Road Trip 4 Negara: Ditilang Di Prague

Hai… urusan dengan polisinya ternyata masih berlanjut sampai ke ujung liburan kami haha. Prague adalah destinasi terakhir liburan summer kami kemarin, dan kejadian ini tepat saat kami akan pulang lagi ke Belanda.

Di Prague itu kami menginap di apartement tetapi kami tidak menggunakan jasa parkir basement-nya karena harus bayar :p Jadi kami lebih memilih yang free saja, yaitu parkir di pinggir jalan. Legal kok dan tempatnya juga di samping apartement, jadi yowes lah.  Main-main di Prague terbilang lancar meski muter kota dengan kondisi mobil penyok. Kami jalan-jalan sampai malam tetapi Alhamdulillah sampai apartement kami masih bisa mendapatkan parkir. Kami parkir di belakang satu mobil. Di depan mobil depan kami tidak ada lagi mobil lain karena sudah mendekati ke arah pertigaan lampu merah. Sat set… mobil kami terparkir rapi.

Esoknya adalah agenda kami pulang ke Belanda. Kami check-out hotel jam 10.30an. Kami bertemu security di meja resepsionis dan saling menyampaikan salam perpisahan. Kami pulang dengan riang karena akhirnya kami bisa melewati Jerman, Austria, Budapest, dan Prague. Namun… jreng…jreng.. ketika mesin mobil dinyalakan tiba-tiba pak suami menyadari… waduhhhh apaaaa iniiii! Secarik kertas tertempel di kaca mobil samping. Tulisannya berbahasa Prague. Buka-buka google translate….. eaaaa ini surat cinta dari polisi. Karena kami agak kesulitan merangkai kata-katanya akhirnya pak suami balik lagi ke meja resepsionis meminta bantuan maksudnya ini apa. Ternyata ya! Kami ditilang. Suami meminta saran kepada security yang tadi bertemu, “Lalu saya harus apa?”. Security itu bilang sebaiknya kamu ke kantor polisi saja, paling didenda sekian (dia menyebutkan angka) daripada nanti polisi sini menghubungi polisi internasional masalahnya malah makin panjang. Wew… ngeri amat ya ngedengernya, polisi internasional. Yowes akhirnya kami ke kantor polisi.

Sampai kantor polisi ternyata layanan tilang nya sudah tutup jam 10an. Kami diminta untuk kembali lagi besok. “Waduh, saya mau pulang ke Belanda ini, Pak. Kalau besok berarti saya harus menginap lagi”, kata pak suami ke polisi yang ada di sana. Susahnya juga, polisi di sana tidak bisa berbahasa Inggris jadi ya campur Bahasa isyarat komunikasinya. Beruntung di tengah kesulitan ada kemudahan… tiba-tiba datang seorang lelaki muda yang kena tilang juga, lucunya dia juga kena tilang di parkiran apartemen yang sama, dan masalahnya juga sama dengan kami, yaitu ditilang karena parkir terlalu dekat dengan lampu merah. Ternyata malam tadi ada polisi yang patroli dan beberapa mobil kena tilang dengan kasus yang sama.

Lelaki muda itu bisa berbahasa Inggris dan akhirnya jadi translator bagi pak suami dan polisi. Setelah dijelaskan akhirnya kami bisa diproses asal menunggu polisi yang tadi malam patroli. Awalnya lelaki muda itu yang diproses dan dia kena denda sejumlah sekian Koruna (mata uang Ceko). Selanjutnya pak suami yang diproses. Polisi bertanya SIM suami, setelah ditunjukkan lalu polisi bertanya, “Apakah kamu punya mata uang Ceko?”. Suami menjawab, “Ya, hanya sekian Koruna”. Tentu saja pertanyaan ini melalui lelaki muda itu yang diteruskan kepada suami dengan Bahasa Inggris. Polisi menimbang-nimbang… akhirnya dia bilang ke lelaki muda itu kurang lebih begini: Sampaikan kepada dia (pak suami) kalau dia (pak suami) tidak didenda tetapi hanya dicatat saja. F*ck! Lelaki muda itu merasa zonk karena dia sendiri kena denda hahaha… Pak suami kaget…. wiiii kok bisa? Lalu lelaki muda itu bilang, “Because, you are a nice guy!” HAHAHAHAHA. Entah bohong apa nggak itu lelaki muda tapi yaaaa Alhamdulillah… Lagi…. kali ini dibuktikan lagi, di tengah kesulitan ada kemudahan.

Selesai sudah lah urusan kami di Prague saat itu 🙂

Road Trip 4 Negara: Tabrakan di Austria

Udah lama banget pengen nulis pengalaman road trip musim panas kemaren di blog ini, tapi rasanya susyaaah syekalii menuangkannya ke dalam kata-kata. Saking banyaknya hal yang ingin diceritain jadi rasanya terlalu luas untuk menyajikannya hanya dalam satu cerita. Jadi saya berencana (rencana yak hihi) membaginya ke beberapa post yang mudah-mudahan inti ceritanya bisa disampaikan dengan menarik.

Cerita dimulai dari yang ekstrim dulu yak… haha, yaitu cerita tabrakan. Pas liburan, tepatnya di awal-awal liburan! Gimana langsung gak mood coba liburannya 😀 tapi the show must go on! Mau balik lagi ke rumah itu sesuatu yang mahal… hotel-hotel udah di booking, pun posisi kami saat itu udah di tengah-tengah. Rasanya ya senang, sedih, takut, khawatir dalam satu waktu. Puas? Tentu saja tidaaakkks!

Jadi kejadiannya itu di parkiran McD kawan-kawan, bukan di jalan tol Jerman yang kecepatannya bisa 160KM/jam, juga bukan di jalan sempit berkelak-kelok. Di parkiran! (perlu ya mbak diulang-ulang :P). Jadi gini, parkirannya itu berbentuk huruf L (bayangin huruf L ya). Nah posisi parkir kami ada di ujung L (bawah), sedangkan partner tabrakan kami berada di ujung L lain (atas). Kami berdua sama-sama mau ke arah tengah-tengah L, terbayang sudah kan ya tabrakannya bagaimana? Nah, masalahnya posisi partner tabrakan kami itu berasal dari arah kanan kami, jadi mau tidak mau, meskipun beliau yang ngebut tetap kami lah yang (pasti) salah karena seharusnya kami mengalah untuk tidak maju dulu. Itu aturan lalu lintas baku yang berlaku di Eropa.

Saya duduk di sebelah pak suami yang sedang nyetir, tetapi fokus saya lagi ke piring makanan jadi kepala agak nunduk. Terbesit rasa bersalah kenapa saya tidak menengok ke kanan untuk ikut memastikan jalan kosong. Yasyudah… tetep positive thinking!namanya juga ditakdirkan untuk bertabrakan ya syudah Alhamdulillah rasa bersalah itu lama kelamaan hilang dengan sendirinya. Brukk! mobil berhenti tapi agak goyang. Wohooo ternyata bemper kanan depan mobil menubruk bemper kiri mobil orang. Seketika saya dan pak suami saling memandang dalam diam. Saya mencoba tenang dan Alhamdulillah emang tenang sih… alhamdulillahnya juga pak suami bisa menghadapi masalahnya dengan tidak panik. Saya mencoba untuk tidak berkomentar. Kami tidak saling menyalahkan. Seingat saya ketika pak suami telah memastikan apa yang terjadi beliau cuma bilang, “Tabrakan, Pur”. WKWKWK.

Kami bertabrakan dengan mobil plat Jerman (kami sendiri plat Belanda) dan tabrakan itu terjadi di Austria. Ternyata kami bertabrakan dengan seorang wanita muda dan dia tidak bisa berbahasa Inggris.  Judes sekali orangnya hehe… bahkan sampai masalah selesai di TKP pun kami tidak tahu siapa namanya. Dia histeris sampai nangis duduk di lantai. Ada satu pengunjung (warga Austria) yang menjadi saksi tabrakan itu dan dia lah yang menelepon polisi. Nah lho kebayang gak sih bakal berurusan dengan polisi di negara lain. Pengunjung itu juga yang bisa berkomunikasi dengan wanita itu karena dia bisa berbahasa Jerman. Kami bertanya padanya, “Apakah dia (wanita itu) tidak apa-apa?”. Dia menjawab, “Tidak apa-apa, dia cuma syok.” Kami juga syok kali hahahaha.. bahkan mobil kami rusaknya lebih parah dari dia. Sampai-sampai seharusnya mobil kami diderek, tapi karena kami takut biayanya mahal pak suami mencoba berbagai macam cara supaya mobil bisa jalan setidaknya sampai bengkel. Disini saya juga salut dengan pak suami, masih bisa solutif at the hardest time.

Akhirnya dua orang polisi datang dan syukur tidak seseram yang dibayangkan. Tidak ada drama, polisi bersikap baik kepada kedua belah pihak. Pertanyaan pertama, “Apakah ada yang terluka?”. Selanjutnya polisi menanyakan kronologis kejadian kepada kedua belah pihak menurut versinya masing-masing. Setelah mendengar cerita, polisi bertanya apakah mau diselesaikan secara damai atau dibuatkan laporannya. Ternyata wanita itu tidak mau dan memilih dibuatkan laporan polisinya. Maksudnya disini adalah bukan berarti kami dihukum dan diadili, tetapi laporan polisi itu diperlukan untuk klaim asuransi. Dan kemungkinan besar kami yang salah (menurut aturan) maka asuransi kami lah yang akan menanggung biaya perbaikannya. Memang setiap kendaraan disini wajib diasuransikan. Nah asuransinya itu sendiri yang bisa kita pilih, apakah mau yang full service atau yang tidak. Kebetulan kami memilih asuransi yang menanggung biaya perbaikan mobil lain, jika terjadi tabrakan dan kami yang salah, jadi perbaikan mobil kami sendiri tidak tertanggung. Tidak butuh waktu lama akhirnya pemeriksaan selesai. Polisi bilang laporan akan dikirim dalam dua minggu, kami diberi kartu nama polisinya, contact personnya lah.. Terakhir kami bertanya apakah kami masih boleh jalan dengan kondisi mobil seperti ini. Polisi bilang ya silakan karena darurat tetapi lebih baik kami ke bengkel dulu untuk memastikan keamanannya. Polisi menunjuk bengkel di seberang jalan. Setelah bersalaman polisi kemudian pergi.

Masalahnya mobil tidak bisa diajak jalan. Ada bagian bemper yg penyok ke arah ban, jadi ban tidak bisa berputar. Saya menunggu di mobil sedangkan suami menghubungi bengkel. Cukup lama suami balik ke mobil. Bengkel di seberang kok lama sekali… pikir saya. Ternyata setelah kembali ke mobil suami cerita kalau di bengkel seberang, mobil harus diinapkan karena harus mengantri dan kita bukan member jadi bukan prioritasnya. Makanya suami jalan kaki mencari bengkel lain. Alhamdulillah di tengah kesulitan ada kemudahan… tidak jauh dari bengkel itu ada bengkel mobil merk mobil kami. Bengkel resmi tepatnya. Dan dia bisa memperbaiki mobil kami asaaaal… mobil kami yang kesana (montir tidak bisa ke TKP). Meski kami ceritakan mobil kami tidak bisa jalan tetap montir tidak bisa ke TKP, solusi mereka adalah mobil derek. Beuuuh kebayang sudah besarnya biaya jika kami menggunakan mobil derek, belum lagi nanti kami akan servis di bengkel resmi hiks hiks.. Akhirnya atas izin Allah dengan berbagai usaha pak suami ngotak-ngatik sana sini, mobil bisa dibawa ke bengkel. Pada saat itu saya hanya berdoa semoga hari ini bisa dilalui, masalah teratasi. Hari itu sudah sore, jam 4 sore. Kami takut keburu malam. Pikiran saya sudah ke… nanti menginap dimana jika harus disini.

Alhamdulillah sampai bengkel resmi kami bertemu dengan supervisor servisnya. Suami bilang tolong diperbaiki cepat, hanya supaya mobil bisa jalan dan aman. Jreng jreng jreng… ternyata ada part yang diganti, terutama lampu depan. Udah gitu ketika bemper mau dipotong… suami teriak.. wait! Apakah gak ada usaha lain selain memotong bemper? Montir bilang nope. Yowesss akhirnya kami pasrah. Setelah otak-atik lalu test drive akhirnya mobil bisa jalan kembali meski penampilannya belum baik. Sudah kebayang saya mau bilang kalau biayanya besar, pakai saja dulu tabungan Mandiri saya.

Tetapi janji Allah itu pasti. Di tengah kesulitan ada kemudahan… kali ini pun berlaku di bengkel itu. Ketika kami bertanya berapa biayanya, supervisor servis bilang…. “No, this is your key!” sambil menyerahkan kunci, “What, is it free?”, suami syok. “Yeaaaaa… sekarang udah lewat waktu kerja jadi you pay for nothing“. Huwaaaa Alhamdulillah. Memang mobil itu selesai diperbaiki ketika sudah melewati jam buka bengkel. Tetapi kalau dipikir-pikir bisa saja malah para montir itu masuknya lembur karena dipekerjakan di luar jam kerjanya, mengingat pekerjaan jasa disini sangat dihargai. Tetapi atas izin Allah… kami mendapat kemudahan kembali. Mungkin juga supervisor itu kasian kepada kami hahahaha… orang asing, badannya kecil, plat mobil Belanda dan membawa bayi 😛 Apapun perasaan kami hari itu naik turun antara takut, senang, sedih, dan khawatir. Selanjutnya adalah what will we do next? Mau balik ke Belanda rasanya berat karena hotel sudah di-booking dan perjalanan sudah jauh, mau lanjut…. kami harus berbesar hati karena akan berjalan beribu kilometer lagi dengan keadaan mobil bekas tabrakan (terlihat jelas sekali bemper depan kanan kami rusak).

Akhirnya kami memutuskan lanjut.. the show must go on! Hari itu kami memutuskan langsung ke hotel yang sudah dipesan. Di malam hari akhirnya kami mulai membahas mengenai tabrakan. Sempat ada air mata disana tetapi tetap kami bersyukur adanya kemudahan di tengah kesulitan. Pengalaman ini sungguh membuka kembali keyakinan (saya khususnya) kepada Allah. Semoga kami menjadi lebih baik. AAMIIN.

Merantau

Merantau. Bagi keluarga saya, terutama dari garis keturunan ibu, merantau adalah sesuatu yang dihindari. Nenek saya bercerita.. dulu ibu saya dan adik-adiknya memang diminta untuk tdak pergi merantau. Alasannya adalah biaya… nanti kalau merantau ada biaya kos, ada biaya  transport, biaya makan, dll. Kalau merantau biaya akan semakin besar, katanya. Mungkin alasan itu logis mengingat kakek saya hanya seorang PNS yang gajinya tidak seberapa yang harus cukup untuk menghidupi istri dan ketujuh anaknya. Prinsipnya, anak-anaknya harus sekolah, bergelar, dan bekerja. Namun syaratnya tidak usahlah merantau. Katanya kurang lebih seperti itu.

Sampai akhirnya di generasi berikutnya, yaitu ibu saya, pada awalnya memang secara halus meminta saya untuk tidak merantau. Tidak dinyatakan, tetapi terlihat dari kekhawatirannya bila saya pergi jauh. Kalau ini mungkin bukan alasan ekonomi tetapi lebih karena rasa sayang beliau terhadap kami bila kami jauh dari keluarga. Nyatanya saya dan adik saya setidaknya pernah merantau ke kota lain. Adik saya karena melanjutkan sekolahnya ke kota Bogor, dan saya karena bekerja di Jakarta. Apakah ada masalah dengan merantau kami kali itu? Tidak. Karena setiap minggu kami masih bisa pulang ke Bandung, tidak perlu khawatir dengan ongkos pulang-perginya.

Nah, cerita merantau jadi berbeda ketika saya sudah menikah. Ini adalah merantau yang sebenar-benarnya. Jauh dari keluarga, jauh dari saudara, jauh dari sahabat karib, jauh dari kolega, dan jauh dari Indonesia. Dimana smenjadi sadar bahwa merantau ini adalah suatu proses pendewasaan diri. Dimana saya menjadi sadar bahwa tiada tempat bergantung selain kepada Allah SWT. Dimana saya menjadi sadar bahwa memang sebaiknya setelah menikah itu suami istri tinggal bersama dan mandiri supaya bisa tumbuh dan berkembang bersama, tidak tumbuh sendiri-sendiri. Dimana saya menjadi sadar bahwa saya sedang menjalani hidup dengan tanggung jawab. Dimana saya menjadi sadar bahwa inilah peran yang sedang saya jalani. Dimana saya menjadi sadar bagaimana caranya bertahan dan menjalani hidup. Dan masih banyak kesadaran-kesadaran lain yang pasti akan saya temukan selama proses merantau ini.

Dengan demikian feeling merantau di keluarga saya berubah karena sudah ada generasi yang merantau dengan sebenar-benarnya. Pengalaman merantau sudah pecah telor di keluarga kami. Akankah generasi berikutnya menjadi lebih berani dan lebih siap untuk merantau? We’ll see…

Thanks Allah.ya

Spring Trip 2017: Travelling Seminggu ke 3 Negara

Dalam rangka menemani ibu dan bapak mertua yang datang ke Eropa, jadilah kami mengikuti jadwal beliau jalan-jalan ke beberapa negara di Eropa. Sebenarnya ibu bapak akan berada di Eropa selama 2 minggu dengan jadwal travelling yang padat sekali. Kalau saya tidak salah, destinasi travelling beliau di Eropa adalah ke Perancis, Belgia, Belanda, Jerman dan Austria. Tetapi kami hanya ikut jalan-jalan bersama beliau selama 1 minggu (6 hari 5 malam) dengan tujuan Perancis, Belgia dan Belanda.

Di Perancis kami menginap 2 malam, di Belgia 1 malam, dan di Belanda 2 malam. Fiuuh.. rasanya capek dan jujur saya kurang puas. Saya bertekad bersama suami jika ada rezeki kami ingin mengunjungi negara-negara ini sekali lagi dengan santai. Aamiin..

Namun saya sangat bersyukur. Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di tanah Eropa, bahkan bisa mengunjungi tempat-tempat yang dulu saya lihat hanya di televisi. Perancis dengan menara Eiffelnya, Belgia dengan cokelatnya, dan Belanda dengan tulipnya.

Baiklah.. bermaksud sharing informasi mengenai travelling kami kemarin, berikut adalah rekam jejak kami:

Perancis

Dari Amsterdam Belanda, kami menuju stasiun kereta karena kami akan pergi ke Paris menggunakan kereta Thalys. Kereta Thalys ini adalah kereta cepat yang menempuh jarak Amsterdam-Paris hanya dalam waktu 4 jam saja. Di Paris kami menginap di aparthotel Adagio yang berada di daerah Buttes Chaumont. Kami mengambil yang tipe apartemen karena kami menginap sekeluarga. Di Paris kami membeli tiket bus hop on hop off untuk seharian. Bus ini adalah bus wisata khusus untuk city sightseeing dan kita bisa turun di bus stopnya lalu lanjut lagi ke itenary berikutnya menggunakan bus ini juga. Busnya 2 tingkat, kalo di Bandung yaa semacam bandros sama kayak gitu. Di tengah kota Paris ini kami mengunjungi Arc de Trumph, Menara Eiffel, Katedral Notre Dane, dan Musse de Luvre. Karena ini termasuk travelling irit, kami menggunakan fasilitas yang free saja hehe.. jadi ga ada itu kami naik ke menara atau masuk ke museum Luvre untuk melihat mona lisa. Oya tambahan itenary kami di Paris yaitu ke Istana Versailes. Cukup jauh dari pusat kota, karena kami harus naik kereta lagi.

20170403_115731

Bis Hop On-Hop Off untuk city sightseeing

Belgia

Dari Paris kami balik lagi ke Belgia menggunakan Thalys. Jadi Belgia ini ada di antara Belanda-Perancis. Kami turun di Brussel Zuid. Di Belgia kami tinggal di hotel Slina. Tidak banyak yang kami explore di Belgia. Kami hanya pergi ke pabrik cokelat Neuhause (shop nya) dan Atomium.  Namun saya cukup puas ketika berada di Neuhause karena saya bisa mencicipi cokelat all you can eat hehe..

20170404_131001

Toko cokelat Neuhause dimana kita bisa icip-icip cokelat all we can eat! hihi

Belanda

Tiga hari terakhir kami main-main di Belanda. Hari pertama kami habiskan di Rotterdam. Di Rotterdam kami pergi ke pusat perbelanjaan, tidak ada yang spesial. Di Belanda kami menginap di daerah Alphen a/d Rhein, tepatnya di Hotel Avifauna. Hari kedua kami pergi ke Amsterdam. Oya, sebelum kami ke Amsterdam, kami mampir ke Den Haag untuk mengunjungi Japanese Garden. Saya suka sekali dengan kota Den Haag karena suasananya nyaman, tenang, dan halaman rumahnya luas. Tidak lama kami di Den Haag lalu kami lanjut ke Amsterdam.

Di Amsterdam kami makan makanan Vietnam, tepatnya di restoran Little Sagoon.Saya pernah ke restoran ini sebelumnya dan saya merekomendasikannya ke orang tua karena makanannya enak dan porsinya besar! Taraaa ternyata orang tua juga bilang makanannya enak hehe..

20170304_123515

Salah satu menu yang kami pesan, ini menu ayam

Alhamdulillah. Btw selama perjalanan sebelumnya kami belum pernah makan enak di restoran cantik, demi menghemat biaya haha. Palingan kami makan di restoran cepat saji semacam Burger King dan McD.

Nah, hari ketiga di Belanda inilah yang kami tunggu-tunggu, karena kami akan ke Keukenhoff! Horee! Kami naik kereta menuju Leiden dan sesampainya di Leiden ternyata ada bus khusus yang lanjut ke Keukenhoff. Keukenhoff ternyata sangat luaaaas sekali. Selain ada tamannya, ada juga yang bentuknya (kalau saya sebutnya) sawah bunga. Sayangnya pada saat kami kesana, yaitu minggu pertama April, bunga-bunganya banyak yang belum mekar terutama yang berada di kebun dan sawah bunga. Awalnya kami kecewa tapi akhirnya terobati karena di tengah kebun ada rumah kaca dimana bunga-bunga yang berada di sana sudah berbunga dan berwarna-warni. Tidak salah lagi deh disana kita foto-foto 🙂 dan selesailah destinasi liburan kami sore itu. Kami kembali lagi ke Enschede, Belanda.

Itulah rangkuman liburan Spring 2017 kami. Ingin rasanya saya menceritakan kembali dengan lebih detail untuk tiap negara di postingan yang berbeda. Semoga di lain waktu saya semangat menulis lagi haha. Ini pun saya tulis supaya saya bisa #tbt hihi… berhubung yang tersisa dari liburan kemarin hanyalah foto-foto dan tulisan ini karena saya tidak jamin memori yang ada di otak bisa tersimpan lama (emak2 udah mulai rungsing banyak pikiran) :p

20170407_133341

Rumah kaca di Keukenhoff 🙂

Okee see you in another trip, maybe Summer Trip or Autumn Trip or Winter Trip hehe. Aamiin..

Cheers,

Tentang Belanda

Tanah kelahiran saya adalah Indonesia, tanah yang dijajah oleh negara dimana saya tinggal saat ini. Sekarang saya disini, ya di Belanda. Bukan untuk balas dendam tentunya.. tapi untuk menagih balas budi hehe..

Becanda..

Kenapa saya di Belanda? Alhamdulillah saya disini jadi motivatornya suami agar lulus kuliah master tepat waktu dengan hasil yang memuaskan haha.. Alhamdulillah nya lagi suami saya dapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk kuliah di Belanda. Jadi sebenarnya kami sangat beruntung karena kami bisa melihat dunia yang MasyaAllah luasnya hanya dengan 0 rupiah dari kantong kami (karena sudah ditanggung oleh sponsor beasiswa). Tapi yaaaa berat konsekuensinya. Tanggung jawab terhadap negara tercinta Republik Indonesia harus kami tunaikan dengan sebaik-baiknya (mohon doanya yaaa semua.. hehe..

Anw back to Belanda. Gimana sih Belanda? Hal itu lah yang menjadi pertanyaan saya ketika harap-harap cemas mempersiapkan diri merantau ke Belanda. Saya mewawancarai beberapa teman yang pernah datang ke Belanda. Dari beberapa kesan yang diberikan, yang menjadi perhatian mereka adalah cuaca, cuaca yang dingin dan angin yang besar. Mungkin bukan hanya di Belanda sih yang cuacanya dingin, mungkin di sebagian besar negara Eropa lain juga sama cuacanya dingin. Hanya pas kebetulan saya membahas tentang Belanda jadi fokus utamanya adalah Belanda.

Okee.. sekarang saya disini, di Belanda. Akhirnya saya merasakan sendiri hawa Belanda seperti apa. Meski belum sepenuhnya menjelajahi negeri Belanda karena sebagian besar waktu saya habis dengan mengurus Aluma di rumah dan saya baru 2 bulan disini, saya akan menggambarkan sedikit mengenai kebiasaan orang Belanda yang cukup menarik perhatian saya. Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak maka disana langit dijunjung yang artinya kurang lebih, “sebaiknya kita selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita berada”, maka mari kita pelajari apa itu kebiasaannya.

20170406_153823

Kanal, icon di Amsterdam Central

Saya rangkum sebagai berikut:

1. Belanda itu lebih dingin daripada Indonesia. Jadi siapkan minimal 1 jaket dan syal ketika akan pergi ke Belanda. Meskipun kata orang Belanda ketika spring itu menghangat tapi bagi orang Indonesia yang baru datang pada saat itu, cuaca masih tergolong dingin. Ditambah angin yang besar menambah dinginnya hari.

2. Ramalan cuaca sangat bermanfaat ketika akan memutuskan kegiatan apa yang akan dilakukan hari ini. Dari ramalan itu bisa terlihat kondisi tiap jam dari cuaca hari ini, apakah hujan atau cerah dan sepengalaman saya informasinya cukup akurat.

3. Transportasi umum disini saling terintegrasi dan bisa diakses melalui Gmaps. Jadi misal kita mau ke A naik kendaraan umum, tinggal buka Gmaps lalu pakai menu Go To. Nanti akan tersaji kita bisa ke A dengan naik apa, misal naik bus no berapa dan jam berapa lalu lanjut kereta apa dan jam berapa. Intinya waktu kita akan sangat efektif dan kita ga perlu nunggu ngetem yang ga jelas kapan ini bis berangkat. Jadinya kita pun bisa memperkirakan jam berapa kita akan sampai ke tujuan, karena informasi itu akan tersaji.

4. Koneksi internet di area publik tersedia.

5. Kran air di rumah itu ada dua, air panas dan air dingin. Jika tidak ada keterangan bukan untuk diminum, sebagian besar air dingin disini bisa langsung diminum. Kalau air panasnya katanya tidak disarankan untuk langsunh diminum.

6. Orang Belanda cenderung ramah. Dengan supir bus, dengan kasir supermarket, dengan tetangga dekat, dengan tetangga jauh, ketika masuk ruang tunggu dokter, dengan tukang maintenance apartemen…. biasakan saling sapa dengan hai atau hallo atau goedemorgen! (tergantung jamnya). Meskipun tidak ada perbincangan selanjutnya tetapi menyapa hai dan hallo itu sesuatu banget menurut saya.

7. Kalau belanja di supermarket, kasir hanya membantu menghitung belanjaan. Jadi yang memasukkan belanjaan ke tas belanja adalah kita. Dengan membawa tas belanjaan sendiri! Gimana kalau ga bawa tas belanja? Tenang.. disana ada juga tas belanja, tapi bayar 🙂

8. Di setiap kota kecil ada Centrum. Di Centrum ini semacam pusat perbelanjaannya gitu deh. Ada banyak toko.. tapi kalo hari Minggu tokonya tutup semuaaa! Beda dengan Indonesia dimana kalo hari Minggu itu mall malah penuh. Disini hari Minggu adalah hari untuk keluarga.

9. Pasar tradisional disini cuma ada 2 kali dalam seminggu, yaitu hari Selasa dan hari Sabtu.

10. Fasilitas publik di Belanda sangat friendly untuk bayi, orang tua, dan penyandang disabilitas. Baik itu di jembatan penyebrangannya, di stasiunnya, dan di kendarannya.

11. Biaya jasa disini sangat dihargai! Jadi kalau mau potong rambut, mau ngebengkel itu akan menghabiskan euro yang lumayan kalau dirupiahkan hehe.. jadi kalau bisa membekali diri dengan skill minimal bisa potong rambut sendiri itu sudah menghemat beberapa euro :p

12. Punya sepeda disini rasanya prioritas, karena bisa memudahkan mobilisasi dan prasarananya pun nyaman sekali untuk gowes. Jadi sayang kalau ga naik sepeda di sini..

13. Toko halal disini mudah ditemui. Toko asia juga ada. Mau cari beras juga gampang. Mau cari tempe ada. Yang suka rambutan ada. Bahkan Indomie juga mudah didapat 🙂

14. Kalau mau beli perabotan rumah/ pakaian/ sepatu/ mainan kringloop bisa jadi pilihan. Kringloop itu adalah toko barang bekas dan harganya jauuuuuh lebih murah daripada barang baru. Dan babe disini lengkap dan bagus2 haha. Mulai dari sendok piring gelas sampai yang barang antik ada.

15. Kalau di Indonesia kita selalu menunggu jalan kosong dulu kalo mau menyebrang, nah kalau disini ada kalanya para pejalan kaki dan pesepeda mempunyai prioritas untuk didahulukan. Jadi mobil-mobil akan mengalah untuk kita.

Okeee nampaknya cukup sekian dulu yaaa. Saya masih harus mempelajari lagi tentang Belanda. Fyi saya tinggalnya di Enschede, Belanda. Saya kurang paham kalo di kota lain sama atau nggak yaa dengan apa yang saya ceritakan di atas. Tapi mudah-mudahan highlight ini bisa bermanfaat untuk yang benar-benar ngeblank tentang Belanda.

Cheers!

Naik Pesawat Bersama Bayi

Bulan Februari 2017 kami berangkat ke Belanda menggunakan Garuda Indonesia transit Singapur selama 2 jam. Ini adalah kali pertama Aluna melakukan perjalanan jauh darat dan udara. Kami berangkat dari Bandung sehingga apabila ditotal, lama perjalanan kami seluruhnya Bandung-Belanda adalah 32 jam. Saat itu Aluna berusia 7 bulan. Usia dimana sudah mulai aktif dan reaktif terhadap lingkungan baru.

Pengalaman kami membawa bayi naik pesawat cukup menegangkan karena nampaknya Aluna tidak enjoy naik pesawat. Entah itu karena tidak nyaman, takut karena baru pertama kali, atau mungkin karena capek. Karena tidak enjoy itu jadinya yaaa sering nangis bahkan sampai sulit didiamkan. Saya dan bapaknya sampai bergantian menggendong Aluna sambil berjalan-jalan di lorong kabin untuk mendiamkan Aluna. Yang kami khawatirkan adalah orang sebelah kursi kami terganggu dengan tangisan Aluna yang cukup keras. Terbukti… setelah landing di bandara Schipol, bule yang duduk tepat di samping suami berkomentar, “She’s cute when she slept”. Dag! apa bulenya serius ngomong itu atau nyindir yak? :p

Okee… berdasarkan pengalaman itu, saya akan merangkum beberapa hal mengenai perjalanan naik pesawat dengan bayi:

  1. Pastikan sebelum terbang bayi menggunakan pakaian yang nyaman dan diaper sudah diganti dengan yang baru.
  2. Kalau bisa memilih, pilihlah kursi paling depan karena space di kursi paling depan cukup lebar sehingga mommy bisa meregangkan kaki lebih leluasa, selain itu kita juga bisa request bassinet kepada pramugari sehingga bayi bisa ditidurkan disana. Pengalaman Aluna kemarin, bassinet ini sangat berguna ketika Aluna sedang tidur. Kami bisa beristirahat dengan bebas dan supaya tidak pegal selalu memangku bayi. Kecuali ketika ada turbulence bayi diangkat dari bassinet karena bassinet tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman.
  3. Siapkan makanan kesukaannya baik snack maupun makanan berat, karena siapa tau bayi tidak suka dengan makanan instan yang disiapkan oleh maskapai. Pengalaman Aluna kemarin kejadian, Aluna tidak suka makanan dari maskapai. Beruntung kami membawa bubur homemade yang dibuat sebelum berangkat (kami sempat memasukkannya ke dalam freezer beberapa saat) dan Alhamdulillah rasa dan baunya masih bagus jadi Aluna bisa makan dengan lahap. Untuk air putih panas atau dingin kita bisa minta ke pramugarinya.
  4. Siapkan mainan yang menarik baginya untuk meminimalkan kebosanan pada bayi.
  5. Jika bayi rewel, hadapi dengan tenang. Saya sarankan sih kalau pergi dengan bayi pertama kali naik pesawat perjalanan jauh, ada yang mendampingi untuk bergantian menjaga kalau repot tapi kalau terpaksa pergi sendiri dan percaya diri atau sudah sering bolak-balik naik pesawat ya tidak apa-apa. Cara mendiamkan Aluna kemarin adalah dengan mengajaknya jalan-jalan dan melihat lampu! Maksudnya adalah alihkan perhatiannya ke sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga dia lupa dengan menangisnya dan menjadi lebih tenang. Kalaupun menangis terus sepanjang jalan, harap sabar hee.. yang bisa kita lakukan adalah menjaganya, mencoba meredakan, minimal tidak sampai mengamuk. Mommy pasti punya caranya masing-masing 🙂
  6. Yang bahaya bagi bayi ketika naik pesawat adalah adanya perbedaan tekanan, terutama pada saat take off dan landing. Coba perhatikan, apakah mommy pernah merasa telinga mommy sakit/tidak nyaman pada saat take off/landing? dan ketidaknyamanan itu  menghilang ketika mommy menelan ludah? Nah, pada orang dewasa saja kadang ketidaknyamanan itu terasa apalagi pada bayi. Jadi jangan lupa membantu bayi untuk menelan untuk menstabilkan dirinya. Kalau saya menyarankan sambil memberinya minum, entah itu direct breastfeeding atau melalui botol, yang penting bayi menelan. Kalau bayi tidur bagaimana? Amati dan siaga siapa tau di tengah-tengah bayi terbangun.

Begitulah sedikit catatan saya ketika membawa Aluna naik pesawat. Mudah-mudahan informasi ini membantu mommy yang sedang bersiap-siap membawa bayinya naik pesawat.

Cheers,

Ibu Rumah Tangga

Ternyata oh ternyata menjadi ibu rumah tangga itu luar biasa sibuknya. Pekerjaan tiada henti selama 24 jam. Seputar anak, seputar suami, seputar dapur, seputar kamar tidur, seputar kamar tamu, seputar kamar mandi…. oh oh pantas saja ibu jadi mbah google di rumah. Coba saja perhatikan, “Bu, kaos kaki Bapak dimana?”, “Bu, lihat kunci motor aku nggak?”, “Bu, jam tangan aku dimana yaa aku lupa nyimpen”, “Bu, masak apa?” dll… Wahhhh segudang pertanyaan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga ibu pasti tahu (biasanya). HEBAT YAAA IBU-IBU!

Setiap hari ibu rumah tangga selalu dapat kejutan. Pekerjaan memang berulang, itu lagi-itu lagi dengan tujuan akhir sama: RAPI, BERES, KENYANG, HEMAT, tapi prosesnya yang beda. Banyak distraksinya sis! Tapi mungkin beda cerita sih kalau anaknya sudah besar dan mandiri, oh ya, saya juga ga bermaksud men-generalisir ibu rumah tangga seperti yang saya ceritakan disini. Maksud saya adalah saya menceritakan tentang diri sendiri dan mencoba mengejawantahkannya melalui tulisan ini. Maklum, saya newbie jadi ibu rumah tangga, udah gitu baru punya bayi dan hebohnya lagi adalah sekarang saya sedang merantau di negara lain yang jauh dari keluarga #curcolkan haha.

Okaay but the show must go on! Alhamdulillah nya saya menetap di negara maju. Dimana kemudahan di segala bidang kerasa banget, tinggal pinter-pinternya saya beradaptasi dan bersosialisasi. Adaptasi dengan lingkungan yang heterogen, dengan cuaca yang ekstrim, dengan kehidupan mandiri yang (sebaiknya) tidak bergantung pada orang lain, dan dengan kehidupan dimana bayi bergantung pada saya.

Lalu bagaimana cerita saya menjadi ibu rumah tangga? Nano-nano. Saya pernah baca entah dimana bahwa ibu lah yang mengontrol isi rumah, I mean situasi dan kondisi rumah sangat bergantung dengan kondisi emosi ibu. Dan saya jamin itu benar 100%! To be honest saya adalah termasuk pribadi yang mudah emosional. Pada dasarnya sejak dulu saya suka kerapian dan kebersihan tetapi untungnya saya memiliki partner yang tingkat toleransi atas keadaan rumah yang acak-acakan jauh lebih tinggi di atas saya. Jadi kalau menurut saya berantakan, menurut dia belum, itu masih bisa ditoleransi katanya. Jadinya gak menggebu-gebu harus bersih perfect kan? Dan secara natural sejak bersama dia, lambat laun saya mengikuti ritmenya. Saya menjadi lebih toleran dengan yang namanya rumah berantakan. Ini ternyata bekal penting yang harus dimiliki oleh ibu rumah tangga newbie yang tidak memiliki ART, supaya tidak stress melihat rumah kotor, karena pasti akan kotor melulu dan tidak bisa dihindari. Apalagi bahaya kalau sampai memarahi bayi untuk tidak mengacak-acak rumah #ngomongsamakaca.

Lalu masalah me time. Ibu rumah tangga punya me time gak yaa? Saya punya me time gak yaa? Absolutely yes dan harus! Bedanya dengan yang dulu adalah sekarang kebutuhan me time untuk memuaskan saya jauh lebih sederhana. Kalau dulu me time harus ke salon, dipijet, dilulur… nah kalau sekarang dengan mandi dibawah kucuran shower air anget dengan tenang aja sudah lebih dari cukup. Kalau dulu makan steak adalah me time, nah kalau sekarang makan indomie dengan gak terburu-buru aja sudah lebih dari cukup. Kapan me time nya? Gak bisa anytime makanya precious banget. Jadi me time nya adalah pas bayi lagi bobo atau pas partner lagi senggang jadi bisa ganti pemain jaga bayi.

Intinya jadi ibu rumah tangga itu gampang-gampang susah. Kita lah yang mengatur pekerjaan sendiri, sekaligus mengatur emosi. Ruang lingkup kita adalah suami, anak, dan rumah. Kita boleh banget berharap suami dan anak dapat membantu tapi please ekspektasinya jangan terlalu tinggi haha karena pasti ada aja yang kurang menurut kita.

Akhirnya saya berada di titik apa yang mamah rasakan. Maafkan anakmu yaa , Mah. Semoga besok-besok masih ada waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan jauh lebih baik dari hari kemarin. Aamiin…

Terakhir…. buat para ibu muda newbie, selamat berjuang juga yaaa. Welcome to the real real real world! Buat yang belum jadi ibu muda, selamat membekali diri ya. Semoga dimudahkan semuanyaaa… aamiin.

Regards,

12.27 AM waktu Netherland

 

Bawa Perasaan: Long Distance Marriage

Sejak usia 2.5 bulan, Aluna ditinggal bapaknya sekolah jauuh sekali. Pulang seminggu sekali itu cerita lama yang gak mungkin terulang beberapa bulan ini. Sebenernya bukan Aluna aja yang ditinggal, tapi saya, ibunya, juga ditinggal. Bedanya, saya sudah paham apa rasanya senang, sedih, dan rindu. Andai saya seperti Aluna mungkin tidak ada yang namanya bawa perasaan, tapi saya tidak mau, karena saya sehat.

Meskipun banyak keluarga disini tapi ada saatnya saya merindukan pasangan. Meskipun setiap minggu video call dan bertatap muka tapi ada saatnya saya membutuhkan pasangan secara nyata. There’s a technology that can’t buy.

Ditinggal pasangan dengan seorang bayi yang masih merah itu sesuatu sekali. Intinya adalah saya harus bisa apapun. Saya harus tahan di segala kondisi karena tidak ada second player yang setara yang bisa menggantikan peran. Contohnya ketika bepergian, ketika saya diharuskan berangkat berdua tapi melihat yang lain bertiga rasanya itu sesuatu sekali, bawa perasaan. Bersyukur Aluna paham ibunya hanya sendiri jadi dia jarang rewel bila jauh dari rumah. Tidur pun tidak sulit jadi ibunya tidak perlu menggendong lama. Meskipun begitu saya sering membisikkan sesuatu kepada Aluna, “Bantu Ibu ya (untuk tidak rewel)”. It works. Alhamdulillah.

Masa-masa usia Aluna ini adalah masa dia mengidentifikasi orang di sekitarnya. Saya sayang Aluna dan nampaknya Aluna pun sudah menunjukkan rasa sayangnya kepada saya. Saya sudah dan sedang menjalani rasanya menjadi ibu. Saya harap nanti bapaknya pun memiliki frekuensi yang sama dengan saya walaupun telah kehilangan masa 2.5 bulan – 6 bulannya Aluna. And viceversa, mudah-mudahan Aluna pun memiliki rasa sayang yang sama untuk bapaknya seperti kepada ibunya.

Untungnya ada yang menguatkan saya kalau saya baper, yaitu Sang MahaBijaksana. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk menyesali kondisi atau terus-terusan baper (baper sesekali mah wajar lah ya hehe), karena saya pasti sudah ditempatkan-Nya di kondisi yang sebijaksana mungkin. Dengan demikian saya juga yakin ketika ada hal yang tidak bijaksana percayalah itu adalah suatu kebijaksanaan juga, karena semua telah diatur oleh Sang MahaBijaksana, iya kan? Tinggal kita sendiri, bisa kah kita mengambil hikmahnya?

Semoga, insyaAllah.

20160825_164158.jpg

Sebelum berpisah

Paspor untuk Bayi

Ceritanya Aluna dan ibunya mau nyusul bapaknya ke Belanda. Udah pasti hal penting yang terlintas adalah: bikin paspor! Ya. Tentu saja. Tanpa dokumen ini mustahil kami bisa pergi ke luar negeri secara legal. Ilegal bisa aja sih, tapi sorry banget kita gak memilih jalan itu hehe..

Oke, ngomongin paspor, kebetulan ibunya pun belum punya dokumen itu jadi sekalian lah kami berdua mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat paspor tersebut. Anw, mungkin sudah banyak sekali informasi yang bisa dicari di google mengenai syarat pembuatan paspor untuk orang dewasa, apalagi sekarang bisa daftar secara online. Nah, oleh karena itu, sekarang di blog ini saya mau cerita tentang syarat pembuatan paspor untuk bayi yang tidak lain adalah pengalaman Aluna yang saat membuat paspor itu masih berusia 4 bulan.

Secara umum, ini lah persyaratan pembuatan paspor untuk bayi (anak di bawah umur). Sederhana bukan? Nah, mari kita bahas satu-satu berdasarkan pengalaman Aluna.

screenshot_2016-11-16-20-44-33

Jadi ini kondisi dokumen Aluna saat membuat paspor:

1. E-KTP Ayah & Ibu. Pada saat akan membuat paspor, e-KTP ayah & ibu Aluna masih dalam proses di DISDUKCAPIL alias e-KTP nya belum jadi. Solusinya? Kami membuat surat keterangan pengganti e-KTP yang menyatakan bahwa e-KTP nya masih dalam proses pencetakan (tahu kan fakta sekarang di berita bahwa blanko e-KTP sedang habis). Tidak perlu waktu lama meminta surat keterangan ini, sehari langsung beres. Fyi, kami termasuk wilayah DISDUKCAPIL Kota Cimahi.

2. Kartu Keluarga. Kartu keluarga Wicaksono (nama belakang bapaknya Aluna) baru jadi setelah bapaknya Aluna pergi ke Belanda. Padahal kartu keluarga tersebut harus ditandatangani oleh sang kepala keluarga. Dipikir-pikir kalau mau dikirim ke Belanda dulu akan membutuhkan waktu yang lama. Solusinya? Kami membuat surat keterangan dari RT/RW yang menyatakan bahwa nama-nama yang tercantum di kartu keluarga tersebut adalah benar warganya dan kepala keluarga tidak bisa menandatangani kartu keluarga karena sedang berada di luar negeri. Jadi kolom tanda tangan masih tetap dikosongkan.

3. Akta Lahir. Ini aman, tidak ada masalah karena setelah Aluna dilahirkan kami cepat mengurus akta lahirnya.

4. Buku Nikah. Ini aman, karena dokumen inilah awal bersatunya Bapak & Ibunya Aluna secara sah 🙂

5. Pada Saat Wawancara Wajib Didampingi Kedua Orang Tua. Nah, ini juga gak mungkin bagi Aluna soalnya bapaknya sedang berada di Belanda, Solusinya? Ada dua pendapat. Pertama, menurut Kantor Imigrasi Bandung, bapaknya Aluna harus membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa memberikan kuasa kepada ibunya untuk pembuatan paspor Aluna karena beliau sedang ada di luar negeri. Surat kuasa tersebut harus ditandatangani diatas materai. Kemudahannya adalah surat kuasa ini boleh di-email-kan, jadi kami cukup membawa cetakan emailnya saja. Kedua, menurut Kantor Imigrasi Sukabumi (kebetulan mertua sempat membuat paspor di Sukabumi pada tahun ini), kami tidak perlu membuat surat kuasa. Kalau bapaknya tidak bisa hadir dan ada alasannya ya sudah, ibunya saja yang hadir. Fyi, karena kemudahan ini dan waktunya memungkinkan akhirnya kami memutuskan membuat paspor di Sukabumi. Ternyata mengenai ketidakhadiran bapaknya Aluna ini diselesaikan dengan menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa kepala keluarga tidak dapat menandatangani surat apapun untuk pembuatan paspor anaknya (Aluna) karena sedang berada di luar negeri (sudah ada blankonya dari Kantor Imigrasi). Surat tersebut ditandatangani oleh ibunya di atas materai dan ini lebih simple menurut saya.

Tiba lah saatnya Aluna datang ke kantor imigrasi. Akhirnya semua dokumen sudah bisa diterima oleh pihak Kantor Imigrasi dan kami mendapat nomor antrian wawancara+foto. Antrian Aluna sangat bayi friendly karena bayi memiliki nomor antrian sendiri dan tentu antrian bayi sedikit sekali. Aluna mendapat nomor antrian pertama (kategori bayi) sedangkan ibunya mendapat nomor antrian 041 (kategori dewasa). Namun Alhamdulillah nya rezeki anak shalehah, ibunya tertolong oleh Aluna. Pada saat Aluna diwawancara, petugas meminta paspor ibunya namun karena sama-sama baru mengajukan akhirnya kami berdua dilayani secara bersamaan. Jadi ibu tidak perlu mengantri lagi sampai 041 hihi.. terima kasih bu petugas.

Secara umum saya cukup puas dengan pelayanan Kantor Imigrasi tempat saya mengajukan pembuatan paspor, yaitu Kantor Imigrasi Sukabumi. Oh ya, tambahan lagi, paspor yang diajukan sudah bisa diambil 3 hari kemudian cepat sekali bukan? Saya berharap semoga semua instansi pemerintah memiliki kinerja yang sama baiknya, memiliki rencana kerja yang efektif, efisien serta tidak membuat prosedur yang menyusahkan dan bertele-tele. Kalau bisa mudah kenapa dipersulit, kalau bisa cepat kenapa diperlama hehe.. Apapun.. sekian yang ingin saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi bapak-ibu yang sedang mengurus paspor bayinya. Cheers!

Persalinan Aluna

Saya akan bercerita tentang persalinan anak pertama dari kehamilan kedua saya. Alhamdulillah anak pertama saya adalah seorang perempuan cantik yang kelak mampu menjalani hidup ini dengan baik (InsyaAllah). Oleh karena itu, nama yang saya berikan adalah sebuah doa untuknya, doa untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya.

Aluna, itulah nama depan putri pertama saya.

Persalinan Aluna bisa dibilang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Yang pasti bahwa persalinan spontan telah diupayakan semaksimal mungkin, namun qadarullah, jalan operasi adalah langkah terbaik dan terakhir yang dilakukan.

***

Hari perkiraan lahir telah terlewati namun kontraksi belum juga muncul. Dokter memutuskan akan melakukan induksi persalinan untuk memunculkan kontraksi tersebut. Pada kontrol terakhir itu saya diberi rujukan untuk memesan kamar rawat inap, bila kamar tersedia, malam itu saya langsung diberi tindakan. Namun saya meminta izin kepada dokter untuk mengulur tindakan induksi hingga esok hari dengan alasan menunggu suami pulang. Padahal alasan sebenarnya adalah saya masih ingin memunculkan kontraksi itu secara alami dengan melakukan jalan kaki di sisa hari. Kebetulan pada saat itu saya hanya ditemani ibu sedangkan suami masih bekerja di luar kota.

Saya jalan kaki sampai menjelang malam. Kontraksi masih belum juga muncul. Bahkan keesokan harinya saya menari-nari dan melakukan gerakan apa pun untuk memicunya. Kontraksi masih belum juga muncul.

Saat suami telah pulang, saya bertanya, apakah masih mau menunggu kontraksi sampai maksimal seminggu ke depan atau induksi saja? Suami bilang, “Sudah nurut saja apa kata dokter”. Ya sudah, akhirnya sore hari kami langsung check-in rumah sakit.

Katanya persalinan yang diinduksi itu sakitnya lebih parah. Belum lagi resiko bayi akan stress karena dipaksa keluar. Ibu saja sakit, apalagi bayinya yang lebih sensitif daripada ibunya.

Hmm.. keputusan telah diambil. Malam itu saya dijelaskan induksi yang akan dilakukan. Pertama induksi menggunakan balon kateter. Cara kerjanya adalah balon dimasukkan ke dalam vagina, lalu balon tersebut diisi dengan air. Balon akan membantu mulut rahim untuk membuka sehingga memicu yang namanya bukaan. Kalau sukses, biasanya akan sampai bukaan ke-5 atau 6. Namun bila gagal di tengah jalan, balon akan terlepas sendiri dari tempatnya. Lama kerja balon kateter ini adalah 4-6 jam. Apabila setelah dipasang balon kateter ini kontraksi telah muncul dan kekuatannya bagus, maka persalinan dan bukaan selanjutnya akan ditunggu tanpa induksi apa-apa. Namun apabila hasilnya belum memuaskan maka induksi akan dilanjutkan dengan langkah kedua, yaitu induksi menggunakan oksitosin melalui intravena (infus).

Sesaat setelah dipasang balon kateter, kontraksi itu muncul dan saya baru merasakan yang namanya mules sebelum melahirkan. Sebelumnya saya bingung jawab apa kalau ditanya, gimana udah mules belum? Akhirnya saat itu saya berucap.. oh gini toh yang namanya mules. Rasanya? Subhanallah. Memang sakit sekali mulesnya. Saya kira bukaannya sudah besar. Ketika dicek hanya sampai bukaan 4 dan balon kateter terlepas.

Sudah pasti induksi kedua harus dilakukan. Singkat cerita saya dipasang infus berisi oksitosin. Labu pertama, saya masih bisa ketawa-ketawa. Ditanya mules tidak, Bu? saya bilang sedikit. Masih lebih sakit waktu saya dipasang balon kateter. Sampai labu pertama habis saya dicek bukaan. Wah masih bukaan 4 Bu. Yo wis, mau tidak mau labu kedua dipasang, dosis oksitosin lebih tinggi. Saya khawatir ini akan menghasilkan mules yang luar biasa. Setelah jam demi jam mules itu muncul, bahkan lebih intens. Lima menit sekali, meningkat menjadi tiga menit sekali, lalu dua menit sekali. Setiap mules itu muncul saya menyenggol tangan suami saya. “Sakit?”, tanya dia dan saya hanya menganggukkan kepala.

Sudah hampir hari kedua di rumah sakit. Labu kedua pun habis. Saya dicek bukaan. Dan you know… bukaan masih sama! What?! Saya disuruh menunggu keputusan dokter. Akhirnya hanya menunggu beberapa menit, suster bilang bahwa dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Saya disuruh puasa malam itu juga. Keputusan untuk SC itu sekitar jam 11 malam dan saya tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.

Jam 8 pagi saya melakukan persiapan SC. Kateter urine dipasang, dan itu sakit. Sebelum masuk ruang operasi saya menangis. Sebenarnya bukan menangis karena akhirnya SC, tapi saya menangis karena kateter itu. Rasanya… huah.. linu, iya, sakit, iya. Sampai dipindahkan ke ruang operasi pun saya masih kelihatan menangis. Saya melewati ruang tunggu dan melihat orang tua khawatir. Mungkin mereka pikir saya sedih atau takut dioperasi. Tidak Bu, Pak. Saya menangis karena kateter itu. Hiks.

Kurang lebih jam 9.30 operasi dimulai. Ruang operasi dingin sekali, saya sampai menggigil. Saya dibius setengah badan, disuntik di bagian tulang belakang. Saya pikir akan sakit sekali, ternyata tidak. Operasi pun dimulai. Saya masih bisa menengar percakapan para caregiver. Bahkan dokter anestesi yang sejak awal membuat saya sangat rileks berucap, “Tuh perutnya lagi dibelek”.

Ketika bayi akan dikeluarkan, para caregiver itu memerlukan sedikit usaha sehingga saya merasa agak sesak. Tidak lama tangisan bayi pecah. Saya mengucap hamdallah dan sangat penasaran apakah bayinya sehat dan sempurna. Orang-orang hanya bilang bayinya besar dan perempuan, tapi apakah sehat?

Operasi pun selesai. Saya diobservasi dulu selama kurang lebih sejam. Bayi saya pun sama. Saya belum melihat bayi saya. Orang pertama yang melihat bayi saya adalah pak suami, karena sekaligus dia yang mengazani.

Akhirnya saya keluar dari kamar operasi. Saya melihat suami saya tersenyum. Dan bilang dedenya sehat dan sempurna. Alhamdulillah. Saya bersyukur dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang saya inginkan pada saat itu hanylah melihat bayi saya dan mendekapnya.

***

Saya bukan penulis handal. Kata-kata yang saya tulis ini belum mampu melukiskan kejadian persalian Aluna yang sebenarnya lebih penuh rasa. Maha Besar Allah atas penciptaan-Nya. Maha luas rezeki-Nya. Maha Bijaksana atas keputusan-Nya. Mohon doaya semoga Aluna menjadi puteri yang shalehah dan kami bisa menjadi orang tua yang shaleh pula. Semoga yang sedang hamil dimudahkan persalinannya dan yang belum hamil dibukakan jalannya. Alhamdulillah..