Posted by: turnastiti | September 26, 2012

Belajar dengan Melihat

Belajar dengan Melihat

Dalam beberapa kesempatan jalan dengan Goen, saya sering mengkritik sikap dia yang cenderung diam dan tidak mau proaktif bertanya untuk mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi. Ketika berada di negara antah berantah dan baru mempelajari jalur kereta, saya bingung dengan pembagian zona yang akan menentukan harga tiket. Ketika saya tengok Goen, dia tidak juga berusaha tanya pada petugas stasiun namun memilih untuk melihat. Dengan kesal, saya kemudian bertanya ke petugas dan dapat solusinya. Ketika kembali mendekat ke Goen, dia sudah memegang 2 tiket dengan harga yang tepat sesuai dengan tempat yang akan kita tuju. Kejadian lain, masih tentang kereta, saya bingung mau menaruh tiket di mana sebelum keluar dari stasiun. Kembali, saya mau bertanya, Goen menarik tangan saya untuk melenggang keluar stasiun. Dan tidak terjadi apapun setelah itu, artinya memang benar begitu adalah caranya. Heh? “Darimana kamu tahu?” “Belajarlah dengan melihat. Itu gaya belajar antropolog.” Heh?

Kemarin, ketika saya berbicara dengan seorang sahabat, saya bertanya tentang aktivitas kesehariannya selama ada di tanah rantau ini. Dia bilang “Nongkrong di atas gedung sambil mengamati orang yang lalu lalang di bawah.” Heh?

Hari ini saya membaca sebuah artikel yang mengupas tentang pentingnya perusahaan memahami kekuatan sosial untuk mengatasi perilaku menyimpang dari konsumennya yang akan mengakibatkan perusahaan merugi. Ternyata perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh perilaku orang di sekitarnya yang menjadi referensi perilaku individu. Oleh karena itu, dalam kasus penggunaan handuk di hotel, menuliskan bahwa 90% pengguna kamar ini tidak mengganti handuknya secara harian lebih efektif menurunkan penggantian handuk secara harian daripada menuliskan pesan tentang peduli lingkungan. Dari mana pesan efektif itu ditemukan? Ya dari kejelian manajer melihat perilaku konsumennya yang kemudian dijadikan salah satu pembentuk norma. Heh?

Lalu saya ingat, pendekatan SECI dalam pemberdayaan masyarakat yang dikenalkan oleh Prof. Nonaka juga menyatakan bahwa lihatlah sebelum bicara untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat.

Kesimpulan saya, jangan pernah abaikan ‘melihat’ sebagai salah satu cara belajar.

Done!

Posted by: turnastiti | September 3, 2012

Telisik Manajemen Indonesia: Menelurkan Identitas? Mau?

Telisik Manajemen Indonesia: Menelurkan Identitas? Mau?

Keinginan menulis saya memang hadir dengan tidak menentu tanpa pandang bulu tempatnya. Kadang hadir di kandhang pikir, kadang di toilet, eh..kali ini di teras rumah mertua. Ketika Goen sibuk dengan list putih ban ambulannya dan ketika merah putih melambai harmonis dengan hiasan ketupat menjadi pemandangan di depan mata, keinginan menulis saya hadir. Maka menulislah saya.

Hem..Judulnya adalah Telisik Manajemen Indonesia: Menelurkan Identitas? Mau? Judul yang cukup panjang untuk memotret keinginan saya untuk nulis tentang keinginan berkontribusi pada pengembangan kajian manajemen khas Indonesia. “Khas Indonesia” adalah istilah untuk manajemen yang berdasarkan masyarakat adat Indonesia, berdasarkan budaya Indonesia, dan direpresentasikan dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan menelisik kedasyatan sebuah negara Indonesia di forum manajemen antar bangsa, saya selalu mendapatkan kebanggaan dengan cap Indonesia di jidat. Kebanggaan ini bersumber dari rasa ‘diterima publik’ ‘meskipun’ hadir dengan kajian manajemen Indonesia dalam kemasan kulit sawo matang saya. Setelah presentasi, banyak kolega dan kenalan pembelajar baru yang mendiskusikan tentang keinginan riset bersama. Bukan melulu karena topik tulisan yang saya presentasikan, namun karena ke-Indonesia-an saya. Karena kebesaran fisik negara Indonesia dan karena keberagaman Indonesia. Keduanya adalah titik seksi Indonesia di mata pembelajar manajemen.

Pengalaman ini yang menjadikan saya berpikir bahwa berbekal Indonesia, pembelajar manajemen Indonesia dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu manajemen terutama dengan menghadirkan ‘manajemen khas Indonesia’ sebagai identitas bersama.

Pertanyaan besarnya adalah, satu, seberapa cukup Indonesia sebagai sebuah identitas? Bila mau melirik sebentar pada kajian budaya, terutama Antropologi, banyak teori-teori tentang budaya yang lahir di Indonesia dan berdasar keberagaman Indonesia sebagai sebuah laboratorium riset. Teori-teori budaya ini tidak melulu spatial untuk Indonesia dan Asia, namun juga umum. Nah, bukankah teori-teori ini adalah harta karun yang dapat menjadi modal dasar untuk membentuk manajemen khas Indonesia. Gampangnya, tinggal membuat garis untuk menghubungkan antara teori budaya ini dengan kajian manajemen. Simsalabim, terciptalah kajian manajemen khas Indonesia.

Pertanyaan besar yang kedua adalah bagaimana membuat gerakan pembelajar untuk melakukannya? Yang terlintas di benak saya adalah bikin kumpulan pembelajar seminat sebagai embrio pergerakan. Kumpulan ini akan menjadi motor sekaligus petugas pengibar bendera pergerakan. Bila makin banyak peminat, maka bisa dech bikin asosiasi. Acara ketemuan, istilah akademisnya, seminar, akan diadakan secara regular dan mengangkat tema tentang ‘manajemen khas Indonesia.’ Tema besar ini dapat dipecah dalam beberapa tema kecil yang meliputi menumbuhkan ketertarikan, membentuk identitas, memelihara kajian empiris, hingga pada akhirnya adalah membangun teori manajemen khas Indonesia. Hemmm…. Tampaknya cukup realistis.

Mimpi saya, bila identitas manajemen khas Indonesia ini dapat disepakati, maka pembelajar manajemen Indonesia dapat mengikis secara bertahap keharusan mengadopsi teori-teori manajemen manca dalam menjelaskan fenomena manajemen yang terjadi di Indonesia. Bukankah hal ini yang sekarang mendominasi kajian manajemen Indonesia? Tidak dapat dipungkiri bahwa adopsi teori manca sangat membantu penjelasan kajian manajemen Indonesia, namun perlu juga dipahami bahwa kadang tidak fleksibel untuk bisa pas dan cucok dengan apa yang terjadi.

Misal, ketika kajian manca menerangkan bahwa pemberdayaan karyawan tepat diterapkan untuk perusahaan yang berada di negara yang power distance-nya rendah ketimbang yang power distance-nya tinggi, mengapa pemberdayaan karyawan kuat ditemukan di kajian manajemen Indonesia? Padahal Indonesia adalah negara yang memiliki power distance index yang tinggi. Alias, ada toleransi yang sangat tinggi atas ketimpangan perlakuan antara golongan sosial tinggi dan rendah. Nah, ketika golongan rendah mentoleransi maka kelompok ini tidak akan menuntut untuk diberikan wewenang dalam mengambil keputusan. Sedemikian halnya golongan tinggi, kelompok ini juga akan melindungi posisinya dengan tidak membagi kekuatan kewenangannya pada golongan rendah. Resistensi pembagian kewenangan ini tentu saja akan menghalangi laju aplikasi pemberdayaan pada manajemen perusahaan di Indonesia. Namun, ternyata penelitian-penelitian berkonteks Indonesia menemukan aplikasi pemberdayaan ini. Lalu, bagaimana kita menjelaskan fenomena ini?

Pada posisi ini, pembelajar manajemen Indonesia perlu hadir dengan kajian tentang teori manajemen khas Indonesia untuk menjelaskan fenomena. Misal dengan menghadirkan konsep ‘rukun’ sebagai falsafah hidup sosial di Indonesia. Berbakal pada rukun, interaksi sosial antara golongan tinggi dan rendah akan ditujukan untuk mempertahankan keharmonisan interaksi sosial untuk menuju kerukunan. Konsep lain yang juga dapat dihadirkan adalah trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Seorang pemimpin hendaknya dapat memberikan contoh, memberdayakan, dan mendukung kinerja orang-orang yang berada di bawah rantai komandonya. Berdasarkan pada konsep ini, pemberdayaan akan menjadi fenomena organisasi yang memiliki dasar konsep manajemen yang kuat dan khas Indonesia. Namun, sebagai pembelajar, seberapa berani kita menghadirkan konsep-konsep khas Indonesia ini dalam penelitian yang kita lakukan?

Oleh karena itu, teori manajemen khas Indonesia perlu hadir sebagai identitas bersama untuk menjelaskan manajemen di Indonesia. Bila pembelajar manajemen seminat dapat menelurkan dan mempertegas identitas ini maka pasti akan mempertajam penjelasan manajemen Indonesia sekaligus memperkaya penjelasan manajemen secara umumnya. Bagaimana menurut Anda? Mau?

nastiti

Posted by: turnastiti | May 16, 2012

Mencatat tentang Analisis Meta

Mencatat tentang Analisis Meta

“Ting tung..” reminder bahwa ada email masuk muncul di sudut kanan bawah layar monitor saya. Sebuah email dari pembimbing. Bergegas segera saya buka inbox email dan mendapatkan pesan bahwa beliau menyarankan saya untuk membaca 1 paper tentang Analisis Meta. Secara cepat saya lihat papernya dan reflek tangan kiri saya mengambil buku statistik yang menjadi salah satu buku panduan dan kadang ‘pajangan’ di kandhang pikir. Selanjutnya, dapat rekans tebak. Pantat saya nempel sama kursi. Jidat berkerut tanda puyeng dan hilanglah nafsu makan. Ha..ha..ha..

Meta analysis, atau yang dalam tulisan ini saya terjemahkan menjadi analisis meta, adalah sebuah metode pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mengintegrasikan temuan-temuan dari berbagai penelitian individual yang telah dilakukan sebelumnya. Kemampuan pendekatan ini untuk mengintegrasikan penelitian-penelitian sebelumnya menjadikannya mampu menyajikan 1 hasil untuk memahami hubungan antar variabel yang dibahas sehingga menjadikan satu langkah maju untuk merumuskan teori.

Ilmu berkembang dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena yang ditemukan di lingkungan nyata. Untuk mencapainya, ilmu memerlukan akumulasi pengetahuan yang dapat menjadi dasar suatu teori. Teori inilah yang akan dipahami umum untuk menjelaskan secara keilmuan tentang fenomena. Bila ada teori maka manusia akan ‘dipermudah’ untuk memahami kekompleksan fenomena lingkungannya karena dapat tahu apa sebab, apa akibat, dan hubungan diantara keduanya. Dengan demikian, teori ini sebenarnya merupakan gabungan dari hubungan sebab-akibat antara berbagai variabel terkait. Oleh karenanya, penjelasan hubungan antar variabel diperlukan untuk membangun sebuah teori.

Nah, analisis meta hadir untuk membantu mengintegrasikan hubungan antar variabel tersebut. Pertanyaan yang akan muncul adalah ‘Mengapa mengintegrasikan?’ Analisis meta bersifat mengintegrasikan karena dasar pendekatannya adalah menggabungkan hasil penelitian-penelitian individual yang dilakukan sebelumnya. Misal, bila saya akan melakukan analisis meta pada hubungan antara variabel A dan B, maka saya akan mencari penelitian-penelitian sebelumnya yang menganalisis tentang hubungan variabel A dan B. Katakanlah saya mendapatkan 10 penelitian individual terkait, maka analisis meta akan saya lakukan untuk mengintegrasikan hasil 10 penelitian individual tersebut agar saya mendapatkan 1 temuan integratif untuk menyatakan hubungan antara A dan B. Berbagai analisis kuantitatif dalam analisis meta ini menjadikannya sahih dalam mengatasi hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang mungkin saling konflik dan mengandung berbagai keterbatasan baik karena sampel ataupun karena artefak penelitian dan alat ukur yang digunakan.

Analisis meta bukanlah pendekatan penelitian yang lahir tiba-tiba. Perjalanannya diawali dari kebutuhan manusia untuk memahami fenomena dalam lingkungannya dengan menggunakan pendekatan penelitian, lebih utamanya yang terkait dengan analisis meta adalah penelitian dengan metode kuantitatif. Berdasarkan kebutuhan tersebut, berbagai penelitian dilakukan untuk memahami hubungan antara variabel. Bahkan beberapa penelitian dilakukan untuk mengkaji hubungan variabel-variabel yang sama. Alhasil, bukan pencerahan yang didapatkan, berbagai duplikasi dan replikasi penelitian tersebut mendapatkan hasil yang berbeda-beda dan bahkan konflik dalam menjelaskan variabel-variabel yang sama. Peneliti menganggap bahwa kondisi ini terjadi karena keberadaan variabel moderator ataupun confounding yang harus diperhatikan. Oleh karenanya, arah riset selanjutnya ditujukan untuk mengkaji berbagai variabel moderator dan confounding ini. Hanya saja, temuan-temuan yang berbeda dan bahkan saling konflik dalam kajian moderator dan confounding masih terjadi.

Fakta ini berdampak pada diragukannya kesahihan kontribusi ilmu sosial dan keperilakuan dalam dunia keilmuan. Dampaknya, pada tahun 1981 pemerintah Amerika mengusulkan untuk memotong subsidi penelitian bagi bidang sosial dan keperilakuan. Kondisi ini menjadikan ilmuan di bidang ini harus berpikir keras untuk menemukan metode untuk mengintegrasikan penelitian-penelitian individual. Penelitian dengan pendekatan yang naratif subjektif (the narrative subjective review) dihadirkan. Hanya saja, pendekatan ini justru menguatkan mitos tentang ketidakberadaan penelitian yang sempurna (the myth of perfect study) yang berbaya karena dapat menimbulkan sikap apatis terhadap penelitian dan kesimpulan-kesimpulan sempit. Kondisi ini menjadi dasar dari kepopuleran analisis meta, yang sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1970, sebagai ‘dewa penolong.’ Analisis meta inilah yang mengangkat beban di pundak peneliti sosial dan keperilakuan karena pendekatan ini mampu mengintegrasikan secara kuantitatif berbagai penelitian individual yang telah dilakukan sebelumnya.

Apa yang reflektif bagi diri saya dan rekans dengan mengetahui informasi ini? Bagi saya, jangan takut untuk melakukan penelitian karena penelitian-penelitian individual perlu dilakukan segera untuk mempercepat dilakukannya penelitian dengan analisis meta. Kontribusi aktif kita sangat diperlukan untuk membangun teori yang akan sangat berguna bagi manusia. Yang kedua, penerbit jurnal harusnya nggak terlalu selektif dalam memilih artikel-artikel yang dipublikasikan. Karena semakin banyak artikel penelitian yang dipublikasikan, maka semakin mudah akses untuk mendapatkan ‘reponden’ atas suatu analisis meta. He..he..he…

Yang baru berjuang untuk publikasi lagi. Semangat! Amin!

Ketika menu pendidikan ada Di meja: Catatan the 1st Taiwan-Indonesia higher education summit

Minggu ini saya awali dengan mengikuti The 1st  Taiwan-Indonesia Higher Education Summit yang diselenggarakan di National Taiwan University of Science and Technology, Taipe. Selama 2 hari bolak-balik Chungli-Taipe ternyata membuat saya cukup babak belur membagi energi. Akibatnya, hari ini saya molor sampai siang dan sore baru kembali ke kandhang pikir untuk mulai bekerja lagi. Daripada gemandhul di otak, saya awali hari kerja saya ini dengan membuat catatan ini sambil ditemani lagu-lagu dari Geronimo dan wafel hasil belian di kantin pojokan.

Pendidikan, kata sakti yang merupakan hak semua warga negara dan sekaligus prasyarat kunci bagi peningkatan kualitas dan martabat bangsa. Bagi Indonesia dan Taiwan, kerjasama pendidikan adalah menu baru yang hangat-hangat terhidang Di meja. Sengaja ‘D’ pada kata ‘Di’ saya tuliskan pakai huruf kapital karena pendidikan sebenarnya bukan menu baru bagi kedua negara. Menengok pada catatan pendirian Perpita (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan –organisasi Indonesian Chinese Overseas Students), sejak tahun 1960 telah ada orang Indonesia yang bersekolah di Taiwan. Hanya saja, pendidikan baru dibahas Di meja perundingan antar pihak, Taiwan dan Indonesia, pada 1 tahun belakangan ini.

Pada Mei 2011, Memorandum of Understanding dalam bidang kerjasama pendidikan ditandatangani antara Indonesia dan Taiwan di Bali, Indonesia. Lalu,  The 1st  Taiwan-Indonesia Higher Education Summit yang diselenggarakan pada 16-17 April 2012 adalah forum untuk menindaklanjutinya. Dalam forum tersebut disepakati:

  1. Kebijakan ‘Three plus one’ diluncurkan. Kebijakan ini menyatakan bahwa untuk pembiayaan mahasiswa program Doktor Indonesia yang menempuh pendidikan di Taiwan, pembiayaan tahun 1 sampai dengan tahun ke-3 akan disediakan oleh pemerintah Indonesia, sedangkan tahun ke-4 disediakan oleh Taiwan. Kebijakan ini dikhususkan bagi WNI yang berprofesi sebagai pengajar atau WNI yang berminat menjadi pengajar sehingga dapat memenuhi persyaratan beasiswa Dikti.
  2. The 2nd  Taiwan-Indonesia Higher Education Summit akan diselenggarakan pada 16-18 Mei 2013 di Bali, Indonesia.

Forum kemarin adalah forum penting bagi kerjasama pendidikan Indonesia-Taiwan. Perlu menjadi catatan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan. Namun kualitas pendidikan di Taiwan yang ditawarkan dengan harga yang rasional menjadi daya tarik pelajar Indonesia untuk bersekolah di pulau kecil ini. Selain itu, faktor jarak yang relatif tidak terlalu jauh dari Indonesia menyimpan daya pikat tersendiri berdasarkan kemudahan migrasi pelajar Indonesia. Pada tahun 2012 ini telah terdapat 2047 mahasiswa Indonesia di Taiwan yang tersebar pada level pendidikan S1, S2, S3. Berdasarkan jumlah tersebut, 37% mengambil bidang teknik, 26% bisnis, dan 11% bidang sastra. Pada sisi Taiwan, turunnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan tren penurunan mahasiswa di universitas. Dengan demikian, peningkatan pelajar internasional akan berkontribusi untuk meningkatkan supply mahasiswa. Di samping itu, kerjasama pendidikan juga menjadi sesuatu yang berkontribusi pada pengakuan wilayah ini sebagai suatu ‘negara’ di dunia. Fakta ini yang menjadikan Indonesia dan Taiwan perlu untuk duduk bersama guna mempererat kerjasama antar pihak. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan antara kedua belah pihak.

Saya sendiri mengibaratkan forum kemarin adalah sebuah ‘pasar fisik’ yang mempertemukan antara pembeli dan penjual. Masing-masing kelompok pihak menjelaskan mengenai keunggulan yang dimiliki untuk mengundang pembeli, sedangkan pada kesempatan lain, masing-masing kelompok pihak juga berposisi sebagai pembeli dengan menunjukkan atribut-atribut produk yang mau dia beli. Dengan demikian, materi hari ke-1 mayoritas mengulas tentang demo keunggulan universitas-universitas di Indonesia dan Taiwan dan kebijakan pendidikan Indonesia dan Taiwan, sedangkan hari ke-2 baru makin dikerucutkan pada kerjasama pendidikan.

Delegasi dari Indonesia dipimpin oleh Direktur DIKTI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sedangkan delegasi Taiwan dipimpin oleh Direktur Biro Kebudayaan Internasional dan Kerjasama Pendidikan, Kementrian Pendidikan, Taiwan. Sementara itu, masing-masing pihak juga menghadirkan staff kementrian pendidikan, rektor, wakil rektor, dan direktur kantor urusan internasional dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia dan Taiwan.

Bagaimana dengan saya? Saya tentu saja bukan anggota delegasi manapun. Mengambil istilah dari sidang paripurna DPR RI, saya tergabung dalam ‘partai balkon’ beserta rekans dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan. Hak bicara saya sangat terbatas dalam forum namun saya merasa leluasa menyampaikan masukan pada pihak-pihak pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia. Tentu saja karena saya adalah subject matter experts (SME) dalam perkara mendeskripsikan kondisi pendidikan Taiwan berdasarkan posisi dan status saya sebagai subjek dan objek pendidikan di Taiwan. Oleh karenanya, dalam diskusi di luar forum, saya terlibat dalam pembicaraan yang mendeskripsikan tentang kualitas pendidikan Taiwan, kendala akademis terkait bahasa pengantar yang masih campuran mandarin dan Inggris, kurikulum pendidikan internasional yang belum terdesain baik, perlunya dampingan pemerintah Indonesia dengan menekankan perlunya bidang pendidikan di KDEI Taipe, serta kategorisasi pelajar Indonesia sebagai pelajar internasional dan pelajar Chinese overseas. Saya merasakan dukungan rekans di PPI Taiwan karena adanya alignment antara aspirasi saya dengan aspirasi yang dimiliki organisasi. Thanks PPI.

Pasca mengikuti forum, rasa lega saya rasakan karena merasa telah berbicara pada pihak-pihak yang tepat dan terkait dengan berbagai uneg-uneg ini. Sebagai individu, saya lega karena saya sudah bicara, saya didengar, dan saya mendengar. Sebagai WNI, saya lega karena merasa dipayungi negara. Selanjutnya, siap kembali bekerja.

Pasca acara, mampir dulu ke museum untuk menikmati sebagian koleksi Museum Louvre yang baru ditampilkan di Taipe. Mata menjadi sejuk seiring ketakjuban menyaksikan lukisan-lukisan itu. Saya memang bukan pelukis, namun pengalaman 2 hari di forum pendidikan dan di museum itu semakin mengeratkan ikatan untuk menjadi ‘pelukis’ dengan cara saya sehingga menghasilkan karya yang berguna bagi bangsa. Semangat!

nastiti

ps. selamat seminar bop.

Posted by: turnastiti | April 4, 2012

Arah Penelitian Keperilakuan: Memanusiakan Manusia

Arah Penelitian Keperilakuan: Memanusiakan Manusia

Saya baru geleng-geleng dan manggut-manggut mendengarkan lantunan lagu Ermy Kulit di kandhang pikir ini. Inilah yang namanya hidup. Lagu Ermy Kulit yang dulu benar-benar nggak saya sukai karena lebih milih lagu Tangan-tangan Setan-nya Nicky Astria, ternyata sekarang baru saya sukai. Mungkin karena pengaruh umur, mungkin juga karena pengaruh Gundul. Entah kenapa, mungkin inilah yang namanya hidup dengan perputaran rodanya dalam ekstrim kontinumnya, baik: suka-tidak suka, hitam-putih, sakit-sehat, gembira-sedih, atau yang lain.

Tampaknya seorang sahabat di pojok kandhang pikirnya sana juga baru mengalami ekstrim kontinum yang lain. Bila beberapa hari yang lalu dia sepaneng karena mau ujian, sekarang dia tertawa tergelak-gelak karena bahagia. Itulah yang namanya hidup. Okay, saya keraskan volume Ermy Kulit agar nggak terganggu sama suara gelak tawa sahabat itu.

Kembali ke konteks tentang arah penelitian keperilakuan. Saya ambil pernyataan “Memanusiakan manusia” di situ seiring dengan proses saya membaca dan menginternalisasi berbagai perkembangan teori dalam topik-topik keperilakuan. Penelitian keperilakuan adalah penelitian yang ditujukan untuk membahas polah tingkah manusia dalam menjalani hidup. Dengan demikian, penelitian ini selalu menempatkan manusia sebagai subjek yang dikaji. Padahal, manusia adalah makluk hidup yang super duper unik dengan berbagai kerakteristik yang dia miliki. Alhasil, ragam penelitian ini mengandung tingkat kesulitan yang tinggi karena harus membahas ‘sesuatu’ yang unik dan memiliki banyak variasi polah tingkah. Karena penelitian keperilakuan lebih banyak diarahkan untuk membuat atau mengkaji aplikasi teori, maka teori yang merupakan penyederhanaan fenomena menjadi ‘sesuatu’ yang harus ada. Alhasil, banyak penyederhanaan menyangkut objek yang dipelajari yang harus dilakukan. Kebutuhan penyederhanaan inilah yang menjadikan teori keperilakuan terus berkembang dari mulai yang paling sederhana hingga sederhana rumit. He..he.. Tulisan ini akan mencatatkan perkembangan penelitian keperilakuan secara sederhana. Semoga nggak rumit-rumit amat.

Dalam buku Freakonomics dijelaskan bahwa manusia sebagai makhluk ekonomi sangat menyukai insentif. Insentif adalah nilai tambah yang akan diperoleh sebagai akibat dari perilaku yang sesuai dengan harapan. Saking sukanya pada insentif, manusia mau berbuat curang untuk mendapatkannya. Jaman saya SD, saya adalah sosok palajar wanita yang kayak Zena. Mungkin karena postur tubuh saya yang lebih bongsor dari teman-teman putri yang lain. Alhasil suatu hari saya ditantang adu jotos oleh seorang kawan laki-laki. Dengan tujuan agar terlihat gagah, saya mau. Disaksikan oleh teman-teman sekelas, saya adu jotos dengan dia di tanah lapang dekat kuburan. Hasilnya? Saya kalah hanya dengan sekali tonjok di perut. Ha..ha..ha… Sakitnya bukan main. Sampai di rumah saya ditanyain Ibu karena baju saya lusuh. Saya bilang lusuh karena bantuin teman buat bersih-bersih kelas. Tahu kenapa alasannya? Karena saya tahu bahwa kalau saya rajin maka saya akan mendapatkan pujian dan permen dari Ibu (insentif). Tapi kecurangan saya segera terbongkar ketika Ibu tahu ada bekas memar di perut saya. Ha..ha..ha… Bagaimana dengan Anda? Punyakah pengalaman dengan insentif dan kecurangannya?

Berdasarkan pada pemahaman bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang menyukai insentif, pergerakkan awal penelitian keperilakuan di entitas organisasi selalu dikaitkan dengan insentif dalam bentuk uang yang diterima  pekerja. Logika yang dibangun adalah manusia sebagai pekerja selalu mencari insentif ekonomi sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya dia juga harus diimingi dengan insentif uang yang baik. Namun, penelitian yang dilakukan Hawthorne (1924-1930) di Western Electric Company mengubah arah penelitian tersebut. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa ada aspek lain yang mempengaruhi perilaku manusia pekerja. Setelah beberapa tahun terus dikaji, aspek perhatian manajer yang diberikan pada pekerja yang diteliti ternyata adalah aspek yang berpengaruh pada kinerja pekerja. Penelitian ini menggeser arah penelitian keperilakuan yang semula semata-mata berdasarkan pada insentif keuangan menjadi ke arah insentif yang tidak terlihat yaitu perhatian atasan.

Dalam kajian motivasi, teori 2 faktor (Hygiene-Motivator) oleh Herzberg (1959) juga memperkuatnya keberadaan insentif tidak terlihat. Insentif uang termasuk dalam faktor hygiene yang akan berpengaruh pada tinggi atau rendahnya ketidakpuasan kerja. Pada sisi yang lain, motivasi dan kepuasan kerja (yang menjadi penyebab peningkatan kinerja) dipengaruhi oleh faktor-faktor insentif yang lebih tidak terlihat, seperti pemberian perhatian dan tanggung jawab oleh atasan. Apakah Anda setuju dengan hal ini? Paling tidak saya menemukan fenomena ini pada rekan-rekan saya yang bekerja dan kemudian memutuskan pindah dari pekerjaannya semula. Bukan perkara gaji yang menjadi alasan utama kepindahannya, namun lebih pada aspek kenyamanan kerja, kesempatan promosi, dan pengembangan diri. Intinya, penelitian keperilakuan mampu memahami bahwa manusia pekerja tidak hanya semata mencari insentif finansial (terlihat) namun lebih ke insentif non-finansial (tidak terlihat) pada lingkup organisasi.

Pergeseran ke arah insentif yang tidak terlihat ini terus berlanjut dan terlihat pada penelitian keperilakukan yang terkait aspek perilaku pekerja. Bila sebelumnya perilaku pekerja hanya semata-mata dilihat dari aspek perilaku yang sesuai dengan deskripsi pekerjaannya, maka penelitian keperilakuan saat ini juga banyak yang diarahkan pada perilaku sukarela yang melebihi deskripsi pekerjaannya. Hal ini ditunjukkan dengan pekerja yang dengan sukarela membantu pekerjaan rekannya ataupun menceritakan hal yang baik tentang lingkungan kerjanya pada orang lain. Perilaku sukarela ini ditujukan untuk mendapatkan insentif tidak terlihat yang lebih luas dari sekedar diterima di lingkungan organisasinya, yaitu diterima di lingkungan sosial masyarakatnya.

Berdasarkan pergeseran yang terus terjadi pada penelitian keperilakuan, saya menduga bahwa arah penelitian keperilakuan yang selanjutnya adalah insentif untuk diterima dalam universe atau alam semesta. Sebagai bentuk riilnya, manusia akan berperilaku untuk mendapatkan insentif yang baik dari lingkungan (baik sosial dan alam) dan Tuhan. Bila hipotesis saya ini didukung, maka penelitian keperilakuan akan menemukan titik hakikinya dalam mengkaji manusia secara utuh sebagai manusia.

Mari terus berpikir…

nastiti

Posted by: turnastiti | March 21, 2012

Daur Hidup Akademisi

Daur Hidup Akademisi

Saya letakkan sebentar buku The Elements of Style, sebuah buku yang direkomendasikan seorang sahabat, di meja. Sejak semalam, saya memang sudah kethap-kethip untuk membuat catatan ini.

“Daur hidup akademisi” demikian saya memberikan judul pada catatan ini guna menggabungkan konsep Daur Hidup Produk (Product Life Cycle) dan kehidupan akademisi. Idenya berasal dari aktivitas akhir minggu lalu yang menggairahkan sekaligus melelahkan bagi saya seorang akademisi pejuang di tanah Formosa. Sebuah seminar yang baru saja digelar di kota lain menjadi forum akademis bagi akademisi untuk berbagi ilmu, kontribusi, sekaligus jejaring. Bagi saya, seorang peserta tanpa tulisan, seminar ini menjadi forum bagi pengembangan jaringan sekaligus penguatan personal strengths sebagai akademisi. Bahkan tidak hanya ilmu dan jejaring yang didapatkan, kelelahan juga dirasakan karena rekan-rekan baru mengajak jalan-jalan. Anehnya, kelelahan ini menyenangkan. Dalam upaya mencari sebabnya, saya membuat catatan ini.

Seperti halnya makluk hidup, sebuah produk yang dihasilkan perusahaan akan mengalami daur hidupnya yang meliputi fase kelahiran, pertumbuhan, kematangan, dan akhirnya penurunan. Pada saat sebuah produk baru diluncurkan, produk tersebut seperti ‘bayi merah’ di pasar. Dia memerlukan dukungan penuh dari perusahaan baik terkait aktivitas pemasaran ataupun subsidi harga agar dapat diperkenalkan di pasar sekaligus menunjukkan keunikan fungsinya bagi calon konsumen. Fase ini sangat berdarah-darah karena perusahaan harus mengedukasi pasar agar calon konsumen memahami pentingnya kepemilikan produk tersebut dalam upayanya memenuhi kebutuhan kehidupan. Apabila fase kelahiran ini berhasil dijalani, maka produk akan masuk pada fase selanjutnya yaitu pertumbuhan. Apabila konsumen berhasil diedukasi dan terbujuk, maka konsumen akan berbondong-bondong membeli produk itu. Pada saat itu pula perusahaan akan mendapatkan laba yang besar. Berbagai inovasi terus digenjot oleh perusahaan untuk meningkatkan keragaman spesifikasi produk sehingga konsumen makin pengen beli. Waktu terus berjalan, dan perusahaan harus siap menjelang fase kematangan produk ketika tingkat keinginan beli konsumen tidak lagi meningkat. Hal ini bisa terjadi ketika pasar sudah terlalu jenuh dan mulai banyak muncul produk lain dengan inovasi segarnya. Pada fase ini, perusahaan perlu mempersiapkan diri untuk mulai mundur dari pasar itu sekaligus mempersiapkan produk baru lainnya. Sampai akhirnya fase penurunan itu datang. Permintaan produk sudah mendekati titik nol. Produk harus segera ditarik dari pasar daripada dia menjadi kanibal dari produk-produk lainnya yang diproduksi perusahaan.

Nah, bagaimana bila Daur Hidup Produk tersebut diaplikasikan pada kehidupan seorang akademisi? Akademisi yang dimaksud adalah pihak-pihak yang menjadikan dunia akademis sebagai ladang profesionalismenya. Memasuki masa perkenalan, seorang akademisi akan berdarah-darah untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang yang bisa bergabung dengan dunia profesional akademis. Aktivitas sekolah akan menyedot semua energinya. Bersama dengan sekolah, dia akan terus digembleng untuk mulai belajar penelitian, publikasi, dan mengikuti konferensi. Hanya niat yang teguh dan badan yang sehat yang akan membuatnya bertahan menghadapi fase berdarah ini. Bila berhasil melewati fase perkenalan, maka reputasi dan keunikan dia akan mulai dikenal di kancah akademis. Kejelasan lingkup kajian keilmuan serta keampuhan kontribusi teoretikalnya pada bidang akademis akan menjadikannya sebagai pembelajar yang unik dan handal. Pada fase ini dia akan aktif melanglang buana ke berbagai forum yang berkaitan dengan minat studinya. Berbagai tawaran penelitian, grant, hingga hak-hak VIP dari asosiasi akan dia dapatkan. Sebagai hasilnya, karya publikasi akan meningkat seiring pendapatan finansial yang dia dapatkan. Seiring bertambahnya usia dan perkembangan bidang kajian, akademisi ini akan mengalami fase kematangan. Penghasilan finansial yang cukup mengakibatkan dia tidak lagi demanding kepadanya, namun lebih pada keinginan untuk mendapatkan ‘kebijaksanaan ilmu.’ Dia akan dikenal karena kontribusinya sehingga akademisi junior akan menjadikannya sebagai ‘tetua’ yang patut dijadikan ‘guru’ pengetahuan. Penurunan keaktifan sebagai akademisi tidak akan menyurutkan daya tariknya bagi akademisi-akademisi muda untuk menjadi bagian dari ‘istana’ ilmu pengetahuannya. Dan, fase penurunan itu akan datang juga. Dia akan ‘pensiun’ dari lading akademisi dan akhirnya mati.

Saya mempercayai bahwa daur hidup akademisi ini akan membentuk siklus yang harus dijalani dari fase ke fase. Dengan kata lain, saya mempercayai bahwa nggak ada yang instan dalam ladang profesionalisme akademis ini. Bagaimana dengan Anda? Di fase manakah Anda? Semangat bersama untuk menjalani fase-fase di daur hidup akademisi yuk. Semangat!

nastiti

Effect of Work-Family Conflict on Life Satisfaction among Indonesian Lecturers*

Tur Nastiti

*Presented in the 2012 Annual Conference of Southeast Asian Area Studies in Taiwan, April 27-28, 2012, National Chi Nan University, Taiwan.

The Mediating Effect of Psychological Empowerment on the Relationship between Leadership Empowerment Behavior and Sales Performance*

Meiyu Fang and Tur Nastiti

*Accepted and will be presented in the 2012 International Association of Chinese Management Research Biennial Conference, June 20-24, 2012, Hong Kong, China.

The Tug of Work and Family: A Study of the Sources of The Work-Family Conflict among Indonesian Lecturers*

Meiyu Fang, Tur Nastiti, Chun-Hsi Vivian Chen

*Published in International Journal of Management and Enterprise Development, 2011, Vol. 11, No. 2/3/4, pp. 127-141.

Analisis Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan: Sebuah Studi Kebijakan*

Tur Nastiti

Kajian berjudul Analisis Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan: Sebuah Studi Kebijakan ini merupakan penelitian akademis yang bertujuan untuk membahas dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan berdasarkan kupasan kebijakan. Kebijakan tata kelola TKI yang dibahas meliputi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2006 tentang Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER.14/MEN/X/2010 tentang Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER07/MEN/2010 tentang Asuransi Tenaga Kerja Indonesia, Taiwan Employment Service Act, serta butir-butir aplikasi aturan pengelolaan tenaga kerja asing di Taiwan. Selain itu, Film Dokumenter Baruna Formosa yang merupakan dokumentasi visual tentang permasalahan TKI nelayan di Taiwan juga turut dilibatkan guna membingkai butir-butir permasalahan yang perlu ditangani.

Kajian disajikan dalam enam bab yang saling terkait. Bab I membahas tentang dasar kenegaraan, dasar kontekstual penelitian, dan pengertian-pengertian mendasar yang ditemui dalam berbagai kebijakan pengelolaan TKI di Indonesia. Bab II menjelaskan mengenai berbagai pihak terkait guna menjelaskan secara nyata pihak-pihak yang ditunjuk untuk turut andil pada pengelolaan TKI. Bab III menjelaskan mengenai dokumen perjanjian untuk memberikan penekanan tentang hal-hal yang bisa dikendalikan dari keberadaan agen-agen nakal. Perihal asuransi dibahas dalam Bab IV, sedangkan lembaga perlindungan TKI dibahas dalam Bab V. Bab VI membahas mengenai aturan tentang pengelolaan tenaga kerja asing yang dimiliki oleh pemerintah Taiwan. Bagian akhir dari laporan studi ini mengintegrasikan kajian dan disampaikan dalam format diskusi dan solusi permasalahan TKI berdasarkan aturan kebijakan yang ada.

* A research organized by Indonesia Student Association in Taiwan and Indonesia Economic and Trade Office in Taipe, June-November 2011.

Older Posts »

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started