Mahadevan

Assalamualaikum Devan,

Ayah mau mulai dari mana ya! Hmm.. Mungkin dari awal kenapa ayah dan mamah memberikan kamu nama “Mahadevan” ya.

Saat itu mamah sedang mengandung kamu, entah ayah lupa di umur kandungan yang keberapa bulan, kami memikirkan sebuah nama untuk kamu, seorang bayi laki-laki yang akan segera hadir di kehidupan kami, dan itu setelah penantian selama lebih dari 2 tahun.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb yang maha Agung, Rabb yang menciptakan arunika sesaat setelah keheningan yang dalam, Dia menghadiahkan kami seorang bayi mungil, sehat dan juga ganteng seperti ayah ^_^

Oh ya, ayah itu dulu suka sekali menulis loh, entah puisi atau cerita-cerita romantic lainnya, dan karna ayah suka sekali membaca tulisan Kahlil Gibran, jadi nya gaya tulisan ayah sedikit bergaya Kahlil. Suatu saat mungkin kamu bisa baca tulisan ayah ya, dan tolong tinggalkan komentar di dalamnya ^_^

Karna ayah yang suka menulis puisi itulah, mamah kamu menyodorkan sebuah nama “Mahadevan”, kamu tau apa artinya?! “Seorang penulis puisi yang bermata indah” Ya, kamu memang mempunyai mata yang indah, mata yang teduh, penuh cinta yang terkandung dari kami berdua dan, mata itu sama persis dengan mata yang ayah punya, sedikit sayu dan teramat teduh, setidaknya itulah gambaran yang pernah orang sampaikan kepada ayah.

Sekarang, saat tulisan ini di buat, kamu sudah berusia 10 tahun dan kamu sudah bersekolah di kelas 3 SD. Dan saat ini lah ayah tersadar dan harus meminta maaf kepada kamu atas semua kesulitan yang kamu rasa dan hadapi, mungkin dalam waktu yang akan sangat lama.

Di umur kamu yang ke 3 tahun, kamu belum menunjukan perkembangan yang baik. Awalnya kami mengira kamu hanya terlambat bicara (speech delay), lalu kami mencoba berkonsultasi dengan Dokter Specialis, apa gerangan yang terjadi pada diri kamu. Dokter tidak menyiratkan diagnose secara tegas, mereka hanya menyarankan agar kamu di teraphy. Dan sedari itulah, di umur 3 tahun kamu memulai kegiatan yang begitu melelahkan, teraphy Sensori motoric dan lainnya.

Dalam perkembangannya, setelah beberapa lama dan berganti-ganti tempat teraphy karna beberapa hal. Dokter maupun Psikolog masih juga tidak pernah benar-benar mengatakan dengan pasti apa yang terjadi, mereka hanya tetap menyarankan agar kamu terus di teraphy.

Tak ingin menyerah, kami mencoba mencari informasi dengan membaca artikel dan pengalaman-pengalaman orang lain di internet dan medsos. Hingga kami mendapatkan informasi tentang ADHD dan ASD.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Gangguan yang ditandai dengan kesulitan dalam memusatkan perhatian, hiperaktif dan perilaku yang impulsive. Iya, kamu terlalu bersemangat saat itu, berlari kesana-kemari, loncat-loncat diatas Kasur, tidak bisa diam. Tapi, semakin umur kamu bertambah, hal yang terjadi pada diri kamu justru cenderung lebih mengarah ke ASD

 Autism Spectrum Disorder

Ini adalah gangguan dalam perkembangan otak yang mempengaruhi interaksi social, komunikasi dan perilaku. Kamu yang semakin besar selalu menyendiri, asik dengan dunia kamu, tidak mau bersosialisai dengan teman-teman kamu di sekolah dan tidak juga mau bergaul dengan teman-teman di sekitar rumah, kosa kata yang masih sangat minim dan belum mampu banyak untuk berkomunikasi dua arah, kegiatan kamu yang monoton dan makan makanan yang hanya itu itu saja.

Kami tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri kamu, mengapa dari tingkah kamu yang tidak bisa diam lalu berubah 180 derajat menjadi pendiam. Atau mungkin dulu kami selalu menggunakan kata “jangan” atas semua tingkah laku kamu, sehingga membuat kepercayaan diri itu menghilang dan menimbulkan keragu-raguan untuk kamu berbuat sesuatu.

Hingga suatu hari, dengan banyak referensi yang kami baca, apa yang terjadi kemungkinan besar juga terjadi di dalam diri ayah. Dengan kata lain, apa yang kamu alami adalah merupakan warisan dari “masalah” yang terjadi di dalam diri ayah. Ayah mungkin bisa jadi seorang ADHD, walaupun belum pernah sekalipun ayah berkonsultasi ke Psikolog.

Setidaknya, ini menjelaskan kenapa selama ini ayah tidak bisa focus pada satu hal, banyak yang tidak selesai dan terselesaikan, ayah yang tidak bisa diam dengan tenang, begitu banyak penggalan-penggalan hal yang berkelebat di dalam pikiraan ayah, banyak dialog-dialog liar di dalam pikiran ayah, dan bermain dari satu bab ke bab yang lainnya dengan riangnya. Bahkan untuk menggantung pakaian saja tidak pernah bisa rapih, botol shampo yang belepotan setelah dipakai hahhaa, pelupa dan banyak hal. Ayah selalu saja membuat repot mamah, sampai-sampai mamah sering marah karna ulah ayah. Tapi kalau soal masak, ayah lebih jago dari mamah. Hayook mau ayah masakin apa? Bakso, mie ayam, nasi goreng, tongseng atau jangan lombok ^_^

Maafin ayah ya, karna apa yang terjadi di dalam diri ayah tlah sampai membuat kamu ikut menjadi seperti ini. Terima kasih, karna Devan sudah mau bersusah payah untuk menuruti keinginan ayah dan mamah. Bersekolah, teraphy bahkan les di rumah. Itu pasti berat untuk kamu, dan mungkin adalah hal yang tidak Devan sukai. Tapi walau begitu, Devan masih mau menjalaninya dengan begitu baik. Pun Devan telah memberikan hadiah teramat indah untuk ayah dan mamah, itu adalah hal terindah setelah kehadiran kamu di tengah-tengah kehidupan ayah dan mamah, kamu sudah hapal bacaan-bacaan di dalam shalat, beberapa surat-surat Al Quran dan doa-doa. Apalagi yang lebih baik dari itu! dari seorang anak yang soleh dan beristigfar kepada Rabbnya.

Tolong selesaikan dengan perlahan ya, bab-bab gambaran pikiran yang terlintas di dalam benak kamu. Ada kalanya itu berbaris ber saf-saf, dan terkadang mereka berloncatan berlarian tak beraturan. Dan percayalah, ayah tahu rasanya, karna itu lah yang ayah lalui setiap harinya.

Dan jika Devan merasa lelah dan ingin menangis, tidak apa-apa untuk menangis. Ayah pun sering menangis, saat hal itu terasa begitu melelahkan. Ayah pernah menangis saat berkendara motor di jalan, atau ayah pernah juga menangis saat bersujud di dalam shalat. Jika sudah menangis, pejamkan mata Devan dan tidurlah, karna Allah Ta’ala menciptakan kantuk dan tidur agar kita bisa beristirahat dari lelahnya dunia. Saat ayah menulis ini pun, dada ayah terasa begitu penuh sesak dan air mata ini sudah mulai tergenang di sudut mata. Semoga Allah Ta’ala pertemukan kamu dengan orang-orang baik, yang mampu memahami kamu seutuhnya.

Devan harus ingat, selalu libatkan Allah Ta’ala dalam segala hal, bukan kah Dia Maha baik! Bukan kah Dia Yang Maha Lembut, Ayah percaya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah gariskan takdir ini untuk menjadi sesuatu yang baik untuk Devan, Ayah dan Mamah. Yang ayah inginkan, agar Allah Ta’ala mengumpulkan kita kembali di dalam surgaNya, dan di dalam SurgaNya itu, kita akan bercerita tentang semua hal yang belum tersampaikan, dan nanti ayah juga akan ceritakan, bagaimana pertama kali ayah bertemu dengan mamah ^_^.

Sampingan

Gambar

Aku melihat kemarau bagai harapan yang sia – sia, dan aku pun melihat rintik hujan layaknya sebuah tangisan remaja, yang baru saja mengerti tentang sakitnya rasa, dari kelembutan yang hilang..

Sempat terlihat, sedikit samar lalu menghilang. Selangkah lagi pada kemenangan, namun siapa sangka aku akan terkalahkan!

Kembali lagi, ketika titik-titik merah terjalin dari nisan 5 matahari lalu, tak ubahnya hanya inginkan kembali air mata yang telah lama tercecer. Lalu tersadar dan terkekeh tertawakan bodohnya diri, dan mengerti, bahwa tak selamanya air mata penuh keburukan..

Aku dan kamu, pada cerita yang sama, dari mereka yang telah tumbuh diatasnya rerumputan dan kamboja layu, dan kepada mereka yang kan ada dari desah nafas malam pertama para pengantin..

Kisah Yang Sama

Yang Tertinggal

Dan lihatlah, mereka pun menghadapkan wajahnya pada mentari belia itu, berharap kilau cahaya pertama pagi ini mampu mengusap debu yang menempel pada wajah – wajah letih mereka.

Sungguh, saat arunika tlah menjauh kan kau saksikan kawanan burung yang bernyanyi riang bertengger pada ranting ranting yang sebagiannya tlah rapuh. Mengepakan sayap – sayapnya dan membelai pucuk muda yang mengira hangatnya hidup tanpa teriknya siang hari.

Lalu lihatlah pada ia yang tlah layu, manakala angin dari lembah berkejaran dan bermain begitu riang, dan hembusannya menggoyahkan keyakinan pada mereka yang mulai rapuh lalu perlahan terjatuh dan mati..

Lantas kau coba menimpakan semua kesalahan pada malam, tega teganya ia meninggalkan pagi yang tlah basah, dan menyisakan pucuk – pucuk kerinduan yang menyala terang di bawah mentari,

Sudahlah, kita pun takkan pernah mampu menahan laju mentari. Meskipun akan ada detik demi detiknya yang kan tersayat kerinduan, oleh ribuan kenangan yang tertinggal dari hati yang pernah ada di dalamnya.

“Desa Sembungan Dieng”

Oleh tri vanska Dikirimkan di Puisi