Tekad dan Mimpi: “Antara Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Taiko”
Posted: March 22, 2008 Filed under: Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira 3 CommentsProlog
Tulisan ini bukan bermaksud untuk memberikan resensi terhadap ketiga judul buku di atas. Kata-kata yang mengalir dalam tulisan ini, lebih menggambarkan kesemerawutan prinsip berpikir yang saya alami, setelah teracuni oleh ketiga buku di atas. Bukan karena dua judul yang disebut pertama adalah karya fenomenal penulis Indonesia modern, tetapi kesemerawutan yang muncul disebabkan karena keminderan atau lebih tepatnya ke-malu-an (sengaja diberi tanda hubung agar tidak diasosiasikan dengan kata benda lain) saya akan nilai-nilai yang dikandung ketiga buku di atas.
Dalam insomnia malam saya yang ketiga di bulan ini, akhirnya kegalauan ini saya beranikan untuk dikonfrontasikan lewat tulisan, sambil melatih kembali struktur berpikir saya, yang telah dihancurkan dalam 5 hari kerja seminggu oleh manual-manual, planning guideline, dan product catalogue.
Laskar Pelangi by Andrea Hirata
Dari tiga tulisan sastra bebas yang ditulis oleh Andrea Hirata, mungkin banyak orang yang setuju dengan saya, kalau Laskar Pelangi-lah yang merupakan karya “sebenarnya” Hirata. Dua tulisan kelanjutannya, walaupun tidak kalah menariknya dengan Laskar Pelangi, ditulis dengan gaya yang sama sekali berbeda dengan masterpiece Laskar Pelangi.
Sang Pemimpi ditulis dengan gaya mirip cerita Lupus, tetapi jauh lebih berkelas dari sisi makna dan nilai. Sedangkan Edensor ditulis dengan gaya bertutur mirip dengan novel Forest Gump.
Jika banyak orang terinspirasi oleh sosok Bu Muslimah atau Lintang, yang begitu mempesona (bahkan bagi Andrea Hirata sendiri), saya sendiri lebih memilih untuk menyelami karakter Ikal. Karena pada dasarnya tokoh ini adalah sang penulis sendiri.
Dalam Laskar Pelangi sangat terlihat bahwa Andrea ingin mengedepankan tokoh sang Guru dan sang Sahabat, dan sedikit malu untuk mengeksplor dirinya sendiri. Hal yang sama sekali berbeda pada buku kedua dan ketiganya. Hirata lebih berani menggambarkan siapa dirinya.
Saat membaca buku kedua dan ketiga, saya sempat berpikir bahwa tampaknya Hirata ingin membanggakan pengalamannya, yang extra-ordinary itu, untuk menegaskan siapa dia di buku pertamanya. Dalam sebuah artikel di tabloid Gatra, anggapan saya mulai agak terhapus, ketika diceritakan bahwa dia tidak mengambil sepeser pun royalti dari Laskar Pelangi yang sudah menembus angka 1 milyar. Apalagi kalo mengingat kata terakhir yang ditulisnya di buku ketiga, membuat saya merinding dan bergetar.
Andrea pada dasarnya hendak menceritakan bahwa, keberhasilan dan pengalaman yang dia alami, merupakan manifestasi dari mimpi-mimpi yang ditanamkan dipikirannya sejak masih kecil. Jika Andrea berhasil menginspirasi orang dengan Laskar Pelangi, di buku kedua dan ketiganya, dia seperti ingin menceritakan, bahwa Laskar Pelangi juga telah memberikan inspirasi bagi dirinya sendiri.
Ternyata saya telah keliru, menjustifikasi Andrea dengan sebegitu dangkalnya. Jadi tidak sabar menunggu karyanya yang keempat.
Ayat-Ayat Cinta yang Fenomenal
Tidak rugi rasanya, jika produser film Ayat-Ayat Cinta mengangkat buku ini ke layar lebar. Selain menceritakan keidealismean humanisme dalam Islam, film itu sendiri dibumbui lebih banyak “cinta” dibandingkan buku aslinya.
Dari awal hingga akhir buku ini, menggambarkan betapa idealnya hati seorang Fahri, yang seperti sangat “lurus” tanpa cela. Bahkan penulisannya yang menggunakan sudut pandang orang pertama, semakin menggambarkan kesempurnaan akhlak Fahri, yang seperti tidak pernah terpengaruhi oleh bisikan syaitan.
Keidealannya digambarkan pula dari latar belakangnya yang sederhana, mendapatkan istri kaya, layaknya Nabi Muhammad SAW mempersunting Khadijah, dan keteguhannya dalam menghadapi cobaan, yang dalam realitas amat sangat jarang dijumpai.
Sebenarnya saya termasuk orang yang terlambat membaca buku ini. Baru setelah menikah saya melihat buku ini dalam koleksi istri saya, kemudian tertarik membacanya karena saya pikir ini adalah buku serius tentang pemikiran. Ternyata buku ini adalah sebuah roman yang menceritakan nilai-nilai moral yang sudah banyak ditinggalkan masyarakat matrealis (termasuk mungkin saya) di dunia ini.
Sang Taiko
Untung di depan saya sudah menuliskan bahwa tulisan ini bukanlah resensi, karena sampai tulisan ini saya buat, saya baru sampai buku kedelapan dan belum menyelesaikan keseluruhan buku ini.
Taiko merupakan karya Eiji Yoshikawa yang menurut saya lebih menarik dibanding Mushashi. Bukan karena saya ingin terlihat berbeda, dengan memilih tidak mengidentikkan Eiji dengan Mushashi, tetapi Taiko memberikan pelajaran yang lebih kompleks mengenai strategi dan ambisi. (Strategi yang membuat saya akhirnya mulai bisa memenangkan War Craft III lawan teman sekantor). Walaupun faktanya Mushashi memang lebih populer di Indonesia.
Setelah menyelesaikan beberapa bab, saya merasa jalan cerita yang akan dituliskan akan ideal. Hiyoshi anak seorang samurai yang cacat akan menjadi seorang Taiko, penguasa Jepang. Mungkin kalo dimampatkan menjadi cerpen akan seperti cerita-cerita di Bobo, seorang anak petani mengalahkan raja jahat dan kemudian menjadi raja. Tapi pemaparan dalam buku ini sungguh sangat luar biasa. Banyak intrik dan liku kehidupan yang sebenarnya sangat manusiawi dan tidak ideal. Sisi inilah yang membuat menggapai mimpi dalam buku ini serasa lebih masuk akal, tidak seperti yang diceritakan dalam Lord of the Ring atau Bharatayuda.
Benang Merah Moral
Ke-malu-an (sekali lagi, sengaja diberi tanda hubung) saya yang menyebabkan tulisan ini mengalir, didasari atas kekuatan mimpi yang terkandung dalam ketiga buku di atas. Saya adalah orang yang termasuk memaknai mimpi sebagai gambaran cita-cita hidup saya. Setidaknya itu dulu. Tapi seiring terjebaknya hidup saya dalam roda matrealis, yang mengejar gaji (walaupun tidak sedramatis itu) untuk hidup dan membayar tagihan ini itu, rasanya saya mulai merasa kehilangan kekuatan mimpi itu sendiri.
Sampai pada suatu siang, saya mendapati kolega saya berpamitan untuk mencoba peruntungan di Timur Tengah, dan pada saat yang bersamaan aplikasi beasiswanya tinggal menuju tahap akhir, padahal dia baru saja menikah dan istrinya baru menyelesaikan PTT, dan sekarang menyelesaikan sertifaksi agar dapat bekerja juga sebagai tenaga medis di Timur Tengah.
Bayangkan, baru saja menikahi dokter, dapat tawaran sebagai engineer telekominukasi di Timur Tengah, istrinya bisa menyusul bukan hanya sebagai pendamping dan dapat berkarya juga, beasiswa tinggal menunggu pengumuman, dan seterusnya-seterusnya. Terdengar seperti mimpi dan ideal sekali bukan.
Saya jadi teringat ketiga buku di atas, bahwa semuanya berawal dari mimpi. Dan tiga buku itu memberikan satu tambahan yang saya lupakan, bahkan mungkin saya belum paham sebelumnya, yaitu TEKAD.
Ikal (Andrea) tidak akan menjalani hidupnya seperti yang telah dia kisahkan jika tidak mempunyai tekad. Fahri yang digambarkan begitu ideal, mempunyai kekuatan terbesar dari mimpi dan tekadnya. Bahkan Hideyoshi mempunyai lebih sedikit mimpi dari orang lain, tapi tekad yang jauh lebih besar dari orang-orang disekitarnya.
Kenapa saya tidak berani untuk kembali bermimpi, karena ternyata tekad saya mulai kendur. Tapi itulah yang sekarang terjadi.
Moralnya teman, jika sekarang kita punya mimpi mari kita bertekad untuk mewujudkannya. Jika saya mungkin sudah terlambat, saya harap anda belum terlambat. Karena harapan anda mungkin akan memacu kembali tekad saya.
Depok, 23 Maret 2008. 2:40 am
“Sial, IM3ku habis masa berlakunya!!!”
Hasrat untuk Ikut Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira: Kesadaran Peran dan Fungsi
Posted: February 11, 2007 Filed under: Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira Leave a commentManusia dilahirkan dengan anugerah kecerdasan yang berbeda-beda. Beberapa orang sering menyebutnya dengan bakat. Sampai dengan tahun 90an, para orang tua masih beranggapan bahwa kecerdasan seorang anak ditentukan oleh kemampuannya dalam memahami persoalan matematis dan mengahafal.
Memasuki abad ke-21, semakin banyak orang yang menyadari bahwa, dalam kehidupan ini, tidak hanya memerlukan manusia-manusia yang cerdas (menurut anggapan tahun 90an).
Kecerdasan Manusia
Saat ini para ahli cenderung untuk membagi kecerdasan manusia. Mereka menyatakan bahwa, kecerdasan manusia tidak hanya berdasar kepada kemampuan mereka menyelesaikan persoalan numeris maupun mengingat setiap kata yang ada di dalam buku yang mereka baca.
Dr. Howard Gardner menggolongkan kecerdasan manusia dalam 7 kategori. 7 kecerdasan tersebut adalah:
1. Kecerdasan Verbal
Sering disebut kecerdasan bahasa. Seseorang yang memiliki kecerdasan ini, mempunyai kemampuan dalam bentuk lisan maupun tulisan dalam mengungkapkan pemikirannya.Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki seorang penulis, wartawan, dan guru.
2. Kecerdasan Rupa
Kecerdasan ini berkaitan dengan daya imajinasi seseorang dalam mengungkapkan bentuk dan gambar. Biasanya dikaitkan juga dengan kreatifitas seseorang.
3. Kecerdasan Musikal
Kepekaan sesorang meninterpretasikan bunyi-bunyian ditentukan oleh kecerdasan ini. Tentu saja kecerdasan seperti ini dimiliki oleh para musisi dan pencipta lagu.
4. Kecerdasan Motorik
Kecerdasan motorik menentukan kemampuan seseorang dalam mengendalikan tubuhnya. Jika seseorang mempunyai kecerdasan ini, mereka cenderung tangkas dalam menirukan gerak, dan mengontrol pergerakan tubuh mereka sendiri. Biasanya para penari dan olahragawan memiliki kecerdasan semacam ini.
5. Kecerdasan Matematis
Jangan terjebak oleh nama kecerdasan matematis, karena selain cerdas dalam hal-hal numerik, orang-orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya juga tanggap dalam menganalisa permasalahan. Tipe seperti ini lebih cenderung untuk berpikir mengedepankan logika.
6. Kecerdasan Sosial
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini, memiliki kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Mereka memiliki empati tinggi dan terkadang mampu membaca karakter dan pikiran seseorang.
7. Kecerdasan Pribadi
Kecerdasan pribadi berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan diri dan emosinya. Orang-orang dengan tipe kecerdasan ini, mampu melihat kekurangan dan kelebihannya secara nyata, dan menempatkan diri dalam kekuatannya sendiri.
Pada dasarnya setiap orang tidak hanya memiliki salah satu kecerdasan di atas. Tidak menutup kemungkinan seseorang memiliki lebih dari dua macam kecerdasan, yang dikombinasikan dalam diri mereka. Dan tentu saja anugerah seperti ini tidak sama bagi setiap orang.
Memanfaatkan Kecerdasan dalam Diri Manusia
Seperti yang diungkapkan di atas, manusia bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan dalam diri mereka. Tetapi banyak yang tidak menyadarinya. Sebenarnya tidak diperlukan kemampuan khusus untuk mengetahui kecerdasan yang dimiliki oleh diri kita sendiri.
Tipe kecerdasan seseorang sering dikaitkan dengan minat seseorang dalam suatu hal. Secara naluriah seseorang cenderung akan merasa menikmati jika berada dalam lingkungan yang menunjang minatnya. Minat ini biasanya didasari atas kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Melalui beberapa tes yang harus dilakukan, kecerdasan yang dimiliki setiap orang bisa dilihat degan bantuan seorang psikolog,. Dari tes tersebut akan diketahui, kecerdasan tipe mana saja yang dimiliki oleh seseorang.
Dengan mengetahui minat dan bakat dalam diri masing-masing, akan cukup mudah bagi seseorang untuk menentukan bidang yang akan dipilih. Tentu saja kecerdasan yang ada dalam setiap individu perlu untuk terus diasah dan dikembangkan untuk mencapai hasil yang maksimal.
Tidak akan lengkap bagi seseorang, jika dalam menapaki bidang yang dipilihnya, tidak disertai pencapaian atas hasil usahanya. Tolok ukur keberhasilan setiap orang tentu berbeda, dan hal itu ditentukan oleh yang bersangkutan itu sendiri. Meskipun demikian, secara normatif pengakuan orang lain dalam menanggapi keberhasilan seseorang, menjadi salah satu tolok ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan. Hal ini tidak berlaku mutlak, tetapi sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan pengakuan manusia lain atas diri mereka, yang menggambarkan bagaimana dia diterima dalam lingkungannya. Dorongan tersebut membuat seseorang untuk membuat pencapaian yang telah dia raih, memberi pengaruh bagi lingkungan disekitarnya.
Aku Seorang Insinyur
Beberapa anekdot serius, menceritakan tentang orang-orang terkaya di dunia. Dalam anekdot tersebut digambarkan bahwa orang tersebut adalah orang-orang yang DO (Drop Out) dari tempat belajarnya. Bill Gate adalah salah seorang yang dimaksud dalam cerita tersebut. Dalam anekdot tersebut, seakan-akan moral dari cerita itu menyarankan seseorang untuk DO dari kuliahnya agar dapat berhasil, bahkan lebih berhasil dari teman-temannya yang berhasil lulus. Anggapan yang bisa menimbulkan persepsi yang keliru, bagi orang-orang yang berpikiran pendek.
Sekarang mari kita lihat dari sudut padang lain. Apakah untuk berhasil kita harus DO? Apakah sebagian besar mahasiswa ataupun siswa yang tidak berhasil menyelesaikan studinya, akan mendapat jaminan lebih berhasil dari teman-temannya? Tapi apakah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya dengan gemilang, akan mendapatkan jaminan lebih berhasil dibanding teman-temannya yang hanya lulus sekolah menegah?
Sekali lagi ditegaskan, sebuah keberhasilan bukan hanya dilihat dari sudut pandang seberapa kaya dia, setinggi apa kedudukannya, atau seberapa banyak pengagumnya. Justifikasi keberhasilan terhadap seseorang tidak akan pernah berhenti, jika parameter seperti ini dipertahankan.
Beberapa tahun yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan bisnis. Pesertanya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang diseleksi dari seluruh penjuru tanah air. Dalam komunitas tersebut, persepsi-persepsi mengenai keberhasilan tiba-tiba menjadi buram.
Yang saya pelajari dari komunitas ini adalah penghargaan mereka terhadap pencapaian masing-masing individu. Tidak semua orang mampu mencapai apa yang telah yang lain capai. Prestasi yang mereka capai berbeda bidang, maka mereka dihadapkan dalam sebuah atmosfer di mana satu sama lain dapat saling belajar dan menghargai. Tidak ada yang merasa lebih berhasil di antara satu dan yang lain, karena persepsi seseorang atas hal tersebut berbeda-beda.
Jika melihat seseorang hanya atas keberhasilan yang dia capai, maka suatu saat jika ditemukan kelemahan atas seseorang tersebut, persepsi atas keberhasilannya akan berubah. Tetapi jika keberhasilan tersebut dilihat atas dasar penghargaan dan usahanya, maka akan bisa diambil pelajaran atas usahanya tersebut. Penilain obyektif akan membawa seseorang untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Seorang teman saya datang kepada saya mengeluhkan mengenai perusahaan yang akan menerima dia. Perusahaan tersebut bernama Mark and Co, yang didirikan oleh seorang pakar marketing ternama, Hermawan Kertajaya. Dia menceritakan bagaimana manajemen perusahaan tersebut tidak sehebat yang dia bayangkan. Penghargaan terhadap sumber daya manusianya diceritakannya sebagai tidak manusiawi, untuk perusahaan sekaliber Mark and Co. Pada akhirnya diungkapkannya bahwa ternyata image Hermawan Kertajaya yang begitu mendunia, tidak sepadan dengan kualitas perusahaan yang dia dirikan.
Memang jika melihat seseorang hanya dari keberhasilannya, dan pada suatu saat menemukan kekurangannya, sikap yang timbul adalah kekecewaan. Pelajaran seorang Hermawan Kertajaya, bahwa dia berhasil membuat sebuah karya nyata dalam karirnya tidak bisa diambil, hanya karena melihat kekurangan dalam perusahaan yang didirikannya.
Sebenarnya jika melihat secara obyektif, setiap contoh bisa kita ambil dari segi positif dan negatifnya. Sisi positifnya bisa dijadikan teladan untuk menginspirasi langkah seseorang. Sedangkan sisi negatifnya dijadikan sebagai pelajaran yang bisa dihindari untuk tidak dilakukan.
Karena itu, pada suatu saat anda memutuskan untuk menjadi seorang politisi dengan bakat dan usaha anda, jangan malu untuk mengatakan “Aku seorang politisi, yang berjuang jujur untuk rakyat”. Jika anda memilih untuk berwirausaha, tidak usah ragu mengatakan “Aku seorang pengusaha, yang berani memulai bisnisku dengan segala resiko”. Ataupun jika anda memilih untuk menjadi seorang insinyur, dengan rendah hati katakanlah “Aku seorang insinyur yang mengabdikan diriku untuk pembangunan umat manusia”.
Jika anda seorang bankir jangan pernah menganggap remeh seorang ulama yang mengabdikan hidupnya membenahi moral manusia. Apabila anda seorang ulama, tanpa dasar yang kuat jangan memandang seorang politisi sebagai orang yang hanya berbicara tanpa ada tindakan. Jika anda seorang politisi, jangan menganggap seorang pengusaha sebagai orang yang bersusah payah hanya untuk mencari keuntungan dari orang lain. Jika anda pengusaha, jangan menganggap seorang insinyur sebagai orang pintar yang diperbudak pemilik perusahaan. Dan jika anda seorang insinyur, jangan menganggap seorang bankir sebagai orang yang selalu mengitung banyak uang, yang bukan miliknya sendiri.
Apa Peran dan Fungsimu?
Setiap orang merintis karyanya dalam jalan yang telah dipilih. Dan jalan tersebut sebaiknya sesuai dengan minat dan bakat yang telah dia miliki. Penentuan jalan tersebut tentunya dengan pertimbangan yang masak dan pemikiran yang mendalam.
Pernahkah anda membayangkan jika dunia ini semuanya berisi pengusaha? Akhirnya jika pengusaha tersebut mencari tenaga kerja, maka dia tidak akan mendapatkan karena semua orang adalah pengusaha. Jika dia sakit tidak ada yang mampu mengoperasi dia, karena semua orang adalah pengusaha.
Setiap orang di dunia ini pasti memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Memang tidak harus peran besar yang dia mainkan, ataupun fungsi penting yang dia jalankan.
Terkadang saya berpikir, untuk apa orang miskin dan gagal ada di dunia ini? Mengapa tidak semaunya saja, orang di dunia ini adalah orang kaya? Atau mengapa tidak semua usaha yang dilakukan setiap orang selalu berhasil?
Balada Pengemis Buta
Seringkali ditemui pengemis di jalan, di bus kota, maupun di rumah-rumah. Pengemis ini biasanya bertampang iba, dan layak untuk dikasihani. Suatu hari saya menumpang busway dari halte Bendungan Hilir. Halte ini sekarang dipindahkan di bawah kolong jembatan yang menuju Cassablanca. Di bawah kolong ini, hampir semua bis yang melewati Jalan Jend. Sudirman berhenti untuk menurunkan atau mencari penumpang. Bisa dibayangkan ramainya tempat ini.
Di tempat ramai seperti ini, biasanya banyak pengemis berkeliaran. Beberapa saat setelah saya turun dari bus kota, saya tidak memutuskan untuk langsung masuk ke dalam halte. Sejenak saya menikmati keramaian yang ada, ketika seorang pengemis buta dengan dituntun seorang ibu setengah baya menghampiri saya. Tidak jelas apa yang dia katakan, tapi dari bahasa tubuhnya sudah bisa ditangkap maksudnya. Segera rupiah dari kantong saya pun berpindah ke tangannya.
Setelah agak puas menikmati keramaian (saat itu sebenarnya saya sedikit penasaran dengan makanan lekker yang dijajakan dengan bersepeda), saya pun memutuskan untuk naik ke halte busway. Dengan sangat kebetulan saya berpapasan lagi dengan pengemis tadi di jalan menuju halte. Mendadak si pengemis tadi berhenti tepat di depan saya, dan saya berpikir dia akan mengulurkan tangannya lagi. Tetapi yang terjadi adalah lain, tangannya meraih sebuah benda ke dalam tasnya yang compang-camping, yang kemudian saya sadari sebagai sebuah telepon genggam.
Saya langsung tersenyum kecut melihat hal tersebut. Ingatan saya langsung teralih pada cerita-cerita tentang sindikat pengemis, yang sebenarnya terdiri dari orang-orang yang bukan tidak mampu. Masih dengan penasaran, saya hentikan langkah saya dengan membeli gorengan yang terletak tak jauh dari situ. Sayup-sayup saya masih bisa mendengar percakapan pengemis itu.
“…baik…lagi ning Benhil…”
“…opo…mlebu maneh?!…kapan?”
“…trus..Yu Xxxx kepriben?”
“…butuhe piro?”
“…lagi ga ono iki…bocah-bocah wis mbayar sekolah?…”
“…wes nganggo dhuwite iku dhisik yo…”
“halo…halo…”
Seperinya telepon terputus dengan tiba-tiba, entah yang menelpon pulsanya habis, atau yang menelpon marah tidak senang dan menutup telepon tiba-tiba, sepertinya saya tidak akan pernah tahu.
Selama perjalanan di dalam bus, saya coba mencoba mengira-ngira isi pembicaraan pengemis tadi. Sepertinya di kampungnya ada seseorang yang sakit, dan sepertinya sudah masuk rumah sakit berkali-kali. Kerabatnya di kampung kekurangan uang untuk membiayai pengobatannya di rumah sakit, dan akhirnya uang pembayaran sekolah “anak-anak” yang digunakan untuk menutup pembiayaan pengobatan.
Ternyata telepon genggam itu bukan simbol kemewahan bagi pengemis tadi. Dengan hidupnya di kolong jembatan, jam kerja yang tidak menentu, dan mobilitas yang tinggi, ternyata dia membutuhkan telepn genggam itu, jika terjadi kasus darurat seperti tadi. Saya yakin Telkom tidak akan memberikan sambungan di rumahnya yang tidak permanen di pinggir-pinggir sungai.
Setiap tahun kota-kota besar seperti Jakarta selalu “dibanjiri” pengemis-pengemis baru yang meramaikan persaingan dengan pengemis-pengemis setempat. Mereka bukan hanya dari golongan tidak mampu saja, tapi bisa jadi dari golongan menengah bawah – ke bawah. Beberapa pengemis ini, bagi sebagian orang sebenarnya tidak layak untuk mengemis. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka mengemis, atau untuk apa mereka mengemis, apakah mereka tidak punya keahlian lain selain mengemis?
“Kalo mereka mampu, mereka ga akan mengemis, Dik,” begitu kata Bude saya. Memang jika mereka mampu, mungkin saja mereka tidak mengemis. Mampu di sini bukan dari sisi finansial saja, tetapi juga keterampilan, kekuatan, kecakapan, atau apa pun namanya. Yang jelas jika mereka tidak punya kemampuan pilihannya ada dua, menyerah atau terus berusaha. Jika kita mau menyalahkan kepada pemerintah, kenapa tetap saja banyak penduduk yang tidak memiliki keterampilan yang layak, atau menyalahkan dunia usaha yang terlalu keras dan tidak cukup menyediakan lapangan pekerjaan, maka proses ini akan menjadi sebuah lingkaran setan yang tidak akan pernah bertemu titik penyelesainnya.
Setiap Orang adalah Guru
Pengemis adalah sebuah contoh, dia menjalankan perannya di dunia ini dengan jalannya. Di satu sisi, keberadaan pengemis di mana-mana seakan menjadi jalan pintas untuk beramal. Kapan pun kita ingin beramal, di situ ada pengemis yang siap menerima amal kita. Kita tidak perlu tahu latar belakang mereka. Jika merasa tidak ikhlas memberikan lebih baik simpan rupiah yang ada, sambil berharap si pengemis mendapatkan yang lebih baik dari yang lain.
Pengemis juga menjadi pengingat kita untuk senantiasa selalu berusaha dan giat menjalankan amanah, agar tidak bernasib lebih buruk dari dia. Pengemis membuat orang tua mendidik anaknya agar selalu bersiap menghadapi masa depannya. Pengemis dan orang miskin, seharusnya mampu mengetuk orang-orang kaya untuk tetap mengingat sesamanya, dan tidak berlebihan dalam menggunakan hartanya.
Orang kaya juga tidak selalu menjadi contoh yang positif bagi kita. Ada sisi-sisi di mana pada suatu saat, kita tidak mencontohnya. Setiap orang senantiasa ingin memiliki harta lebih, dan setiap orang yang lebih mampu menjadi pemacu bagi yang lain untuk lebih kaya. Tapi seberapa banyak orang yang berpikir seberapa besar manfaat yang diperoleh orang lain dari kekayaannya itu. Seberapa banyak orang yang sadar, bahwa di antara rezeki yang diterimanya, terdapat hak-hak orang lain seperti anak yatim piatu dan fakir miskin.
Setiap orang adalah guru bagi manusia lain. Dia tidak hanya menjadi contoh yang baik untuk ditiru, tetapi juga menjadi contoh yang buruk untuk dihindari dan pengingat bagi manusia yang lain. Kadang hal-hal yang “mengganggu” tersebut menjadi tantangan bagi orang lain untuk membawa perubahan yang lebih baik. Bisa jadi itulah perannya, dan yang lain pun menjalani perannya masing-masing.
Leadership, Followship, dan Fellowship
Manusia ditakdirkan sebagai khalifa di muka bumi ini. Maka pada dasarnya setiap manusia mememiliki peran sebagai pemimpin. Minimal memimpin dirinya sendiri. Ketika dihadapkan pada komunitas sosial, maka hakikat kepemimpinan manusia bagi setiap manusia menjadi berbeda.
Dewasa ini, banyak sekali latihan leadership yang ditawarkan oleh berbagai lembaga pelatihan. Pelatihan ini menekankan pada pengasahan kemampuan memimpin para pesertanya. Hakikat kepemimpinan sering digeser pada pengertian kekuasaan. Sebuah pengertian keliru, karena saat seseorang mengambil peran sebagai pemimpin maka dia dianggap berkuasa. Identifikasi seperti ini akan mendorong seseorang mengambil perannya sebagai pemimpin, karena dilandasi oleh nafsu berkuasa.
Dalam sebuah kepemimpinan yang diperlukan adalah tanggung jawab dan amanah. Hal ini berbahaya jika sampai dilupakan. Peran seorang sebagai pemimpin bukanlah peran mutlak yang harus diambil setiap manusia terhadap manusia lain. Dalam hal bekerja sama, setiap orang harus menyadari peran dan fungsinya masing-masing.
Dalam sebuah komunitas, tim, maupun organisasi kepimimpinan adalah penting. Tapi jika kepemimpinan ini tidak diikuti suatu followship maka organ dalam sekumpulan orang tersebut akan berjalan dengan tidak sebagaimana mestinya.
Followship tidak diartikan sebagai keikutsertaan buta. Keikutsertaan dalam sebuah kumpulan seharusnya disertai dengan kesadaran peran dan fungsi masing-masing. Jika setiap orang mampu menempatkan dirinya dalam posisi berdasarkan kualifikasi yang dia miliki, dan tidak memaksakan kehendaknya, maka sebuah kerja sama dan interaksi setiap orang, akan menjadi lebih baik. Dengan demikian setiap orang telah menjadi pemimpin bagi dirinya masing, dalam mencapai tujuan bersama.
Hal ini bisa saja berbeda dalam sebuah perkumpulan yang didasakan atas persaudaraan. Di mana hampir setiap orang yang sama, melakukan berbagai aktifitas yang berbeda-beda. Prinsip dalam sebuah fellowship adalah tidak ada kepemimpinan yang mutlak. Setiap orang bisa menjadi pemimpin dalam hal yang berbeda, jika memang dirasakan perlu. Artinya di sini setiap orang mempunyai kesempatan atau memiliki tanggung jawab lebih untuk setiap keadaan yang berbeda.
Pemahaman memimpin dan dipimpin sebenarnya tidaklah serumit yang dibayangkan. Ketika setiap manusia menyadari posisinya masing-masing dan mampu memberikan konstribusi sesuai dengan kemampuan dan kompetensinya secara maksimal, maka dengan kata lain dia telah memmpin dirinya sendiri dan memberikan manfaat bagi sesamanya. Tidak perlu memperebutkan apa yang disebut sebagai kekuasaan.
Hasrat untuk Ikut Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira: Meniti Karya Emas
Posted: February 2, 2007 Filed under: Membangun Bangsa dengan Senyum Gembira 2 CommentsSejarah senantiasa mencatat karya emas anak manusia. Karya tersebut tercatat dalam sebuah lembaran yang mengisahkan keberhasilan, kegemilangan, dan kontribusi besar, sosok manusia ataupun sekelompok orang yang mampu membawa perubahan dalam sejarah peradaban manusia.
Sayangnya, sejarah jarang sekali mencatat bagaimana karya emas tersebut dihasilkan. Tidak banyak orang tahu, awal dari sebuah kisah sejarah yang gemilang tersebut.
Thomas A. Eddison dan Albert Einstein
Thomas A. Eddison dalam percobaannya yang ke 5000, akhirnya berhasil menemukan lampu bohlam yang mampu menyala hanya sekitar 5 menit. 4999 percobaan sebelumnya dia telah banyak mengalami kegagalan. Saat tetangga-tetangganya memuji Tom dengan mengatakan, “Tom, you finally find the way..!”. Tom dengan serius menjawab, “I probably find one way to make it work, but don’t you know, I also find 4999 ways to make it fail.”
Albert Einstein, penemu teori relativitas, menangis saat salah satu penemuannya digunakan untuk mengenyahkan puluhan ribu jiwa pada PD II. Sehebat apapun penemuan itu, dia menyatakan, jika hal tersebut lebih banyak mendatangkan malapetaka, maka hal tersebut tidak mendatangkan manfaat sama sekali bagi manusia.
Saat mengunjungi kampusnya di Berlin tahun lalu, memori tentang Al, tercatat dengan cukup baik di sana. Sebagai profesor di University of Berlin, Al menenyempurnakan teori relativitasnya, sebelum akhirnya dia pindah ke Jerussalem atas permintaan pemerintah Israel. Di Jerussalem inilah, dia menulis buku “Why War?”, yang merupakan bentuk protesnya atas pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki. Hal tersebut lebih menyedihkan daripada masa lalunya, di mana Al lebih dikenal sebagai anak yang paling sering mendapat nilai “F” untuk pelajaran aljabar saar dia duduk di Elementary School.
Panggil Saja Dia “Hatta”
Sebuah kisah lagi, dari salah seorang founding father kita. Moch. Hatta. Jika orang lebih banyak menyebut Soekarno dalam sejarah Indonesia, sejarah juga menacatat seorang Hatta sebagai seorang negarawan besar. Duetnya bersama Soekarno dalam awal-awal kemerdekaan RI, disebut sebagai duet terkuat pemerintahan. Padahal intrik yang terjadi antara Soekarno dan Hatta, tidaklah semulus yang tercatat dalam sejarah.
Perbedaan dua pemimpin ini, sudah berawal dari sejak sebelum kemerdekaan. Hatta berasal dari keluarga cendikia dan belajar dari cendikiawan seperti K.H. Agus Salim, mempunyai pemikiran yang lebih moderat karena dia mengenyam pendidikan di luar negeri. Sedangkan Soekarno memiliki pemikiran yang lebih eksotis dan merakyat, cenderung mengedepankan karisma dan pendekatan persuasif kepada rakyat. Ketika Soekarno dengan pendiriannya tersebut, menghadapi kemajemukan Indonesia, prinsipnya yang ingin selalu mengakomodir semua kepentingan dinetralkan oleh pemikiran Hatta yang lebih rasional. Meskipun demikian, Hatta dalam sejarah tidak pernah sekalipun mengincar kedudukan Soekarno dalam memimpin Indonesia, begitu juga Soekarno selalu memberikan kepercayaan penuh kepada Hatta.
Dalam sebuah pertemuan cendikiawan di Malang, Hatta yang waktu itu dicecar dengan konflik yang terjadi di Indonesia, dengan berapi-api membela Soekarno, padahal Hatta dikenal sebagai pribadi yang tidak terlalu banyak bicara. Benar-benar pembelaan seorang sahabat. Hatta sebagai negarawan akhirnya mundur sebagai wakil presiden, ketika perbedaannya dengan Soekarno, dia rasakan sebagai penghambat kemajuan Indonesia. Dan duet ini berpisah dengan damai, dan tetap menjalin silaturahmi.
Yang tidak banyak dicatat dalam sejarah, adalah penderitaan Hatta sebagai seorang buangan di Digul, tetap menolak tawaran pemerintah Belanda, untuk membayarnya memimpin perkebunan di sana. Alih-alih mengambil tawaran tersebut, Hatta lebih memilih menulis untuk koran Indonesiche Verenidge dan megusahakan pekebunan bagi rakyat.
Untuk Apa Masa Mudamu?
Dari sekian banyak biografi tokoh yang ada, mereka tercatat karena memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perubahan umat manusia. Karya mereka dirasakan oleh orang-orang di sekitar mereka, bahkan lebih luas lagi, bangsa, negara, dunia, bahkan masa setelah kehidupan mereka. Terdapat ciri kecil persamaan pencapaian mereka, yang tidak banyak orang mau mengetahuinya. Hal tersebut adalah usaha, jerih payah, pengorbanan, penderitaan, semangat, dan keinginan kuat untuk maju.
Saya jadi teringat majalah Tempo edisi akhir tahun, yang saya beli pada saat bulan madu saya di sebuah hotel di Surabaya. Edisi ini secara khusus membahas “10 Orang yang Mengubah Indonesia”. Salah satu di antaranya, adalah Hendy Setiono, teman dari salah seorang teman yang sukses dengan franchise-nya Kebab Turki Baba Rafi. Tetapi yang menyita perhatian saya adalah prestasi seorang Profesor Muda dari Indonesia di sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat, Wisconsin-Madison.
Di tengah usaha saya menyelesaikan Tugas Akhir saya di ITS Surabaya, dengan sangat iseng saya mengirim sebuah email singkat kepada orang ini, dia bernama Nelson Tansu. Namanya sempat tercantum di sebuah koran lokal Jawa Timur ketika itu, dengan mencantumkan alamat emailnya. Di luar dugaan saya, email tersebut dibalas dalam campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Beberapa patah kata yang dia tulis mampu membangkitkan semangat saya, yang saat itu menghadapi permasalahan yang cukup pelik. Isi email itu di antaranya adalah sebagai berikut: …. Saya sebenarnya cuma orang Indonesia yang biasa, and sama dengan
banyak orang Indonesia lain-nya. Cuma saya akui bahwa : I work extremely
hard, and I have extremely strong self-motivation that drives me to
pursue the excellence in all the tasks that I do. Other than those, I am
just a regular person!… Hal ini berlawanan dengan prinsip yang dianut oleh sebagian besar pemuda di negeri ini, yang selalu mengatakan “mumpung masih muda, waktunya bersenang-senang”. Jika kita melihat apa yang telah dihasilkan orang-orang tersebut di atas, maka saya lebih sering bertanya pada diri sendiri, ”Apa saja yang telah aku lakukan selama ini…”
Manusia yang Memberikan Manfaat
Pada saat seseorang mengambil jalan ini, memang akan ada hal yang nantinya akan dikorbankan. Bisa harta, kehidupan sosial, bahkan nyawa. Dan semua hal itu menuntut pengorbanan. Tapi jika semua itu akan memberikan manfaat bagi sesama manusia, pengorbanan yang telah dilakukan tidak akan terasa sia-sia. Bahkan Muhammad SAW mengatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberikan manfaat bagi sesamanya.
Jika pun nantinya pengorbanan yang dilakukan tidak tercatat dalam sejarah emas dunia, ataupun arsip nasional, atau buku sejarah SD, semua karya ini tetap memberikan manfaat bagi orang banyak dan memberikan amalan yang hanya Tuhan yang bisa menilainya. Keikhlasan dalam berbuat akan terbayar dengan buih-buih manfaat yang dihasilkan tanpa mengenal pamrih dan maksud tertentu.