Ketika menu pendidikan ada Di meja: Catatan the 1st Taiwan-Indonesia higher education summit
Minggu ini saya awali dengan mengikuti The 1st Taiwan-Indonesia Higher Education Summit yang diselenggarakan di National Taiwan University of Science and Technology, Taipe. Selama 2 hari bolak-balik Chungli-Taipe ternyata membuat saya cukup babak belur membagi energi. Akibatnya, hari ini saya molor sampai siang dan sore baru kembali ke kandhang pikir untuk mulai bekerja lagi. Daripada gemandhul di otak, saya awali hari kerja saya ini dengan membuat catatan ini sambil ditemani lagu-lagu dari Geronimo dan wafel hasil belian di kantin pojokan.
Pendidikan, kata sakti yang merupakan hak semua warga negara dan sekaligus prasyarat kunci bagi peningkatan kualitas dan martabat bangsa. Bagi Indonesia dan Taiwan, kerjasama pendidikan adalah menu baru yang hangat-hangat terhidang Di meja. Sengaja ‘D’ pada kata ‘Di’ saya tuliskan pakai huruf kapital karena pendidikan sebenarnya bukan menu baru bagi kedua negara. Menengok pada catatan pendirian Perpita (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan –organisasi Indonesian Chinese Overseas Students), sejak tahun 1960 telah ada orang Indonesia yang bersekolah di Taiwan. Hanya saja, pendidikan baru dibahas Di meja perundingan antar pihak, Taiwan dan Indonesia, pada 1 tahun belakangan ini.
Pada Mei 2011, Memorandum of Understanding dalam bidang kerjasama pendidikan ditandatangani antara Indonesia dan Taiwan di Bali, Indonesia. Lalu, The 1st Taiwan-Indonesia Higher Education Summit yang diselenggarakan pada 16-17 April 2012 adalah forum untuk menindaklanjutinya. Dalam forum tersebut disepakati:
- Kebijakan ‘Three plus one’ diluncurkan. Kebijakan ini menyatakan bahwa untuk pembiayaan mahasiswa program Doktor Indonesia yang menempuh pendidikan di Taiwan, pembiayaan tahun 1 sampai dengan tahun ke-3 akan disediakan oleh pemerintah Indonesia, sedangkan tahun ke-4 disediakan oleh Taiwan. Kebijakan ini dikhususkan bagi WNI yang berprofesi sebagai pengajar atau WNI yang berminat menjadi pengajar sehingga dapat memenuhi persyaratan beasiswa Dikti.
- The 2nd Taiwan-Indonesia Higher Education Summit akan diselenggarakan pada 16-18 Mei 2013 di Bali, Indonesia.
Forum kemarin adalah forum penting bagi kerjasama pendidikan Indonesia-Taiwan. Perlu menjadi catatan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan. Namun kualitas pendidikan di Taiwan yang ditawarkan dengan harga yang rasional menjadi daya tarik pelajar Indonesia untuk bersekolah di pulau kecil ini. Selain itu, faktor jarak yang relatif tidak terlalu jauh dari Indonesia menyimpan daya pikat tersendiri berdasarkan kemudahan migrasi pelajar Indonesia. Pada tahun 2012 ini telah terdapat 2047 mahasiswa Indonesia di Taiwan yang tersebar pada level pendidikan S1, S2, S3. Berdasarkan jumlah tersebut, 37% mengambil bidang teknik, 26% bisnis, dan 11% bidang sastra. Pada sisi Taiwan, turunnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan tren penurunan mahasiswa di universitas. Dengan demikian, peningkatan pelajar internasional akan berkontribusi untuk meningkatkan supply mahasiswa. Di samping itu, kerjasama pendidikan juga menjadi sesuatu yang berkontribusi pada pengakuan wilayah ini sebagai suatu ‘negara’ di dunia. Fakta ini yang menjadikan Indonesia dan Taiwan perlu untuk duduk bersama guna mempererat kerjasama antar pihak. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan antara kedua belah pihak.
Saya sendiri mengibaratkan forum kemarin adalah sebuah ‘pasar fisik’ yang mempertemukan antara pembeli dan penjual. Masing-masing kelompok pihak menjelaskan mengenai keunggulan yang dimiliki untuk mengundang pembeli, sedangkan pada kesempatan lain, masing-masing kelompok pihak juga berposisi sebagai pembeli dengan menunjukkan atribut-atribut produk yang mau dia beli. Dengan demikian, materi hari ke-1 mayoritas mengulas tentang demo keunggulan universitas-universitas di Indonesia dan Taiwan dan kebijakan pendidikan Indonesia dan Taiwan, sedangkan hari ke-2 baru makin dikerucutkan pada kerjasama pendidikan.
Delegasi dari Indonesia dipimpin oleh Direktur DIKTI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sedangkan delegasi Taiwan dipimpin oleh Direktur Biro Kebudayaan Internasional dan Kerjasama Pendidikan, Kementrian Pendidikan, Taiwan. Sementara itu, masing-masing pihak juga menghadirkan staff kementrian pendidikan, rektor, wakil rektor, dan direktur kantor urusan internasional dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia dan Taiwan.
Bagaimana dengan saya? Saya tentu saja bukan anggota delegasi manapun. Mengambil istilah dari sidang paripurna DPR RI, saya tergabung dalam ‘partai balkon’ beserta rekans dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan. Hak bicara saya sangat terbatas dalam forum namun saya merasa leluasa menyampaikan masukan pada pihak-pihak pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia. Tentu saja karena saya adalah subject matter experts (SME) dalam perkara mendeskripsikan kondisi pendidikan Taiwan berdasarkan posisi dan status saya sebagai subjek dan objek pendidikan di Taiwan. Oleh karenanya, dalam diskusi di luar forum, saya terlibat dalam pembicaraan yang mendeskripsikan tentang kualitas pendidikan Taiwan, kendala akademis terkait bahasa pengantar yang masih campuran mandarin dan Inggris, kurikulum pendidikan internasional yang belum terdesain baik, perlunya dampingan pemerintah Indonesia dengan menekankan perlunya bidang pendidikan di KDEI Taipe, serta kategorisasi pelajar Indonesia sebagai pelajar internasional dan pelajar Chinese overseas. Saya merasakan dukungan rekans di PPI Taiwan karena adanya alignment antara aspirasi saya dengan aspirasi yang dimiliki organisasi. Thanks PPI.
Pasca mengikuti forum, rasa lega saya rasakan karena merasa telah berbicara pada pihak-pihak yang tepat dan terkait dengan berbagai uneg-uneg ini. Sebagai individu, saya lega karena saya sudah bicara, saya didengar, dan saya mendengar. Sebagai WNI, saya lega karena merasa dipayungi negara. Selanjutnya, siap kembali bekerja.
Pasca acara, mampir dulu ke museum untuk menikmati sebagian koleksi Museum Louvre yang baru ditampilkan di Taipe. Mata menjadi sejuk seiring ketakjuban menyaksikan lukisan-lukisan itu. Saya memang bukan pelukis, namun pengalaman 2 hari di forum pendidikan dan di museum itu semakin mengeratkan ikatan untuk menjadi ‘pelukis’ dengan cara saya sehingga menghasilkan karya yang berguna bagi bangsa. Semangat!
nastiti
ps. selamat seminar bop.