berdamai

Aku sadar, selama jadi anak kuliahan gak terlalu punya banyak pengalaman, kurang main lah gitu. Seharusnya momen punya banyak kenalan dari berbagai daerah, bisa sambil main ke daerah yang belum pernah kan. Selain circle ya sama-sama dari daerah asal, juga yah belum punya dana lebih buat jalan ke sana ke mari, haha.

Ada seorang teman yang aku bener-bener ngincer pengen banget main ke rumahnya. Selain karena daerahnya yang aku belum pernah ke sana, juga karena deket tempat wisata terkenal. Kalo pas ngobrol selalu ngomongin mau main ke rumahnya, tapi bahkan sampe lulus dan sekarang pun, belum pernah terwujudkan.

Belum lama ini, di suatu pagi, aku kaget membaca Instagram story nya, ungkapan duka cita atas kepergian anaknya. Aku nge-freeze beberapa detik. Kaget, sedih, syok jadi satu. Mau ngetik apa hapus lagi ketik lagi. Akhirnya ku kirim pelukan untuknya nun jauh di sana. Hari itu, pagiku dimulai dengan sedih.

Seorang owner brand fashion yang kuikuti, belum lama ini anaknya juga meninggal sesaat setelah dilahirkan. Membaca IGs nya, post tentang bayinya yang berpulang, bikin sesak di dada. Belum lama ini pula, postingannya bercerita bahwa dia masih menangis ketika membereskan baju-baju bayi yang belum pernah terpakai oleh bayinya yang lebih dulu pergi ke syurga.

Sebagai orang yang gak merasakan, pasti gak kebayang kan jadi mereka, orangtua yang kehilangan anaknya saat usia masih begitu belia. Apalagi soal kehilangan anak, aku aja soal jenis kelamin masih belum bisa berdamai kok sampai sekarang.

Baca lebih lanjut

Imperfect

Jadi seorang teman kerja sedang galau. HPL bulan Januari dan sekitar Maret kalau gak salah masuk bulan Ramadhan insyaAllah.

Yah mosok sesasi full gak poso bu.. ( Yah masa sebulan penuh gak puasa bu..) pas kami bilang kalau bayi dibawah usia 6 bulan masa Asi ekslusif busui tidak direkomendasikan untuk berpuasa.

Yang mau aku tekankan di sini adalah

Baca lebih lanjut

hapus

Adakah orang yang sempurna di dunia ini?

Tidak ada, jawabnya.

Masing-masing diri kita diselimuti kesalahan, lebih rapat daripada onde-onde yang diselimuti wijen.

Ada dosa-dosa kecil yang kita anggap tak berarti, padahal semua tetap dicatat dengan rapi sebagai pemberat timbangan buruk.

Ada dosa-dosa besar yang kita anggap aib, yang selalu ingin kita sembunyikan dari orang lain.

Mari kita bahas yang terakhir.

Bikin tertekan rasanya.

Baca lebih lanjut

Next Grade

Seringkali aku bertanya-tanya sendiri.

Jika usai merampungkan satu ujian, ujian apalagi yang akan kutemui.

Bahkan terkadang, belum rampung tuntas ujian sebelumnya, sudah beranjak disambut ujian berikutnya yang membuatku berpikir, ah dia sudah datang.

Selayaknya ujian di sekolah, ujian di sekolah kehidupan pun sama adanya. Ketika kita lulus, maka akan naik ke jenjang berikutnya. Maka akan lebih sulit dan lebih berat kadarnya.

Baca lebih lanjut