Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana praktik seputar mata pencaharian perempuan rural jauh di perbatasan Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste. Penelitian ini berargumen bahwa praktik seputar mata pencaharian adalah bagian kehidupan sehari-hari perempuan rural jauh di desa Napan, Timor Tengah Utara (TTU), yang bukan sekadar konsumsi pasif, tetapi bentuk produksi budaya yang aktif (de Certeau, 1984). Merujuk pada argumen tersebut, maka penelitian ini menawarkan asumsi teoretis bahwa dalam praktik konsumsi-produksi tersebut, perempuan rural jauh di Napan terlibat dengan teks dan praktik budaya melalui praktik apropriasi. Sehingga, dengan kata lain, penelitian ini percaya bahwa pencarian nafkah perempuan rural jauh di Desa Napan memperlihatkan signifikansi bagaimana perempuan rural jauh di Desa Napan menciptakan realitas mereka sendiri, di dalam konteks tatanan dominasi masyarakat.
Berkaitan dengan itu, maka penelitian ini juga akan menjelaskan bagaimana praktik mata pencaharian perempuan rural jauh di Desa Napan adalah praktik sehari-hari yang memungkinkan mereka, sebagai perempuan, mendapatkan kembali rasa otonomi dan penentuan nasib sendiri. Melalui tindakan sehari-hari mereka—seperti berjalan, mengonsumsi, dan berkomunikasi—perempuan rural jauh di Desa Napan menciptakan makna dan pengalaman mereka sendiri, sering kali dengan cara yang menantang atau menafsirkan ulang narasi dominan yang dipaksakan oleh masyarakat.
Beberapa penelitian terdahulu menegaskan bahwa perempuan secara budaya dan secara historis berpartisipasi dalam praktik mata pencaharian, namun dalam berbagai konteks masyarakat – praktik mata pencaharian perempuan mengikuti pengaturan gender pada masyarakat arusutama, yang pada akhirnya menciptakan sistem subordinasi bagi perempuan (Apusigah, 2009). Argumen de Certeau menggarisbawahi bahwa komunitas marginal, termasuk perempuan rural, cenderung tidak dapat melarikan diri dari sistem dominan yang sifatnya opresif. Namun, menurutnya, melalui praktik keseharian komunitas marginal berpotensi merebut kekuasaan dominan melalui kreativitas yang sifatnya subversif.
Berbeda dengan pandangan Bourdieu yang melihat bahwa tatanan sosial (social order) sarat dengan kekuasaan dan pertahanan diri yang dapat dilakukan adalah dengan menolak atau melawan (Bourdieu, 1977). Dengan kata lain, Bourdieu berargumen bahwa individu dan kelompok mengembangkan bentuk perlawanan sebagai respons terhadap dinamika kekuasaan dan struktur sosial yang berusaha membatasi atau mendominasi mereka. Perlawanan ini dapat terwujud dalam berbagai cara, termasuk praktik budaya, gerakan sosial, dan tindakan individu yang menantang status quo. Secara historis, perempuan rural jauh di Desa Napan ada dalam sebuah ekosistem penindasan yang berkelanjutan (Hidayat et al., 2017, Seba, 2016, Nalapraya, 2024). Penelitian terdahulu menjelaskan bagaiama tatanan sosial dalam masyarakat di Nusa Tenggara Timur menjauhkan perempuan dari sumber-sumber kapital ekonomi, budaya, dan politik (Triastuti, 2016, Huda dan Dodi, 2020).
Penelitian ini menolak argumen Bourdieu (1977), karena berpendapat tatanan sosial dominan bersifat historis dan dirawat oleh tatanan dominan demi kepentingan kekuasaan. Argumen Bourdieu yang merujuk pada doxa, cenderung memberikan ruang yang sempit bagi kelompok marginal seperti perempuan rural jauh di Desa Napan untuk mengklaim agensi dan melawan penindasan. Sebaliknya, penelitian ini akan mengusulkan bahwa De Certeau (1984) berpendapat bahwa individu yang terpinggirkan menggunakan taktik kreatif, yang memungkinkan individu untuk mendapatkan kembali otonomi dan menciptakan makna mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana perempuan rural jauh di Desa Napan mengadaptasi atau menafsirkan ulang ruang dan sumber daya yang tersedia bagi mereka dengan cara yang mencerminkan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri melalui praktik mata pencaharian.
Penelitian akan menguraikan secara holistik, bagaimana perempuan rural jauh di Desa Napan yang terpinggirkan terlibat dalam praktik sehari-hari mata pencaharian dan menemukan cara untuk menavigasi lingkungan mereka, mengubah kegiatan-kegiatan biasa menjadi tindakan perlawanan dan ekspresi diri. Dengan kata lain, penelitian ini hendak menjelaskan secara komprehensive kreativitas perempuan rural jauh di Desa Napan sebagai bentuk agensi yang memungkinkan mereka untuk menegaskan identitas mereka dan menantang status quo (de Certeau, 1984).
Lebih jauh, penelitian ini berargumen bahwa media digital, khususnya media selular, berperan dalam membentuk pengalaman sehari-hari dan praktik sosial (de Certeau, 1984, p. 108). Penelitian ini berargumen telpon selular membantu perempuan rural jauh di Desa Napan menavigasi isolasi sosial, ekonomi, dan budaya dan dapat melakukan praktik keseharian dimana informasi berperan penting dalam mengubah keberadaan mereka dalam tatanan sosial. Artinya, penelitian ini hendak menjelaskan bagaimana interaksi perempuan rural jauh di Desa Napan dengan media mendorong produksi makna pribadi kehidupan sehari-hari mereka untuk mengaproriasi narasi yang dominan dan menegaskan identitas dan pengalaman mereka sendiri.
Uraian argumen di atas akan diintisarikan dalam dua pertanyaan penelitian, yaitu:
- bagaimana perempuan rural jauh di Desa Napan mengapropriasi praktik seputar mata pencarian untuk menavigasi ekosistem penindasan
- bagaimana engagement perempuan rural jauh di Desa Napan dengan telepon selular mengapropriasi narasi dominan untuk menegaskan identitas dan pengalaman mereka.