Masa karantina adalah masa yang bagi sebagian orang merasa bahwa ini adalah sesuatu yang mebosankan. Benarkah?
Dulu sebelum saya merasakan sendiri masa karantina, saya berpikir bahwa karantina bagi saya adalah sesuatu yang menyenangkan. Koq bisa? Bagaimana tidak, saya yang seorang introvert ini di masa karantina ibarat anak kecil yang berada di toko mainan. Hahaha! Analogi yang cukup berlebihan kelihatannya. Tapi itu tidak salah, sewaktu saya menulis artikel ini saya sedang menjalani masa karantina di suatu hotel di Batam.

Coba lihat saja foto di atas, itu adalah pemandangan dari balkon kamar hotel saya.
Menjalani masa karantina bukan berarti bahwa saya terkena virus Covid-19, tapi ini adalah prosedur dari tempat kantor saya bekerja, bahwa sebelum penerbangan saya ke Jakarta, saya harus menjalani karantina selama kurang lebih 7 hari, meskipun hasil swab saya sebelumnya adalah negatif.
Sudah jalan 4 hari saya semenjak mulai karantina, apa saja yang saya lakukan?
Tidak ada…. Hahahaha!
Secara harfiah memang tidak ada yang bisa saya lakukan, saya hanya makan dan tidur, nonton TV, main game, browsing, nonton Youtube. Aktivitas itu saya ulangi terus menerus selama 4 hari ini.
Tentu saja ada beberapa peraturan yang membatasi saya terkait karantina ini antara lain:
- Tidak boleh keluar kamar, kecuali pada jam 09:00 – 10:00 di pagi hari dan jam 16:00 – 17:00 di sore hari untuk melakukan kegiatan olahraga ringan, dengan tetap memenuhi protokol yaitu tidak boleh ada kontak ataupun berdekatan dengan orang lain dan tetap memakai masker.
- Makanan selalu diantar ke kamar setiap hari, tidak boleh memesan makanan dari luar, atau order lewat ojek online.
- Minum vitamin.
Apakah ada rasa bosan? Mungkin ada sedikit, karena makanan yang disediakan lauknya hampir sama setiap hari, nasi, mie goreng, sayur kol, ayam atau ikan. Kita tidak bisa memilih makanan yang kita mau.
Yang paling utama, teman kolega saya sudah mulai mengeluh tentang rasa bosan yang mereka rasakan. Tapi tidak bagi saya, saya bisa menikmati masa cuti saya dengan tenang, saya bisa menikmati pemandangan dengan leluasa, tanpa memikirkan pekerjaan.


Terlepas dari itu semua, semoga semuanya tetap sehat dalam lindungan-Nya.




