Dear Kamu,
Terasa aneh melihat langit yang sama dan menghirup udara yang sama denganmu, tapi sudah tidak ada kamu. Hujannya juga masih sama rapatnya,tanahnya juga masih sama wanginya. tapi tidak ada kamu lagi.
Apa kabarmu di sana? Boleh aku bilang aku kangen kamu? Kamu tidak pernah bilang Jakarta bisa sesendu ini. Aku tidak pernah tahu langit Jakarta bisa bergradasi sebegitu sempurnanya setiap kali habis hujan di sore hari.
Hahaha, sebenarnya aku tidak tahu apa yang ingin aku tulis untukmu, Claro.. Sementara ketika bertemu kamu saja hanya bisa tertunduk dan mataku mulai berkaca kaca. Bodoh! Iya, cuma aku tidak tahu apa lagi yang tersisa untuk dibicarakan.
Sebaiknya memang seperti ini, Claro. Tidak usah ada “kita”. Kita tidak bisa selamanya hidup seperti Jack and Sally seperti dalam lagunya Blink 182 . Kita harus hidup. Walaupun aku harus membunuh diriku sendiri, tapi kita harus hidup.
Dan sekarang, di sinilah aku sendiri. Hujan, coklat panas, di Jakarta, tanpa Kamu, hanya dengan sepotong kangenku yang aku punya entah untuk apa. Hanya bernarasi sendiri dengan kenangan. Tapi tak apa, kenanganmu sudah lebih dari cukup. Benar katamu, Memori itu membuat kita benar-benar hidup. Akan datang hujan, dimana aku ingat kamu bukan lagi dengan rasa sakit.



