s’lalu bisa membuatku bertahan.

Terimakasih untuk setiap kata bijak
yang menguatkan.

Terimakasih untuk limpahan kasih sayang
yang menenangkan dan membuatku merasa sangat beruntung.

Terimakasih untuk tiap kesabaran dan pengertian,
yang membuatku berani untuk mencoba lagi.

Terimakasih untuk tidak pernah membiarkanku menyerah
dan terpuruk.

Aku berjanji, ketika suatu saat nanti aku terjatuh lagi,
aku pasti segera bangun ayah.

Aku tahu ayah pasti tak mau
melihatku putus asa atau bahkan berhenti.
Ayah bahkan tidak pernah membiarkanmu untuk
sedikit saja mengeluh,
Ayah benar, hidup terlalu indah untuk diisi dengan keluhan.
Aku janji ayah…aku tak kan pernah menyerah, selamanya.
Terimakasih untuk segalanya….Ayah.
Sampaikan salamku pada ibu ya,
katakan kalau aku sangat mencintai
dan merindukannya juga.
Katakan juga bahwa aku minta doa dan restunya.
Ajak serta beliau menyambutku saat aku pulang nanti ya.

Sampaikan juga salamku pada Tuhan ya Ayah.
Katakan bahwa aku berterimakasih atas
semua ayat-ayat cintaNya yang selalu mengisi hati dan jiwaku.
Katakan juga kalau aku tahu bahwa IA mencintaiku tiap hari,
dan karena itu aku ‘kan mencintainya tiap waktu
yang tersisa dari hidupku.

Sekali lagi terimakasih ayah.
Semua yang telah ayah berikan sungguh berarti bagiku.
Dari putri yang selalu merindukanmu

——————-
diambil dari
Ikastara.org
Kontes Surat Cinta 2008
Alfia Nurul Rakhmatika / XV

Apa bagimu arti kebanggaan ?

Kebanggaan adalah bukan pecundang. Kebanggaan adalah materi hidup ketika kamu tidak punya apa-apa. Kebanggaan ada pada seragam rapi dan gemerlap. Namun, kebanggaan juga tetap akan memancarkan kehormatan walaupun hanya berlusuh noda keringat dan jelaga.

————-

Aku selalu mengenang bentakan sayang ,”Siswaaa……!!”
Dan barisan kami pun berhenti. Komandan barisan maju menghadap suara itu.
Lalu menghormat, dan itulah percakapan yang terkenang abadi itu.
“Kamu tahu kesalahanmu ?”
“Siap tidak !!”
“Jam berapa seharusnya kalian berangkat apel ?”
“Siap tahu !!”
“Mengapa kalian terlambat ?”
“Siap menunggu teman yang memakai sepatu !”

Dan aroma kasih sayang itu mencari mangsa barunya.
“Siapa yang lamabat mengancingkan tali sepatunya ?”
Beberapa saat terdiam. Lalu ragu-ragu beberapa teman mengacungkan tangan.

“Saya ulang siapa yang terlambat mengancingkan tali sepatunya, kenapa tidak menjawab?!!!”
Terdengar beberapa kata “siap” lirih
“Saya masih tidak mendengar !”
“Siap ..!!!” kali ini kata itu terdengar serempak.

Dan tidak berhenti di situ interogasi penuh kasih itu menular bak virus flu di musim hujan. Dari terlambat memakai sepatu, merambat ke giliran mandi, dari giliran jaga graha, sampai saat bangun tidur. Intinya tidak ada satu orang pun yang tidak berkontribusi dalam keterlambatan apel.
“Siswa … jadi siapa yang salah ?”
“Siap…!!” komandan barisanku menjawab lantang.
“Hanya komandan ?”
“Siapppp..” dan seluruh barisan menjawabnya serempak

“Apa hukuman kalian ?!”
“Siap push up 40 kali !!”
“Untuk kesalahan apa ?”
“Siap terlambat berangkat apel !!”
“Kalau begitu tambah 40 kali lagi untuk kebersamaan kalian mengakui kesalahan, dan tambah 20 kali lagi sebagai pengingat agar kalian tidak terlambat kembali …”
“Siappp …” semua serempak menjawab kompak.

Komandan barisan menghadap serong kiri, lalu memberi aba-aba,”Hadap serong kiriii… grakk !! Persiapan push up ! ” dasi kami masukkan baju, topi kami letakkan rapi berjajar menyamping.

Dan setelah semua dalam posisi push-up,
“40 kali untuk kesalahan, Mulai …!!!”
“Satu … dua… tiga ..”
dan setelah hitungan ke 40, komandan mengambil jeda
“40 kali untuk kebersamaan, Mulai …!!!”
“Satu … dua… tiga ..”
lalu kami akhiri dengan,
“20 kali untuk peringatan, Mulai…”
“Satu … dua… tiga ..”

Kami bersalah, kami pun harus jujur mengakuinya. Memang satu dua orang yang menjadi pemicu barisan kami terhukum. Tetapi kepedulian adalah kata kunci, karena bagaimana pun kita harus saling mengingatkan, bahu membahu, dan bukan saling menyalahkan. Ketidak pedulian adalah awal kesalahan, meskipun kecil tapi akan merembet kepada sesuatu hal yang besar. Maka kesalahan satu dua orang juga adalah kesalahan bersama karena kami kurang peduli antar sesama teman. Sungguh suatu pelajaran berharga.

“Siswaa… siapa yang mengeluh ?”
“Siapa yang sakit ?”
“Siapa yang mengajukan protes ?”
dan pertanyaan-pertanyaan itu hanya dijawab sepi.

“Siapa yang sadar telah melakukan kesalahan ?”
“Siapppppppp !!”
“Siapa yang bangga menerima hukuman ?”
“Siapppppppp !!”
“Siapa yang bangga menjadi siswa ?”
“Siaaapppppppp !!”

—————————–

Selalu ada kenangan tentang arti kebanggaan.

Bukan saja ketika meraih kemenangan di ajang lomba. Namun juga tetap bangga ketika menerima kekalahan, karena itulah bukti kelapangan hati dan kedewasaan berpikir. Bangga karena selalu di jalan membela kebenaran, karena akan semakin indah jika dihiasi kebanggaan akan keberanian mengakui kesalahan, menerima tanggung jawab hukuman, dan belajar dari padanya.

 

fixshine,
ditulis untuk Ikastara.org
diinspirasikan oleh Bapak tercinta SMA TN
(alm) A. Karim Usman

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai