Belajar, membina diri menuju pribadi yang lebih baik
Oktober 20, 2008 pukul 2:52 am | Ditulis dalam ilmu | Tinggalkan komentarTag: belajar, ilmu
Belajar, perbaikan dan kesuksesan adalah tiga kata yang merangkum seluruh proses hidup yang kita jalani. Menjadi pembelajar berarti kita berusaha mengambil hikmah di balik setiap peristiwa.
Manusia dilahirkan dalam keadaan kosong dari ilmu pengetahuan. Tetapi Allah memberinya fitrah mencintai pengetahuan dan menyingkap apa yang tidak diketahuinya, memberinya perangkat alat yang memungkinkannya mampu mengenal dirinya dan menengok segala wujud yang ada di sekitarnya. Allah berfirman :
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)
Dengan itu manusia mampu belajar dan menyingkap sunnah jagat raya serta hakikat wujud; dengan perantaraan pendengaran, penglihatan dan pengamatan, dengan hati dan pemikiran. Itu semua merupakan perangkat alat yang dibekalkan Allah kepada manusia yang pada gilirannya nanti kan ditanyakan tanggung jawabnya masing-masing di hadapan-Nya.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)
Memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem
Di antara prioritaas yang dianggap sangat penting dalam usaha perbaikan adalah memberikan perhatian terhadap pembinaan ndividu sebelum membangun masyarakat; atau memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem dan institusi.
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)
Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi setiap perbaikan, perubahan, dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai dari individu, yang menjadi fondasi bangunan secara menyeluruh. Karena kita tidak bisa berharap untuk mendirikan bangunan yang selamat dan kokoh kalau batu-batu fondasinya keropos dan rusak.
Kalau kita tidak membina diri, siapa yang membina kita?
Siapa yang membina seseorang saat ia berusia lima belas tahun, atau dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak membina diri sendiri, siapa yang membinanya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuamya secara khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang lebih mendatangkan kebaikan bagi dirinya, atau mereka (orang tua dan manusia lainnya) sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusinya. Walhasil jika tidak membina diri sendiri, ia kehilangan waktu dan moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidakberesannya. Akbatnya, ia rugi saat kematian menjemput.
Allah berfirman:
“Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan,…” (At-Taghabun: 9)
Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.