Raga

Aku terduduk di bangku besi yang cat hijaunya telah banyak mengelupas. Satu meter di depanku, kolam ikan berbentuk bundar tampak seperti meja besar penjamu tamu. Gundukkan tanaman Keji Beling berjejer di kiri dan kanan, bak dinding-dinding rendah yang sengaja memblokade pandanganku yang menerawang.

Langit adalah atapnya, sedangkan rumput-rumput jepang seolah menggantikan peran permadani– melindungi telapak kakiku dari tanah merah yang becek. Satu hal yang paling memikat; sorot matahari yang kian melemah di sudut barat, telah mampu menciptakan suasana temaram ala Candle light dinner di senja ini. Indah sekali.

Melodi alam sungguh membuat kesadaranku timbul tenggelam. Riuh decak pipit yang saling menyapa, gemuruh tepuk tangan dedaunan, dipadu gemericik air mancur yang berjatuhan di kolam, semua berpadu menghasilkan pertunjukkan seni yang megah di taman ini, Taman Gajah.

NYAMAN. Lagi-lagi hanya kata itu yang mampu mewakili perasaanku saat berada di sini, di taman ini. Semua gundah, amarah, dan kesah, menguap seketika dari sela-sela tubuhku. Yang tertinggal hanya satu rasa, nyaman.

Mungkin aku memang jahat, mengunjungi taman ini hanya di kala terluka. Tetapi sungguh, bercengkrama dengan alam adalah obat paling mujarab bagi duka laraku. Bersentuhan dengan alam adalah terapi tercanggih bagi segala permasalahan jiwaku. Seperti sore ini, ketika kejadian siang tadi begitu berat membebani pundakku, aku memutuskan untuk menumpahkan keluh kesah itu di sini, di taman ini.

Secarik kertas kusut kini masih teremas di tanganku. Kertas inilah yang bertanggung jawab atas kacaunya perasaanku hari ini. “Karena saya telah memberimu selembar kertas, maka kamu berhutang selembar kertas balasan untuk saya.” Sesosok laki-laki memberiku selipat kertas siang tadi. “Saya beri waktu sampai besok.” ia bergegas pergi tanpa mengucap pamit.

Aku tak suka. Tak suka ditekan. Tak suka dipaksa. Dan yang paling tak kusukai adalah, situasi ini. Aku tak suka terperangkap dalam dilema perasaan seperti ini.

———————————————————————————————————————-

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Lexa, saya hanya ingin tahu, sayakah orang yang akan menikmati hari tua bersama kamu kelak? Sayakah orang yang akan kamu buatkan secangkir susu hangat di pagi hari? Sayakah orang yang kamu percaya untuk menjadi imam di setiap langkah kakimu? Sayakah orangnya?

Wassalam.

FATHAN

————————————————————————————————————–

Selembar kertas itu kini telah menjadi sobekan kecil tak beraturan. Tak butuh waktu lama untuk menghancurkan surat itu, begitupun untuk menghancurkan jiwaku. Semuanya jelas akan segera menemui kebinasaan.

***

“Fathan itu nyata. Dia teraba. Dia terdengar. Dia terlihat. Dia ada di hadapanmu! Dia dengan terang mencintaimu dan ingin menikahimu.” Aku berbicara pada diriku sendiri di hadapan cermin kamar mandi, sambil mengguyuri muka sepulang dari taman. “Bangun, Lexa! Kamu tak bisa terlalu lama bermimpi!” setengah diriku berkata kepada setengah lainnya. Entahlah, kenapa jiwaku begitu berantakan. Sulit sekali hal ini untuk kumengerti.

“Tolong, jangan membenciku. Jangan memojokkanku. Biarkan hatiku yang memilih.” tolakku, berharap tak ada perdebatan berkecamuk di kedua sisi hatiku yang bertentangan. “Tapi hati tak harus memilih, Lexa.” Lagi-lagi aku menimpali diriku sendiri. “Ia pasti tahu ke arah mana harus menuju. Dan kamu tahu betul bahwa saat ini kamu tak ubahnya seorang pengkhayal, menunggu laki-laki yang belum tentu mencintaimu, bahkan mungkin mengingatmu pun tidak.” aku menelan ludah, pahit sekali rasanya. “Ingat, Lexa. Fathan itu nyata, dan ia hanya berjarak lima senti saja darimu. Sementara laki-laki itu? Ia begitu jauh.”

Aku menunduk. Rasa pedih mengaliri darahku. Di satu sisi aku tak ingin dituduh bermimpi, tapi di sisi lain aku menyadari bahwa aku memang sedang bermimpi. Tiga tahun menanti tanpa secuil pun berbuah pasti; tentang perasaanku, tentang perasaannya.

Adalah Ikal, laki-laki di koridor gedung kampus yang hampir tiga kali musim gugur ini kutunggu. Tiga musim gugur yang berarti tiga tahun. “Ah, waktu yang sangat lama untuk menunggu.” aku terperanjat, tak percaya sebegitu lamanya aku menunggu.

Ikal memang ajaib. Beberapa bulan saja ia datang menggandrungi hidup normalku, lalu hilang, meninggalkan bercak-bercak rasa yang tak habis di makan waktu. Hingga satu tahun, dua tahun, tiga tahun, ah, mungkin hingga selamanya. Aku tak pernah tahu.

Ikal adalah Ikal. Tak terlalu istimewa. Hanya mahasiswa berjaket hitam yang sering kutemui di koridor gedung kampus. Wajahnya bersih. Matanya teduh. Hidupnya sederhana. Tak banyak yang kuketahui tentangnya. Yang kutahu hanyalah ia kakak kelasku, dan kami sering terlibat dalam banyak kepanitiaan di kampus.

Tak pernah ada hal istimewa di antara kami. Bahkan mengobrol berduaan pun, saling berkirim pesan singkat pun, saling menelepon pun kami tak pernah. Hanya saling mencuri pandang saja yang bisa kami lakukan. Jika ia lewat di depanku, mataku tak dapat berhenti memandanginya. Begitu pun ia. Sepasang matanya selalu mengintaiku tatkala aku lewat di depannya. Jika kemudian tatapan kami beradu, dengan kompak kamipun membuang muka.

Pernah satu kali saja Ikal menghampiriku. Kala itu, aku tengah berdiri mematung di koridor gedung. Tatapanku menerawang ke depan, menyimak wajah-wajah rusuh mahasiswa yang berlarian  dikejar gerimis sore. “Saya tidak menghendaki pacaran.” Ikal memulai perbincangan sore itu. Ia berdiri, membentuk satu shaf denganku. Tatapannya menuju wajah-wajah mahasiswa dan gerimis sore, sama sepertiku. “Tapi saya pun tak hendak menikah di usia semuda ini” Ia menunduk.

Jarak kami dua meter. Sekitar kami adalah hingar bingar penghuni kampus. Dunia kami adalah desah sesak napas milyaran manusia penghuni bumi. Tapi entah mengapa aku merasa Ikal begitu dekat. Dan dunia seketika menjadi terlelap.

Kalimat Ikal memang mengandung banyak makna, tapi kami sama-sama tahu kemana arah pembicaraan ini menuju. “Saya juga. Saya berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak pacaran.” aku menimpali ucapannya, berharap detikan es di antara kami tak lagi membekukan senja. Ikal menunduk semakin dalam. Dahinya mengerut. Urat-uratnya bermunculan. Pertanda ia tengah berpikir keras dan dalam. “entah cara ini benar atau salah” ia menghela napas. “Saya mau kamu menunggu” tatapannya menerawang jauh ke depan. Kegugupan tampak menyelimuti matanya.

Giliranku menunduk. Ucapannya bak petir yang melengkapi suasana hujan kampus. Entah senang, resah, atau gundah, tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku. Walau gemericik hujan semakin terdengar riuh, walau suara bising orang berlarian semakin tajam menyentuh gendang telinga, tetap saja aku tak bisa mendengar. Hanya kata-kata Ikallah yang memantul-mantul di tulang telingaku.”Kak, saya pulang duluan.” ujarku, tak tahu harus berkata apa lagi. Aku berbalik lantas meninggalkannya seorang diri. Tak ada hal lain yang ingin kulakukan saat itu selain pulang. Aku merasa begitu kacau.

Siapa yang menyangka kalau perkataan bodohku itu kemudian membuatku menderita hingga saat ini, mungkin sampai ku tua nanti. Ya, aku membuat kisah kami menggantung. Luntang lantung tanpa ujung. Ikal kutinggalkan tanpa jawaban.

Ikal kemudian menghilang, baik raga maupun jiwanya. Tak ada lagi laki-laki berjaket hitam itu di koridor gedung. Ia seolah berada di dunia yang berbeda denganku. Tak ada lagi Ikal, bahkan hingga tiga tahun setelah itu.

***

Aku dan taman ini.

Walau segelintir manusia berlalu lalang di sekelilingku, sejatinya hanya jiwaku sajalah yang menyatu dengan sehektar lahan ayu ini. Aku bercanda dengan riakan air kolam, lalu bermain-main dengan sejumput rumput, dan tak lupa bertegur sapa dengan sekelebat angin senja. Sesekali kupu-kupu dan burung pipit ikut bergabung dalam permainan renyahku di taman ini.

Seperti sehari yang lalu, aku kembali menduduki bangku yang sama sambil dijamu sebulat kolam berair mancur. Perasaanku masih sama, kacau! Untuk itulah aku kembali kesini, mencari secuil kenyamanan yang memang selalu berhasil kudapatkan disini. Kubuka kembali selembar kertas yang akan kuberikan pada Fathan.

——————————————————————————————————————————

Maaf kalau satu bulan kemarin saya sempat mendiamkan proses perkenalan kita, sampai akhirnya kakak harus menanyakannya sendiri pada saya. Maaf, karena saya telah membuat Kakak pusing. Tolong sampaikan maaf saya untuk Kak Ridho yang telah membantu proses perkenalan ini.

Semua orang pasti sependapat dengan saya. Tak ada alasan untuk menolak seorang laki-laki sehebat kakak. Kakak punya kepribadian yang luar biasa. Kakak juga punya pemahaman agama yang tinggi. Kakak memenuhi 4 kriteria yang disebutkan Rasulullah; Agama, Keturunan, Wajah, dan Harta yang baik.

Setelah melalui proses pertimbangan yang panjang, setelah beristikharah dan bermunajat sekian lama, hati saya akhirnya memutuskan. IYA, insya Allah saya menerima kakak sebagai pendamping hidup saya. Semoga kita bisa membangun keluarga yang hebat, yang bisa membawa dunia ke peradaban yang lebih baik. Aamiin.

-Lexa-

———————————————————————————————————————————-

Aku melipat kembali kertas untuk Fathan.

BEST PARENT EVER

Halo diary.

Aku mau cerita lagi nih. Couple weeks ago, we visited psycholog. Sebenernya aku awalnya galau, apakah aku harus pergi ke psikolog anak, atau dewasa? Karna aku ragu, yang perlu ke psikolog apakah diriku, atau anakku. Hehe

Akhirnya aku dan suami memutuskan untuk pergi ke psikolog anak. Dan seperti yang sudah aku tebak, lebih banyak aku yg curcol tentang diriku as parent dibanding konsulin anakku. Haha

Saat konseling, Bu psikolog ngecek satu persatu kondisi anakku. Semuanya normal (seperti yang kuduga). Anakku tinggal nunggu psikotes aja utk ngecek minat, bakat, gaya belajar, personality. Sisanya? Aku yang curcol.

Gatau kenapa, aku selalu merasa gak bisa jadi orangtua yang baik untuk anak-anakku. Dan bu psikolog bilang, “6 of 10 parents feel the same,Bu”. Bu psikolog bilang, aku dan suami keliatan banget sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami. Bahkan bu psikolog bilang, “kalo liat ikhtiar ibu dan bapak, rasa-rasanya ga mungkin Allah gak ngasi kesuksesan untuk anak bapa dan ibu.”

Bu psikolog melanjutkan.. Abinya anak-anak sudah sangat all out terlibat dalam mengurus anak. Beberapa kali Bu psikolog mengacungkan jempol kepada suamiku. “Jarang pak, suami yang mau terlibat sedalam ini.” Begitu katanya.

Dari segi waktu, quality time, perhatian, anak-anakku sudah dapet yang terbaik dariku dan suami. Begitu kata Bu psikolog. Anak-anak juga ketika sedih gak segan curhat ke ibu dan bapanya. Bla bla bla…. Intinya, Bu psikolog tampak sedang mengapresiasi usahaku dan suami dalam mendidik anak. Dan akupun menjadi terharu sangat dalam.

“Tidak banyak Bu, orangtua yang seperti ibu dan bapa.” Begitu ujarnya.

Everything is going well. Katanya, hanya aku dan suami saja yg perlu “ngecash”, berpelukan sehari 3x, saling menguatkan. Agar bisa menghadapi anak-anak super aktif dengan semangat yang baru tiap waktu.

Yang mengharukan adalah.. Sesi konseling saat itu ditutup dengan bisikan pak suami di telingaku, “semoga lelah ini dibalas surga oleh Allah, ya sayang.”

Ah ya, aku pun menangis. Aku tersadar. Everything is okay. Aku hanya sedang cape saja. Dan suamiku tau bangettt perasaan istrinya, bahkan dibanding bu psikolog sekalipun.

Barakallahu pak suami. Aku insyallah bersaksi bahwa engkau sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang suami.. i love you😭

Hati Terdalam

Ketika itu saya duduk di sebelahnya sambil mendengarkan dia bercerita kecil. Entah kenapa, saya merasa bincang-bincang kami saat itu sangat dalam dan intim. Tak pernah saya melihat sorot mata yang sebegitu seriusnya. Tak pernah saya mendengar suara yang begitu berat keluar dari bibirnya. Seolah tercekat di kerongkongan, dia paksakan bicara. Dan dengan penuh rasa bangga, saya tahu sayalah satu-satunya yang dia pilih untuk menjadi lawan bicara.

Momentum sakral itu insyaAllah akan saya ingat selamanya. Dia memusatkan pandangannya pada saya kala itu. Dia genggam tangan saya. Dia mulai berbicara.

Saya tahu, ini isi hati terdalam yang pernah dia bagikan pada saya. Satu persatu ucapannya sangat tak terduga. Ternyata, baginya, keluarga adalah dunia yang penuh medan magnet, yang mampu menarik pikirannya terpusat hanya pada satu tema. Ya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana kami bisa bahagia: keluarganya.

Dengan suara hati yang sebegitu dalamnya tentang istrinya, tentang anak-anaknya, tentang masa depannya, tentang cita-citanya, tentang ketakutan-ketakutannya, tentang traumanya, tentang mimpi terbesarnya, saya menyimpulkan satu hal: bagi dia, keluarga adalah pusat medan magnet. Kemanapun dia pergi, kemanapun dia berlari, keluarga adalah tujuan utamanya.

Ternyata, Seorang lelaki perkasa ada kalanya terluka. Ia sesekali menunjukkan dirinya yang lemah di depan saya. Saya tahu dia butuh saya, bukan untuk membantu, hanya untuk memeluknya dan memastikan saya selalu di dekatnya. Setelah itu, dia akan siap berkelana lagi di dunia rimba.

Melawan Riba part 2

Assalamualaikum

Hai Emak-emak seantero jagat raya 💋welcome back to my site! Sempat agak amazing juga, bahwasannya hingga detik ini selalu aja ada orang yg DM atau ngeWA dan mengatakan bahwa she/he was inspired by my blog. Jujur aja Saya malu semalu-malunya🙈, karna sejatinya blog saya ini isinya hanyalah curhatan unfaedah.

kalau merujuk ke Judul yang saya tulis diatas, for sure emak-emak disini akan langsung faham bahwa saya akan menceritakan part 2 hal-hal ajaib terkait tagline “melawan riba” yang sudah saya dan suami terapkan di rumah semenjak kami menikah.

Langsung aja saya tulis tanpa basa basi yaa *padahal itu paragraf pembuka aja udah kaya kereta api panjangnya Ciii🙈😅*

Jadi Mak, pertama yang ingin saya katakan* adalah Allah Maha Menepati Janji. Thats it. Silakan percayai dulu, resapi dulu. Kalau gak percaya, silakan enyah dari blog saya *eh maaf kalo lagi puasa ga boleh ribut yakkk🤭*

Continue reading

April Kelima

Dear dia.

Bagi aku, cinta saja sudah cukup. Karna cinta bisa menjelma apa saja. Menjelma hangat saat aku kedinginan. Menjelma riang saat aku sepi. Menjelma bahu saat aku menangis. Menjelma pertolongan saat aku butuh bantuan.

Bagi aku, dia saja sudah cukup. Karna dia adalah cinta. Di dunia dan surga. 

———————

Hi. Diary.

5 tahun and still counting. Hidup dengan dia masya Allah luar biasa bahagianya aku. Kamu inget kan dulu aku pernah cerita kalau dia itu baik? Kayaknya kata baik tak lebih baik menggambarkan kebaikan dia deh *nah,loh njelimet 😂*. Makin sini kebaikan dia malah makin overdose, makin terpampang nyata sampe-sampe kadang aku panik karna merasa berlumur dosa banget ke dia😑🤕
Lima tahun pernikahan alhamdulillah kita udah lebih bisa saling memahami. Aku bisa banget curhat panjang lebar dan jelasin kalau aku suka ini dan gak suka itu. Aku bisa terbuka banget, kalau marah ya marah. Kalau sebel ya sebel. Kalau kangen ya peluk aja dengan bergairah *sensor*.😁 Diantara aku dan dia sudah ada kesepakatan, gak boleh ada yang memendam perasaan. Kalau sok-sok an berkorban dan rela sakit demi pasangan, ya tanggung sendiri deritanya *jahat banget yak mak😂*. Eits tapi dengan begitu kita malah makin bisa terbuka. Gak ada istilah sacrifice, keduanya harus sama-sama bahagia. And we do.

Dear diary,

Dulu aku pernah cerita kalau dia sabar dan penyayang. Yap, sampe sekarang dia masih aja begitu. Dia suka beliin aku cemilan (sampe aku naek 30kg haha😅). Dia suka berikan apa yang aku mau. Moreover, Dia keliatannya sedih banget kalau gak bisa memenuhi keinginan aku. Kamu tau tragedi ketan bakar? Ya, tragedi dua tahun lalu. Dia bolak balik berhari-hari nyariin ketan bakar buat aku hanya karena suatu hari aku nyeletuk bercanda, “kayaknya ketan bakar enak deh, yang.”hiks. Itu baru ketan bakar. Tragedi iphone? Samsung tab? Umroh? Traveling? Semua celetukan aku senampaknya ingin banget dia kabulkan. Ya allaaah berikan dia kebahagiaan dan keberkahan atas perlakuannya terhadap istrinya😦😦😦
Ada satu hal, di ulang tahun pernikahan kelima ini, yang baru banget aku sadari. Bahwa dia, dalam kehidupannya, selalu menceritakan aku. Pada temannya. Pada koleganya. Sama seperti aku yang menceritakan dia terus menerus di blog ini. Sampai-sampai kalau diamati dengan khidmat, aku bisa memecahkan rekor muri karna ribuan kali nyebut dan bercerita tentang dia😆😆😆

Hm.

Aku merasa sikap dia yang seperti itu, adalah bentuk bangganya dia ke aku. Aku sempat amazed, karna dalam setiap obrolannya dengan orang lain, dia pasti menceritakan kisah pernikahan kami. Dia pasti cerita tentang aku, istrinya *ciye ciyeee*. Dia cerita bahwa aku adalah lulusan ITB tapi berani berkhidmat di rumah mengurus anak-anak. Dia bilang aku pinter nulis (dia liatin blog ini ke temen-temennya 🙈🙈🙈). Kepada anak didiknya di pesantren, dia pun selalu menceritakan aku dan pernikahan kami. Apa namanya kalau bukan bangga, iya kan? Hihi. Aku pun lega, at least aku ga malu-maluin meskipun aku udah gak langsing lagi #dibahaslagi😢

Akhirul kalam, setiap detik berlalu, aku semakin tahu bahwa dia mencintai aku dengan sangat dalam. Sama seperti aku yang mencintai dia dengan serius dan membabi buta. Kami berdua saling mencintai tak lekang oleh waktu. Karna Allah. Karna mitsaqan ghaliza.

Semoga allah selalu membahagiakan dia, Suamiku.

MELAWAN RIBA (tulisan tendensius)

Warning:
1. Bagi yang merasa bahwa berurusan dengan bank adalah lumrah, bunga bank adalah lumrah, riba adalah lumrah, i suggest you not to take time to read my writing 😊

2. I always agree and sami’na wa atha’na terhadap MUI, including keputusan MUI terhadap bank syariah. I have no doubt about that.

image

Ini adalah sebidang tanah dengan luas 530meter persegi yang dibeli suami saya tempo hari. Luas yah 😊.. Jika didirikan sebuah rumah, tentu saja akan menjadi sangat sangat luas. Lokasinya bagaimana? All praise be to Allah, lokasi tanah ini adalah tepat disamping pondok pesantren. Sebuah nikmat tiada tara karna bisa bersanding dengan pesantren 😊

Dibalik pembelian tanah ini ada sejuta keajaiban. Still have courage to read the story? Check it out guys!

Taun 2012 saya menikah. Suami saya tak punya apa-apa. Dia benar-benar datang ke rumah dengan tangan kosong. He just promised me one thing: he would always try to make me happy. Thats all.

Lalu kami menjalani kehidupan sederhana karna sebagai abdi negara, suami saya sangat berhati-hati dengan uang yang datang di depan mata. Bahkan saya sempat ikutan stress melihat begitu banyak fiktivisasi *ngarang banget ini istilahnya wkwk*, even utk perjalanan dinas saja terkadang harus memanipulasi tiket travel *ini disebabkan birokrasi yg acak2an dan ga support kejujuran, jadi banyak pegawai yg terpaksa melakukan fiktivisasi daripada harus nombok pake uang pribadi*. Oke mari lupakan saja tentang birokrasi di negeri ini. Back to the topic.

Suatu ketika suami saya memberi tahu sebuah keputusan yang berat (bagi saya terasa berat euy waktu itu!hehe). Beliau bilang, ” kita tidak akan pernah berurusan dengan cicilan bank. Abang akan berusaha sebaik mungkin. Kita beli rumah dan kendaraan secara cash!”

JLEBB.
I know that i can count on him. Beliau bisa diandalkan dalam hal apapun. Tapi dengan kondisi sebagai abdi negara, dengan gaji yang ngepassss, i had no idea bagaimana caranya membeli rumah secara cash (?). Waktu itu saya hanya berdoa kepada Allah, agar diberi jalan terbaik.

Menginjak pernikahan ketiga tahun, aroma utk menyicil rumah ternyata tak kunjung datang. He walked his talk. Dan beliau selalu meminta saya percaya. Dia ceritakan kepada saya tentang sistem riba bank, dia beri saya insight tentang KPR, dia jelaskan tentang bank syariah ( adanya bank syariah sangatlah membantu ekonomi islam, meski masih banyak kekurangan), dia jelaskan mengapa berurusan dengan bank adalah the worst decision in our life. Sejak itu saya mulai berteguh hati dan yeayyy! keajaiban mulai datang silih berganti.

Membeli tanah (dan insyallah rumah) tanpa berurusan dengan bank ternyata Allah kabulkan dengan cara-Nya sendiri. Dengan sangat sangat indah, dan tentunya Rasional 😊

Membeli rumah di jakarta atau bandung secara cash, dengan status suami saya sebagai abdi negara dan saya sebagai ibu rumah tangga ternyata memanglah tidak mungkin, dan tahukah apa yang dilakukan Allah? Allah tahu bahwa kami serius menyoal riba. Keyakinan kami bukan hanya dalam kata. And He handle this case seriously too!!!

Perlahan Allah giring kami ke sebuah desa, dan kami membangun usaha disana. This is logical, karna di desa memang harga tanah masih murah dan peluang utk membeli rumah secara cash lebih besar. Setelah melewati banyak drama (saat memutuskan utk resign dr kantor), here we are.. terdampar di pedesaan.. tanpa kami rencanakan setitikpun sebelumnya.

time flies..
Di suatu hari yang cerah, Allah kembali memberikan keajaiban. Kami tak punya uang cash banyak waktu itu. Tapi Allah suguhi kami sebidang tanah utk dimiliki. Dengan cara cash? No way. Thats impossible karna kami memang tak punya. Lalu? Allah tawari kami cicilan. Lewat bank kah? No way 😊😊

Tarik nafas dulu…
Allah tawari cicilan tak berbunga lewat sepupu kami/pemilik tanah. Apakah kami yang meminta? Tidak. Sepupu kami menawarkan tanah beserta cicilannya dengan sukarela. Allah lapangkan hati sepupu kami (semoga allah selalu merahmati beliau). Beliau memperkenankan kami menyicil tanah tersebut secara langsung ke beliau. Tanpa bunga. Tanpa riba. Tanpa BANK. Bahkan beliau tak mengambil untung sedikit pun dari penjualan tanah tersebut. Beliau katakan, “ini tanah jodohnya kalian. silakan aja dicicil semampunya sampai lunas😊”

Got it! All praises be to Allah. Sekarang kami punya tanah yg luas, dengan cara pembayaran cicilan sih, tapi tanpa berurusan dengan bank. Thats so amazing! Alhamdulillaaah.. semoga tulisan ini bisa menginspirasi.. ketika kita serius menjalankan perintah Allah, Allah lebih serius mengurusi kebutuhan kita. InsyaAllah