Ibarat keuangan perusahaan, keuangan pribadi maupun keluarga juga harus dikelola secara profesional. Kita sebaiknya mengetahui rasio – rasio keuangan agar dapat mengetahui kondisi keuangan kita, apakah sehat, cukup sehat atau sakit.
Bagaimana cara mengetahui kondisi kesehatan keuangan kita?
Menurut Safak Muhammad dalam bukunya “Keberkahan Finansial” Ada beberapa ‘alat’ pemeriksa kesehatan keuangan yang dapat digunakan.
Beliau mengutip pendapat DR. Roy Sembel dkk dalam buku Smart Saving and Borrowing for Ordinary Family, ada tiga titik kritis yang wajib diperiksa dalam keuangan yaitu
(1) situasi masa kini, yang diukur dengan likuiditas (ketersediaan uang tunai untuk membayar keperluan rutin dan keperluan mendesak);
(2) dampak keputusan hutang masa lalu, diukur dengan solvabilitas (kemampuan untuk membayar kewajiban hutang pada saat jatuh tempo); dan
(3) kondisi masa depan, diukur dengan rasio produktivitas aset dari hasil menabung atau berinvestasi.
1. Rasio Likuiditas.
Likuiditas mengukur kemampuan mengubah suatu aset menjadi uang tunai dengan segera tanpa kehilangan nilai awalnya.
Dengan demikian uang tunai merupakan asset paling likuid. Sedangkan saham, deposito, reksadana maupun obligasi cukup likuid karena ketika diuangkan bisa terjadi pengurangan nilai.
Misalnya deposito yang dicairkan sebelum waktunya (jatuh tempo) dikenakan penalti atau penurunan harga saham saat diuangkan.
Properti adalah aset yang tidak likuid dibandingkan dengan aset yang disebutkan sebelumnya karena untuk menjual properti diperlukan waktu cukup lama dan kemungkinan rugi bila lokasinya tidak strategis.
Banyak ahli perencana keuangan keluarga menyarankan agar kita memiliki ketersediaan asset minimal 3 – 6 bulan dari kebutuhan rata-rata setiap bulan.
Total Aset Likuid
Rasio Likuiditas = ————————————
Rata-rata pengeluaran bulanan
2. Rasio Hutang (rasio solvabilitas)
Rasio ini untuk mengukur kemampuan membayar hutang yang akan jatuh tempo dan mengukur ketergantungan terhadap hutang.
a. Mengukur ketergantungan terhadap hutang.
Rasio ini untuk mengetahui seberapa besar kekuatan riil uang dalam menguasai aset yang dimiliki. Artinya, seberapa besar aset yang dibiayai hutang dan seberapa besar aset yang sebenarnya milik kita. Untuk mengukurnya digunakan rumus berikut :
Total Hutang
Rasio Hutang = ———————
Total Aset
Berapa idealnya? Kondisi yang dapat ditolelir pada kisaran 30 persen.
b. Mengukur kekuatan membayar hutang.
Total Kewajiban Hutang 1 Tahun Ke Depan
Rasio Pembayaran Hutang = —————————————-
Total Pemasukan Per Tahun
Idealnya, besarnya rasio ini maksimal 30 persen dari total penghasilan. Bila rasio melebihi 30 persen akan menyulitkan dalam mengelola keuangan.
3. Rasio Produktivitas Aset
Rasio produktivitas aset dapat diukur dengan dua pendekatan yaitu :
a. kekuatan menabung
Jumlah tabungan per tahun
Rasio Kekuatan Menabung = ———————————-
Jumlah penghasilan per tahun
Ahli perencanaan keuangan menyarankan minimal 10 persen. Semakin besar prosentasenya tentu saja semakin baik.
b. kekuatan investasi yang dilakukan.
Pendapatan aset investasi
Rasio kekuatan investasi = —————————————-
Kekayaan bersih
Bila rasio ini = 0 artinya tidak ada kekayaan yang diperoleh dari hasil investasi, sehingga ketergantungan terhadap penghasilan di luar investasi seperti gaji sangat dominan.
Semakin besar rasio ini semakin baik karena semakin tidak tergantung pada penghasilan berupa gaji atau pekerjaan secara phisik. Rasio ini menunjukkan tingkat pendapatan passive income.
Bila mendekati angka 1 maka kita sudah tidak perlu bekerja lagi (bila mau) karena penghasilan investasi sudah mencukupi seluruh kebutuhan kita.
Sekarang..seberapa sehatkah finansial kita ?
Posted by ukmbiitats
You must be logged in to post a comment.